Kamis, 13 Oktober 2016

FOTOGRAFI HUMAN INTEREST (HI).......ARTI DAN GALLERY

Kemayoran, 13 Oktober 2016

Kembali ke koridor utama blog ini, dimana fotografi adalah fitrahnya...Untuk itu, postingan kali ini adalah tentang fotografi...Dan kali ini, yang akan kebagian apes karena akan dibahas adalah Fotografi human interest (HI).
So...Berikut ini adalah paparan dari aliran fotografi tersebut :
Fotografi human interest (HI) adalah potret dari kehidupan seseorang yang menggambarkan suasana/mood dan menimbulkan simpati dari orang yang melihatnya.
Awalnya, human interest photography lebih termasuk kedalam bagian dari fotojurnalisme, yaitu menggambarkan kehidupan dan interaksi manusia dengan lingkungannya, dan lalu bertujuan supaya mengetuk hati orang-orang untuk bersimpati dan melakukan sesuatu untuk membantu subjek foto.

Di dalam fotojurnalisme, human interest termasuk dalam bagian feature. Bagian ini biasanya sisipan dan bukan untuk berita utama. Kategori human interest lebih banyak tentang kehidupan individu atau masyarakat biasa yang jarang diulas.
Human Interest cukup luas cakupannya tapi sering dicampur-adukkan adukkan dengan kategori lain seperti Portrait photography, culture photography (budaya), street photography, travel photography, conceptual photography, dll.

Kebanyakan foto human interest adalah menggambarkan kehidupan masyarakat dengan ekonomi lemah atau di daerah pedalaman, tapi sebenarnya human interest tidak membatasi pada subjek masyarakat kelas bawah saja, tapi juga termasuk potret keberhasilan dari masyarakat kelas atas.
Foto human interest bisa terdiri dari satu foto atau rangkaian foto yang bercerita (photo story/essay).


Tips dalam memotret Human Interest
Untuk membuat foto human interest yang bagus, dibutuhkan karakter yang kuat/menarik, ekspresi yang hidup dan cerita yang menyentuh.
Human interest biasanya dibuat dengan candid, yaitu orang yang dipotret tidak merasa difoto, tidak diarahkan oleh fotografer/penata gaya sehingga berkesan alami dan orisinil. Jika diarahkan dan setting lampu, special effect, atau olah digital/manipulasi secara berlebihan, jadinya hasil foto lebih cocok masuk dalam kategori portrait atau conceptual photography.
Momen dalam memotret sangat penting, menguasai pengaturan kamera merupakan keharusan.
Masih kaitannya dengan menangkap momen, gunakan foto berturut-turut untuk menangkap momen yang setiap detiknya berubah dengan cepat.
Lensa telefoto yang memiliki jarak fokus antara 50-300mm akan membantu untuk memotret secara candid, meskipun lensa menengah dan lebar juga bisa untuk human interest jika Anda memiliki hubungan yang baik dengan subjek foto.
Memotret dengan kamera compact bisa juga efektif terutama memotret dari jarak dekat. Subjek tidak akan merasa terintimidasi dan bereaksi seperti saat kita mengunakan kamera DSLR dan lensa yang besar.
Komposisi yang baik adalah yang menonjolkan ekspresi atau bahasa tubuh subjek foto dari lingkungan hidupnya.
Demikian penjelasan dari aliran fotografi Human Interest...disadur dari www.infofotografi.com

About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer. Saat ini, ia bertempat tinggal di Jakarta. Temui Enche di Google+ dan Instagram: enchetjin


GALLERY FOTO HUMAN INTEREST


Kaum pinggiran
Jl. Ciledug Raya, sekitar bulan Maret 2016


Tukang Becak
Larangan, Tangerang, Banten, sekitar November 2015


Membeli sendal
Jl. H. Mencong, Tangerang, Banten, sekitar bulan Agustus 2016



Ambil Foto
Depan Toko Merah, Kota Tua, Jakarta, sekitar Februari 2016



Pemulung
Bintaro, Jakarta, sekitar September 2016































































Rabu, 28 September 2016

SPOT FOTOGRAFI-GEDUNG ARSIP NASIONAL



Kemayoran, Jakarta, Rabu, 28 September 2016

Sambil menunggu kabar, apakah gajian akan tiba hari ini, atau mundur (wah...jangan dong!....Bisa sedih + Nangis bombay nih kalo mundur!), ada baiknya, saya mengisi masa-masa penantian yang menegangkan, mengiris hati,  dan mengharubiru ini dengan menulis sesuatu....Yang kalau dibilang penting, juga tidak, tapi kalau dibilang tidak penting.....Ya memang tidak penting-penting amat sih!....Tapi lumayan untuk perbendaharaan pengetahuan!

Postingan ini adalah tentang satu Spot Fotografi yang juga lokasi destinasi atau tujuan wisata, yang sangat bernilai sejarah....yaitu "Gedung Arsip Nasional ". Ironisnya, gedung ini juga bernasib sama dengan bangunan-bangunan bersejarah lain....Terabaikan!


Dan yang bikin lebih miris lagi, ternyata bangunan ini tetap bisa eksis setelah diselamatkan oleh suatu organisasi non pemerintah dari luar negeri, yang merasa prihatin atas kondisi bangunan ini, dan berinisiatif untuk menyelamatkannya....Zonder bantuan dari pemerintah....Wah....Jadi malu nih rasanya!

Secara visual, gedung ini memiliki keindahan arsitektural yang tinggi, terbukti dengan designnya yang tetap menarik walau telah melewati pergantian waktu, sangat kontras dengan bangunan-bangunan (ruko atau gedung baru) disekelilingnya yang sangat......"common" dan terkesan asal jadi.


Boleh dibilang, gedung ini sebagai penanda yang jelas dari "ketidakpedulian" orang atau badan usaha yang tumbuh disekitarnya, yang enggan untuk meniru nafas "estetis" dari bangunan ini, dan lebih memilih untuk mengambil jalur "instant" demi meraih profit yang sifatnya juga "instant"...Efeknya bisa ditebak, mayoritas bangunan/gedung2 disekitarnya hanya menjadi "polutan pemandangan".


So....buat sobat-sobat yang kebetulan mampir ke jalan Gajah Mada, nggak ada salahnya untuk sekedar menengok dan memandang bangunan ini, karena toh bangunan ini menawarkan perpektif yang berbeda dibanding yang lain!

Oh ya...Untuk lebih jelasnya tentang asal usul bangunan ini, disini saya sertakan saduran dari wikipedia, sekedar tambahan khazanah pengetahuan kita tentang sejarah!

Inilah tuturan "Wikipedia" tentang Gedung Arsip Nasional :

Gedung ini adalah bekas kediaman gubernur jenderal VOC Reinier de Klerk dan dibangun pada abad ke-18.
Tahun 1900, ada rencana untuk membongkarnya dan membangun pertokoan di tempatnya. Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen ("perhimpunan Batavia untuk seni dan ilmu"), yang justru didirikan de Klerk, turun tangan untuk menyelamatkannya. Antara lain, Genootschap menghibahkan mebel yang masih terlihat di gedung itu.


Hingga tahun 1925, gedung ini dipakai departemen Pertambangan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Kemudian, tempat tersebut dijadikan Lands archief ("arsip negeri"), yang setelah Indonesia menjadi gedung arsip nasional. Tahun 1992, arsip nasional dipindahkan ke gedung baru di Jalan Ampera di Jakarta Selatan.


Tahun sama, ada kabar angin bahwa gedung lama akan dibongkar keluarga mantan presiden Soeharto untuk membangun pertokoan, seperti pada tahun 1900. Gedung ini diselamatkan sekelompok usahawan Belanda yang mendirikan Stichting Cadeau Indonesia ("yayasan hadiah Indonesia") yang ingin memberikannya sebagai hadiah ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-50. Yayasan tersebut mengumpulkan dana untuk memugarnya dan menjadikannya sebuah museum.


Pemugaran rampung awal tahun 1998. Tanggal 13 Mei terjadi kerusuhan di Jakarta. Bank yang letaknya di sebelah dibakar, dan Gedung Arsip memperbolehkan karyawan bank berlindung di dalamanya. Para perusuh mengejar mereka ke dalam, tapi diusir para buruh yang masih ada di tempat dan tidak ingin hasil pekerjaan mereka dihancurkan.


Kini, gedung dikelola oleh yayasan tanpa bantuan dari pemerintah dan dijadikan tempat pameran. Kebunnya buka dari pukul 6.00 sampai 18.00. Penduduk setempat diajak memakai kebun tersebut sebagai sarana umum. 

Nah, sobat jepret semuanya, itulah tadi, ulasan sangat singkat tentang satu spot fotografi, yang sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Keunikan dan keindahan arsitektural dari Gedung Arsip Nasional, sangat sesuai dan "masuk" banget untuk obyek foto, maupun background. Banyak tema yang bisa diterapkan di Spot Fotografi yang satu ini. Mau Still Life Photography, atau model dengan tema klasik-Hitam Putih, atau sekedar memotret gedungnya saja (untuk menonjolkan arsitekturalnya), atau apapun.....bisa masuk dan klik di tempat ini!

Demikian sobat, sedikit ulasan dari saya, tentang satu obyek foto, yang sangat indah di Jakarta.

Selasa, 27 September 2016

Jalan-jalan ke Tugu Monas (monumen Nasional)


Kemayoran, Selasa, 27 September 2016


Minggu lalu, hari Ahad, tanggal 18 September 2016, bersama keluarga, kami jalan-jalan ke Monas...alias Monumen Nasional. Niatnya sih mau rekreasi dengan budget murah dan terjangkau, dan juga ada nilai edukasinya...Maklum...Tengah bulan, jadi acara rekreasi harus diselaraskan dan dikompromikan dengan AD/ART (anggaran dasar/anggaran rumah tangga), dengan  tidak mengurangi esensi dari rekreasi itu sendiri. 
Berangkat pagi, sekitar pk. 09.00, sampailah kita di Monas sekitar pk. 10.30...Langsung disambut antrian masuk area Monas...Luar biasa animo orang-orang untuk ngeliat ini "bangoenan", walaupun tingginya nggak tinggi-tinggi amat, sekitar 132 meter (banyak bangunan di jJakarta yang memiliki tinggi melebihi Monas-pen), tapi karena disekelilingnya masih lega....Sekelilingnya lapangan dengan pepohonan rimbun, maka bangunan ini keliatan tinggi banget. dan jadi keliatan menjulang. 


Setelah lolos antrian masuk Monas, para pengunjung diarahkan melalui terowongan bawah tanah, menuju ke loket, dan..."Antri lagi!" Yup... Setelah antri beli tiket (berupa kartu tap...itu lho, kartu yang kudu ditepok ke sensor pintu putar, kaya loketnya busway!), pengunjung harus antri lagi untuk melewati pintu batas, sebelum menuju pintu putar...di pintu putar, antri lagi untuk ngetap tiket masuk...buset dah!

Dan...setelah lolos antrian pintu putar, pengunjung dapat bernapas lega, walau sejenak, karena, kalau kita mau naik ke puncaknya Monas....Wah.....Antri lagi, dan nggak tanggung-tanggung lamanya, hampir 2 jam sob!..Kalah dah antrian sembako!
Gila sekaligus salut, gila karena antriannya nggak masuk akal, tapi salut juga, karena yang antri keliatan sabar sekaligus seneng, wah...Ini baru orang Indonesia...Sabarnya pol, dan bisa merasakan kesenangan dalam kondisi apapun. 


Namun, setelah tiba di puncak, terbayar sudah derita akibat antri bertubi-tubi yang sebelumnya kami rasakan! Sebagian pengunjung begitu menikmati pemandangan dari atas puncak Monas, sebagian berselfie ria (dan yang model kaya gini banyak banget jumlahnya, lengkap dengan peralatan tempur macam tongsis...dll), sebagian merenung dan pasang tampang ala seniman kawakan sekelas Van Gogh, sebagian memotret view Jakarta from above, dan ada satu ibu yang dengan santainya duduk ngegelosor, membuka bekal, dan langsung makan dengan lahap! (untuk moment yang ini, saya sedih luar biasa, karena nggak sempat mengabadikan!)...


Duh Indonesia, dengan fasilitas rekreasi yang berkesan sederhana sekalipun, rakyatnya bisa begitu menikmati dan terkesan sangat bahagia.....Mungkin ini yang bikin Indonesia termasuk ke dalam negara dengan indeks kebahagiaan yang tinggi (menurut penelitian WHO, BPS, dll), karena orang Indonesia sebenarnya sangat "Nrimo".
Oh ya....satu lagi, kondisi taman di sekitar monas, sekarang keadaannya jauh lebih bersih dan tertata, sayang, sarana dan prasarana macam toilet dan mushola masih kurang! tapi, secara umum, boleh dibilang kalau kondisinya "alun-alun" ibu kota Repoeblik Indonesia ini jauh lebih baik ketimbang yang dulu!



Sobat Jepret, sekalian ingin memberi gambaran tentang Monas, sebelum kita masuk ke areal bangunan, kita bakal melewati tempat yang namanya "Lenggang Jakarta", yaitu satu tempat semacam shopping center yang dipadukan dengan food court alias tempat mangkalnya penjual makanan. Ada macam-macam sih yang didagangin, ada makanan yang umum, sampai yang susah dicari, macam kerak telor. Tapi sayangnya, penataan dari areal lenggang Jakarta ini terkesan asal-asalan, nggak selaras dengan auranya monas, sepertinya sisi ekonomis jadi pertimbangan utama, alhasil, tempat ini jadi nggak beda dengan dengan tempat-tempat makan dan jajanan di lokasi lain, lebih berwarna "pasar atawe pujasera" biasa daripada suatu tempat destinasi yang bernilai sejarah. Padahal, kalau yang berwenang mau sedikit bersusah-payah, baik hati, pikiran, ataupun dana, lokasi ini bisa dibangun atau ditata menjadi satu obyek wisata yang bagus (baik dari sisi arsitektural, maupun tata letaknya!) Serta bernafaskan nasionalisme sekaligus menjadi identitas Jakarta sebagai daerah maupun ibukota, sehingga layak untuk dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. Sayang beribu sayang, perspektif dari pemangku wewenang seakan tidak memandang keberadaan "Monas" ini sebagai suatu lokasi yang penting. Alhasil, "Monas juga bernasib sama dengan ratusan bahkan ribuan bangunan dan tempat bersejarah di Indonesia tercinta ini....Hilang termakan jaman, Tergusur....Kumuh....dan harus tersingkir, demi satu kepentingan...."Ekonomi!".


Turis bersepeda di sekitar Monas

Potret antrian pengunjung di Monas

Tukang kerak telor di Lenggang Jakarta

Demikian curahan hati saya tentang Monas, dan INSYA ALLOH, akan saya posting di lain waktu, curahan hati saya tentang tempat-tempat lainnya!


Oh ya......Untuk melengkapi pemahaman kita tentang Monumen Nasional ini, ada baiknya saya sertakan edisi dari wikipedia, yang tentu saja lebih komprehensif dibanding dengan tulisan saya di atas, so....ditelaah ya sob!




Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah presiden Sukarno, dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala. Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 - 15.00 WIB. Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum.




Sejarah

Setelah pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Jakarta setelah sebelumnya berkedudukan di Yogyakarta pada tahun 1950 menyusul pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1949, Presiden Sukarno mulai merencanakan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel di lapangan tepat di depan Istana Merdeka. Pembangunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi penerus.


Monas dalam tahap pembangunan

Pada tanggal 17 Agustus 1954 sebuah komite nasional dibentuk dan sayembara perancangan monumen nasional digelar pada tahun 1955. Terdapat 51 karya yang masuk, akan tetapi hanya satu karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang memenuhi kriteria yang ditentukan komite, antara lain menggambarkan karakter bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad. Sayembara kedua digelar pada tahun 1960 tapi sekali lagi tak satupun dari 136 peserta yang memenuhi kriteria. Ketua juri kemudian meminta Silaban untuk menunjukkan rancangannya kepada Sukarno. Akan tetapi Sukarno kurang menyukai rancangan itu dan ia menginginkan monumen itu berbentuk lingga dan yoni. Silaban kemudian diminta merancang monumen dengan tema seperti itu, akan tetapi rancangan yang diajukan Silaban terlalu luar biasa sehingga biayanya sangat besar dan tidak mampu ditanggung oleh anggaran negara, terlebih kondisi ekonomi saat itu cukup buruk. Silaban menolak merancang bangunan yang lebih kecil, dan menyarankan pembangunan ditunda hingga ekonomi Indonesia membaik. Sukarno kemudian meminta arsitek R.M. Soedarsono untuk melanjutkan rancangan itu. Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, melambangkan 17 Agustus 1945 memulai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ke dalam rancangan monumen itu.[1][2][3] Tugu Peringatan Nasional ini kemudian dibangun di areal seluas 80 hektare. Tugu ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961.

Pembangunan

Soekarno menginspeksi pembangunan Monas. Foto ini dibuat sekitar tahun 1963-1964.
Pembangunan terdiri atas tiga tahap. Tahap pertama, kurun 1961/1962 - 1964/1965 dimulai dengan dimulainya secara resmi pembangunan pada tanggal 17 Agustus 1961 dengan Sukarno secara seremonial menancapkan pasak beton pertama. Total 284 pasak beton digunakan sebagai fondasi bangunan. Sebanyak 360 pasak bumi ditanamkan untuk fondasi museum sejarah nasional. Keseluruhan pemancangan fondasi rampung pada bulan Maret 1962. Dinding museum di dasar bangunan selesai pada bulan Oktober. Pembangunan obelisk kemudian dimulai dan akhirnya rampung pada bulan Agustus 1963. Pembangunan tahap kedua berlangsung pada kurun 1966 hingga 1968 akibat terjadinya Gerakan 30 September 1965 (G-30-S/PKI) dan upaya kudeta, tahap ini sempat tertunda. Tahap akhir berlangsung pada tahun 1969-1976 dengan menambahkan diorama pada museum sejarah. Meskipun pembangunan telah rampung, masalah masih saja terjadi, antara lain kebocoran air yang menggenangi museum. Monumen secara resmi dibuka untuk umum dan diresmikan pada tanggal 12 Juli 1975 oleh Presiden Republik Indonesia Soeharto. Lokasi pembangunan monumen ini dikenal dengan nama Medan Merdeka. Lapangan Monas mengalami lima kali penggantian nama yaitu Lapangan Gambir, Lapangan Ikada, Lapangan Merdeka, Lapangan Monas, dan Taman Monas. Di sekeliling tugu terdapat taman, dua buah kolam dan beberapa lapangan terbuka tempat berolahraga. Pada hari-hari libur Medan Merdeka dipenuhi pengunjung yang berekreasi menikmati pemandangan Tugu Monas dan melakukan berbagai aktivitas dalam taman.


Ir. Soekarno sedang meninjau pembangunan Monas

Rancang Bangun Monumen
Monumen Nasional dalam tahap pembangunan.
Rancang bangun Tugu Monas berdasarkan pada konsep pasangan universal yang abadi; Lingga dan Yoni. Tugu obelisk yang menjulang tinggi adalah lingga yang melambangkan laki-laki, elemen maskulin yang bersifat aktif dan positif, serta melambangkan siang hari. Sementara pelataran cawan landasan obelisk adalah Yoni yang melambangkan perempuan, elemen feminin yang pasif dan negatif, serta melambangkan malam hari. Lingga dan yoni merupakan lambang kesuburan dan kesatuan harmonis yang saling melengkapi sedari masa prasejarah Indonesia. Selain itu bentuk Tugu Monas juga dapat ditafsirkan sebagai sepasang "alu" dan "Lesung", alat penumbuk padi yang didapati dalam setiap rumah tangga petani tradisional Indonesia. Dengan demikian rancang bangun Monas penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Monumen terdiri atas 117,7 meter obelisk di atas landasan persegi setinggi The 17 meter, pelataran cawan. Monumen ini dilapisi dengan marmer Italia.

Kolam di Taman Medan Merdeka Utara berukuran 25 x 25 meter dirancang sebagai bagian dari sistem pendingin udara sekaligus mempercantik penampilan Taman Monas. Di dekatnya terdapat kolam air mancur dan patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kudanya, terbuat dari perunggu seberat 8 ton. Patung itu dibuat oleh pemahat Italia, Prof. Coberlato, sebagai sumbangan oleh Konsulat Jenderal Honores, Dr Mario Bross di Indonesia. Pintu masuk Monas terdapat di taman Medan Merdeka Utara dekat patung Pangeran Diponegoro. Pintu masuk melalui terowongan yang berada 3 m di bawah taman dan jalan silang Monas inilah, pintu masuk pengunjung menuju tugu Monas. Loket tiket berada di ujung terowongan. Ketika pengunjung naik kembali ke permukaan tanah di sisi utara Monas, pengunjung dapat melanjutkan berkeliling melihat relief sejarah perjuangan Indonesia; masuk ke dalam museum sejarah nasional melalui pintu di sudut timur laut, atau langsung naik ke tengah menuju ruang kemerdekaan atau lift menuju pelataran puncak monumen.


Relief Sejarah Indonesia

Relief timbul sejarah Indonesia menampilkan Gajah Mada dan sejarah Majapahit
Pada tiap sudut halaman luar yang mengelilingi monumen terdapat relief yang menggambarkan sejarah Indonesia. Relief ini bermula di sudut timur laut dengan mengabadikan kejayaan Nusantara pada masa lampau; menampilkan sejarah Singhasari dan Majapahit. Relief ini berlanjut secara kronologis searah jarum jam menuju sudut tenggara, barat daya, dan barat laut. Secara kronologis menggambarkan masa penjajahan Belanda, perlawanan rakyat Indonesia dan pahlawan-pahlawan nasional Indonesia, terbentuknya organisasi modern yang memperjuangkan Indonesia Merdeka pada awal abad ke-20, Sumpah Pemuda, Pendudukan Jepang dan Perang Dunia II, proklamasi kemerdekaan Indonesia disusul Revolusi dan Perang kemerdekaan Republik Indonesia, hingga mencapai masa pembangunan Indonesia modern. Relief dan patung-patung ini dibuat dari semen dengan kerangka pipa atau logam, namun beberapa patung dan arca tampak tak terawat dan rusak akibat hujan serta cuaca tropis.



Museum Sejarah Nasional

Pelajar memperhatikan diorama sejarah Indonesia
Di bagian dasar monumen pada kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia. Ruang besar museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80 x 80 meter, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang. Ruangan besar berlapis marmer ini terdapat 48 diorama pada keempat sisinya dan 3 diorama di tengah, sehingga menjadi total 51 diorama. Diorama ini menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah hingga masa Orde Baru. Diorama ini dimula dari sudut timur laut bergerak searah jarum jam menelusuri perjalanan sejarah Indonesia; mulai masa pra sejarah, masa kemaharajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit, disusul masa penjajahan bangsa Eropa yang disusul perlawanan para pahlawan nasional pra kemerdekaan melawan VOC dan pemerintah Hindia Belanda. Diorama berlangsung terus hingga masa pergerakan nasional Indonesia awal abad ke-20, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan dan masa revolusi, hingga masa Orde Baru pada masa pemerintahan Suharto.



Ruang Kemerdekaan

Di bagian dalam cawan monumen terdapat Ruang Kemerdekaan berbentuk amphitheater. Ruangan ini dapat dicapai melalui tangga berputar di dari pintu sisi utara dan selatan. Ruangan ini menyimpan simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik Indonesia. Diantaranya naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang disimpan dalam kotak kaca di dalam gerbang berlapis emas, lambang negara Indonesia, peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia berlapis emas, dan bendera merah putih, dan dinding yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Di dalam Ruang Kemerdekaan Monumen Nasional ini digunakan sebagai ruang tenang untuk mengheningkan cipta dan bermeditasi mengenang hakikat kemerdekaan dan perjuangan bangsa Indonesia. Naskah asli proklamasi kemerdekaan Indonesia disimpan dalam kotak kaca dalam pintu gerbang berlapis emas. Pintu mekanis ini terbuat dari perunggu seberat 4 ton berlapis emas dihiasi ukiran bunga Wijaya Kusuma yang melambangkan keabadian, serta bunga Teratai yang melambangkan kesucian. Pintu ini terletak pada dinding sisi barat tepat di tengah ruangan dan berlapis marmer hitam. Pintu ini dikenal dengan nama Gerbang Kemerdekaan yang secara mekanis akan membuka seraya memperdengarkan lagu "Padamu Negeri" diikuti kemudian oleh rekaman suara Sukarno tengah membacakan naskah proklamasi pada 17 Agustus 1945. Pada sisi selatan terdapat patung Garuda Pancasila, lambang negara Indonesia terbuat dari perunggu seberat 3,5 ton dan berlapis emas. Pada sisi timur terdapat tulisan naskah proklamasi berhuruf perunggu, seharusnya sisi ini menampilkan bendera yang paling suci dan dimuliakan Sang Saka Merah Putih, yang aslinya dikibarkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Akan tetapi karena kondisinya sudah semakin tua dan rapuh, bendera suci ini tidak dipamerkan. Sisi utara dinding marmer hitam ini menampilkan kepulauan Nusantara berlapis emas, melambangkan lokasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.



Pelataran Puncak dan Api Kemerdekaan

Pelataran setinggi 115 meter tempat pengunjung dapat menikmati panorama Jakarta dari ketinggian
Sebuah elevator (lift) pada pintu sisi selatan akan membawa pengunjung menuju pelataran puncak berukuran 11 x 11 meter di ketinggian 115 meter dari permukaan tanah. Lift ini berkapasitas 11 orang sekali angkut. Pelataran puncak ini dapat menampung sekitar 50 orang, serta terdapat teropong untuk melihat panorama Jakarta lebih dekat. Pada sekeliling badan elevator terdapat tangga darurat yang terbuat dari besi. Dari pelataran puncak tugu Monas, pengunjung dapat menikmati pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta. Bila kondisi cuaca cerah tanpa asap kabut, di arah ke selatan terlihat dari kejauhan Gunung Salak di wilayah kabupaten Bogor, Jawa Barat, arah utara membentang laut lepas dengan pulau-pulau kecil.

Di puncak Monumen Nasional terdapat cawan yang menopang nyala lampu perunggu yang beratnya mencapai 14,5 ton dan dilapisi emas 35 Kilogram. Lidah api atau obor ini berukuran tinggi 14 meter dan berdiameter 6 meter terdiri dari 77 bagian yang disatukan. Lidah api ini sebagai simbol semangat perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan. Awalnya nyala api perunggu ini dilapisi lembaran emas seberat 35 kilogram[1], akan tetapi untuk menyambut perayaan setengah abad (50 tahun) kemerdekaan Indonesia pada tahun 1995, lembaran emas ini dilapis ulang sehingga mencapai berat 50 kilogram lembaran emas.[9] Puncak tugu berupa "Api Nan Tak Kunjung Padam" yang bermakna agar Bangsa Indonesia senantiasa memiliki semangat yang menyala-nyala dalam berjuang dan tidak pernah surut atau padam sepanjang masa. Pelataran cawan memberikan pemandangan bagi pengunjung dari ketinggian 17 meter dari permukaan tanah. Pelataran cawan dapat dicapai melalui elevator ketika turun dari pelataran puncak, atau melalui tangga mencapai dasar cawan. Tinggi pelataran cawan dari dasar 17 meter, sedangkan rentang tinggi antara ruang museum sejarah ke dasar cawan adalah 8 m (3 meter dibawah tanah ditambah 5 meter tangga menuju dasar cawan). Luas pelataran yang berbentuk bujur sangkar, berukuran 45 x 45 meter, semuanya merupakan pelestarian angka keramat Proklamasi Kemerdekaan RI (17-8-1945).


Sebanyak 28 kg dari 38 kg emas pada obor monas tersebut merupakan sumbangan dari Teuku Markam, seorang pengusaha Aceh yang pernah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia.



Proses pembuatan "The Kerak Telor"

kalo di atas video pembuatan kerak telor....video dibawah ini adalah proses makan kerak telor...cekidot ya sob!