Senin, 30 April 2018

SPOT FOTOGRAFI-LAPANGAN FATAHILLAH



Kemayoran, Jakarta, Senin, 30 April 2018

Kembali pada artikel yang berserita tentang hal-hal yang ber-"aroma" fotografi. Jikalau sebelumnya, saya sudah mengusung artikel tentang Stasiun Kota atau Beos, Museum Bank Mandiri, Toko Merah dan Glodok, kali ini, saya akan mengulas secara singkat, tentang satu spot fotografi di Jakarta, yang rasa-rasanya, hampir semua orang Jakarta mengetahui tentang tempat ini. Tak lain dan tak bukan, tempat itu adalah Lapangan Fatahillah. Bener sob, satu tempat yang terletak di kawasan "Kota Toea" Jakarta, yang punya nilai sejarah yang sangat tinggi, walaupun, sayangnya, saat ini, tak banyak orang yang tahu tentang sejarah atau masa lalu tempat ini (lebih tepatnya, masa bodoh atau cuek). 


Tempat ini berupa lapangan yang cukup luas, dengan diapit oleh gedung-gedung tua di sekelilingnya, seperti gedung Museum Jakarta (dahulu museum Fatahillah), museum Keramik dan Senirupa, museum Wayang, cafe Batavia, Kantor Pos, dan lain-lain. Tak salah kiranya, kalau tempat ini menjadi spot foto yang sangat menarik, dan juga destinasi wisata edukasi yang bagus. 


Saat yang paling tepat untuk mengambil foto di tempat ini, adalah di pagi hari, selain hari Sabtu dan Minggu. Alasannya, di hari Sabtu Minggu, tempat ini menjadi padat luar biasa! Penuh dengan manusia, sulit sekali mengambil foto yang bagus dengan latar belakang gedung-gedung tua, ditengah lalu-lalang manusia yang mungkin, ribuan jumlahnya. Namun, jika memang yang dituju adalah obyek keramaian, maka Sabtu dan Minggu adalah hari yang tepat!


Dan satu lagi keunikan dari tempat ini, dihari Sabtu dan Minggu, kalau kita mampir ke sana, akan kita temui macam-macam rupa, obyek, dan juga "manusia-manusia yang sangat menarik, mulai dari sepada warna-warni, hiburan seniman "Manusia Patung", seniman Boneka, Meriam si Jagur, sampai tukang jualan casing HP (nah lho....ga nyambung banget ya), jadi lebih mirip arena pasar tumpah ketimbang tempat bersejarah!


Oh ya, demi menjunjung tinggi obyektifitas artikel, supaya berimbang, maka dalam artikel ini, akan saya sertakan juga sekelumit sejarah tentang Lapangan Fatrahillah, untuk menambah khasanah referensi sejarah kita. Disadur dari portal merdeka.com, dan juga saya akan mengutip tulisan dari satu web yang menurut saya, luar biasa, tunawisma.com. demikian ulasannya :


Merdeka.com - Senja di Lapangan Fatahillah sangat berbeda dengan senja di tempat lain di Jakarta. Meski mungkin sama-sama riuh, menghabiskan matahari di tengah kepungan bangunan tua menghadirkan nuansa yang sama sekali berbeda.

Jika suasana hati tak sedang ingin mengenang, sesekali nikmati saja geliatnya dengan membaur pada keramaian.

Di tengah lapangan biasanya akan gampang ditemui pertunjukan setiap akhir pekan. Termasuk kuda lumping pamer semburan api dari mulut sang pemainnya.

Atau, ulurkan saja tangan ke peramal dan nikmati ocehannya membaca garis tangan soal nasib rizki, jodoh atau pekerjaan. Tak perlu bersungguh-sungguh dihayati toh mereka hanya mencari sesuap nasi.

Jika bosan dengan peramal pilih saja yang lain, tukang tato, pelukis atau menikmati kopi untuk menemani senja atau sekadar melihat turis-turis berfoto di depan Gedung Fatahillah atau meriam kuno.

Tempat eksekusi mati

Lima meriam yang dipasang konon adalah pendamping meriam Si Jagur yang kini dipasang dekat Kantor Pos Besar. Si Jagur adalah meriam legendaris milik Portugis yang dibangun di Macao dan ditempatkan di benteng St Jago de Barra dekat pantai.

Meriam seberat 3,5 ton itu kemudian dipindah untuk memperkuat benteng di Malaka melawan Belanda tahun 1641. Portugis yang kalah akhirnya merelakan meriam itu diangkut Belanda. Penduduk setempat yang repot menyebut benteng asal meriam di St Jago de Barra menyingkatnya menjadi si Jagur.

"Dinamai Si Jagur oleh orang Betawi karena meriam-meriam besar itu bunyinya jegur-jegur," tutur Khasirun Musakhir Pengelola dan Perawatan Museum Sejarah Jakarta, Sabtu (22/11) yang lampau. Konon kembaran Si Jagur juga ada di Banten dengan nama Ki Amuk dan Nyi Setomi di Surakarta. 

Seperti Stadhuis atau balai kota di seluruh Eropa abad ke-17, Jan Pieterszoon Coen ketika membangun balai kota untuk Batavia juga melengkapinya dengan stadhuis plein atau alun-alun kota.

Dia juga menempatkan sebuah air mancur bersegi delapan sebagai sumber air bagi masyarakat setempat yang diambilkan dari Pancoran Glodok melalui jaringan pipa bawah tanah.

Selain berfungsi sebagai tempat keceriaan dengan pasar rakyat atau pekan raya di era itu stadhuis plein adalah tempat eksekusi. Pengumuman eksekusi biasanya dilakukan pagi hari ketika bel berukir soli deo gloria di atap Stadhuis berbunyi. Eksekusi lazim dilakukan sore harinya.

Pada tahun 1973 Pemda DKI Jakarta memfungsikan kembali taman tersebut dengan memberi nama baru yaitu Taman Fatahillah sebagai penghormatan kepada panglima Fatahillah pendiri kota Jakarta.


(Artikel asli ditulis oleh Wirawan Winarto)

Lapangan Fatahillah adalah altar Geger Pacinan. Kerusuhan Chinezenmoord tahun 1740 menewaskan puluhan ribu orang Tionghoa membanjiri dataran ini dengan darah. Orang-orang Tionghoa ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda, diikat di tanah lapang ini, kemudian sang gubernur memerintahkan eksekusi mati dari jendela Stadhuis de Batavia.

Peristiwa brutal itu benar-benar telah mencoreng reputasi pemerintah Hindia Belanda, hingga akhirnya sang gubernur, Adriaan Valckenier, dipenjarakan dan mati di ruang tahanan. Nasib orang Betawi dan Jawa tidak kalah menyedihkan. Di gedung Stadhuis de Batavia itulah mereka menjalani eksekusi. Genta didentangkan menyesaki Lapangan Fatahillah dan tubuh-tubuh para pribumi itu pun seketika tergantung tidak bernyawa di tiang-tiang eksekusi Belanda.

Seiring dengan sejarah Kota Jakarta, Lapngan Fatahillah memang selalu bergema. Namun bagi para pengunjung sekarang, barangkali tidak banyak yang menyadari bahwa lapangan ini pernah menyimpan gurat-gurat memori kelam. Lahan pembunuhan. Lahan pembantaian.

Pada beberapa gedung yang mengitari lapangan ini juga pernah tersimpan penjara-penjara bawah tanah. Bilik-bilik sempit seluas kamar pas itu mengurung para tawanan dalam kerangkeng-kerangkeng sesak. Ketika air laut pasang, air merendam seantero penjara bawah tanah, menyisakan sedikit ruang kosong untuk bernapas dan meninggalkan kondisi fisik para tawanan dalam keadaan sangat menyedihkan. Bukan hanya rakyat jelata yang pernah menyicipi penjara ini. Konon Pangeran Diponegoro dan Cut Nyak Dien juga pernah merasakan sadisnya hukuman Belanda di tempat ini.

Sepak terjang pemerintah kolonial tidak memandang bulu. Adalah Peter Erberveld yang pernah dieksekusi di lapangan ini. Kedua tangan dan kedua kaki sang perusuh diikat oleh empat kuda pilihan, kemudian ditarik ke empat arah berlawanan. Tubuh orang keturunan Jerman ini remuk redam tercabik-cabik menjadi empat bagian.

Jasad Elberveld dimakamkan di pinggir Jalan Pangeran Jayakarta dan ditandai oleh sebuah tugu. Pada tugu tersebut, kepala Elberveld dipancang di atas sebilah tombak dan di bawahnya tertatah sebuah prasasti. Jepang menghancurkan tugu ini pada saat pendudukan mereka di Indonesia pada tahun 1942, namun prasasti berhasil diselamatkan. Kini kawasan tersebut dinamai Kampung Pecah Kulit lantaran di tempat itulah seluruh kulit tubuh sang tokoh perusuh terlepas dari tubuhnya.

Perjalanan pagi di Lapangan Fatahillah berpayung mendung. Gerimis membasuh sedikit demi sedikit semenjak subuh dan nampaknya tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Dari jendela lantai dua Cafe Batavia saya melihat para pengunjung di bawah sana tertawa riang mengisi aktivitas Minggu pagi. Lembar-lembar nan kelam Lapangan Fatahillah nampaknya sudah menjadi kisah yang telah lalu.

Itulah dua versi dari sejarah lapangan Fatahillah. Memang, terlepas dari masa lalu yang kelam, tempat ini memiliki aura dan juga sisi fotografis yang sangat menarik. Tempat yang menawarkan setting fotografi yang "multi" waktu. Jika  para penggemar fotografi mampu menyiasatinya dengan apik, maka tempat ini bisa dijadikan latar belakang foto yang luar biasa! Berbagai macam tema foto bisa diterapkan di tempat ini, mulai dari still life photography

Nah, itulah dua versi tentang Lapangan Fatahillah, yang menurut saya, sangat elok jika kita ketahui (walaupun hanya sekilas). Dengan mengetahui latar belakang atau asal usul dari tempat ini, kita tak hanya mampu memanfaatkan tempat ini hanya sebagai tenpat jeprat-jepret yang bagus, tetapi juga mampu menilai tempat ini secara maknawi, dan juga memberikan nuansa "penghargaan" atas pribadi-pribadi yang pernah "terlibat" di dalamnya.

Demikianlah penuturan singkat saya, tentang satu spot fotografi yang unik di Jakarta, semoga, di waktu-waktu mendatang, akan ada lagi review singkat tentang tempat-tempat menarik untuk berfoto!

Salam Jepret sobat semuanya!
Oh ya, hampir lupa, berikut saya sertakan, beberapa foto yang saya ambil di Lapangan Fatahillah, semoga berkenan!
























Sabtu, 28 April 2018

SPOT FOTOGRAFI-MUSEUM BANK MANDIRI (SEKELUMIT SEJARAH DAN FOTO)



Kemayoran, Jakarta, Sabtu, 28 April 2018

Salam jumpa sobat jepret semuanya.

Artikel saya kali ini, akan membahas tentang spot fotografi yang bagus dan ciamik di Jakarta. Seperti kita tahu ya sob, di Jakarta ini, buaaaanyak banget spot fotografi yang super layak untuk dijadikan sebagai destinasi foto. Salah satunya adalah Museum Bank Mandiri, yang terletak di Jakarta Barat, masih di area Kota Tua Jakarta. 

Nah, kenapa Museum Bank Mandiri ini sangat direkomendasikan? Tak lain dan tak bukan, karena bengunan ini memang memiliki cita rasa seni yang tinggi. Bukan hanya bicara interiornya, juga eksterior dan item-item yang dipamerkan. Arsitektural dari bangunan ini bercirikan bangunan semi klasik, dengan atap yang tinggi dan jendela yang besar, dipadankan dengan lantai keramik serta cat yang sederhana, namun anggun. Ditambah lagi dengan lokasinya yang sangat strategis (untuk spot foto klasik tentunya), berseberangan dengan Stasiun Jakarta Kota (BEOS), bersebelahan dengan Museum Bank Indonesia, serta dekat dengan Lapangan Fatahillah, Toko Merah, Museum Seni Rupa dan Keramik, dan lain-lain, Jadi benar-benar "one stop destination". Belum lagi aksesnya gampang banget, bisa naik busway atau kereta.....tinggal jalan sedikit....sampai deh!


Kembali ke topik pembahasan, Spot Foto.....kalau bicara mau foto dengan tema apa yang cocok diterapkan di tempat ini....wah......jawabannya banyak sekali sob!

Mau foto dengan obyek model dengan latar belakang klasik....bisa! Mau foto hanya suasananya saja, alias interiornya saja...boleh! Pokoknya....wah....banyak banget deh. Still life fotografi juga bisa keren di tempat ini! 


Kalau menurut pendapat saya pribadi, tempat ini memang ajib banget. Walaupun bangunan ini sudah dipugar, tetapi si pengelola bangunan tetap mempertahankan "aura" sejarahnya melekat dalam bangunan ini. Sangat apik, sangat ber"aroma" klasik dan "Tempo Doeloe", belum lagi kalau bicara di area lantai bawahnya, waduh....terasa banget suasana "tempo doeloe"nya.

Oya sob, untuk melengkapi referensi artikel ini, tak ada salahnya saya sadur dari sumber yang sangat terpercaya, yang mengulas tentang "Museum Bank Mandiri" secara detil, cekidot ya sob (dikutip dari https://jakartalama.wordpress.com/2010/09/25/museum-bank-mandiri/)  :


Sejarah Gedung

Museum Bank Mandiri yang terletak di Jalan Lapangan Stasiun Nomor 1 (Stationsplein 1 – Binnen Niuewpoortstraat) merupakan bangunan peninggalan masa kolonial. Dahulunya berada dalam satu taman yang menyatu dengan Stasiun Kereta Api Jakarta-Kota atau Beos (Bataviasche Oosterspoorweg Maatschappij).


Awal sejarahnya bangunan ini merupakan Kantor Wilayah Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) di Hindia Timur yang lebih dikenal dengan nama de Factorij Batavia.

Bangunan ini dirancang oleh arsitek NHM, J.J.J. de Bruyn bekerja sama dengan arsitek Belanda lainnya, A.P. Smits dan C. van de Linde yang keduanya bekerja pada biro arsitek Hulswit, Fermont and Ed. Cuipers.

Gedung berdiri di atas lahan seluas 10.039 M2 ini, diresmikan pada 14 Januari 1933, oleh C.J. Karel van Aalst, Presiden NHM ke-10. Pemancangan diawali dengan tiang beton bulan Juli 1929 oleh biro konstruksi NV Nedam (Nederlandse Aanneming Maatshappij).


Arsitektur gedung berlantai empat seluas 21.509 M2 ini cenderung sederhana, berbentuk simetris dengan keberadaan taman di tengah gedung, dan main entrance tepat di tengah bagian depan bangunan. Lantai dasar gedung ini dibuat lebih tinggi dari jalan raya, sehingga kesan entrance-nya terasa anggun. Lantai lobi, ruang rapat, dan ruang direksinya memakai bahan mozaik keramik bercampur kaca (glasmozaiek-tegels). Sedangkan ruangan yang lain memakai tegel ubin (vloertegels) berwarna hitam, abu-abu dan merah.


Dengan lahirnya Bank Mandiri tanggal 2 Oktober 1998 dan bergabungnya empat bank pemerintah: Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) ke dalam Bank Mandiri, maka gedung warisan sejarah ini pun beralih menjadi salah satu aset Bank Mandiri.


Lokasi Museum Bank Mandiri

Museum Bank Mandiri bisa dicapai dengan berbagai cara. Cara termudah adalah menggunakan bus Transjakarta. Museum Bank Mandiri persis berada di seberang terminal pemberhentian terakhir bus Transjakarta.

Bila menggunakan kereta api, Museum Bank Mandiri juga berseberangan lokasinya dengan Stasiun Jakarta Kota atau populer disebut Stasiun Beos.

Banyak museum di kawasan ini. Ada juga Museum Bank Indonesia, Museum Sejarah Jakarta, Museum Wayang, Museum Keramik, dan Museum Seni Rupa. Museum-museum ini saling berdekatan letaknya. Jadi manfaatkanlah waktu Anda sebaik mungkin di kawasan ini.



Koleksi Museum Bank Mandiri

Persyaratan bagi materi koleksi museum adalah benda asli, reproduksi atau miniatur. Benda-benda ini pun harus mempunyai nilai sejarah, ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan. Harus pula mencerminkan proses perkembangan lahirnya Bank Mandiri. Bahkan keberadaannya harus merupakan bukti pelaksanaan fungsi dan kegiatan bank yang mewakili suatu fenomena atau kecenderungan tertentu serta dapat diidentifikasi asal-usul, tipe/gaya, periode waktu, maupun fungsi kegunaannya sehingga dapat dijadikan suatu monumen sejarah atau diperkirakan menjadi monumen sejarah di masa depan.

Materi koleksi yang ada di Museum Bank Mandiri terdiri atas jenis perlengkapan operasional bank, surat berharga, numismatik, arsip sejarah, dan jenis koleksi lainnya seperti perlengkapan pendukung operasional bank dan bahan pustaka.

Koleksi perlengkapan operasional bank tempo dulu yang unik, antara lain:

* peti uang,
* mesin hitung uang mekanik,
* kalkulator,
* mesin pembukuan,
* mesin cetak,
* alat pres bendel,
* seal press,
* brandkast,
* safe deposit box,
* anak kunci lemari/pintu besi serta aneka surat berharga, seperti bilyet deposito, sertifikat deposito, cek, obligasi dan saham.


Ornamen bangunan, interior, dan furnitur asli dari gedung museum yang merupakan benda cagar budaya juga merupakan bagian dari koleksi yang perlu dilestarikan.

Adapun koleksi pendukung operasional lainnya adalah sarana promosi, komunikasi, ekspedisi dan kesekretariatan, seragam pegawai dan perlengkapannya, peralatan teknologi informasi, komponen bangunan dan miniatur gedung kantor, serta perlengkapan sekuriti dan rumah tangga lainnya.

Sesuai kurun waktunya, koleksi Museum Bank Mandiri dapat dikelompokkan berdasarkan periode bank-bank pendahulu mulai tahun 1826-1959/1960 dengan koleksi berasal dari masa NHM, Escomptobank, NIHB/NHB dan BIN, periode bank-bank bergabung tahun 1959/1960-1998 masa BBD, BDN, Bank Exim dan Bapindo, serta periode awal merger Bank Mandiri sampai dengan go public tahun 1999-2003.

Jam Buka dan Tiket Masuk

Selasa – Minggu: Pukul 09.00 – 16.00
Senin & Hari libur nasional: Tutup

Dewasa: Rp 5.000
Anak-anak: Gratis
Nasabah Bank Mandiri: Gratis


Alamat Museum Bank Mandiri

Jalan Lapangan Stasiun 1*, Jakarta Barat 11110
Telepon: +62 21 690-2000 +62 21 690-2000   

email: museum@bankmandiri.co.id
*disebut juga Jalan Pintu Besar Utara 1


Demikian ya sob, uraian super singkat mengenai Spot Fotografi yang ada di Jakarta. Sekedar saran, jika sobat jepret ingin menjadikan tempat ini sebagai obyek jepretan, sebaiknya jangan datang pas Sabtu-Minggu, karena bakalan rame banget sob. Juga jangan datang hari Senin, gedung ini dan sebagian "gedoeng-gedoeng toea" di kisaran sini, tutup setiap hari Senin, untuk perawatan dan lain lain. 

Akhir kata, demikianlah aertikel ini sahaya boeat, oentoek dapat dipergoenakan dengan sebenar-benarnja.

Salam Jepret.

Kamis, 26 April 2018

TIPS FOTOGRAFI-MEMBANGUN KONSEP VISUAL SENDIRI, MENCIPTAKAN “JATI DIRI” SENDIRI


Kemayoran, Jakarta, Kamis, 26 April 2018

Artikel kali ini, terinspirasi oleh tulisan salah satu fotografer kawakan alias “kelas berat”, yang karyanya menurut saya….Luar biasa! Si fotografer itu bernama “Deniek G. Sukarya”. Karya-karyanya bukan hanya dikenal dan diakui dalam lingkup Indonesia, tetapi juga internasional. 


Master  Deniek G. Sukarya  ini tidak hanya menyajikan karya-karya fotografi dari sisi praktisi, namun juga menjabarkannya dan “menelanjanginya” dalam perspektif filosofis dan definisi. Disaat banyak bermunculan fotografer-fotografer “kagetan” (contohnya, ya saya sendiri, hehehehe...baca artikel saya tentang "bukan fotografer"), beliau dengan teguh dan konsisten memposisikan dirinya sebagai  fotografer yang “sejati”, fotografer yang memang menguasai bidangnya, menguasai karena mencintai, bukan karena keharusan atau keterpaksaan profesi!

Saya termasuk yang mengagumi sosok beliau, walaupun belum pernah bertemu secara langsung, saya banyak belajar dari beliau melalui buku-bukunya, dari karya-karya fotografinya. Ketika saya melihat karya-karyanya, membaca tulisan-tulisan beliau, sedikit banyak saya bisa menangkap dan mengenali “pribadi” beliau yang terekam dalam karya foto maupun tulisannya. 

Memang, Konsep visual seorang fotografer, akan sangat mudah dikenali melalui karyanya, itu sudah seperti identitas dan sidik jiwa (baca artikel saya "FOTOGRAFI - IDENTITAS FOTOGRAFER, SIDIK "JIWA" DALAM KARYA FOTONYA !" dalam blog ini).

Nah, mengenai konsep visual, yang merupakan jati diri dari seorang fotografer, saya sangat menyetujui pandangan dari saudara Deniek G. Sukarya tentang konsep ini. Dalam sebuah artikel yang berjudul “Membangun konsep visual sendiri “ yang beliau tuang dalam bukunya yang berjudul “Kiat Sukses Deniek G. Sukarya”, secara implisit, beliau menyatakan adanya kesamaan atau  satu kesatuan antara konsep dan style dari seorang fotografer. Supaya apa yang beliau tulis dapat kita pahami dengan menyeluruh, ada baiknya tulisan beliau saya kutipkan disini secara penuh. Demikian penuturan beliau:

“Setiap orang dari kita tanpa terkecuali memiliki cara melihat yang unik. Belajar melihat sesuai dengan kata hati kita dalah langkah penting pertama untuk mencapai sukses dalam fotografi. Kita semua mungkin sedang melihat sebuah kursi tua yang teronggok disebuah pojok kamar yang sunyi. Tapi, gejolak emosi, reaksi sesaat dan interpretasi atas apa yang sedang kita lihat hampir pasti akan berbeda-beda diantara setiap individu yang ada di sana sesuai dengan pengalaman masa lalu dari masing-masing individu.


Bagi yang memiliki pengalaman positif, pasti akan melihat gambaran yang tegar dimana dia akan melihat betapa kokohya kursi itu berdiri di sana selama bertahun-tahun tanpa mengeluh, tanpa penyesalan. Sebaliknya, bagi mereka yang memiliki pengalaman sedih, akan mengintepretasikan kondisi itu sesuai dengan pengalamannya-kasihan benar kursi ini dicampakkan begitu saja sendirian di sana tanpa ada yang peduli. 


Dengan dua pandangan yang berbeda ini, sudah pasti akan lahir dua pendekatan fotografi dengan konsep visual yang berbeda. Yang berpandangan positif akan berusaha untuk menggambarkan ketegaran itu dengan mengambil foto dari dekat, dengan sudut pengambilan yang agak rendah, sehingga potret kursi itu tampil dominan dan berwibawa. Yang berpandangan sedih akan mengambil foto itu dari kejauhan dengan menempatkan kursi itu pada pojok  kelam dan didominasi oleh ruang kosong yang sunyi. 

Reaksi pribadi yang unik inilah yang akan membantu kita untuk menciptakan konsep visual yang unik berdasarkan intrepetasi pribadi kita masing-masing. Dan bila intepretasi pribadi ini diterapkan pada setiap kondisi pemotretan yang dihadapi, kita semua pasti berhasil menciptakan karya foto yang unik dan bermakna.

Ini jugalah yang akan memberikan ciri khas pada karya cipta fotografi kita masing-masing, yang setelah dikembangkan lebih dalam, akan membentuk ciri khas yang konsisten, yang disebut sebagai “style”.

Luar biasa! Beliau mampu menjabarkan secara singkat namun lugas, tentang apa sebenarnya yang membentuk karya fotografi dari seorang fotografer. Saya, dari lubuk hati yang paling dalam, sangat sependapat dengan intisari tulisan ini, kepribadian seorang fotografer menjadi faktor dominan yang membentuk karya-karyanya. Karya foto itu seperti cerminan dari ke “aku” an sang fotografer itu sendiri. 

Tak salah rasanya kalau saya punya persepsi seperti ini : “Ketika seorang fotografer memotret suatu obyek, yang sebenarnya dia lakukan adalah…memotret dirinya sendiri!”

Sejuta salam untuk sobat jepret semuanya, teruslah berkarya, teruslah menciptakan ciri khas yang menjadi ke “aku”an dan kesejatian dari jiwa sobat yang hakiki.

Jumat, 20 April 2018

Fotografi - 4 Penghalang Utama Seseorang Meningkatkan Kemampuan Memotretnya



Kemayoran, Jakarta, Kamis, 19 April 2018

Selamat pagi, siang, sore dan malam bagi sobat jepret semuanya. Apa kabar? Semoga, di pertengahan bulan April ini, suasana hati sobat jepret senua, tak se”kelam” suasana saldo atm sobat ya. 

Oh ya, beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis tentang hilangnya “mood” atau hasrat untuk memotret dan menulis, dan hingga semalam, saya masih belum dapat jawaban yang pasti, tentang penyebab “terbang” nya hasrat tersebut….sampai saya membaca satu artikel, yang menurut saya, bisa menjawab pertanyaan saya di atas. 


Memang, tidak 100 persen bisa menjawab, namun artikel itu, terasa sangat mengena. Setelah saya renungkan dalam-dalam (ditemani secangkir kopi dan juga rokok), ternyata isinya pas dengan kondisi saya sekarang.

Aduh, jadi malu rasanya, selama ini saya telah mengambil sudut pandang yang salah, saya merasa, hilangnya hasrat tersebut lebih pada faktor eksternal…Hahahahahaha….Ternyata, saya sendiri yang menyebabkan hilangnya hasrat itu.

Nah…., biar sama-sama merasakan apa yang saya rasakan, ada baiknya, artikel itu, saya copaskan disini….(atau bisa lihat langsung di sini)


Merasa malas untuk belajar memotret? Stuck di dalam kondisi yang rasanya itu-itu saja? Berikut adalah beberapa hal yang seringkali menghalangi seseorang untuk meningkatkan kemampuannya dalam memotret !


1. Saya tidak punya kamera atau lensa yang bagus

Sering saat kita melihat koleksi foto yang dimiliki oleh orang lain, biasanya hal pertama yang akan kita lihat adalah kamera atau lensa apa yang dia gunakan.

Jika ternyata lensa atau kameranya memang yang kelas pro atau harganya mahal mulailah kita berkata “Ah pantas saja fotonya bagus, lensa L sih’ atau “Kameranya seharga motor sih pantesan fotonya bagus".

Dengan berpendapat seperti itu bisa dipastikan kemampuan memotret kita takkan berkembang karena kita menanamkan pola pikir bahwa hanya kamera atau lensa bagus yang bisa menghasilkan foto bagus.

Satu-satunya kamera dan lensa terbaik yang bisa menghasilkan foto yang bagus adalah yang anda miliki saat ini! Bahkan sekalipun itu "hanya" sebuah smartphone atau kamera saku.

Teruslah memotret apapun kamera dan lensa yang anda punyai, seiring waktu pasti kualitas foto anda akan terus meningkat.


2. Saya tak punya cukup waktu untuk memotret

Setiap orang di dunia ini memiliki jatah waktu yang sama 24 jam dalam sehari. waktu yang kita miliki sama dengan setiap fotografer terkenal di luar sana, sama dengan setiap pengusaha sukses di dunia. 

Hanya yang membedakan kita dengan mereka adalah masalah prioritas dan manajemen waktu. Sesedikit apapun waktu yang kita punya, jika kita menaruh prioritas dalam fotografi atau setidaknya mengatur waktu dengan baik pasti kita bisa memiliki waktu untuk memotret sesuatu, apa saja untuk dipotret!

Sedikit tips untuk ini adalah bawa kamera anda kemanapun anda pergi, dengan begitu tak ada alasan untuk tak bisa memotret saat ada momen yang bagus melintas di depan anda.


3. Saya tak punya stok foto yang bagus atau selama ini foto-foto saya jelek

Fotografer terkenal Ansel Adams meninggal dalam pemikiran bahwa dia belum menghasilkan karya yang cukup baik, standar bagus atau tidak sebuah foto sangatlah subjektif. Bagus menurut anda belum tentu menurut orang lain demikian pula sebaliknya. 

Fotografi adalah sebuah perjalanan hidup, sebuah proses yang senantiasa berjalan dari waktu ke waktu.Anda tinggal menikmati prosesnya di setiap saat dengan terus memotret serta tanpa ragu memamerkan foto anda kepada orang lain.


4. Tidak ada yang bisa saya potret

Oke ini merupakan alasan yang sangat klasik serta ‘naif’, terkecuali anda seekor semut kecil yang tak bisa menekan shutter kamera pasti anda tetap bisa menemukan sesuatu untuk dipotret. 

Apa saja…! 

Mulailah dengan memotret rekan kerja anda (oh biasanya mereka paling bergairah jika mau dipotret), memotret situasi perjalanan anda setiap hari ke kantor, memotret tempat wisata, memotret kendaraan anda, apa saja…. 

Dengan begitu tak akan ada batasan yang mengekang kreativitas anda dalam seni fotografi.Pelajari juga dasar-dasar fotografi serta komposisi-komposisi yang biasanya diperlukan, agar supaya anda bisa membuat sebuah objek yang dilihat orang tampak biasa menjadi begitu indah dan dramatis jika anda yang memotretnya.

Jadi jika sekarang anda melihat foto orang lain yang tampak begitu bagus dan dramatis, silakan pelajari komposisinya dan tekniknya jangan dilihat gear apa yang dia punya. Peralatan memang begitu menunjang dalam fotografi, tetapi skil dan kemampuan meski dalam kondisi yang terbatas malah akan membawa anda melihat yang jauh lebih indah dan menarik dari yang biasa-biasa saja.

Tulisan ini terinspirasi dari artikel seorang fotografer asal Kanada, Ryan Cooper yang dimuat di situs Fstopper


Nah, demikian sob artikelnya, sengaja saya copaskan secara utuh, selain untuk menghargai si penulis artikel, juga supaya tidak ada bias dalam hal menterjemahkan tulisan dalam artikel itu.

Sedikit tambahan, saya pernah ditegur oleh seorang fografer “kelas berat” alias kawakan, tentang kamera/lensa yang saya gunakan. Waktu saya bilang, hasil foto saya kurang bagus, karena kamera saya termasuk yang murah, si FG kawakan itu ketawa ngakak…sambil bicara…”Kamera itu hanya mewakili si FG…bagus tidaknya suatu foto…itu 99% tergantung si FG, bukan tergantung mahal atau tidaknya suatu kamera…."

Begitulah sobat…terkadang, kita (maksudnya adalah “saya”) tidak memperoleh kemajuan dalam memotret, bukan disebabkan oleh hal yang prinsipil, atau factor eksternal,  tetapi, lebih disebabkan oleh diri kita sendiri.

Baiklah sob, semangat…….anggaplah ini awal yang baru, ada milyaran obyek foto yang super bagus di luar sana….yuk kita poto!!!!!



Kamis, 19 April 2018

TIPS FOTOGRAFI - Komposisi Sederhana Tapi Penting (Bagian 2):Komposisi Tengah & Komposisi Diagonal



Kemayoran, Jakarta, Kamis, 19 April 2018

Selamat pagi, siang, sore, dan malam untuk sobat jepret sekalian. Kembali pada artikel tentang fotografi, kali ini saya akan menyambung artikel sebelumnya, tentang komposisi sederhana (tetapi penting) dalam fotografi. Seperti pada artikel sebelumnya (baca: Tips Fotografi - Aturan Segitiga dan Segiempat), dimana membahas tentang 2 tips yang jamak diterapkan dalam proses mengambil foto, dalam artikel kali ini, yang akan dibahas adalah tips lanjutan, yang berfokus pada komposisi. Komposisi dalam frame foto menjadi sangat penting, karena mampu akan mampu "menggiring" atau mengarahkan siapapun yang melihat foto tersebut, untuk memiliki sudut pandang yang sama dengan si "penjepret" alias fotografernya. 


Nah, supaya tidak terlalu bertele-tele, simak saja artikel dibawah ini (disadur dari : www.snapshot.canon-asia.com dengan judul artikel "Komposisi Sederhana Tapi Penting (Bagian 2):Komposisi Tengah & Komposisi Diagonal") :

Ketika memulai fotografi, menguasai komposisi dasar adalah jalan pintas untuk memperbaiki foto Anda. Melanjutkan penjelasan saya dalam Bagian 1 mengenai Komposisi Aturan Segitiga dan Komposisi Aturan Segiempat, kali ini mari kita mencoba menguasai Komposisi Tengah dan Komposisi Diagonal yang akan saja jelaskan dengan bantuan beberapa foto. (Dilaporkan oleh studio9)


Komposisi Tengah: Harus digunakan secara cermat dan tidak berlebihan

Dari 4 komposisi yang harus mulai dipelajari para pemula, komposisi ketiga ini bisa membuat para pemula menangis: Komposisi Pusat yang (tidak) terkenal. Sesuai dengan namanya, subjek utama ditempatkan di bagian tengah pada Komposisi Tengah.


Ini adalah komposisi yang sangat sederhana, namun demikian, bisa cukup sulit untuk mengambil foto yang bagus. Foto burung merpati yang digunakan untuk menjelaskan Komposisi Aturan Segitiga di Bagian 1, juga menjadi contoh di sini.

Yang membuat Komposisi Tengah begitu sulit yaitu, garis pandang Anda sukar dipindahkan dari titik tengah. Oleh karenanya, apabila subjek utama ditempatkan di tengah, maka sang fotografer tidak tahu pasti, ke mana memindahkan garis pandang berikutnya ketika memotret, sehingga menghasilkan foto yang tidak memuaskan dengan banyak sekali ruang tidak terpakai di sekelilingnya.


Oleh karena itu, apabila menggunakan Komposisi Tengah untuk mengambil bidikan, Anda harus membuatnya sederhana supaya garis pandang Anda tidak perlu berpindah dari titik tengah.

Mari kita cermati contoh ini.


Dalam foto ini, saya hanya menangkap subjek yang tepat berada di tengah. Dengan begitu, Anda tidak akan bingung, ke mana harus mencari.(lihat postingan FOTOGRAFI BUNGA - SAATNYA “MENJEBAK” PESONA BUNGA)


Menangkap foto dengan cara ini juga efektif dalam mempertahankan simetris horizontal dan vertikal. Namun demikian, yang penting, subjek menempati seluruh ruang foto.


Karena kita menggunakan Komposisi Tengah, menempatkan subjek bentuk bundar di tengah foto, tidak terlihat aneh.


Kita juga dapat menggunakan efek bokeh dengan cara ini untuk memandu garis pandang ke tengah. Omong-omong, ini adalah bagian tengah bunga lily.


Mungkin, ada keterbatasan pada jenis pemandangan seperti ini yang dapat digunakan, tetapi dengan menggunakan efek bokeh di latar depan sekeliling subjek utama, ini adalah cara yang bagus untuk memandu garis pandang ke tengah.

Semua foto yang saya ambil di sini, ditangkap secara sederhana. Dengan cara ini, bahkan para pemula pun dapat memanfaatkan Komposisi Tengah yang begitu sulit dan membuat frustrasi.

Namun demikian, harap diingat bahwa, pada Komposisi Tengah, jika subjek utama itu sendiri tidak memiliki kadar dampak tertentu, hasilnya tidak akan bagus, sebaik apa pun foto itu diambil.


Komposisi Diagonal: Menanamkan naluri gerakan

Komposisi dasar terakhir yang akan saya sampaikan adalah Komposisi Diagonal. Sementara 3 komposisi lainnya sesuai untuk subjek yang ditempatkan secara horizontal atau vertikal, subjek yang ditempatkan secara diagonal harus dibidik dengan menggunakan Komposisi Diagonal.


Dengan menempatkan subjek secara diagonal, Anda dapat menciptakan kedalaman foto, dan mengekspresikan naluri pergerakan. Mari kita coba berbagai teknik untuk menempatkan subjek secara diagonal, misalnya, menemukan subjek pada suatu sudut, mengubah sudut bidikan, atau bahkan, memiringkan kamera.


Dalam contoh ini, saya mengambil bidikan wajah batu karang yang menjorok ke luar di atas laut. Dengan laut yang tenang di latar belakang, dan wajah batu karang yang menonjol secara tegas di latar depan (yang saya tempatkan di kanan atas foto), foto menangkap naluri pergerakan, sedangkan bentuk wajah batu karang mengemukakan kesan yang agak kasar pada gambarnya.


Pohon cherry di sini mungkin tidak terlihat sebagai sesuatu yang spesial, tetapi dengan menempatkan langit biru cerah di atas garis diagonal, sebelah kiri atas, menciptakan kesan pohon cherry yang merentang ke atas seakan menjangkau langit.


Di sini, saya menangkap deretan diagonal botol yang berkilauan pada latar belakang yang gelap. Anda bisa melihat, gambar ini memberikan kedalaman pada foto.

Secara kebetulan, saya menempatkan botol dengan menggunakan Aturan Segiempat, yang juga menanamkan naluri stabilitas.


Saya menempatkan undakan batu yang menuju ke kuil pada suatu sudut, dan dapat juga menciptakan kedalaman untuk foto ini.

Saya juga menggunakan Aturan Segiempat di sini, memposisikan kuil pada titik persimpangan kisi-kisi.
Dengan cara ini, Komposisi Diagonal dapat digunakan untuk memancarkan naluri kedalaman dan gerakan untuk subjek yang ditempatkan pada suatu sudut. Untuk hasil yang bahkan lebih baik, Anda dapat menggunakan Komposisi Diagonal dalam kombinasi dengan Aturan Segitiga atau Aturan Segiempat!

(Berikut ini akan saya (penulis-red) sertakan beberapa foto yang menggunakan aturan/komposisi diagonal)





Ringkasan dari 4 komposisi dasar

Dalam artikel ini, bersama dengan Bagian 1, saya menjelaskan 4 komposisi dasar.
Untuk mengulang kembali, 4 komposisi dasar tersebut adalah sebagai berikut:

・Komposisi Aturan Segitiga
・Komposisi Aturan Segiempat
・Komposisi Tengah
・Komposisi Diagonal

Apabila Anda memulai fotografi, sebaiknya pelajari komposisi-komposisi ini dalam urutan seperti tercantum di atas. Setelah terbiasa dengan semua komposisi ini, Anda akan dapat secara naluri menerapkan komposisi yang sesuai, entah itu Aturan Segitiga atau Komposisi Diagonal, pada bidikan Anda.
Anda mungkin bertanya-tanya, apakah semua foto yang bagus harus selaras dengan jenis komposisi di atas. Tapi, itu tidak benar. Pada akhirnya, jika Anda merasa nyaman mengenai gambar yang Anda lihat melalui viewfinder atau pada layar LCD, maka itu adalah komposisi yang benar.

Anggaplah komposisi dasar yang sudah saya jelaskan di sini sebagai panduan untuk memotret gambar yang menurut Anda, "Hebat sekali!" Kadang menarik juga untuk mencoba sesuatu di luar kebiasaan yang normal.

Tapi, sebelum mencoba itu, bukankah sebaiknya Anda menguasai komposisi dasar di atas, mengambil foto sebanyak-banyaknya, dan menemukan gaya Anda sendiri?

Nah, demikianlah penjelasan dan penjabaran yang sangat "super" dari ahlinya. Harapan saya, penjabaran "super" tersebut, dapat membantu meningkatkan skill fotografer pemula (seperti saya...hehehehehe) agar lebih hebat lagi.

Oh ya, dibawah ini adalah beberapa karya foto dari saya, yang menggunakan beberapa prinsip (atau seluruhnya), dari 4 aturan tersebut di atas.














Nah, para sobat jepret sekalian, demikianlah tips dari para ahli, yang menurut saya, sangat berguna untuk menambah kemampuan kita (saya terutama!) dalam hal jepret menjepret.

Salam jepret sobat semuanya!