Selasa, 29 September 2026

Potret yang Tak Pernah Dicetak (Coretan Bagian Ketiga)



Beraban, Tabanan, Bali, Selasa, 29 September 2023

(sambungan dari Bagian Kedua)

Potret yang Tak Sempat Direncanakan


Saya tak pernah menceritakan kebenaran ini kepada siapa pun. Sampai hari ini.

Buku fotografi itu tak pernah saya kembalikan. Ia masih ada di rak saya, sampulnya menguning, tulisan tangan Mei di halaman pertamanya masih terbaca jelas. Dua puluh lima tahun berlalu tanpa kabar, tanpa keberanian untuk mencari, sampai suatu sore saya berdiri di sebuah galeri kecil di Kota "B", Bali, menikmati pameran foto yang katanya menampilkan karya-karya fotografer lintas generasi.

Saya sedang berhenti cukup lama di depan satu foto—hitam putih, komposisi sederhana, tapi entah kenapa terasa jujur sekali, seperti sesuatu yang pernah saya baca definisinya bertahun-tahun lalu di sebuah buku bersampul hitam. Saya berpaling ke belakang untuk mencari keterangan fotonya.

Dan di sanalah dia berdiri. Lima meter dariku. Sudah lama, rupanya, mengamati saya dalam diam sebelum saya sadar.

Saya membeku. Wajahnya nyaris tak berubah dari yang tersimpan di ingatan saya sejak malam terakhir di teras itu—hanya lebih tenang, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan sesuatu yang dulu tak pernah selesai. Di sampingnya berdiri dua remaja, perempuan dan laki-laki, yang dari raut wajah mereka saya bisa menebak: darah dagingnya sendiri.

Kami tidak saling menyapa. Tidak ada yang melangkah maju. Hanya tatapan, yang entah kenapa terasa lebih jujur daripada segala kalimat yang pernah saya ucapkan padanya dua puluh lima tahun lalu.

Matanya turun sebentar, sekilas saja, ke jemari saya. Bukan tatapan basa-basi. Ada harap di sana—tapi bukan harap yang lembut. Justru harap yang kelam, harap yang selama dua puluh lima tahun sengaja ia rawat karena harap itulah yang membuatnya bisa bernapas: harap bahwa saya benar-benar seperti yang ia susun dalam benaknya sejak malam terakhir di teras itu. Bahwa tak lama setelah saya pergi, akan ada cincin di jari itu. Bukti bahwa saya memang bajingan tulen, yang meninggalkannya demi perempuan lain, demi alasan yang picisan dan sepele. Sebab jika itu benar, penderitaannya dulu setidaknya punya bentuk. Punya nama. Punya seseorang yang pantas disalahkan.

Dan tak ada.

Tak ada sebelumnya. Tak pernah ada. Dan barangkali tak akan pernah ada.


Saya melihat momen itu terjadi di wajahnya—begitu singkat, begitu senyap, tapi cukup untuk saya kenali betapa kelamnya hal itu baginya. Sebab kalau saya memang bajingan yang sesungguhnya, hari itu ia bisa pulang dengan luka lama yang sudah lunas. Tapi jemari kosong itu meruntuhkan seluruh cerita yang selama ini menopangnya. Kalau bukan perempuan lain, kalau bukan pengkhianatan yang sederhana—lalu apa? Pertanyaan itulah yang, saya kira, membuatnya jauh lebih hancur hari itu dibanding dua puluh lima tahun yang sudah ia lalui dengan tenang.

Matanya naik lagi ke mata saya. Saya tidak tahu persis apa yang ia baca di sana. Tapi saya tahu, dari cara wajahnya melunak sepersekian detik—dari garis rahangnya yang tiba-tiba kehilangan ketegangannya, dari napasnya yang seperti tertahan sebelum akhirnya dilepaskan pelan-pelan—bahwa untuk pertama kalinya dalam seperempat abad, kepastian yang selama ini ia genggam erat-erat baru saja lepas dari tangannya, dan ia sedang menyusun ulang satu pertanyaan yang mungkin selama ini tak pernah berani ia tanyakan pada dirinya sendiri: mengapa.

Saya tidak punya jawaban yang pantas diberikan di tengah galeri, di depan anak-anaknya, dua puluh lima tahun terlambat. Yang bisa saya berikan hanyalah satu anggukan kecil. Kepadanya, kepada keluarga kecil yang tak pernah menjadi milik saya, kepada versi diri saya yang dulu memilih menjadi bajingan demi menjaga seseorang yang bahkan tak pernah tahu sedang dijaga.

Ia membalas anggukan itu. Ringan, nyaris tak kasat mata—tapi cukup.

Saya berjalan pergi, meninggalkan foto yang belum selesai saya lihat, meninggalkan dia dan keluarga kecilnya di tengah pameran yang temanya, entah kebetulan atau tidak, adalah tentang potret-potret yang tak sempat direncanakan.

Belum jauh langkah saya dari sana, sayup-sayup terdengar suara seorang perempuan muda—mungkin putrinya sendiri.

"Mama nangis? Kenapa, Ma?"

Saya tidak menoleh. Tidak berani. Tapi pertanyaan kecil itu saja sudah cukup menjawab apa yang selama ini tak pernah berani saya tanyakan sendiri: bahwa di balik satu anggukan tenang tadi, dua puluh lima tahun keyakinan Mei baru saja runtuh diam-diam. Ia akhirnya tahu. Bahwa bajingan yang berdiri di depannya sore itu, dulu, hanyalah seseorang yang bersusah payah belajar menjadi bajingan—demi menjaga sesuatu yang bahkan tak pernah ia tahu sedang dijaga.

Semesta, rupanya, memang punya selera humor yang keterlaluan.

Selamat sore, Mei. Saya tak tahu apakah kamu akhirnya paham topeng yang dulu saya pakai. Tapi kalau hari ini kamu pulang dengan satu jawaban yang lebih tenang daripada dua puluh lima tahun kebencian, mungkin itu sudah cukup bagi saya untuk berhenti merasa bersalah.

Amor Vincit Omnia, Sed Veritas Liberat

Minggu, 27 September 2026

Potret yang Tak Pernah Dicetak (Coretan Bagian Kedua)



Beraban, Tabanan, bali, Sabtu, 26 September 2023

(sambungan dari Bagian Pertama)

Topeng yang Kupakai untuk Melepaskannya


Sejak sore itu, sesuatu yang tak direncanakan mulai terbentuk. Mei, dengan caranya yang lugas, mulai "memaksa" saya untuk terus datang setiap akhir pekan. Kadang kami hanya duduk di teras. Ia bercerita tentang buku, saya bercerita tentang kamera. Kadang ia menunjukkan hasil jepretannya—sebuah foto kucing di atas pagar, atau siluet pedagang kaki lima di tengah kepulan asap gerobaknya.

Sesekali, di tengah obrolan yang ringan, Mei tiba-tiba diam lebih lama dari biasanya, seperti menahan sesuatu yang ingin dikatakan tapi urung. Suatu kali saya bertanya kenapa, dan ia hanya menjawab, "Nggak apa-apa, cuma mikir. Kadang saya takut hal-hal sederhana kayak gini nggak bisa bertahan lama."

Saat itu saya menertawakannya, mengira ia sekadar bercanda atau sedang melankolis. Saya tidak tahu bahwa kalimat itu, dari mulut Mei yang biasanya begitu tegas, adalah bentuk paling jujur dari ketakutan yang sudah lama ia simpan sendirian. Segalanya mengalir indah. Namun saya belum tahu saat itu, bahwa di balik pintu rumah itu, ada percakapan-percakapan lain yang sedang berlangsung tanpa sepengetahuan saya. Percakapan di ruang makan antara orang tua Mei, tentang siapa laki-laki yang belakangan ini begitu sering duduk di teras mereka.

Sampai pada suatu Minggu pagi, dua puluh lima tahun yang lalu. Sebaris pesan singkat dari Mei muncul di layar ponsel saya: "Ke Blok M Mal cari buku bekas, mau ikut?"

Entah kenapa ia selalu ringkas—tanpa basa-basi, persis seperti caranya menyodorkan buku di kasir dulu. Siang itu saya meluncur menjemputnya. Di atas jok motor butut itu, saya sengaja menahan selongsong gas, membiarkan roda berputar lebih lambat agar durasi perjalanan bisa sedikit lebih lama. Angin membawa bau aspal panas bercampur parfum ringannya. Ya, saya memang menaruh hati padanya.

Kami menyusuri lorong sempit berjejal buku bekas. Di sela-sela perburuan, saya menangkap kebiasaan kecilnya. Sesekali Mei mengeluarkan kamera saku, memotret satu kali secara acak—seorang penjaga toko, atau seberkas cahaya yang jatuh miring—lalu mengantonginya lagi. Tidak ada pose. Tidak ada pengulangan. Sekali potret, selesai.

Setelahnya, kami duduk di Taman "M". Sambil menyantap bekal tanpa sendok, rasa penasaran saya tumpah. Saya bertanya kenapa ia hanya memotret sesekali saja, seolah tak peduli hasilnya nanti seperti apa.

Sambil menatap keramaian taman, ia tersenyum tipis. "Potretlah lebih banyak, sekadar untuk bersenang-senang," ucapnya tenang. "Tidak semua foto harus punya tujuan khusus. Kadang, kita membuat proses kreatif jadi terlalu rumit. Padahal, proses memotret itu sendiri sudah lebih dari cukup."

Matanya menyiratkan kebebasan yang jujur. "Potretlah hal-hal yang membuatmu merasa hidup. Saat sesuatu memikat perhatianmu bahkan sebelum kamu tahu alasannya, ikuti saja. Tugas seorang seniman bukanlah untuk selalu tahu ke mana arahnya, melainkan untuk tetap terbuka menyambut panggilan tersebut."

Malamnya, sepulang dari sana, ia menahan saya sejenak di depan pagar rumah. "Minggu depan datang lagi ya. Kita tak usah jalan, di sini saja. Saya ingin cerita tentang buku yang akan saya baca malam ini."

Dari malam-malam di teras itulah kami merajut sebuah cerita. Saat itu saya sadar, saya sedang memotret sebuah mimpi, sambil diam-diam berharap semua itu akan menjelma menjadi kenyataan. Tapi kebahagiaan yang sederhana itu, ternyata, dibangun di atas tanah yang jauh lebih rumit daripada yang pernah saya bayangkan.

Fondasi retak itu, rupanya, sudah ada di sana sejak awal—hanya saya yang memilih untuk tidak melihatnya. Saya pribumi. Mei keturunan Tionghoa. Dan bukan hanya soal itu; keyakinan kami pun bersimpangan, melahirkan jurang yang tak bisa dijembatani hanya dengan niat baik dan cinta belaka. Saya sujud lima waktu sehari. Di rumahnya, ada altar kecil warisan leluhur yang tak bisa begitu saja ditanggalkan demi seorang pemuda miskin yang datang membawa buku pinjaman.

Kami sempat naif berpikir bahwa perasaan bisa mengalahkan segalanya. Tapi ada hal-hal yang tak bisa dikompromikan. Ada garis keturunan yang harus dijaga, dan tradisi yang tak bisa dilanggar hanya karena dua orang muda saling jatuh cinta di sebuah taman kota. Butuh waktu lama sebelum saya menyadari bahwa setiap kali saya pulang, ada percakapan sunyi di ruang makan keluarganya. Ibunya lambat laun menjadi lebih pendiam. Ayahnya mulai jarang muncul setiap kali saya bertamu.


Hingga suatu sore, tanpa sepengetahuan Mei, ayahnya memanggil saya ke ruang tamu. Ia tidak marah, dan justru ketenangannya itulah yang membuat permintaannya terasa jauh lebih berat.

"Saya tidak mempermasalahkan kamu sebagai orang," katanya berhati-hati. "Kamu baik. Mei bahagia, dan itu bukan hal kecil bagi saya. Tapi ada hal-hal yang lebih besar dari perasaan kalian. Ada leluhur yang harus dihormati, ada keyakinan yang harus dijaga turun-temurun. Saya tidak bisa membiarkan itu berhenti, hanya karena satu perasaan yang datang di usia muda."

Ia meminta saya mengakhiri hubungan itu. Dan beban terberatnya datang kemudian: ia meminta saya merahasiakan percakapan ini dari Mei.

"Biar dia membenci kamu saja," katanya lirih, terdengar nyaris seperti permintaan maaf. "Itu akan lebih mudah sembuh, daripada dia harus membenci kami."

Saya pulang malam itu dengan kepala yang hancur. Memikirkan bagaimana caranya seseorang dipaksa menghancurkan kebahagiaannya sendiri, demi menjaga keutuhan kebahagiaan orang lain. Saya bukan aktor yang baik, Sobat. Tapi malam-malam berikutnya, saya belajar menjadi bajingan.

Saya mulai datang terlambat. Membalas pesan Mei dengan dingin. Saat ia bertanya kenapa saya berubah, saya menjawab dengan kalimat-kalimat menusuk—mengatakan saya bosan, bahwa ini cuma pelarian, bahwa saya tidak serius. Setiap kalimat itu keluar seperti pisau yang saya asah sendiri malam sebelumnya, lalu saya hunuskan pelan-pelan ke arah dada saya sendiri, sambil berpura-pura yang terluka adalah dia.

Saya terus melakukannya. Lebih baik Mei membenci saya sebagai laki-laki brengsek, daripada ia harus menelan kenyataan bahwa rumah yang menjadi tempatnya pulanglah yang memintanya melepaskan saya. Mei berubah. Pesan panjang berisi kekecewaan perlahan berganti menjadi kebisuan berhari-hari. Saya tahu ia amat sangat membenci saya—dan anehnya, melihat kebencian itu, ada sebagian diri saya yang merasa lega, meski sisa jiwa saya lebur tak bersisa.

Malam itu datang. Mei yang meminta saya bertamu. Teras yang dulu menjadi saksi kehangatan kami, malam itu membeku seperti ruang sidang. Mei berdiri dengan wajah lelah dan mata memerah, seolah sudah kehabisan air mata.

"Kamu benar-benar sudah berubah," katanya. Sebuah kesimpulan mutlak. "Saya tidak mengerti kenapa. Tapi saya rasa saya tidak perlu mengerti lagi."

Saya hanya diam. Satu kalimat jujur saja bisa menghancurkan sandiwara ini, dan barangkali, menghancurkan keluarganya juga. Tidak ada tangisan meledak. Tidak ada janji klise. Hanya kehampaan yang menelan kami berdua. Di kejauhan, dari balik tirai jendela yang setengah terbuka, kedua orang tua Mei berdiri diam menyaksikan adegan itu. Raut wajah mereka datar, tapi saya tahu, harapan mereka baru saja terwujud.

Saya pamit. Mei tidak menjawab. Ia hanya memunggungi pintu, membiarkan saya berjalan sendirian menuju motor di kegelapan gang. Gang yang sama tempat saya dulu sengaja menahan gas agar waktu berjalan lebih lambat. Kali ini, saya memacunya secepat mungkin. Saya tak sanggup berlama-lama berada dalam jarak pandang dari sosok yang terpaksa saya hancurkan hatinya.

(Bersambung ke Coretan Bagian Ketiga)

Sabtu, 26 September 2026

Potret yang Tak Pernah Dicetak (Coretan Bagian Pertama)



Beraban, Tabanan, bali, Sabtu, 26 September 2023

Buku yang Tinggal Satu


Sobat, kalau boleh jujur, kebiasaan saya dulu agak memalukan untuk diceritakan. Saya adalah pelanggan setia Toko Buku "G" di Blok M, tapi bukan sebagai pembeli. Saya datang, memilih satu buku yang menarik, lalu berdiri di lorong rak sambil membacanya perlahan-lahan, halaman demi halaman, seolah toko itu perpustakaan pribadi saya. Bukan karena saya tak menghargai buku. Justru sebaliknya—saya terlalu menghargainya untuk sekadar dilewatkan begitu saja. Hanya saja, dompet saya tak pernah cukup tebal untuk membawanya pulang.

Sore itu saya sedang berdiri di rak fotografi, memegang sebuah buku bersampul hitam tentang komposisi dan cahaya, karya seorang fotografer jalanan yang namanya baru saya kenal dari majalah bekas. Saya sudah membaca separuh bab pertama, larut dalam penjelasan tentang bagaimana bayangan bisa jadi subjek yang lebih jujur ketimbang cahaya itu sendiri, ketika seseorang berdiri di sebelah saya. Menunggu dengan sopan, namun jelas tak sabar.

"Maaf," katanya, "itu buku yang tinggal satu, kan? Saya juga sedang mencarinya."

Saya menoleh. Seorang perempuan, berambut panjang tergerai, membawa tas jinjing kain yang terlihat sudah dipakai bertahun-tahun. Kulitnya lebih terang dari kebanyakan orang di sekitar kami, matanya menatap buku di tangan saya dengan sorot yang campur aduk. Itulah pertama kalinya saya melihat Mei—meski waktu itu saya belum tahu namanya, apalagi menduga betapa jauh perjalanan yang akan kami tempuh, dan betapa rumit jalan yang harus kami hadapi karena dua latar belakang yang begitu berbeda.

Saya buru-buru menyerahkan buku itu, agak salah tingkah. "Oh, iya, ini, silakan. Saya cuma baca-baca saja, kok, bukan mau beli."

Kalimat itu meluncur begitu saja sebelum sempat saya saring. Dan seperti yang bisa Sobat duga, kepolosan itu justru membuka pintu yang tak pernah saya sangka.

Mei menerima buku itu, membolak-baliknya sebentar, lalu menatap saya lagi. "Kamu suka fotografi?"

"Suka. Cuma belum punya kamera yang bagus. Dan—" saya tertawa kecil, mencoba menutupi rasa canggung, "—belum punya cukup uang buat beli buku ini juga, sebenarnya."

Saya kira ia akan tersenyum sopan lalu pergi. Tapi Mei justru terdiam sejenak, seolah menimbang sesuatu di kepalanya. Wajahnya berubah; ada semacam rasa tak enak yang tiba-tiba muncul di sana, seakan-akan dialah yang telah merebut sesuatu dari saya.

"Kalau begitu," katanya akhirnya, "biar saya yang beli. Nanti saya pinjamkan ke kamu."

"Eh, tidak usah, saya—"

"Sudahlah," potongnya. Ia sudah melangkah ke arah kasir sebelum saya sempat menyelesaikan penolakan.


Buku yang Dipinjamkan


Saya berdiri mematung di depan rak, setengah tak percaya, mengikutinya dengan pandangan sampai ia selesai di meja kasir. Ketika ia kembali, buku itu sudah terbungkus rapi dalam plastik toko, dan ia menyerahkannya kepada saya begitu kami sama-sama melangkah keluar dari pintu kaca.

"Ini," katanya, menyodorkan kantong itu. "Pinjam saja. Satu minggu cukup, kan? Baca baik-baik, terus kembalikan ke rumah saya."

Saya masih mencoba menolak. Rasanya tidak pantas menerima kebaikan sebesar itu dari orang yang baru saya kenal lima menit lalu. Tapi Mei adalah jenis orang yang, begitu keputusannya dibuat, tak menyisakan banyak ruang untuk berdebat. Ia hanya mengangkat bahu, seolah apa yang dilakukannya bukan perkara besar, lalu mengeluarkan secarik kertas kecil, menuliskan alamat rumahnya dengan pena yang tintanya sudah agak seret.

"Rumah saya di sini," katanya. "Minggu depan, jam segini, kamu datang, kembalikan bukunya. Kalau kamu suka isinya, kita bisa ngobrol soal itu."
Dan begitulah, Sobat. Sebuah buku yang seharusnya hanya numpang dibaca, tiba-tiba berpindah tangan. Tanpa sadar, secarik kertas itu menjadi alasan pertama saya mengetuk pintu rumahnya, sekaligus alasan pertama saya melangkah masuk ke dalam sebuah dunia yang tak akan pernah benar-benar menjadi milik saya.


Satu Minggu yang Terasa Panjang


Saya membaca buku itu pelan-pelan. Seolah setiap halaman punya bobot yang lebih berat karena ada seseorang di baliknya yang memercayakannya kepada saya. Di malam-malam sebelum jadwal pengembalian, saya bahkan membaca ulang beberapa bagian, khawatir kalau nanti ditanya dan saya tak bisa menjawab. Konyol, memang. Tapi begitulah cara rasa suka bekerja; ia menyusup diam-diam ke hal sekecil kewajiban mengembalikan buku.

Tepat seminggu kemudian, saya datang ke alamat itu. Rumahnya lebih besar dari yang saya bayangkan, berpagar tinggi. Di sudut halaman ada sebuah altar kecil, bersih dan terawat, dengan sisa asap dupa yang masih menggantung tipis di udara sore. Saya hanya melihatnya sekilas—sesuatu yang asing tapi tak terasa penting untuk ditanyakan—dan baru bertahun-tahun kemudian saya paham betapa altar kecil itu sebenarnya sudah menceritakan segalanya, jauh sebelum siapa pun sempat bicara.

Mei membukakan pintu, tersenyum. "Wah, tepat waktu. Saya kira kamu bakal lupa."

"Buku bagus susah dilupakan," jawab saya, mencoba terdengar lebih santai dari detak jantung saya sendiri.

Sore itu berubah menjadi obrolan panjang di teras. Obrolan yang saya kira hanya akan berlangsung sepuluh menit itu baru berakhir ketika azan Maghrib berkumandang dari masjid di ujung gang. Mei menoleh sebentar ke arah suara itu, lalu kembali menatap saya, seperti sedang menakar sesuatu di kepalanya yang tak saya mengerti. Saya sempat berpikir sekilas, apakah suara azan itu terdengar asing di telinga keluarganya? Pikiran yang saat itu saya anggap tak penting, dan baru kelak saya sadari betapa esensialnya.

(Bersambung ke Coretan Bagian Kedua)

Jumat, 25 September 2026

Kalau Besok Sobat Meninggal, Apakah Foto-Foto Sobat Layak Dikenang? (Jawaban Jujur dari Seorang Hampir Jadi Fotografer)



Beraban, Tabanan, Bali, Jum'at, 25 September 2026

Seandainya besok Sobat tiada... Pertanyaan ini mungkin terdengar agak ekstrem, atau sekilas seperti omongan melantur dari orang yang kurang tidur setelah kebanyakan ngopi semalaman. Tapi serius, mari kita pikirkan sejenak. Jika besok adalah hari terakhir Sobat memegang kamera, apakah deretan foto di hard disk atau feed media sosial Sobat sudah benar-benar mencerminkan siapa Sobat secara utuh? Ataukah itu sekadar kumpulan gambar bagus tak berjiwa yang bisa dibuat oleh siapa saja?

Kemarin malam di warung kopi langganan, si Bedul—kawan saya yang selalu punya komentar sinis untuk hampir segala hal—nyeletuk sambil memandangi layar ponselnya. "Nih liat, orang beli kamera seharga mobil bekas, lensanya segede teropong bintang, cuma buat motret es kopi susu dari jarak lima senti. Itu pun out of focus!"

Kami tertawa, menertawakan absurditas di sekitar kami. Tapi pulang dari warung malam itu, saya tidak bisa berhenti memikirkan celetukan Bedul. Bukan soal es kopi susu yang out of focus—melainkan soal berapa banyak dari foto saya sendiri yang, kalau jujur, juga lahir dari dorongan yang sama: pamer alat, bukan bicara jiwa. Kadang, banyak fotografer yang terlalu sibuk memuja dewa resolusi, berdebat urat leher soal ketajaman lensa dari sudut ke sudut, dan mati-matian mengejar komposisi serta exposure yang dianggap 'sempurna'. Saking sibuknya dengan urusan teknis, mereka lupa merenungkan pertanyaan paling mendasar: apa sebenarnya makna fotografi bagi diri mereka sendiri?

Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa skill teknis itu mutlak perlu. Ibarat seorang penulis, kita harus tahu tata bahasa agar pesannya sampai. Tapi ingat, menguasai tata bahasa dan punya mesin tik mahal tidak lantas otomatis membuat seseorang menjadi penyair. Skill teknis mengantarkan visi, tapi bukan itu yang melahirkan sebuah gaya atau style yang luar biasa.

Gaya bukanlah preset filter estetis yang bisa Sobat beli, download, lalu tempelkan ke semua foto agar terlihat berseni. Gaya adalah cerminan utuh dari diri, jalan hidup, tawa, luka, dan tumpukan pengalaman Sobat. Karya foto yang sejati adalah pantulan kondisi batin dan cara Sobat menertawakan, atau meratapi, dunia ini.

Kita sekarang hidup di era yang bisa dibilang sebagai "masyarakat gambar tanpa ujung". Tiap hari, dari melek mata sampai mata memerah menahan kantuk, kita terus dibombardir oleh polusi visual. Iklan, pameran pencapaian orang, liburan estetik yang kadang cuma sebatas konten, sampai pameran spesifikasi alat fotografi yang berkedok karya. Visual-visual instan ini dikunyah habis-habisan demi satu hal: validasi. Makanya, tidak heran kalau banyak orang akhirnya kehilangan arah dan identitas—visi sejati mereka terkubur di bawah tumpukan standar orang lain yang sebenarnya tidak pernah mereka minta.

Bagi saya pribadi, dalam soal asupan visual: less is absolutely more. Semakin sedikit, justru semakin membebaskan. Saat saya memutuskan mengambil jarak dari hiruk-pikuk etalase digital itu dan hanya memakai media sosial murni sebagai medium untuk meletakkan karya—bukan sebagai asupan konsumsi tanpa henti—pikiran saya menjadi jauh lebih jernih. Rasanya seperti menemukan sudut yang sepi dan tenang di tengah hiruk pikuk pasar malam. Ruang kosong itu memberi saya kebebasan untuk meracik ide-ide baru tanpa terdistraksi standar orang lain.

Dan ketika jeda antara ide di kepala dan eksekusi jari di tombol shutter makin singkat, di situlah keajaiban kecil terjadi. Saya jauh lebih suka dipengaruhi oleh dunia nyata yang kasar dan tak sempurna—oleh denyut kehidupan orang-orang yang berjuang di jalanan, atau oleh alam yang kadang menampilkan kemuraman. Pengalaman yang otentik, bukan sekadar visual kosmetik yang dipoles berjam-jam demi sejempol apresiasi semu. Ada semacam keindahan dalam ketidaksempurnaan, di mana kejujuran batin terasa lebih berharga dan bernyawa daripada sekadar kesempurnaan piksel.


Pada akhirnya, menemukan style fotografi adalah tentang proses menelanjangi diri Sobat sendiri. Gaya Sobat tidak lahir dari contekan referensi visual di kolom pencarian, melainkan dari perjalanan panjang yang kadang sunyi untuk menemukan jati diri. Ini butuh pemahaman mendalam dan kejujuran brutal tentang siapa Sobat sebenarnya, dan bagaimana cara Sobat menapakkan kaki di dunia ini.

Memiliki gaya dan selera bukan sebatas peristiwa "menemukan" sebuah formula framing yang pas lalu mengulangnya sampai mati kebosanan. Ini tentang konsistensi berkarya di tengah rasa malas, merangkul manis-pahitnya pengalaman hidup, dan tentang penjelajahan abadi. Bukan sekadar menjelajah dunia luar mencari spot foto yang sedang viral, tapi yang jauh lebih berat dan sejati adalah: menjelajahi lorong-lorong gelap di dalam batin Sobat sendiri.

Lantas, bagaimana cara Sobat menemukan gaya tersebut?

Mulailah dari langkah sederhana ini: kenali betul apa yang Sobat sukai dan apa yang tidak. Jujurlah pada selera Sobat, se-nyeleneh apa pun itu—seperti Bedul yang jujur bilang dia tidak paham kenapa orang rela repot-repot hanya demi motret es kopi susu. Selera Sobat itulah kompas utamanya. Jika jiwa Sobat lebih bergetar memotret kesunyian dalam balutan hitam-putih yang pekat, jangan paksakan diri memotret gemerlap pesta yang penuh warna hanya agar disukai banyak orang.

Suatu hari nanti, waktu kita di sini akan habis. Kamera kita mungkin rusak, atau tangan kita sudah terlalu rapuh dan gemetar untuk sekadar mengangkatnya. Namun, karya-karya yang kita ciptakan akan tetap tertinggal di sana, membeku melawan waktu.

Semoga, ketika seseorang di masa depan melihat foto-foto itu, mereka tidak mempedulikan seberapa tajam lensa yang Sobat gunakan atau seberapa mahal perlengkapan Sobat. Semoga mereka menatap selembar foto tersebut, terdiam sejenak, dan bergumam dalam hati, "Aku tidak kenal siapa dia, tapi aku bisa merasakan jiwanya di sini."

Karena pada titik akhirnya, karya terbaik Sobat bukanlah foto yang mendapat piala tertinggi atau tepuk tangan paling riuh, melainkan foto yang paling jujur bercerita... bahwa Sobat pernah ada, pernah berjuang, dan pernah merasakan detak dunia ini dengan segenap hati.

Dumunung ing Jati Diri

Salam Jepret Selalu...

Kamis, 24 September 2026

Kamera Dipuji, Fotografer Dicaci: Bongkar Bias di Balik Setiap Jepretan (Coretan Bagian Kedua)



Beraban, Tabanan, Bali, Kamis, 24 September 2026

(sambungan dari bagian pertama)

Bayangkan Kalau Logika Ini Berlaku di Dapur atau Ruang Tulis


Untuk melihat betapa timpangnya standar ganda ini, coba kita pindahkan logikanya ke profesi lain—dan saksikan betapa konyolnya kalau dipraktikkan di luar dunia fotografi.

Bayangkan Sobat makan di restoran bintang lima. Steak-nya empuk, bumbunya meresap sempurna sampai ke serat terdalam. Lalu Sobat menghampiri sang koki dan berkata, "Wah, enak banget! Pasti kompor dan wajannya merek mahal impor, ya?" Sang koki, yang baru saja menghabiskan dua puluh tahun mengasah rasa dan menghafal titik didih mentega yang pas, mungkin akan pasang tampang perang sambil menahan diri untuk tidak melempar wajan dus kompor dan tabung gasnya.

Atau bayangkan seorang penulis novel yang bukunya menjadi best-seller dan bertengger di rak toko buku selama berbulan-bulan. Dalam sebuah wawancara, seorang kritikus berkomentar, "Novel Sobat luar biasa menyentuh! Laptop yang dipakai ngetik pasti spek-nya dewa dan layarnya OLED, ya?" Bayangkan muka si penulis—campuran antara bingung dan ingin bertanya balik, "Apakah alur cerita petualangan bakal jadi lebih mencekam kalau prosesor laptopnya sudah yang teranyar?"

Terdengar aneh, bukan? Konyol, bahkan. Kita semua tahu kompor tidak bisa memasak sendiri, dan laptop tidak punya imajinasi untuk merangkai kalimat—kalau bisa, mungkin sudah dari dulu ia menulis surat cinta untuk dirinya sendiri dan berhenti menerima perintah update yang menyebalkan itu. Tapi entah bagaimana, saat logika yang sama dipindahkan ke dunia fotografi, orang-orang menganggapnya wajar-wajar saja. Kamera, sialnya, satu-satunya benda mati yang berhasil meyakinkan mayoritas populasi homo sapiens-sapiens bahwa dirinya punya bakat seni sendiri.


Perkenalkan: Self-Serving Bias


Fenomena ini, untungnya, sudah lama dipetakan oleh para psikolog dan punya nama resmi: self-serving bias, kecenderungan manusia mengaitkan keberhasilan dengan faktor internal dirinya sendiri—bakat, kecantikan, kerja keras—sementara kegagalan dilempar ke faktor eksternal di luar kendalinya. Bias ini bukan cuma muncul di sesi foto keluarga; ia juga rajin nongol setiap kali mahasiswa dapat nilai A ("saya memang pintar") lalu dapat nilai D di mata kuliah lain ("dosennya killer"), atau setiap kali atlet menang ("kerja keras saya") lalu kalah ("wasitnya curang"). Fotografi cuma kebetulan jadi salah satu panggung paling terang benderang tempat bias ini tampil tanpa rasa malu.

Dalam konteks foto potret, ego manusia bekerja dengan sangat rapi, nyaris seperti koreografer ulung yang tahu persis kapan harus tampil dan kapan harus bersembunyi:

Saat foto bagus, ego melangkah maju sambil membungkuk hormat, "Aku emang aslinya fotogenik, kameranya juga mendukung." Mengakui bahwa fotografer punya skill mengarahkan cahaya dan menangkap momen terasa seperti mengurangi porsi kecantikan diri sendiri. Maka pujian dialihkan ke kamera—objek mati yang tidak protes, tidak menuntut royalti, dan tidak akan pernah menyaingi ego manusia.

Saat foto jelek, ego buru-buru bersembunyi di balik tirai, menolak disebut namanya. Daripada mengakui gaya tubuh yang kaku atau ekspresi yang canggung, cara paling instan menyelamatkan harga diri adalah mencari kambing hitam. Dan kambing hitam paling empuk dalam skenario ini, tentu saja, adalah si pemegang kamera—yang bahkan tak sempat protes karena sudah keburu sibuk menghapus foto diiringi derai hujan makian diselingi petir sumpah-serapah.

Simpelnya: kita selalu butuh pihak lain untuk disalahkan saat hasilnya buruk, tapi ingin memborong semua pujian sendirian saat hasilnya memukau. Manusia memang makhluk yang piawai membagi tanggung jawab—selama pembagiannya selalu menguntungkan diri sendiri.


Kamera Cuma Alat, Fotografer Adalah Jiwanya


Sebelum pembaca menuduh tulisan ini sepenuhnya membela fotografer secara membabi buta—baik, mari kita adil sedikit. Kamera memang bukan sekadar kotak kosong. Sensor yang lebih baik bakal sangat membantu menangkap detail di kondisi cahaya minim. Autofokus yang cepat bisa jadi dewa penyelamat saat memotret anak kecil yang tak bisa diam barang tiga detik, atau kucing yang tampaknya punya dendam pribadi pada konsep "pose." Jadi tidak, kamera bukan tanpa peran. Hanya saja, perannya sering dilebih-lebihkan sampai melampaui porsi yang seharusnya—seperti pemain cadangan yang tiba-tiba diberi piala Pemain Terbaik karena kebetulan ber-selebrasi secara maksimal dan memukau di depan kamera saat rekannya di lapangan menyarangkan gol kemenangan.

Teknologi memang sudah melompat jauh. AI bisa mengoreksi warna otomatis, sensor bisa menangkap detail sekecil apa pun, bahkan ponsel pun sekarang bisa berpura-pura punya bokeh profesional lewat algoritma. Tapi ada satu hal yang tidak akan pernah dimiliki teknologi secanggih apa pun: rasa, visi, dan penjiwaan. Tidak ada algoritma yang bisa mengajari subjek untuk rileks, tidak ada sensor yang tahu kapan harus menunggu satu detik lagi sampai senyum itu menjadi tulus, bukan dipaksakan.

Kamera mahal, pada dasarnya, hanyalah alat bantu—sama seperti kuas bagi pelukis atau pena bagi penyair. Tak ada yang memuji pena Pramoedya Ananta Toer sebagai alasan di balik keindahan dan keagungan tetralogi bumi manusia. Tanpa pemahaman komposisi, kepekaan terhadap arah cahaya, kemampuan membuat subjek nyaman di depan lensa, dan kesabaran menunggu momen yang pas, kamera seharga ratusan juta pun hanya akan menghasilkan foto blur yang dipaksakan estetisnya—atau paling banter, foto kucing yang matanya merah menyala seperti baru bangkit dari kematian.

Jadi lain kali Sobat melihat foto yang luar biasa, arahkan pujian itu ke mata, otak, dan hati di balik lensa—bukan ke mesin di dalamnya. Dan lain kali hasil fotonya kurang bikin senang di hati, mungkin sebelum memaki-maki dan mengutuk fotografernya, coba tanya dulu ke diri sendiri: sudahkah saya berhenti menunduk membalas chat selama tiga detik yang diminta?

Pujilah sang kreator, bukan alatnya. Kameranya cuma numpang tenar.

Selasa, 22 September 2026

Kamera Dipuji, Fotografer Dicaci: Bongkar Bias di Balik Setiap Jepretan (Coretan Bagian Pertama)



Beraban, Tabanan, Bali, Selasa, 22 September 2026

Ketika Penghargaan Selalu Salah Alamat


Pernahkah Sobat berdiri di sebuah pameran foto, terpaku pada sebuah potret yang begitu hidup, lalu mendengar seseorang di sebelah Sobat berbisik, "Wah, tajam banget hasilnya. Pasti kameranya mahal, ya?"

Kalimat itu terdengar seperti pujian. Tapi bagi fotografer—amatir, pehobi, atau profesional sekalipun—ia adalah pelukan hangat yang diam-diam menyembunyikan pisau kecil di balik punggungnya. Sebuah pertanyaan retoris yang sebetulnya menyimpan keresahan yang jauh lebih dalam: kenapa saat hasil fotonya bagus, yang dipuji selalu kameranya, tapi begitu fotonya jelek, yang disalahkan mutlak fotografernya?

Belum ada yang pernah memuji kalkulator seorang akuntan saat laporan keuangannya rapi. Belum ada yang bilang ke dokter bedah, "Wah, pisau bedahnya canggih ya, sampai operasinya sukses." Tapi entah kenapa, kamera mendapat previlese istimewa yang tak pernah diberikan pada alat lain: dipuja saat menang, dan menghilang tanpa jejak saat kalah. Mari kita bongkar realitas di balik layar yang jarang disadari orang awam.


Perjuangan di Balik Satu Jepretan


Saat sebuah potret terlihat memukau—tajam, dengan bokeh yang meleleh lembut di latar belakang—orang dengan mudah mengaitkannya pada sensor canggih atau lensa seharga puluhan juta. Yang mereka lupa, atau memang tak pernah tahu, adalah perjuangan fisik dan mental di balik lensa itu.

Di balik satu foto tajam, ada seseorang yang menahan napas beberapa detik demi tangan yang tidak goyang, seolah sedang menjinakkan bom, padahal yang dijinakkan cuma tremor tangan sendiri akibat kebanyakan kopi. Ada tubuh yang rela jongkok, merangkak, bahkan tiarap di tanah kotor—kadang di dekat kotoran anjing yang untungnya baru disadari setelah sesi foto selesai—demi satu angle yang membuat kaki subjek terlihat lebih jenjang. Ada otak yang berlari cepat menghitung arah datangnya matahari, meracik segitiga eksposur dalam hitungan detik, sambil mengarahkan gaya subjek yang kaku agar terlihat natural di depan lensa—sebuah pekerjaan yang, jujur saja, kadang lebih mirip negosiasi sandera daripada sesi pemotretan.

Tapi begitu foto selesai diproses dan dibagikan, yang menerima piala tetap saja: si kamera. Fotografer pulang membawa pegal di pinggang dan lutut kotor, sementara kamera dipuja bagaikan pusaka keramat yang baru turun dari langit.


Ketika Kamera Tiba-Tiba "Kehilangan Kesaktian"


Sekarang bandingkan dengan skenario yang tak kalah akrab.

"Ih, kok muka aku bulat banget di foto ini? Kamu nggak bisa motret, ya?"

Padahal, coba tengok apa yang sebenarnya terjadi. Subjek sedang menunduk sambil sibuk membalas chat. Kamera diambil dari bawah, low angle yang keliru, hasil dari fotografer yang terburu-buru karena diteriaki "cepetan, keburu golden hour lewat!" Belum lagi si subjek belum sepenuhnya siap, ekspresinya masih dalam mode "lagi mikirin makan siang," tapi sudah keburu diperintah, "satu, dua, jepret!" Kombinasi postur yang kurang pas dan sudut pengambilan yang salah tentu mengubah proporsi wajah secara visual—itu fisika dasar optik, bukan sihir, dan tentu saja bukan kutukan dari kamera yang tiba-tiba berubah pikiran soal siapa yang layak terlihat cantik hari itu.

Tapi anehnya, di momen inilah kamera berspesifikasi dewa yang tadi dipuji setinggi langit, tiba-tiba kehilangan seluruh kesaktiannya. Ia mendadak dianggap "biasa saja", turun pangkat dari pusaka sakti menjadi kotak logam yang katanya "emang segitu-gitu aja kualitasnya." Seluruh kesalahan ditimpakan penuh kepada fotografer yang katanya "tidak tahu cara memotret"—padahal fotografer yang sama itulah yang, lima menit sebelumnya, dipuji seolah baru saja memenangkan Pulitzer.

Kamera yang sama. Orang yang sama di baliknya. Tapi standar penilaiannya berubah seratus delapan puluh derajat, tergantung siapa yang diuntungkan oleh hasilnya. Kamera, rupanya, adalah satu-satunya alat di dunia yang reputasinya naik-turun secepat mood subjek yang difoto.

Mari kita bongkar kenapa logika ini runtuh total saat diterapkan ke profesi lain—dan apa sebenarnya nama ilmiah dari bias yang membuat kita begitu pandai mencari kambing hitam ini.

Jumat, 18 September 2026

Lensa Mahal Buat Apa? Belajar Estetika Blur dan Noise ala Fotografer Kere



Beraban, Tabanan, Bali, Jum'at, 18 September 2026

Matahari pesisir utara di kota "S" siang itu seolah sedang menagih utang. Panasnya kejam, memanggang ubun-ubun dan membuat aspal jalanan tampak bergelombang, seperti minyak goreng yang baru dituang ke wajan panas. Aku duduk ngemper di sebuah warung reyot, berlindung dari debu yang berterbangan, membiarkan punggungku beristirahat setelah berjam-jam dihajar jok motor yang empuknya sudah lama pensiun. Di tanganku ada segelas kopi robusta yang pekatnya menyaingi kerasnya hidup, dan sebatang rokok yang menolak mati ditiup angin laut.

Di ujung bangku panjang yang sama, duduk seorang pria dengan rompi kanvas yang warnanya sudah pasrah pada takdir. Sejak aku memesan kopi setengah jam yang lalu, mataku terus mencuri pandang ke arahnya. Bukan karena dia punya aura misterius ala pendekar turun gunung, tapi karena polahnya yang ajaib.

Dia sama sekali tidak terlihat seperti fotografer masa kini yang sibuk mengelus-elus lensa segede termos. Ia hanya duduk, menyeruput kopinya pelan, pandangannya kosong menerawang ke jalanan. Lalu, tiba-tiba saja, tanpa ancang-ancang, tangannya merogoh saku rompi, menarik keluar sebuah kamera pocket yang catnya sudah mengelupas di sana-sini—kamera yang bentuknya lebih mirip saksi bisu tawuran ketimbang alat seni.

Jepret.

Satu tarikan napas, satu bidikan asal. Ia tak repot-repot membalik kamera untuk mengecek layar. Tidak ada ritual zooming untuk melihat apakah matanya fokus atau komposisinya memenuhi hukum golden ratio. Kamera butut itu langsung meluncur kembali ke dalam saku. Ia menyeruput kopinya lagi, seolah jepretan barusan cuma sekadar refleks fisiologis seperti bersin atau menguap—dan sama sekali tidak butuh basa-basi minta izin dari otak.


Gemas betul hati ini. Sebagai orang yang juga sering keluyuran bawa kamera, rutinitas absen-melihat-hasil-foto itu terasa seperti sebuah sekte nyeleneh dus sesat. Namun, untuk menegurnya langsung tentu butuh alasan. Aku butuh momen pembuka yang pas agar tidak disangka sales kartu kredit yang sedang basa-basi. Dan rupanya, semesta selalu punya cara konyol untuk menjawab doa orang kere seperti saya.

Kulihat ia meremas bungkus rokoknya yang sudah kempes rata dengan meja. Ada raut duka cita yang mendalam saat ia menyadari itu adalah batang terakhirnya yang baru saja tewas dan dimakamkan di asbak. Wajahnya persis orang yang baru sadar dompetnya ketinggalan pas antrean kasir sudah mengular.

Kesempatan emas. Aku merogoh saku jaket, mengeluarkan bungkus rokokku, dan menyodorkannya.

"Silakan, Mas. Saya ada nih. Sebat dulu biar tetap waras," kataku, memasang senyum tipis—cukup sopan tapi tidak terlalu lebar, pas takaran Monalisa agar tak terlihat seperti orang ada maunya.

Ia menoleh, matanya sedikit membesar, lalu tertawa renyah. "Wah, dewa penyelamat datang dalam wujud bungkusan rokok ilegal. Matur nuwun, Mas," ucapnya sambil menarik sebatang. (Bangsat juga ini orang… Sudah saya kasih rokok gratis, masih sempat-sempatnya nyindir kalau rokok saya ilegal alias zonder cukai… walaupun memang benar itu kenyataannya!)


Aku menyodorkan korek. Begitu ujung rokoknya menyala dan asap tebal mengepul membelah udara panas, tembok kecanggungan di antara kami runtuh seketika, secepat proposal cinta ditolak lewat chat WA. Obrolan mengalir liar dan tanpa pretensi. Entah bagaimana ceritanya, dari makian soal cuaca dan rute motoran yang menyiksa pantat, kami merembet ke urusan fotografi. Dan benar saja, tebakanku tak meleset. Kami ini satu spesies: sama-sama suka keluyuran motoran sendirian, sama-sama merasa diri kami ini "seniman", dan yang paling menyatukan batin kami—kami sama-sama kere dan menertawakan fakta tersebut.

"Saya perhatikan dari tadi, Mas ini motretnya kayak orang mau nyopet," ujarku akhirnya, mengeluarkan uneg-uneg yang sedari tadi kutahan. "Kamera keluar masuk kantong kilat bener. Main jepret, tapi layarnya nggak pernah dicek. Emang nggak takut miss focus, gelap, atau komposisinya lari? Nggak sayang momennya?"

Ia terkekeh pelan. Dihisapnya rokok itu dalam-dalam, lalu dihembuskannya ke udara membentuk awan tipis, seolah sedang mempertimbangkan apakah aku pantas diberi wejangan gratis atau tidak.

"Banyak dari kita yang sekarang motretnya terlalu serius, Mas. Kayak lagi ngerjain proyek tender dari pemerintah," jawabnya tenang, suaranya berat tertelan deru truk yang lewat. "Potretlah lebih banyak, sekadar untuk bersenang-senang. Nggak semua foto itu harus punya tujuan khusus."

Ia menepuk saku rompinya yang menonjol karena kamera, lalu diam sejenak. Suara ombak jauh di seberang jalan sempat mengisi keheningan sebelum ia melanjutkan.


"Zaman sekarang, orang bawa kamera mahal-mahal, lensanya panjang bener kayak mau nembak burung unta, tapi ujung-ujungnya cuma buat moto es kopi susu di kafe estetik. Kita ini disetir oleh hasil. Tidak setiap sesi pemotretan harus selalu produktif. Kadang, kita sendiri yang membuat proses kreatif jadi terlalu rumit, ngalah-ngalahin birokrasi kelurahan."

Aku tertawa, mengangguk setuju sambil menyeruput kopi yang mulai dingin—tanda bahwa waktu diam-diam sudah kabur duluan. Kalimatnya tajam, menusuk tepat di ulu hati realitas hari ini.

"Kita mulai merasa bahwa setiap jepretan itu harus berguna," lanjutnya, matanya menyipit menahan asap rokoknya sendiri. "Harus memukau, atau minimal harus menghasilkan sesuatu. Kalau nggak ngasilin duit, ya ngasilin likes dari orang-orang di dunia maya yang peduli juga nggak sama kita."

Ia mengetuk-ngetuk abu rokoknya di asbak seng yang karatan, gerakannya pelan seperti orang sedang menimbang kalimat berikutnya baik-baik. "Padahal, proses memotret itu sendiri sudah lebih dari cukup. Sensasi saat mata kita melihat sesuatu yang ganjil, lalu jari menekan shutter... itu klimaksnya. Sisanya cuma bonus. Potretlah hal-hal yang membuatmu merasa hidup. Kamu tak butuh alasan yang lebih hebat dari itu."

Aku sempat mau menyela dengan lelucon garing, tapi kuurungkan—rasanya sayang memotong momen yang sedang mengalir enak begini. Ia menoleh ke arahku, menunjuk jalanan berdebu di depan warung dengan ujung rokoknya.

"Saat sesuatu memikat perhatianmu, bahkan sebelum kamu tahu apa alasannya... ikuti saja. Tugas seorang seniman bukanlah untuk selalu tahu ke mana arahnya, Mas. Kita ini bukan Google Maps yang harus tau rute paling cepat. Tugas kita melainkan untuk tetap terbuka menyambut panggilan tersebut."

Ia tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang kecoklatan karena kopi dan tembakau. Sebuah senyum dari seseorang yang sudah berdamai dengan ketidaksempurnaan—dan sepertinya juga sudah lama berdamai dengan sikat gigi.

"Makanya saya malas ngecek layar," pungkasnya sambil menyesap sisa kopinya yang mulai mendingin. "Terkadang, alasan terbaik untuk mengambil sebuah foto adalah sekadar karena kamu ingin melakukannya. Kalau hasilnya blur, gelap, atau noise-nya segede biji ketumbar? Ya tinggal ngeles aja, bilang kalau itu seni tingkat tinggi yang nggak bisa dipahami orang awam."

Kami berdua meledak dalam tawa yang kasar, menenggelamkan sejenak bisingnya pesisir utara, merayakan kemerdekaan dari segala tuntutan kesempurnaan. Seorang ibu penjual gorengan di sebelah sampai menoleh curiga, mungkin mengira kami baru saja menang undian.

Tawa kami mereda menyisakan cengiran puas. Ia mengulurkan tangannya yang kasar dan kapalan.

"Jupri," katanya singkat, seolah nama itu sudah cukup jadi seluruh biodata yang kuperlukan.

Dari jabat tangan itulah obrolan meluas, dan selubung misteri perlahan terbuka. Rupanya kami punya satu lagi kesamaan konyol: Mas Jupri ini perantau juga, persis seperti saya. Kami hanyalah dua orang pesakitan yang sama-sama terdampar di pulau ini karena dipaksa oleh keadaan—dan sama-sama terlalu gengsi untuk mengaku pada keluarga di kampung bahwa hidup di perantauan tak seindah status Facebook yang kami unggah.

Siang itu, waktu seolah kehilangan wibawanya. Satu gelas kopi berubah jadi dua, lalu tiga, lalu aku berhenti menghitung karena si ibu warung sudah otomatis menyodorkan gelas yang penuh berisi kopi baru segera tanpa perlu kita minta. Obrolan kami meloncat dari satu topik absurd ke topik absurd lainnya: dari debat serius soal merek oli motor yang paling bandel, ke teori konspirasi kenapa harga rokok naik terus tapi kualitasnya makin menurun, sampai keluhan panjang lebar Mas Jupri soal mantannya yang katanya "lebih ganas dari debt collector." Kebetulan stok rokok ilegal saya masih sisa banyak, jadi pembicaraan itu punya bahan bakar yang cukup untuk terus menyala sampai matahari mulai malas dan condong ke barat.

Bayang-bayang warung mulai memanjang di aspal. Suara azan dari kejauhan bersahutan dengan deru knalpot motor bebek yang lewat tanpa knalpot standar. Sudah enam gelas kopi, belasan gorengan, dan entah berapa belas batang rokok yang sukses saya sihir menyatu dengan raga ini—raga yang, jujur saja, sebenarnya sudah diprotes keras oleh lambung sejak gelas kopi keempat. Menjelang gelap, saat angin laut mulai terasa menusuk tulang dan nyamuk-nyamuk sore mulai unjuk gigi, saya akhirnya pamit pulang, dengan berat hati sekaligus perut yang juga berat oleh gorengan.

Saya berjanji pada Mas Jupri, kalau suatu saat nanti semesta mengizinkan saya kembali motoran menyisir pesisir utara Bali, saya akan sempatkan mampir ke kota "S" ini lagi. Ia menyambut janji itu dengan tawa, bersumpah akan gantian mentraktir saya kopi, gorengan, dan tentu saja—membalas utang rokoknya, meski kami berdua tahu betul utang semacam itu biasanya cuma lunas di alam mimpi.

Dan yang lebih hebatnya lagi, Mas Jupri berjanji akan memperkenalkan saya dengan teman-teman tongkrongannya yang menurut dia jauh lebih unik, lebih gila, dan jauh lebih "nyeniman" dibanding dirinya—sebuah klaim yang, mengingat standar Mas Jupri sendiri, entah harus kutanggapi dengan antusias atau justru dengan waswas.

Buat saya, itu adalah sebuah undangan yang pantang untuk dilewatkan. Warung ini, Mas Jupri, dan kawan-kawan ajaibnya nanti... saya pastikan, saya pasti akan datang lagi. Kalaupun rencana itu meleset seperti kebanyakan rencana perantau lainnya, setidaknya saya pulang hari itu dengan cerita yang jauh lebih berharga daripada foto manapun yang bisa dihasilkan kamera secanggih apa pun—termasuk kamera butut Mas Jupri yang, sampai saya pergi, tak sekali pun ia buka lagi untuk sekadar mengintip hasil jepretannya.

De gustibus non est disputandum

Rabu, 16 September 2026

Bedul, Kamera, dan Satu Malam yang Panjang (Catatan dari Warung Kopi Semalam — Ketika Seorang Fotografer Mulai Berkeluh-Kesah)



Beraban, Tabanan, Bali, Rabu, 16 September 2026

Semalam Bedul duduk di depan saya dengan wajah seseorang yang baru saja dihakimi oleh seluruh semesta. Kopinya masih panas. Keluhannya lebih panas lagi.

Saya bertemu Bedul di warung kopi langganan kami. Di luar, sisa-sisa gerimis membuat aspal jalanan memantulkan cahaya lampu jalan yang kekuningan, membawa masuk udara malam yang lebih dingin dan aroma tanah basah ke dalam warung. Ia datang lebih awal dari biasanya, sudah duduk di pojok dengan secangkir kopi hitam yang belum disentuh—dan itu saja sudah menjadi tanda bahaya. Bedul tidak pernah membiarkan kopi mendingin. Kalau ia tidak langsung menyeruputnya, berarti ada sesuatu yang lebih panas dari kopinya yang sedang ia pikirkan.

Saya duduk. Ia menatap saya dengan tatapan seseorang yang baru saja selesai diadili oleh warga karena kepergok berbuat asusila.

"Bro, tadi ada yang nanya ke gue: 'Katanya fotografer, kok nggak bawa kamera?' Gue lagi kondangan, bro. KONDANGAN. Bukan sesi pemotretan," keluhnya membuka percakapan.

Saya mengangguk pelan. Bukan karena saya setuju dengan kemarahannya—tapi karena saya sudah cukup mengenal Bedul untuk tahu bahwa yang ia butuhkan saat ini bukan tanggapan. Ia butuh pendengar. Dan kopi. Tapi kopinya masih panas, jadi pendengar dulu. Saya memesan kopi untuk diri saya sendiri. Ini akan panjang.


Ekspektasi yang Tidak Pernah Ia Minta


Bedul, bagi yang belum tahu, adalah fotografer. Bukan fotografer amatir yang masih belajar memahami segitiga eksposur. Ia fotografer sungguhan—yang kerjanya memotret, yang hidupnya berputar di sekitar kamera, cahaya, dan momen. Dan justru karena itu, kata Bedul, orang-orang di sekitarnya punya satu ekspektasi yang tidak pernah ia setujui tapi tidak pernah bisa ia tolak: bahwa ke mana pun ia pergi, kamera harus ikut.

"Seolah-olah gue ini kura-kura," katanya, akhirnya menyeruput kopinya yang kini sudah mulai berhenti mengepul, "yang nggak bisa lepas dari tempurungnya."

Masalahnya, lanjut Bedul, bukan hanya soal kondangan semalam. Ini sudah terjadi berkali-kali, dalam berbagai versi, dari berbagai mulut. Ada yang bertanya dengan nada heran. Ada yang bertanya dengan nada menuduh. Ada yang bertanya dengan nada yang paling menyebalkan dari semuanya: nada kecewa—seolah-olah Bedul baru saja mengecewakan seluruh keluarga besar dengan tidak mendokumentasikan acara makan siang dengan kualitas editorial.

"Dokter nggak bawa stetoskop ke kondangan. Koki nggak bawa pisau ke rumah mertua. Tapi fotografer nggak bawa kamera? Langsung kena sidang."

Saya harus akui—argumen itu cukup solid untuk disampaikan sambil minum kopi di warung jam sembilan malam. Bedul memang tidak pintar dalam banyak hal, tapi dalam hal merumuskan keresahan menjadi analogi yang menohok, ia cukup berbakat. Tolong jangan bilang ke Bedul bahwa saya bilang ia berbakat. Ia sudah cukup percaya diri.


Insting yang Tidak Punya Tombol Off


Di sekeliling kami, warung mulai ramai. Suara denting sendok yang mengaduk dasar gelas, tawa keras dari meja sebelah yang sedang main kartu, dan asap rokok yang mengambang lambat di bawah lampu neon menciptakan keriuhan khas warung kopi.

Tapi kemudian Bedul mencondongkan tubuhnya ke depan, seolah mengabaikan semua kebisingan itu, dan bilang sesuatu yang, kalau saya jujur, cukup mengejutkan saya. Ia bilang bahwa masalah sesungguhnya bukan kameranya. Masalah sesungguhnya adalah kepalanya sendiri.

"Waktu gue pegang kamera, otak gue langsung nyala. ISO berapa, bukaan berapa, angle dari mana. Otomatis. Gue jadi mesin. Dan gue capek jadi mesin terus, bro," akunya dengan nada jujur yang jarang ia perlihatkan.

Begitu kamera ada di tangan, kata Bedul, ia tidak bisa lagi sepenuhnya hadir di sebuah momen. Pikirannya langsung terbagi—antara mengalami momen itu dan mendokumentasikannya. Lebih sering dari yang ia mau akui, mendokumentasikan yang menang. Ia memotret tawa seseorang tapi tidak ikut tertawa.

"Pernah sekali gue ikut ulang tahun temen lama. Gue bawa kamera. Pulang, gue punya 400 foto. Bagus semua secara teknis. Tapi gue nggak ingat apa yang kita obrolin. Nggak ingat rasa kuenya. Nggak ingat momen lucunya. Gue ada di sana tapi nggak hadir. Dan itu nyesek, bro," tambahnya.


Kamera Sebagai Tembok


Bedul kemudian berteori bahwa kamera bisa menjadi tembok. Sebuah tirai tipis yang memisahkan fotografer dari kenyataan yang seharusnya bisa ia rasakan secara utuh.

"Kamera nggak bisa rekam bau kopi," katanya, sambil melirik cangkirnya. "Nggak bisa rekam suhu ruangan yang pas. Nggak bisa rekam getaran perasaan waktu percakapan lagi enak-enaknya. Sensor secanggih apapun, tetap kalah sama memori yang dibentuk waktu lo benar-benar hadir."

Menurut Bedul, inilah hal yang tidak pernah diajarkan di kelas fotografi mana pun. Semua kelas mengajarkan cara mengatur eksposur, cara membaca cahaya, dan membangun komposisi. Tapi tidak ada yang mengajarkan kapan harus meletakkan kamera dan duduk diam menikmati apa yang ada di depannya.

"Padahal itu mungkin skill paling susah yang harus dikuasai fotografer," katanya. "Tahu kapan harus berhenti motret."


Fotografer Juga Manusia


Menjelang cangkir kopi ketiga, Bedul sampai pada inti dari semua keluhannya. Ia bilang, ia tidak ingin selalu menjadi fotografer. Kadang ia ingin menjadi tamu. Kadang ia ingin menjadi teman.

"Menjadi fotografer itu bagian dari hidup gue, bro. Tapi bukan seluruh hidup gue. Gue juga manusia. Manusia yang kadang pengen duduk di kondangan tanpa ada yang nanya kenapa gue nggak bawa kamera."

Saya tidak menjawab langsung. Saya minum kopi saya, merasakan kehangatan dan jejak ampas kasar di ujung lidah, berpikir sebentar, lalu menyetujuinya. Bedul diam sebentar, lalu memanggil bapak penjaga warung dan memesan gorengan. Begitulah cara Bedul mengakhiri momen yang terlalu serius: dengan gorengan panas di tengah malam yang dingin.


Catatan Akhir


Saya pulang dari warung kopi semalam dengan satu pikiran: betapa mudahnya kita mereduksi seseorang menjadi profesinya. Bedul adalah fotografer—tapi ia juga teman, manusia, orang yang punya hak untuk datang ke kondangan tanpa kamera tanpa harus menjelaskan dirinya kepada siapapun.

Kalau suatu saat Sobat melihat Bedul duduk di sudut ruangan dengan tangan kosong dan ekspresi damai, jangan tanya di mana kameranya. Ia sedang tidak gagal menjadi fotografer. Ia sedang berhasil menjadi manusia.

Karena foto terbaik yang pernah dibuat Bedul mungkin adalah foto yang tidak pernah ia ambil—karena pada momen itu, ia memilih untuk hadir sepenuhnya, dengan kedua matanya sendiri, bukan melalui jendela bidik yang sempit. Dan kenangan tentang malam di warung kopi itu—tentang kopi yang terlalu pahit, gorengan yang terlalu berminyak, suara tawa di meja sebelah, dan keluhan yang ternyata lebih dalam dari yang kami sangka—itu tidak perlu difoto. Sudah cukup diingat.