Rabu, 14 Februari 2018

FOTOGRAFI JALANAN (STREET PHOTOGRAPHY) SERIE 2.



Kemayoran, Jakarta, Rabu, 14 Februari 2018

Ya! Hari ini tanggal 14 Februari 2018, tanggal dimana banyak kaum muda yang terserang penyakit latah massal! Hari ini lebih dikenal dengan "Valentine Day", dan kalau menurut penuturan mereka sih.....artinya.."hari kasih sayang!

Wah....saya lebih memilih no comment alias tak berkomentar deh...selain dari faktor "U" yang memang ga bisa dibohongi, ada hal-hal lain yang menurut saya, kurang tepat kalau kasih sayang itu hanya diimplementasikan hanya 1 hari dalam 1 tahun! Bukan sesuatu hal yang masuk akal menurut saya!


Tetapi, itu kan hanya menurut perspektif saya saja....Untuk orang lain...Saya tak ingin memaksakan perspektif itu kepada mereka.


Nah, sekarang Saya lebih memilih untuk membahas tentang apa yang Saya suka.....yaitu...."Fotografi"
Dan yang ketiban "apes" untuk saya bahas kali ini, adalah fotografi jalanan atau street photography.


Dalam postingan sebelumnya, sudah saya ulas tentang aliran fotografi ini (baca postingan Street Photography). Tetapi, supaya lebih menyegarkan, ada baiknya kalau saya ulas kembali tentang definisi street photography.



Alkisah....Inilah Street Photograpy menurut para pakar, seperti dituturkan dalam wikipedia
Fotografi jalanan (bahasa Inggris: street photography) adalah salah satu aliran dalam fotografi. Fotografi jalanan umumnya memuat objek yang diambil di ruang terbuka publik dalam kondisi candid atau tanpa pengarahan. Belum ada kesepakatan mengenai padanan yang baku untuk street photography dalam bahasa Indonesia, namun istilah fotografi jalanan sering dipakai dalam beberapa kesempatan. Foto-foto dalam street photography dapat mengambil lokasi dari berbagai ruang publik seperti jalan, pasar, mal, terminal, stasiun kereta api, dan sebagainya.

Fotografi jalanan termasuk gaya yang paling tua,  sudah mulai di Malaysia oleh Lambert dan beberapa fotografer di era penjajahan belanda di Indonesia. Istilah ini lebih tepat berdekatan dengan fotografi jurnalistik. Walaupun awal perkembangannya ada aliran surealisme seperti Bill Brandt, Henri Cartier Bresson. Walaupun gaya Bresson berubah setelah masuk Magnum menjadi gaya yang lebih mudah dimengerti dan bisa masuk kategori foto kehidupan sehari-hari di jalan raya. Paduan ganjil antara subyek yang difoto misalkan ada maneken atau ada patung malaikat di taman atau di tempat yang semestinya bukan tempat maneken atau patung malaikat tersebut. Sehingga saat di foto terlihat paduan yang ganjil dan sering disebut surealisme. Pengaruh surealisme ini besar pada foto jalanan.

Fotografer yang memotret di jalan tidak semuanya akan terlihat surealisme, bahkan ada fotografer yang puluhan tahun bereksperimen di jalan dan foto-fotonya tidak mencerminkan jurnalistik atau bukan untuk dipasang di majalah atau surat kabar. Harry Callahan memotret jalanan dan dipengaruhi oleh pelukis Balthus, dia bereksperimen dengan memotret gap antar bangungan, jendela, memotret jalananan di malam hari, memotret cropping pejalan kaki, dan banyak eksperimen lainnya. Begitu pula dengan fotografer Jeff Wall yang mengatur 3 model untuk berperan sebagai peristiwa rasialisme di jalan. https://en.wikipedia.org/wiki/Jeff_Wall Foto jalanan biasanya tidak diatur (setting).

Foto-foto yang diambil pada aliran fotografi ini umumnya memakai teknik foto langsung, alias tanpa diatur-atur. Foto menggambarkan kondisi apa adanya dengan meminimalkan manipulasi objek. Dalam perkembangannya, fotografi jalanan banyak memasukkan unsur-unsur seperti surealisme, humor, dan kejutan dalam komposisinya. Untuk mendapatkan unsur-unsur tersebut dalam suatu foto, perlu dicari saat yang paling tepat dengan posisi objek yang unik.
Sejarah

Aliran fotografi ini berawal dari Eropa, saat Eugene Atget mulai mengabadikan suasana jalanan kota Paris sekitar tahun 1890-an hingga 1920-an. Foto-foto Atget banyak mengambil objek arsitektural, dan hanya sedikit sekali mengambil manusia sebagai subjek foto. Hal ini berbeda sekali dengan fotografi jalanan kontemporer yang dikenal sekarang, yang hampir selalu menyertakan manusia sebagai subjek fotonya. Henri Cartier-Bresson mulai memasukkan unsur manusia dan komposisi surealismenya dalam foto-fotonya yang diambil sejak awal tahun 1940-an, hingga akhirnya aliran inilah yang makin berkembang hingga bentuk fotografi jalanan yang populer hingga sekarang.

Di Indonesia, aliran fotografi ini masih tergolong muda dibandingkan aliran lainnya. Fotografi jalanan baru mulai berkembang di Indonesia pada sekitar tahun 1990-an, dan makin populer pada dekade pertama tahun 2000-an seiring berkembangnya teknologi fotografi digital.


Nah, demikianlah penuturan para ahli, tentang definisi fotografi jalanan, saya tidak setuju 100% dengan penuturan tersebut di atas. Bagi saya, fotografi jalanan adalah satu aliran, dimana kita mengambil foto ataupun obyek di ruang terbuka, atau dijalanan untuk lebih kakunya. Obyeknya bisa apa saja, bisa benda, bisa manusia, ataupun hewan dan tumbuhan. Pokoknya, apa saja, yang penting, harus mampu merepresentasikan kondisi yang se “benar-benar” nya, tanpa di edit habis-habisan, atau diatur sedemikian rupa! 

Demikianlah penuturan saya kali ini, sahabat jepret semua, SEMOGA berkenan, dan salam jepret!








10 komentar:

  1. Artikel yang sangat menarik serta menambah wawasan! Great Job!

    BalasHapus
  2. Hasil karya yang sangat menarik serta menambah wawasan! Dan juga foto-foto yang luar biasa....Great Job!

    BalasHapus
  3. Lumayan bagus....mantab lah mas ! Ditunggu karya lainnya...4 Jempol!

    BalasHapus
  4. Lumayan bagus....mantab lah mas ! Ditunggu karya lainnya...4 Jempol!

    BalasHapus
  5. Luar biasa, sungguh luar biasa! bentuk kreasi yang boleh dikatakan hasil cipta dari mahakarya!

    BalasHapus
  6. Karya yang menarik! Menambah wawasan serta memberikan sudut pandang yang berbeda!

    BalasHapus
  7. karya yang luar biasa! Menarik dan punya perspektif yang berbeda!

    BalasHapus
  8. Karya yang cukup menarik, menyajikan hasil foto dalam bentuk dan perspektif yang berbada!

    BalasHapus
  9. Artikel yang sangat menarik dan juga inspiratif! Layak untuk dibaca, dan juga mampu menambah wawasan serta referensi kita terhadap fotografi dan juga yang lain!

    BalasHapus