Rabu, 27 September 2017

STILL LIFE FOTOGRAFI


Kemayoran, Rabu, 27 September 2017

Jakarta dan sekitarnya hujan, semenjak pagi hari, pk. 05.00 WIB, hujan ga kira-kira turunnya, bikin suasana jadi makin cool....dan berlanjut menjadi banjir....Dan endingnya....Macet!!!! Yah...biarlah, dinikmati dan disyukuri, dan kembali  jalani aktifitas yang sehari-hari saja dengan tersenyum! 



Kembali pada postingan tentang fotografi, kali ini yang akan saya ulas adalah fotografi "diam". Yaitu aliran fotografi yang memfokuskan diri pada mengabadikan obyek yang "mati" dan "diam". Nah, tantangan sebenarnya adalah, mengubah obyek yang "mati" dan diam ini, menjadi mampu "berbicara", mampu memiliki "kehidupan" yang bisa dirasakan oleh siapapun yang melihatnya. Justru inilah yang sulit, terkadang, obyek yang "hidup" sekalipun, sulit sekali untuk dapat di "sajikan" dalam nuansa yang "hidup", seringkali, obyek tersebut terlihat sangat "mati", lebih terlihat seperti mural ketimbang lukisan! 


Dan hal ini juga saya alami, sayapun mengalami kesulitan memotret dan menghasilkan karya yang sama "hidupnya" dengan realitas.

Untunglah, ada "master-master" yang baik hati, yang mau membagi ilmunya kepada sesama penikmat fotografi (terutama saya), dan inilah tulisannya, sengaja saya tampilkan secara utuh, tidak saya tambahi ataupun bumbui, supaya apa yang disampaikan, persis sama dengan apa yang diinginkan oleh master tersebut.....so....cekidot ya:


Still Life Photography1 diambil dari Bahasa Inggris yang terdiri dari “still” dan “life”. Still yang artinya masih, tetap, diam (untuk benda mati) sedangkan life artinya hidup. Sehingga Still Life Photography berarti karya fotografi yang menjadikan benda mati sebagai objek agar lebih terlihat hidup atau berbicara kepada audience untuk menyampaikan pesan.

Still Life Photogragphy sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. kita banyak menemui foto still life di majalah, kalender, foto berbingkai mewah maupun minimalis dalam lorong-lorong perkantoran, maupun billboard di persimpangan jalan-jalan protokol. Foto jenis ini dapat berupa makanan, minuman atau benda mati lainnya yang ditata sedemikian rupa sehingga menarik mata.


Still Life Photography merupakan menciptakan sebuah gambar dari benda atau obyek mati tampak jauh lebih hidup dan berbicara. Kata Still berarti benda diam atau mati sedangkan kata Life berarti hidup atau memberikan konteks kehidupan pada benda tersebut. Still life pun berfungsi sebagai alat untuk mengekspresikan emosional dari si pembuat gambar/foto.

Still life dapat memberikan arti secara konteks fungsional maupun konteks ekspresif. Konteks fungsional dari fotografi still life berupa pemotretan benda dengan tujuan pembuatan katalog, brosur, iklan dan lain-lain. Still life berfungsi sebagai iklan atau komunikasi visual dalam konteks komersial. Dalam konteks ekspresif, foto still life dibuat sesuai selera, konsep dan emosi fotografer yang membuat foto still life tersebut atau seorang fotografer dapata mengekspresikan diri ke dalam fotonya.



Ada 3 unsur dari fotografi still life menjadi lebih hidup, yaitu: pencahayaan, komposisi, dan properti. Properti berkaitan dengan benda-benda yang ditambahkan atau dikaitkan untuk menimbulkan kesan yang ingin ditampilkan dalam foto yang akan dibuat. 

Konsep rancangan atau story board# pada fotografi still life merupakan sebuah elemen penting. Dalam fotografi still life kita berhadapan dengan benda mati. Jika konsep fotografi still life merupakan sebuah keceriaan, maka sang fotografer harus memvisualisasikan benda mati tersebut terlihat tampak lebih hidup. Konsep dalam fotografi still life bertujuan untuk memberikan pesan dari fotografer yang menciptakan foto benda mati tersebut, pesan yang mengandung unsur yang akan disampaikan ke audiens. Dalam menyampaikan pesan tersebut, harus bisa menyamakan persepsi dengan audiens. 



Still life muncul dalam fotogarafi sebagai sebuah spesialisasi karena tidak semua emosi atau konsep yang hendak divisualisasikan bisa diwakilkan oleh seorang model. Fotografer juga menangkap pesan dari objeknya sendiri. Misalnya properti bunga. Begitu banyak arti, makna dan persepsi yang di tangkap dari sebuah bunga. Tidak perlu orang yang bercerita tentang arti, makna, dan persepsi dari bunga, kita dapat menggunakan berbagai simbol dalam mengungkapkan sesuatu. Sebuah kondisi dapat menjadi sebuah foto still life yang berhasil dengan memanfaatkan benda atau suasana. Dalam pemanfaatan benda, kepekaan fotografer dituntut untuk mengenali benda dari segi pencahayaan dan lain sebagainya. Namun dalam memanfaatkan suasana, fotografer harus bisa mengenali suasana seperti apa yang bisa dimanfaatkan untuk bisa mewakili ekspresi atau perasaan yang ingin di tuangkan dalam foto tersebut.



Dalam belajar foto still life harus mengenali karakter benda yang akan kita gunakan sebagai properti dalam foto. Setiap benda mempunyai karakter yang unik. Oleh karena itu, fotografer pun dituntut untuk mengetahui cara mencahayainya dengan baik dan dapat menampilkan karakter dan tekstur benda. Masing-masing benda mempunyai sifat dan cara penanganannya masing-masing. Tiap benda mempunyai kapasitas untuk bisa mewakili konsep, baik ingin menampilkan sesuatu yang bersifat lembut, keras, dan lain sebagainya. Foto still life juga erat kaitannya dengan kepekaan seseorang, yaitu untuk berekspresi dengan melulu tidak menggunakan orang atau model.



Fotografi still life mutlak memerlukan tiga unsur yang sudah disebutkan di atas. Jika fotografer ingin menampilkan sisi kontradiksi sifat suatu objek maka fotografer dituntut untuk pandai memilih dan mengatur pencahayaan, properti dan komposisi. Karena untuk menciptakan sifat kontradiktif bukan merupakan keterbatasan benda. Fotografer harus pandai-pandai mengeksplorasi, apakah benda tersebut mempunyai sisi lain dari yang selama ini. Sebagai contoh adalah sebuah batu, asumsi dan sifat batu adalah keras, tak mudah hancur dan tegar. Tapi kalau hendak membuat konsep lembut dengan properti batu, bisa menggunakkan properti bunga untuk menghiasi batu tersebut. Dilengkapi dengan efek cahaya lebut dari Softbox# sisanya tinggal kreatifitas dari seorang fotografer.


Konsep rancangan atau story board# pada fotografi still life merupakan sebuah elemen penting. Dalam fotografi still life kita berhadapan dengan benda mati. Jika konsep fotografi still life merupakan sebuah keceriaan, maka sang fotografer harus memvisualisasikan benda mati tersebut terlihat tampak lebih hidup. Konsep dalam fotografi still life bertujuan untuk memberikan pesan dari fotografer yang menciptakan foto benda mati tersebut, pesan yang mengandung unsur yang akan disampaikan ke audiens. Dalam menyampaikan pesan tersebut, harus bisa menyamakan persepsi dengan audiens. 

Still life muncul dalam fotogarafi sebagai sebuah spesialisasi karena tidak semua emosi atau konsep yang hendak divisualisasikan bisa diwakilkan oleh seorang model. Fotografer juga menangkap pesan dari objeknya sendiri. Misalnya properti bunga. Begitu banyak arti, makna dan persepsi yang di tangkap dari sebuah bunga. Tidak perlu orang yang bercerita tentang arti, makna, dan persepsi dari bunga, kita dapat menggunakan berbagai simbol dalam mengungkapkan sesuatu. Sebuah kondisi dapa menjadi sebuah foto still life yang berhasil dengan memanfaatkan benda atau suasana. Dalam pemanfaatan benda, kepekaan fotografer dituntut untuk mengenali benda dari segi pencahayaan dan lain sebagainya. Namun dalam memanfaatkan suasana, fotografer harus bisa mengenali suasana seperti apa yang bisa dimanfaatkan untuk bisa mewakili ekspresi atau perasaan yang ingin di tuangkan dalam foto tersebut.



Dalam belajar foto still life harus mengenali karakter benda yang akan kita gunakan sebagai properti dalam foto. Setiap benda mempunyai karakter yang unik. Oleh karena itu, fotografer pun dituntut untuk mengetahui cara mencahayainya dengan baik dan dapat menampilkan karakter dan tekstur benda. Masing-masing benda mempunyai sifat dan cara penanganannya masing-masing. Tiap benda mempunyai kapasitas untuk bisa mewakili konsep, baik ingin menampilkan sesuatu yang bersifat lembut, keras, dan lain sebagainya. Foto still life juga erat kaitannya dengan kepekaan seseorang, yaitu untuk berekspresi dengan melulu tidak menggunakan orang atau model.



Fotografi still life mutlak memerlukan tiga unsur yang sudah disebutkan di atas. Jika fotografer ingin menampilkan sisi kontradiksi sifat suatu objek maka fotografer dituntut untuk pandai memilih dan mengatur pencahayaan, properti dan komposisi. Karena untuk menciptakan sifat kontradiktif bukan merupakan keterbatasan benda. Fotografer harus pandai-pandai mengeksplorasi, apakah benda tersebut mempunyai sisi lain dari yang selama ini. Sebagai contoh adalah sebuah batu, asumsi dan sifat batu adalah keras, tak mudah hancur dan tegar. Tapi kalau hendak membuat konsep lembut dengan properti batu, bisa menggunakkan properti bunga untuk menghiasi batu tersebtu. Dilengkapi dengan efek cahaya lebut dari Softbox# sisanya tinggal kreatifitas dari seorang fotografer.

Fotografi still life dapat dilakukan tanpa harus menggunakan kamera medium format digital yang sangat mahal atau lampu Broncolor yang sangat mewah. peralatan memotret jenis apapun dapat kita pakai untuk memotret still life. Bahkan kamera pocket dan kamera lensa ultra wide pun bisa kita pakai. tidak harus menggunakan kamera DLSR/LSR yang canggih dengan lensa marco yang mahal. Tidak ada batasan untuk memakai peralatan fotografis. Semua tergantung pribadi masing-masing fotografer dan konsep yang hendak diciptakannya.



Dari segi lighting tidak ada batasan tertentu. Dengan minimal satu lampu dan maksimal sebanyak-banyaknya. Lighting pun tidak selalu mengunakan artifical lighting (flash), sinar matahari pun dapat kita mangfaatkan untuk menciptkan foto still life. Mengenai bayangan, tidak semua bayangan harus di hilangkan. Semuanya tergantung dengan kosep yang kita buat, kadangkala kita ingin menampilkan konsep keras atau kasar, dan untuk membuat hal itu terjadi tekstur dan bayanggan sangat di butuhkan. Dalam Era digital, peran lampu portable flash dapat di gantikan dengan lampu tungsten atau halogen selam kita menggunakan tripod dan menggatur supaya white balance tidak terlalu kuning, maka kita dapat membuat foto still life yang bagus.
Hal yang paling penting kita perhatikan dan kuasai adalah teknik pencahayaan walaupun dengan menggunakan alat seadanya. 

Berikut ini tips untuk mengambil gambar still life:

1. Menguasai teknik pencahayaan
2. Menguasai teori komposisi fotografis
3. Pintar-pintar dalam mengenali objek. Terkadang walaupun “simple” namun indah, artinya jangan ada saling tindih frame.



Selain memikirkan peralatan memotret yang canggih dan mahal, lebih baik kita menguasai teknik pencahayaan dengan alat seadanya. Pencahayaan adalah teknik element dalam foto still life. Cahaya mempunyai arah, jenis, sifat dan karakter cahaya yang harus dipahami.

Kesimpulannya adalah jangan takut untuk memotret still life. Tips untuk melakukan foto still life adalah :

1. Kuasai teknik pencahayaan
2. Kuasai teori komposisi fotografis 
3. Kenali karakter objek dan properti pendukung, jangan sampai semua objek tumpang tindih dalam satu frame. Seringkali simple is beautiful.

Fotografi still life adalah manisfestasi jargon fotografi dari to-make-pictures. Karena seorang fotgrafer harus bisa membuat foto. Dan ini sangat bertentangan dengan jargon to-make-picture yang populer selama ini. Fotografi still life membuat seorang fotografer berusaha bagaimana menciptakan, membuat foto dan membuatnya tampak lebih hidup.



Demikianlah penjelasan dari sang master tentang still fotografi......Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada beliau, karena sudah mau membagi ilmunya kepada kita (terutama saya). 



Akhir kata, semoga postingan ini bermanfaat.

Senin, 25 September 2017

FOTOGRAFI BUNGA - SAATNYA “MENJEBAK” PESONA BUNGA


Kemayoran, Senin, 25 September 2017


Artikel kali ini, saya akan membahas tentang menangkap satu obyek, yang mungkin sudah terlalu banyak diabadikan! Bunga! Ya, obyek ini sering sekali diabadikan, teramat sering malah. Lewat berbagai aliran fotografi, bunga “dijebak” ke dalam frame foto. Terkadang obyek ini menjadi obyek sentral, ataupun obyek pelengkap dalam suatu karya foto, yang berfungsi untuk memperkuat obyek utama, menjadikannya lebih ber”kharakter”, dan lebih dapat berbicara kepada penikmatnya. 


Ada banyak alasan, mengapa banyak fotografer yang mengabadikan bunga, mulai dari alasan yang sangat sederhana, seperti; “Bunga itu indah, bentuknya variatif, dan kaya warna”, sampai alasan yang sifatnya sangat filosofis, seperti: “Bunga itu representasi dari kehidupan dan manusia, ada fase kuncup, mekar, dan fase layu, setiap fase adalah perlambang dari sisi kehidupan yang harus dijalani oleh manusia. Fase kuncup adalah perlambang dari awal kehidupan, fase mekar adalah perlambang dari puncak kehidupan, dan fase layu adalah perlambang dari senjanya usia manusia!


Wih, jujur saja, saya tak terlalu mengerti arti filosofis dalam karya foto tentang bunga. Saya lebih memilih pendapat yang sederhana, dimana bunga itu indah, banyak macam bentuk dan juga warna. Saya tidak mau terjebak dalam mendalami filosofis dari bunga…..wong mendalami ilmu fotografi saja saya terseok-seok….apalagi filosofinya!


Untuk saya pribadi, obyek berupa bunga, sangat membantu saya dalam memahami dan memperdalam kemampuan saya dalam fotografi. Dengan memotret bunga, saya bisa menerapkan beberapa prinsip dasar fotografi, beberapa dintaranya :

      1. Fokus

Kita dapat mengasah kemampuan kita dalam mendapatkan focus dalam memotret. Berlatih memotret bunga, bisa jadi salah satu alternative, toh bunga punya banyak kelebihan, mereka cenderung diam (dengan catatan,  ga ditiup angin), banyak segmennya, kontras, dan juga ga pernah protes kalo kita poto berkali-kali, atau langsung kita tinggal begitu ada obyek lain yang lebih ciamik.


2. Aturan sepertiga

Ada metode fotografi, yang dikenal dengan aturan sepertiga (rule of third), dimana obyek ditempatkan di sepertiga frame, dan membiarkan 2/3 frame dalam keadaan kurang focus


3. Bokeh

4.

Nah, dari berbagai kelebihan tersebut,ga ada salahnya kalau kita mulai memperhatikan obyek yang satu ini, dan memasukkannya dalam daftar target foto. Sekedar untuk meningkatkan skill kita, atau memang difokuskan secara total untuk meng”eksplore” keindahannya.

Demikian sobat jepret, postingan saya kali ini, semoga berkenan!
























Rabu, 20 September 2017

10 TIPS FOTOGRAFI JALANAN (STREET PHOTOGRAPHY)


Kemayoran, Rabu, 20 September 2017

Selamat pagi, siang, sore, malam, dan kapan saja, sobat jepret semuanya. 
Postingan kali ini, saya akan mengetengahkan tips yang berbeda dibandingkan dengan yang sudah-sudah. Kenapa beda? Karena tips ini bukanlah tips dari saya, tetapi tips dari masternya fotografi, yang setelah saya baca secara seksama dan dalam tempo yang selambat-lambatnya, dapatlah saya menangkap intisari dari tulisan-tulisan beliau tersebut (maklum, otak saya masih pentium 4, jadi agak lama untuk memproses sesuatu yang baru dan rumit!).

Inti dari tulisan beliau adalah, bagaimana cara menciptakan suatu karya foto bernilai dan bagus, dalam perspektif genre fotografi jalanan. 

Nah, supaya tidak lagi berpanjang dan berlebar, berikut ini akan saya ketengahkan tulisan-tulisan beliau, yang menurut saya pribadi, merupakan tambahan referensi yang sangat bagus untuk saya khususnya, dan para penikmat fotografi pada umumnya. Berikut adalah artikelnya (disadur dari www.kelasfotografi.com) :


Photo by Drew Hopper



Esensi fotografi jalanan (street photography) adalah tentang mendokumentasikan kehidupan sehari-hari dan masyarakat di jalanan. Anda dapat menemukan oportunitas dalam praktek fotografi jalanan di manapun juga dan Anda tidak perlu melakukan perjalanan jauh untuk menangkap gambar yang luar bisa.

Memang ini adalah sebuah genre fotografi yang biasanya dilakukan secara candid atau tanpa izin dan tanpa sepengetahuan subjek Anda. Namun, fotografi jalanan tidak mengesampingkan soal adegan yang disengaja atau direncanakan bersama subjek. Jika Anda menemukan tempat dengan interaksi karakter yang sesuai visi Anda, kemungkinan Anda terlihat sebagai orang asing, maka cobalah meminta izin mengambil gambar subjek di sekitar itu. Ini cara yang bagus untuk mendapat gambar portait yang lebih intim dari seseorang di lingkungannya. Namun yang paling penting dalam fotografi jalanan adalah bersenang-senang dan menikmati perjalanan dengan kamera Anda. Ingat, tujuan Anda adalah untuk menangkap emosi, hubungan kemanusiaan, dan menggambarkan karakter seseorang.


Photo by Drew Hopper

Memang tidak dipungkiri, dibutuhkan waktu untuk mendapatkan tembakan yang baik, tetapi dengan beberapa latihan dan kesabaran pasti akan berguna. Nah, inilah yang menjadi topik kali ini, yang merupakan tips dari fotografer berpengalaman Drew Hopper. Tips dari Drew ini akan mengajarkan Anda bagaimana cara untuk berhasil dalam fotografi jalanan (street photography). Beberapa ada tambahan dari saya sendiri untuk menjelaskan bagian yang kurang rinci. Silahkan simak 10 tips fotografi jalanan berikut ini:

1. Memilih Lensa Yang Tepat

Memutuskan lensa yang digunakan adalah salah satu faktor yang paling penting dalam fotografi jalanan. Anda mungkin akan tergoda untuk menggunakan lensa zoom tele, tapi itu lebih menjurus kepada kemungkinan yang "berbahaya" daripada kemungkinan "baik". Mengapa? Anda pasti tidak ingin terlihat aneh saat berdiri di seberang jalan dan mengarahkan lensa besar Anda pada orang asing. Jika Anda ingin merasa nyaman berada dikerumunan orang banyak, baiknya gunakan saja lensa wide-angle. 

Tips pertama ini sebenarnya berbicara soal pisikis lingkungan terhadap fotografer di tempat yang asing. Jika orang-orang terus melihat Anda penuh keheranan, akan mempengaruhi kenyamanan Anda. Jadi utamakan kenyamanan agar Anda bisa fokus mengambil gambar. 



Photo by Drew Hopper


Terkait hal di atas, banyak fotografer jalanan yang cenderung memilih kamera kompak ketimbang DSLR yang terlihat mencolok dengan ukurannya yang besar, apalagi jika ditambah lensa tele yang besar pula? Keuntungan lainnya bahwa kamera kompak lebih kecil, ringan, dan mudah di bawa kemana-mana. Beberapa fotografer NatGeo kadang hanya membawa iPhone mereka untuk mendokumentasikan apa yang mereka lihat sepanjang perjalanan.

2. Pengaturan Kamera

Cara tercepat dan termudah mengatur kamera Anda dalam fotografi jalanan adalah beralih ke mode Aperture Priority (A/Av) atau Shutter Priority (S/TV). Untuk tips yang kedua ini saya setuju dengan Drew Hopper, bahwa untuk fotorafi jalanan maupun jurnalis, sebaiknya menggunakan 2 mode eksposur di atas. Mode Manual (M)hanya akan memperlambat Anda sehingga besar kemungkinan Anda akan kehilangan banyak peristiwa penting. Begitupula dengan mode Auto / Program (P) yang dikira memudahkan, justru kadang menghasilkan kualitas gambar yang melenceng. Tapi jika tidak ada pilihan lain, maka mode Auto atau Program (P) masih lebih memudahkan ketimbang Manual (M). Kecuali Anda mendapat kelonggaran untuk menangkap adegan.



Photo by Drew Hopper

Sekali lagi rekomendasinya agar Anda menggunakan kedua mode di atas. Dengan mode Aperture Priority Anda hanya perlu mengatur aperture bila ingin memperluas ketajaman atau sebaliknya (baca di sini tentang DOF). Sedangkan mode shutter priority akan mempermudah Anda mengatur shutter speed yang sesuai untuk menangkap subjek bergerak. Jika Anda masih bingung dengan penjelasan di atas, sebaiknya baca artikel saya mengenai mode-mode kamera.



Kemudian, jika Anda menemukan penyimpangan eksposur akibat menggunakan mode Aperture atau Shutter priority, maka solusinya bisa di atasi dengan fitur AE-Lock (baca di sini) atau Exp. Compensation (baca di sini). Dan bila Anda masih baru di fotografi dan masih bergantung pada mode Auto / Program (P), maka gunakan fitur AF-Lock atau Exp. Compensation di atas untuk membantu Anda membentuk eksposur secara instan.

3. Lebih Dekat Dengan Subjek Anda

Menggunakan lensa wide-angle atau sudut lebar memungkinkan Anda untuk mendapatkan adegan yang bagus, lebih luas dan dekat dengan subjek Anda. Keuntungannya akan membuat orang yang melihat foto Anda merasa seolah berada di sana pada saat itu. Begitupula dengan Anda yang secara langsung akan berbaur dengan kerumunan sebagai bagian dari lingkungan mereka. Ini lebih baik daripada berdiri di seberang jalan dengan lensa panjang dan secara diam-diam (candid) mengambil gambar.



Photo by Drew Hopper

Banyak foto street yang sukses karena diambil dari jarak beberapa meter saja dari interaksi subjek, bahkan hanya beberapa senti untuk menangkap rincian interaksi subjek. Cobalah berkeliling melalui jalan yang sibuk, pasar atau taman dapat menghasilkan beberapa gambar yang berguna jika Anda jeli dan memfokuskan mata Anda pada interaksi subjek. Jika gambar Anda tidak dapat memvisualisasikan mereka, mungkin Anda perlu untuk lebih dekat lagi. Jadi jangan ragu untuk mendekat dan berbaur ke dalam lingkungan mereka.

4. Selalu Membawa Kamera

Fotografi jalanan ini boleh dikatakan selalu berhubungan dengan spontanitas dan menunggu siapa pun untuk dijadikan subjek. Ini adalah sebuah kedisiplinan yang membutuhkan latihan untuk membuat hasil yang sempurna. Oleh sebab itu Anda membutuhkan kamera, jangan sampai Anda melewatkan kesempatan foto menakjubkan hanya karena lupa membawa kamera. Jika Anda serius tentang fotografi jalan, pastinya Anda selalu membawa kamera Anda setiap saat. Jika menurut Anda DSLR terlalu besar untuk di bawa ke mana-mana, maka berdayakan smartphone Anda.



Photo by Drew Hopper

Alasannya sederhana, peristiwa dadakkan atau momen penting bisa saja tidak terulang lagi. Kaitannya dengan itu, ada situasi yang dikenal sebagai "Decisive Moment" yaitu kondisi di mana Anda hanya memiliki sepersekian detik untuk menangkap subjek Anda sebelum itu hilang selamanya. Anda akan jarang mendapatkan kesempatan kedua, jadi siagalah selalu dengan kamera dan pandangan Anda.

5. Jangan Skeptis dan Ragu Pada Subjek

Beberapa kekhawatiran mungkin muncul dipikiran Anda, seperti ketakutan kalu subjek marah karena Anda mengambil gambar mereka, atau barangkali Anda takut diancam dengan kekerasan fisik, atau bahkan lebih buruk seperti memanggil petugas. Itu semua adalah ketakutan yang umum dirasakan oleh fotografer jalanan maupun jurnalis. Buang jauh-jauh hal itu dari pikiran Anda, semangati diri Anda sendiri, dan lakukan pendekatan yang baik.



Photo by Drew Hopper

Pengalaman saya dalam situasi seperti itu, ketika sampai di lokasi cari tempat untuk duduk santai sambil meninjau settingan kamera Anda. Jangan lupa selalu menunduk dan tersenyum pada orang sekitar. Jangan langsung mengarahkan kamera pada orang-orang atau spot yang sensitif. Mulailah dulu dengan sekedar memotret hal-hal yang mungkin tidak penting, seperti kendaraan lewat, pepohonan atau apa saja untuk sekedar membuat Anda rileks. Biarkan orang-orang melihat Anda, dan mereka akan bertanya-tanya tentang siapa Anda, dan untuk apa Anda datang ke sana. Tahan diri Anda beberapa menit sampai mereka mulai terbiasa dengan kehadiran Anda. Selanjutnya, mulailah berkeliling dan menyapa orang-orang atau sekedar berbasa-basi, lalu mulailah mengambil beberapa gambar.

Ingat, jangan cuek, sesekali tertawa bersama subjek, buat mereka terhibur, perlihatkan bahwa mereka luar biasa dalam gambar. Anda akan mendapati mereka ketagihan untuk diambil gambarnya. Cara ini yang saya terapkan, sampai-sampai subjek saya menawarkan kendaraannya untuk mengelilingi area setempat.



6. Gunakan Paha Untuk Stand Kamera

Ini kuda-kuda andalan fotografer bila tak ada tripod. Anda hanya perlu menekuk 1 lutud di tanah, kemudian letakkan 1 siku tangan Anda dipaha sebagai stand saat memegang kamera. Ini cara untuk mengambil gambar stabil tanpa shake. Memotret dengan cara konvesional dengan hanya mengandalkan dua tangan saja kadang sulit pada situasi tertentu. Tips ini sangat berguna ketika menangkap Decisive Moment, untuk menghindari kemungkinan foto gagal.



Photo by Drew Hopper

Ketika pertama kali Drew mulai belajar menembak di jalanan, dia merasa sulit menangkap momen-momen penting dengan posisi biasa, jadi Drew mulai menggunakan paha sebagai stand saat memotret secara candid. Pada awalnya tidak berhasil, tapi lama-lama Drew terbiasa dan berhasil menangkap adegan candid yang hebat.

7. Memotret di Malam Hari

Fotografi jalanan di malam hari dalam area perkotaan adalah kesempatan besar untuk gambar yang unik. Ini tidak semudah menembak siang hari. Pada kondisi malam hari Anda perlu memperhatikan shutter speedlambat untuk menghindari terjadinya motion blur, dan maksimalkan ISO dan aperture untuk mengatasi cahaya rendah. Pada situasi seperti itu diperlukan pengetahuan dalam tentang eksposur. Sebaiknya gunakan saja mode Shutter Priority (S/Tv), dan tetapkan nilai shutter speed yang ideal untuk membekukan gerakan subjek sekaligus tidak menyebabkan eksposur berkurang (under).



Photo by Drew Hopper

Solusi lainnya Anda bisa membawa tripod tapi mungkin ini merepotkan. Dan yang sangat ideal gunakan lensa aperture cepat (aperture lebar) seperti f/1.4 atau f/1.8. Lalu ketika mulai memotret di malam hari coba temukan garis yang menarik, bayangan dan komposisi untuk memberikan gambar dengan pernyataan visual yang "berani".

8. Mencoba Tempatkan Subjek di Luar Frame

Ide dan emosi yang kuat biasanya dapat digambarkan melalui adegan sederhana. Kebanyakan orang salah mengasosiasikan fotografi jalanan dengan orang-orang di jalan. Anda tidak harus selalu memposisikan semua orang dalam frame. Sebagian dari mereka bisa juga Anda posisikan hanya sebagian tubuh yang terlihat atau terpotong oleh frame, ini penjajaran menarik, dan mungkin ini bertentangan dengan kaidah fotografi pada umumnya.



Photo by Drew Hopper

Terkait tips ini, Anda bisa melihat hasilnya pada gambar Drew Hopper di atas. Berdasarkan pengalaman Drew Hopper di Vietnam, dia menghabiskan waktu berkeliaran di jalan-jalan untuk memotret sepeda, yang kemudian itu menjadi koleksi kecilnya yang berjudul "Transportation". Tema transportasi telah cukup populer di kalangan komunitas fotografi. Coba lihat foto di atas, adegan bersepeda itu tidak disengaja, dan ada bagian kecil dari subjek yang terpotong frame. Meskipun demikin, foto tersebut jelas menceritakan apa, dengan adegan yang sangat erat dibingkai dalam frame.

9. Kualitas Foto Bukan Segalanya

Beberapa fotografer mungkin tidak setuju dengan pendapat ini, tapi dari pengalaman pribadi Drew saat memotret di jalan, dia belum begitu peduli dengan kualitas gambar seperti ketika memotret landscape atau photowork. Untuk mengambil gambar landscape, memang Anda harus berusaha menghasilkan kualitas gambar yang tinggi (jika mungkin), tetapi dengan fotografi jalanan itu tidak begitu penting. Menurut pendapat pribadi Drew bahwa komposisi, cahaya, drama dan cerita adalah jauh lebih penting yang harus Anda coba untuk sampaikan dalam gambar daripada kualitas gambar. Jika gambar Anda menangkap empat hal itu, maka Anda berada di jalan yang benar untuk menjadi fotografer street hebat.



Photo by Drew Hopper

Ketajaman yang baik, noise yang rendah dan kualitas gambar yang rapi, tidak akan berharga lagi jika Anda memiliki komposisi foto yang buruk, pencahayaan yang buruk dan tidak ada atmosfer untuk menceritakan sebuah kisah. Fokus pada apa yang penting, itu dasarnya yang membuat Anda sukses di fotografer jalanan.

10. Yang Paling Penting, Bersenang-Senang


Seperti semua genre fotografi, penting untuk menikmati apa yang Anda kerjakan dan melakukan apa yang Anda senangi. Jika Anda memaksakan diri atau menurut Anda fotografi jalanan tidak terdengar seperti hal yang menarik, maka kemungkinan Anda akan mengambil gambar yang biasa-biasa saja. Kreativitas terus mengalir sepanjang Anda memiliki passion di situ, sehingga lakukanlah apa yang Anda senangi, tidak apa jika orang lain mengharapkan sesuatu yang lain pada gambar Anda. Drew menyukai "street photography" karena membuat dia keluar dan berkeliling, bertemu orang-orang yang menarik, dan melihat kehidupan sehari-hari mereka dari perspektif yang segar. Itulah yang mengilhami Drew untuk konsisten dengan apa yang dia lakukan.



Photo by Drew Hopper

Kesimpulannya, fotografi jalanan (street photography) membutuhkan latihan, semakin sering Anda di luar sana, semakin banyak mata tertuju pada Anda, ini akan mengasah kepercayaan diri Anda. Pendekatan ini jauh lebih sederhana dari genre lainnya. Tahan diri Anda untuk lakukan manipulasi, dengan minimal tidak melakukan post-processing. Satu-satunya manipulasi oleh Drew Hopper dalam fotografi jalanan hanya dilakukan melalui viewfinder kamera.

Foto street yang kuat berasal dari ide-ide yang kuat pula dan bisa menangkap emosi dengan cara yang sederhana. 


Ide-ide itu datang dengan sendirinya ke persepsi Anda, lalu memaksa diri Anda untuk segera menangkap Decisive Moment yang terjadi di depan mata Anda.



Demikianlah, pencerahan dan ilmu yang saya rasa, mampu menambah khazanah saya terutama, dalam hal jepret menjepret dan poto memoto (suatu kegiatan yang menurut saya, menyenangkan dan......sangat menyenangkan) dari master fotografi yang bernama Drew Hopper, dirangkum atau ditulis  oleh M. Hajar AK. 





Mungkin ada sebagian dari pembaca yang merasa, tidak sependapat dengan beliau, boleh jadi dalam satu atau beberapa point, atau bahkan mungkin keseluruhan point. Dan itu adalah hal yang lumrah, hal yang sama sekali tidak terlarang alias sah-sah saja! Fotografi adalah seni, dan bahasa yang digunakan dalam komunikasi fotografi adalah bahasa seni! Artinya: Setiap pelaku dan penikmat seni, boleh memiliki pandangan berbeda dalam melihat dan menikmati satu karya, tidak harus "saklek", tidak harus sepakat satu suara semuanya....apapun pendapatnya...adalah benar dalam seni....dan fotografi adalah bagian dari seni itu sendiri....dimana hati, dan rasa, jauh lebih utama daripada logika!





Demikianlah postingan singkat ini, semoga sobat-sobit jepret sekalian berkenan adanya (baca juga tulisan saya tentang street photography).