Selasa, 05 April 2016

Foto dari komunitas Banana's.....Edisi Foto Close Up



Ciledug, Tangerang, Banten, Selasa, 5 April 2016

Edisi Foto Close Up: Menangkap Jiwa dalam Bingkai Terdekat

Salam jepret, Sobat semuanya! Kali ini kita akan kembali menyelami salah satu teknik yang paling "intim" dalam dunia fotografi, yaitu Foto Close Up.

Bagi banyak orang, terutama para pengguna media sosial yang haus akan validasi visual, foto close up adalah menu wajib. Entah itu untuk foto profil LinkedIn agar terlihat profesional, atau sekadar foto profil WhatsApp supaya teman lama tidak lupa wajah kita. Namun, tahukah Sobat bahwa close up bukan sekadar menaruh kamera di depan hidung lalu menekan tombol shutter?

Lebih dari Sekadar Potongan Wajah

Secara teknis, close up adalah bidang pandang yang mengambil objek manusia dari dagu hingga ujung kepala. Tujuannya sangat spesifik: memberikan ketajaman maksimal pada objek sasaran. Dalam teknik ini, latar belakang dan lingkungan seolah dipaksa mengalah, membiarkan mata dan ekspresi subjek menjadi penguasa tunggal di dalam bingkai (frame).

Seringkali kita melihat foto profil yang diambil begitu saja tanpa perhitungan. Padahal, kekuatan utama close up terletak pada kemampuannya menyatukan subjek dengan emosinya. Saat kita meniadakan ruang di sekitar wajah, kita sebenarnya sedang mengajak pemirsa untuk "mengobrol" langsung dengan mata si model. Itulah alasan mengapa mata harus selalu menjadi titik fokus paling tajam dalam sebuah potret.

Keluar dari Jebakan "Eye Level"

Salah satu kesalahan pemula (termasuk saya dulu) adalah terlalu setia pada sudut pandang sejajar mata atau eye level. Memang, eye level memberikan kesan jujur dan apa adanya, tapi kalau terus-menerus dipakai, hasilnya akan terasa hambar—mirip foto di buku ijazah atau KTP yang kaku dan tanpa nyawa.

Untuk membuat foto close up yang lebih "berbicara", kita harus berani bereksperimen dengan perspektif. Cobalah mengambil sudut sedikit lebih tinggi (high angle) untuk memberikan kesan lembut, atau sedikit lebih rendah (low angle) untuk memberikan kesan subjek yang lebih berwibawa dan kuat. Sedikit kemiringan pada kepala model juga bisa mengubah drastis karakter foto dari yang tadinya kaku menjadi lebih dinamis dan artistik.

Cahaya: Sang Sutradara Tersembunyi

Pencahayaan adalah kunci rahasia dalam close up. Karena kita fokus pada detail wajah, bayangan yang jatuh pada hidung atau bawah mata akan terlihat sangat jelas. Cahaya alami dari jendela (window light) biasanya menjadi sahabat terbaik bagi fotografer close up karena sifatnya yang lembut dan mampu menciptakan gradasi yang halus pada kulit.

Jangan sekali-kali menggunakan flash langsung dari depan wajah jika tidak ingin model yang sedang Sobat potret terlihat seperti terkena ledakan cahaya yang meratakan semua dimensi wajahnya. Jika harus menggunakan lampu tambahan, pastikan ada pemantul (reflector) atau sumber cahaya dari samping agar wajah memiliki tekstur dan kedalaman.

Catatan Sampingan: Drama di Balik Lensa (Encok dan Gemetar)
Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang sering tidak diceritakan di buku teks fotografi: Perjuangan Fisik.

Memotret close up itu menuntut kesabaran tingkat dewa. Bayangkan, Sobat harus menahan napas sekuat tenaga supaya kamera tidak goyang (shaking) saat fokus sudah terkunci pada pupil mata model. Sedikit saja Sobat bernapas terlalu keras, fokus bisa meleset ke ujung bulu mata atau bahkan ke dahi. Alhasil, foto yang harusnya estetik malah jadi blur.

Belum lagi urusan "encok" yang mendadak menyerang karena Sobat harus berjongkok atau meliuk-liuk mencari sudut pandang yang bukan eye level. Belum lagi drama kalau baterai kamera mulai berkedip merah tepat saat si model sedang memberikan ekspresi terbaiknya. Di saat seperti itulah, iman kefotografian kita benar-benar diuji antara ingin terus memotret atau ingin membanting kamera karena kesal.


Kesimpulan: Teruslah Mendekat

Jadi, buat Sobat jepret semua, jangan takut untuk mendekat. Foto close up adalah cara terbaik untuk melatih kepekaan kita terhadap detail dan emosi manusia. Jangan puas hanya dengan hasil yang "penting kelihatan mukanya". Eksplorasi cahayanya, mainkan sudut pandangnya, dan yang terpenting: jaga komunikasi dengan model Sobat supaya mereka tidak merasa sedang diinterogasi oleh lensa kamera.

Demikian ulasan singkat edisi close up kali ini. Semoga menginspirasi Sobat semua untuk terus berkarya. Tetap sehat, tetap semangat, dan jangan lupa isi penuh baterai kamera Sobat sebelum berangkat memotret!

Artikel oleh: Tuntas Trisunu

2 komentar:

  1. Hasil karya yang sangat menarik serta menambah wawasan! Dan juga foto-foto yang luar biasa....Great Job!

    BalasHapus
  2. Lumayan bagus....mantab lah mas ! Ditunggu karya lainnya...4 Jempol!

    BalasHapus