Halo, Sobat Jepret! Semoga akhir bulan ini kreativitas Sobat tetap tebal, walaupun saldo ATM sudah setipis tisu.
Beberapa waktu lalu saya curhat soal mood memotret yang menguap entah ke mana. Saya sempat curiga pada kamera yang sudah uzur, lalu pada lensa yang kayaknya minta pensiun dini. Pokoknya semua tersangka saya periksa, kecuali satu: diri saya sendiri.
Jawabannya baru ketemu semalam, ditemani kopi hitam yang sudah dingin dan asap rokok yang menari-nari di udara. Saya merenung, lalu sadar bahwa musuh terbesar saya ada di depan cermin. Hahaha. Kadang kita memang perlu menertawakan kebodohan sendiri dulu sebelum bisa waras.
Dari penelusuran referensi, saya menemukan tulisan fotografer Kanada Ryan Cooper di Fstoppers (sempat diulas juga oleh SaveSeva). Rasanya seperti ditampar pelan-pelan, tidak sakit tapi bikin melek. Ia merangkum empat alasan klasik yang sering membuat kita jalan di tempat. Mari kita bedah satu per satu, dan silakan cek mana yang paling “kena” di Sobat.
1. “Gear saya pas-pasan”
Ini tersangka utama. Lihat foto bagus di Instagram, refleks kita langsung mengecek kamera apa yang dipakai. Kalau ketemu lensa seri L atau bodi seharga motor, kita bergumam, “Pantas bagus, gear-nya saja kelas bangsawan.”
Itu jebakan pikiran. Kita menyugesti diri bahwa karya bagus hanya lahir dari alat mahal. Padahal tidak ada yang pernah memuji hasil foto dengan, “Wah, sensornya luar biasa, Anda pasti pandai sekali.” Yang dipuji selalu mata dan cerita di balik foto itu.
Jujur saja, gear memang berpengaruh di genre tertentu. Motret olahraga, satwa liar, atau suasana minim cahaya memang butuh peralatan yang sesuai. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti. Kamera terbaik adalah yang ada di tangan Sobat sekarang, entah ponsel, kamera saku, atau kamera analog tua peninggalan Bapak. Kualitas foto naik karena latihan yang konsisten, bukan karena isi dompet.
2. “Saya tidak punya waktu”
Arbain Rambey dan fotografer idola Sobat itu sama-sama punya 24 jam sehari. Tidak ada yang dapat bonus jam ke-25. Bedanya ada di prioritas. Sobat yang bisa menghabiskan satu jam menggulir layar sebelum tidur sebenarnya punya waktu. Cuma lagi dipakai untuk hal lain.
Triknya sederhana: bawa kamera ke mana pun pergi. Dengan begitu, momen emas di jalan tidak lagi lolos hanya karena kamera sedang santai di rumah.
3. “Foto saya jelek, malu kalau dipamerkan”
Standar “bagus” itu licin dan subjektif. Foto yang menurut Sobat layak masuk tempat sampah bisa saja membuat orang lain berhenti menggulir layar. Lagi pula, banyak maestro yang konon tidak pernah merasa puas dengan karyanya sendiri. Rasa tidak puas itu tanda mata kita terus naik kelas, bukan tanda kita gagal.
Jadi, pamerkan saja fotonya. Kritik memang kadang pedas, tapi itulah bahan bakar paling murah untuk berkembang, jauh lebih murah daripada lensa baru.
4. “Tidak ada objek menarik”
Alasan ini yang paling lemah. Kecuali Sobat berprofesi sebagai semut yang jarinya tidak sanggup menekan tombol shutter, objek itu ada di mana-mana. Rekan kerja yang sedang serius menatap layar, hiruk-pikuk jalanan menuju kantor, atau permainan cahaya dan bayangan di sudut bangunan yang tiap hari kita lewati tanpa menoleh. Pelajari dasar komposisi, dan benda yang kelihatan biasa bisa tiba-tiba punya drama ala film.
Tamparan dari Fotografer Kawakan
Saya pernah mengeluh kepada seorang fotografer senior bahwa hasil foto saya kurang memuaskan karena kamera saya seri murah. Beliau tertawa terbahak-bahak. Setelah reda, ia berkata tegas:
“Kamera itu hanya perwakilan dari fotografernya. Bagus atau tidaknya foto, 99 persen tergantung pada fotografernya, bukan seberapa mahal bodi kameranya.”
Kalimat itu menohok sekaligus membebaskan. Sering kali kita tidak maju bukan karena alat kurang, tapi karena kita sendiri yang memasang pagar-pagar konyol di kepala.
Saatnya Reset
Jadi, mari kita sudahi drama ini. Simpan ego yang kegedean dan rasa malas yang didandani dengan alasan teknis. Mengakui bahwa kita sempat salah jalan itu bukan memalukan. Itu langkah pertama untuk benar-benar jalan.
Di luar sana ada miliaran objek yang menunggu diabadikan, tanpa peduli merek kamera di tangan Sobat. Dunia terlalu indah untuk dilewatkan hanya karena kita sibuk mengintip peralatan orang lain.
Tantangannya begini, Sobat: satu foto per hari selama tujuh hari, dengan alat apa pun yang Sobat punya. Boleh ponsel, boleh kamera butut. Cek baterai, keluar rumah, dan bagikan hasilnya di kolom komentar. Saya tunggu.
Yuk, kita potret dunia!







Tidak ada komentar:
Posting Komentar