Rabu, 30 Maret 2016

Face Photo Close Up

In Close.......


Lady in frame : Hafsah
FG : Gw la yauuuuuuuuuuuu......

Kali ini gw mo nyoba foto close up....tapi candid...
lumayan...dapet sisi yang bagusnya....
tapi tallentnya emang cantik sih....
dari angle manapun...tetep bisa dapet auranya!
So...cekidot ya sohib2....
Boleh jepret di kotu!


The Eyes

Postingan kali ini masih dari komunitas Banana's !


FG : Rendi Yunanda
Lady in frame: Fanny S.


Fotonya bagus banget, nonjolin kecantikan dari tallent nya dengan cara minimalis picture in frame...
Fokus ke mata simodel....
Kalo menurut gw...foto ini jempol banget dah!!!



Senin, 28 Maret 2016

Beauty Photography!!!!!!!

Kalo untuk foto yang satu ini, ane ga bisa kasih comment deh....

Muantaaaab banget, 4 Jempol dah!!!  bener2 "Beautiful Photograph"

FG : Kevin Kusnadi

In Frame : Aprillia

Edisi Hitam-Putih

Masih dari review karya temen-temen Banana’s (saking kagumnya GW sama karya temen-temen Banana’s!)


Foto ini, Seperti kebanyakan foto hitam putih lainnya…..miskin warna (Ya iyalah…namanya juga item ama putih!!!!).

Tapi justru disitu letak kekuatan dari foto hitam putih (sekali lagi, ini menurut Gw…mohon dikoreksi ya mas bro!), Kadang foto type ini lebih “berbicara”, dari pada foto yang “colorfull”!...

Contohnya foto karya FG: dewantoro_tony nyang atu ennih (nah…”betawi ora” nya nongol kan!), dari karakter sama spotnya, muke si model sengaja nggak di ekspose..kayanya si FG mau nyoba nongollin karakter model yang memperkuat spotnya…”sepi dan juga selfish”!

Tapi kalo boleh saran, seandainya di frame ditambah 2 atau 3 karakter lagi, (misalnya ada 2 orang yang lagi jalan sambil ngobrol tanpa memperhatikan si model) kayanya nambah kekuatan dari karakter utamanya…sekedar saran sih…bias juga salah!
(Sumpah. GW so tau banget ye….nyalain kamera aja gagap…segala ngereview karya orang lagi!)

Secara umum…salut banget sama FG sama modelnya….Salut gila bang!!

Light of Beauty!!!

Edisi fotografi (Lagi……..episode 2)!

Sekarang saatnya posting karya dari seorang FG dengan nick name : Moldzie…


Kalo menurut gw, FG lewat foto ini kayanya pengen nyoba untuk nongolin alias mengutamakan sisi pose yang sifatnya beuty style….yang ditegaskan dengan permainan cahaya….jadi kayanya…si talent mau dibikin dominan obyek….tanpa ninggalin efek “beauty” yang emang ditonjolin dari awal….so…cekidot ya temen2!


SENJA DI KAIMANA!

Edisi fotografi (Lagi…)!


Di postingan kali ini, ane persembahkan (wuaduuuhhhhh…) hasil jepretan temen ane yang namanya Wendy L.W.

In Frame : Horizon Senja di Kaimana (Papua)
FG : Wendy L.W.

Spot ini emang luar biasa indah…bener kata orang yang udah pernah berkeliling Indonesia…They said….as I quote…”Piece of heaven was fell in Indonesia!”

Dan mahluk ini…yang namanya Wendy (hehehe…sorry my bro!)…termasuk segelintir orang yang beruntung banget karena udah bias wara-wiri keliling Indonesia!
So….ini sebagian karyanya…cekidot guys!






EDISI ULASAN FOTO!

Edisi kali ini masih tentang fotografi!

Dalam edisi ini, ane posting hasil jepretan temen-temen di komunitas fotografi Banana’s Photography, yang menurut ane.....ruarrrrr biasa!!!!!!!!!



In Frame : Siti Hafsah
FG : Arsya

Dalam foto ini (dari perpektif gw tentunya), si fotografer(FG) berusaha untuk menangkap sisi roman-feminim dari model, lewat pengambilan dari sudut nyamping yang mempertegas karakter si model...Fotografer seakan-akan mau menggiring fokus siapa aja yang melihat foto ini ke dalam sudut pandang yang sama dengan fotografernya (dalam artian, perspektif subyektifnya FG lebih dominan!...anjrit....Gw sok tau banget ye!!!!). Juga dari komposisi edit warna, selain karakter feminim yang ditonjolkan, karakter “kuat” alias “strong!” juga dibalur disekitar aura roman yang mengalun tipis difoto ini! (...ampun dah!!)


Jujur, ni foto ciamik banget...alias dahsyat abis!...salut 4 jempol buat Hafsah yang jadi model, dan juga bang Arsya yang bisa nangkep kaya gini!!!

Kamis, 24 Maret 2016

Spot Fotografi - Toko Merah - Kota Tua - Jakarta



Ciledug, Tangerang, Banten, Sabtu, 24 Maret 2016

Artikel kali ini adalah tentang salah satu spot fotografi di Jakarta, yang juga sekaligus tempat yang sangat bersejarah....."Toko Merah"

Kalo sohib-sohib sering mampir pakansi atawe jalan-jalan ke daerah kota tua, udah pasti pernah ngeliat bangunan ini!


Yup, sebuah bangunan yang punya arsitektur lumayan unik, terletak di jalan Kali besar barat dan punya cat eksterior yang "ngejreng!"...menyala...

Dan bangunan ini sering banget dijadiin lokasi untuk foto, karena selain unik, juga tempatnya ga terlalu jauh dari pusat kota.

Tapi, siapa nyana, ternyata bangunan ini punya sejarah kelam di suatu masa di "Tempo Doeloe" (setidaknya menurut beberapa versi!), berikut beberapa versi sejarah bangunan toko merah menurut berbagai sumber :    



Toko Merah dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaaf Willem baron van Imhoff diatas tanah seluas 2.471 meter persegi. Rumah tersebut dibangun sedemikian rupa, sehingga besar, megah dan nyaman. Nama "Toko Merah" berdasarkan salah satu fungsinya yakni sebagai sebuah toko milik warga Cina, Oey Liauw Kong sejak pertengahan abad ke-19 untuk jangka waktu yang cukup lama. Nama tersebut juga didasarkan pada warna tembok depan bangunan yang bercat merah hati langsung pada permukaan batu bata yang tidak diplester. Warna merah hati juga nampak pada interior dari bangunan tersebut yang sebagian besar berwarna merah dengan ukiran-ukirannya yang juga berwama merah. Di samping itu dalam akte tanah No. 957, No. 958 tanggal 13 Juli 1920 disebutkan bahwa persil-persil tersebut milik NV Bouwmaatschapij "Toko Merah".

Selain van Imhoff, bangunan ini juga menjadi kediaman beberapa Gubernur-Jenderal seperti Jacob Mossel (1750–1761), Petrus Albertus van der Parra (1761–1775), Reinier de Klerk (1777–1780), Nicolaas Hartingh, dan Baron von Hohendorff.


Pada tahun 1743-1755 dijadikan Kampus dan Asrama Académie de Marine (akademi angkatan laut), kemudian pada tahun 1786-1808 digunakan untuk Heerenlogement atau hotel para pejabat. Tahun 1809-1813 seluruh bangunan dijadikan rumah tinggal oleh Anthony Nacare. Kurun waktu 1813-1851 kepemilikan beberapa kali berganti hingga kemudian dimiliki oleh Oey Liauw Kong yang berfungsi sebagai taka, sehingga populer dengan sebutan "Taka Merah".

Tahun 1920 dibeli dan dipugar oleh NV Bouw Maatschappij "Toko Merah" yang menelan biaya satu juta gulden. Bangunan ini diperbaiki lagi oleh Bank Voor Indie yang kemudian berkantor di sini hingga tahun 1925. Kemudian ditempati oleh sejumlah Biro dan Kantor Dagang: Algemene Landbouws Syndicaat, De Semarangse Zee en Brandassuransi Mij, dan WM Muller. & Co. Tahun 1934-1942 menjadi Kantor Pusat N.V. Jacobson vanl den Berg salah satu perusahaan "The Big Five" milik Kolonial Belanda.


Pada masa pendudukan Jepang menjadi Gedung Dinas Kesehatan Tentara Jepang. Setelah Indonesia merdeka, Toko Merah berubah melewati fase-fase perubahan pindah tangan pemilik kantor yang salah satunya adalah PT. Satya Niaga pada tahun 1964. Selanjutnya pada tahun 1977 berubah menjadi PT Dharma Niaga (Ltd) dan gedung tersebut tetap digunakan sebagai kantor. Pada tahun 1990an, Toko Merah dijadikan Bangunan Cagar Budaya berdasarkan UU No. 5 Tahun 1992 dan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tanggal 29 Maret Tahun 1993. Setelah sekian lama terabaikan, Akhirnya Toko Merah direstorasi pada tahun 2012 dan sekarang Toko Merah menjelma menjadi 'function hall' yang dapat dijadikan sebagai tempat konferensi dan pameran.              


2. Versi dari Alwi Shahab (Seorang wartawan senior, sekaligus pemerhati sejarah. Artikel ini dimuat di harian Republika, Minggu, 05 Maret 2006) 

Di Jl Kalibesar Barat, Jakarta Kota, yang di masa VOC merupakan pusat kota Batavia, terdapat sebuah gedung yang hampir seluruh bagian depannya berwarna merah. Toko Merah, nama gedung itu, terletak berdekatan dengan stadhuis (Balaikota Batavia), kini masih tetap berdiri kokoh meskipun telah berusia tiga abad. Sejumlah gubernur jenderal VOC pernah mendiami gedung ini, yang kala itu terletak di tengah kota Batavia berbenteng.

Gustaff Baron van Imhoff membangun gedung berlantai dua itu pada 1730, jauh sebelum ia diangkat menjadi gubernur jenderal di Srilangka, yang kala itu jajahan Belanda. Begitu bersejarahnya gedung tersebut, hingga ia banyak didatangi para wisatawan asing, maupun para pecinta gedung tua.


Gedung itu, dalam keberadaan yang cukup lama, telah menyaksikan berbagai peristiwa penting, yang dialami kota Batavia. Setidak-tidaknya di depan gedung yang mengalir sungai Groote Rivier (Kali Besar) itu pernah terjadi suatu kerusuhan besar ketika terjadi pembantaian terhadap orang-orang Tionghoa. Peristiwa itu terjadi 10 tahun setelah gedung tersebut berdiri (1740). Di muara Ciliwung ini, yang kala itu airnya jernih, pada pagi dan sore, menjadi tempat mandi para Indo-Belanda. Sementara di malam terang bulan, para muda-mudi, sambil main gitar, bernyanyi menumpahkan isi hati mereka.

Setelah peristiwa berdarah pembantaian warga Tionghaa, Van Imhoff yang kelahiran Jerman, kemudian diangkat sebagai gubernur jenderal Hindia Belanda (1743-1750). Di gedung yang kini dikenal sebagai Toko Merah itu ia juga mendirikan Akademi Maritim (Academiede Marine). Akademi ini diresmikan 7 Desember 1743. Selain sebagai kampus, gedung itu juga menjadi asrama para kadet.


Untuk dapat diterima jadi kadet harus memenuhi persyaratan yang cukup ketat. Calon harus lahir dari hasil perkawinan yang sah. Maklum, kala itu, banyak warga Belanda yang mengawini para nyai, yang anak-anaknya disebut Indo-Belanda. Syarat lainnya ialah berumur 12-14 tahun, beragama Kristen Protestan (kala itu tempat peridabatan Katolik tidak dibenarkan di Batavia). Masa pendidikan 4 tahun dan tiap angkatan dibatasi 24 orang.

Seperti ditulis Thomas B Ataladjar dalam buku Toko Merah, selama pendidikan para kadet menjalani disiplin sangat ketat. Mereka yang melanggar disiplin mendapat hukuman di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Sedang kadet yang ketahuan membaca buku terlarang (porno), dan bermain kartu, dikurang selama empat hari dengan kaki terendam dalam air dan hanya boleh mendapatkan nasi tanpa sayur dan lauk pauk.


Van Imhoff tercatat sebagai gubernur jenderal pertama yang mengunjungi keraton Mataram di Kartasura. Campur tangan van Imhoff tidak hanya terhadap Mataram, tapi juga kesultanan Banten. Ketika Sultan Zaenul Arifin memerintah (1744-1747), ia diberitahu menderita gangguan jiwa. Van Imhoff kemudian mendukung salah seorang istri Sultan, Ratu Syarifah Fatimah, seorang wanita keturunan Arab. Atas dukungan Van Imhoff, Syarifah dapat menggeser Sultan dan menaikkan keponakannya (Syarif Abdullah) sebagai sultan Banten. Sedangkan Sultan Arifin dibuang ke Ambon. Politik divide et empera (pecah belah) van Imhoff, karuan saja menimbulkan kemarahan rakyat Banten. Dipimpin Kyai Tapa, mereka memberontak terhadap VOC.

Setelah van Imhoff meninggal (1750), penggantinya, Yacob Mossel, mengembalikan kekuasaan Sultan Arifin. Sedangkan Syarifah dan Syarif Abdullah ditangkap dan ditahan di Pulau Edam, Kepulauan Seribu. Menurut rencana, kedua keturunan Arab itu akan ditahan di Saparua (Maluku). Namun Syarifah lebih dulu meninggal dunia dan dimakamkan di Pulau Edam. Sedangkan ponakannya di buang ke Banda dan hidup mewah di sana atas biaya VOC selama 39 tahun. 

Hingga kini banyak orang mendatangi makamnya di kepulauan Seribu, terutama untuk meminta nomor buntut. Tempat pertemuan antara van Imhoff dan Syarifah Fatimah saat hendak menggulingkan suaminya, Sultan Banten, terletak di Tanjung Oost (kini Tanjung Timur), depan Markas Rindam Condet, Jakarta Timur. Kala itu, tempat tersebut merupakan rumah peristirahatan yang sangat mewah. Kini ditempati oleh keluarga kepolisian.

Selama pemerintahannya, van Imhoff juga membangun Istana Buitenzorg Lepas dari Kesibukan pada 1745 yang kini lebih dikenal dengan Istana Bogor. Istana ini kemudian dipugar oleh para gubernur penggantinya hingga bentuknya sekarang ini. Kala itu, van Imhoff sudah memelihara kijang di halaman istana. Presiden Soekarno termasuk Kepala Negara yang paling sering tinggal di Istana Bogor. Bahkan Surat Perintah 11 Maret 1966 dikeluarkan di sini. Dengan Supersemar itulah, Pak Harto kemudian membubarkan PKI dan ormas-ormas yang bernaung di bawahnya.

Toko Merah, menurut Thomas B Ataladjar, pernah digunakan sebagai kantor Jacobson van den Berg, sebuah perusahaan multinasional milik Belanda. Pada 1957, ketika hubungan RI-Belanda memburuk, Jacobsonvan den Berg dan semua perusahaan milik Belanda diambil alih. Sementara ribuan warga Belanda dan Indo Belanda meninggalkan Indonesia.

Toko Merah juga merupakan saksi sejarah betapa menyedihkan nasib para budak di Batavia kala itu. Mereka dijualbelikan dan diperlakukan seperti binatang. Di tempat ini pernah dilelang sebanyak 162 budak belian.


Demikian ya sob, Dua versi tentang sejarah Toko Merah, Semoga dapat bermanfaat....(semoga lho ya!, kalau nggak, ya udah...baca aja!)

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Selasa, 22 Maret 2016

Urban Street Warrior (Experiment Photography)



Ciledug, Tangerang, Banten, Selasa, 22 Maret 2016

Kali ini, yang akan kita ulas adalah satu genre foto yang bisa digolongkan ke dalam "experiment photography", alias fotografi eksperimen. 

Kenapa disebut sebagai fotografi eksperimen?

Disebut sebagai fotografi eksperimen karena memang foto-foto ini menerapkan beberapa teknik serta mengkombinasikan beberapa genre yang ada dalam fotografi. Belum lagi, baik FG maupun Tallent yang ada dalam frame ini seakan "All Out" untuk mewujudkan foto yang luar biasa.

Kalau boleh jujur, saya tak terlalu mengerti tentang genre yang satu ini (mungkin karena faktor usia yang menjadi penyebabnya), hehehehe......


Tapi, saya bisa menangkap keindahan dari foto-foto ini, keindahan yang dibalur semangat, serta refleksi dari jiwa muda yang terbungkus dalam kreativitas nyata.

Kumpulan para fotografer dan model yang mengusung photo/video dengan genre urban street..

With new ways of photo experiment......

Seluruh foto adalah kiriman dari Arieyadi Casual....(Member of Banana's Photography, Urban Street Warrior, Modeling Bekasi, Komjebar Fotografi)


Luar biasa!!!!

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 



Sabtu, 19 Maret 2016

Tips Fotografi - Bagaimana Membuat Foto Bokeh Yang Creamy!




Ciledug, Tangerang, Banten, Sabtu, 19 Maret 2016

Menyambung artikel postingan sebelumnya, yaitu tentang foto bokeh, ini adalah episode lanjutan untuk episode sebelumnya (sinetron kali….pake episode lanjutan!)



Salah satu perbedaan utama antara indera mata dan lensa kamera anda adalah bahwa mata memiliki Depth Of Field (DOF) hampir tanpa batas sementara lensa terbatas, ini membawa konsekuensi bahwa bidang fokus lensa tidaklah seluas mata. Dan fotografer yang dulu-dulu (buset, kesannya lama bingitz!) berhasil memanfaatkan hal ini, menjadi aliran alias genre alias tipe alias jenis alias…..(lah….kaga kelar-kelar nih!) style foto yang disebut dengan “Bokeh”!



Bokeh aslinya adalah kata dalam bahasa tangerang….eits….salah ketik….bahasa Jepang yang berarti ‘menjadi kabur’, jadi foto bokeh adalah karakteristik foto yang menonjolkan sebuah oyek utama yang fokusnya sangat tajam sementara latar belakang (dan atau depan) yang sangat kabur, atau dalam bahasa Inggris selective focusing (cie….pake bahasa inggris cuy…). 



Dalam contoh foto cantik diatas adalah contoh foto bokeh yang nyam-nyam alias creamy, obyek utama muka model amatlah tajam, namun latar belakang menjadi tampak amat kabur (blur). Nah, sifat kabur inilah yang disebut bokeh. Bagaimana caranya supaya kita bisa menghasilkan foto bokeh yang seperti ini. Berikut yang bisa anda lakukan:

1. Pilih mode manual atau Aperture Priority

2. Pilih setting Apertura atau aperture sebesar mungkin.

Lihat tulisan f/x di lensa anda, semakin kecil x, semakin besar aperture dan semakin sempit bidang fokusnya

3.   Pikirkan tentang faktor jarak, yakni jarak didepan dan dibelakang bidang obyek.

Misalnya anda berdiri 1 meter didepan teman (jarak depan = 1 meter) dan anda menjatuhkan titik fokus lensa pada mukanya. Teman anda berdiri sekitar 10 meter dari background terdekat (jarak belakang = 10 meter), maka background ini akan terlihat sangat kabur. Intinya, semakin kecil jarak depan (jarak antara lensa dan obyek) dan semakin besar jarak belakang (jarak antara obyek dan background) semakin kabur backgorund anda.

4. Banyak berlatih dan usahakan anda membeli lensa dengan kemampuan aperture sebesar mungkin.



Tip: Jika anda memang menyukai bokeh, lensa non-zoom dengan aperture super besar adalah cara tercepat mendapat bokeh (misal: 85mm f/1.8 & 50mm f/1.8, dua lensa ini adalah lensa super cepat dan super murah juga penghasil bokeh yang luar biasa)

Demikianlah sobat jepret, 4 Tips yang bisa diterapkan untuk dapat menghasilkan foto bokeh yang creamy! Untuk lebih lengkapnya, dapat sobat lihat di artikel saya yang lain, yaitu : "6 tips untuk menghasilkan foto bokeh"

Oh ya, untuk melengkapi artikel ini, di bawah ini saya akan sertakan beberapa foto bokeh hasil jepretan saya, cekidot ya sob!






#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Jumat, 18 Maret 2016

Asal mula nama "Glodok"


Berikut ini postingan edisi...."Djakarta Tempo Doeloe"

Asal kata nama daerah Glodok :

ada banyak sumber ya sob....berikut ini akan dijelaskan panjang kali lebar untuk beberapa versi (boleh petik dari net!)

1. Versi Wikipedia : 

Kata Glodok berasal dari Bahasa Sunda "Golodog". Golodog berarti pintu masuk rumah, karena Sunda Kalapa (Jakarta) merupakan pintu masuk ke kerajaan Sunda. Karena sebelum dikuasai Belanda yang membawa para pekerja dari berbagai daerah dan menjadi Betawi atau Batavia, Sunda Kelapa dihuni oleh orang Sunda. Perubahan 'G' jadi 'K' di belakang sering ditemukan pada kata-kata Sunda yg dieja oleh orang non-Sunda, terutama suku Jawa dan Melayu yang kemudian banyak menghuni Jakarta. Sampai saat ini di Jakarta masih banyak ditemui nama daerah yang berasal dari Bahasa Sunda meski dengan ejaan yang telah sedikit berubah.

Nama Glodok juga berasal dari suara air pancuran dari sebuah gedung kecil persegi delapan di tengah-tengah halaman gedung Balai Kota (Stadhuis) – pusat pemerintahan Kompeni (atawe Belande) di kota Batavia. 
Gedung persegi delapan ini, dibangun sekitar tahun 1743 dan sempat dirubuhkan sebelum dibangun kembali tahun 1972, banyak membantu serdadu Kumpeni Belanda karena di situlah mengalir air bersih yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. 



Tak cuma bagi serdadu Kumpeni Belanda tapi juga dimanfaatkan minum bagi kuda-kuda serdadu usai mengadakan perjalanan jauh. Bunyi air pancurannya grojok..grojok..grojok. Sehingga kemudian bunyi yang bersumber dari gedung kecil persegi delapan itu dieja penduduk pribumi sebagai Glodok.
Dari nama ”pancuran” akhirnya menjadi nama sebuah daerah yang kini dikenal sebagai Pancoran atau orang di kawasan Jakarta Kota menyebutnya dengan istilah ”Glodok Pancoran”. Hingga kini kedua nama yakni Glodok dan Glodok Pancoran masih akrab di telinga orang Jakarta, bahkan hingga ke luar Jakarta.

Glodok adalah salah satu bagian dari kota lama Jakarta. Sejak masa pemerintahan Hindie Belande, daerah ini juga dikenal sebagai Pecinan terbesar di Batavia. Mayoritas warga Glodok merupakan keturunan Tionghoa. Pada masa kini Glodok dikenal sebagai salah satu sentra penjualan elektronik di Jakarta, Indonesia. Secara administratif, daerah ini merupakan Kelurahan yang termasuk dalam wilayah kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.   
   

2. Versi berbagai sumber : 

versi 1. 
Glodok yang berlokasi di Jakarta Barat misalnya, berasal dari kata gerojok yang merupakan sebutan dari bunyi air yang jatuh dari pancuran air. Dahulu, di tempat itu ada semacam waduk penampungan air Sungai Ciliwung. 
Namun, orang Tionghoa dan keturunannya sulit menyebut kata gerojok. Mereka sering menyebutnya glodok hingga kawasan tersebut dikenal dengan sebutan glodok.



3. Versi Kompassiana : 

JAKARTA TEMPO DOELOE
Jejak masa lampau Jakarta sulit dilacak keberadaannya. Melalui beberapa situs sejarah yang lolos dari "kebiadaban" masa kini lah masa lampau itu dapat terungkap. 

Salah satu ciri khas yang umum terdapat di setiap sejarah suatu kota adalah terdapatnya pemukiman Tionghoa atau biasa disebut Pecinan (China Town) di kota itu. Kawasan Pecinan, dalam sejarahnya selalu menjadi penopang sekaligus jantung yang menggerakan detak perekonomian. Tak heran, jika Pecinan terdapat hampir di berbagai kota besar di Dunia, termasuk Jakarta. 

Kini, etnis Tionghoa telah menjadi ciri sekaligus jiwa yang mewarnai sejarah kebudayaan dari kota ini. PECINAN JAKARTA, Pusat Ekonomi dan Akulturasi Budaya Jauh sebelum Belanda membangun Batavia (kini Jakarta) tahun 1619, orang-orang Cina sudah tinggal di sebelah Timur muara Ciliwung tidak jauh dari pelabuhan itu. Mereka menjual arak, beras dan kebutuhan lainnya termasuk air minum bagi para pendatang yang singgah di pelabuhan. 



Namun, ketika Belanda membangun loji di tempat itu mereka pun diusir. Baru, setelah terjadinya Pembantaian Orang Tionghoa di Batavia (9 Oktober 1740), orang-orang Tionghoa ditempatkan di kawasan Glodok yang tidak jauh dari 'Stadhuis' (kini Museum Fatahillah) dengan maksud agar mudah diawasi. 

Di Pecinan Glodok dan sekitarnya tempo doeloe konglomerat Khouw pernah berjaya; ribuan orang China juga pernah dibantai; perayaan Imlek; semarak Cap Go Meh; nostalgia Peh Cun, panasnya perjudian dan madat, serta aktivitas perdagangan dan perekonomian yang terus bergelora. Jejak-jejak itu, kendati terus memudar, masih tetap terasa kental. Walau sempat di kekang puluhan tahun, kini etnis yang mendarah menjadi daging dari suku Betawi ini tengah merayakan Imlek dan Cap Go Meh. 

Aksara China, bahasa Mandarin, berbagai pertunjukan tradisi lama Tionghoa pun semakin semarak. Sejak dulu, kawasan Glodok memiliki potensi dan letak yang strategis, maka tak aneh jika mendorong banyak orang mengadu nasib. Tak hanya orang China, orang Eropa, dan kaum pribumi pun banyak tumpah ruah di Glodok. 

Saat ini, orang Betawi (dari kata Batavia) yang belakangan muncul pada abad ke-19 sebagai suku tersendiri merupakan akulturasi dari banyak budaya itu. Glodok kini, bukan hanya dikenal sebagai pusat perdagangan elektronik. Wilayah perekonomian yang tak henti berdenyut ini bukan pula sekedar kawasan yang identik sebagai Pecinan saja. Karena dalam sejarah kontemporer Jakarta, glodok memiliki banyak arti: perjuangan kaum imigran, kejayaan, keterpurukan dan perlawanan terhadap nasib dan penindasan. Ini berlaku bagi siapa saja yang tinggal di Glodok dan sekitarnya. 



PECINAN TIDAK HANYA DI GLODOK Sesungguhnya, kawasan Pecinan di Jakarta tidak saja identik dengan Asemka, Glodok, Pancoran dan Petak Sembilan. Karena dalam sejarah Jakarta, kawasan lain sebagai Pecinan banyak bermuculan setelah pusat kota Batavia dipindahkan ke Weltevreden (kini Monas dan Lapangan Banteng) diawal abad ke-19. Kawasan -kawasan lain sebagai Pecinan itu misalnya terdapat di Passer Baroe, Meester Cornelis Senen (Jatinegara), Pasar Senen; Pasar Tanah Abang, dsb. 

Di setiap kawasan tersebut hingga saat ini masih dapat kita temui jejak sejarah Tionghoa yang unik dan menarik untuk ditelusuri. - Pancoran dan Glodok Nama 'pancoran' berasal dari pancuran air yang terbuat dari bambu. Dahulu, di Glodok memang terdapat sumber air yang mampu memenuhi kebutuhan air minum masyarakat Kota Batavia. Air dari Pancoran di alirkan ke taman Fatahillah menggunakan pipa tanah liat. Pipa ini sempat dipotong dan dihancurkan oleh Pemda DKI demi pembuatan Tunel yang menghubungkan Stasiun BeOS dan Museum Bank Mandiri pada tahun 2006 lalu. Di tengah taman Fatahillah kemudian dibuat tempat minum kuda dan masyarakat (1873). Alat itu menyerupai kubah Museum Fatahillah. 



Sedangkan nama 'glodok' berasal dari suara air yang berbunyi 'grojok-grojok' kemudian lidahnya kepleset menjadi 'glodok.' Versi lain menyebutkan bahwa glodok berasal dari grobak pengangkut air tersebut yang bernama "golodok." Sebagai kawasan pecinan, Pancoran -Glodok merupakan kawasan paling padat dan ramai. Beberapa bangunan bergaya Tionghoa masih terdapat di sini. Namun, jumlahnya sangat sedikit karena banyak yang dihancurkan oleh pemiliknya. 

Antara lain yang masih selamat: Kelenteng Jin de Juan; Gereja Santa Maria de Fatima; dan Kelenteng Toa Sai Bio. - Passer Pagi Lama -Asemka Pasar Pagi Lama terletak di Asemka, tepatnya di belakang Museum Bank Mandiri. Di sini lah pusat grosir terbesar Indonesia yang menjual berbagai jenis barang murah dari kelontong hingga asesoris. Sebagai Pecinan, di sini juga tentunya banyak terdapat rumah bergaya Tionghoa. Ciri umum rumah Tionghoa adalah di bawah toko, di atas sebagai tempat tinggal (ruko, rumah dan toko). Ada juga yang hanya satu lantai saja. 



Sayang, rumah-rumah itu kini banyak yang didiamkan, dihancurkan pemiliknya, ditiban dengan bangunan baru atau sama sekali dihancurkan. Para pedagang asongan kereta jalur Kota-Bogor, Kota-Cikampek, dan Kota-Merak biasanya berbelanja di sini. Pedagang asongan bis-bis antar kota juga demikian. 

Jika Anda tertarik untuk berjualan, tempat ini sangatlah tepat. Bayangkan saja harga 1 buah ballpoint yang dijual di bis/kereta dengan harga Rp. 1000,-/buah, di sini dibeli dengan harga bisa sampai Rp. 250/buah. Tentunya harus membeli dalam jumlah yang banyak. 



- Jl. Perniagaan dan Rumah Keluarga Souw Di sebelah Selatan Pasar Pagi Lama, terdapat Jl. Perniagaan, jalan ini dahulu disebut Jl. Patekoan. Konon, nama Patekoan berarti '8 buah teko/poci' (pat te-koan). Di daerah ini pernah tinggal seorang Kapiten Cina Gan Djie (1663-1675). Istrinya yang berjiwa sosial, setiap hari menyediakan 8 buah teko (poci) berisi air teh. Angka 8 sengaja dipilih sebab angka ini mempunyai konotasi baik atau 'hoki.' Dahulu belum banyak orang yang berjualan makanan dan minuman, jadi bagi pejalan kaki yang kelelahan/kehausan dipersilahkan minum air teh yang disediakan. Jl. Patekoan kini dinamankan Jl. Perniagaan yang sama sekali tidak mengandung makna apa-apa, selain bisnis. 

Masih dari jalan perniagaan, terdapat rumah tua milik keluarga Souw. Keluarga Tionghoa ini dahulu terkenal sangat kaya-raya. Salah satunya adalah kakak-beradik Souw Siauw Tjong dan Souw Siauw Keng. Souw Siauw Tjong selain orang kaya dia berjiwa sosial. Ia mendirikan sekolah-sekolah bagi anak-anak boemipoetra di tanah miliknya, membantu orang-orang miskin, menyumbangkan makanan dan bahan bangunan ketika terjadi kebakaran. Maka, Tjong diberikan gelar luitenant titulair (kehormatan) oleh pemerintah Hindia Belanda pada Mei 1877. Namanya juga tercantum sebagai donor pada pemugaran Kelenteng Boen Tek Bio Tanggeang 1875 dan Kelenteng Kim Tek Ie (kini Jin de Juan) Batavia tahun 1890. 



Sedangkan Souw Siauw Keng (1849-1917) diangkat menjadi luitenant der Chineezen di Tangerang tahun 1884. Beberapa meter dari rumah besar Keluarga Souw, terdapat bangunan yang kini menjadi sekolah SMAN 19 Jakarta. Di kalangan anak-anak Kota, sekolah ini sangat populer dengan sebutan cap-kau, artinya "sembilan belas". Gedungnya sangat bersejarah, sebab di tempat inilah pertama kali berdiri sebuah organisasi Tionghoa "modern" di kota Batavia, bahkan di Hindia Belanda. 

Pada 17 Maret 1900 berdiri perhimpunan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK). Tahun berikutnya THHK mendirikan sekolah modern pertama yang disebut Tiong Hoa Hak Tong disusul pembukaan cabang-cabang lain di seluruh Hindia Belanda. Berdirinya sekolah-sekolah ini merupakan reaksi masyarakat Tionghoa terhadap pemerintah Belanda yang selama itu tidak pernah meberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. 

Akibat perkembangan yang sangat pesat, pemerintah kolonial Belanda, yang khawatir anak-anak Tionghoa akan "tersedot" semua ke sekolah yang dibentuk THHK itu, serta-merta Belanda mendirikan Hollandsch Chineesche School (HCS), yaitu sekolah berbahasa Belanda bagi anak-anak Tionghoa. Pada 1965, THHT yang di Jl. Patekoan itu di tutup oleh pemerintah Orde Baru dan bangunannya diambil alih menjadi sekolah pemerintah dengan nama SMAN 19 Jakarta. - 



Kawasan Elit Mangga Dua Wilayah Mangga Dua berada di luar benteng kota Batavia, merupakan wilayah penempatan bagi pemukiman pribumi kelompok etnis. Posisinya sebelah tenggara Kasteel Batavia. Wilayah ini menjadi lahan pertanian bagi keperluan Kasteel Batavia. Dalam perkembangan berikutnya, banyak pejabat VOC Belanda dan orang kaya Eropa yang memilih membangun bungalow di daerah ini. Salah satu yang terkenal adalah Pieter Erberveld yang memiliki tanah luas di Mangga Dua. 
Di pojok tenggara Kasteel Batavia terdapat tempat hiburan yang disebut dengan Macao Pho, di sini banyak wanita penghibur yang didatangkan dari Macao/ daratan Cina untuk menghibur para pelaut yang datang bersampan melewati Ciliwung yang menghubungkan Jassenberg (jembatan Jassen) dengan pelabuhan. 

Ada tempat hiburan ada juga tempat ibadah. Maka, di sini juga terdapat Gereja Sion bagi orang-orang Portugis tawanan VOC Belanda yang dimerdekakan karena pindah anutan dari Katholik menjadi Protestan (kaum mardijker).



Di Mangga Dua terdapat banyak peninggalan sejarah, yaitu: Mesjid Mangga Dua yang dibangun awal abad ke-20, di dalamnya terdapat makam keramat; Areal pemakaman orang-orang Tionghoa, termasuk makam Kapitein Cina pertama di Batavia, Souw Beng Kong. Ia adalah sahabat lama dari Jan Pieterzon Coen. Ketika JP. Coen menjadi Gubernur Jenderal VOC dan mulai membangun Kasteel Batavia, ia mengajak Souw Beng Kong yang berada di Banten untuk membawa masyarakat Cina bergabung di Batavia. Kemudian Souw Beng Kong datang ke Batavia dengan membawa 300 orang Cina. Maka, ia diberi pangkat Kapitein, sebuah pangkat tertinggi bagi kelompok etnis yang menjadi abdi VOC. Kelompok masyarakat lain juga diberi pangkat demikian Seperti Kapitein Arab; Kapitein Banda, Kapitein Bali; juga pangkat Mayor dan Liutenant.

Dikutp dari tulisan : ASEP KAMBALI KHI /asepkambali TERVERIFIKASI Guru sejarah keliling | Historian | Lecturer in history, museum, heritages, tourism & communication | Founder @IndoHistoria CP:081394207555 | Info lengkap id.wikipedia.org/wiki/Asep_Kambali Selengkapnya...

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/asepkambali/menelusuri-jejak-tionghoa-di-jakarta_5500c432813311c91dfa7e9c

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

8 Tips Membuat Foto Bokeh Yang Dahsyat



Ciledug, Tangerang, Banten, Jum'at, 18 Maret 2016

Apa kabar Sobat jepret semuanya? Syukur jika kondisi Sobat baik-baik saja. Kalau begitu, tak ada salahnya kalau kondisi Sobat yang baik-baik saja saya rusak dengan postingan yang berbau fotografi. 

Gimana? Boleh kan?

Baiklah, kalau begitu, ini adalah artikel tentang fotografi itu:

Supaya Sobat-sobat semuanya tak lupa, sekedar menyegarkan ingatan pada "apa itu bokeh?", nah, saya akan coba terangkan secara singkat, apa itu bokeh. Jadi, bokeh itu pada intinya adalah ukuran kualitas blur yang membuat obyek seakan-akan terpisah dari latarbelakangnya. Secara psikologis, mata kita senang saat melihat foto dengan backgorund yang kabur secara lembut, creamy dan cantik. 

Salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan adalah, "kok bokeh saya masih kurang bagus sih? apa yang salah?"


Sebenarnya, ada delapan faktor utama yang sangat mempengaruhi kualitas foto bokeh kita, kalau ke delapan faktor itu sudah bisa dipenuhi semaksimal mungkin, dijamin, foto bokeh Sobat akan terwujud dengan kualitas yang top.

Terus, apa aja sih delapan faktor atau delapan tips itu?

Nah, ini nih jawabannya:


1. Gunakan aperture besar.

Bokeh berasal dari lensa bukan dari kamera. Oleh karena itu, hal terpenting yang harus dilakukan adalah setting aperture lensa anda pada bukaan yang besar (terbesar yang diijinkan situasi pemotretan – aperture maksimal). Anda bisa melakukannya dengan menggunakan mode Aperture Priority dan mengubah f kedalam nilai terkecil (putar ring aperture berlawanan arah jarum jam). 
Dalam settingan ini secara praktis kita menurunkan depth of field menjadi shallow/dangkal.


2. Kurangi jarak antara kamera dengan obyek foto.

Semakin dekat Sobat berdiri dari obyek foto, semakin blur background-nya. Semakin dekat obyek foto, fokus lensa juga semakin dekat dan depth of field akan makin menyempit. Cobalah lakukan ini: acungkan jari telunjuk Sobat didekat gelas yang jauhnya kira-kira 50 cm didepan Sobat, fokuskan mata Sobat pada telunjuk, sekarang gerakkan telunjuk tadi mendekat mata Sobat. Makin dekat telunjuk dengan mata, gelas dibelakangnya akan makin kabur bukan?


3. Jauhkan jarak antara obyek dan background-nya.

Saat Sobat memotret teman dan ingin menghasilkan bokeh yang bagus, maka semakin jauh teman tadi dari background dibelakangnya, semakin bagus bokeh yang Sobat dapatkan. Lihatlah foto dibawah ini, daun yang paling dekat kamera masih terlihat tajam. Tapi semakin menjauh dari kamera, semakin kabur. Sementara daun dengan warna hijau dibelakang sana terlihat kabur sekali (waduh, kalau fotonya hitam-putih gimana ya Sob. Gimana bisa kelihatan?).


4. Gunakan focal length terpanjang.

Saat anda memakai lensa zoom, gunakan focal length terpanjang untuk makin memisahkan obyek utama dengan background-nya. Sebagai contoh: saat anda menggunakan lensa maut 70–200 mm, set focal length di posisi 200mm untuk menghasilkan bokeh yang bagus. Baca kembali mengenai focal length

Kalau dalam tas Sobat tersimpan lensa 300mm, lensa 18–200mm, lensa 14–24mm, pilihlah lensa terpanjang (300mm) kalau tujuan Sobat menghasilkan foto bokeh yang maut.


5. Pilih lensa dengan kualitas optik terbaik yang mampu Sobat beli (baca: cicil!).

Kualitas bokeh juga sangat dipengaruhi oleh kualitas optik lensa yang kita pakai. Katakanlah Sobat memilik dua lensa yang focal length maksimalnya sama, contoh: lensa 18–20mm/f5.6 dan lensa 70–200mm/f2.8, karena kualitas optik lensa 70–200mm (biasanya) jauh lebih superior dibandingkan lensa 18–200mm (sehingga harganya juga berlipat-lipat lebih mahal). Maka gunakan lensa 70–200mm tadi, dan sebisa mungkin pakailah di aperture f/2.8. Pastikan Sobat membaca ulasannya sebelum Sobat membeli lensa.


6. Gunakan lensa prime

Karena makin besar aperture makin bagus pula bokehnya, jika Sobat memiliki lensa prime, pakailah. Lensa prime atau prime lens atau fixed lens, adalah lensa yang memiliki focal length tunggal alias lensa yang tidak bisa di-zoom. Lensa prime biasanya menghasilkan foto bokeh yang sangat bagus karena memilki bukaan aperture yang sangat besar, tipikal lensa prme adalah 50mm f/1.4, 85mm f/1.4 atau varian murahnya 50mm f/1.8 dan 85mm f/1.8. 


7. Perhatikan latar depan dan siluet

Setelah anda memahami langkahnya secara teknis, anda dapat mulai menggunakan bokeh dalam kegiatan pemotretan anda sehari-hari. Cobalah untuk menerapkan bokeh pada latar belakang sebuah gambar yang memiliki alternatif untuk focal point pada latar depan foto tersebut, seperti orang atau subjek foto still life. Lagi-lagi, cobalah untuk menempatkan subjek pada latar depan foto anda sejauh mungkin terhadap cahaya dibagian latar belakang. Beberapa langkah tersebut bekerja secara efektif untuk anda gunakan pada objek yang terbentuk dari sebuah siluet yang berada pada bagian depan cahaya yang dihasilkan, seperti yang anda inginkan untuk objek pada bagian depan. Cahaya kabur yang dihasilkan akan sangat kontras dengan cahaya lembut pada bagian latar belakang.


8. Setting pencahayaan

Jangan lupa untuk mengatur pencahayaan (ISO) sebelum memotret .jangan sampai foto bokeh Sobat memiliki pencahayaan terlalu terang karna pada biasanya orang-orang teledor tidak mengatur pencahayaan terlebih dulu. Kekurangan didalam foto bokeh adalah dalam pencahayaan karena disaat Sobat menginginkan hasil foto Sobat jadi foto bokeh yang "cetar" maka Sobat akan menaikan aperture nah pada saat itulah Sobat harus menyeimbangkan ISO dan speed sebab bila aperture terlalu besar bisa menyebabkan kamera dapat menerima pencahayaan yang cukup banyak maka pintar-pintarlah dalam mengatur segitiga exposure tersebut.

Nah selamat menghasilkan foto dengan bokeh yang dahsyat.

Untuk sekedar sumbang saran, berikut ini adalah beberapa foto bokeh yang saya ambil.

Silahkan disimak.



#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA