Mendung! Ya, Jakarta hari ini sedang tak tentu cuacanya. Masih di masa peralihan, dari musim hujan menuju musim kemarau. "Pancaroba" kalau menurut istilah bakunya; tapi kalau menurut istilah saya, ini adalah cuaca di mana jemuran tidak kering-kering, tapi cucian terus bertambah.
Setelah beberapa hari ini Jakarta dilanda panas luar biasa yang rasanya bisa membakar semangat juang 45, hari mendung ini terasa seperti berkah yang tidak ternilai harganya. Tidak gerimis, apalagi hujan badai, hanya mendung! Cukup dingin untuk tidak bikin keringat mengucur deras seperti air keran, dan sangat cukup untuk menjadi alasan tambahan memesan segelas kopi lagi, tambahan gorengan yang panas, dan bagi para penggemar—baca: pecandu—rokok, suasana ini adalah suasana yang sangat 'halal' untuk kembali menyalakan sebatang... rokok!
Nah, karena suasana cukup mendukung dan kopi di tangan masih panas, maka izinkan saya untuk kembali menulis sesuatu yang bersifat... Fotografi!
Apa Itu Foto Hitam Putih? (Selain Soal 'Malas Edit Warna')
Sekarang saya ingin membagi sedikit tentang memotret tanpa warna. "Yah"... sebenarnya kurang tepat juga kalau dikatakan tanpa warna, sebab menurut teori seni rupa, putih itu adalah kumpulan semua warna, dan hitam itu... eh... lupakan teori itu. Intinya adalah: FOTO HITAM-PUTIH!
(Bagi yang ingin tahu kenapa saya suka aliran ini, silakan baca postingan FOTOGRAFI HITAM PUTIH - KENIKMATAN DALAM FOTO HITAM PUTIH)
Lalu, apa sih sebenarnya esensi dari foto hitam putih? Kenapa di tahun 2018, di mana layar HP sudah bisa menampilkan miliaran warna yang norak, kita malah mundur ke tahun 1920?
Ada filosofi mendasarinya, Sobat jepret. Menurut penuturan beberapa fotografer yang memang benar-benar fotografer sejati—bukan seperti saya yang hanya seorang "fotografer", yang paling banter cuma bisa membedakan mana tombol shutter dan mana tombol power—foto hitam putih adalah suatu karya, di mana foto tersebut "memaksa" orang yang melihatnya, untuk menikmati "bentuk" ketimbang warna.
Bayangkan sobat memotret seekor macan berwarna. Yang sobat lihat adalah oranye-hitamnya yang gagah. Tapi saat diubah ke hitam putih, yang sobat lihat adalah tekstur bulunya yang kasar, ototnya yang tegang, dan tatapannya yang tajam. Warna, dalam hal ini, dianggap sebagai 'distraksi' norak yang memperlemah kekuatan dari bentuk asli dalam frame!
Filosofi yang 'Terlalu Njepit' (Njelimet Tapi Penting)
Dengan kata lain, dengan menyajikan suatu foto ke dalam warna hitam-putih, maka filosofi dari foto tersebut akan berbelok: dari "bercerita secara apa adanya, dengan menyajikan keindahan warna" menjadi "bertutur kata melalui imajinasi yang didasari pada ingatan".
Wah... saya sih lebih merasa kalau filosofi ini terlalu njelimet, terlalu berat, terlalu rumit serta kaku. Rasanya seperti mencoba menjelaskan teori relativitas Einstein kepada seekor ayam goreng.
Tapi tenang, Sobat! Untuk membuat perspektif kita lebih berimbang, saya tidak akan hanya mengandalkan isi otak saya yang sedang buntu ini. Ada baiknya saya kutip penuturan dari para ahli yang memang fotografer sejati. Berikut rangkuman teknisnya (diambil dari laman askthephotographer.com, agar artikel ini terlihat agak 'ilmiah' sedikit):
Rangkuman Kata Ahli: Kenapa Sobat Harus Mencoba Hitam Putih?
Daripada sobat pegal mata membaca blok teks yang panjang, mari saya rangkumkan dalam poin-poin penting berikut:
- Pentingnya Kontras & Pencahayaan: Foto hitam putih tidak hilang begitu saja, tapi masih cukup digemari hingga saat ini untuk menyajikan kesan klasik. Mengabadikan foto hitam putih tidaklah sama dengan foto berwarna, karena kita harus lebih memperhatikan kontras (perbedaan terang dan gelap yang ekstrem) ketimbang warna itu sendiri.
- Kondisi Cuaca yang Pas: Fotografi hitam putih justru sangat baik saat kondisi kontras rendah, seperti cuaca yang sedang mendung (seperti hari ini, Sobat!).
- Bayangan Adalah Koentji: Kita perlu memperhatikan lebih dalam tentang komposisi. Penonjolan bentuk dan pencahayaan sangat diperlukan. Di sinilah bayangan (shadow) berperan sangat penting untuk menciptakan dimensi dan kekuatan emosi. Sebuah subjek dengan pencahayaan redup mungkin terlihat 'mati' di foto berwarna, tapi bisa sangat 'powerful' di hitam putih.
- Menampilkan Kesan Murni & Emosi: Foto hitam putih mampu menyampaikan kesan murni serta emosi yang sangat kuat. Inilah mengapa foto jurnalis/portrait/wedding yang ingin menghadirkan kesan klasik, historik dan jujur, seringkali menggunakannya.
- Tantangan Visualisasi: Kunci utama untuk mendapatkan gambar hitam putih yang menarik adalah sobat mampu membayangkan subjek yang berwarna dalam kondisi hitam putih dan terus mencoba menvisualisasikan bagaimana hasil akhirnya.
Penutup: Kembali ke Kopi
Demikianlah penuturan dari sang fotografer ahli tersebut. Apakah filosofi yang dia utarakan sesuai dengan selera Sobat jepret sekalian, atau tidak... wah... itu sih terserah Sobat saja. Masalah selera seni itu seperti masalah selera kecap; ada yang suka manis, ada yang suka asin, dan ada yang suka kecap yang tidak bermerek.
Jadi, masalah filosofi itu kembali ke diri kita masing-masing. Setiap orang memiliki perspektif sendiri untuk setiap karyanya, dan itu adalah hak asasi! Tidak ada yang boleh memaksa sobat untuk menyukai hitam putih.
Tapi kalau sobat masih bingung, mari kita balik ke dasar:
"Kalau sobat salah setting white balance sampai warna foto jadi oranye aneh, ubah ke hitam putih. Dan bam! Foto sobat langsung jadi 'seni'."
Salam Jepret Selalu Ya sob! Tetap Sehat, Tetap Semangat! Kopi saya sudah dingin, rokok saya sudah habis, tapi artikel ini... akhirnya selesai!





Postingan yang bagus!
BalasHapuskarya yang luar biasa! Menarik dan punya perspektif yang berbeda!
BalasHapusKarya yang cukup menarik, menyajikan hasil foto dalam bentuk dan perspektif yang berbada!
BalasHapusArtikel yang sangat menarik dan juga inspiratif! Layak untuk dibaca, dan juga mampu menambah wawasan serta referensi kita terhadap fotografi dan juga yang lain!
BalasHapus