Minggu, 20 Juni 2021

Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Kedua


Fotografi Abstrak
trisoenoe.com

Radio Dalam, Kebayoran Baru, Jakarta, Minggu, 20 Juni 2021

Salam jumpa lagi Sobat. Seperti janji saya sebelumnya,  artikel ini adalah artikel lanjutan dari artikel pertama (Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Pertama), dan artikel ini adalah bagian kedua dari entah berapa episode yang ada dalam artikel ini. 

Ya sudah, silahkan menikmati ya Sob!

"Berani sumpah kau bahwa kau sekarang fotografer?" "Sumpah apa kau mau?" jawabnya tenang-tenang. Saya masih tidak bisa percaya. Sejak dulu memang dia paling berani bersumpah.

"Minum dulu kita?" sambungnya lebih tenang lagi. Betul betul saya jadi tidak bisa berpikir apa-apa mendengar ucapannya yang terakhir itu. Dan dengan tak insyaf saya rupanya telah mengikuti Bedul masuk ke kedai kopi belakang Toko Merah.

"Nanti bagaimana kalau ayahmu tahu kau jadi berantakan seperti ini, Dul?"

"Ini kan gaya hidup biasa buat kami." Barangkali maksudnya berantakan ala fotografer yang seniman,. 

"Dan aku sudah memenuhi permintaan ayahku juga, mendapatkan pekerjaan yang paling gampang," jawabnya, dan diteguknya gelas kopinya. Agak meringis-ringis dia karena masih belum dingin betul kopinya.

"Sudah banyak order yang datang padamu? Banyak uang kau!"

"Belum ada. Aku masih mendapat kiriman terus dari Ayah."

"Jadi kau tetap akan mengharapkan saja kiriman kiriman orangtua?"

"Memang kenapa? Kan aku sudah memenuhi permintaannya, mendapatkan pekerjaan yang paling gampang."

"Fotografer itu menurutmu pekerjaan yang paling gampang?" tanyaku. Dia hanya meneguk gelas kopi lagi dan kembali meringis seperti orang sedang minum jamu pahit.

"Kita kan dulu sebangku di Sekolah Dasar Inpres di Jalan pasar Kemis?" Dia langsung mengerti apa yang ku maksud, yakni bahwa saya tahu betul dia tak paham masalah seni sama sekali. Tapi dia tertawa terbahak-bahak, keras sekali. Hampir saya tampar, naik darahku, untung cepat saya bisa maklum bahwa efek kopilah yang membuatnya begitu.

"Lain, lain, Sobat. Aku juga baru tahu sekarang. Kesenian di sekolah memang neraka, tapi kesenian, terutama yang berkaitan dengan abstrak, seperti melukis atau sekarang yang aku tekuni, fotografi abstrak, adalah pekerjaan yang paling gampang." 

"Jadi kau fotografer abstrak?

Bedul mengangguk.

"Bisa kau memotret abstrak?"
"Kenapa tidak? Semua orang juga bisa. Kau juga bisa kalau mau."
"Kau salah Bedul," saya ingatkan. "Fotografi abstrak, sama halnya dengan lukisan abstrak, adalah aliran fotografi yang sudah lanjut sekali, dan itulah yang paling sukar."

"Kalau aku bisa kau mau apa?"

"Siapa yang bilang kau bisa memotret abstrak ini?"

"Ujang Jambul." (Saya samarkan nama asli dari sang fotografer abstrak ini, demi menjunjung kode etik...hehehe)

Saya juga kenal Ujang Jambul, seorang fotografer abstrak yang kesohor, makanya jadi tak begitu sukar saya mendapat keterangan-keterangan apa sebabnya kawanku Bedul ini jadi begini. Inilah kisahnya.

Nyambung ya Sob, ke episode ketiga, dengan judul: "Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Ketiga"

Artikel diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Sabtu, 19 Juni 2021

Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Pertama


Noktah Daun - Fotografi Abstrak
trisoenoe.com

Radio Dalam, Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu, 19 Juni 2021

(Kisah ini adalah kisah fiksi semata, tapi ceritanya terilhami oleh kejadian nyata yang saya alami sendiri!)

Semua orang pintar dan “cenayang” yang kesohor di kampung kami semuanya meramalkan, bahwa Pak Uban (Bukan nama sebenarnya ya Sob, sebaiknya saya samarkan namanya, supaya tak ada yang sakit hati), orang yang paling anti kepada È›akhayul itu tak akan pernah dikaruniai anak. Tapi kehendak Tuhan jugalah kiranya yang tetap berlaku. Dunia “orang pintar” dan per”cenayangan” langsung dilanda gempa hebat, Bu Uban melahirkan seorang anak laki-laki. Mulut-mulut yang usil, fanatikus-fanatikus “alam gaib”, mengatakan bahwa anak Pak Uban ini adalah anak yang didapatnya karena mereka minta-minta kepada jin botak dan lelembut di Gunung Kidul. Ucapan-ucapan ini tak sedikit pun berarti buat Pak Uban atau mengurangi cintanya kepada anak yang kemudian ternyata satu-satunya itu. Ya, Bedul adalah anak mereka semata wayang.

Cinta orang tua Bedul sangatlah berlebih-lebihan kepadanya, karena selain mereka hanya mempunyai seorang anak itu saja, mereka menganggap bahwa Bedul adalah karunia Tuhan lantaran mereka tekun beribadah. Semua yang diminta dan diinginkan Bedul tak satu pun yang ditolak, apalagi Pak Uban adalah termasuk orang berpunya di kampung kami. Tapi ternyata kasih-sayang yang begitu tidak membuat Bedul menjadi baik. Ia terhitung seorang anak yang banyak tertinggal, baik di sekolah maupun dalam pergaulan. Ia sangat manja dan tak mau berpikir. Usia Bedul telah mencapai 25 tahun, tapi tetap juga bersifat kekanak-kanakkan dan sangat pemalas. Bedul menjadi buah pembicaraan orang kampung dan bermacam macamlah ramalan orang tentang masa tua Bedul nanti. 

Pola Daun - Fotografi Abstrak
trisoenoe.com

Salah seorang paman Bedul, yakni abangnya Pak Uban, meramalkan bahwa Bedul akan menjadi dedemit kalau ia tetap saja berada di kampung dan dimanjakan oleh orangtuanya. Paman ini sangat berpengaruh di antara keluarga, dan seluruh keluarga besar sangat menyetujui usulnya supaya Bedul pergi dari kampung, merantau mencari pengalaman. Bedul tak boleh kembali ke kampung serta tak diakui keluarga mereka kalau ia tak mendapatkan kerja yang betul-betul kerja, kerja yang diupah alias digaji. Ini sangat berat diterima oleh orangtua Bedul, tapi mereka tak bisa berbuat lain. Bedul harus pergi ke Jakarta mencari pengalaman dan mendapatkan kerja yang sebenarnya, demikian putusan keluarga. Tapi sebelum ia pergi masih sempat juga Pak Uban membisiki Bedul, "Carilah kerja yang paling gampang dan tak payah, ya Nak!"

Bermacam-macamlah ramalan orang-orang tentang bagaimana jadinya dengan si Bedul ini di perantauan. Bermacam-macamlah, tapi tak seorang pun menerka bahwa Bedul akan menjadi seorang fotografer di Jakarta. Dan saya sama sekali tak bisa mempercayainya, tidak seujung rambut pun, karena saya kenal betul sejak sama-sama di bangku sekolah dulu di Sekolah Dasar Inpres di Jalan pasar Kemis, Tangerang. Dia duduk sebangku dengan saya. Fotografi itu adalah seni, dan kesenian adalah pelajaran yang paling dibencinya, karena betul-betul harus di kerjakannya sendiri, sedangkan pelajaran-pelajaran yang lain dia masih bisa curi-curi contek dari saya. Kalau belum jidatnya kena jitak paling sedikitnya tiga kali, belum pernah ia mau menekuni kesenian. 

Coretan Ranting - Fotografi Abstrak
trisoenoe.com

Tapi, hari ini, saya dengan mata-kepala saya sendiri telah menjumpai dia di emperan Toko Merah, di Kota Tua, Jakarta. Dia kongkow di antara beberapa fotografer lainnya yang asyik ngobrol. Semua keterangan yang kudapat dari kawan-kawan yang mengenalnya mengatakan bahwa Bedul adalah fotografer tulen. Dan Bedul sendiri mengakuinya. Sungguh mati saya tidak percaya. Kalau potongan memang ada, karena sudah sejak dulu ia paling malas cukur rambut. Dan saya tidak kaget sama sekali kalau menjumpai Bedul yang jauh dari orangtuanya ini rambutnya gondrong dan kumisnya berantakan. Tapi Bedul jadi fotografer? Sungguh tak masuk akal sama sekali! Bagaimana ia jadi memilih pekerjaan yang berkaitan dengan seni, sedang ayahnya bilang supaya ia mencari pekerjaan yang semudah-mudahnya?


Artikel ditulis oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Senin, 31 Mei 2021

Tiga Aturan Emas Fotografi! (Ini Bukan Ilmu Silat...Ini Ilmu Fotografi!) - Tulisan Bagian Kedua


Ranting Pohon
trisoenoe.com

Radio Dalam, Kebayoran Baru, Jakarta, Senin, 31 Mei 2021

Salam jumpa lagi Sobat. Seperti janji saya sebelumnya,  artikel ini adalah artikel lanjutan dari artikel pertama (Tiga Aturan Emas Fotografi! (Ini Bukan Ilmu Silat...Ini Ilmu Fotografi!) - Tulisan Bagian Pertama)), dan artikel ini adalah bagian akhir dari dua episode tersebut. Silahkan menikmati ya Sob!

SHUTTER SPEED

Kecepatan rana (shutter speed) adalah durasi kamera membuka sensor untuk menyerap cahaya. Semakin lama durasinya, semakin banyak cahaya yang masuk ke kamera dan hasil foto akan bertambah terang.

Satuan shutter speed adalah dalam detik atau pecahan detik. Biasanya berawal dari 1/4000 detik sampai dengan 30 detik, atau terus terbuka sampai kita tutup. Nah, bedanya shutter speed dengan aperture adalah, setelan variasi shutter speed ini diatur dari badan kamera, dan bukan dari lensa.

Selain mempengaruhi kuantitas cahaya yang masuk, shutter speed mempengaruhi foto dalam dua hal:


Kecepatan rana yang cepat untuk membekukan (freeze) alias menjepret objek yang bergerak (misalnya kalau kita memotret paning).
Kecepatan rana yang lama paling cocok untuk menangkap gerakan (motion) objek secara berkesinambungan.

Dalam praktek, kita mengunakan kecepatan rana yang tinggi untuk membekukan gerakan subjek yang bergerak, seperti pada foto liputan olahraga. Sebaliknya, kita mengunakan kecepatan rana yang rendah untuk merekam efek gerak, seperti dalam merekam pergerakan air terjun.

Membangun
trisoenoe.com

ISO

ISO adalah ukuran sensitivitas sensor terhadap cahaya. Ukuran dimulai dari angka 50, 80 atau 100 dan akan berlipat ganda sampai 3200 atau lebih besar lagi. ISO dengan ukuran angka kecil berarti sensivitas terhadap cahaya rendah, ISO dengan angka besar berarti sebaliknya.

ISO dengan angka besar atau disebut juga ISO tinggi akan menurunkan kualitas gambar karena munculnya bintik-bintik yang dinamakan “noise”. Foto akan terlihat berbintik-bintik seperti pasir dan detail yang halus akan hilang. Tapi untuk kondisi yang sulit seperti sedikit cahaya dalam ruangan, ISO tinggi seringkali diperlukan.

Di era kamera analog, ISO dikenal juga dengan ASA. Di jaman analog, ASA tergantung dari film yang kita pasang di dalam kamera. Namun di jaman sekarang, ISO bisa diubah sewaktu kita menghendakinya melalui kamera.

Dengan bermain dengan tiga setting dasar kamera, Sobat akan dapat membuat foto Sobat menjadi gelap, terang atau sedang. Gelap terangnya hasil akhir dalam foto tentunya tergantung selera Sobat sendiri.

Lorong
trisoenoe.com

Akhir kata, itulah tiga aturan emas yang wajib tak wajib harus kita kuasai untuk mendapatkan foto yang ciamik. Jadi, “feel” saja tanpa diiringi alias di”gosok” dengan teknik-teknik dasar fotografi yang tepat, akan mengurangi ke”ciamik”an dari hasil foto kita.

Akhir kata, semoga tulisan ini bisa berguna bagi Sobat semua ya.

Salam jepret selalu

Tetap sehat, tetap semangat!

Artikel ini diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

(Artikel ini, sudah tayang di infofotografi.com, dengan judul: Segitiga emas fotografi – Exposure, yang ditulis oleh sang maestro ENCHE TJIN.)

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Sabtu, 29 Mei 2021

Tiga Aturan Emas Fotografi! (Ini Bukan Ilmu Silat...Ini Ilmu Fotografi!) - Tulisan Bagian Pertama


Foto Bunga
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Sabtu, 29 Mei 2021

(Tulisan ini sekedar coretan dari (bukan) fotografer, yang ditulis di masa pendemi. Semoga coretan ini bisa menghibur)

Seperti Sobat ketahui, kunci utama untuk mendapatkan foto yang ciamik adalah feel alias “rasa” dari si fotografer. Tapi, “feel;” saja tanpa didukung dengan trik dan juga penguasaan dasar-dasar fotografi, maka hasil foto yang ciamik yang Sobat harapkan, tentu tinggal menjadi mimpi, alias hil yang mustahal!

Terus, apa saja sih dasar-dasar fotografi yang perlu dikuasai untuk bisa menghasilkan foto yang enak untuk dilihat?

Kita sebut saja dasar-dasar fotografi itu sebagai Tiga Aturan Emas Fotografi! (Sebenarnya, itu sih hanya penamaan dari saya saja Sob. Sobat boleh saja kok untuk kasih nama lain untuk aturan-aturan itu, yang penting adalah penerapan dan penguasaannya, bukan namanya...Bener kan Sob?)

Ya! Hasil foto yang ciamik tergantung dari Tiga Aturan Emas Fotografi. 

Lalu, apa saja Tiga Aturan Emas Fotografi itu? 


Singkatnya, aturan-aturan itu adalah; bukaan (aperture), kecepatan rana (shutter speed) dan ISO. Kombinasi dari ketiganya menentukan gelap terangnya sebuah foto.  Nah, dibawah ini, akan kita bahas secara singkat satu demi satu. Cekidot ya Sob:

Meniti Jembatan
trisoenoe.com

BUKAAN / APERTURE / DIAFRAGMA


Aperture adalah bukaan lensa kamera dimana cahaya masuk. Kalau bukaan besar, maka jumlah atau intensitas cahaya yang masuk akan lebih tinggi dibandingkan dengan bukaan kecil. Selain merupakan salah satu cara mengendalikan cahaya yang masuk, bukaan digunakan juga untuk mengatur kedalaman ruang (depth of field alias “dof”).

Dalam prakteknya, kalau Sobat berada di TKP memotret, dimana cahaya sangat terang, maka Sobat bisa menutup bukaan sehingga lebih sedikit cahaya masuk ke dalam sensor kamera. Sebaliknya, kalau kondisi lingkungan gelap, maka Sobat bisa membuka bukaan lensa sehingga hasil akhir menjadi optimal.

(Baca juga artikel tentang komposisi fotografi, dalam artikel; "Tips Komposisi Foto, Supaya Lebih Enak Dilihat (Alias Enak di Mata!) - Tulisan Bagian Pertama")

Bukaan juga bisa digunakan untuk mengatur kedalaman ruang. Bukaan besar membuat kedalaman ruang menjadi tipis, akibatnya latar belakang subjek menjadi kabur. Bukaan kecil membuat kedalaman bidang menjadi besar, akibatnya semua obyek dalam foto menjadi tajam atau berada dalam fokus.

Hal yang unik dan sering membingungkan fotografer pemula (seperti saya) adalah nomor setelan.  Ternyata, nomor dalam setting bukaan adalah terbalik dengan besarnya bukaan. Misalnya angka kecil berarti bukaan besar, sedangkan angka besar berarti bukaan kecil. Contoh: f/1, f/1.4, f/2, f/4. f/5.6, f/8, f/16, f/22 dan seterusnya.

Setiap lensa memiliki bukaan maksimum dan minimum. Angka yang tertera dalam lensa seperti f/3.5-5.6 berarti maksimum bukaan bervariasi antara f/3.5 sampai f/ 5.6.

Demikianlah artikel Tiga Aturan Emas Fotografi! (Ini Bukan Ilmu Silat...Ini Ilmu Fotografi!) - Tulisan Bagian Pertama. Baca juga kelanjutan dari artikel ini di: Tiga Aturan Emas Fotografi! (Ini Bukan Ilmu Silat...Ini Ilmu Fotografi!) - Tulisan Bagian Kedua.

Tetap Sehat, Tetap Semangat !

Salam Jepret Selalu !

Artikel ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Selasa, 25 Mei 2021

Ayo Sobat, Kita Belajar Fotografi (Dari Awal!)



Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Selasa, 25 Mei 2021

Belajar fotografi adalah sesuatu yang rumit (untuk sebagian orang, dan saya adalah salah satunya), tapi sangat menyenangkan. Alhasil, banyak “calon-calon fotografer” (seperti saya sendiri) mungkin kebingungan bagaimana cara belajarnya, atau harus memulai darimana? 

Nah, artikel kali ini mungkin bisa berguna, untuk sekedar sumbang saran, mengenai langkah-langkah praktis yang mungkin berguna, dalam mempelajari fotografi.


Pertama 

Kita memerlukan kamera (Ya iya lah!). Karena, seperti kita ketahui bersama, memotret menjadi hal yang tak mungkin terjadi tanpa adanya kamera, dalam bentuk apapun (bisa kamera yang super canggih, atau kamera HP, atau kamera lubang jarum, atau apa aja deh! Yang penting kamera!) 

Baiklah, kita akan bahas di ranah kamera digital saja ya Sob! Supaya tidak terlalu panjang ceritanya.

Berdasarkan ukuran sensor, kamera terbagi dua, kamera saku dan kamera DSLR. Lalu apa bedanya kamera saku dan kamera DSLR? Saya cuma mampu membeli kamera saku, apakah saya tidak bisa belajar fotografi dengan kamera saku? Jangan takut, meski murah, kamera saku memiliki kelebihan tersendiri dan jangan jadikan halangan untuk belajar fotografi.


Kedua 

Kita perlu belajar tentang eksposur cahaya. “Nafas” dari fotografi adalah eksposur, atau total cahaya yang masuk ke dalam sensor peka cahaya. Karena cahaya tersebutlah, foto itu bisa terwujud. Jadi, tugas Sobat sebagai fotografer adalah mengatur jumlah cahaya yang masuk dengan mengubah besarnya bukaan lensa, kecepatan rana dan ISO. Tiga elemen ini saya sebut sebagai segitiga emas fotografi.

Ketiga

Kita tentu harus mempelajari kamera kita, terutama mode-modenya, pengukuran cahaya (metering) dan auto fokus.


Keempat

Kita perlu tahu apa itu kedalaman fokus (depth of field) dan apa faktor-faktornya.

Kelima

Kita harus paham bagaimana mengambil gambar yang tajam dan tidak kabur.

Keenam

Kita harus mempelajari komposisi foto yang proporsional dan ciamik.

Ketujuh

Kita harus mempelajari karakter cahaya terutama arah dan intensitas cahaya.

Kedelapan

Kita harus belajar antisipasi dan mengambil foto pada waktu yang tepat.

Kesembilan

Kita harus belajar bercerita lewat foto, entah dengan satu foto atau satu seri foto.

Kesepuluh

Kita harus belajar untuk “mengoprek” foto dengan efek digital. Rekayasa foto di jaman serba digital seperti sekarang ini, mudah dipelajari dan pastinya, akan membuka bab baru dalam fotografi digital.

Demikian kira-kira urut-urutan belajar fotografi untuk pemula (seperti saya). Seperti yang Sobat lihat, masih banyak tulisan yang bisa kita bahas dari tiap langkah tersebut. Fotografi merupakan ilmu yang berkembang begitu pesat dan tidak ada habisnya, namun bila menemui kesulitan, janganlah putus asa dan menyerah, tetap pelajari dan terus praktekkan.

Tetap Sehat, tetap semangat

Covid pasti berlalu!

Salam jepret selalu!

Artikel oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA