Jumat, 02 Maret 2018

KARYA FOTOGRAFI - BAHAGIA ITU (RELATIF) SEDERHANA.....




Kemayoran, Jakarta, Kamis, 1 Maret 2018


Bahagia itu apa sih? 

Waduh, kemarin dulu, pertanyaan itu tiba-tiba muncul dari mulut sahabat saya. Pertanyaan yang sebenarnya gampang, tetapi untuk menjawabnya... susah luar biasa! Bukan karena topik pertanyaan berupa hal yang super rumit macam persamaan fisika nuklir, atau super teknis semacam teknik pengambilan foto yang bisa langsung dapat hasil bagus tanpa diedit. Tapi, karena pertanyaan itu punya jawaban yang tidak seragam, alias takarannya banyak banget. Berbeda orang, maka beda pula takaran kebahagiaannya. Buat karyawan dan tukang foto keliling seperti saya, tentu takaran kebahagiaan itu berbeda dengan pengusaha, tentu berbeda pula dengan...katakanlah...seorang koruptor, atau seorang fotografer, atau seorang model, dan sebagainya.



Nah lho....kalau takarannya aja ga ada, terus gimana dong mendiskripsikan apa itu rasa "bahagia"?

Nah, disini saya tidak berusaha menerangkan apa itu rasa "bahagia". Setiap orang punya hak dan cara tersendiri untuk menerangkan dan mendeskripsikan rasa tesebut. Saya juga tak merasa perlu untuk bersusahpayah menerangkan kepada teman saya itu, apa itu definisi dari rasa bahagia, saya hanya menceritakan satu kisah kepada sahabat saya tersebut, kisah yang sama dengan yang sekarang ini saya tulis dalam postingan ini.



Beberapa bulan lalu, saya jalan-jalan ke pasar kebayoran lama, di Jakarta Selatan. Satu pasar yang cukup terkenal, karena memang sudah ada sejak lama banget (seingat saya, sejak saya kecil puluhan tahun silam, pasar ini sudah ada). Tujuannya, selain jalan-jalan, saya ingin hunting foto, memotret keseharian orang-orang yang ada di pasar itu, istilah kerennya, "street photography" (baca postingan "STREET PHOTOGRAPHY - "MAS....SAMPEYAN FOTOGRAFER?"......"BUKAN!...SAYA CUMA HOBBY MOTO")

Dan hari itu, dengan berbekal rokok dan air minum, serta kamera yang siap jepret, mulailah saya keliling-keliling sambil mencari target foto yang memenuhi selera saya, mulai dari pedagang barang-barang loak, tukang jual burung, jual kembang, jual batu cincin, baju bekas, sampai pada kemacetan yang biasa terjadi di sana. Jepret sana, jepret sini, lihat di lcd, kurang berkenan, hapus! Lalu, jepret lagi dan jepret lagi. Mungkin sekitar 2 jam saya keliling di area pasar tersebut, sudah puluhan foto saya ambil, dan saya merasa...sudah cukup. 



Sambil merapikan kamera, saya berjalan menuju warung pinggir jalan, langsung duduk, dan pesan kopi hitam. Kopi datang, sambil diseruput manja sedikit, ambil rokok sebatang, sundut, keluarkan kamera, dan langsung lihat perolehan foto-foto yang dicapai. Saking asyiknya, saya sampai gak sadar, kalau di dalam warung kopi itu, ada 3 orang yang juga sedang menikmati hal yang sama. Bedanya, ketiga orang ini sedang menikmati kebersamaan, ketiganya adalah sohib lama, dan mereka telah berkawan selama puluhan tahun, bersama-sama menghadapi perubahan lingkungan yang cepat, bertahan dalam kesederhanaan, dan melalui tutur kata dan topik yang mereka perbincangkan, saya menilai bahwa mereka mampu mencerna dan menerima segala perubahan dalam kaca mata kesederhanaan.



Dan mereka juga tertawa!....Bukan tertawa dalam konotasi "keterpaksaan", tetapi tertawa dalam konteks yang sebenarnya! Tertawa lepas! Tertawa bahagia! Mereka mampu menyikapi segala kekurangan yang melekat dalam diri mereka ke dalam bingkai yang "menyenangkan" dan berbahagia dengan itu semua!



Jegerrrr!!!......Saya seperti tersadar, saya perhatikan lagi foto-foto yang saya ambil, dan memang, di dalam foto-foto tersebut adalah orang-orang yang mampu menyikapi tekanan hidup...Membungkusnya dalam "nrimo".....dan efeknya? Mereka jauh lebih mampu berbahagia dibandingkan dengan kebanyakan orang!

Wah....Ini yang bikin saya semakin tersadar! Ternyata, takaran bahagia itu bukan sesuatu yang "eksakta", tetapi lebih kepada bagaimana kita melihat segala sesuatu dalam hidup ini! Mereka-mereka ini menikmati apa yang mereka miliki, bukan mengharapkan dengan amat sangat apa yang menjadi impian mereka dan tidak menyesali apa yang hilang dari mereka! Bagi mereka, hidup adalah menikmati apa yang mereka punya, dan bukan menyesali apa yang mereka tidak punya!

Wahhhh.......

Dalam hal ini, saya kalau jauh dengan mereka! Mereka mampu melihat segala sesuatu dalam perspektif mereka sendiri, dan menyederhanakan kebahagiaan kedalam bentuk yang sangat sederhana, satu bentuk dimana mereka dapat menikmati kebahagiaan itu, tanpa perlu terlalu bermimpi!

Itu yang saya ceritakan kepada teman saya, tentang betapa sederhananya kebahagiaan itu sebenarnya!

"Kebahagiaan itu hanya akan muncul dari rasa bersyukur, dan rasa bersyukur itu hanya akan muncul, apabila kita mulai menghargai apa yang kita miliki, dan berhenti menyesali apa yang tidak kita punyai!"

Dan teman saya itu mangangguk-angguk sambil tersenyum. Entah mengangguknya karena setuju dengan paparan saya, atau mengangguk karena bosan dan menganggap bodoh apa yang telah saya sampaikan.....Entah!

Jujur, saya juga tidak terlalu peduli! Toh saya hanya menyampaikan apa yang menurut saya benar, masalah dia mau menerima atau membuangnya ke tempat sampah...itu hak dia!

Demikianlah sobat-sobit jepret, cerita saya....semoga berkenan! Dan untuk melengkapi cerita dalam postingan ini, akan saya sajikan beberapa foto, yang menjadi keseharian di Pasar Kebayoran lama, cekidot sob!










8 komentar:

  1. karya yang luar biasa! Lucu dan menarik

    BalasHapus
  2. Karya yang cukup menarik, menyajikan hasil foto dalam bentuk dan perspektif yang berbada!

    BalasHapus
  3. Karya yang cukup menarik, menyajikan hasil foto dalam bentuk dan perspektif yang berbada!

    BalasHapus
  4. Artikel yang sangat menarik dan juga inspiratif!

    BalasHapus
  5. Artikel yang sangat menarik dan juga inspiratif! Layak untuk dibaca, dan juga mampu menambah wawasan serta referensi kita terhadap fotografi dan juga yang lain!

    BalasHapus
  6. Karya yang menarik dan menambah wawasan. Juga bisa menambah pengetahuan kita.

    BalasHapus
  7. Momentum keseharian tertangkap di kamera dengan apik, terlihat natural.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak mas atas apresiasinya. memang, kadang kalau keseharian itu tidak diabadikan, hanya akan berlalu begitu saja.

      Sekali lagi, terima kasih banyak ya mas himawan sant...it's very nice of you

      Hapus