Sabtu, 21 Februari 2026

Semua Orang Punya Kamera, Tapi Tidak Semua Orang Fotografer: Mencari Arti Sejati Fotografi di Era AI (Bagian Pertama)



Beraban, Kediri, Tabanan, Sabtu, 21 Februari 2026

Semua Orang Punya Kamera, Tapi Apa Sobat Punya Alasan Memotret?


Selamat pagi, siang, sore dan malam wahai para pemuja aesthetic dan pemburu golden hour yang rela berdiri 45 menit demi cahaya 3 menit.

Mari kita jujur sebentar. Di zaman sekarang, memegang kamera—entah mirrorless dua digit yang cicilannya lebih panjang dari hubungan terakhir Sobat, atau sekadar smartphone yang kameranya lebih canggih dari laptop kantor—sudah seperti hak asasi manusia. Masuk kafe estetik, cekrek. Lihat genangan air (yang sebenarnya bekas oli), cekrek, kasih filter moody. Kita semua merasa seperti Henri Cartier-Bresson versi tongkrongan.

Tapi pernahkah Sobat bangun pagi, melihat tas kamera yang menggantung di sudut kamar, lalu bertanya dalam hati:
“Sebenarnya gue ini motret buat apa, sih?”
“Apa bedanya gue sama bapak-bapak yang motoin anaknya makan es krim di Dufan?”

Kalau Sobat pernah sampai di titik krisis identitas visual seperti ini, selamat. Itu tanda Sobat masih berpikir.

Seorang kreator visual bernama Teo Crawford pernah mengulas tentang fenomena keresahan ini. Ia mengakui bahwa di tengah banjir AI, filter instan, dan kamera yang tajamnya bisa melebihi silet, menjadi “fotografer” tidak lagi sesederhana punya kamera. Sekarang semua orang punya kamera. Bahkan AI bisa bikin foto yang technically flawless tanpa keringat, tanpa salah fokus, tanpa lupa set white balance.

Jadi kalau sekadar menghasilkan gambar “bagus”, AI justru paling bisa. Kalau sekadar punya kamera, hampir semua orang juga bisa. Lalu, apa yang tersisa buat Sobat?


1. Krisis Sejuta Umat: “Hari Ini Motret Apa, Ya?”


Sobat pasti pernah mengalami ini.

Sudah mandi. Sudah wangi. Tas kamera siap. Baterai full. Memory card kosong. Datang ke lokasi—dan… kosong.

Semua terlihat biasa.
“Ah, pohon doang.”
“Lampunya nggak dramatis.”
“Langitnya flat.”

Akhirnya, Sobat malah duduk, scroll TikTok atau Instagram, dan melihat orang lain motret hal yang juga sebenarnya biasa saja, tapi entah kenapa kelihatan keren pakai level maksimal.

Masalahnya sering bukan di tempatnya. Bukan juga di gear-nya. Masalahnya ada di kepala kita yang terlalu sibuk mikirin teknis: ISO berapa, lensanya tajam nggak di pojok, dynamic range cukup nggak.

Kita lupa satu hal: kenapa kita membawa benda seberat itu di leher.

Dulu, menjadi fotografer itu simpel. Punya kamera saja sudah dianggap level serius. Sekarang? Kamera ada di setiap kantong baju atau celana. Bahkan anak SD bisa bikin foto yang exposure-nya lebih rapi daripada sebagian foto Sobat waktu pertama belajar jeprat dan jepret.

Di era ini, identitas fotografer tidak lagi ditentukan oleh alat. Tapi oleh kesadaran.


2. Fotografi Itu Bukan Soal Dunia, Tapi Soal Waktu


Teo Crawford mengajak kita berpikir lebih dalam. Fotografi bukan sekadar merekam dunia. Kalau cuma soal meniru realitas, pelukis realis sudah melakukannya ratusan tahun sebelum sensor CMOS lahir.

Perbedaannya ada pada satu hal besar: waktu.

Fotografi adalah satu-satunya medium yang benar-benar menangkap potongan waktu. Saat Sobat menekan shutter, Sobat sedang melakukan operasi kecil pada realitas. Sobat memotong satu detik dari arus kehidupan, membekukannya, lalu menyimpannya.

Kedengarannya dramatis? Memang.

Tapi itu faktanya. Sobat tidak pernah bisa memiliki masa kini. Begitu Sobat sadar, momen itu sudah lewat. Tapi lewat foto, Sobat bisa memiliki masa lalu.

Dan di situlah letak kekuatan fotografi yang sering kita anggap remeh.


3. Kekuatan Foto yang Hari Ini Terlihat “Biasa”


Kita sering terlalu obsesif bikin foto yang mind-blowing sekarang juga. Harus simetris. Harus cinematic. Harus viral. Bombastis dan hebat serta memukau bahkan jika menggunakan skala surga.

Padahal, banyak foto besar dalam sejarah terlihat biasa saat diambil.

Teo bercerita tentang foto hitam putih lama dari tahun 1970-an di sebuah stasiun kereta kecil di Jepang. Secara teknis mungkin biasa saja. Tapi hari ini, foto itu menjadi dokumen berharga karena stasiunnya sudah berubah total.

Di sinilah satirnya: kita sering meremehkan foto warung kopi pinggir jalan, foto gang sempit, foto wajah lelah teman saat menunggu pesanan. Kita bilang, “Ah, nggak penting.”

Coba tunggu 20 tahun.

Foto itu mungkin akan menjadi saksi perubahan zaman. Artefak kecil dari masa yang sudah hilang.

Sobat mungkin tidak sadar, tapi setiap kali memotret hal yang tampak biasa, Sobat sedang membangun kenangan untuk dilihat dimasa depan.

Dan ini yang sering kita lupakan karena terlalu sibuk mengejar like.

Tapi pertanyaan besarnya belum selesai. Kalau semua orang bisa memotret, kalau semua orang bisa menyimpan potongan waktu, lalu apa yang benar-benar membedakan fotografer dengan orang yang sekadar menekan tombol shutter? Apakah cukup hanya dengan “niat” dan “perasaan”? Atau ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar momen?

Di bagian kedua, kita akan membedah garis tipis antara fotografer sejati dan sekadar tukang dokumentasi—dan kenapa kesadaran jauh lebih penting daripada sekadar kamera mahal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar