Selasa, 20 Juli 2021

Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Kelima


Foto Abstrak
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Selasa, 20 Juli 2021

Salam jumpa lagi Sobat jepret semuanya. Seperti janji saya sebelumnya, coretan ini adalah sambungan dari artikel keempat (Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Keempat), dan artikel ini adalah episode kelima alias episode terakhir dari entah lima episode yang ada dalam artikel ini. 

Segera saya cari kontak beberapa kawan di komunitas yang sering kudengar membicarakan tentang fotografi abstrak sampai jauh-jauh malam. Dan bukan main-main, saya sengaja cari fotografer-fotografer yang menurut saya tulen, yang memang paham betul dunia per “abstrak”an ini. Dan tidak berhenti hanya di pemahaman saja, saya bahkan sampai cari fotografer yang punya tampang yang “abstrak”, supaya lebih mantab jiwa. Untungnya, mereka semua bersedia menjadi juri (sudah pasti dengan embel-embel kopi, gorengan, dan juga rokok sebagai sesajen). 

Pada suatu hari yang telah ditentukan berkumpulah kawan-kawan itu di depan teras kedai kopi mas Bejo, dekat tukang kue cubit, di dekat kosan saya. Tergeletak di situ tidak kurang dari 10 foto abstrak, dua di antaranya adalah foto hasil jepretan Bedul. Saya sendiri tak tahu yang mana. Lalu saya persilakan lah mereka memilih yang mana diantara sepuluh foto abstrak itu satu foto abstrak yang palsu. 

Tegang sekali suasana saat itu! 

Delapan pasang mata tajam-tajam memandangi kesepuluh buah potret. Tapi rasa-rasanya, saya kenal sinar-sinar mata itu. Sinar mata orang yang sedang memikir teka-teki silang atau perkara seni yang berat. Sudah bisa saya duga, dan benar juga hasilnya bahwa saya harus menyerahkan 500 ribu perak kepada Bedul. Saya kalah. Dua buah lukisan abstrak yang mereka katakan palsu justru potret hasil jepretran si Ujang jambul.

Sakit hati saya, tapi saya tetap percaya dan yakin bahwa antara foto abstrak dan foto coreng-moreng, asal jepret sembarangan pasti ada bedanya. Pada suatu saat pasti ada yang bisa memberi keterangan yang sesungguhnya dan betul kepada Bedul, kawanku sekampung halaman itu. Mudah-mudahan saja cepat tiba saatnya supaya Bedul tidak sampai berlarut-larut.

Yang sudah terang adalah: saya kalah 500 ribu perak. Upah yang baru saja saya terima dari boleh jual potret, melayang sudah. Kata paman saya di rumah, ayah Bedul yang salah. Kata kakak saya, justru paman Bedul yang salah, karena tak diberikan ketentuan-ketentuan yang lengkap kepada Bedul bahwa pekerjaan yang harus didapatkannya di Jakarta itu adalah pekerjaan yang ada gunanya dan menghasilkan uang.

Tapi, kata mas Bejo si tukang gorengan dan kopi, sayalah, si “sok tau” ini, yang salah, karena saya mau ikut-ikut urusan orang lain.

Salam Jepret selalu.

(Kisah ini adalah kisah fiksi semata, tapi ceritanya terilhami oleh kejadian nyata yang saya alami sendiri!)

Artikel diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Jumat, 16 Juli 2021

Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Keempat


Komposisi Abstrak
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Jum'at, 16 Juli 2021

Selamat ketemu lagi Sobat. Seperti janji saya sebelumnya, coretan ini adalah sambungan dari artikel ketiga (Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Ketiga), dan artikel ini adalah episode keempat dari entah berapa episode yang ada dalam artikel ini. 

Nah, dibaca saja ya Sob!

Saya dengar kabar, sudah jalan tiga bulan ini Bedul terus-terusan ke mana-mana bersama Ujang, sudah seperti saudara kembar, menempel seperti bayangan.

"Berhentilah jadi fotografer abstrak ini, Dul," kata saya waktu saya temui lagi dia pada suatu malam di kedai kopi dan gorengan Mas Bejo dekat kosan saya.

"Alaaah, ada-ada saja kau ini....”

"Sungguh bukan yang begini yang dimaksud pamanmu dengan pekerjaan ringan itu. Carilah yang lain."

"Kenapa? Apakah kau juga menganggap fotografer abstrak itu pekerjaan rendah? Memang kata Ujang pun orang-orang kolot akan punya anggapan kalau pekerjaan fotografer itu bukan pekerjaan bonafide."

"Bukan begitu, tapi kau tak pandai dalam urusan seni...."Bedul mendelik matanya mendengar ini. "Kau kena bohong si Ujang," sambungku lagi.

“Dari mana kau tahu?” tanyanya sengit.

"Aku yakin, bagaimana seorang yang sama sekali tak paham seni, bahkan sama sekali tak tahu perkara seni, tahu-tahu bisa jadi fotografer,fotografer abstrak lagi? Ujang sudah kasih cerita bohong," sambungku lembut-lembut. Rupanya darahnya naik mendengar gurunya dikatakan pembohong.

"Kenapa kau mau ikut campur urusanku?" tanyanya setengah teriak.

"Karena aku kawan sekampungmu, Bedul. Kita sama sama sejak kecil." Lunak juga hati Bedul mendengar kata-kata yang kuucapkan dari dasar hati yang semurni-murninya itu. Tertunduk ia.

“Mana kau mengerti tentang seni fotografi abstrak, Kawan? Kata Ujang pun...."

"Baiklah," putusku gembira karena melihat maksudku hampir tercapai. "Jadi kalau orang-orang yang mengerti tentang fotografi abstrak mengatakan kalau foto-foto kau tak berarti sama sekali, mau kau berhenti jadi fotografer abstrak?"

"Baik," katanya. "Tapi aku kira aku bisa memotret, Kawan. Aku lihat sama saja foto-foto yang kubuat dengan foto yang dijepret oleh fotografer-fotografer abstrak lainnya."

"Banyak bedanya, dan memang hanya orang-orang yang mengerti dan banyak paham seni sedalam-dalamnyalah yang bisa membedakan itu."

"Jadi kalau ahli-ahli foto abstrak itu tak bisa membedakan foto hasil jepretanku dengan foto abstrak kawan-kawan lainnya, berarti aku bisa memotret abstrak, bukan?"

"Aku persilakan kau terus jadi fotografer abstrak, dan aku tambahkan lagi uang taruhan 500 ribu perak kalau memang mereka tak bisa membedakannya," kataku dengan bernafsu. Dan Bedul setuju.

Nyambung ya Sob, ke episode keempat, dengan judul: "Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Kelima"

Artikel diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Selasa, 22 Juni 2021

Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Ketiga


Bunga Rumput
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Selasa, 22 Juni 2021

Salam jumpa lagi Sobat. Seperti janji saya sebelumnya, coretan ini adalah sambungan dari artikel kedua (Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Kedua), dan artikel ini adalah episode ketiga dari entah berapa episode yang ada dalam artikel ini. 

Nah, silahkan dinikmati ya Sob!

Atas kehendak Tuhan juga tentunya tersesatlah Bedul pada suatu pagi ke Museum fatahillah di Kota Tua. Orang orang di sana sedang sibuk membuat persiapan untuk sesi pemotretan malam harinya, dan Ujang sedang asyik menyelesaikan pekerjaannya mengatur pernak pernik properti abstrak, miring ke sana miring kemari dan ada juga berbagai lukisan yang catnya belentang-belentong tak karuan. Di hadapan dekorasi yang tengah dikerjakan inilah Bedul lama berdiri. 

Ujang Jambul minta bantuan Bedul untuk membantu mengatur dekor itu. Tentu saja Bedul bilang bahwa ia tak bisa, dan diterangkan sekali bahwa sejak kecil ia paling bodoh dalam segala hal yang berbau seni. Tapi Ujang memaksa juga minta tolong. Bahkan Bedul diberi kebebasan pula untuk menata atau mencoretkan warna apa saja ke dekor itu. Dicoba Bedul juga. 

Dan apa kata Ujang? 

Ujang bilang, Bedul pandai menkomposisikan berbagai obyek, serta melukis abstrak. Ia mempunyai cita rasa paduan obyek serta warna yang artistik sekali dan murni yang datang dari kenaifan yang matang. 

Mungkin, dari begitu banyak ocehan Ujang ini, hanya kata "pandai" sajalah yang ia pahami. Tapi ini membuat Bedul cukup gembira. Untuk pertama kalinya ada orang yang mengatakan ia begitu. Maka asyiklah ia bekerja menata atawe mengkomposisikan berbagai obyek properti tadi, dan juga mencoreng-coreng dekor itu, dan Ujang Jambul bisa istirahat. Sementara itu, iseng-iseng Bedul mencoret-coretkan kuasnya ke berbagai obyek, membuat gambar daun pisang. Kembali Ujang memuji Mansur. Katanya Mansur pandai melukis abstrak, tentunya juga pandai memotret abstrak.

"Saya tak bisa melukis," kata Bedul, "lihat saja garisnya juga belengkak-belengkok."

"Tolol, bukan bentuknya yang penting dalam seni lukis modern, tapi jiwa dari lukisan itu. Dan kau bisa menjadi seorang pelukis modern, melukis abstrak. Kau telah berhasil menjelmakan suatu reaksi yang murni Komposisi warna yang kau susun sangat filosofis, juga mengalun dengan natural selaras dengan harmoni alam."

Panjang-lebar sekali keterangan Ujang itu. Kembali Bedul mendengar bahwa ia pandai "Seni". Alhasil, Bedulah yang akhirnya mengatur dan juga menata seluruh dekor itu. Kemudian di tanyakannya kepada Ujang, apa betul ia bisa menjadi seniman abstrak? Apakah fotografer abstrak suatu pekerjaan? Dan jadilah ia fotografer aliran fotografi abstrak. la yakin benar bahwa tak ada pekerjaan yang lebih ringan daripada fotografer abstrak ini, hanya modal jeprat-jepret, atau hanya cekrak-cekrek dan ini dipuji orang.


Artikel diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Minggu, 20 Juni 2021

Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Kedua


Fotografi Abstrak
trisoenoe.com

Radio Dalam, Kebayoran Baru, Jakarta, Minggu, 20 Juni 2021

Salam jumpa lagi Sobat. Seperti janji saya sebelumnya,  artikel ini adalah artikel lanjutan dari artikel pertama (Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Pertama), dan artikel ini adalah bagian kedua dari entah berapa episode yang ada dalam artikel ini. 

Ya sudah, silahkan menikmati ya Sob!

"Berani sumpah kau bahwa kau sekarang fotografer?" "Sumpah apa kau mau?" jawabnya tenang-tenang. Saya masih tidak bisa percaya. Sejak dulu memang dia paling berani bersumpah.

"Minum dulu kita?" sambungnya lebih tenang lagi. Betul betul saya jadi tidak bisa berpikir apa-apa mendengar ucapannya yang terakhir itu. Dan dengan tak insyaf saya rupanya telah mengikuti Bedul masuk ke kedai kopi belakang Toko Merah.

"Nanti bagaimana kalau ayahmu tahu kau jadi berantakan seperti ini, Dul?"

"Ini kan gaya hidup biasa buat kami." Barangkali maksudnya berantakan ala fotografer yang seniman,. 

"Dan aku sudah memenuhi permintaan ayahku juga, mendapatkan pekerjaan yang paling gampang," jawabnya, dan diteguknya gelas kopinya. Agak meringis-ringis dia karena masih belum dingin betul kopinya.

"Sudah banyak order yang datang padamu? Banyak uang kau!"

"Belum ada. Aku masih mendapat kiriman terus dari Ayah."

"Jadi kau tetap akan mengharapkan saja kiriman kiriman orangtua?"

"Memang kenapa? Kan aku sudah memenuhi permintaannya, mendapatkan pekerjaan yang paling gampang."

"Fotografer itu menurutmu pekerjaan yang paling gampang?" tanyaku. Dia hanya meneguk gelas kopi lagi dan kembali meringis seperti orang sedang minum jamu pahit.

"Kita kan dulu sebangku di Sekolah Dasar Inpres di Jalan pasar Kemis?" Dia langsung mengerti apa yang ku maksud, yakni bahwa saya tahu betul dia tak paham masalah seni sama sekali. Tapi dia tertawa terbahak-bahak, keras sekali. Hampir saya tampar, naik darahku, untung cepat saya bisa maklum bahwa efek kopilah yang membuatnya begitu.

"Lain, lain, Sobat. Aku juga baru tahu sekarang. Kesenian di sekolah memang neraka, tapi kesenian, terutama yang berkaitan dengan abstrak, seperti melukis atau sekarang yang aku tekuni, fotografi abstrak, adalah pekerjaan yang paling gampang." 

"Jadi kau fotografer abstrak?

Bedul mengangguk.

"Bisa kau memotret abstrak?"
"Kenapa tidak? Semua orang juga bisa. Kau juga bisa kalau mau."
"Kau salah Bedul," saya ingatkan. "Fotografi abstrak, sama halnya dengan lukisan abstrak, adalah aliran fotografi yang sudah lanjut sekali, dan itulah yang paling sukar."

"Kalau aku bisa kau mau apa?"

"Siapa yang bilang kau bisa memotret abstrak ini?"

"Ujang Jambul." (Saya samarkan nama asli dari sang fotografer abstrak ini, demi menjunjung kode etik...hehehe)

Saya juga kenal Ujang Jambul, seorang fotografer abstrak yang kesohor, makanya jadi tak begitu sukar saya mendapat keterangan-keterangan apa sebabnya kawanku Bedul ini jadi begini. Inilah kisahnya.

Nyambung ya Sob, ke episode ketiga, dengan judul: "Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Ketiga"

Artikel diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Sabtu, 19 Juni 2021

Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Pertama


Noktah Daun - Fotografi Abstrak
trisoenoe.com

Radio Dalam, Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu, 19 Juni 2021

(Kisah ini adalah kisah fiksi semata, tapi ceritanya terilhami oleh kejadian nyata yang saya alami sendiri!)

Semua orang pintar dan “cenayang” yang kesohor di kampung kami semuanya meramalkan, bahwa Pak Uban (Bukan nama sebenarnya ya Sob, sebaiknya saya samarkan namanya, supaya tak ada yang sakit hati), orang yang paling anti kepada È›akhayul itu tak akan pernah dikaruniai anak. Tapi kehendak Tuhan jugalah kiranya yang tetap berlaku. Dunia “orang pintar” dan per”cenayangan” langsung dilanda gempa hebat, Bu Uban melahirkan seorang anak laki-laki. Mulut-mulut yang usil, fanatikus-fanatikus “alam gaib”, mengatakan bahwa anak Pak Uban ini adalah anak yang didapatnya karena mereka minta-minta kepada jin botak dan lelembut di Gunung Kidul. Ucapan-ucapan ini tak sedikit pun berarti buat Pak Uban atau mengurangi cintanya kepada anak yang kemudian ternyata satu-satunya itu. Ya, Bedul adalah anak mereka semata wayang.

Cinta orang tua Bedul sangatlah berlebih-lebihan kepadanya, karena selain mereka hanya mempunyai seorang anak itu saja, mereka menganggap bahwa Bedul adalah karunia Tuhan lantaran mereka tekun beribadah. Semua yang diminta dan diinginkan Bedul tak satu pun yang ditolak, apalagi Pak Uban adalah termasuk orang berpunya di kampung kami. Tapi ternyata kasih-sayang yang begitu tidak membuat Bedul menjadi baik. Ia terhitung seorang anak yang banyak tertinggal, baik di sekolah maupun dalam pergaulan. Ia sangat manja dan tak mau berpikir. Usia Bedul telah mencapai 25 tahun, tapi tetap juga bersifat kekanak-kanakkan dan sangat pemalas. Bedul menjadi buah pembicaraan orang kampung dan bermacam macamlah ramalan orang tentang masa tua Bedul nanti. 

Pola Daun - Fotografi Abstrak
trisoenoe.com

Salah seorang paman Bedul, yakni abangnya Pak Uban, meramalkan bahwa Bedul akan menjadi dedemit kalau ia tetap saja berada di kampung dan dimanjakan oleh orangtuanya. Paman ini sangat berpengaruh di antara keluarga, dan seluruh keluarga besar sangat menyetujui usulnya supaya Bedul pergi dari kampung, merantau mencari pengalaman. Bedul tak boleh kembali ke kampung serta tak diakui keluarga mereka kalau ia tak mendapatkan kerja yang betul-betul kerja, kerja yang diupah alias digaji. Ini sangat berat diterima oleh orangtua Bedul, tapi mereka tak bisa berbuat lain. Bedul harus pergi ke Jakarta mencari pengalaman dan mendapatkan kerja yang sebenarnya, demikian putusan keluarga. Tapi sebelum ia pergi masih sempat juga Pak Uban membisiki Bedul, "Carilah kerja yang paling gampang dan tak payah, ya Nak!"

Bermacam-macamlah ramalan orang-orang tentang bagaimana jadinya dengan si Bedul ini di perantauan. Bermacam-macamlah, tapi tak seorang pun menerka bahwa Bedul akan menjadi seorang fotografer di Jakarta. Dan saya sama sekali tak bisa mempercayainya, tidak seujung rambut pun, karena saya kenal betul sejak sama-sama di bangku sekolah dulu di Sekolah Dasar Inpres di Jalan pasar Kemis, Tangerang. Dia duduk sebangku dengan saya. Fotografi itu adalah seni, dan kesenian adalah pelajaran yang paling dibencinya, karena betul-betul harus di kerjakannya sendiri, sedangkan pelajaran-pelajaran yang lain dia masih bisa curi-curi contek dari saya. Kalau belum jidatnya kena jitak paling sedikitnya tiga kali, belum pernah ia mau menekuni kesenian. 

Coretan Ranting - Fotografi Abstrak
trisoenoe.com

Tapi, hari ini, saya dengan mata-kepala saya sendiri telah menjumpai dia di emperan Toko Merah, di Kota Tua, Jakarta. Dia kongkow di antara beberapa fotografer lainnya yang asyik ngobrol. Semua keterangan yang kudapat dari kawan-kawan yang mengenalnya mengatakan bahwa Bedul adalah fotografer tulen. Dan Bedul sendiri mengakuinya. Sungguh mati saya tidak percaya. Kalau potongan memang ada, karena sudah sejak dulu ia paling malas cukur rambut. Dan saya tidak kaget sama sekali kalau menjumpai Bedul yang jauh dari orangtuanya ini rambutnya gondrong dan kumisnya berantakan. Tapi Bedul jadi fotografer? Sungguh tak masuk akal sama sekali! Bagaimana ia jadi memilih pekerjaan yang berkaitan dengan seni, sedang ayahnya bilang supaya ia mencari pekerjaan yang semudah-mudahnya?


Artikel ditulis oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA