Minggu, 26 Maret 2017

GENRE FOTOGRAFI-SATU EDISI MONOCHROME



Membekukan Waktu dalam Estetika Monochrome: Sebuah Refleksi Visual


Fotografi sering kali disalahpahami sekadar sebagai aktivitas teknis untuk menangkap cahaya dan objek dalam satu bingkai. Padahal, jauh di lubuk yang paling dalam, fotografi adalah sebuah upaya manusia untuk melepaskan momen dari cengkeraman "brutal" sang waktu. Ada saat-saat tertentu dalam hidup yang seakan mampu berhenti, melampaui riak masa yang berlalu begitu cepat, lalu mengukuhkan dirinya sendiri dalam sebuah pusaran "keabadian".

Dalam edisi kali ini, saya mencoba menyajikan tiga buah foto yang lahir dari semangat yang sama. Ketiganya berbicara dalam satu bahasa yang sama: kesederhanaan warna. Justru di dalam ketiadaan warna itulah, saya menemukan kekuatan yang paling murni. Ketika palet warna ditiadakan, mata kita dipaksa untuk tidak lagi terdistraksi oleh riuhnya gradasi warna, melainkan fokus pada esensi cahaya, tekstur, dan yang paling penting: emosi yang terpancar dari subjek di depan lensa.


Menemukan "Suara" dalam Cahaya


Bagi saya, fotografi monochrome bukan tentang menghilangkan warna, tetapi tentang menghadirkan kedalaman. Pada foto pertama (dengan talent Liem), saya mencoba bereksperimen dengan teknik yang sedikit tidak konvensional. Saya sengaja menyisipkan rona warna yang sangat tipis, hampir menyatu dengan dominasi hitam-putih. Mengapa demikian? Tujuannya sederhana namun personal: saya ingin foto tersebut lebih "berbicara". Saya ingin ada dialog bisu antara si subjek dengan siapapun Sobat yang memandangnya. Warna yang tipis itu berfungsi sebagai aksen, sebuah titik fokus yang menuntun mata untuk melihat cerita yang lebih dalam daripada sekadar potret wajah.

Bandingkan pengalaman tersebut dengan karya yang dipersembahkan oleh Bang Moldzie, seorang rekan dari komunitas fotografi Banana's. Dalam karyanya, ia tetap mempertahankan keberadaan warna, namun mengolahnya dengan sentuhan smooth, redup, dan kalem. Hasilnya sangat luar biasa. Foto tersebut tidak lantas menjadi dingin karena warna, tetapi justru terasa lebih "hidup" dan "ngomong banget". Ada kehangatan yang tertahan di sana, sebuah narasi yang tenang namun mendalam. Salut dan penghargaan tertinggi saya berikan kepada sang talent atas ekspresinya, serta kepada Bang Mold atas eksekusi teknis yang memukau. Ini adalah bukti bahwa sebuah mahakarya tidak selalu membutuhkan kerumitan, melainkan ketepatan rasa.


Jejak Tanpa Nama dalam Bingkai


Sebagai penutup dari edisi ini, saya menyertakan sebuah foto hasil jepretan saya sendiri. Foto ini memiliki tempat yang istimewa di hati saya, karena ia menyimpan sebuah misteri yang hingga detik ini belum terpecahkan. Saya tidak mengetahui siapa sosok talent yang saya abadikan dalam frame tersebut. Kami bertemu secara kebetulan, sebuah momen singkat yang lahir dari kebetulan yang estetik, dan kemudian berpisah tanpa sempat bertukar nama.

Namun, bukankah itulah keajaiban fotografi? Foto ini menjadi sebuah monumen bagi pertemuan yang fana. Sosok tersebut tetap anonim, namun ekspresi yang tertangkap kamera tetap abadi. Tanpa perlu mengetahui nama, latar belakang, atau identitasnya, saya harap pesan dari momen yang terekam tersebut tetap bisa tersampaikan kepada Sobat semua yang melihatnya. Terkadang, ketidaktahuan justru memberikan ruang bagi Sobat penikmat seni untuk berimajinasi lebih jauh tentang siapa sebenarnya subjek di dalam foto tersebut.


Filosofi di Balik "Kesederhanaan"


Kenapa saya begitu terpikat dengan aliran ini? Sering kali, kita hidup dalam dunia yang terlalu berwarna, terlalu bising, dan terlalu banyak distraksi visual. Fotografi monochrome adalah bentuk detoksifikasi bagi mata kita. Ia mengajak kita untuk kembali ke dasar: cahaya dan bayangan (chiaroscuro).

Setiap garis wajah, setiap kerutan, hingga setiap pantulan cahaya pada kulit adalah elemen cerita yang sering kali hilang tertutup oleh warna yang mencolok. Dengan mengurangi variabel warna, kita justru menambah intensitas perasaan. Inilah "kesederhanaan" yang saya maksud; sebuah kemewahan visual yang ditemukan dalam pembatasan elemen. Saya berharap, melalui tulisan dan foto-foto ini, Sobat bisa merasakan bahwa setiap klik tombol rana adalah upaya kita untuk menahan waktu, barang sejenak, agar tidak benar-benar lenyap ditelan sejarah.

Terima kasih kepada para talent yang luar biasa dan para fotografer yang terus berkarya. Tanpa dedikasi Sobat, bingkai-bingkai ini hanyalah sekumpulan piksel tanpa nyawa. Mari terus memotret, mari terus bercerita, dan mari terus mencari keabadian dalam setiap bidikan cahaya.

Edisi Hijab Hunt! (Rule of Third!)



Ciledug, Tangerang, Banten
Ahad, Dini hari, pk. 01.00 WIB

Edisi kali ini masih tentang ulasan fotografi.....


FG: Arieyadi Casual
Lady in Frame: Siti Hafsah

Masih tentang fotografi, dimana pengambilan foto pake aturan "The Rule of Third"....atawa...aturan segi tiga...dimana obyek atawa model ditempatkan di bagian sepertiga dari frame....

Teori simpelnya seperti ini (disadur dari Belfot.com): 

Komposisi rules of thirds adalah salah satu prinsip komposisi fotografi yang paling dikenal dan paling populer bagi mayoritas penggemar potret memotret. Aturan komposisi ini menjadi pondasi bagi keseimbangan elemen foto sehingga secara keseluruhan foto tampak lebih enak dilihat. 

Dalam komposisi foto, rules of thirds hanyalah salah satu dari sekian banyak prinsip komposisi lainnya. Dan setiap prinsip ini tidak wajib dijalani, namun untuk menjadi kreatif, orang bilang harus tahu dulu aturannya baru bisa mendobraknya.


Apa itu komposisi rules of thirds?

Pada rules of thirds, bidang foto dibagi menjadi tiga bagian sama besar baik secara vertikal maupun horisontal sehingga anda memiliki 9 area yang sama besar. Dengan demikian, kita sekarang memiliki pertemuan empat titik.

Keempat titik pertemuan yang diwarnai merah diatas bisa kita sebut sebagai empat titik mata. Nah teori komposisi rules of thirds mengatakan bahwa kalau kita menempatkan “point of interest” alias bagian paling menarik dari sebuah foto di salah satu titik tersebut, maka secara keseluruhan foto akan menjadi lebih balance dan enak dilihat.

Tidak semua empat titik harus diisi bersamaan, cukup salah satu. Dan elemen point of interest tersebut bisa jadi berupa obyek foto manusia ataupun benda mati.

Dalam ilmu desain disebutkan bahwa saat melihat sebuah gambar, mata manusia secara natural tertuju pada salah satu titik diatas dibandingkan pada pusat titik tengah foto. Sehingga foto yang disusun dengan komposisi rules of thirds lebih enak dimata karena sejalan dengan cara mata kita melihatnya.

Kalau anda amati dalam foto diatas, point of interest terletak tepat di persimpangan empat titik mata. Sementara ruang lain relatif kosong. Aturan rules of thirds juga mengatakan bahwa tidak ada bagian dari sebuah foto yang tidak bernilai, meski itu hanya background atau ruang kososng. Dengan demikian sebuah ruang kosong adalah bagian dari kombinasi artistik sebuah foto.


Bagaimana menerapkan komposisi rules of thirds dalam foto?


Dalam mempelajari aturan komposisi rules of third, ada tigal hal yang harus selalu kita ingat dan pertanyakan sebelum jari anda mengeksekusi tombol shutter release: 

1. Apa point of interest (POI) foto kita. Bagian manakah yang menjadi    pelaku utama yang paling menarik dalam foto kita?   

2. Lalu bagilah foto dalam viewfinder menjadi persimpangan seperti  gambar diatas

3. Dititik sebelah manakah point of interest tadi ingin ditempatkan?


Coretan Tambahan: Ketika Aturan Bukanlah Penjara

Jujur saja, awal-awal saya kenal "Rule of Third", rasanya seperti punya kompas di dalam viewfinder. Rasanya dunia fotografi jadi masuk akal, teratur, dan yang pasti: tidak berantakan. Tapi, seiring berjalannya waktu dan setelah ribuan jepretan yang berakhir di folder "sampah" komputer, saya mulai menyadari satu hal krusial: aturan itu ibarat resep masakan. Kamu harus tahu takarannya dulu sebelum berani bereksperimen dengan bumbu rahasia.

Masalahnya, banyak dari kita—termasuk saya di masa lalu—terlalu kaku. Seolah-olah kalau objek foto tidak tepat berada di garis perpotongan titik mata, dunia akan kiamat. Padahal, sering kali foto yang paling "berbicara" justru adalah foto yang melanggar aturan secara sadar, bukan karena ketidaksengajaan. Kita terlalu sibuk menghitung grid sampai lupa bahwa fotografi itu soal rasa, bukan cuma soal geometri atau hitung-hitungan matematik.

Jangan sampai otak kita terkunci dalam kotak 3x3 itu. Kadang, subjek yang diletakkan di tengah (center composition) bisa terlihat sangat powerful jika dikerjakan dengan simetri yang tepat. Terkadang, ruang kosong yang terlalu luas bukan berarti kesalahan, melainkan cara kita memberikan "napas" pada subjek. Intinya, "Rule of Third" adalah alat bantu, bukan hakim yang menghukum kreativitasmu. Jika aturan tersebut malah membuatmu ragu menekan shutter saat momen emas terjadi, maka saat itulah kamu harus menendang aturan tersebut jauh-jauh dan biarkan insting yang mengambil alih.

Jadi, silakan pelajari "Rule of Third" sampai di luar kepala, tapi jangan biarkan ia membelenggu jempolmu. Ingat, kamera itu tidak punya otak, yang punya otak adalah orang di belakangnya. Jangan takut buat salah, karena dari kesalahan itulah kita belajar kapan saatnya mengikuti aturan, dan kapan saatnya untuk menjadi "pemberontak" yang estetik. Selamat berkreasi, dan ingat: foto yang bagus adalah foto yang diambil, bukan foto yang cuma disimpan di dalam draf pikiranmu saja!

Demikianlah, sedikit tentang taktik....eh...tips tentang cara memotret meggunakan metode:"aturan segi tiga"

Mudah-mudahan, dalam posting selanjutnya, akan disampaikan mengenai taktik dan strategi lain yang berkaitan dengan cara-cara ngambil foto yang baik dan benar....kalo sempat ya sob!

Salam jepret sobat sekalian....Dan teruslah berkarya!

6 TIPS UNTUK MENGHASILKAN FOTO BOKEH



Kemayoran, Jakarta, Minggu, 26 Maret 2017

Dalam artikel kali ini, saya hanya ingin “menggemakan” (sebenarnya, istilah menggemakan ini saya gunakan sebagai bahasa halus dari “menjiplak”!) dari berbagai sumber referensi di dunia maya alias internet yang mengulas serta mengupas tentang satu teknik fotografi yang bertitel “bokeh” ("bokeh" ya Sob, bukan "bokek", apalagi "boker")

Apa sih foto bokeh itu?

Secara umum dan sederhana, bokeh pada intinya adalah ukuran kualitas blur yang membuat obyek dalam foto terlihat seolah terpisah dari latarnya (background-nya). 

Mata kita senang saat melihat foto obyek dengan background yang kabur secara lembut, creamy dan cantik. Teknik untuk menghasilkan foto bokeh ini memang gampang-gampang susah. Salah satu pertanyaan yang paling sering terlontar dari mulut fotografer-fotografer pemula (termasuk saya) adalah, "kok bokeh saya masih kurang bagus sih?"

Nah, untuk postingan kali ini, akan saya bagikan secara cuma-cuma, tentang tips dan trik membuat tahu bulat?????, maaf, memotret bokeh tersebut.

Sebenarnya trik-nya ada banyak, kira-kira 1296 tips, tapi karena kebanyakan, dan kuota internet tidak cukup untuk mengupload itu semua, jadi dari ribuan lebih tips tersebut, akan saya rangkum ke dalam 6 tips saja (sisanya cari sendiri ya!!!)

Ada enam faktor utama yang sangat mempengaruhi kualitas foto bokeh kita, penuhi keenamnya maka Sobat akan mendapatkan bokeh dengan kualitas jempol! Kalo masih belum ciamik hasilnya, yah, apes dong!


1. Gunakan aperture (apertura) besar

Bokeh berasal dari lensa bukan dari kamera. Oleh karena itu, hal terpenting yang harus dilakukan adalah: Lihat dulu, apakah kamera yang Sobat miliki sudah ada lensanya atau belum! Jika belum, jual saja kamera Sobat dan uang hasil penjualan itu bisa Sobat belikan  lensa! (kalua Sobat merasa kalua itu adalah nasehat yang gila, Sobat tak salah!) 

Advise yang bener: "Setting aperture lensa Sobat pada bukaan yang besar (terbesar yang diijinkan di situasi pemotretan atawa aperture maksimal!). Sobat bisa melakukannya dengan menggunakan mode Aperture Priority di kamera Sobat dan mengubah nilai “f” kedalam nilai terkecil (putar ring aperture berlawanan arah jarum jam).

Dalam settingan ini secara praktis kita menurunkan depth of field menjadi swallow, eh, salah, shallow deng, alias dangkal. Kalo “swallow” mah merk sendal jepit!


2. Kurangi jarak antara kamera dengan obyek foto

Semakin dekat kita berdiri dari obyek foto, maka akan semakin blur background-nya! (ya tapi jangan kebangetan deketnya, apalagi sampe nempel ke modelnya, bukan foto bokeh yang kite dapet, malah bonyok ditonjokkin ame modelnye!).

Karena, semakin dekat obyek foto, fokus lensa juga semakin dekat dan depth of field akan makin menyempit. Cobalah lakukan ini: acungkan jari telunjuk Sobat didekat gelas yang jauhnya kira-kira 50 cm didepan Sobat, fokuskan mata pada telunjuk, sekarang gerakkan telunjuk tadi mendekat mata teman Sobat, kemudian colok mata teman Sobat dengan telunjuk tadi. Makin keras telunjuk tadi nyolok mata temen Sobat, makin cepat kaburnya (baca:melayangnya) gelas itu ke muka Sobat!


3. Jauhkan jarak antara obyek dan background-nya

Saat Sobat memotret suatu obyek, dan ingin menghasilkan bokeh yang bagus, maka semakin jauh obyek tadi dari background dibelakangnya, semakin bagus bokeh yang akan Sobat dapatkan. Lihatlah foto dibawah ini, bunga yang paling dekat kamera masih terlihat tajam. Tapi semakin menjauh dari kamera, semakin kabur. Sementara daun dengan warna hijau dibelakang sana terlihat kabur sekali, apalagi tugu Monas, kabur maksimal alias ga keliatan sama sekali! (ya iyalah, motonya dari cileduk, Tangerang !!!)

4. Gunakan focal length terpanjang

Saat Sobat memakai lensa zoom, gunakan focal length terpanjang untuk makin memisahkan obyek utama dengan background-nya. Sebagai contoh: saat Sobat menggunakan lensa maut 70 – 200 mm, set focal length di posisi 200mm untuk menghasilkan bokeh yang bagus. 

Kalau di tas Sobat tersimpan lensa 300mm, lensa 18–200mm, lensa 14–24mm, pilihlah lensa terpanjang (300mm) kalau tujuan Sobat menghasilkan foto bokeh yang maut! (ingat ya, di tas Sobat, bukan di tas orang!)

5. Pilih lensa dengan kualitas optik terbaik yang mampu anda beli

Kualitas bokeh juga sangat dipengaruhi oleh kualitas optik lensa yang kita pakai. Misalnya Sobat memiliki dua lensa yang focal length maksimalnya sama, contoh: lensa 18–20mm/f5.6 dan lensa 70–200mm/f2.8, karena kualitas optik lensa 70–200mm (biasanya) jauh lebih superior dibandingkan lensa 18–200mm (sehingga harganya juga berlipat-lipat lebih mahal), maka gunakan lensa 70–200mm tadi, dan sebisa mungkin pakailah di aperture f/2.8.

6. Gunakan lensa prime

Karena makin besar aperture makin bagus pula bokehnya, jika Sobat memiliki lensa prime, pakailah. Lensa prime atau prime lens atau fixed lens, adalah lensa yang memiliki focal length tunggal alias lensa yang tidak bisa di-zoom. Lensa prime biasanya menghasilkan foto bokeh yang sangat bagus karena memilki bukaan aperture yang sangat besar, tipikal lensa prime adalah 50mm f/1.4, 85mm f/1.4 atau varian murahnya 50mm f/1.8 dan 85mm f/1.8.

Nah, selamat menghasilkan foto dengan bokeh yang dahsyat ya Sobat.

Untuk sekedar perbandingan, lihat juga foto dibawah ini!


Coretan Tambahan: Sisi Gelap di Balik Lembutnya Bokeh


Eits, jangan buru-buru tutup tab dulu! Setelah baca tips teknis di atas, ada satu hal yang harus kita sepakati: jangan sampai kalian kena penyakit "Mabuk Bokeh". Penyakit ini biasanya menyerang fotografer yang baru punya lensa fix f/1.8 atau mereka yang baru saja menggadaikan BPKB demi lensa "L" series yang harganya bisa bikin cicilan motor nangis di pojokan.

Dengar ya, Sob, bokeh itu memang estetik, tapi jangan jadikan itu tameng buat kemalasan kalian. Banyak orang hobi banget bikin latar belakang jadi selembut bubur bayi cuma buat menutupi kenyataan kalau lokasi fotonya itu sebenarnya berantakan banget—misalnya di samping jemuran tetangga atau di depan tumpukan ban bekas. Memang sih, jemuran warna-warni kalau di-bokeh-kan bisa jadi kayak lampu bokeh di Ginza, Jepang. Tapi ya jangan tiap foto begitu juga!

Ada lagi tipe "Pemuja f/1.2" yang haram hukumnya kalau motret pakai bukaan di atas f/2.0. Masalahnya, saking tipisnya itu ruang tajam, niatnya mau fokus ke mata eh malah yang tajam cuma bulu hidungnya doang. Matanya? Blur total! Ini mau motret model atau mau motret anatomi kotoran hidung? Jangan sampai demi dibilang "Pro" karena latar belakangnya hilang ditelan bumi, kalian malah kehilangan esensi dari foto itu sendiri.

Ingat, kamera secanggih apa pun dan lensa se-Sultan apa pun nggak bakal bisa beli yang namanya sense of art. Bokeh itu bumbu, Sob, bukan bahan utama. Jangan sampai kalian motret nasi goreng tapi isinya cuma kerupuk semua. Tajamkan insting kalian, bukan cuma tajamkan lensa. Kalau cuma mau pamer latar belakang nge-blur, mending beli kacamata yang salah ukuran saja, pasti semuanya kelihatan bokeh, kan? Tetaplah memotret, tetaplah bersyukur, dan yang paling penting: tetaplah sadar diri kalau saldo rekening nggak se-estetik hasil fotomu!

Demikianlah sekelumit cerita tentang tips dan trik untuk menghasilkan foto bokeh yang creamy, yang semoga dapat dijadikan bahan rujukan yang berguna!

Oh ya sob, walaupun dalam teknik foto bokeh di atas, tidak dijabarkan tentang aturan-aturan fotografi, tetapi, ga ada salahnya kalau sobat jepret juga mengkombinasikan aturan-aturan dasar fotografi tersebut dengan teknik foto bokeh yang sudah dijabarkan. Dijamin hasilnya bakal lebih ajib lagi sob!

Tetap sehat, tetap semangat!

Covid pasti berlalu!

Akhir kata.....Salam Jepret Sobat semuanya

Artikel diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

ALIRAN FOTOGRAFI-STREET PHOTOGRAPHY



Ciledug, Tangerang, Banten, Ahad, 26 Maret 2017...Dini hari

Postingan kali ini masih berkutat disekitar fotografi, dan yang bakal dibahas dalam postingan ini adalah tentang street photography...alias...fotografi jalanan.


Agak berbeda dari postingan fotografi jalanan sebelumnya, tulisan kali ini menyadur dari desaindigital.com, yang meng"interview" Setia Nugraha, seorang fotografer asal Indonesia yang tinggal alias bermukim di Jerman (untuk yang belum tahu Jerman itu ada dimana, bisa liat di peta, itu kalo ga salah 30 cm dari Purwokerto....tergantung skalanya sih!)

Si Setia Nugraha ini mengkhususkan diri dialiran "pop korea" ......maaf.....salah...Street Photography!



Nah, dari paparannya si Nugraha ini (Kumaha kang?...damang?)...kita bakal punya perpektif yang rada lain...sekaligus bakal memperkaya khazanah kita tentang aliran fotografi ini! ( khazanah itu apa...? cari sendiri ya di KBBI!...kalo masih ada dari rekan-rekan yang belum tau apa itu KBBI....ya udah...pura-pura aja tau!).


Berikut quaote dari interviewnya kang Setia Nugraha, dapat dibaca di bawah ini:


Kali ini, DesainDigital memiliki tamu yang sangat menarik, Setia Nugraha, fotografer dari Indonesia yang bermukim di Jerman. Setia Nugraha mendalami jenis fotografi yang sangat unik, Street Photography.

Petikan Wawancara:

1. Hai Setia, selamat datang di DesainDigital. Silakan perkenalkan diri Anda pada para pembaca.

Hallo Jeprie, terima kasih atas interview-nya, ini merupakan suatu kehormatan bagi saya. Nama saya Setia Nugraha, kerap dipanggil Ujang (Oezank), sementara ini saya tinggal di kota Nuremberg (Nürnberg), Jerman. Profesi yang saya jalani sekarang sebagai freelance fotografer dan saya lagi menggeluti dunia blog dan desain.


2. Bisa dijelaskan apa itu Street Photography? Kapan dimulai? Siapa pelopornya?

Street Photography merupakan aliran dari fotografi, yg lebih mengutamakan subject (point of interest) di ruang publik (tempat umum). Ruang publik yang dimaksud di sini tidak terlepas dari “Jalanan” saja, tetapi dalam artian yg lebih luas, misalkan di cafe, mall, pasar, taman, dan sebagainya. Point of interest (subject) yg dimaksud di ruang publik tidak terlepas dari orang saja, melainkan hal-hal lain yg kerap berada di ruang publik, seperti peristiwa, benda-benda (element), cuaca, bayangan, dan sebagainya.
Street Photography bisa sebagai foto dokumentasi, foto seri, ataupun foto tunggal. Kalau berbicara sejarah, mungkin sulit kapan Street Photography di temukan, tetapiStreet Photography mulai populer ketika kamera dengan film 35mm ditemukan (kira-kira pada tahun 1930-an), kamera yg kecil, ringan, cepat, dan mudah dibawa kemana-mana. Sejak itulah Street Photography mulai berkembang dan populer.

Salah satu fotografer yg mempunyai peranan penting dalam perkembangan Street Photography adalah Henri Cartier Bresson, seorang master of photographer dari Perancis. Beliau terkenal dengan karya-karya documentar-nya, liputan kehidupan nyata, foto-foto yg kental dengan decisive moment (Kejadian yg kebetulan) dan sebagainya.


3. Apa perbedaan Street Photography dengan fotografi umumnya?

Beberapa kriteria Street Photography: 

a. Foto di ruang publik (tempat umum)

b. Keadaan/kejadian yang tidak dibuat-buat, melainkan spontanitas, tetapi bisa jadi kedaan yang di harapkan, ataupun keadaan/kejadian yang kebetulan (decisive moment).

c. Tema yang dibahas merupakan kehidupan sehari-hari yang terjadi di ruang publik, apakah itu perilaku orang, lingkungan, keadaan, cuaca, dan lain sebagainya.

d. Membuat rangkaian cerita dari aktifitas sehari-hari atau membuat cerita dengan memanfaatkan aktifitas sehari-hari, seperti foto seri, foto liputan (dokumentasi).

e. Orang yang dipotret tidak ditampilkan sebagai seorang individu, melainkan sebagai tokoh anonim dari situasi “jalanan” secara umumnya.


4. Ada saran bagi mereka yang tertarik mendalami Street Photography?

a. Menguasai teknik dasar fotografi, seperti teknis komposisi, angle, dan penguasaan alat.

b. Perhatikan keadaan sekitarnya, hal-hal yang sering kita lewati/lakukan berulang-ulang akan menjadi menarik ketika kita mencoba melihat dengan berbagai sudut pandang.

c. Interaksi sosial dengan lingkungan sekitar kita, perhatikan privasi orang lain. Untuk yg di luar negeri misalkan, pelajarin perilaku orang-orang di sekitar kita untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, beda negara beda budaya tentunya.

d. Pelajari arah matahari,… ada kalanya pada jam-jam tertentu, bayangan yang dihasilkan akan menarik dan manfaatkan matahari juga, adakalanya flare yang dihasilkan akan memberikan efek yang lain.

e. Photo hunting tidak hanya pada cuaca cerah, photo hunting di cuaca yang jelek akan menghasilkan foto yang berbeda (foto dengan mood yang berbeda).

f. Pergilah hunting di saat suasana hati kita berbeda-beda.

g. Sabar menunggu moment.

h. Perhatikan element jalanan di sekitar kita, misalkan: papan iklan, bayangan, sepeda, arsitektur bangunan, dll.

i. Mencobalah untuk bereksperimen dengan melanggar peraturan fotografi, misalkan foto-foto yang blur, foto dead centre, dll.


5. Anda saat ini tinggal di Jerman, bagaimanakan pengaruhnya terhadap perkembangan karya seni Anda?

Pengaruhnya sangat besar bagi karya seni saya. Jujur saja…. Nürnberg kota yang kecil, kira-kira penduduknya 500 ribu, landscape nya kurang begitu indah (kalau dibanding dengan indonesia), foto model mahal….. makanya saya tekuni Street Photography, karena itu yang paling murah dan tidak repot. Didukung kultur orang Jerman yang cenderung cuek dan keamanannya bagus, sehingga saya bisa leluasa bergerak membawa kamera saya kemana-mana untuk berkarya. 

Banyak orang bertanya kepada saya, kenapa foto-foto saya menampilkan suasana kelam, sedih, sendiri, frustasi, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini sering saya lihat dan saya rasakan selama saya tinggal di jerman,…. Orang-orang di sini cenderung sendiri,… karena pengaruh cuaca yg kurang matahari, mereka lebih sering terlihat “bete”, dan saya sebagai orang asing, kadang-kadang merasa terasing disini ……. Oleh karena itulah saya menyajikannya dalam hitam putih, untuk memberikan “jiwa” kepada foto-foto saya.


6. Apakah Anda aktif di komunitas art di Jerman? Bisa dijelaskan bagaimana kondisinya?

Saya aktif di komunitas art di Zentrifuge, Nürnberg, dan saya bergabung di Jetztkunst. Zentrifuge adalah satu komunitas seni dan budaya di wilayah Metropol Nürnberg yang memberikan jaringan dan mempromosikan seniman, budayawan, ataupun orang-orang yang tertarik dengan seni dan budaya. Sedangkan Jetztkunst merupakan kumpulan seniman yang keanggotaannnya diseleksi terlebih dahulu. 

Di Jerman sendiri banyak komunitas art, tapi rata-rata untuk menjadi anggotanya rada sulit, karena mereka rata-rata melihat hasil karya seni kita dan juga background kita.


7. Saya sangat tertarik dengan Project 290 Metres & 3 Minutes. Idenya menurut saya sangat unik, melihat rutinitas dari sudut pandang berbeda. Bisa dijelaskan tentang konsep projek ini dan hasil yang Anda peroleh?

Awal mulanya ketika saya membaca buku tentang fotografi sebagai seni kontemporer, ada satu bab yang menjelaskan, kalau seniman banyak mengambil konsep dari bagian hidupnya. Dari situ saya berpikir, “Hmm… saya tau hidup yang saya jalanin sementara ini sangat monoton, untuk pergi ke tempat kerja saja saya membutuhkan waktu 3 menit dan 290 meter (kata google maps), kenapa tidak saya jadikan saja sebagai konsep. Toh ini juga merupakan dari bagian hidup saya.” Ini tantangan yang baru bagi saya, untuk melihat rutinitas dari sudut yang pandang berbeda. Rencananya projek ini berlangsung kurang lebih setahun, dengan 4 musim yang berbeda. Untuk projek ini saya menampilkannya dalam foto berwarna karena ingin menampilkan realita yang sesungguhnya.

Hasil yang saya peroleh. Tenyata hal-hal menarik ada disekitar kita, asal kita mau mencoba melihatnya dari sudut pandang yang lain. Dan yang pasti ini tantangan baru buat saya, agar saya bisa berkarya dimana saja. 

Dari sisi lain, banyak ide yang muncul, misalkan saya nanti akan membuat foto seri dari beberapa hal yang paling menarik, misalkan garasi warna warni. Saya akan mencoba membuat foto seri dari garasi ini, karena setelah saya lalui tiap hari, banyak hal-hal menarik dan kadang-kadang ada di luar dugaan.


Demikianlah sobat, petikan wawancara tentang fotografi jalanan, beserta tips dan triknya, langsung dari fotografer ahli, akang Setia Nugraha. 

Oh ya, supaya lebih dapat dibayangkan, apa itu Street Fotografi, saya akan sertakan dalam artikel ini, beberapa foto yang bertema street fotografi.


Beberapa foto yang bisa digolongkan kedalam aliran fotografi jalanan :









Sabtu, 25 Maret 2017

TIPS FOTO SILUET



Ciledug, Banten, Sabtu, Maret 2017

Salam jepret penuh kasih dan sayang kepada sobat-sobit sekalian.

Postingan kali ini ditulis dengan dibayang-bayangi oleh berbagai macam ketidakpastian. Mulai dari harga cabai rawit yang naik nggak pakai logika, polarisasi politik, sampai sentimen agama yang bikin sesak napas. Di bawah berbagai "derita batin" tersebut, izinkan saya menambah kadar penderitaan sobat sekalian dengan menawarkan tips fotografi. Saya jamin, kalau dibaca sampai selesai, perasaan gundah gulana kalian tidak akan hilang... malah makin jadi!

Tanpa membuang waktu, mari kita bicara soal Siluet.

Siluet adalah jenis foto dengan objek utama gelap total dengan background yang terang. Hasilnya? Objek utama hanya terlihat bentuknya saja (mirip bayangan). Memotret siluet itu tidak sesulit yang dibayangkan, asal tahu langkahnya.


1. Matikan Flash

Yang pertama dan terpenting: flash pada kamera wajib dimatikan. Kalau tidak, kalian cuma bakal dapat foto biasa (karena objek utama jadi terang, bukan siluet!).

Caranya? Bisa dengan menutup lampu flash pakai lakban hitam, atau kalau mau cara bar-bar, silakan dikemplang pakai martil sampai hancur sekalian! Tapi, saya sarankan jangan dilakukan kecuali sobat sudah siap di-bully seumur hidup. Cara paling elegan adalah pakai mode Flash Off di kamera. Sumpah, saya sendiri baru tahu itu belakangan ini.

2. Cari Kondisi Pencahayaan yang Tepat (Backlight)

Background harus jauh lebih terang dibandingkan objek utama. Itulah kenapa kebanyakan foto siluet dilakukan saat matahari terbit atau terbenam (backlighting).

Jangan batasi diri! Foto siluet bisa dihasilkan kapan saja: di depan kompor, atau di depan papan iklan yang terang. Kalau ada kebakaran? Cocok tuh buat latar, asalkan jangan malah sibuk selfie bukannya bantu memadamkan, nanti malah digebuki petugas pemadam kebakaran! Intinya: objek harus lebih gelap dari latarnya.

3. Cari Objek dengan Bentuk yang Menarik

Karena detail wajah atau tekstur baju bakal hilang (jadi hitam semua), maka bentuk adalah kunci. Carilah objek dengan gestur atau karakter kuat. Lekukan tubuh, posisi tangan, atau objek yang unik akan sangat menonjol saat menjadi siluet.

4. Cari Background yang Tepat

Usahakan background menarik tapi tidak terlalu ramai. Langit sore dan pantai adalah contoh favorit sejuta umat karena kesederhanaannya membuat objek siluet "keluar" dengan maksimal.

5. Ukur Eksposur dengan Tepat (Manual/Auto)

Jika pakai mode Manual, set metering ke Spot Metering. Ukur cahaya di area background yang paling terang. Atur aperture dan shutter speed sesuai hasil pengukuran tersebut, lalu arahkan kamera ke objek utama dan jepret.

Jika tidak mau pusing pakai mode Manual, gunakan trik "setengah tombol":

Arahkan kamera ke area paling terang (misal: langit).
Pencet setengah tombol shutter (tahan, jangan dilepas!).
Arahkan balik ke objek utama, lalu jepret sampai penuh.

6. Jangan Takut Mencoba

Ini aturan paling utama. Kalau takut mencoba, sampai Monas pindah ke Australia pun fotonya nggak bakal jadi! Jangan cuma terpaku pada sunset. Bereksperimenlah. Kalau gagal di kesempatan pertama, coba lagi dengan kombinasi aperture dan shutter speed yang beda.

Oke, selamat mencoba! Jangan lupa, kalau gagal, martil selalu menjadi opsi terakhir (tapi tolong, jangan diikuti!).


Catatan dari Saya (Juni 2026): Saya, Sembilan Tahun Kemudian


Update penting dari masa depan: Setelah sembilan tahun mencoba menjadi fotografer yang lebih bijak, saya akhirnya bisa mengonfirmasi satu hal ilmiah: memukul lampu flash kamera dengan martil tetap bukan solusi yang disarankan oleh produsen kamera mana pun. Meskipun, saya akui, secara psikologis itu memang sangat memuaskan—terutama kalau flash-nya tiba-tiba nyala pas kita lagi ingin suasana yang sendu.

Dan buat sobat-sobit yang bertanya-tanya, "Apakah setelah sembilan tahun saya sudah jadi ahli siluet yang dewanya fotografi?" Jawabannya: Masih jauh dari itu. Saya masih sering gagal. Kadang objeknya terlalu item kayak arang, kadang background-nya terlalu over-exposed sampai-sampai subjek saya terlihat seperti penampakan hantu yang tersesat di tengah matahari.

Tapi ada satu perubahan besar: Dulu, kalau hasil fotonya gagal, saya akan marah-marah pada lightmeter dan menyalahkan takdir. Sekarang? Kalau siluet saya gagal, saya cukup pesan kopi tambahan dan rokok sebatang. Saya sadar, hidup ini sudah terlalu banyak kegagalan yang lebih serius daripada sekadar siluet yang meleset. Jadi, buat apa emosi pada sensor CMOS? Sensor itu tidak punya perasaan, sementara kopi dan rokok saya jelas-jelas punya fungsi krusial bagi kelangsungan kewarasan saya.

Jadi, selamat mencoba tips di atas. Kalau gagal, jangan martil kameranya. Marketplace masih butuh barang bekas, dan uang hasil jual kamera itu jauh lebih berharga untuk membeli kopi daripada membeli martil baru. Ingat, kamera itu alat, martil itu senjata, dan kewarasan itu... yah, mari kita cari pelan-pelan di sela-sela asap rokok dan noise foto yang kita hasilkan.

Selamat berkarya, kawan-kawan. Mari tetap jadi fotografer yang tahu kapan harus memotret dan tahu kapan harus meletakkan kamera untuk menyeruput kopi sebelum keburu dingin.