Rabu, 25 Agustus 2021

Hadiah Rp. 165.724.500? (Khayalan dan Obrolan Tak Jelas dari Enam Orang Fotografer yang Sudah Tak Punya Kamera) Episode Kedua


Termenung! (Street Photography)
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Rabu, 25 Agustus 2021

Salam jumpa lagi Sobat (dan masih tetap dalam suasana pendemi......Ya ALLAH, kapan ini akan berakhir!!). Seperti yang sudah saya janjikan tempo hari, saya akan sambung artikelnya, dan artikel ini adalah artikel lanjutan dari artikel pertama (Hadiah Rp. 165.724.500? (Khayalan dan Obrolan Tak Jelas dari Enam Orang Fotografer yang Sudah Tak Punya Kamera) Episode Pertama), dan inilah artikelnya:

Tiba-tiba Mukidi (bukan nama asli ya Sob, demi menjaga ke“privacy”an rekan saya itu) membuka pembicaraan untuk merombak suasana yang tak enak itu. Diajukannya sebuah teka-teki berbunyi: berapa ribu jumlah orang di Jakarta yang memaki-maki karena malam Minggu ini hujan terus jadi tak bisa tamasya? Dan berapa ribu pula manusia yang bersyukur karena hujan, sehingga dia jadi punya alasan untuk tak pergi kemana-mana, jadi bisa hemat?

Semua senyap saja, tak satu pun yang menaruh perhatian pada persoalan pakansi atau tamasya. Kembali suasana jadi tenang dan sangat menekan. Tak enak betul rasanya. Kami semua seperti orang-orang berdosa yang tengah menanti keputusan hukuman. Tak tahan saya berada di tengah suasana tenang tak menentu.

Dan tak terasa meluncurlah tiba-tiba sebuah kalimat dari mulutku, mungkin akibat tekanan suasana yang tegang, jadi semacam meracau.

"Bagaimana kalau kita dapat hadiah sebanyak Rp. 165.724.500?" tanyaku. Angka itu demikian unik melulu karena kusesuaikan dengan kebiasaan fotografer-fotografer kawanku, serba unik dan eksentrik. Mendadak seluruh mata memandang ke arahku. Saya langsung menduga bahwa paling kurang salah seorang dari mereka akan memaki saya karena saya telah merusak suasana. Maka tak terbayang sedikit pun bahwa pokok pembicaraan yang kuajukan itu akan lanjut menjadi suatu percakapan yang seru.

"Berapa besar hadiah yang Om katakan tadi?" tanya Bedul tenang-tenang.

"Seratus enam puluh lima juta tujuh ratus dua puluh empat ribu lima ratus rupiah," jawabku.

"Dan seandainya hadiah itu akulah yang menerima?" kata Bedul sambil tersenyum, "Itu adalah modal yang lumayan untuk bikin sebuah pameran, suatu pameran yang rencananya sudah siap padaku. Kalau pertunjukan ini jadi, pasti akan menggemparkan dunia fotografi di Indonesia. Aku kasih bikin pameran itu demikian anehnya. 

Banyak fotografer sudah merencanakan dan bikin gallery terbuka, memajang foto di taman, membuat pameran foto di museum, di pinggir jalan dan lain-lain. Dan aku mau bikin galeri labirin. Labirin yang besar, dimana semua foto-fotoku aku pajang di setiap sisi dinding labirin, bayangkanlah betapa uniknya gagasan ini! Soal tempat saja aku sudah menang. Aku yakin orang akan berbondong-bondong melihat bagaimana suatu pameran fotografi berlangsung di dalam labirin besar."

Seperti sebelumnya, artikel ini bersambung ke episode ketiga, dengan judul: "Hadiah Rp. 165.724.500? (Khayalan dan Obrolan Tak Jelas dari Enam Orang Fotografer yang Sudah Tak Punya Kamera) Episode Ketiga"

Artikel ini diadaptasi dan ditulis oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Kamis, 19 Agustus 2021

Hadiah Rp. 165.724.500? (Khayalan dan Obrolan Tak Jelas dari Enam Orang Fotografer yang Sudah Tak Punya Kamera) Episode Pertama


Termenung ! (Street Photography)
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Kamis, 19 Agustus 2021

Bulan Agustus 2021, bulan ini memang benar-benar bulan yang mestinya jadi bulan berkah untuk kami. Kenapa berkah? Ya! Karena memang bulan ini banjir dengan tanggal merah alias hari libur. Untuk kami yang memang punya hobby jeprat-jepret, tentu saja bulan yang penuh tanggal merah ini bakal menjadi bulan “panen raya”. Ya, kami bisa berkelana ke segala penjuru angin untuk memuaskan dahaga akan potrat dan potret. 

Tapi, itu tak terjadi di bulan ini. Bulan yang sekarang ini benar-benar beda!

Covid masih mencengkeram, dan enggan untuk pergi. Semua orang kena imbasnya, mulai dari ketakutan akan tertular, PSBB alias larangan keluar rumah kalau tak penting, dan yang sekarang ini sedang diterapkan di semua daerah; “PPKM”, dan entah nanti apalagi istilahnya. Judulnya sih sama, masyarakat dilarang keluar rumah kalau tak penting atau tak memiliki keperluan mendesak. Alhasil, semua usaha jadi kena getahnya, semua sendi ekonomi benar-benar terasa lumpuh, semua kegiatan ekonomi juga sedang sekarat, bahkan beberapa kegiatan ekonomi, benar-benar sudah gulung tikar alias wafat.

Semuanya berujung sama. Susah! 

Termasuk kami. Enam orang yang punya hobby jeprat-jepret ini. Kami pun dengan sangat terpaksa harus melepaskan “senjata pusaka” alias kamera kami, untuk ditukar dengan beras, gula, kopi, dan sisanya, untuk bayar hutang. Sudah berbulan-bulan ini, kami tak ada pemasukan, dan saya pun, sudah empat bulan ini tak lagi punya pekerjaan. 

Sedih? Itu sudah pasti!

Tapi, bukan karena tak ada uang yang bikin kami sedih. Kesedihan kami terutama karena kreatifitas kami jadi ikutan tandas! Kami tak lagi mampu memotret. Tak ada lagi kesukaan yang bisa bikin kami rehat sejenak dari carut-marutnya kondisi saat ini.

Dan sekarang, disinilah kami. Enam orang fotografer sedang duduk bersama, dan tanpa kamera! Kecuali saya, yang lain adalah fotografer-fotografer tulen. Maksudku, lima kawan lainnya itu tidak bekerja di manapun pada siang atau sore harinya kecuali hanya memotret. Seluruh waktu mereka khusus digunakan untuk berurusan dengan soal-soal yang menyangkut fotografi saja. Maka tidak susah membayangkan bagaimana kiranya kapasitas kantong kawan-kawanku ini. Dompet mereka yang masih bekerja pun pada saat ini sudah hancur lebur tidak keruan. 

Jadi duduk-duduk sajalah kami tenang-tenang menghadapi sebuah meja dengan enam gelas kopi hitam di atasnya, di bawah teduhan pohon kersen yang terletak delapan setengah langkah dari tukang gorengan. Tidak ada yang bisa digigit-gigit, ketika itu. Alhasil, hanya suara seruputan kopi berselaput asap rokok tebal yang mengisi kekosongan. Dan terasa tak ada satu soal pun yang enak didengar atau dibicarakan. Gerimis juga turun terus. Kawan kawan semua lesu. Semakin lama suasana jadi semakin tak enak. 


Artikel ditulis oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Rabu, 18 Agustus 2021

Tips Fotografi Makro (Biar hasilnya seperti fotografer profesional....Semoga!) Tulisan bagian Ketiga


Foto Bunga dalam Makro
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Kamis, 18 Agustus 2021

Apa kabar Sobat? Seperti yang sudah saya janjikan kemarin dulu, saya akan sambung artikelnya, dan artikel ini adalah artikel lanjutan dari artikel kedua (Tips Fotografi Makro (Biar hasilnya seperti fotografer profesional....Semoga!) Tulisan bagian Kedua), dan inilah artikelnya:

6. Angka diafragma mana yang terbaik?

Adakah angka diafragma yang terbaik untuk memotret makro? Ya, ada, f/22. Karena ruang tajam lensa makro begitu dangkal (artinya, bagian depan bunga yang Sobat potret bisa benar-benar fokus sedangkan mahkota bunga yang berjarak hanya 2,5cm di belakangnya bisa benar-benar tidak fokus), maka Sobat harus mendapatkan ruang tajam sedalam mungkin, dan itu baru bisa terjadi jika setelan aperture kamera Sobat di set pada angka seperti f/22. Sobat bisa berhasil dengan f/16 atau bahkan f/11, tapi untuk mendapatkan hasil fokus maksimal pada objek Sobat cobalah f/22.

Foto Bunga dalam Makro
trisoenoe.com

7. Carilah latar yang sederhana

Aturan yang sama tentang background yang kita ikuti pada fotografi portrait berlaku pula untuk fotografi makro, yaitu menjaga agar latar belakang tetap sederhana. Bahkan aturan ini mungkin lebih penting pada fotografi makro daripada fotografi portrait, karena Sobat membidik dengan begitu dekat sehingga background akan memiliki pengaruh yang lebih besar. Jadi, pastikanlah latar belakang obyek yang Sobat pakai sesederhana mungkin.

8. Sebaiknya memotret di dalam ruangan

Banyak fotografi makro tentang alam sebenarnya dilakukan di dalam ruangan, bukan di luar ruangan. Salah satu keuntungan utama dari memotret makro di dalam ruangan adalah tidak ada angin. Hal ini mungkin tidak tampak seperti masalah besar pada awalnya, tapi saat Sobat menyiapkan kamera dengan lensa makro di luar ruangan dan mengintip melalui lensa, Sobat akan melihat langsung hembusan angin terlembut sekalipun yang menggerakkan bunga, daun, ranting, dan lain-lain di seluruh frame, yang berarti foto Sobat akan menjadi buram dan tidak fokus. Keuntungan lain dari memotret di dalam ruangan adalah anda bisa mengontrol cahaya (terutama jika menggunakan strobe studio), dan kunci untuk pencahayaan foto makro adalah memiliki pencahayaan yang manis dan merata pada seluruh bagian gambar.  

Foto Bunga dalam Makro
trisoenoe.com

9. Membuat tetesan air sendiri

Janganlah menunggu sampai hujan untuk mendapatkan efek embun pada bunga atau daun, bawalah sebotol air dalam pemotretan Sobat dan percikanlah pada bunga atau daun, sehingga tercipta tampilan segar dari tetesan air hujan, yang akan tampak bagus dalam fotografi makro ini. Selain itu, jika Sobat membidik cukup dekat, Sobat bisa melihat bayangan dalam tetesan air itu sendiri. Gimana? Ciamik maksimal kan?

Nah, Sobat semuanya, bagaimana? Silahkan dicoba ya Sob, berbagai tips fotografi makro yang sudah saya upload dalam tiga artikel terpisah ini. Semoga bermanfaat!

Tetap sehat, tetap semangat ya Sob!

Salam jepret selalu!

Artikel ditulis oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Jumat, 13 Agustus 2021

Tips Fotografi Makro (Biar hasilnya seperti fotografer profesional....Semoga!) Tulisan bagian Kedua


Foto Makro, Obyek Bunga!
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Jum'at, 13 Agustus 2021

Salam jumpa lagi Sobat (dan masih dalam suasana pendemi......Duh Gusti!!). Seperti yang sudah saya janjikan kemarin dulu, saya akan sambung artikelnya, danar tikel ini adalah artikel lanjutan dari artikel pertama (Tips Fotografi Makro (Biar hasilnya seperti fotografer profesional....Semoga!) Tulisan bagian Pertama), dan inilah artikelnya:

2. Maksimalkan ruang tajam (DoF)

Lensa makro memiliki sebuah “titik terbaik” dimana Sobat jepret bisa benar-benar mendapatkan hasil yang paling tajam. Dan dalam fotografi makro, memiliki gambar yang tajam sangatlah penting. Salah satu trik untuk mendapatkan ketajaman tinggi dari lensa makro adalah memotret dengan lensa yang terbidik lurus sempurna ke depan, ke arah objek (dengan kata lain, jangan memiringkan lensa Sobat ke atas atau ke bawah, cobalah memotret dengan benar-benar lurus untuk mendapatkan ketajaman dan kejernihan terbaik). 

3. Sobat harus "melupakan" fitur autofokus

Sobat telah mengetahui, bahwa salah satu tantangan besar dari fotografi makro adalah membuat subjeknya tajam dan fokus. Nah, Sobat akan menghadapi salah satu hal yang paling membuat frustasi saat membidik subjek yang super dekat dalam memotret makro, yaitu menggunakan autofokus. Satu tips yang dapat menurunkan kadar frustasi Sobat adalah; dengan tidak mengaktifkan autofokus lensa kamera Sobat dan gunakan fokus manual saja. 

Kenapa Sobat harus menonaktifkan autofokus? Kan sekarang ini fitur auto fokus sudah benar-benar akurat? 

Iya sih, memang fitur autofokus memang sudah lebih akurat ketimbang dulu. Tapi tetap saja, titik fokus maunya si kamera dengan maunya si fotografer kan beda. Misal, si fotografer maunya fokus di titik "A", tapi si autofokus malah milih untuk fokus di titik "B", alhasil, malah jadi berantem antara fotografer dengan kamera.

Mungkin, cara yang terbaik adalah bicara dari hati ke hati, antara fotografer dengan kameranya. Yah, namanya juga suatu hubungan, tak akan bisa langgeng kalau tidak ada komunikasi....bener ga Sob?

Foto Makro, Obyek Bunga!
trisoenoe.com

4. Jangan sentuh tombol shutter

Jika Sobat sudah babak belur memposisikan kamera Sobat di atas tripod, Sobat masih ada kemungkinan memperoleh foto yang kurang tajam akibat getaran yang terjadi saat menekan tombol shutter. Itulah sebabnya, ketika memotret makro, Sobat harus menggunakan shutter release cable (itu adalah kabel yang dicolokkan ke kamera, yang memungkinkan Sobat memotret foto tanpa harus menyentuh tombol shutter pada kamera) atau menggunakan self timer kamera yang akan men"jepret" secara otomatis sekitar 10 detik setelah Sobat menekan tombol shutter, sehinggga getaran apapun yang disebabkan oleh tekanan jari pada tombol shutter dijamin bisa dihilangkan jauh-jauh. 

Sudah dulu ya Sob, besok-besok lagi kita sambung lagi artikelnya (maaf banget nih, soalnya saya mau nyuci baju dulu, sama mau masak nasi!). Besok kita sambung ke tulisan ketiga, dengan judul: "Tips Fotografi Makro (Biar hasilnya seperti fotografer profesional....Semoga!) Tulisan bagian Ketiga"

Tetap sehat, tetap semangat ya Sob!

Salam jepret selalu!

Artikel ditulis oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Kamis, 12 Agustus 2021

Tips Fotografi Makro (Biar hasilnya seperti fotografer profesional....Semoga!) Tulisan bagian Pertama


Foto Bunga (Makro dan hitam putih)
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Kamis, 12 Agustus 2021

Salam Jepret Sobat semuanya. Sekarang di pertengahan bulan Agustus, tahun 2021, dan sekarang masih pendemi. 

Ya! Covid masih mencengkeram, dan enggan untuk pergi. Semua orang kena imbasnya, mulai dari ketakutan akan tertular, PSBB alias larangan keluar rumah kalau tak penting, dan yang sekarang ini sedang diterapkan di semua daerah adalah; “PPKM”, dan entah nanti apalagi istilahnya. Judulnya sih sama saja, masyarakat dilarang keluar rumah kalau tak penting atau tak memiliki keperluan mendesak. Alhasil, semua usaha kena imbas, semua sendi ekonomi benar-benar terasa lumpuh, semua kegiatan ekonomi juga sedang sekarat, bahkan beberapa kegiatan ekonomi, benar-benar sudah gulung tikar alias wafat.

Duh, Sobat, sekarang ini semuanya memang serba susah dan bikin kepala jadi pening.

Nah, supaya kepala ini tidak makin jadi pening, lebih baik kalau kita omong-omong masalah fotografi saja. Dan sekarang, kita akan membicarakan tentang satu aliran dalam fotografi, yang namanya fotografi makro, dan beberapa tips, yang bisa menjadikan hasil jepretan fotografi makro kita akan semakin ciamik. 

Dan tanpa berpanjang lebar lagi, inilah ceritanya:

Fotografi makro adalah salah satu aliran dalam fotografi yang lebih memfokuskan hasil jepretan pada detail-detail kecil. Aliran fotografi ini didasarkan pada jenis lensa khusus yang disebut lensa makro atau lensa close-up, yang memungkinkan Sobat untuk berfokus pada objek dengan lebih dekat daripada yang bisa Sobat lakukan secara normal. Sobat bisa berada cukup dekat sehingga objek Sobat benar-benar memenuhi frame foto Sobat. Beberapa objek foto yang paling populer untuk para fotografer pencinta makro antara lain adalah bunga, daun, serangga, dan benda sehari-hari lainnya di alam yang tidak biasanya kita lihat secara close-up.

Berikut ini adalah tips-tips memotret makro:

1.Sobat harus punya kamera!

Untuk yang satu ini, saya tak akan menjabarkannya secara panjang lebar. Saya males neranginnya!


2. Pergunakan tripod

Walaupun sekarang sudah ada lensa makro yang dilengkapi dengan fitur Image Stabilization (IS) atau Vibration Reduction (VR) bawaan, tapi kalau Sobat benar-benar mau serius untuk menekuni fotografi makro, maka Sobat harus serius tentang kualitas ketajaman dari foto yang Sobat hasilkan. Itu berarti Sobat benar-benar butuh yang namanya tripod. Fotografi jenis ini merupakan satu aliran, dimana ada satu perlengkapan yang kudu alias wajib dipakai, yang bernama “tripod”. Jadi, tripod merupakan salah satu hal yang mutlak yang harus anda pakai ketika memotret makro. 

Mengapa Tripod menjadi benda wajib?

Karena tripod, mampu memberikan kestabilan pada kamera. Ketika kita memotret suatu obyek yang membutuhkan ketajaman fokus, maka kestabilan kamera menjadi syarat wajib yang harus dipenuhi. Dan kalau kita memegang kamera dengan tangan, dijamin, tingkat kestabilan tidak akan bisa tercapai secara maksimal. Nah, disinilah kita membutuhkan tripod untuk menggantikan fungsi tangan kita dalam hal menopang kamera.


Artikel ditulis oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Selasa, 20 Juli 2021

Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Kelima


Foto Abstrak
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Selasa, 20 Juli 2021

Salam jumpa lagi Sobat jepret semuanya. Seperti janji saya sebelumnya, coretan ini adalah sambungan dari artikel keempat (Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Keempat), dan artikel ini adalah episode kelima alias episode terakhir dari entah lima episode yang ada dalam artikel ini. 

Segera saya cari kontak beberapa kawan di komunitas yang sering kudengar membicarakan tentang fotografi abstrak sampai jauh-jauh malam. Dan bukan main-main, saya sengaja cari fotografer-fotografer yang menurut saya tulen, yang memang paham betul dunia per “abstrak”an ini. Dan tidak berhenti hanya di pemahaman saja, saya bahkan sampai cari fotografer yang punya tampang yang “abstrak”, supaya lebih mantab jiwa. Untungnya, mereka semua bersedia menjadi juri (sudah pasti dengan embel-embel kopi, gorengan, dan juga rokok sebagai sesajen). 

Pada suatu hari yang telah ditentukan berkumpulah kawan-kawan itu di depan teras kedai kopi mas Bejo, dekat tukang kue cubit, di dekat kosan saya. Tergeletak di situ tidak kurang dari 10 foto abstrak, dua di antaranya adalah foto hasil jepretan Bedul. Saya sendiri tak tahu yang mana. Lalu saya persilakan lah mereka memilih yang mana diantara sepuluh foto abstrak itu satu foto abstrak yang palsu. 

Tegang sekali suasana saat itu! 

Delapan pasang mata tajam-tajam memandangi kesepuluh buah potret. Tapi rasa-rasanya, saya kenal sinar-sinar mata itu. Sinar mata orang yang sedang memikir teka-teki silang atau perkara seni yang berat. Sudah bisa saya duga, dan benar juga hasilnya bahwa saya harus menyerahkan 500 ribu perak kepada Bedul. Saya kalah. Dua buah lukisan abstrak yang mereka katakan palsu justru potret hasil jepretran si Ujang jambul.

Sakit hati saya, tapi saya tetap percaya dan yakin bahwa antara foto abstrak dan foto coreng-moreng, asal jepret sembarangan pasti ada bedanya. Pada suatu saat pasti ada yang bisa memberi keterangan yang sesungguhnya dan betul kepada Bedul, kawanku sekampung halaman itu. Mudah-mudahan saja cepat tiba saatnya supaya Bedul tidak sampai berlarut-larut.

Yang sudah terang adalah: saya kalah 500 ribu perak. Upah yang baru saja saya terima dari boleh jual potret, melayang sudah. Kata paman saya di rumah, ayah Bedul yang salah. Kata kakak saya, justru paman Bedul yang salah, karena tak diberikan ketentuan-ketentuan yang lengkap kepada Bedul bahwa pekerjaan yang harus didapatkannya di Jakarta itu adalah pekerjaan yang ada gunanya dan menghasilkan uang.

Tapi, kata mas Bejo si tukang gorengan dan kopi, sayalah, si “sok tau” ini, yang salah, karena saya mau ikut-ikut urusan orang lain.

Salam Jepret selalu.

(Kisah ini adalah kisah fiksi semata, tapi ceritanya terilhami oleh kejadian nyata yang saya alami sendiri!)

Artikel diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Jumat, 16 Juli 2021

Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Keempat


Komposisi Abstrak
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Jum'at, 16 Juli 2021

Selamat ketemu lagi Sobat. Seperti janji saya sebelumnya, coretan ini adalah sambungan dari artikel ketiga (Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Ketiga), dan artikel ini adalah episode keempat dari entah berapa episode yang ada dalam artikel ini. 

Nah, dibaca saja ya Sob!

Saya dengar kabar, sudah jalan tiga bulan ini Bedul terus-terusan ke mana-mana bersama Ujang, sudah seperti saudara kembar, menempel seperti bayangan.

"Berhentilah jadi fotografer abstrak ini, Dul," kata saya waktu saya temui lagi dia pada suatu malam di kedai kopi dan gorengan Mas Bejo dekat kosan saya.

"Alaaah, ada-ada saja kau ini....”

"Sungguh bukan yang begini yang dimaksud pamanmu dengan pekerjaan ringan itu. Carilah yang lain."

"Kenapa? Apakah kau juga menganggap fotografer abstrak itu pekerjaan rendah? Memang kata Ujang pun orang-orang kolot akan punya anggapan kalau pekerjaan fotografer itu bukan pekerjaan bonafide."

"Bukan begitu, tapi kau tak pandai dalam urusan seni...."Bedul mendelik matanya mendengar ini. "Kau kena bohong si Ujang," sambungku lagi.

“Dari mana kau tahu?” tanyanya sengit.

"Aku yakin, bagaimana seorang yang sama sekali tak paham seni, bahkan sama sekali tak tahu perkara seni, tahu-tahu bisa jadi fotografer,fotografer abstrak lagi? Ujang sudah kasih cerita bohong," sambungku lembut-lembut. Rupanya darahnya naik mendengar gurunya dikatakan pembohong.

"Kenapa kau mau ikut campur urusanku?" tanyanya setengah teriak.

"Karena aku kawan sekampungmu, Bedul. Kita sama sama sejak kecil." Lunak juga hati Bedul mendengar kata-kata yang kuucapkan dari dasar hati yang semurni-murninya itu. Tertunduk ia.

“Mana kau mengerti tentang seni fotografi abstrak, Kawan? Kata Ujang pun...."

"Baiklah," putusku gembira karena melihat maksudku hampir tercapai. "Jadi kalau orang-orang yang mengerti tentang fotografi abstrak mengatakan kalau foto-foto kau tak berarti sama sekali, mau kau berhenti jadi fotografer abstrak?"

"Baik," katanya. "Tapi aku kira aku bisa memotret, Kawan. Aku lihat sama saja foto-foto yang kubuat dengan foto yang dijepret oleh fotografer-fotografer abstrak lainnya."

"Banyak bedanya, dan memang hanya orang-orang yang mengerti dan banyak paham seni sedalam-dalamnyalah yang bisa membedakan itu."

"Jadi kalau ahli-ahli foto abstrak itu tak bisa membedakan foto hasil jepretanku dengan foto abstrak kawan-kawan lainnya, berarti aku bisa memotret abstrak, bukan?"

"Aku persilakan kau terus jadi fotografer abstrak, dan aku tambahkan lagi uang taruhan 500 ribu perak kalau memang mereka tak bisa membedakannya," kataku dengan bernafsu. Dan Bedul setuju.

Nyambung ya Sob, ke episode keempat, dengan judul: "Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Kelima"

Artikel diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Selasa, 22 Juni 2021

Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Ketiga


Bunga Rumput
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Selasa, 22 Juni 2021

Salam jumpa lagi Sobat. Seperti janji saya sebelumnya, coretan ini adalah sambungan dari artikel kedua (Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Kedua), dan artikel ini adalah episode ketiga dari entah berapa episode yang ada dalam artikel ini. 

Nah, silahkan dinikmati ya Sob!

Atas kehendak Tuhan juga tentunya tersesatlah Bedul pada suatu pagi ke Museum fatahillah di Kota Tua. Orang orang di sana sedang sibuk membuat persiapan untuk sesi pemotretan malam harinya, dan Ujang sedang asyik menyelesaikan pekerjaannya mengatur pernak pernik properti abstrak, miring ke sana miring kemari dan ada juga berbagai lukisan yang catnya belentang-belentong tak karuan. Di hadapan dekorasi yang tengah dikerjakan inilah Bedul lama berdiri. 

Ujang Jambul minta bantuan Bedul untuk membantu mengatur dekor itu. Tentu saja Bedul bilang bahwa ia tak bisa, dan diterangkan sekali bahwa sejak kecil ia paling bodoh dalam segala hal yang berbau seni. Tapi Ujang memaksa juga minta tolong. Bahkan Bedul diberi kebebasan pula untuk menata atau mencoretkan warna apa saja ke dekor itu. Dicoba Bedul juga. 

Dan apa kata Ujang? 

Ujang bilang, Bedul pandai menkomposisikan berbagai obyek, serta melukis abstrak. Ia mempunyai cita rasa paduan obyek serta warna yang artistik sekali dan murni yang datang dari kenaifan yang matang. 

Mungkin, dari begitu banyak ocehan Ujang ini, hanya kata "pandai" sajalah yang ia pahami. Tapi ini membuat Bedul cukup gembira. Untuk pertama kalinya ada orang yang mengatakan ia begitu. Maka asyiklah ia bekerja menata atawe mengkomposisikan berbagai obyek properti tadi, dan juga mencoreng-coreng dekor itu, dan Ujang Jambul bisa istirahat. Sementara itu, iseng-iseng Bedul mencoret-coretkan kuasnya ke berbagai obyek, membuat gambar daun pisang. Kembali Ujang memuji Mansur. Katanya Mansur pandai melukis abstrak, tentunya juga pandai memotret abstrak.

"Saya tak bisa melukis," kata Bedul, "lihat saja garisnya juga belengkak-belengkok."

"Tolol, bukan bentuknya yang penting dalam seni lukis modern, tapi jiwa dari lukisan itu. Dan kau bisa menjadi seorang pelukis modern, melukis abstrak. Kau telah berhasil menjelmakan suatu reaksi yang murni Komposisi warna yang kau susun sangat filosofis, juga mengalun dengan natural selaras dengan harmoni alam."

Panjang-lebar sekali keterangan Ujang itu. Kembali Bedul mendengar bahwa ia pandai "Seni". Alhasil, Bedulah yang akhirnya mengatur dan juga menata seluruh dekor itu. Kemudian di tanyakannya kepada Ujang, apa betul ia bisa menjadi seniman abstrak? Apakah fotografer abstrak suatu pekerjaan? Dan jadilah ia fotografer aliran fotografi abstrak. la yakin benar bahwa tak ada pekerjaan yang lebih ringan daripada fotografer abstrak ini, hanya modal jeprat-jepret, atau hanya cekrak-cekrek dan ini dipuji orang.


Artikel diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Minggu, 20 Juni 2021

Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Kedua


Fotografi Abstrak
trisoenoe.com

Radio Dalam, Kebayoran Baru, Jakarta, Minggu, 20 Juni 2021

Salam jumpa lagi Sobat. Seperti janji saya sebelumnya,  artikel ini adalah artikel lanjutan dari artikel pertama (Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Pertama), dan artikel ini adalah bagian kedua dari entah berapa episode yang ada dalam artikel ini. 

Ya sudah, silahkan menikmati ya Sob!

"Berani sumpah kau bahwa kau sekarang fotografer?" "Sumpah apa kau mau?" jawabnya tenang-tenang. Saya masih tidak bisa percaya. Sejak dulu memang dia paling berani bersumpah.

"Minum dulu kita?" sambungnya lebih tenang lagi. Betul betul saya jadi tidak bisa berpikir apa-apa mendengar ucapannya yang terakhir itu. Dan dengan tak insyaf saya rupanya telah mengikuti Bedul masuk ke kedai kopi belakang Toko Merah.

"Nanti bagaimana kalau ayahmu tahu kau jadi berantakan seperti ini, Dul?"

"Ini kan gaya hidup biasa buat kami." Barangkali maksudnya berantakan ala fotografer yang seniman,. 

"Dan aku sudah memenuhi permintaan ayahku juga, mendapatkan pekerjaan yang paling gampang," jawabnya, dan diteguknya gelas kopinya. Agak meringis-ringis dia karena masih belum dingin betul kopinya.

"Sudah banyak order yang datang padamu? Banyak uang kau!"

"Belum ada. Aku masih mendapat kiriman terus dari Ayah."

"Jadi kau tetap akan mengharapkan saja kiriman kiriman orangtua?"

"Memang kenapa? Kan aku sudah memenuhi permintaannya, mendapatkan pekerjaan yang paling gampang."

"Fotografer itu menurutmu pekerjaan yang paling gampang?" tanyaku. Dia hanya meneguk gelas kopi lagi dan kembali meringis seperti orang sedang minum jamu pahit.

"Kita kan dulu sebangku di Sekolah Dasar Inpres di Jalan pasar Kemis?" Dia langsung mengerti apa yang ku maksud, yakni bahwa saya tahu betul dia tak paham masalah seni sama sekali. Tapi dia tertawa terbahak-bahak, keras sekali. Hampir saya tampar, naik darahku, untung cepat saya bisa maklum bahwa efek kopilah yang membuatnya begitu.

"Lain, lain, Sobat. Aku juga baru tahu sekarang. Kesenian di sekolah memang neraka, tapi kesenian, terutama yang berkaitan dengan abstrak, seperti melukis atau sekarang yang aku tekuni, fotografi abstrak, adalah pekerjaan yang paling gampang." 

"Jadi kau fotografer abstrak?

Bedul mengangguk.

"Bisa kau memotret abstrak?"
"Kenapa tidak? Semua orang juga bisa. Kau juga bisa kalau mau."
"Kau salah Bedul," saya ingatkan. "Fotografi abstrak, sama halnya dengan lukisan abstrak, adalah aliran fotografi yang sudah lanjut sekali, dan itulah yang paling sukar."

"Kalau aku bisa kau mau apa?"

"Siapa yang bilang kau bisa memotret abstrak ini?"

"Ujang Jambul." (Saya samarkan nama asli dari sang fotografer abstrak ini, demi menjunjung kode etik...hehehe)

Saya juga kenal Ujang Jambul, seorang fotografer abstrak yang kesohor, makanya jadi tak begitu sukar saya mendapat keterangan-keterangan apa sebabnya kawanku Bedul ini jadi begini. Inilah kisahnya.

Nyambung ya Sob, ke episode ketiga, dengan judul: "Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Ketiga"

Artikel diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Sabtu, 19 Juni 2021

Kata Mas Bejo si Tukang Gorengan dan Kopi, Sayalah yang Salah (Cerita tentang “Fotografer” genre Fotografi Abstrak) Episode Pertama


Noktah Daun - Fotografi Abstrak
trisoenoe.com

Radio Dalam, Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu, 19 Juni 2021

(Kisah ini adalah kisah fiksi semata, tapi ceritanya terilhami oleh kejadian nyata yang saya alami sendiri!)

Semua orang pintar dan “cenayang” yang kesohor di kampung kami semuanya meramalkan, bahwa Pak Uban (Bukan nama sebenarnya ya Sob, sebaiknya saya samarkan namanya, supaya tak ada yang sakit hati), orang yang paling anti kepada È›akhayul itu tak akan pernah dikaruniai anak. Tapi kehendak Tuhan jugalah kiranya yang tetap berlaku. Dunia “orang pintar” dan per”cenayangan” langsung dilanda gempa hebat, Bu Uban melahirkan seorang anak laki-laki. Mulut-mulut yang usil, fanatikus-fanatikus “alam gaib”, mengatakan bahwa anak Pak Uban ini adalah anak yang didapatnya karena mereka minta-minta kepada jin botak dan lelembut di Gunung Kidul. Ucapan-ucapan ini tak sedikit pun berarti buat Pak Uban atau mengurangi cintanya kepada anak yang kemudian ternyata satu-satunya itu. Ya, Bedul adalah anak mereka semata wayang.

Cinta orang tua Bedul sangatlah berlebih-lebihan kepadanya, karena selain mereka hanya mempunyai seorang anak itu saja, mereka menganggap bahwa Bedul adalah karunia Tuhan lantaran mereka tekun beribadah. Semua yang diminta dan diinginkan Bedul tak satu pun yang ditolak, apalagi Pak Uban adalah termasuk orang berpunya di kampung kami. Tapi ternyata kasih-sayang yang begitu tidak membuat Bedul menjadi baik. Ia terhitung seorang anak yang banyak tertinggal, baik di sekolah maupun dalam pergaulan. Ia sangat manja dan tak mau berpikir. Usia Bedul telah mencapai 25 tahun, tapi tetap juga bersifat kekanak-kanakkan dan sangat pemalas. Bedul menjadi buah pembicaraan orang kampung dan bermacam macamlah ramalan orang tentang masa tua Bedul nanti. 

Pola Daun - Fotografi Abstrak
trisoenoe.com

Salah seorang paman Bedul, yakni abangnya Pak Uban, meramalkan bahwa Bedul akan menjadi dedemit kalau ia tetap saja berada di kampung dan dimanjakan oleh orangtuanya. Paman ini sangat berpengaruh di antara keluarga, dan seluruh keluarga besar sangat menyetujui usulnya supaya Bedul pergi dari kampung, merantau mencari pengalaman. Bedul tak boleh kembali ke kampung serta tak diakui keluarga mereka kalau ia tak mendapatkan kerja yang betul-betul kerja, kerja yang diupah alias digaji. Ini sangat berat diterima oleh orangtua Bedul, tapi mereka tak bisa berbuat lain. Bedul harus pergi ke Jakarta mencari pengalaman dan mendapatkan kerja yang sebenarnya, demikian putusan keluarga. Tapi sebelum ia pergi masih sempat juga Pak Uban membisiki Bedul, "Carilah kerja yang paling gampang dan tak payah, ya Nak!"

Bermacam-macamlah ramalan orang-orang tentang bagaimana jadinya dengan si Bedul ini di perantauan. Bermacam-macamlah, tapi tak seorang pun menerka bahwa Bedul akan menjadi seorang fotografer di Jakarta. Dan saya sama sekali tak bisa mempercayainya, tidak seujung rambut pun, karena saya kenal betul sejak sama-sama di bangku sekolah dulu di Sekolah Dasar Inpres di Jalan pasar Kemis, Tangerang. Dia duduk sebangku dengan saya. Fotografi itu adalah seni, dan kesenian adalah pelajaran yang paling dibencinya, karena betul-betul harus di kerjakannya sendiri, sedangkan pelajaran-pelajaran yang lain dia masih bisa curi-curi contek dari saya. Kalau belum jidatnya kena jitak paling sedikitnya tiga kali, belum pernah ia mau menekuni kesenian. 

Coretan Ranting - Fotografi Abstrak
trisoenoe.com

Tapi, hari ini, saya dengan mata-kepala saya sendiri telah menjumpai dia di emperan Toko Merah, di Kota Tua, Jakarta. Dia kongkow di antara beberapa fotografer lainnya yang asyik ngobrol. Semua keterangan yang kudapat dari kawan-kawan yang mengenalnya mengatakan bahwa Bedul adalah fotografer tulen. Dan Bedul sendiri mengakuinya. Sungguh mati saya tidak percaya. Kalau potongan memang ada, karena sudah sejak dulu ia paling malas cukur rambut. Dan saya tidak kaget sama sekali kalau menjumpai Bedul yang jauh dari orangtuanya ini rambutnya gondrong dan kumisnya berantakan. Tapi Bedul jadi fotografer? Sungguh tak masuk akal sama sekali! Bagaimana ia jadi memilih pekerjaan yang berkaitan dengan seni, sedang ayahnya bilang supaya ia mencari pekerjaan yang semudah-mudahnya?


Artikel ditulis oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Senin, 31 Mei 2021

Tiga Aturan Emas Fotografi! (Ini Bukan Ilmu Silat...Ini Ilmu Fotografi!) - Tulisan Bagian Kedua


Ranting Pohon
trisoenoe.com

Radio Dalam, Kebayoran Baru, Jakarta, Senin, 31 Mei 2021

Salam jumpa lagi Sobat. Seperti janji saya sebelumnya,  artikel ini adalah artikel lanjutan dari artikel pertama (Tiga Aturan Emas Fotografi! (Ini Bukan Ilmu Silat...Ini Ilmu Fotografi!) - Tulisan Bagian Pertama)), dan artikel ini adalah bagian akhir dari dua episode tersebut. Silahkan menikmati ya Sob!

SHUTTER SPEED

Kecepatan rana (shutter speed) adalah durasi kamera membuka sensor untuk menyerap cahaya. Semakin lama durasinya, semakin banyak cahaya yang masuk ke kamera dan hasil foto akan bertambah terang.

Satuan shutter speed adalah dalam detik atau pecahan detik. Biasanya berawal dari 1/4000 detik sampai dengan 30 detik, atau terus terbuka sampai kita tutup. Nah, bedanya shutter speed dengan aperture adalah, setelan variasi shutter speed ini diatur dari badan kamera, dan bukan dari lensa.

Selain mempengaruhi kuantitas cahaya yang masuk, shutter speed mempengaruhi foto dalam dua hal:


Kecepatan rana yang cepat untuk membekukan (freeze) alias menjepret objek yang bergerak (misalnya kalau kita memotret paning).
Kecepatan rana yang lama paling cocok untuk menangkap gerakan (motion) objek secara berkesinambungan.

Dalam praktek, kita mengunakan kecepatan rana yang tinggi untuk membekukan gerakan subjek yang bergerak, seperti pada foto liputan olahraga. Sebaliknya, kita mengunakan kecepatan rana yang rendah untuk merekam efek gerak, seperti dalam merekam pergerakan air terjun.

Membangun
trisoenoe.com

ISO

ISO adalah ukuran sensitivitas sensor terhadap cahaya. Ukuran dimulai dari angka 50, 80 atau 100 dan akan berlipat ganda sampai 3200 atau lebih besar lagi. ISO dengan ukuran angka kecil berarti sensivitas terhadap cahaya rendah, ISO dengan angka besar berarti sebaliknya.

ISO dengan angka besar atau disebut juga ISO tinggi akan menurunkan kualitas gambar karena munculnya bintik-bintik yang dinamakan “noise”. Foto akan terlihat berbintik-bintik seperti pasir dan detail yang halus akan hilang. Tapi untuk kondisi yang sulit seperti sedikit cahaya dalam ruangan, ISO tinggi seringkali diperlukan.

Di era kamera analog, ISO dikenal juga dengan ASA. Di jaman analog, ASA tergantung dari film yang kita pasang di dalam kamera. Namun di jaman sekarang, ISO bisa diubah sewaktu kita menghendakinya melalui kamera.

Dengan bermain dengan tiga setting dasar kamera, Sobat akan dapat membuat foto Sobat menjadi gelap, terang atau sedang. Gelap terangnya hasil akhir dalam foto tentunya tergantung selera Sobat sendiri.

Lorong
trisoenoe.com

Akhir kata, itulah tiga aturan emas yang wajib tak wajib harus kita kuasai untuk mendapatkan foto yang ciamik. Jadi, “feel” saja tanpa diiringi alias di”gosok” dengan teknik-teknik dasar fotografi yang tepat, akan mengurangi ke”ciamik”an dari hasil foto kita.

Akhir kata, semoga tulisan ini bisa berguna bagi Sobat semua ya.

Salam jepret selalu

Tetap sehat, tetap semangat!

Artikel ini diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

(Artikel ini, sudah tayang di infofotografi.com, dengan judul: Segitiga emas fotografi – Exposure, yang ditulis oleh sang maestro ENCHE TJIN.)

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA