Senin, 23 Juli 2018

Apa Sih Bedanya "Fotografer" dengan "Tukang Foto"....???? (Tulisan ini adalah tulisan bagian Kedua)



Ciledug, Tangerang, Banten, Senin, 23 Juli 2018

Apa sih bedanya "fotografer dengan tukang foto"???
Bagian Kedua

(Ceritera ini sengaja saya belah menjadi dua babak, ada ceritera bagian satu dan ada ceritera bagian kedua, tujuannya hanyalah agar tak bosan membacanya. Dan kalau sobat bingung membacanya, baca dahulu bahagian pertama, barulah disusul dengan bahagian kedua. Mohon dimaklumi ya sob!)

Sebenarnya, ada yang mengganjal di kepala saya tentang ucapan dia, tentang apa itu fotografer, dan apa itu tukang foto. Saya punya pemikiran sendiri tentang apa itu tukang foto, dan apa itu fotografer dari sudut filosofis maupun praktis. 

Ingin rasanya saya kemukakan pendapat saya…….Tapi, melihat roman mukanya yang sedang kusut dan carut marut, tak sampai hati saya jadinya. Biarlah dia tenang dulu, biar berlalu dahulu soalan ini dari dirinya, setelah itu, bolehlah rasanya saya undang dia untuk omong-omong masalah ini, masalah bedanya tukang foto dan fotografer. 

“Kalau gw tau bakalan gini jadinya, gw kaga mau ambil job ini om, rugi waktu dan tenaga, tapi hasilnya malah bikin kecewa” sambung bedul sembari melirik kearah gelas kopinya. Kopinya hampir habis, saya menganggukkan kepala, dan dia lalu mengacungkan satu jari ke arah mas penjual kopi, pesan satu gelas lagi…..

“Mana orang bisa tau nantinya gimana mas bro, Cuma peramal aja yang tahu, atau merasa tahu, masa depan itu kaya gimana,” jawab saya. Dalam hati sayapun sependapat dengan kawan saya itu. Kalaulah saya bisa meramal dan tahu masa depan itu seperti apa, tentu saja saya akan berkilah seribu satu cara supaya saya tak ketemu dia hari ini. Rugi! Rokok saya musnah, malah saya juga harus kena traktir kopi!

Malam itu kita ngobrol sampai hampir subuh. Pelan-pelan, kawan saya itu rasanya mulai tenang dan bisa enteng kepalanya. Tepat jam empat pagi, dia pamit pulang, sayapun pulang juga. Enak juga sesekali omong-omong tentang topik yang “enteng-enteng berat” seperti ini.

Mungkin lain waktu, bisalah dilanjut ngobrol-ngobrol seperti ini lagi, tentu saja saya akan bikin persiapan matang. Saya akan siapkan air panas di termos dan juga kopi sachet puluhan renceng, jadi tak terlalu hancur-lebur saya punya kantong.

Setiba di rumah, sudah jam 5 pagi, jelas tak mungkin rasanya saya pergi nguli ke kantor hari itu. Jadi terpaksalah saya berbohong, kalau saya tak enak badan, dan tak dapat masuk kerja….

Seperti yang di awal saya ceritakan, kalaulah saja malam itu saya ada kerja lembur, dan harus terpaku di kantor, atau kalau saja saya punya kemampuan meramal yang cespleng dan jitu, tentu saja saya akan berkilah seribu satu cara, supaya saya bisa menghindar, dan tak jadi ketemu kawan saya malam itu!

Untuk melengkapi penderitaan sobat jepret sekalian, berikut ini adalah beberapa foto dari saya, yang bukan seorang fotografer dan juga bukan seorang tukang foto. Dan juga ada tambahan catatan, tentang apa itu fotografer dan apa itu tukang foto, berdasarkan sudut pandang dari seorang fotografer kawakan.










Tambahan:


Kemarin dulu, sebelum saya ketemu kawan saya ini, saya membaca suatu artikel yang terus terang, sangat pas dengan obrolan kami hari itu. Judul dari artikel itu adalah; “Perbedaan tukang foto dengan fotografer”, yang ditulis oleh fotografer kawakan, tuan Enche Tjin. Dalam artikelnya tersebut, beliau menulis tentang perbedaan secara definisi singkat saja, tanpa disertai dengan penjelasan yang mendetail mengenai kedua profesi tersebut. 

Dalam artikelnya, tuan Enche Tjin menulis:

“Pada dasarnya istilah tukang foto dan fotografer sama saja, yaitu orang yang ahli dalam membuat foto. Tapi istilah tukang foto lambat laun menjadi menurun nilainya, sedangkan titel fotografer semakin keren dewasa ini.

Dulu seseorang disebut tukang foto (kadang disebut juga kameramen), adalah orang yang menguasai teknik fotografi yang baik, tapi sekarang ini, tukang foto identik dengan orang-orang yang sekedar bisa mengunakan kamera dan tidak harus ahli di dalam bidangnya, apalagi di era digital yang serba otomatis, tinggal jepret pakai lampu kilat saja langsung, pasti terang gambarnya.

Tukang foto juga lebih identik dengan orang-orang yang menjajakan jasa foto dengan tarif relatif murah, seperti yang kita lihat di kawasan wisata ataupun tukang foto di acara-acara sosial seperti pernikahan.
Lalu apa beda tukang foto dengan fotografer?

Kalau tukang foto lebih bersifat reaktif terhadap suatu keadaan, fotografer pendekatannya lebih berbeda. Seorang fotografer menghabiskan banyak waktunya tidak di dalam sesi pemotretan saja, tetapi sebagian besar lebih ke pembuatan konsep & ide, perencanaan, persiapan, dan setelah selesai foto, masih harus melakukan post-processing (editing), layout dan percetakan.

Banyak yang harus dipikirkan untuk menjadi fotografer, apalagi fotografer profesional yang bertarif tinggi. Ide kreatif, eksekusi dan hasil foto lah yang membuat seorang fotografer dibayar jauh lebih tinggi nilainya daripada aksi motret itu sendiri.
Nah, itulah bedanya!

Sampai disini, saya bisa bilang agak setuju, tetapi, kalau sobat jepret punya pendapat lain, tak apalah, saya juga akan menyetujuinya juga. 

Dan lagi, kalau boleh jujur, berdasarkan definisi yang sudah diterangkan oleh fotografer kawakan tersebut di atas (tuan Enche Tjin), saya tidaklah masuk ke dalam golongan fotografer, ataupun golongan tukang foto. 

Kesimpulannya, saya hanya masuk ke dalam golongan orang yang hobby foto….itu saja!


Apa Sih Bedanya "Fotografer" dengan "Tukang Foto"....???? (Tulisan ini adalah tulisan bagian Pertama)



Ciledug, Tangerang, Banten, Senin, 23 Juli 2018

Apa sih bedanya "fotografer dengan tukang foto"???
Bagian Pertama

(Ceritera ini sengaja saya belah menjadi dua babak, ada ceritera bahagian satu dan ada ceritera bahagian kedua, tujuannya hanyalah agar tak bosan membacanya. Mohon dimaklumi.)

Kalau saja malam itu saya ada kerja lembur, dan harus terpaku di kantor, atau kalau saja saya punya kemampuan meramal yang cespleng dan jitu, tentu saja cerita di bawah ini tak akan pernah terjadi. Saya tak akan kehilangan jatah rokok saya, dan saya juga tak akan pernah melakukan dosa karena bolos kerja esok harinya dengan alasan sakit.

Itu semua berawal, ketika kawan saya bedul (bukan nama sebenarnya….sengaja saya sembunyikan nama aslinya, tapi saya suka panggil dia bedul, hanya isengnya saya saja) mengajak saya untuk ketemu. Kawan saya ini punya hobby yang sama dengan saya, jepret-jepret sambil nulis cerita di blog.

Sore itu, entah kenapa, si bedul ini ajak saya ketemu, kangen katanya, mau cerita-cerita sembari ngopi di warung kopi dekat kantor di Kemayoran. Tak biasanya ini kawan ajak saya ketemu selain di tempat foto, tentu ada hal penting yang mau dia obrolin, atau mungkin dia mau kasih jual lensanya ke saya….hehehehehe…semoga!


Jam 7 malam lewat sedikit, saya sudah duduk manis di TKP, di warung kopi yang sederhana, menunya sederhana, dan yang paling penting, harganya juga sederhana, cocok betul dengan isi dompet saya di tanggal segini. 

Waduh, rupanya si bedul belum datang, kawan saya yang satu ini masih juga belum sembuh penyakit ngaretnya, saya sudah tak kaget lagi, sudah sering ini kawan terlambat, saking terbiasanya saya sama ngaretnya dia, saya malah kaget kalau dia datang tepat waktu.

Ya sudah, sebaiknya saya ngopi saja dulu, sembari tunggu kawan saya muncul, segelas kopi tentu bisa jadi pembunuh waktu yang mujarab.

Satu gelas kopi datang, sruput sedikit, lalu teruskan kegiatan baca-baca artikel yang menarik di internet. Belum lagi sampai setengah gelas, kawan saya itu datang juga. “Hallo om”, saya menoleh, dan memang rupanya si bedul itu yang datang.

“Hallo dul, tumben lu ga telat banget?” 
“hehehehe….lowong om, ga terlalu macet, jadi bisa laju kemari,” sambungnya lagi. Sambil duduk, dia pesan kopi satu, kopi hitam, sama seperti yang lalu-lalu, selalunya kopi hitam saja, tak mau dia minum kopi yang lain selain kopi hitam.
Kopi hitam datang, dan pembicaraan dilanjut lagi.

“Ada apaan nih, tumbenan lu ajak gw ketemu di sini, kaga kaya biasanya,” Tanya saya sambil seruput kopi lagi, lalu hisap rokok dalam-dalam.
“Ga ada keperluan khusus om, Cuma ingin ngobrol aja, biasalah, ketemu sesama teman fotografer, silaturahim om,” sahutnya lagi. Lalu dia cabut rokok saya yang sengaja saya taruh di meja (kawan saya ini memang tak berubah gayanya, tak pernah mau membeli rokok sendiri, selalunya ambil rokok orang lain. Pernah saya tanyakan soalan itu kepadanya dulu, dan dengan enteng sambil cengar-cengir dia jawab, “rokok itu hukumnya haram…..tapi kalau beli sendiri! Kalau minta rokok orang lain, itu makruh hukumnya!”)

“Bener cuma silaturahim?” tanya saya lagi
“bener om, hanya silaturahim, kebetulan hari ini saya ada sesi poto dekat sini om, jadi saya sempatkan untuk ketemu om, lama ga ketemu, pengen ngobrol-ngobrol” ujarnya lagi sambil menyalakan rokok yang tadi dia ambil, ditariknya asap rokok itu dalam sekali, rupanya supaya asapnya bisa langsung masuk ke otak. “Cuma sesi poto yang hari ini ga asyik om, ga cihuy” katanya lagi.

Kelihatan betul kalau dia memang tak terlalu senang hari ini, roman mukanya kelihatan mangkel, kelihatan kucel, seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Saya pilih diam dulu, tak langsung saya tanyakan apa perihalnya. Lebih baik saya biarkan saja dahulu mahluk yang satu ini menikmati asap rokok dan kopi, supaya enteng otaknya. Sambil lalu, iseng saya perhatikan kawan saya ini.

Rupanya kawan saya ini memang ditakdirkan untuk menjadi fotografer sejati. Potongan badannya, model tampangnya, cara berpakaiannya, dan segalanya betul-betul potongan fotografer tulen, luar dalam, seratus persen asli, bukan abal-abal alias KW. Belum lagi…..kawan saya si bedul ini punya kebiasaan yang super nyentrik, yang kira-kira kalau orang yang otaknya waras, tak akan mau punya kebiasaan macam ini. 

Kawan saya ini punya kebiasaan, selalu bawa kamera kemana saja. Mulai dari kondangan, sampai tahlilan sekalipun, dia akan selalu datang dengan kamera tergantung di leher. 

Sampai ada kawan yang berkelakar, kalaulah si bedul ini datang ke suatu kondangan tanpa pakai celana dalam sekalipun, dia tak akan ambil pusing, dan tetap akan datang….. tapi kalau dia terlupa sama kamera di lehernya, berani jamin, kontan dia akan balik arah dan langsung pulang!

Sudah lima menit rasanya saya perhatikan si bedul ini. Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Tekun betul. Gatal hati saya kepengin tahu. Mungkin memang betul kalau teman saya bedul ini sedang punya soalan besar di pikiran.

“Ada apa nih mas bro, kelihatannya parah betul?” tanya saya, sambil saya ambil bungkus rokok saya, yang entah bagaimana, sudah bergeser ke depan dia.

“Biasa om, masalah poto” jawab Bedul. Ditariknya asap rokok dalam sekali.
“Masalah poto? Kenapa dengan sesi potonya bro?.......Gagal?” tanya saya lagi.

“Bukan om, bukan gagal…Cuma ga sesuai aja sama rencana awal. Melenceng jauh banget om. Belon pernah gw ngalamin foto prewed kaya gini, super ngeselin, kaga jelas, buang-buang waktu gw aja” sambungnya dengan nada separuh kesal dan separuh lagi..... muak.

Wah, pandai betul dia bikin saya penasaran. Ini pasti bukan kejadian sesi foto biasa, ini pasti sesi foto yang super ngeselin, sampe kawan saya mukanya jadi demek macam kain pel seperti ini.

“Lah, melenceng gimana mas bro?” tanya saya.
“Ya gitu om, susah kalo mau sesi foto, tapi orang yang mau difoto sok-sok an belaga kaya fotografer kawakan….pake ngatur-ngatur gw kudu gimana ngambilnya, harus pake gear apa, harus posenya gimana, dan seterusnya, dan sebagainya…….sialan pokoknya om.” Sambungnya dengan nada jengkel. 
“Padahal, di awal-awal udah disepakati, tentang konsepnya, tentang tema, tempat, pakaian, pokoknya tentang semuanya…..bahkan sampai waktu pengambilan fotonya udah kita sepakati semua, dan mereka juga sudah ok.”

“Lho, kalo udah OK, berarti tinggal eksekusi dong?” timpal saya, sambil mengacungkan dua jari ke arah si mas tukang kopi.....pesan kopi lagi, langsung dua gelas sekaligus, karena saya lihat, gelas dia juga sudah hampir kosong. Dosa besar rasanya, kalau pembicaraan yang menggebu-gebu macam ini, harus terpotong karena kopi habis.

“Eksekusi?...Eksekusi apanya om……” Jawabnya sembari ketawa dengan irama sebel, “Pas lagi kita udah di TKP, eh…….mereka dengan seenaknya ngerubah tema, ngerubah konsep, bahkan sampai ngerubah pose di frame. Kan kita-kita yang fotografernya jadi bingung om, semua yang udah disusun mateng, jadi angus dan sia-sia. Padahal udah sedari awal gw tegesin ke mereka, kalau mereka punya konsep atau tema tersendiri, sebaiknya diomongin di awal, jadi bisa klop, jangan pas di akhir-akhir atau pas eksekusi dirubah seenaknya….dan mereka juga sudah setuju…..Lah, ga taunya brekele. Coba pikir…..Buat apa kita babak belur mikirin dan ngerancang segala macam konsep dan tema, kalo ujung-ujungnya cuma asal foto doang, asal jepret doang!” si Bedul memukul meja, kesal betul tampaknya. Memang kelihatan kalau kawan saya ini geram luar biasa. 

Untungnya dia segera sadar, kalau ada satu gelas kopi penuh di sebelah gelas kopinya yang hampir kosong. Segera dia seruput gelas kopi yang penuh tadi, sambil matanya melirik ke arah saya. Saya paham betul artinya, rokoknya habis, saya sodorkan bungkus rokok yang tadinya saya pikir sudah saya selamatkan dan aman….Yah….Tak apalah, demi kawan. 

Pelan dia cabut sebatang rokok yang saya sodorkan tadi seraya mengucap terima kasih. Sundut, dan dengan tarikan panjang, dia hisap rokok itu.

“Emang susah om, gw berasa bloon banget, berasa kerja sia-sia. Kalau emang pengennya cuma asal foto aja untuk prewednya, ngapain juga mereka repot-repot nyewa fotografer buat ngaturin fotonya!...” suaranya jadi pelan.

“Kalau cuma asal foto aja, mending mereka sewa jasa tukang foto, lebih murah, lebih gampang juga dapetnya. Daripada kaya gini, nyewa jasa fotografer, tapi malah cuma disuruh jadi tukang foto……Bikin gw gondok aja. Gue jadi ga enak sama temen-temen yang gue ajak kerjasama, mereka jadi kesel sama gue, gara-gara mereka cuma dijadiin tukang foto doang……”
“Lho, kan yang penting dibayar bro”
“Ini bukan masalah bayaran om……Ini masalah image gue dan temen-temen gue, masalah prestige kami om, kalo foto-foto itu dipajang pas resepsi, kita jadi malu hati om. Foto-foto itu kan macam portofolio kita, sekali orang nilai foto-foto kita hasilnya jelek, bakalan abis kita om, bisa ga ada lagi orang yang mau panggil kita, ga akan ada lagi orang yang percaya kalo gue fotografer…….Orang bakal nilai gue Cuma tukang foto, yang taunya cuman motret doang, ga pake teknik, angle, konsep, filosofis, dan segala macam. Gue alamat bakalan abis nih om, bakalan ga ada lagi orang yang mau pake gue untuk motret…..” Terputus ucapan Bedul karena melihat saya bengong. Dia menarik nafas panjang, matanya menerawang, kelihatan sekali kalau kawan saya ini benar-benar sedang ruwet otaknya.

Bersambung ke bahagian kedua......




Senin, 16 Juli 2018

Fotografer itu bukan seniman??? (Tulisan bagian kedua)



Kemayoran, Jakarta, Senin, 16 Juli 2018

Fotografer itu bukan seniman???

(Obrolan dengan 5 botol air putih,  3 gelas kecil kopi mix, 8 gelas besar kopi hitam dan asap rokok)

Artikel dua babak, dan ini adalah babak kedua, kalau ada yang merasa bingung membacanya, silahkan baca dahulu babak pertama. Terima kasih karena sudah sudi membaca!


Luar biasa! Semakin malam, semakin ramai saja Jakarta Fair ini, sepertinya, ribuan orang memadati arena ini, dari yang sekedar jalan-jalan, sampai yang memang berniat belanja. Perhatian saya kembali terfokus pada gadis SPG yang menjajakan kopi, tepat di depan kedai kopi ini. Berseragam merah, sambil membawa buku bon dan juga rencengan kopi, gadis-gadis SPG itu tetap bersemangat menjajakan kopinya dengan setengah berteriak…”Kopinya kakak! Tiga ribu kakak! Ayo kakak, kopinya, ada door prize nya kakak, ada gamenya juga kakak, ayo kakak, silahkan kakak!”……


Benar benar luar biasa, semangat mereka sangat luar biasa, entah sudah berapa ribu kali mereka berteriak-teriak seperti itu, menjajakan produk mereka kepada pengunjung yang lewat. Lebih banyak yang menolak dibandingkan yang tertarik membeli, tetapi mereka tetap bersemangat dan tak kenal menyerah. Kalau orang yang mereka tawarkan itu menolak, mereka akan melontarkan kalimat yang sangat khas…”Terima kasih kakak!” atau ”Terima kasih om, tante, bunda!” dan lain sebagainya. Dan tanpa buang waktu, mereka akan langsung menawarkan kepada orang yang lain lagi, tetap dengan semangat yang sama, tetap dengan ke “khas” an yang sama, dan dengan kalimat rayuan yang sama….”Ayo kakak! Kopinya kakak! Murah kakak! Tiga ribu saja kakak!”, dan seterusnya.


Asyik juga saya memperhatikan solah mereka, tanpa sadar, saya terlupa pada keasyikan saya sebelumnya, tentang pembicaraan “seniman vs fotografer” tadi. Saya juga tak sadar, kalau ternyata, sudah hampir dua jam saya duduk di sini, dan saya juga tidak sadar, kalau saya sudah membiarkan dua gelas kopi yang saya beli tadi, masuk ke perut saya, dus, saya sudah pesan lagi dua gelas kopi gelas besar, dan keduanya juga sudah berlabuh dengan damai di perut saya. 

Cukup sudah! 

Saya harus pulang! Sudah sembilan gelas kopi masuk ke perut saya, sudah belasan batang rokok yang saya hisap, dan itu sudah lebih dari cukup!

Saya rapikan lagi kamera saya, sambil merapikan pakaian dan juga menebah abu rokok yang rupanya banyak betul bertebaran di badan, berdiri, dan berjalan menuju tangga untuk turun dan kemudian meninggalkan kedai kopi ini, lalu pulang! Ketika saya melewati posisi pertama saya, tampaknya dua kekasih itu sudah lama pergi, bangku itu sudah kosong, sudah bersih. Tetapi…….Buset dah! Gerombolan “fotografer” yang tadi saya curi-curi dengar rupanya masih ada di tempat yang sama, dan masih dengan gelas kopi yang sama……Dan belum habis juga!!!!! 

Gila! 

Hebat banget mereka! Sanggup duduk berjam-jam hanya dengan bermodalkan satu gelas kopi dengan harga tak lebih dari tiga ribu perak! 

Gila! 

Saya salut luar biasa pada mereka, jarang sekali…….tak pernah malah, saya bertemu dengan orang yang isi bicaranya belasan bahkan puluhan juta, tetapi hanya sanggup jajan kopi yang harganya cuma tiga ribu perak!

Mampus dah!................

Ilmu saya tak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka, ilmu dalam hal “pelit”isme dan “medit” isme tentunya.

Semangat saya yang tadinya berisi semangat untuk pulang, beralih ke semangat curi-curi dengar lagi! 


Supaya ada alasan saya untuk tetap duduk di bangku tadi, bangku dimana saya duduk di saat pertama tadi, saya dengan sangat terpaksa harus pesan kopi lagi! Hadehhhhh…..




Dan kembali saya duduk di sini, di tempat awal saya duduk di kedai kopi, dengan ditemani oleh dua gelas kopi ukuran jumbo di depan saya. Seruput sedikit kopinya, ambil sebatang rokok, sundut, lalu dengarkan lagi pembicaraan “gerombolan fotografer” yang kelihatannya, sedang ramai-ramainya, dan herannya, masih dalam topik yang sama…yaitu ”seniman vs fotografer”….!

“Jadi, menurut lu, fotografer itu bukan seniman?” rupanya gadis yang kecanduan selfie tadi, masih belum merasa mendapat jawaban yang pas dari sang “fotografer” mengenai definisi seniman dan fotografer.


“Jelas bukan lah!” Sahut si fotografer. “Seniman itu yang kaya lu lihat di emperan glodok atau di blok M, yang kerjanya ngelukis ngelukis yang ga jelas gitu, ngelukis orang, ngelukis bunga, atau paling apes, ngelukis pantatnya truck pasir!……… itu baru namanya seniman,” sambung di fotografer lagi dengan intonasi suara yang sangat yakin!

“Kalo fotografer itu kaya gue gini, motret model, pake kamera ciamik, itu baru namanya fotografer sejati!” sambungnya lagi, lalu si fotografer itu ketawa ngakak, dan tak lama kemudian, rekan-rekannya juga ikut-ikutan tertawa, entah apa yang mereka tertawakan, karena menurut saya, sama sekali tak ada yang lucu dari pembicaraan itu!

“Mana ada seniman yang bawa-bawa kamera? Seniman itu kerjanya ya kaya di kesenian gitu, bikin lukisan, nari, bikin pahatan, dan lain-lain. Dan rata-rata mereka kaya gelandangan alias nyentrik and kumel dan ga punya duit. Beda ama bos kyu ini, kalo bos kyu ini real fotografer, punya kamera puluhan juta, dan juga punya gear yang harganya juga puluhan juta,  jadi dia itu fotografer, beda jauh ama seniman, ngerti ga lu non?” Timpal teman si fotografer yang punya model macam boyband korea itu. Dan setelah kalimat itu, kembali mereka tertawa lepas, tertawa yang untuk saya, seperti suara alarm atau suara lonceng jam weker yang membangunkan kesadaran saya, kesadaran untuk segera pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan sekawanan “fotografer” dengan sejuta ceritanya yang tak jelas, juga sejuta ketawanya, dan meneruskan tujuan saya semula, yaitu pulang!

Kedai kopi itu sebenarnya masih lama tutupnya, jam sepuluh malam. Sama dengan event Jakarta Fair yang baru tutup jam sepuluh malam. Tetapi, saya tak sanggup lagi kalau harus tetap duduk di sana sampai dengan jam sepuluh malam. Seharian itu, perut saya hanya terisi dengan lima botol air putih, kopi mix 3 gelas kecil, dan kopi hitam 8 gelas besar, serta asap rokok. Bokong  saya panas, perut saya kembung, dan badan saya keluar keringat dingin. Ditambah lagi dengan pulang naik motor, badan yang sudah dingin ini, jadi makin ditambah dingin lagi oleh keringat yang diterpa angin.

Kalau ada orang yang bilang: “Aku tidak takut pada siapapun selama orang itu makan nasi,” maka orang tersebut harus takut pada saya. Seharian itu saya hanya mengisi perut saya dengan 8 gelas besar kopi, 3 gelas kecil kopi, dan asap rokok. Keesokan harinya, saya masuk angin, dan langsung mencret. 

Ternyata, hanya untuk tahu bedanya seniman dan fotografer, itu berat sekali. Apalagi kalau cara mencari tahunya itu salah, bukannya jadi paham dan mengerti, malah jadi masuk angin dan mencret.

Benar sob, ternyata, apa yang saya lakukan hari itu, bukanlah hal yang berguna. Ternyata, curi-curi dengar itu benar-benar pekerjaan yang sangat sia-sia. Tidak ada untungnya, apalagi ilmunya! Yang ada hanya anginnya saja!

Kesimpulannya…..Jangan curi-curi dengar, nanti bisa masuk angin! 

kalau mau paham, pergi baca buku, atau tanya ke seniman yang benar-benar seniman tulen, dan tanya ke fotografer yang benar-benar fotografer tulen tentang apa bedanya fotografer dengan seniman. 

Sekian dulu ya sob cerita saya ini, lain waktu akan saya sambung lagi dengan cerita lain yang lebih tidak berguna dari saya.

Oh ya, kalau sobat-sobit jepret tetap ingin tahu tentang definisi fotografer dan seniman, tentang Jakarta fair dan kedai kopi, silahkan baca catatan dibawah ini.

Dan untuk melengkapi penderitaan sobat-sobat jepret semua, akan saya sertakan beberapa foto yang saya ambil di event ini.









Catatan:

1. Jakarta Fair adalah salah satu event besar di Jakarta, tepatnya di arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran. Biasanya berlangsung di medio Juni-Juli setiap tahunnya, berlangsung kurang lebih 40 hari. Didalamnya ada macam-macam stand dan juga event yang sangat menarik. Kedai kopi yang saya maksud, ada di dalam Jakarta Fair, dan harga 1 gelas kopi memang benar-benar tiga ribu perak.

2. Cerita ini memang benar-benar terjadi, namun tutur ceritanya terinspirasi pada kumpulan cerpen karya “Misbach Yusra Biran” dengan judul buku “Keajaiban di Pasar Senen”. Gaya bertutur cerita ini juga terpengaruh dan mengikut pada gaya bercerita buku itu, lebih spesifik, yaitu pada cerpen “Keajaiban di Pasar Senen” dan cerpen “13 Kopi Kecil dan Asap Rokok”.

3. Fotografer atau juru foto (bahasa Inggris: photographer) adalah orang-orang yang membuat gambar dengan cara menangkap cahaya dari subyek gambar dengan kamera maupun peralatan fotografi lainnya, dan umumnya memikirkan seni dan teknik untuk menghasilkan foto yang lebih bagus serta berusaha mengembangkan ilmunya. Banyak fotografer yang menggunakan kamera dan alatnya sebagai pekerjaan untuk mencari penghasilan, dan gambarnya akan dijual untuk cover majalah, cover calender, artikel, dll.

4. Seniman adalah istilah subyektif yang merujuk kepada seseorang yang kreatif, inovatif, atau mahir dalam bidang seni. Penggunaan yang paling kerap adalah untuk menyebut orang-orang yang menciptakan karya seni, seperti lukisan, patung, seni peran, seni tari, sastra, film dan musik. Seniman menggunakan imajinasi dan bakatnya untuk menciptakan karya dengan nilai estetik. Ahli sejarah seni dan kritikus seni mendefinisikan seniman sebagai seseorang yang menghasilkan seni dalam batas-batas yang diakui.

5. Secara singkat, Jakarta Fair adalah suatu event yang diselenggarakan di Jakarta, dengan tujuan untuk mempromosikan serta meramaikan ulang tahun Jakarta yang jatuh setiap tanggal 22 Juni. Dalam event ini, berbagai acara diadakan untuk memeriahkannya. Salah satunya adalah kembang api. Lebih lengkapnya tentang Jakarta fair, dapat disimak di link ini.


6. Kedai Kopi itu sebenarnya stand tempat menjual kopi dari merk tertentu. tetapi, karena ada tempat duduk dan mejanya, juga lengkap dengan kasir dan pelayannya, maka saya lebih suka menyebut tempat itu dengan "kedai kopi".

Fotografer itu bukan seniman??? (Tulisan bagian pertama)



Kemayoran, Jakarta, 16 Juli 2018

Fotografer itu bukan seniman???

(Obrolan dengan 5 botol air putih,  3 gelas kecil kopi mix, 8 gelas besar kopi hitam dan asap rokok)

Artikel ini diupload dalam dua babak, dan ini adalah babak pertama, mohon jangan bosan!

Tak banyak orang tahu apa artinya ‘fotografer’, dan tak banyak juga orang tahu apa artinya ‘seniman’, cuma sebagian saja yang mengerti arti kedua kata itu sebenarnya. Tapi, semua orang tahu apa artinya ‘kopi’ dan apa artinya ‘rokok’. Tapi sobat, artikel ini ini bukan untuk menerangkan apa arti kata-kata di atas; ‘fotografer,seniman,kopi,dan rokok’. Bukan sob, sama sekali tak ada keinginan untuk saya menerangkan itu semua. Saya hanya ingin menceritakan satu peristiwa, dimana saya, secara sangat ‘aneh bin ajaib’, kecemplung dalam situasi, dimana kata-kata yang ‘magis’ itu bisa muncul secara harafiah, dan intens.

Itu terjadi pada di hari Kamis  tanggal 21 bulan Juni tahun 2018, selepas siang, di lokasi yang namanya Jakarta Fair. Lokasi dimana saya juga bekerja di sana, walau tak terlibat secara langsung. Entah kenapa, hari itu saya merasa jenuh level dewa. Saya jenuh, karena saya harus bekerja, sementara banyak buruh seperti saya, yang asyik kumpul-kumpul dengan keluarga, menikmati libur. Ketawa-ketiwi, cerita-ceriti dan pasti, ada sebagian yang sambil sedot cerutu. 

Sementara saya???? 

Saya malah harus duduk manis di kantor, di bawah sinar lampu TL yang sinarnya menciptakan suasana “harus kerja, kerja, dan kerja!” Ditambah dengan koneksi internet di kantor, yang biasanya lambat, sekarang malah turun ‘perseneling’ dan pindah ke percepatan paling rendah…alias….”mode siput….ON!”
Hadehhhh…..!!


Ya sudahlah, daripada isi kepala ini dilanda jenuh terus menerus, lebih baik saya habiskan waktu melihat-lihat Jakarta Fair yang sudah mulai ramai, siapa tahu, ditengah “kepanikan” pengunjung yang berbelanja, otak saya bisa jadi enteng, dan segala macam dedemit dan jin iprit yang membuat suasana hati jadi jenuh, bisa minggat cepat-cepat! Atau siapa tahu, ada bidadari yang “kepleset” dari khayangan, dan terperosok di salah satu stand yang ada di situ, jadi bisa saya jepret dan saya upload di istagram saya….Semoga!

Ambil nafas sebentar, siapkan kamera, masukkan ke dalam tas, pakai jaket, pakai topi, langsung jalan ke TKP yang memang lokasinya tak jauh dari kantor dimana saya ber”singgasana”. 


Tak sampai dua menit jalan kaki, sampailah saya di “The Jakarta Fair” yang kesohor itu. Bukan main ramainya! Segala macam bentuk manusia seakan “tumplek blek” di sini. 



Ada yang model “maniak belanja”, dengan berbagai macam jinjingan menggantung di tangan, lengan, bahkan sampai leher! Wuihhhh…!! Ada juga yang model “Miss Universe”, dengan dandanan yang super “bling-bling” yang mungkin memantulkan 95  persen cahaya matahari, bikin silau mata orang yang berpapasan dengan “mahluk ini”, dan langsung  buta sesaat, terus kejedot tiang stand yang emang jumlahnya banyak…….Atau minimal, tabrakan dengan pengunjung lain! Hehehehe…

Ada juga orang tua yang panik karena anaknya hilang di tengah keramaian, atau anak yang kehilangan orang tuanya, terus panik dan nangis melolong-lolong, walaupun, biasanya tak lama kemudian, si orang tua datang menjemput dengan tampang yang tak kalah paniknya!....

Wah….pokoknya, bermacam suasana ada di sini!

Dan yang model fotografer, ternyata juga banyak banget, bejibun malah! Dengan segala atribut “perang” super dahsyat dan terkini! Dari tripod yang harganya setara dengan kamera saya, dan kamera yang harganya setara dengan gaji saya setahun.....hahahahaha.... Jadi bikin ciut nyali saya, yang statusnya masih “fotografer” pemula yang abal-abal, yang gearnya hanya sebatas kamera DSLR “Low Cost” tanpa embel-embel blitz ataupun tripod dan sebagainya.  Wahhhh!!! Sempet saya merasa minder kala saya memotret “bidadari-bidadari” stand yang memang banyak di tempat ini! Untunglah, rupanya banyak juga fotografer yang ternyata satu kasta dengan saya, jadi tak terlalu minder deh. Minimal, agak saru sedikit dan tak terlalu mencolok mata!


Ya sudah, saya putuskan untuk terus hunting potret, keliling-keliling, sambil jepret sana, jepret sini. Setiap “target” yang menarik, langsung saya jepret tanpa malu-malu. Mulai dari SPG yang make-up nya meleleh karena puanasnya mentereng abis, atau SPG yang dengan semangat menggebu-gebu berteriak kepada setiap orang yang lewat..’minumnya kakak! Murah, lima ribu dua kakak….Ayo dibeli kakak’, atau teriak ‘rokoknya kakak! Dapat gratis korek dan hadiah door prizenya kakak’....dan macam-macam teriakan lainnya, yang intinya, setengah memaksa pengunjung untuk membeli produknya.  

Atau memotret orang-orang yang sedang duduk, ketawa, bengong, sampai pada emak-emak yang tampangnya super panik karena bingung harus belanja apa lagi. Pokoknya, apa yang buat saya menarik, semua saya jepret! 


Setelah betis ini mulai kaku dan keras macam pokok kayu, saya putuskan untuk mampir ke stand kopi yang memang banyak di sini. Duduk manis, pesan kopi segelas, kopi datang, seruput sedikit, sundut rokok, dan mulai menikmati asap rokok dan kopi, sambil melihat perolehan jepretan saya dan sesekali menikmati suasana “hiruk pikuk” yang semakin “luar biasa” menjelang malam.

Tak lama setelah itu, masuklah sekelompok anak muda, dengan perlengkapan fotografi yang juga sangat “lengkap bin mahal” dan mereka duduk di samping saya. Sama seperti saya, rupanya mereka habis jepret sana-sini dan memutuskan untuk beristirahat, sambil melihat-lihat hasil perolehan foto mereka. Awalnya saya tak terlalu peduli, tetapi, karena volume suara obrolan mereka dipasang mentok pol dan lumayan keras dan kebetulan juga mereka duduk di samping saya, alhasil, mau tak mau, saya jadi curi-curi dengar obrolan mereka,

‘bro, yang SPG di motor K*M udah lu foto bro?’ (sengaja saya sensor nama merk yang diomongkan mereka, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan....hehehehe) tanya salah satu dari mereka yang punya potongan model artis korea,

‘Udah dong, bukan cuma foto doang, WA nya juga gw dapet bray’ jawab temannya yang punya style fotografer, sambil ketawa ngakak, ‘pokoknya, bisa langsung di follow up deh!’, timpalnya lagi.

(sampai disini, kopi saya sudah habis, tetapi, karena pembicaraanya kelihatannya menjurus ke arah yang “menarik”, saya pesan lagi kopi, satu gelas kopi lagi, supaya cukup alasan untuk saya dapat duduk berlama-lama di sini dan meneruskan curi-curi dengar lagi!)

‘Mantab bray, tapi, sialan juga lu, gw juga udah incer itu SPG, malah elu yang nyamber duluan’ sahut salah satu teman yang duduk paling pinggir, sambil asyik melihat layar LCD kameranya. ‘Itu cewe pasti tertarik ame lu, soalnya lu disangka seniman ame tu cewe’, imbuhnya lagi.

‘Seniman? Sorry bray, gw fotografer, bukan seniman, elu itu yang seniman ga jelas’ balas si fotografer dengan nada sedikit sengit, ‘liat kamera gw lah, mana ada seniman pake kamera kaya gini?’ sambungnya lagi, seakan masih tak terima dengan tuduhan dari temannya, yang men”cap” nya sebagai seniman.

Kaget juga saya dengar kata-kata itu, saking kagetnya, saya teguk kopi macam saya teguk air putih, langsung habis, tandas! Dengan sangat terpaksa, saya pesan lagi kopi dalam porsi besar, supaya saya bisa berlama-lama untuk kembali curi-curi dengar topik yang semakin menarik ini. 

Si “Fotografer” tadi lalu menyambung kalimatnya, sambil sedikit memberi nasehat kepada kawan-kawannya. “Kalau mau serius di fotografi, jangan tanggung-tanggung, beli kamera yang bagus sekalian, kaya kamera gw yang ini, kualitasnya bagus, harganya juga lumayan murah, Cuma dua puluh lima juta, tambah lensa yang prime punya yang harganya lima belas juta, dijamin, hasil foto lu bakal keren!”

“Lah, murah juga harganya, Cuma dua puluh lima juta,” timpal kawannya dengan mimik wajah setengah serius, sekedar menyambut omongan saja. 

Buset dah, saya jadi kepengen marah, masa dua puluh lima juta dianggap lumayan murah?

“Kalo emang niat jadi fotografer, lu harusnya beli Ca*on EOS 5D yang mark IV dong, tambah gear dan tripod, paling sekitar enam puluh lima juta,” sahut temannya yang kurus jangkung sambil nyeruput kopinya....sedikit sekali. 

“Tadinya gw mau ambil yang 1D X Mark II,” sambung si”fotografer” tadi, “Cuma lensanya masih indent, jadi gw alihin ke kamera ini, padahal gw udah siapin budget delapan puluh juta, gw males kalo kelamaan nunggu,” sambil ketawa lepas. 

“Lho, bukannya kamera lu dulu itu ni*on D7200,” teman yang model korea itu balik tanya ke si “fotografer”

“Ah, kamera jelek tuh, apaan, susah banget buat fokusnya, gw cuma pake sebulan doang, abis itu gw lego ke kawan gw, dia cuma berani bayarin lima juta, ya gw lepas aja,”

“Gebleg lu, itu kamera harganya lima belas juta, kenapa lu lepas Cuma lima juta?” sambung si Korea dengan intonasi kaget beneran.

“itu kamera ga oke bos kyu, lu ga bakal dapet foto bagus pake kamera itu, mending lu pake yang mahal sekalian, tapi hasilnya bagus, daripada lu pake yang murah kaya kamera gw tadi. Kalo mau jadi fotografer, jangan nanggung-nanggung mas bro, kecuali lu mau jadi seniman, boleh aja lu pake kamera ebreg alias kacrut, tapi kalo lu mau jadi fotografer, ya lu kudu all out bos, pake gear yang emang bisa lu andelin, jangan yang abal-abal!” Sambung si fotografer dengan nada sedikit menggurui. 

“Emang seniman itu apaan sih cuy?,” tanya perempuan yang duduk persis di depan sang “fotografer”, yang sedari awal kayanya lebih banyak foto selfie ketimbang bernafas…hehehehe…rupanya ini cewek lebih mencintai tampangnya sendiri daripada apapun di dunia ini.

Sampai disini, saya harus pesan kopi lagi, tanpa terasa, sudah lima gelas kopi saya minum, dan rokok yang saya hisap ini, adalah batang pertama dari bungkus kedua, karena tanpa terasa, satu bungkus rokok sudah beres....Habis!

Si fotografer kelihatannya shock berat dengan pertanyaan temannya yang hobby selfie tadi, tapi layaknya seorang yang memang “maestro” dalam hal-hal tertentu (maksudnya, maestro dalam membual dan ngebohong), pertanyaan seperti ini pasti bukan hal yang berat untuknya.

“Seniman itu, ya seniman, masa lu kagak paham,” jawab si fotografer dengan nada enteng dan sambil nyeruput kopinya dengan santai, (sampai disini, saya merasa sangat “kagum” dengan “gerombolan” fotografer ini, bukan cuma karena pembicaraannya atau peralatan fotografinya, ataupun gaya mereka, tetapi “kagum” saya timbul, karena mereka bisa betah duduk dua jam lebih, dengan hanya minum segelas kopi saja tiap-tiap orang, itu pun masih sisa setengah, alias tak habis-habis…hehehehe)

“Ah…..Katro, kaga bisa jawab kan lu, seniman itu apaan emangnya? Kok lu bisa bilang kalo fotografer itu bukan seniman?” cecar si cewek selfie itu sambil terus ber”selfie” ria, mungkin sudah ratusan foto selfienya saat itu. 

“Ya, kalo fotografer itu kan udah jelas, kaya gw, punya foto-foto bagus, punya gear bagus, itu namanya fotografer,” jawab si “fotografer” sambil menyeruput lagi kopinya….benar-benar sedikit sekali nyeruputnya!

Melihat si fotografer itu menyeruput kopi lagi, saya jadi terbawa suasana, dan ikutan menyeruput kopi….Astaga! Kopi saya habis! Ini sudah gelas ke enam, padahal kopi saya itu gelas besar! Duh, terpaksa saya pesan lagi kopi, kali ini saya pesan dua gelas besar, supaya tak bolak-balik ke meja kasir untuk pesan kopi, takut bangku saya yang sangat “berharga” itu hilang, ditempati oleh orang lain!  Bisa hilang kesempatan saya curi-curi dengar pembicaraan yang sangat “super” itu.


Tetapi, rupanya, setelah saya pesan kopi, dan hendak kembali ke tempat duduk saya tadi,  tempat saya itu sudah ditempati oleh sepasang anak manusia yang sepertinya sepasang kekasih, kelihatan sekali dari cara mereka berbicara dan memandang satu sama lain. Ada yang berbeda, ada satu kedekatan yang sulit untuk dijelaskan, tetapi sangat mudah dimengerti bila kita melihatnya. 

Saya tak enak hati kalau harus mengusir mereka, atau mengintimidasi mereka supaya cepat-cepat pergi meninggalkan kursi itu. Jadi saya putuskan untuk pindah posisi, duduk di tepi teras kedai kopi itu, sambil menikmati gelas ke tujuh dan ke delapan yang sudah ada di tangan saya ini. Kebetulan sekali teras ini ada di lantai dua bangunan kedai, jadi, pemandangan lalu-lalang pengunjung Jakarta Fair, bisa leluasa saya nikmati.

Bersambung ke Babak kedua.......

Senin, 02 Juli 2018

ALIRAN FOTOGRAFI-FOTOGRAFI ABSTRAK




Kemayoran, Jakarta, Senin, 2 Juli 2018

Selamat hari Senin sobat jepret semuanya, apa kabar sobat hari ini?

Nah, kembali pada artikel yang ber"aroma" fotografi, kali yang akan saya ulas adalah tentang satu aliran fotografi, yang rasa-rasanya, tidak banyak fotografer yang mau terjun dan menekuni genre atawe aliran yang satu ini......yaitu aliran fotografi yang bernama "Fotografi Abstrak".

"Wahhhhhhh..."!

"Apa lagi nih? Apa benar ada aliran fotografi, yang namanya fotografi abstrak?"

Tenang sob, sebenarnya aliran fotografi ini tidak lebih "seram" dibandingkan aliran fotografi yang lain, tidak lebih "mengerikan" ketimbang Human Interest, atau Street, atau yang lainnya.....cuma saja, aliran ini hanya lebih "rumit" saja.


Apa pasal kok lebih rumit? 

Penjelasan sederhananya seperti ini sob, kalau dalam aliran fotografi yang lain, sebagian besar penikmat foto, akan memiliki sudut pandang yang sama dengan si fotografer, tentang suatu obyek dalam foto. 
Nah, kalau dalam aliran fotografi abstrak, lain lagi sob, dalam fotografi abstrak, mayoritas penikmat foto justru akan memiliki sudut pandang yang berbeda dengan si fotografer dalam melihat suatu obyek dalam foto. Secara garis besar, fotografi abstrak juga dapat disebut sebagai aliran fotografi "pemuja komposisi". Dimana suatu obyek, ditangkap dan dijabarkan dalam frame secara "bebas", dengan unsur utama yang paling menonjol adalah komposisinya. Terkadang, aliran ini menabrak berbagai aturan dasar dalam fotografi, seperti rule of third, aturan segi empat, dan lain-lain.


Udah jelas kan bedanya? Jadi, aliran ini bukan hanya berbeda dalam hal perspektif obyeknya, cara pengambilan fotonya, tetapi, bahkan perspektifnya dalam mengartikan si obyek juga berbeda.

Gimana? Mudeng ga? (mudeng itu bahasa jawa....artinya...ngerti).

Kalau sobat jepret sekalian masih belum mengerti juga.....Sobat Jepret ga usah deg-deg-an dan khawatir.....Tenang aja sob....Sobat ga sendirian, karena saya juga tidak ngerti sama sekali tentang aliran fotografi abstrak ini. Tetapi, itulah keindahan dari era keterbukaan saat ini, terutama keterbukaan dalam hal informasi. Supaya sobat dan saya sama-sama bisa paham dan mengerti, ada baiknya saya sertakan penjelasan yang sangat "super" tentang aliran fotografi abstrak ini, dari sang ahlinya langsung.



Berikut ini, kan dijabarkan secara panjang lebar, tentang aliran fotografi abstrak, demikian penjelasannya sob (disadur darihttps://formaxmanroe.com/threads/mengenal-fotografi-abstrak.744/, naskah asli adalah tulisan dari Alexanderkus, Aug 8, 2015 :

Fotografi Abstrak


Sudah berapa jenis fotografi yang sudah Anda pelajari dan Anda pahami? Mungkin sudah banyak yah mulai dari modeling, street fotografi, fotografi studio, still life, pernikahan, landscape dan lain sebagainya. Tetapi pernahkah Anda mendengar tentang fotografi abstrak? Apalagi ini? Apakah sebuah jenis fotografi baru? Tentu saja bukan, fotografi abstrak sudah dikenal sejak jaman ‘bahuela’. Jika Anda membuka pada Google Images dengan keyword fotografi ‘abstrak’, dipastikan Anda tidak akan menemukan foto-foto pemandangan gunung atau pantai, Anda tidak akan menemukan model cantik yang berpose seksi atau anak-anak yang berlarian. Fotografi abstrak justru akan dianggap sebagai foto yang rumit dilihat dengan berbagai bentuk benda, garis, dan segala komposisinya. Apakah ini sama dengan still life? Memang hampir sama karena still life dan abstrak jarang memasukan objek benda hidup. Tetapi fotografi abstrak lebih menonjolkan sebuah perpaduan antara garis, bentuk benda, tekstur dan komposisi ketimbang hanya menonjolkan sebuah objek utama.

- Inti dan definisi fotografi abstrak


Fotografi abstrak cenderung menghasilkan foto-foto yang dianggap sangat dramatis, misterius dan sedikit ribet dilihat. Fotografer abstrak memang sengaja mengangkat bentuk, warna, dan lekuk sebuah objek ketimbang hanya menonjolkan atau memperlihatkan detil sebuah objek. Jadi bisa disimpulkan bahwa fotografi abstrak memang tidak menampilkan objek secara jelas, namun hanya menyampaikan ide melalui bentuk, warna, dan lekuk yang dibentuk dengan komposisi sesuai selera fotografer. Banyak para seniman menganggap bahwa fotografi abstrak mencoba menkomunikasikan kepada orang yang melihat -umumnya melalui emosi, bukan melalui logikanya. Sebuah genre yang sederhana namun sangat rumit dipahami.

- Objek fotografi abstrak


Berbicara tentang fotografi abstrak, ternyata akhirnya menimbulkan pertanyaan bagi banyak fotografer pemula. Apa objek foto abstrak? Jawabannya padahal sangat sederhana, yakni semua benda. Fotografi abstrak tidak ada batasnya, semua benda yang ada di jagat raya bisa menjadi objek fotografi abstrak mulai dari rantai, dedaunan, alat elektronik, pensil, kipas angin, pagar, dan semuanya. Justru yang seharusnya menjadi pertanyaan bukanlah apa objeknya, melainkan bagaimana sebuah objek difoto agar menjadi abstrak. Jika sudah membahas soal bagaimana membuat foto abstrak pada akhirnya akan berurusan pada otak sang fotografer itu sendiri. Ide, imajinasi dan penataan objek menjadi hal yang penting. Sebagai contoh ada sekitar puluhan pensil yang ada, sang fotografer kemudian menata puluhan pensil itu secara sejajar dan bedempetan. Tatanan pensil-pensil tersebut kemudian di foto dengan komposisi membentuk haris vertical secara close-up. Hasil foto yang demikian sebenarnya sudah cukup layak disebut sebagai fotografi abstrak.

Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwa fotografi asbtrak tidak ada batasnya. Anda bisa mengatur objek dengan komposisi vertical, horizontal, melingkar, membentuk garis segitiga, segiempat, simetris sampai membentuk komposisi yang mungkin sama sekali tidak beraturan.


Apakah tips untuk membuat foto abstrak? Rasanya sulit untuk memberikan tips untuk genre fotografi ini karena foto abstrak bukan merupakan foto yang baku melainkan hanya bisa dirasakan dengan emosi. Mungkin hanya sebagai panduan bagi pemula dapat memotret abstrak dengan menghasilkan komposisi lebih nyaman lewat garis panduan yang tegas seperti vertical, horizontal, silang, dan rumus rule of third juga dapat digunakan dalam teknik foto abstrak. Terkadang Anda juga harus sedikit lebih mendekat dengan objek untuk menghilangkan elemen objek yang tidak perlu. Selamat mencoba dan terus berlatih.


Nah sobat, demikianlah penjelasan dari sang ahli, tentang apa itu fotografi abstrak. memang rumit kan? tapi, justru kerumitan itu yang membuat aliran fotografi abstrak ini menjadi sedemikian menarik. Tidak ada lagi batasan-batasan yang kaku yang membatasi kreativitas sang fotografer. Semua mengalir dan menyatu ke dalam imajinasi, dan sang fotografer juga diberikan kebebasan penuh (bahkan imajinasi yang paling liar sekalipun), untuk mewujudkan foto dalam koridor fotografi abstrak.

Akhir kata, semoga tulisan ini mampu menjadi rujukan yang "membingungkan", dan semakin menambah penderitaan sobat-sobat jepret sekalian. 
Hehehehehe.....becanda sob, jangan diambil serius. Pastinya penjabaran dari "sang maestro" fotografi tadi, dapat memberi pencerahan bagi kita semua.....semoga!