Kamis, 04 Maret 2021

Street Photography, Cara Terbaik Mengexplore Bakat Fotografi Sobat yang Terpendam Selama Ini (Episode 1)


Pedagang Kembang
Puri Beta, Ciledug, Tangerang, Banten
trisoenoe.com

Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Kamis, 4 Maret 2021

Perkembangan teknologi memang banyak sekali memberi keuntungan untuk hidup kita ya Sob, contohnya saja di dunia fotografi. Kalau jaman dulu, cuma segelintir manusia yang bisa punya kamera film yang harganya bisa bikin sesak napas dan jantung copot. Tapi kalau sekarang? Wah, beda jauh Sob! Hampir setiap orang bisa jeprat-jepret pakai kamera, bisa kamera DSLR atawe kamera yang ada di HP “pinter”.

Nah, salah satu aliran fotografi yang selalu populer di kalangan para fotografer di Indonesia adalah street photography (alias fotografi jalanan). Bagi Sobat yang mau coba-coba aliran tersebut, Saya akan coba mengulas sedikit di artikel ini, gimana caranya supaya sobat bisa mengasah kemampuan street photography

Apa saja yang harus dibutuhkan dan bagaimana tips-tips agar hasil foto sobat tidak kalah dengan para profesional? Yuk, kita kulik satu  demi satu!

Pedagang Perabotan
Puri Beta, Ciledug, Tangerang, Banten, sekitar 2016
trisoenoe.com

Jangan malas hunting!

Jangan pernah malas untuk memotret! Jangan sembunyikan lagi minat fotografi Sobat yang ada selama ini. Pergilah berburu ke luar, tak usah pergi  jauh-jauh, perhatikan saja kehidupan jalanan di sekitar tempat Sobat tinggal.

Kehidupan jalanan, ruang terbuka, maupun ruang publik menjadi fokus dalam street photography. Inilah yang menjadikannya unik dan berbeda dari jenis fotografi lainnya.

Tidak ada rekayasa dalam mengabadikan kejadian di ruang publik: insting dan sikap spontan sang fotografer menjadi kunci utama dalam proses pengambilan gambar. Entah itu perilaku orang, lingkungan, cuaca, suasana kota, dan lain sebagainya, semua akan tertangkap oleh kamera. Orang yang ditampilkan dalam foto bukanlah selalu orang yang kesohor atawe terkenal, melainkan tokoh anonim yang menjadi nyawa dari situasi jalanan pada umumnya. 

Dengan aliran ini, Sobat dapat membuat rangkaian cerita dari aktivitas sehari-hari orang yang hidup di sekitar Sobat. Paling tidak, Sobat bisa merekam dan belajar dari kehidupan yang Sobat rekam dalam kamera Sobat. 

Tak usah pakai kamera yang mahal!

Sobat tak perlu membeli peralatan profesional yang mahal. Kamera sederhana pun mampu mengantarkanmu membuat foto yang bernyawa dan punya makna. 

Pedagang Barang Loak
Kebayoran Lama, Jakarta, Sekitar 2017
trisoenoe.com

Street photography membutuhkan lebih banyak keberanian ketimbang keahlian. Jadi yang paling penting adalah berani dulu untuk mengeluarkan kamera Sobat. Jika Sobat mau berlatih secara konsisten, hasil foto yang bagus bukanlah “hil yang mustahal” (mengutip lawakan dari tokoh pelawak legendaris “Srimulat”; almarhum Asmuni, yang memplesetkan istilah “hal yang mustahil” menjadi “hil yang mustahal”).


Menawar Burung
Kebayoran Lama, jakarta, Sekitar 2017
trisoenoe.com

Tak perlu pergi ke tempat yang jauh

Tidak perlu jauh-jauh pakansi keluar kota atau ke tempat eksotis yang mahal untuk mendapatkan foto yang bagus. Obyek foto selalu berada di sekitar Sobat, tanpa peduli akan waktu hari, dalam keadaan mendung, terik, maupun hujan badai sekalipun. Mereka akan selalu ada di sana, tinggal Sobat yang memutuskan, mau dijepret atau mau cuek. 

Menyatulah dengan Sekitar

Untuk berburu street fotografi, Sobat harus seperti ‘bayangan’. Bawa peralatan perang sesedikit mungkin dan bergeraklah sesunyi mungkin agar kamu tak mengganggu target yang akan Sobat Jepret.

Tidak perlu membawa tripod, speedlight, flash, lightmeter, galon, dispenser, payung, dan lain sebagainya karena Sobat malah akan terlihat aneh di mata orang-orang yang sedang berlalu lalang di jalanan. 

Menembus Banjir
Ciledug, Tangerang, Banten,2020
trisoenoe.com

Gunakan lensa yang memiliki jarak lebar dan hindari penggunaan lensa tele. Sobat akan terlihat mencurigakan ketika menggunakan lensa tele yang segede “Gaban” dan calon mangsa yang akan Sobat potret malah akan merasa risih dan terintimidasi. Ujung-ujungnya malah jadi ruwet dan bisa jadi, malah muncul keributan! (alias Sobat bakal digebukin karena disangka curi-curi foto tanpa ijin).

Jangan “Asal Jepret”, harus tetap pakai teknik!

Jangan lupa untuk mempelajari teknik dasar fotografi, seperti, teknis komposisi, angle, dan penguasaan alat. 

Seniman Lukis, Selasar Blok-M
Jakarta, Sekitar 2015
trisoenoe.com

Sobat juga bisa bereksperimen dengan melanggar aturan fotografi (seperti foto jadi blur, dead center) agar tercipta karya yang artistik. Teknik dasar fotografi tetaplah harus jadi dasar untuk memotret, supaya foto Sobat bisa terlihat “enak” ketimbang Sobat asal jeret saja.

Untuk sekarang, segitu dulu ya Sob, nanti, disambung dengan episode selanjutnya.

Salam Jepret Selalu, dan tetap jaga Kesehatan!

Ingat Pesan Ibu!

Selasa, 02 Maret 2021

Sekarang Lagi Pendemi Sobat, Jangan Motret Jauh-Jauh Ya !!! (Episode bukan Hitam Putih)


Bunglon
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Selasa, 3 Maret 2021

Banyak sekali fotografer pemula yang begitu bersemangat dan juga agresif pas awal-awal mencoba memotret. Segala macam trik, gaya dan juga gear dijajalin, dan berbagai macam target juga dijepret secara total. Belum lagi berbagai macam genre alias aliran fotografi dicoba dan diselami untuk mencari “madhzab” yang cocok dengan selera jiwa. Dan kalau perlu, hunting foto ke berbagai tempat. Dari yang terdekat hingga yang terjauh, dari yang biasa-biasa saja, sampai yang paling gak masuk akal. Belum lagi duit yang harus dikeluarkan, bukan main-main…. tidak sedikit!

Bunga di atas kolam
trisoenoe.com

Tetapi sayangnya, banyak dari calon fotografer itu yang malah “layu sebelum berkembang”. Bukannya menemukan pengalaman baru, mereka malah jenuh dan bosan dengan 'rutinitas' memotret, apapun alasan dan motivasinya. Rutinitas jalan-jepret-edit-share; jalan-jepret-edit-share. Begitu seterusnya sehingga jadi hilang “rasa” dan mereka mengakhirinya dengan memilih untuk “mengubur” peralatan di drybox, di laci, di lemari, bahkan di pegadaian dalam waktu lama.

Nah, bila sudah pada fase tersebut ada baiknya Sobat menyimak saran yang dilontarkan seniman kontemporer yang bernama Teguh Ostenrik. Si seniman ini pernah berkata: “Untuk mendapatkan ide berkarya seperti memotret, tidak perlu jauh-jauh, cukup di sekitar kita, di dekat kita.” Dan ini beliau buktikan sendiri dalam kenyataan hidup.

Beberapa kali ia mendapatkan inspirasi dari hal sepele seperti tukang nasi goreng yang biasa lewat di depan rumah. Yang terpenting “gelora serta gairah” dan proses kreatif selalu ada didalamnya.

"Hanya radius 90 meter dari tempat kita berdiri, pasti ada yang bisa dieksplorasi. Saya percaya itu. Seperti ketika saya membuat seni instalasi wajan, itu idenya dari tukang nasi goreng," begitulah penuturan dari Tegus Ostenrik, merujuk pada karya instalasinya 'Wok Flower'.

"Waktu itu anak saya sedang membeli nasi goreng, saya perhatikan kok wajannya digoyang-goyang dan punya irama. Saya langsung gambar di komputer dan jadilah karya ini," sambungnya saat asyik ngobrol dengan penulis beberapa waktu lalu.

Saran seniman jebolan Lette Schule dan Hochschule der K√ľnste, Jerman tersebut memang ada benarnya. Coba langkahkan kaki ke dapur. Begitu banyak perabotan memasak hingga interior dapur itu sendiri sebagai sesuatu yang bisa dipotret dengan hasil yang memukau dan estetik.

Kemudian ke ruang tamu, teras, pernak-pernik hiasan, tempelan kulkas, jepitan jemuran, mainan anak-anak, crayon menggambar atau apapun yang bisa disulap sebagai subjek foto yang menarik.

Bunga & Lebah
trisoenoe.com

Ketika membuka pagar, tengoklah kiri-kanan apa yang terlihat. Siapa tahu ada tetangga yang sedang asik bermain ikan cupang, atau asik mengulik tanaman alias menjadi ahli botani dadakan, atau bunga liar yang mekar di tanah kosong sebelah rumah yang sangat memukau. Lantas aktifkan 'naluri fotografi' pada area yang lebih luas seperti perumahan anda atau rute sehari-hari ketika beraktifitas.

Foto bunga
trisoenoe.com

Setelah membuat mapping, temukan pola dan kebiasaan lingkungan yang ditinggali. Dari tukang sayur yang lewat, jam buka-tutup bakso cilok atau apapun yang kira-kira dapat diekslporasi secara fotografi.

Dan yang terpenting memperhatikan kebiasaan arah datangnya sinar matahari. Sebab, cahaya matahari yang berpindah-pindah dari utara ke selatan patut dicermati dengan cerdas.

Foto bunga, dalam genre Miksang
trisoenoe.com

Dengan ilmu ini, pada tahap tertentu, fotografer mampu memahami karakteristik cahaya matahari (available light) pada tiap-tiap musim hingga jam per jam. Nantinya akan sangat berguna ketika melakukan streetphotography atau traveling photography dan landscape photography.

Misalkan rumah-rumah yang berada di selatan khatulistiwa dan menghadap ke utara akan mendapat sinar matahari sekitar bulan April-September. Sebaliknya, bagi yang menghadap selatan akan menikmati limpahan matahari pada Oktober-Februari.

Setelah melakukan survei kecil-kecilan, tunggu apa lagi? Tinggal eksekusi dengan kamera apapun yang Sobat miliki; bisa kamera smartphone, mirrorless maupun DSLR. Pencetlah shutter kamera dengan berbagai pendekatan yang memungkinkan, dan juga dengan berbagai gaya yang Sobat rasa, cocok untuk diterapkan.

Bisa dengan sentuhan human interest atau street photography. Bisa juga dieksplore secara detail dengan gaya stock photography atau still life. Dapat menjepret medium atau close-up. Dapat diminta berpose atau bergaya candid.


Oh iya Sobat, spot yang sama ternyata mampu menghasilkan foto yang berbeda pada saat dijepret selisih beberapa jam saja. Sebab, derajat posisi matahari, cuaca, kelembaban dan tingkat polusi udara sangat mempengaruhi hasil foto nantinya. Jadi jangan khawatir, memotret sekeliling rumah itu akan sangat menggairahkan dari hari ke hari.

Petani menggarap sawah
trisoenoe.com

Sehingga tidak perlu jauh-jauh ke Eropa, Afrika atau Raja Ampat untuk menemukan spot foto dan juga obyek foto yang ciamik. Melainkan di sekeliling rumah Sobat sendiri, spot foto dan juga obyek foto itu bisa hadir saban hari dengan warna dan rasa yang selalu berbeda.

Itulah sebabnya, kenapa jeprat-jepret itu sangat menyenangkan!

Salam jepret selalu ya sobat! Dan tetap semangat!

Tulisan ini terinspirasi dari artikel; "Tips Fotografi-Kehabisan Ide untuk Memotret? Coba Tips Ini"
Tayang di detikInet, Kamis, 07 Mei 2015

Senin, 08 Februari 2021

Garis; Elemen Komposisi Dalam Fotografi


Bunga - Elemen lengkung dan komposisi simetris
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Senin, 8 Februari 2021

Ada teman saya yang bilang, kalau fotografi itu mirip dengan "Avatar Aang" (teman saya yang satu ini rupanya terlalu banyak "bergaul" dengan TV ketimbang dengan alam nyata), dan ternyata, teman saya ini benar! Ternyata memang, dalam fotografi itu banyak elemen-elemen yang "berkecimpung" dan membentuk fotografi itu sendiri. Dalam fotografi, juga dikenal ada enam elemen penting yang menyusun komposisi foto dalam frame, keenam elemen tersebut adalah: garis (line), bentuk (shape), wujud (form), tekstur (texture), pola (pattern) dan warna (color). Kita akan mengenal aplikasi elemen-elemen tersebut dalam dunia fotografi.


Nah Sobat, kita akan mulai dengan elemen yang pertama: Elemen Garis. 

Dari keenam elemen komposisi foto yang disebutkan diatas, garis adalah elemen yang terpenting (paling tidak, begitu menurut “tuturane” para pakar). Tanpa ada garis, tidak akan ada bentuk, tanpa ada bentuk tidak akan ada wujud. Dan tanpa garis serta bentuk, tidak akan ada pola. Nah bagaimana Sobat memanfaatkan penggunaan garis supaya foto Sobat bisa kelihatan lebih ciamik? Yuk, kita ulas bareng-bareng di sini.

Sehari-hari kita selalu melihat elemen garis, hanya mungkin karena terlalu terbiasa, mata dan otak kita tidak segera "ngeh" alias menyadari keberadaan elemen garis tersebut. Horison (garis cakrawala), alur sungai, garis pantai, pematang sawah, jalan, rel kereta api, tangga, gedung, ubin keramik dan lainnya. Dan elemen garis itu ada dimana-mana. Pada dasarnya garis bisa dibagi menjadi 4 jenis: horisontal, vertikal, diagonal dan lengkung. Masing-masing jenis bisa mewakili pesan dan rasa tertentu bagi mata yang melihatnya dalam bentuk foto.

Jembatan Kahayan - Palangkaraya
Elemen garis horisontal dan lengkung
trisoenoe.com

1. Garis Horisontal

Garis horisontal memberi kesan stabilitas, tenang, permanen dan kokoh. Contoh paling jelas dari garis horisontal adalah garis cakrawala yang membagi langit dan daratan (atau lautan), garis cakrawala (horison) seperti kaki bagi tubuh: kuat, kokoh, pondasi. Hindari penggunaan garis horisontal tepat ditengah-tengah foto anda karena bisa menimbulkan kesan kaku dan mati. Lebih bagus lagi, carilah garis horisontal yang berlapis-lapis.

Gedung - Elemen garis vertikal
trisoenoe.com

2. Garis Vertikal

Garis vertikal bisa merepresentasikan kesan kekuasaan dan tinggi (misalnya foto gedung bertingkat) serta pertumbuhan (misal pohon). Hindari meletakkan garis vertikal secara "arogan" ditengah-tengah foto sehingga seakan-akan membelah foto menjadi 2 bagian.

Rel Stasiun Beos
Elemen garis diagonal
trisoenoe.com

3. Garis Diagonal

Dibanding garis horisontal dan vertikal, garis diagonal bersifat lebih dinamis. Garis ini memberi nafas dalam komposisi sehingga kesannya lebih hidup. Saat Sobat mengeksploitasi garis diagonal secara "pas" dalam foto, Sobat akan mendapatkan foto yang sangat ciamik dan sedap dipandang mata. Gunakan garis diagonal dengan menariknya dari satu sisi ke sisi yang berseberangan.

Bunga
Elemen garis kurva (lengkung)
trisoenoe.com

4. Garis Kurva (lengkung)

Diantara jenis garis lain yang sifatnya formal dan kaku, garis lengkung memiliki sifat luwes dan sangat dinamis. Kalau garis diagonal membuat komposisi terasa lebih hidup, garis lengkung melebihi itu, dia memberi kesan lebih sensasional dalam komposisi foto. Garis lengkung kesannya lembut, relaks dan dinamis. Garis lengkung juga sangat dominan di alam, anda bisa menemukan dalam beragam bentuk: gunung, lengkung pantai, ujung daun atau kelopak bunga. Temukan garis lengkung disekitar Sobat dan foto Sobat akan terlihat lebih keren.

Sekarang Sobat sudah mengenal 4 jenis garis dalam elemen komposisi. Saatnya mencari garis di sekitar Sobat. Latihlah mata Sobat untuk mengenali garis-garis ini. Dan jangan lupa, tidak ada salahnya untuk menggabungkan keseluruhan elemen garis itu ke dalam satu frame. Dan kalau Sobat berhasil memadukannya, siap-siap kaget dengan hasilnya!

Nah, selamat mencoba!

Jembatan Kahayan - Palangkaraya
Elemen garis kurva dan diagonal
trisoenoe.com

Artikel ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

Diadaptasi dari: 

Jumat, 05 Februari 2021

Ayo Sobat, Kita Memotret Bunga (lagi)!


Teratai
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Jum'at, 5 Februari 2021

Artikel ini masih ditulis dibawah bayang-bayang pendemi. Semua serba tidak pasti. Setiap orang hidup dalam kondisi “separuh” takut. Dan saya menulis ini, saat saya Isolasi Mandiri. 
Benar Sob!..... Saya postif covid! 

Covid-19!

Ya! Hampir semua orang hidup dibawah ketakutan. Takut akan terpapar, takut akan menulari orang, atau takut akan terpapar lagi. 

Nah Sob, daripada kita hidup tapi terkungkung dalam ketakutan, ada baiknya kalau kita mulai bangkit dan “bersahabat” dengan rasa takut itu. Mulai nikmati saja ya Sob, mulai ikhlas menerima bahwa Covid-19 ini akan terus-menerus ada. Protokol Kesehatan tetap harus dijalankan ya Sob! 

Sabar!

Berdoa!

Dan apapun yang akan terjadi nanti, terima dengan lapang dada. Kita hanya mampu mencegah, tapi Sang Pemilik Takdir pula yang akan menentukan. 

Bunga di atas air
trisoenoe.com

Nah Sob, supaya pikiran kita tidak sumpek, ada baiknya kalau sobat saya ajak untuk bersenang-senang di fotografi. Ini nih Sob, ada artikel menarik, yang sepertinya cocok diterapkan di musim pendemi seperti ini. Namanya “Memotret Bunga”. 

Foto bunga adalah salah satu proyek foto yang boleh dibilang termasuk foto yang cukup populer, , apalagi bagi pemilik kamera baru, foto bunga hukumnya wajib dicoba. 

Kenapa harus bunga?

Yah, soalnya, bunga itu terbilang gampang untuk ditemui. Ga perlu jauh-jauh harus ke tempat yang spesifik dus nyempil. Apalagi sekarang, dimana tanaman lagi naik daun (walaupun ikan cupang juga naik daun ya!), tiba-tiba, banyak bermunculan tukang kembang. Nah, jadi gampang kan!

Tapi, walaupun gampang, tetap aja Sob, Sobat harus punya tips untuk diterapkan, agar jepretan Sobat nanti hasilnya tidak malu-maluin.

Sob, yuk kita bahas beberapa tips memotret bunga supaya hasil foto Sobat bisa layak untuk disebut….Foto! 

Bunga
trisoenoe.com

1. Jangan maksa harus ke taman

Kalau Sobat tinggal di daerah yang subur dan di pegunungan atau pedesaan yang relatif banyak “habitat” tanaman bunga dimana-mana, maka Sobat cukup beruntung. Apesnya adalah, kalua ternyata Sobat tinggal di kota yang benar-benar “kota” alias padet bin sumpek. Untungnya, sekarang ini banyak bermunculan profesi yang namanya florist alias “tukang bunga”. Carilah tukang bunga terdekat dan beli!. Memang jadi ada tambahan biaya tapi dijamin Sobat bisa memilih jenis dan kualitas bunga yang sesuai keinginan untuk dipotret.

Dan kalau mau irit, Sobat bisa aja keliling yang agak lama di tukang kembang itu. Belagak nawar atau nanya ini-itu sambil jepret sini-situ. 

Alhasil, dengan modal yang minimalis, sobat bisa dapet jepretan yang “maksimalis” (asal, besok-besok jangan balik lagi ke tempat itu, bisa-bisa si abangnya ngenalin, terus Sobat disambit pake sendal gara-gara kebanyakan motret tapi ga beli!)

Bunga dalam komposisi minimalis
trisoenoe.com

2. Jangan takut coba-coba

Pokoknya, jangan pernah takut untuk coba-coba bermacam-macam gaya! Karena kalua Sobat takut untuk coba-coba gaya, nanti hasil fotonya juga akan kelihatan biasa-biasa saja. Cobalah potret dari samping, atau malah dari bawah sekalian. Berbeda bukan? Cobalah bereksperimen dengan beragam sudut pemotretan, dan jangan takut mencoba! 

Teratai dalam komposi rule of third
trisoenoe.com

3. Basahi bunga atau potretlah setelah hujan

Bunga yang basah atau berembun memiliki keistimewaan tersendiri bagi mata yang melihatnya. Untuk memotret bunga dalam kondisi basah, Sobat bisa menunggunya setelah hujan atau memotretnya pagi-pagi sekali setelah malam yang berembun. Jika dua kondisi ideal ini tidak terpenuhi, Sobat toh bisa mengakalinya sendiri. Gunakan semprotan dari jarak yang agak jauh dan kalau bisa aturlah agar butiran airnya selembut mungkin supaya tekstur air yang menempel di bunga lembut dan kelihatan alami.

Mawar (komposisi diagonal)
trisoenoe.com

4. Aturlah agar background nyambung dan seirama

Niatan Sobat memotret bunga adalah untuk menangkap keindahan mereka, untuk itu pastikan si bunga ini tetap menonjol keindahannya dan tidak dicemari background yang kurang seirama atau terlalu ramai. Lakukan segala upaya agar anda memperoleh background yang oke: ganti sudut pemotretan, singkirkan background yang mengganggu, pilih aperture besar supaya background jadi blur, atau lakukan pemrosesan menggunakan photoshop untuk membuat background terasa lebih ciamik.

Bunga liar (close up)
trisoenoe.com

5. Potretlah secara close-up

Untuk memotret bunga secara close-up Sobat bisa melakukannya dengan cara: zoom lensa Sobat sampai maksimum, atau gunakanlah filter close-up (apa itu filter close up? Ga tau?, cari tau sendiri ya Sob….hehehehe), atau kalau Sobat punya kamera SLR maka Sobat bisa menggunakan lensa makro. 

Memotret bunga secara close up membantu membuat background semakin blur dan juga meningkatkan detail yang tertangkap kamera sehingga hasilnya lebih menonjol.

6. Untuk foto super close-up lakukan di dalam ruangan

Foto bunga super close-up menggunakan lensa makro atau filter close-up seperti foto diatas, jika dilakukan di luar ruangan maka anda harus menghadapi beberapa tantangan, salah satu yang paling sulit adalah angin. Foto bunga super close-up memiliki jarak fokus yang sangat tipis, jadi begitu angin bertiup dan bunga bergerak sedikit saja sudah mengubah titik fokus. Untuk itu, usahakan bunganya kedalam ruangan supaya resiko tiupan angin hilang.

Selain itu, Sobat akan lebih mudah mengatur background (misalnya gunakan kertas atau kain yang warnya sesuai keinginan Sobat) dan pencahayaan (misalnya gunakan cahaya dari jendela serta beberapa kertas manila sebagai reflektor). Gunakan manual fokus dan gunakan aperture sekecil-kecilnya (f/x; dimana x diset di angka yang terbesar misal f/22 atau f/16)

Teratai dalam Hitam Putih
trisoenoe.com

7. Jangan ragu untuk Hitam-Putih

Nah, kalau yang ini sih tentative, alias boleh diterapkan atau tidak. Terserah Sobat! Kalau misalnya Sobat lebih suka apa adanya, ya silahkan, atau Sobat ingin buat foto Sobat jadi Hitam Putih, Ya silahkan juga.


Inilah hebatnya fotografi. Dia tidak pernah memaksa Sobat untuk menjadi apa yang diam au, tapi dia akan memberikan kebebasan sebasar-besarnya kepada Sobat semua, tergantung apa kesukaan masing-masing.

Akhir kata, selamat memotret Sobat!

Salam Jepret selalu.

Artikel ini ditulis oleh saya sendiri (Tuntas Trisunu) dalam masa Isolasi Mandiri. 

Sabtu, 30 Januari 2021

Fotografi Miksang (Bukan Aliran dalam Fotografi, melainkan Pemahaman dan Filosofi)


Foto Bunga
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Sabtu, 30 Januari 2021

Sudah beberapa minggu ini, saya tergoda untuk mempelajari satu “aliran” fotografi, yang jujur, saya baru aja “ngeh” sama jenis fotografi ini.

Fotografi Miksang!

Ya! Fotografi Miksang! Ini bukan jenis fotografi yang biasa saya pelajari dan selama ini. Miksang ini punya jalur yang beda. Punya filosofis yang juga tak sama dengan aliran fotografi lain. 

Unik! Berbeda! Sekaligus bikin gregetan bin penasaran.

Lho, kok bisa?

Nah, disinilah letak dari ke”unik”an si Miksang ini. Miksang seakan-akan membuat saya untuk “melupakan” semua aturan dan metode fotografi yang selama ini saya pelajari. Saya sebelum-sebelumnya kalau mau jeprat dan jepret, pasti sibuk memikirkan berbagai cara, aspek, metode, dan tetek bengek lainnya (termasuk di dalamnya, menyiapkan Gear yang segubrag banyaknya). Dan setelahnya saya juga masih sibuk crop sana, crop sini, kilik sana, kilik sini, putar sana, putar sini, dan sebagainya demi mendapatkan hasil yang saya inginkan.


Karat Dinding
trisoenoe.com

Tapi di Miksang ini ternyata beda.  Miksang ini seolah “menggiring” saya untuk memotret tanpa melihat langsung hasil fotonya, tanpa oprek sana sini, bahkan sekedar merubah kontras atau level, tanpa melakukan zooming maupun cropping, hanya memotret satu kali tanpa diulang, tidak berpindah posisi untuk mencari sudut “tembak” yang lebih baik, tidak men”drama”kan si obyek foto, bahkan tidak perlu memikirkan aliran apa yang harus diusung, tema, dan pesan apa yang disampaikan melalui foto tersebut? 

Dan diluar dugaan saya, ternyata hal-hal ini sangatlah sulit. Saya tak lagi bisa memaksakan persepsi saya pada jepretan dan memvisualisasikannya pada hitam dan putih. Saya harus mulai belajar untuk menjadi “kosong”, dan mulai membangun konsep berbeda dalam melihat segala sesuatu. 

Segala yang tercipta, memiliki keindahannya sendiri !    
Duh……Saya benar-benar kagum nih sama si “Miksang” ini.

Bunga
trisoenoe.com

Ya!, Saya akan mempelajari Miksang, bukan untuk menguasainya, tapi untuk memahaminya. Saya mungkin tak akan pernah benar-benar mampu menghasilkan foto “Miksang” seumur hidup saya, tapi saya akan sangat menikmati prosesnya. Seperti yang selama ini saya lakukan, menikmati proses, dan bukan hasil!

Sendiri!
trisoenoe.com

Dan supaya seimbang pemaparannya, dibawah ini adalah tulisan yang saya alihbahasakan dari Miksang.com, yang memaparkan apa itu Miksang, silahkan menikmati!

Apa itu Miksang?

Miksang adalah salah satu bentuk fotografi kontemplatif yang mengajak kita untuk melihat dunia kita dengan cara yang baru. Dalam beberapa hal tampaknya miksang ini sangat sederhana, tetapi tidak selalu mudah.

Jika kita dapat menempatkan perhatian pikiran kita, kesadaran kita, dalam indera penglihatan kita, kita akan melihat persepsi yang jelas dan menghentikan pikiran sepenuhnya, tanpa gangguan. Dan ketika itu terjadi, kita dapat terhubung dengan apa yang kita lihat secara lebih mendalam dan intim.

Ini membutuhkan ketenangan pikiran, kesabaran, dan keinginan untuk benar-benar melihat apa yang ada di sana, sehingga kita bisa memahami bagaimana mengekspresikan apa yang kita lihat dengan kamera kita dengan cara yang sederhana dan tepat.

Miksang adalah fotografi di mana kita menggunakan kamera untuk mengekspresikan persepsi visual kita persis seperti yang kita alami. Karena kita tahu bagaimana mempersiapkan diri untuk menerima persepsi ketika kita melihatnya, dan kita tahu bagaimana memahami dengan tepat apa yang telah kita lihat, kita kemudian tahu persis bagaimana mengungkapkan apa yang telah kita lihat dengan kamera kita. Foto yang dihasilkan adalah ekspresi yang tepat dari mata, pikiran, dan hati kita karena terhubung dengan persepsi.

Miksang berarti 'Mata Baik' dalam bahasa Tibet. Kita semua memiliki "Mata yang Baik" sebagai bagian dari topeng manusia kita. Ini berarti kita memiliki kemampuan untuk melihat dunia dengan cara yang murni, tanpa terbelenggu oleh makna dan nilai, kesenangan, ketidaksukaan, atau ketidaktertarikan.

Saat kita bisa melihat dengan Mata Baik kita, dunia selalu segar, karena semua yang kita lihat seperti yang pertama kali. Tidak ada ingatan, tidak ada asosiasi, hanya dunia yang terwujud kepada kita, sebagaimana adanya, entah dari mana.

Persepsi ini hidup dan jelas, berdenyut dengan kehidupan. Dunia visual adalah pesta kita, taman bermain kita.

Melihat dengan cara ini memberi kita kegembiraan karena hidup.

Melalui gambar kita, kita dapat mengekspresikan pengalaman melihat kita. Foto-foto kita akan membawa di dalamnya hati kita, pikiran kita, darah pengalaman kita.

Demikianlah sob, apa yang bisa saya paparkan tentang Miksang. Semoga sobat-sobat bisa menikmatinya.

Catatan:

Saya sangat beruntung, karena saya mengenal seseorang yang memiliki pemahaman yang tinggi untuk miksang, dan beliau menuliskan ini (saya kutip tulisan beliau):

“Miksang sebetulnya adalah satu metode berkarya di fotografi yang nantinya tidak bertujuan untuk mencari pujian atau sanjungan apapun, baik lisan maupun tulisan. Karena apresiasi adalah satu variable yang tidak bisa dikontrol. Itu bermula dari masalah tinggi rendahnya tingkat apresiasi dan atau wawasan penikmat.”

“Berkarya itu idealnya karena hati nurani. Bukan karena mengejar pujian atau sanjungan.”

Dody S. Mawardi

Saya banyak membaca catatan-catatan dari beliau, dan ini menambah pemahaman saya tentang Fotografi Miksang.

Penghargaan tertinggi untuk beliau, karena sudi berbagi ilmu dan sudut pandang pemahaman kepada banyak orang, terutama saya.

Terima kasih.

Artikel ditulis oleh: Tuntas Trisunu

Sumber: