Nah, Sobat jepret semuanya, saya akan menepati janji yang saya tulis di artikel sebelumnya, saya akan sambung tulisan yang tempo hari sudah saya tayangkan, dan artikel ini adalah lanjutan tulisan dari artikel bagian ketiga (Om, Gimana Caranya Biar Bisa Kelihatan Kaya Tukang Potret Kelas Kakap Alias Profesional? (Nasehat ngasal yang disajikan dalam cerita tiga episode, dan ini episode ketiga)), dan inilah artikel bonus seperti yang sudah saya janjikan:
Kami masih menyambung obrolan semenit dua menit sambil merokok. Panjul mencatat nasihat saya di ponselnya dengan tekun, sesekali bertanya, “Batu batanya merek apa, Om?” Saya jawab sebisanya, dengan wibawa orang yang sedang menjerumuskan seseorang secara sistematis.
Tak lama kemudian ia pamit. Besok ia hendak memotret, dan sebelum itu ia harus berburu rompi berkantong empat belas dan topi mancing. Ia melangkah pergi dengan dada membusung, seperti prajurit yang baru dilantik, padahal senjatanya belum pernah dibuka dari kardus.
Saya sempatkan satu batang rokok lagi, yang terakhir dari sesajen tadi, sebelum pulang. Sambil menghembuskan asap, saya merenung dan sampai pada satu kesimpulan pahit:
Kadang, satu nasihat ngasal jauh lebih dihargai orang ketimbang sejuta nasihat bijak.
Coba perhatikan zaman kita. Nasihat “belajar dulu, latihan bertahun-tahun, sabar dengan prosesnya” tidak laku, padahal gratis. Tapi nasihat “beli yang besar, pakai yang mencolok, yang penting kelihatan” langsung dibayar kopi dan rokok. Di era ketika pengikut lebih berharga daripada karya, jadi tampak sibuk memang jauh lebih menguntungkan daripada benar-benar bekerja.
Salam jepret, Sobat!
(Sebenarnya hati saya tak tenang. Saya merasa bersalah karena sudah memberi nasihat sengawur itu. Saya yakin Panjul akan kena malu kalau menerapkannya. Dan benar saja. Esok harinya saya dengar kabar bahwa Panjul kalang kabut dan lintang-pukang dikejar tamu kondangan yang terganggu oleh ulahnya: menjepret sana-sini tanpa aturan, dengan empat kamera, blitz menyala nonstop, dan rompi penuh batu bata yang membuat larinya sama cepatnya dengan kura-kura kena encok. Kabar terbarunya, Panjul kini menyandang gelar baru. Ia tenar sebagai: “Orang Gila!” Ironisnya, ia akhirnya benar-benar dikenali orang. Persis seperti yang ia mau. Hanya saja, bukan sebagai fotografer.)
Catatan Sambil Lalu
Untuk Sobat yang tersesat di tengah istilah-istilah di atas, berikut kamus kecil dari saya. Gratis, tanpa syarat rokok tiga batang.
Battery grip
Aksesori berbentuk genggaman yang menyimpan baterai tambahan, sehingga masa pakai baterai kamera naik signifikan. Fungsi sampingannya: membuat kamera tampak bengkak dan mengesankan, persis seperti perut setelah kondangan.
Rompi fotografer
Seperti jaket, tapi tanpa lengan, biasanya dari kain kuat. Kantongnya banyak, dari yang mungil sampai yang segede bagong. Rompi ini favorit para fotografer street dan urban photography karena muat banyak barang: lensa, baterai cadangan, kartu memori, flash, rokok, cemilan, bahkan es teh. Bonusnya, pemakainya tak perlu membawa tas besar karena hampir semua printilan bisa masuk kantong. Catatan penting: batu bata tidak termasuk perlengkapan resmi.
Lensa tele zoom
Lensa yang mampu memotret objek yang jauh di mata tapi dekat di hati. Semakin tinggi zoomnya, semakin besar pula ukuran lensanya, dan semakin besar pula rasa percaya diri pemakainya, entah hasilnya tajam atau tidak.
Kongkow
Berasal dari kata kongko, yang berarti bercakap-cakap tanpa tujuan jelas, alias obrolan kosong saat kumpul dengan teman. Istilah ini sudah jarang dipakai anak muda, tapi keberadaannya masih diakui, seperti saudara jauh yang kadang muncul saat Lebaran.
Tripod (kaki tiga)
Alat penyangga agar kamera berdiri tegak dan tegar. Fungsinya mengurangi kelelahan fotografer sekaligus meredam goyangan tangan yang membuat foto kabur. Biasanya dipakai ketika kecepatan rana 1/30 detik atau lebih lambat, atau ketika memakai lensa dengan jarak fokus di atas 200 mm. Jadi jelas, tripod itu bukan sekadar properti untuk tampil gagah. Meskipun, dalam kasus tertentu, ya, memang fungsinya begitu.
Segede “Gaban”
Frasa ini lazim dipakai untuk sesuatu yang amat sangat besar, misalnya “lensa tele segede Gaban”. “Gede” sudah jelas sinonim “besar”. Lalu siapa gerangan si Gaban?
Gaban berasal dari Space Sheriff Gavan (Uchuu Keiji Gyaban), serial pahlawan super buatan industri tokusatsu Jepang yang tayang di TV Asahi tahun 1982. Tokoh berwarna dominan perak-hitam itu sangat populer pada era 80-an dan menginspirasi banyak anak Indonesia.
Menurut cerita yang beredar, Gyaban kemudian dijadikan ikon di Dunia Fantasi (Dufan) Ancol, yang diresmikan 29 Agustus 1985, lewat patung raksasa setinggi belasan meter. Patung sebesar itu menarik perhatian pengunjung, sehingga namanya akhirnya dipakai untuk menyebut apa pun yang besar dan tinggi.
Soal perubahan “Gavan” atau “Gyaban” menjadi “Gaban”, penyebabnya diduga lidah. Pelafalan “Gaban” lebih mudah bagi dialek Betawi, lalu menyebar luas lewat film-film bernuansa Betawi yang sering diperankan Benyamin. Robotnya kini sudah tak tampak lagi, tapi kata “gaban” masih hidup, terutama di kalangan generasi yang remajanya di era 70-80-an. Bisa dibilang, Gaban adalah pahlawan yang kalah dari waktu, tapi menang di kamus percakapan.
Demikianlah, Sobat Jepret semuanya, tiga episode ditambah satu artikel bonus ini, tentang seseorang yang ingin kelihatan seperti fotografer kawakan tanpa harus susah-susah menjadi fotografer. Semoga Sobat terhibur di mana pun berada, dan semoga tidak ada yang betul-betul mempraktikkan nasihat saya, terutama bagian batako.
Tetap sehat, tetap semangat!
Covid pasti berlalu!
Salam Jepret!
Artikel ini diadaptasi dan ditulis oleh: Tuntas Trisunu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar