(sambungan dari Bagian Kedua)
Potret yang Tak Sempat Direncanakan
Saya tak pernah menceritakan kebenaran ini kepada siapa pun. Sampai hari ini.
Buku fotografi itu tak pernah saya kembalikan. Ia masih ada di rak saya, sampulnya menguning, tulisan tangan Mei di halaman pertamanya masih terbaca jelas. Dua puluh lima tahun berlalu tanpa kabar, tanpa keberanian untuk mencari, sampai suatu sore saya berdiri di sebuah galeri kecil di Kota "B", Bali, menikmati pameran foto yang katanya menampilkan karya-karya fotografer lintas generasi.
Saya sedang berhenti cukup lama di depan satu foto—hitam putih, komposisi sederhana, tapi entah kenapa terasa jujur sekali, seperti sesuatu yang pernah saya baca definisinya bertahun-tahun lalu di sebuah buku bersampul hitam. Saya berpaling ke belakang untuk mencari keterangan fotonya.
Dan di sanalah dia berdiri. Lima meter dariku. Sudah lama, rupanya, mengamati saya dalam diam sebelum saya sadar.
Saya membeku. Wajahnya nyaris tak berubah dari yang tersimpan di ingatan saya sejak malam terakhir di teras itu—hanya lebih tenang, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan sesuatu yang dulu tak pernah selesai. Di sampingnya berdiri dua remaja, perempuan dan laki-laki, yang dari raut wajah mereka saya bisa menebak: darah dagingnya sendiri.
Kami tidak saling menyapa. Tidak ada yang melangkah maju. Hanya tatapan, yang entah kenapa terasa lebih jujur daripada segala kalimat yang pernah saya ucapkan padanya dua puluh lima tahun lalu.
Matanya turun sebentar, sekilas saja, ke jemari saya. Bukan tatapan basa-basi. Ada harap di sana—tapi bukan harap yang lembut. Justru harap yang kelam, harap yang selama dua puluh lima tahun sengaja ia rawat karena harap itulah yang membuatnya bisa bernapas: harap bahwa saya benar-benar seperti yang ia susun dalam benaknya sejak malam terakhir di teras itu. Bahwa tak lama setelah saya pergi, akan ada cincin di jari itu. Bukti bahwa saya memang bajingan tulen, yang meninggalkannya demi perempuan lain, demi alasan yang picisan dan sepele. Sebab jika itu benar, penderitaannya dulu setidaknya punya bentuk. Punya nama. Punya seseorang yang pantas disalahkan.
Dan tak ada.
Tak ada sebelumnya. Tak pernah ada. Dan barangkali tak akan pernah ada.
Saya melihat momen itu terjadi di wajahnya—begitu singkat, begitu senyap, tapi cukup untuk saya kenali betapa kelamnya hal itu baginya. Sebab kalau saya memang bajingan yang sesungguhnya, hari itu ia bisa pulang dengan luka lama yang sudah lunas. Tapi jemari kosong itu meruntuhkan seluruh cerita yang selama ini menopangnya. Kalau bukan perempuan lain, kalau bukan pengkhianatan yang sederhana—lalu apa? Pertanyaan itulah yang, saya kira, membuatnya jauh lebih hancur hari itu dibanding dua puluh lima tahun yang sudah ia lalui dengan tenang.
Matanya naik lagi ke mata saya. Saya tidak tahu persis apa yang ia baca di sana. Tapi saya tahu, dari cara wajahnya melunak sepersekian detik—dari garis rahangnya yang tiba-tiba kehilangan ketegangannya, dari napasnya yang seperti tertahan sebelum akhirnya dilepaskan pelan-pelan—bahwa untuk pertama kalinya dalam seperempat abad, kepastian yang selama ini ia genggam erat-erat baru saja lepas dari tangannya, dan ia sedang menyusun ulang satu pertanyaan yang mungkin selama ini tak pernah berani ia tanyakan pada dirinya sendiri: mengapa.
Saya tidak punya jawaban yang pantas diberikan di tengah galeri, di depan anak-anaknya, dua puluh lima tahun terlambat. Yang bisa saya berikan hanyalah satu anggukan kecil. Kepadanya, kepada keluarga kecil yang tak pernah menjadi milik saya, kepada versi diri saya yang dulu memilih menjadi bajingan demi menjaga seseorang yang bahkan tak pernah tahu sedang dijaga.
Ia membalas anggukan itu. Ringan, nyaris tak kasat mata—tapi cukup.
Saya berjalan pergi, meninggalkan foto yang belum selesai saya lihat, meninggalkan dia dan keluarga kecilnya di tengah pameran yang temanya, entah kebetulan atau tidak, adalah tentang potret-potret yang tak sempat direncanakan.
Belum jauh langkah saya dari sana, sayup-sayup terdengar suara seorang perempuan muda—mungkin putrinya sendiri.
"Mama nangis? Kenapa, Ma?"
Saya tidak menoleh. Tidak berani. Tapi pertanyaan kecil itu saja sudah cukup menjawab apa yang selama ini tak pernah berani saya tanyakan sendiri: bahwa di balik satu anggukan tenang tadi, dua puluh lima tahun keyakinan Mei baru saja runtuh diam-diam. Ia akhirnya tahu. Bahwa bajingan yang berdiri di depannya sore itu, dulu, hanyalah seseorang yang bersusah payah belajar menjadi bajingan—demi menjaga sesuatu yang bahkan tak pernah ia tahu sedang dijaga.
Semesta, rupanya, memang punya selera humor yang keterlaluan.
Selamat sore, Mei. Saya tak tahu apakah kamu akhirnya paham topeng yang dulu saya pakai. Tapi kalau hari ini kamu pulang dengan satu jawaban yang lebih tenang daripada dua puluh lima tahun kebencian, mungkin itu sudah cukup bagi saya untuk berhenti merasa bersalah.
Amor Vincit Omnia, Sed Veritas Liberat


Tidak ada komentar:
Posting Komentar