Sabtu, 10 April 2021

Beberapa Kesalahan atau Kecerobohan dalam Penggunaan (atau Saat Membawa) Kamera


Tips Memegang Kamera yang Benar
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Sabtu, 10 April 2021

Artikel ini sengaja saya tulis sebagai bonus tambahan, setelah saya ngobrol dengan seorang fotografer pemula kenalan saya. Dan ini masih satu paket dengan artikel yang sudah tayang sebelumnya; "Berbagai Kesalahan yang Jamak Dilakukan Fotografer Pemula (dan Saya salah satunya)". Sebagian besar materi dalam artikel ini, mengenai kesalahan dan kecerobohan dalam memakai kamera, pernah terjadi pada saya, dan semoga tidak terjadi pada kalian ya Sob. So, apa saja kesalahan atau kecerobohan tersebut? Silahkan disimak ya Sob:

1. Tidak berhati-hati menjaga lensa dari sidik jari atau cipratan air bahkan benturan (impact)


2. Tidak mematikan kamera pada saat mengganti lensa atau kartu memori (jujur saya sesekali pernah tanpa sengaja melakukan hal ini, untungnya kamera saya tidak sampai rusak)


3. Menenteng kamera dengan cara memegang lensanya (untuk DSLR dengan lensa ber-mounting plastik ini bisa mengundang resiko patah)


4. Memasang filter dengan memutarnya terlalu kencang (untuk lensa kit yang masih memakai sistem rotating lens seperti lensa kit Canon / Nikon 18-55mm) yang beresiko merusak motor di dalam lensa


5. Mengarahkan kamera anda ke matahari di siang hari bolong (Ingat, kamera Sobat adalah kamera foto, bukan teleskop NASA…!)


6. Meniup debu yang menempel di sensor 


(maaf Sob, ludah tidak termasuk dalam elemen pembersih kamera, kalau terciprat ke sensor, alamat kamera Sobat akan terinfeksi Covid-19). Sebaiknya Sobat gunakan cara yang lebih beradab, yaitu menggunakan peniup debu yang tersedia khusus untuk kamera

7. Sering menyimpan kamera di sembarang tempat


Kamera butuh perawatan yang baik dan harus dijaga. Tapi kalau kita menyimpan kamera di sembarang tempat yang bikin kamera jadi sering kejedot, tergesek, dan lecet, dijamin kamera tak akan berumur panjang. 

Secapek apapun Sobat setelah traveling, sempatkan menyimpan kameramu di tempat kering dan terlindungi, jangan asal taruh di tempat lembab dan rawan terkena air. 

Simpanlah kamera di tas khusus. Gunakan tas yang memiliki penyekat dan peredam benturan, dan juga tahan air.

Jika kamera masih terasa hangat atau panas karena intensitas penggunaan yang tinggi, akan lebih baik jika tidak langsung dimasukan dalam tas. Tunggu hingga suhu kamera normal terlebih dahulu. Dan kalau panasnya tidak turun-turun juga, berikan Parasetamol setiap 4 jam sekali!

8. Membersihkan kamera dengan kain berserat kasar


Masih berkaitan dengan debu, kalau kamera kita kotor, sebaiknya jangan pakai sembarang kain  untuk membersihkannya. Gunakanlah kain yang lembut dan halus.

Banyak tersedia kain lembut khusus kamera yang dapat kalian beli di toko kamera. Kain ini mirip dengan kain untuk lensa kacamata. Selain halus dan lembut, kain ini kecil sehingga memudahkan kita dalam membersihkan kamera hingga ke celah-celahnya.

9. Membiarkan baterai yang telah terisi penuh menancap di charger


Perhatikan cara Sobat saat mengisi baterai. Kebiasaan mengisi baterai hingga dayanya penuh dan terus dibiarkan lama, akan membuat baterai rusak. Beberapa orang biasa men-charge baterai menjelang tidur di malam hari, dan dicabut pada pagi harinya. 

Mulai sekarang, lebih baik Kamu jangan melakukan kebiasaan buruk itu lagi jika ingin baterai kameramu berumur panjang.

Tips Memegang Kamera yang Benar
trisoenoe.com

10. Cara memegang kamera yang kurang tepat


Kebanyakan fotografer pemula (seperti saya) melakukan hal ini, kurang hati-hati memegang kamera saat memotret.

Kebiasaan memegang kamera yang tidak benar membuat kamera rawan jatuh dan membuatnya lecet bahkan rusak.

Pastikan Sobat menggantungkan strap kamera pada leher atau lilitkan tali tersebut pada tangan, sehingga bila sewaktu-waktu cengkeraman tangan Sobat melemah entah karena keringat atau hal lain (gemetar karena menahan haus dan lapar misalnya), kamera tidak akan langsung terjatuh.

Tentu saja hal-hal seperti yang disebutkan di atas perlu dihindari guna mencegah gagalnya foto-foto penting atau hingga rusaknya peralatan Sobat. Kan sayang, saat hasil jeprat-jepret Sobat ternyata hasilnya mengecewakan karena Sobat melakukan kesalahan yang tampaknya sepele tapi efeknya ga kira-kira!

Demikianlah Sob, beberapa tips dari saya demi mencegah rusaknya kamera Sobat, semoga bermanfaat dan salam jepret!

Tetap sehat, tetap semangat, dan Ingat Pesan Ibu

Covid pasti berlalu

Artikel oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Kamis, 08 April 2021

Definisi Singkat Tentang Fotografi Jalanan? Dan apa saja pendekatan yang lumrah dipakai untuk menjadi fotografer jalanan? (Episode Kedua)


Street Photography
trisoenoe.com

Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Kamis, 8 April 2021

(Coretan ini adalah sambungan alias lanjutan dari coretan saya sebelumnya, dengan judul; "Definisi Singkat Tentang Fotografi Jalanan? Dan apa saja pendekatan yang lumrah dipakai untuk menjadi fotografer jalanan? (Episode Pertama)". Silahkan menikmati ya Sob!)

Dalam artikel sebelumnya tentang pendekatan fotografi jalanan, yang sudah kita ulas adalah: 

1. Mata 
2. Kamera 
3. Hak memotret
4. Gunakan akal sehat 
5. Pemotretan yang aman

Maka, yang akan kita kulik kali ini adalah: 

Street Photography
trisoenoe.com

6. Jangan terpaku pada potret hitam dan putih

Foto hitam-putih adalah jenis yang populer, tapi beberapa fotografer juga dapat menghasilkan foto berwarna yang menarik. Sobat bisa pilih mana saja, tapi ada baiknya kalau Sobat mencoba keduanya, supaya bisa meresapi kelebihan dan kekurangan masing-masing.

7. Mode otomatis 

Jangan ragu menggunakan mode otomatis pada kamera Sobat. Itu mempermudah dan mempercepat pemotretan. Bukan hanya pengaturan kamera yang membuat Sobat jadi fotografer yang jempolan, tapi hasil foto Sobat dan apa yang disampaikan oleh foto itu, yang jauh lebih penting.

8. Kamera digital

Sekarang sudah banyak tersedia kamera digital dalam beragam jenis dan harga. Salah satu kelebihan kamera ini adalah Sobat dapat langsung melihat hasil dari pemotretan, sehingga bisa langsung mencoba memotret lagi.

Walaupun, ada sebagian fotografer yang lebih memilih untuk tetap memotret dengan kamera analog, dengan beberapa alasan yang sifatnya lebih ke arah sentimentil dan idealisme.

Street Photography
trisoenoe.com

9. Jangan takut tampil beda 

Sudut pandang pemotretan penting agar foto Sobat tidak membosankan. Cobalah berbagai perspektif lain dalam memotret. Sobat bisa memotret dari sudut tinggi seperti burung atau rendah seperti katak, atau dari arah belakang seperti “stalker”, atau sambil lari seperti “copet”, dan lain sebagainya.

Street Photography
trisoenoe.com

10. Sudut pencahayaan 

Salah satu teori baku (konservatif dan sangat umum) dalam memotret adalah; jika Sobat ingin memotret wajah (foto potret), cahaya berada di belakang Sobat. Jika Sobat ingin memotret bentuk (siluet), maka sumber cahaya harus berada di depan Sobat. Tapi, lagi-lagi saya perlu tekankan, bahwa fotografi itu adalah seni, dan bukan eksakta. Jadi jangan pernah ragu untuk mencoba pendekatan apapun yang Sobat rasa cocok dan “sreg” di hati Sobat.

11. Foto beruntun

Sobat memang perlu mendapat foto pada momen yang tepat, tapi kadang kita tak tahu mana yang momen yang tepat itu. Cobalah membuat foto seri atau memotret secara beruntun dan memilihnya nanti. Hal ini tidak sulit sekarang karena sudah ada kamera digital: Sobat tinggal pilih foto terbaik di komputer dan menghapus yang tak perlu.

12. Usahakan jangan menggunakan Photoshop (kalau tak terpaksa !) 

Banyak fotografer yang sangat mengandalkan Photoshop atau program penyunting gambar lain untuk menyunting fotonya. Fotografi jalanan tidak bertumpu pada model pendekatan seperti ini. Inilah yang membedakan antara street dengan aliran fotografi lainnya (fashion misalnya). Bahkan, pada beberapa kasus, banyak fotografer jalanan lebih memilih untuk menyajikan foto secara “apa adanya” tanpa melalui proses oprek kiri dan oprek kanan pakai program.

13. Foto itu bukan barang dagangan! 

Tentu saja ada beberapa orang yang mendapat penghasilan dari menjual karya fotografi jalanan, tapi jenis fotografi ini adalah karya seni yang berbeda. Tak semua orang mau memajangnya di ruang tamu. Jadi, lupakan saja rencana Sobat untuk menjual foto-foto ini. Kebanyakan fotografer melakukannya untuk hobi, kepuasan batin atau membuatnya sebagai proyek karya seni.

Street Photography
trisoenoe.com

14. Biasakan untuk selalu memotret

Salah satu "penyakit" paling mendasar yang sering menjangkiti calon-calon fotografer adalah: Bosan!
Iya Sob, kadang rasa bosan itu hinggap di hati kita, sehingga kita merasa malas untuk memotret. Dan kalau rasa bosa ini dibiarkan, lama-kelamaan, hasrat dan naluri kita untuk memotret akan lenyap menguap entah kemana. 

Jangan dibiarkan berlarut-larut ya Sob! Apapun potret yang kita hasilkan, seburuk apapun hasil potret kita, jangan sampai itu menghentikan naluri jepret-menjepret Sobat.

Seperti kata pepatah; "Jangan pernah merasa malu dengan hasil potret Sobat. Kalau hasilnya buruk, lakukan lagi dan lagi. Dan kalau hasilnya tetap buruk, itu artinya Sobat punya alasan yang tepat untuk menjual kamera Sobat!"

Demikian coretan tentang definisi singkat dengan judul: "Definisi Singkat Tentang Fotografi Jalanan?  Dan apa saja pendekatan yang lumrah dipakai untuk menjadi fotografer jalanan? (Episode Kedua)

Semoga Sobat-sobat terhibur.

Salam Jepret, dan tetap sehat selalu.

Artikel ini merupakan penulisan ulang dengan pendekatan saya sendiri (Tuntas Trisunu).

Artikel dalam bentuk asli merupakan tulisan dari KURNIAWAN, dan telah tayang di Tempo.co, Minggu, 25 Mei 2014 12:40 WIB
Silahkan lihat artikel aslinya disini (gaya.tempo.co - apa-itu-fotografi-jalanan)

 #Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Rabu, 07 April 2021

Definisi Singkat Tentang Fotografi Jalanan? Dan apa saja pendekatan yang lumrah dipakai untuk menjadi fotografer jalanan? (Episode Pertama)


Tukang Balon (Street Photography)
trisoenoe.com

Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Rabu 7 April 2021

Secara umum dan sederhana, fotografi jalanan (street photography) adalah kegiatan pemotretan yang berfokus pada kehidupan manusia di jalanan atau ruang terbuka atau ruang publik, sehingga hasilnya adalah cerminan dari apa yang terjadi pada keseharian masyarakat secara nyata.

Syarat yang mutlak pada fotografi genre ini adalah: Tak ada yang direkayasa atau disiapkan sebelumnya! Fotografer merekam kenyataan seperti apa adanya pada suatu saat, jadi segala hal harus bersifat spontan dan berdasarkan insting dan intuisi si fotografer.

Ada juga fotografer yang mengambil satu pendekatan yang agak-agak “idealis”. Si fotografer berpandangan bahwa pengambilan foto harus dilakukan secara diam-diam (candid), dalam pengertian bahwa subyek yang difoto tak menyadari dirinya dipotret dan tak ada interaksi antara fotografer dengan subyeknya, demi menjaga obyektifitas adegan dalam frame.


Tapi, ada juga fotografer yang lebih memilih untuk berinteraksi dengan subyeknya, dengan mempertimbangkan soal privasi orang atau hal lain yang biasanya terkait dengan aturan atau hukum di suatu wilayah.

Tukang Rujak Tumbuk (Street Photography)
trisoenoe.com

Beberapa pendekatan untuk menjadi Fotografer Jalanan


Ada sejumlah saran untuk menjadi fotografer jalanan yang baik. Berikut ini beberapa di antaranya.

1. Mata 

Fotografer harus punya mata yang jeli untuk dapat mengenali dan mendapatkan objek dan momen yang menarik. Hal ini bisa dicapai dengan banyak latihan memotret.

2. Kamera 

Fotografer yang baik haruslah memiliki kamera (ya iya lah!). Untuk keperluan street photography, sebaiknya kamera yang dimiliki adalah kamera yang kecil, ringan, mudah dibawa, dan cepat dioperasikan.


3. Hak memotret

Sudah banyak cerita dari para fotografer tentang pengalaman mereka menghadapi polisi atau orang yang punya otoritas keamanan di sebuah lokasi, tapi tak mengerti soal hukum, memaksa fotografer menghapus foto atau merampas kameranya. Bahkan, kadang mereka bersikap kasar hingga memukulnya.
Jadi, Sobat harus tahu betul hak Sobat dalam memotret di suatu tempat.

4. Gunakan akal sehat 

Kalau Sobat tak tahu aturan di daerah tersebut, pertimbangkanlah untuk minta izin saja, daripada nanti Sobat kena masalah, bakalan repot kuadrat jadinya.

5. Pemotretan yang aman 

Kalau Sobat masih ragu mengenai aman atau tidaknya memotret, maka pertimbangkan kondisi ini: memotret di sebuah acara yang terbuka untuk umum, tempat yang dipenuhi orang dan fotografer, tidak memotret wajah orang, memotret orang dari belakang/punggung, dan memotret dari jarak jauh (dengan lensa tele).


Artikel ditulis oleh: Tuntas Trisunu

 #Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Senin, 05 April 2021

Berbagai Kesalahan yang Jamak Dilakukan Fotografer Pemula (dan Saya salah satunya)


Fotografi Minimalis
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Senin, 5 April 2021

Artikel ini “terlahir”, setelah saya ditanya oleh seorang fotografer pemula kenalan saya, tentang kamera apa yang paling cocok untuk fotografer pemula macam dia. 

Saya agak bingung juga jawabnya, karena yang dibilang dengan “fotografer pemula” itu sendiri batasnya super tidak jelas, bahkan saya pun masih merasa (dan saya sangat yakin) kalau saya hanyalah seorang fotografer pemula. Mungkin istilah pemula dalam jagat fotografi bisa dikaitkan dengan fotografer amatir, atawe non profesional alias zonder ongkos dan bisa juga pemula diidentikkan dengan mereka yang sedang belajar (teori dan praktek) fotografi. 

Inipun belum termasuk calon fotografer (yang bisa disebut pemula) yang membeli kamera, hanya sekedar untuk urusan dokumentasi keluarga dan tidak mau ambil pusing soal segala tetek-bengek tentang teori fotografi. Karena tulisan ini dibuat oleh seseorang yang bukan fotografer, yang sedang mencoba belajar untuk menjadi fotografer, maka tulisan coretan saya kali ini hanya saya ditujukan untuk sekedar sharing pengalaman seputar aneka kesalahan yang biasa dilakukan oleh fotografer pemulanya pemula.

Fotografi Minimalis
trisoenoe.com

Kamera digital sebagai sarana fotografi sering jadi tolok ukur / benchmark dalam menentukan kualitas hasil foto. Para pengguna merasa yakin, dengan semakin canggihnya kamera (diindikasikan dengan banyaknya setting dan parameter) maka kamera akan memberi hasil jepretan yang ciamik. Namun banyak yang tidak sadar, kalau kamera yang punya banyak setting akan malah bikin kepala tambah pusing, malahan, malah jadi makin besar kemungkinan salah pilih setting yang pas, apalagi kamera digital punya setting yang lebih banyak dari sekedar shutter, aperture dan ISO.

anpa berpanjang lebar, Sobat, ayo sama-sama kita kenali dan buka-bukaan, berbagai kesalahan jamak yang biasa dialami oleh para fotografer pemula (seperti saya) berikut ini :

Yang paling utama: kurang teori dan atau kurang latihan jeprat-jeptret


Kesalahan dasar: salah menentukan nilai eksposur -> shutter, aperture dan ISO


Dan berikut ini adalah daftar kesalahan yang sering dilakukan oleh fotografer pemula (dan saya juga).


1. Kurang jeli memperhitungkan pencahayaan saat pemotretan, terkadang menurut mata kita masih cukup terang ternyata kamera menganggap sudah mulai gelap, alhasil fotonya jadi super gelap.

2. Galau saat harus memutuskan, mau pakai lampu kilat, atau sama sekali tidak pakai lampu kilat.

3. Membiarkan lampu kilat dalam mode ‘Red Eye’ yang akan menyala beberapa kali sebelum memotret, sehingga akan menyebabkan kita ketinggalan momen (biasanya pada kamera saku).

4. Salah menentukan titik fokus yang diinginkan (bila kameranya bisa memilih titik fokus) sehingga mana yang tajam dan mana yang blur malah terbalik (bikin malu dan sedih kalo ini sih!).

5. Tidak memakai format RAW saat memotret sesuatu momen yang amat penting.

Komposisi rule of third
trisoenoe.com

6. Terlalu percaya pada mode AUTO (berlatihlah memakai mode A/S/M, jangan males!).

7. Salah pakai setting white balance yang pas (misal harusnya flourescent tapi pilih WB tungsten).

8. Memakai pilihan metering yang tidak tepat (apalagi saat terang gelapnya objek foto tidak merata / area kontras tinggi).

9. Lupa memeriksa setting kompensasi eksposur (Ev) yang beresiko membuat foto jadi under / over-exposed.

10. Tidak mengkompensasi eksposure (Ev) secara manual (ke arah plus atau minus) saat metering kamera memberi hasil yang tidak sesuai dengan keinginan kita.

11. Tidak meluangkan waktu untuk melihat histogram (baik sebelum atau sesudah memotret) padahal di saat terik matahari, layar LCD kamera tidak lagi akurat untuk mengukur eksposure.

12. Lupa mengaktifkan fitur image stabilizer (bila ada) saat diperlukan, seperti saat speed rendah atau saat memakai lensa tele).

13. Tidak berupaya mendapat sweet spot lensa saat perlu foto yang tajam (menghindari fokal lensa ekstrim dan stop down dari bukaan maksimal).

14. Tidak membawa baterai cadangan, dan juga tidak bawa charger.

15. Tidak mengaktifkan AF-assist beam/strobe saat low-light yang menyebabkan kamera kesulitan mencari focus.

16. Tidak sengaja menghapus sebuah foto (Modar deh!!!).

17. Tidak memakai tripod saat memakai shutter lambat (dibawah 1/20 detik, dan foto jadi super shake deh...hahahahaha)

Nah, Itu dulu deh Sob, beberapa kesalahan yang jamak saya lakukan (sebagai seseorang yang bukan fotografer). Sebenarnya ada banyak sih, tapi itu saja dulu deh, soalnya saya malu, karena yang saya tulis itu sebenarnya hasil pengalaman saya sendiri. 

Selanjutnya, akan disambung ke artikel berikutnya, yaitu mengenai kecerobohon yang jamak dilakukan oleh fotografer super pemula.

Salam jepret ya Sob. 

Tetap sehat, tetap semangat, dan selalu ingat pesan ibu!

Covid pasti berlalu!

Artikel ditulis oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Rabu, 31 Maret 2021

Sembilan Tips Memotret Bunga Liar Sambil Bersepeda alias "Gopret"! (Episode bukan hitam putih)


9 Tipe Memotret Bunga Liar
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Rabu, 31 Maret 2021

(Ini catatan yang saya buat di masa pendemi, dimana segala sesuatu jadi kelihatan sulit dan juga terasa menjepit. Semoga pendemi ini cepat berlalu!)

Punya hobi itu adalah hal yang bagus. Apalagi di musim pendemi seperti ini, dimana apa-apa jadi terkesan “susah” dan “berat”, dan salah satu cara supaya otak kita tetap bisa terjaga “kewarasannya” adalah dengan menyalurkan hobby (tentunya hobby yang ga terlalu menguras biaya, tidak berpotensi menyebarkan pendemi, dan sangat pas kalo dikombinasikan dengan kegiatan kita sehari-hari)

9 Tipe Memotret Bunga Liar
trisoenoe.com

Nah, salah dua dari hobby yang bakal kita ulas sekarang adalah “mancal pit” alias gowes dan motret. Hobi gowes sambil jepret ("gopret") menurut saya sangat cocok dan ciamik kalau dipadukan. 

Bagaimana tidak ciamik? Sambil berolahraga bersepeda keluar masuk kampung, persawahan, hutan beton, hutan kota, gang-gang sempit, kuburan, petilasan, sampai dengan jalan raya, kita juga bisa sambil hunting, siapa tahu ada obyek menarik yang bisa jadi target selanjutnya. 

Dan enaknya lagi adalah, kalau kira-kira di jalan ada target yang potensial dan layak untuk dijadikan “korban” jepretan, langsung deh bisa berhenti, keluarkan kamera, pasang kuda-kuda dan melakukan eksekusi tanpa perlu malu-malu. 

Seperti kata pepatah, sambil menyelam, minum kopi, artinya, olahraganya dapet, hobi memotretnya pun juga keudak.

Jenis subjek foto yang terlihat simpel dan banyak ditemui pada saat "gopret" adalah bunga atau pohon-pohon liar yang berada di tepi jalan. Kalau dilihat secara sepintas kadang kelihatan biasa saja, tetapi kalau mau dieksplorasi lebih serius, ternyata, bunga-bunga di tepi jalan itu dapat menghasilkan foto yang ciamik lho.

9 Tipe Memotret Bunga Liar
trisoenoe.com

Nah, berikut ini ada sembilan tips untuk memotret bunga di tepi jalan. Cekidot ya Sob:


1. Pastikan posisi memotret kita aman dan tidak mengganggu pengguna jalan yang lain.

2. Pastikan kalau Sobat sudah membawa sepeda, dan juga sudah membawa kamera. Karena, kalau Sobat hanya bawa sepeda saja, itu artinya ya Sobat cuma naik sepeda. Kalau cuma bawa kamera saja, itu artinya Sobat cuma memotret, dan bukan bersepeda sambil memotret! 
Jadi ingat ya Sob, bawa keduanya!

3. Cuek, ga usah pikirin orang lain dan tidak perlu malu apabila Sobat jadi tontonan orang yang lalu-lalang (selama Sobat berpakaian lengkap dan bukan telanjang bulat, ga masalah tokh!)

9 Tipe Memotret Bunga Liar
trisoenoe.com

4. Gunakan fitur macro, karena kebanyakan jenis pohonnya adalah semak dengan bunga yang relatif kecil.

5. Sebaiknya memotret di pagi hari, karena dipagi hari, bunga masih relatif segar dan sedikit berembun. Kalau Sobat memotretnya pas malam hari, agak sedikit riskan. Selain suasana sudah gelap, jangan-jangan, si “pemilik” kembang juga ikut kejepret…Duh, cilaka kalo begitu!

6. Berkreasilah dengan arah cahaya. Coba fokus pada “back lighting”. Hasil foto akan lebih dramatis, apabila arah cahaya datang dari depan kamera.

7. Jangan pakai lampu kilat. Tanpa lampu kilat, justru akan sangat membantu Sobat untuk berkreasi dan menambah variasi arah cahaya pada hasil foto.

9 Tipe Memotret Bunga Liar
trisoenoe.com

8. Jepretlah dengan berbagai mode dan juga berbagai teknik pencahayaan dan ukuran…jangan cepet puas hanya dengan sedikit foto.

9. Segera Sobat lakukan dan lakukan! Karena kalau tips ini hanya dibaca doang, Sobat tidak akan pernah bisa menghasilkan foto yang ciamik …hehehe.

Nah, itulah dia Sobat, sembilan tips yang bisa diterapkan untuk memotret sambil menggowes pit. 

Semoga artikel ini bisa berguna bagi Sobat sekalian. 

Dan ingat, tetap sehat, tetap semangat, dan selalu Ingat Pesan Ibu.

Salam jeret selalu ya Sob!

Artikel oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Senin, 29 Maret 2021

Kesalahan Sederhana (yang mungkin terjadi) Pas Lagi Jeprat-Jepret


Komposisi garis
trisoenoe.com


Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Senin, 29 Maret 2021

Sering kali pas kita pas kita lagi asyik jeprat-jepret, kita tidak sadar kalau ternyata ada kesalahan-kesalahan sederhana yang kita lakukan. Tapi ternyata kesalahan sederhana tersebut bisa mempengaruhi hasil jepretan kita loh Sobat. 

Simak tipsnya disini ya Sob, untuk menghindari kesalahan-kesalahan tersebut.

Model Photography
trisoenoe.com

1.Sebelum memotret, periksa kembali semua objek yang akan masuk ke dalam frame

Sobat perlu mengecek kembali apakah ada objek yang dapat mengganggu keseluruhan dari foto Sobat yang kurang enak dilihat, seperti ada tumpukan sampah, atau ada batang pohon nyelalang di tengah, atau ada gerobak tahu bulat yang menghalangi obyek foto. 

Memang, kesalahan ini bisa sedikit di”permak”. Sobat dapat menggunakan photoshop untuk mengedit foto itu dan menghilangkan obyek yang mengganggu. Tetapi, akan jauh lebih mantab kalau Sobat bisa menghindari hal ini dengan mencari sudut atau angle lainnya yang lebih aman.

Komposisi elemen garis dan lengkung
trisoenoe.com

2. Perhatikan garis, kabel, dan elemen lain yang bersifat "kuat"

Adanya garis liar pada foto dapat mempengaruhi hasil foto karena garis merupakan elemen yang sangat kuat dan dapat mengalihkan perhatian bagi yang melihat. Misalnya ketika Sobat memotret sungai dari atas jembatan, foto menjadi tidak menarik ketika ada bagian dari jembatan yang masuk ke dalam foto.

Nature Photography
trisoenoe.com

3. Garis cakrawala atau horizon terlihat miring

Nah, kalau ini memang biasanya jamak banget terjadi. Biasanya banyak terjadi pas Sobat mengambil foto pemandangan alam. Misalnya ketika Sobat mengambil foto sunset (biasanya sih motretnya di pantai) dan tidak sengaja memotret miring, Sobat tentu dapat mengeditnya di photoshop, tetapi akan lebih baik kalau Sobat bisa menghindari hal ini pada saat memotret.

Portrait Photography
trisoenoe.com

4. Hati-hati saat memotret orang

Sobat perlu memperhatikan ketika memotret orang, agar tidak ada bagian yang terpotong pada bagian yang kurang tepat, misalnya memotong pada bagian kaki, dengkul, jidat, atau lain-lain.

Demikianlah Sob, empat kesalahan sederhana, yang mungkin terjadi pas lagi kita jeprat-jepret.

Tetap Semangat, Tetap Sehat, dan Ingat Pesan Ibu.

Pendemi ini pasti berlalu!

Catatan: 
Artikel ini ditulis, Ketika Sobat saya bertanya mengenai hasil jepretannya yang menurut Sobat saya itu kurang cihuy. Walaupun saya sebenarnya ogah untuk untuk menjawabnya, karena menurut saya, semua foto jepretan Sobat saya itu, super cihuy semua.

Artikel oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Minggu, 28 Maret 2021

(Unggah-Ungguh) Atawe Etika dalam Fotografi (Tulisan Episode Keempat dan jadi episode terakhir)


Fotografi Portrait
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Minggu, 28 Maret 2021

Artikel ini adalah sambungan dari tulisan saya sebelumnya, dengan judul, (Unggah-Ungguh) Atawe Etika dalam Fotografi (Tulisan Episode Ketiga), silahkan dinikmati ya Sob!

Mengambil gambar atau foto di ruang publik berbeda-beda di tiap kawasan, tempat atau negara. Sebagai gambaran, kita (di Indonesia) bisa dengan nyaman memotret anak-anak di pinggiran kampung atau di mana saja saat mereka bermain. Tapi jangan harap bisa semudah ini di Australia, mereka punya undang-undang tegas tentang perlindungan anak, maka memotret mereka lagi bermain sekalipun, tanpa ijin orang tuanya akan membawa kita ke panjara karena bisa sianggap sebagai kagiatan eksploitasi anak.

Fotografi Portrait
trisoenoe.com

Secara etika, sebaiknya di manapun Sobat mau menjepret, apalagi obyeknya adalah manusia, mintalah ijin dahulu, dekati dengan ramah, buat mereka dalam kondisi nyaman dan tidak asing dengan kita (fotografer). Karena 90 persen orang akan dengan senang hati menerima kedatangan kita saat diajak bicara dahulu. Tapi jangan lupa bicarakan maksud kita usai memotret. Menyapanya, seperti menanyakan nama, umur, pekerjaan keluarga, sampai hal remeh-temeh lainnya. Ketika mereka balik bertanya buat apa foto itu? Katakan dengan benar apa adanya. Misalnya untuk sekedar belajar atau kepentingan pemberitaan yang baik. Jika mereka paham kita lega, namun jika mereka keberatan, jangan coba-coba mempublish secara umum. Selain tidak menghormati privacy, mereka juga bisa menuntut kita.

Fotografi Jalanan (street photography)
trisoenoe.com

Perkantoran, stasiun dan mall sering dianggap sebagai ruang publik. Padahal tidak, mereka ibarat pemilik rumah dan halamannya. Apalagi jika disetiap sudut ruang mall ada larangan memotret. Kita tidak boleh seenaknya ambil foto. Meski tidak semua mall dengan jelas mengumumkannya. Namun, etika jurnalistik membolehkan kita memotret rumah seseorang, kantor atau mall jika mereka terlibat dalam sebuah kasus yang layak dan berhak untuk diketahui publik.

Fotografi Jalanan
(street photography)
trisoenoe.com

Misalnya layak dan berhak itu, jika sebuah institusi atau seseorang mempunyai masalah yang dampaknya merugikan banyak orang, katakanlah mall yang punya masalah dengan sistem pengolahan limbah yang mencemari kampung sekitarnya. Kita dibolehkan mengambil gambarnya, atas kepentingan publik. Hubungan antara fotografer dengan fotografer lain juga menjadi hal yang paling vital. Seorang fotografer profesional tidak akan bekerja atau menciptakan sebuah karya sendiri. Teruslah berinteraksi, konsultasi, tukar pendapat, saling menghargai karya orang lain, rendah hati.

Demikianlah Sobat jepret, episode ke empat dari empat episode, yang mengupas tentang Unggah-Ungguh Atawe Etika dalam Fotografi. 

Semoga, artikel ini bisa menghibur Sobat jepret semua.

Akhir kata, terima kasih atas perhatiannya.

Salam jepret selalu, tetap sehat, tetap semangat, dan selalu ingat pesan Ibu.

Pendemi ini pasti berlalu! 

Artikel oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Kamis, 25 Maret 2021

(Unggah-Ungguh) Atawe Etika dalam Fotografi (Tulisan Episode Ketiga)


Art Model Photography
trisoenoe.com

Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Kamis, 25 Maret 2021

Masih dalam konteks memenuhi janji saya sebelumnya, ini adalah sambungan dari artikel yang saya tulis sebelumnya dengan judul:"(Unggah-Ungguh) Atawe Etika dalam Fotografi (Tulisan Episode Kedua)". So, silahkan dibaca ya Sob, semoga berkenan.

Kalau sebelumnya, kesalahan yang dibahas adalah "Mood" dan "Kemampuan komunikasi dengan target jepretan", maka kali ini yang akan dibahas adalah etika jeprat-jepret berupa "Bagi-bagi hasil jepretan!" dan "Kemampuan komunikasi dengan target jepretan". Dan ini adalah penjabarannya:

Portrait Photography
trisoenoe.com

Bagi-bagi hasil jepretan!


Saya yakin, ini sering terjadi, dimana Sobat kehabisan model, dan akhirnya maksa-maksa temen untuk jadi modelnya.  Pertimbangannya, selain gratis kita juga gampang berkomunikasi dengannya untuk memperoleh hasil jepretan yang kita inginkan. Hal yang acap terjadi adalah, jika kita memfoto model yang gratisan (teman atawe kenalan) kita sering lupa berbagi hasil foto dengan si momod tadi. Padahal, dengan memberikan hasil jepretan kita, itu adalah bentuk rasa terimakasih kita padanya yang sudah susah payah berpose menjadi model. 

Street Photography
trisoenoe.com

Juga berlaku jika Sobat saat memotret dengan tema human interest atau street photograph. Jangan terlalu pelit. Misal, kalau Sobat memotret ibu-ibu penjual sayur seperti kasus diatas, belilah barang yang dia jual sedikit saja meskipun Sobat tidak memerlukannya. Jangan asal jeprat-jepret lalu sobat berlalu begitu saja, ndak sopan Sob. Sekedar sapa, lalu belilah dagangannya barang sedikit, lalu sambung cerita-cerita, lalu ajukan pertanyaan, apakah dia bersedia untuk dipotret atau tidak. Kalua dia bersedia dipotret, maka langsung saja dijepret. Kalua dia tidak bersedia, yah, paling tidak, sobat kan sudah belanja, jadi bisa masak dan bikin food photography!

Human Interest Photography
trisoenoe.com

Kalo bisa, jangan jepret rame-rame!


Ini juga sering terjadi, dimana satu model dikeroyok rame rame oleh 10 fotografer atau lebih. Sumpah, ini adalah hal yang serem banget! Sobat bakal susah mendapatkan angle terbaik dan terganggu dengan fotografer lainnya. Lampu blitz yang datang bertubi-tubi akan mengkacaukan metering Sobat bila kalau kamera Sobat disetting dalam posisi manual. Belum lagi ajang untuk pamer gadget diantara para fotografer yang sangat tidak mengenakkan. Percayalah sangat membuat ciut nyali bila Sobat melihat gadget orang lain lebih canggih dari milik Sobat. Di sisi lain, model Sobat akan merasa menjadi “perawan di sarang penyamun”.

Candid Photography
trisoenoe.com

Bagi Sobat penikmat potret atau hobi memotret model, ada baiknya berkomunikasi dengan baik. Karena sering terjadi model yang baru bermunculan masih kaku dalam berpose. Lebih baik Sobat berkenalan dahulu dan melakukan pendekatan secara personal tanpa membicarakan tentang pose. Buatlah model tersebut merasa nyaman dengan Sobat, sehingga pada saat sesi pemotretan, Sobat tidak canggung mengatur pose dan sebaliknya, model juga akan merasa nyaman dalam berpose. 

Alhasil, Sobat akan mendapatkan pose dan foto yang bagus, hal ini akan menguntungkan kedua belah pihak bukan…? Ingat jaga kesopanan Sobat, sikap dan perkataan tidak perlu berlebihan. Nah, bagi Sobat yang suka dengan foto landscape, human interest melakukan pendekatan ke penduduk atau masyarakat sekitar sangat penting. Karena hal ini akan membuat mereka juga merasa senang dianggap sebagai pemilik wilayah.


Artikel oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA