Minggu, 26 Maret 2017

GENRE FOTOGRAFI-SATU EDISI MONOCHROME

Postingan tentang foto yang.....sepi warna!

Akan tetapi, mungkin..."bisa bicara banyak!"

Terkadang, ada beberapa moment yang bisa melepaskan dirinya dari cengkeraman "brutal" sang waktu....moment yang seakan mampu melewati riak masa....dan seakan berhenti, dan mengukuhkan dirinya dalam pusaran...."keabadian"..

3 foto dibawah ini memberikan gambaran yang sama dengan itu,  foto yang bisa mengekspresikan "banyak" hal, tetapi dengan hanya dengan satu bahasa saja, "kesederhanaan" akan warna! 

Justru disini letak kekuatan sebenarnya dari foto dengan jenis/aliran ini....kekayaan cahaya yang dibungkus dalam 1 warna.....


FG : gw sendiri...
Lady in frame : Liem...

Foto di atas nyoba bikin pake sedikit warna...supaya fotonya bisa banyak "bicara!"...

Bandingkan dengan foto yang dibawah ini!


FG: Bang Moldzie 
(komunitas fotografi Banana's)

Untuk Foto di atas, tetap ada warna, tapi sengaja dibikin smooth...atawe redup...alias kalem ...tapi justru fotonya jadi ...."ngomong banget!"

Salut buat bang Mold....Bravo!!!!

Foto luar biasa....penghargaan tertinggi untuk para "tallent" dan "fg" yang dengan luar biasa, telah sudi mempersembahkan maha karya ini!

Dan berikut, adalah foto dari karya saya sendiri, yang sayangnya, hingga saat ini, saya masih tidak mengetahui, tentang tallent yang saya jadikan obyek dalam frame ini.


Edisi Hijab Hunt! (Rule of Third!)


Ciledug, Tangerang, Banten
Ahad, Dini hari, pk. 01.00 WIB

Edisi kali ini masih tentang ulasan fotografi.....


FG : Arieyadi Casual
Lady in Frame : Siti Hafsah

Masih tentang fotografi, dimana pengambilan foto pake aturan "The Rule of Third"....atawa...aturan segi tiga...dimana obyek atawa model ditempatkan di bagian sepertiga dari frame....

Teori simpelnya seperti ini (disadur dari Belfot.com): 
Komposisi rules of thirds adalah salah satu prinsip komposisi fotografi yang paling dikenal dan paling populer bagi mayoritas penggemar potret memotret. Aturan komposisi ini menjadi pondasi bagi keseimbangan elemen foto sehingga secara keseluruhan foto tampak lebih enak dilihat.Dalam komposisi foto, rules of thirds hanyalah salah satu dari sekian banyak prinsip komposisi lainnya. Dan setiap prinsip ini tidak wajib dijalani, namun untuk menjadi kreatif, orang bilang harus tahu dulu aturannya baru bisa mendobraknya.

Apa itu komposisi rules of thirds?
Pada rules of thirds, bidang foto dibagi menjadi tiga bagian sama besar baik secara vertikal maupun horisontal sehingga anda memiliki 9 area yang sama besar. Dengan demikian, kita sekarang memiliki pertemuan empat titik.


Keempat titik pertemuan yang diwarnai merah diatas bisa kita sebut sebagai empat titik mata. Nah teori komposisi rules of thirds mengatakan bahwa kalau kita menempatkan “point of interest” alias bagian paling menarik dari sebuah foto di salah satu titik tersebut, maka secara keseluruhan foto akan menjadi lebih balance dan enak dilihat.


Tidak semua empat titik harus diisi bersamaan, cukup salah satu. Dan elemen point of interest tersebut bisa jadi berupa obyek foto manusia ataupun benda mati.
Dalam ilmu desain disebutkan bahwa saat melihat sebuah gambar, mata manusia secara natural tertuju pada salah satu titik diatas dibandingkan pada pusat titik tengah foto. Sehingga foto yang disusun dengan komposisi rules of thirds lebih enak dimata karena sejalan dengan cara mata kita melihatnya.


Kalau anda amati dalam foto diatas, point of interest terletak tepat di persimpangan empat titik mata. Sementara ruang lain relatif kosong. Aturan rules of thirds juga mengatakan bahwa tidak ada bagian dari sebuah foto yang tidak bernilai, meski itu hanya background atau ruang kososng. Dengan demikian sebuah ruang kosong adalah bagian dari kombinasi artistik sebuah foto.


Bagaimana menerapkan komposisi rules of thirds dalam foto?

Dalam mempelajari aturan komposisi rules of third, ada tigal hal yang harus selalu kita ingat dan pertanyakan sebelum jari anda mengeksekusi tombol shutter release: 
1. Apa point of interest (POI) foto kita. Bagian manakah yang menjadi    pelaku utama yang paling menarik dalam foto kita?   
2. Lalu bagilah foto dalam viewfinder menjadi persimpangan seperti  gambar diatas
3. Dititik sebelah manakah point of interest tadi ingin ditempatkan?

Demikianlah, sedikit tentang taktik....eh...tips tentang cara memotret meggunakan metode:"aturan segi tiga"


Mudah-mudahan, dalam posting selanjutnya, akan disampaikan mengenai taktik dan strategi lain yang berkaitan dengan cara-cara ngambil foto yang baik dan benar....kalo sempat ya sob!


Salam jepret sobat sekalian....Dan teruslah berkarya!






6 TIPS UNTUK MENGHASILKAN FOTO BOKEH



Dalam postingan kali ini, gw cuma menggemakan (cie...pake kata-kata menggemakan lagi!....bilang aja ngejiplak!) dari berbagai sumber referensi di dunia gaib....eh...salah....dunia maya alias internet! Yaitu salah satu teknik di fotografi yang namanya bokeh! ("bokeh" ya bro & sis....bukan "bokek"....apalagi "boker"...)

Apa sih foto bokeh itu?

Bokeh pada intinya adalah ukuran kualitas blur yang membuat obyek seolah terpisah dari background-nya. 

Mata kita senang saat melihat foto obyek dengan background yang kabur secara lembut, creamy dan cantik. Salah satu pertanyaan yang paling sering dikirim pembaca adalah, "kok bokeh saya masih kurang bagus sih?"..."jadi itu salah gw?...salah temen-temen gw?...jawab mas?"....(apaan sih....ga nyambung banget!)

Nah, untuk postingan kali ini, akan saya bagikan secara cuma-cuma, tentang tips dan trik membuat tahu bulat?????...maaf........memotret bokeh tersebut...sebenarnya trik nya ada banyak, kira-kira...1296 tips, tapi karena kebanyakan, dan kuota internet tidak cukup untuk mengupload itu semua, jadi....dari ribuan lebih tips tersebut, akan saya rangkum ke dalam 6 tips saja (sisanya....cari sendiri ya!!!)

Ada enam faktor utama yang sangat mempengaruhi kualitas foto bokeh kita, penuhi keenamnya maka anda akan mendapatkan bokeh dengan kualitas jempol! Kalo masih belum ciamik hasilnya, yah, apes dong!

1. Gunakan aperture (apertura) besar.


Bokeh berasal dari lensa bukan dari kamera. Oleh karena itu, hal terpenting yang harus dilakukan adalah: Lihat dulu...apakah kamera yang anda miliki sudah ada lensanya atau belum! Jika belum....jual saja kamera anda dan uang hasil penjualan tersebut anda belikan  lensa!...(nah lho!....apa coba....gila kan!...becanda brur & sis..biar ga stress!) 

Advise yang bener : "Setting aperture lensa anda pada bukaan yang besar (terbesar yang diijinkan situasi pemotretan atawa aperture maksimal!). Anda bisa melakukannya dengan menggunakan mode Aperture Priority di kamera anda dan mengubah f kedalam nilai terkecil (putar ring aperture berlawanan arah jarum jam).

Dalam settingan ini secara praktis kita menurunkan depth of field menjadi swallow...eh...salah...shallow deng...alias dangkal...swallow mah merk sendal jepit!

2. Kurangi jarak antara kamera dengan obyek foto.


Semakin dekat kita berdiri dari obyek foto, semakin blur background-nya! (ya tapi jangan kebangetan deketnya...apalagi sampe nempel ke modelnya....bukan foto bokeh yang kite dapet...malah bonyok ditonjokkin ame modelnye!).
Karena...semakin dekat obyek foto, fokus lensa juga semakin dekat dan depth of field akan makin menyempit. Cobalah lakukan ini: acungkan jari telunjuk anda didekat gelas yang jauhnya kira-kira 50 cm didepan anda, fokuskan mata anda pada telunjuk, sekarang gerakkan telunjuk tadi mendekat mata teman anda...kemudian colok mata teman anda. Makin keras telunjuk tadi nyolok mata temen anda...makin cepat kaburnya (baca:melayangnya) gelas itu ke muka anda!

3. Jauhkan jarak antara obyek dan background-nya.


Saat anda memotret obyek dan ingin menghasilkan bokeh yang bagus, maka semakin jauh obyek tadi dari background dibelakangnya, semakin bagus bokeh yang anda dapatkan. Lihatlah foto dibawah ini, daun yang paling dekat kamera masih terlihat tajam. Tapi semakin menjauh dari kamera, semakin kabur. Sementara daun dengan warna hijau dibelakang sana terlihat kabur sekali...apalagi tugu monas....kabur maksimal alias ga keliatan sama sekali!(ya iyalah....motonya dari cileduk...tangerang.....!!!)

4. Gunakan focal length terpanjang.


Saat anda memakai lensa zoom, gunakan focal length terpanjang untuk makin memisahkan obyek utama dengan background-nya. Sebagai contoh: saat anda menggunakan lensa maut 70–200 mm, set focal length di posisi 200mm untuk menghasilkan bokeh yang bagus. 

Kalau di tas anda tersimpan lensa 300mm, lensa 18–200mm, lensa 14–24mm, pilihlah lensa terpanjang (300mm) kalau tujuan anda menghasilkan foto bokeh yang maut!....ingat ya...di tas anda....bukan di tas orang!

5. Pilih lensa dengan kualitas optik terbaik yang mampu anda beli.

Kualitas bokeh juga sangat dipengaruhi oleh kualitas optik lensa yang kita pakai. Katakanlah anda memiliki dua lensa yang focal length maksimalnya sama, contoh: lensa 18–20mm/f5.6 dan lensa 70–200mm/f2.8, karena kualitas optik lensa 70–200mm (biasanya) jauh lebih superior dibandingkan lensa 18–200mm (sehingga harganya juga berlipat-lipat lebih mahal). Maka gunakan lensa 70–200mm tadi, dan sebisa mungkin pakailah di aperture f/2.8.

6. Gunakan lensa prime


Karena makin besar aperture makin bagus pula bokehnya, jika anda memiliki lensa prime, pakailah. Lensa prime atau prime lens atau fixed lens, adalah lensa yang memiliki focal length tunggal alias lensa yang tidak bisa di-zoom. Lensa prime biasanya menghasilkan foto bokeh yang sangat bagus karena memilki bukaan aperture yang sangat besar, tipikal lensa prime adalah 50mm f/1.4, 85mm f/1.4 atau varian murahnya 50mm f/1.8 dan 85mm f/1.8.

Nah selamat menghasilkan foto dengan bokeh yang dahsyat.

Untuk sekedar perbandingan, lihat juga foto dibawah ini!


Demikianlah....sekelumit cerita tentang tips dan trik untuk menghasilkan foto bokeh yang creamy...yang semoga...dapat dijadikan bahan rujukan yang berguna!

Oh ya sob, walaupun dalam teknik foto bokeh di atas, tidak dijabarkan tentang aturan-aturan fotografi, tetapi, ga ada salahnya kalau sobat jepret juga mengkombinasikan aturan-aturan dasar fotografi tersebut dengan teknik foto bokeh yang sudah dijabarkan, dijamin....hasilnya bakal lebih ajib lagi sob!

SALAM JEPRET SEMUANYA...SUKSES SELALU!

ALIRAN FOTOGRAFI-STREET PHOTOGRAPHY



Ciledug, Tangerang, Banten, Ahad, 26 Maret 2017...Dini hari

Postingan kali ini masih berkutat disekitar fotografi, dan yang bakal dibahas dalam postingan ini adalah tentang street photography...alias...fotografi jalanan.


Agak berbeda dari postingan fotografi jalanan sebelumnya, tulisan kali ini menyadur dari desaindigital.com, yang meng"interview" Setia Nugraha, seorang fotografer asal Indonesia yang tinggal alias bermukim di Jerman (untuk yang belum tahu Jerman itu ada dimana, bisa liat di peta, itu kalo ga salah 30 cm dari Purwokerto....tergantung skalanya sih!)

Si Setia Nugraha ini mengkhususkan diri dialiran "pop korea" ......maaf.....salah...Street Photography!



Nah, dari paparannya si Nugraha ini (Kumaha kang?...damang?)...kita bakal punya perpektif yang rada lain...sekaligus bakal memperkaya khazanah kita tentang aliran fotografi ini! ( khazanah itu apa...? cari sendiri ya di KBBI!...kalo masih ada dari rekan-rekan yang belum tau apa itu KBBI....ya udah...pura-pura aja tau!).


Berikut quaote dari interviewnya kang Setia Nugraha, dapat dibaca di bawah ini:


Kali ini, DesainDigital memiliki tamu yang sangat menarik, Setia Nugraha, fotografer dari Indonesia yang bermukim di Jerman. Setia Nugraha mendalami jenis fotografi yang sangat unik, Street Photography.

Petikan Wawancara:

1. Hai Setia, selamat datang di DesainDigital. Silakan perkenalkan diri Anda pada para pembaca.

Hallo Jeprie, terima kasih atas interview-nya, ini merupakan suatu kehormatan bagi saya. Nama saya Setia Nugraha, kerap dipanggil Ujang (Oezank), sementara ini saya tinggal di kota Nuremberg (Nürnberg), Jerman. Profesi yang saya jalani sekarang sebagai freelance fotografer dan saya lagi menggeluti dunia blog dan desain.


2. Bisa dijelaskan apa itu Street Photography? Kapan dimulai? Siapa pelopornya?

Street Photography merupakan aliran dari fotografi, yg lebih mengutamakan subject (point of interest) di ruang publik (tempat umum). Ruang publik yang dimaksud di sini tidak terlepas dari “Jalanan” saja, tetapi dalam artian yg lebih luas, misalkan di cafe, mall, pasar, taman, dan sebagainya. Point of interest (subject) yg dimaksud di ruang publik tidak terlepas dari orang saja, melainkan hal-hal lain yg kerap berada di ruang publik, seperti peristiwa, benda-benda (element), cuaca, bayangan, dan sebagainya.
Street Photography bisa sebagai foto dokumentasi, foto seri, ataupun foto tunggal. Kalau berbicara sejarah, mungkin sulit kapan Street Photography di temukan, tetapiStreet Photography mulai populer ketika kamera dengan film 35mm ditemukan (kira-kira pada tahun 1930-an), kamera yg kecil, ringan, cepat, dan mudah dibawa kemana-mana. Sejak itulah Street Photography mulai berkembang dan populer.

Salah satu fotografer yg mempunyai peranan penting dalam perkembangan Street Photography adalah Henri Cartier Bresson, seorang master of photographer dari Perancis. Beliau terkenal dengan karya-karya documentar-nya, liputan kehidupan nyata, foto-foto yg kental dengan decisive moment (Kejadian yg kebetulan) dan sebagainya.


3. Apa perbedaan Street Photography dengan fotografi umumnya?

Beberapa kriteria Street Photography: 

a. Foto di ruang publik (tempat umum)

b. Keadaan/kejadian yang tidak dibuat-buat, melainkan spontanitas, tetapi bisa jadi kedaan yang di harapkan, ataupun keadaan/kejadian yang kebetulan (decisive moment).

c. Tema yang dibahas merupakan kehidupan sehari-hari yang terjadi di ruang publik, apakah itu perilaku orang, lingkungan, keadaan, cuaca, dan lain sebagainya.

d. Membuat rangkaian cerita dari aktifitas sehari-hari atau membuat cerita dengan memanfaatkan aktifitas sehari-hari, seperti foto seri, foto liputan (dokumentasi).

e. Orang yang dipotret tidak ditampilkan sebagai seorang individu, melainkan sebagai tokoh anonim dari situasi “jalanan” secara umumnya.


4. Ada saran bagi mereka yang tertarik mendalami Street Photography?

a. Menguasai teknik dasar fotografi, seperti teknis komposisi, angle, dan penguasaan alat.

b. Perhatikan keadaan sekitarnya, hal-hal yang sering kita lewati/lakukan berulang-ulang akan menjadi menarik ketika kita mencoba melihat dengan berbagai sudut pandang.

c. Interaksi sosial dengan lingkungan sekitar kita, perhatikan privasi orang lain. Untuk yg di luar negeri misalkan, pelajarin perilaku orang-orang di sekitar kita untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, beda negara beda budaya tentunya.

d. Pelajari arah matahari,… ada kalanya pada jam-jam tertentu, bayangan yang dihasilkan akan menarik dan manfaatkan matahari juga, adakalanya flare yang dihasilkan akan memberikan efek yang lain.

e. Photo hunting tidak hanya pada cuaca cerah, photo hunting di cuaca yang jelek akan menghasilkan foto yang berbeda (foto dengan mood yang berbeda).

f. Pergilah hunting di saat suasana hati kita berbeda-beda.

g. Sabar menunggu moment.

h. Perhatikan element jalanan di sekitar kita, misalkan: papan iklan, bayangan, sepeda, arsitektur bangunan, dll.

i. Mencobalah untuk bereksperimen dengan melanggar peraturan fotografi, misalkan foto-foto yang blur, foto dead centre, dll.


5. Anda saat ini tinggal di Jerman, bagaimanakan pengaruhnya terhadap perkembangan karya seni Anda?

Pengaruhnya sangat besar bagi karya seni saya. Jujur saja…. Nürnberg kota yang kecil, kira-kira penduduknya 500 ribu, landscape nya kurang begitu indah (kalau dibanding dengan indonesia), foto model mahal….. makanya saya tekuni Street Photography, karena itu yang paling murah dan tidak repot. Didukung kultur orang Jerman yang cenderung cuek dan keamanannya bagus, sehingga saya bisa leluasa bergerak membawa kamera saya kemana-mana untuk berkarya. 

Banyak orang bertanya kepada saya, kenapa foto-foto saya menampilkan suasana kelam, sedih, sendiri, frustasi, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini sering saya lihat dan saya rasakan selama saya tinggal di jerman,…. Orang-orang di sini cenderung sendiri,… karena pengaruh cuaca yg kurang matahari, mereka lebih sering terlihat “bete”, dan saya sebagai orang asing, kadang-kadang merasa terasing disini ……. Oleh karena itulah saya menyajikannya dalam hitam putih, untuk memberikan “jiwa” kepada foto-foto saya.


6. Apakah Anda aktif di komunitas art di Jerman? Bisa dijelaskan bagaimana kondisinya?

Saya aktif di komunitas art di Zentrifuge, Nürnberg, dan saya bergabung di Jetztkunst. Zentrifuge adalah satu komunitas seni dan budaya di wilayah Metropol Nürnberg yang memberikan jaringan dan mempromosikan seniman, budayawan, ataupun orang-orang yang tertarik dengan seni dan budaya. Sedangkan Jetztkunst merupakan kumpulan seniman yang keanggotaannnya diseleksi terlebih dahulu. 

Di Jerman sendiri banyak komunitas art, tapi rata-rata untuk menjadi anggotanya rada sulit, karena mereka rata-rata melihat hasil karya seni kita dan juga background kita.


7. Saya sangat tertarik dengan Project 290 Metres & 3 Minutes. Idenya menurut saya sangat unik, melihat rutinitas dari sudut pandang berbeda. Bisa dijelaskan tentang konsep projek ini dan hasil yang Anda peroleh?

Awal mulanya ketika saya membaca buku tentang fotografi sebagai seni kontemporer, ada satu bab yang menjelaskan, kalau seniman banyak mengambil konsep dari bagian hidupnya. Dari situ saya berpikir, “Hmm… saya tau hidup yang saya jalanin sementara ini sangat monoton, untuk pergi ke tempat kerja saja saya membutuhkan waktu 3 menit dan 290 meter (kata google maps), kenapa tidak saya jadikan saja sebagai konsep. Toh ini juga merupakan dari bagian hidup saya.” Ini tantangan yang baru bagi saya, untuk melihat rutinitas dari sudut yang pandang berbeda. Rencananya projek ini berlangsung kurang lebih setahun, dengan 4 musim yang berbeda. Untuk projek ini saya menampilkannya dalam foto berwarna karena ingin menampilkan realita yang sesungguhnya.

Hasil yang saya peroleh. Tenyata hal-hal menarik ada disekitar kita, asal kita mau mencoba melihatnya dari sudut pandang yang lain. Dan yang pasti ini tantangan baru buat saya, agar saya bisa berkarya dimana saja. 

Dari sisi lain, banyak ide yang muncul, misalkan saya nanti akan membuat foto seri dari beberapa hal yang paling menarik, misalkan garasi warna warni. Saya akan mencoba membuat foto seri dari garasi ini, karena setelah saya lalui tiap hari, banyak hal-hal menarik dan kadang-kadang ada di luar dugaan.


Demikianlah sobat, petikan wawancara tentang fotografi jalanan, beserta tips dan triknya, langsung dari fotografer ahli, akang Setia Nugraha. 

Oh ya, supaya lebih dapat dibayangkan, apa itu Street Fotografi, saya akan sertakan dalam artikel ini, beberapa foto yang bertema street fotografi.


Beberapa foto yang bisa digolongkan kedalam aliran fotografi jalanan :









Sabtu, 25 Maret 2017

TIPS FOTO SILUET


Ciledug-Banten, Sabtu, Maret 2017

Salam jepret penuh kasih dan sayang kepada sobat-sobit sekalian. 
Postingan kali ini ditulis dengan dibayang-bayangi oleh berbagai macam ketidakpastian dan fluktuasi suasana-suasini yang terjadi di sana dan di sini, yang bikin sebagian dari kita..."sesak nafas+asam urat+pusing separo+lain-lain". akibat dari gejolak yang nggak kira-kira, mulai dari harga cabe rawit yang naiknya nggak pake logika, polarisasi pilkada, dan yang bikin geleng-geleng kepala dan bikin miris...mengentalnya polarisasi sentimen agama!

Dibawah berbagai "derita batin" tersebut, ijinkan saya untuk sedikit menambah kadar "penderitaan" para pembaca sekalian, dengan menawarkan postingan tentang fotografi.....Yang jikalau para sobat-sobit sekalian berkenan untuk membacanya sampai selesai, saya jamin, perasaan gundah gulana yang sobat-sobit jepreto rasakan saat ini...tidak akan hilang.....malah jadi nambah!

So...Tanpa membuang waktu lebih panjang dan lebih lebar lagi...dibawah ini adalah tips fotografi untuk sobat-sobit sekalian......cekidot ya sob:


Siluet Foto (bagian 1)

Siluet adalah jenis foto dengan obyek utama gelap total dengan background yang terang, sehingga yang terlihat adalah bentuk dari obyek utama tadi (mirip dengan bayangan). 

Memotret siluet tidaklah sesulit yang dibayangkan, asal anda tahu langkah-langkah dan tips-nya. Berikut beberapa tips yang mungkin bisa membantu:

1. Matikan Flash

Yang pertama dan terpenting adalah flash (atau lampu blitz) pada kamera harus dimatikan, kalau tidak anda akan mendapatkan foto biasa (karena obyek utama-nya tidak jadi gelap....ya iya lah..gimana sih!). Jadi matikan flash pada kamera anda! Caranya? Macam-macam...bisa dengan karung basah, atau dengan ditutup selotip pada lampu flashnya, atau dikemplang alias digebug aje pake martil lampunye...biar ancur sekalian!

Tapi..Berbagai cara bar-bar di atas sebaiknya tidak sobat-sobit jepret lakukan...kecuali memang udah "desperate" total dan siap untuk menerima bully seumur hidup dari orang-orang yang menyaksikan peristiwa menjijikan tersebut! (sebenarnya, ada cara yang paling elegan, yaitu dengan menggunakan mode flash off di kamera!...dan sumpah.......saya sendiri juga baru tahu belakangan ini!)



2. Cari kondisi pencahayaan yang tepat (backlight)

Untuk menghasilkan siluet, background anda harus lebih terang dibandingkan dengan obyek utama. Itulah kenapa kebanyakan foto siluet dilakukan saat sunset atau sunrise, dimana matahari (sumber cahaya) ada di belakang obyek yang ingin anda foto (backlighting). Tapi jangan batasi diri, foto siluet bisa dihasilkan kapan saja dan dimana saja, misalnya di depan kompor...atau di depan papan iklan (tapi papan iklan yang terang ya....kalo papan iklannya gelap...ya sama aja bohong!), atau kalo pas ada kebakaran...nah...cocok tuh dipakai sebagai latar (kalo ga digebukin duluan sama anggota pemadam kebakaran...Lha iya, udah tau ada kebakaran, bukannya bantuin nyiram, malah poto selpi!)....pada intinya sobat jepreto sekalian harus mencari latar belakang atau  background yang lebih terang dibandingkan obyek utama...atau...obyek utamanya dibikin lebih gelap dari latarnya.


3. Carilah obyek yang bentuknya menarik

Foto siluet akan sangat menonjolkan bentuk obyek utama, oleh karena itu carilah obyek dengan bentuk yang menarik dan memiliki karakter kuat. Perhatikan foto diatas, karena obyek utama (2 pasangan sejoli) kehilangan detail dan menjadi sangat gelap, bentuknya justru akan lebih terekspos. Kita bisa melihat dengan jelas batas-batas lekukan bentuk tubuh kedua orang tersebut, gestur, serta obyek nuuuun jauh di sana yang mereka jadikan point of view. Anda juga bisa mencoba dengan obyek lainnya.



4. Carilah background yang tepat

Untuk mendapat siluet anda harus menemukan background yang lebih terang. Usahakan juga untuk mendapatkan background yang menarik namun juga tidak ramai sehingga obyek utama terlihat sangat menonjol. Langit dan pantai adalah contoh favorit.

5. Ukur eksposur dengan tepat (manual/ auto)



Sebisa mungkin gunakanlah mode manual eskposur. Set metering di spot metering. Lakukan pengukuran di daerah background yang paling terang. Dalam contoh foto diatas saya menembak obyek (tower crane) dengan latar belakang langsit sore hari. Ubahlah kombinasi aperture dan shutter speed sesuai dengan hasil metering anda, terutama pada aperture pastikan anda set sesuai keinginan anda (aperture besar untuk background yang agak kabur dan aperture kecil untuk background yang tajam). Setelah anda menentukan aperture dan shutter speed yang dipilih, arahkan kamera ke obyek utama. Aturlah h3 yang terbaik dan tentukan fokus di obyek utama, baru kemudian jepret….

Jika anda tidak bisa menggunakan mode manual, gunakanlah mode auto. Arahkan kamera ke area paling terang, dalam contoh diatas adalah ke langit diatas tower crane, pencetlah setengah shutter anda (jangan pencet penuh) lalu tahan shutter jangan dilepas. Lalu arahkan kamera ke obyek utama anda baru kemudian jepret….



6. Jangan takut mencoba

Nah, aturan ini sebenarnya yang paling utama, bener sob, kalo takut mencoba, sampe Monas pindah ke Australia, ga bakal terwujud deh potonya! 

Cobalah kombinasi aperture dan shutter speed yang berbeda jika anda gagal di kesempatan pertama. Cobalah juga bereksperimen dengan obyek dan lingkungan anda, jangan hanya terpaku pada sunset dan sunrise, karena foto siluet bisa dihasilkan dimanapun (silahkan lihat juga  contoh foto siluet kreatif dalam postingan ini).

Oke selamat mencoba!!