Sabtu, 24 Oktober 2026

Cerita Fotografer Terbuang (Bagian 2): Pelajaran Pahit tentang Seni Tanpa Empati



Beraban, Tabanan, Bali, Sabtu, 24 Oktober 2026

Pada Bagian 1, kita menyaksikan bagaimana Amir—yang bermula dari anak bawang berkamera pinjaman—meraih popularitas instan lewat satu foto viral. Namun, seiring melambungnya popularitas, ia perlahan memotong jembatan dengan orang-orang yang membimbingnya dan menukar empati dengan ego.

Kini di Bagian 2, kita melihat apa yang terjadi ketika panggung riuh itu mulai redup, dan seorang fotografer harus berhadapan dengan karyanya sendiri yang kehilangan jiwa.

Amir terus memotret. Foto-fotonya tetap tajam dan simetris, dibidik dengan lensa yang harganya setara motor bekas. Tapi dulu kritik pedas datang gratis setiap Minggu pagi, dan sekarang satu-satunya kritikusnya adalah cermin, yang tidak pernah membantah.


Studio yang Terlalu Rapi


Ia menyewa admin media sosial untuk memastikan "engagement tetap sehat". Admin itu, anak muda sopan bernama Dimas, melapor tiap Senin dengan wajah dokter yang menyimpan kabar buruk. Likes menyusut. Komentar berubah dari pujian panjang menjadi emoji api, lalu emoji tepuk tangan, lalu kosong. Pengikut baru memang berdatangan, berupa akun-akun tanpa foto profil yang menulis hal-hal ajaib seperti: "Nice pic bro, follow back?"

Amir menyalahkan algoritma. Ia menyalahkan selera pasar yang menurutnya makin dangkal. Ia menyalahkan generasi yang hanya sanggup menatap satu foto selama dua detik. Dan sekali, setelah malam yang buruk, ia menyalahkan cuaca.

Satu-satunya yang tidak pernah ia salahkan adalah satu-satunya makhluk lain di studio itu.


Pameran Fotografi Tabanan


Undangan pameran di Tabanan itu datang karena reputasi lama. Seperti sambal botolan di rak toko, ia masih dipajang karena labelnya masih bagus. Panitia menyapanya "yang terhormat maestro" di surel, dan Amir membacanya sambil menahan senyum, tanpa sekali pun bertanya mengapa tak ada satu pun karya terbarunya yang disebut.

Ia terbang ke Bali dengan tiket yang dibayari sponsor. Di bandara, ia memotret koper dan sepatunya sendiri untuk diunggah: Menuju babak baru. Empat belas orang menyukainya, dua di antaranya jelas bot.

Gedung pameran ramai sejak hari pertama. Aroma kopi dari kafe kecil di sudut ruangan bercampur dengan gumam kagum yang berpindah dari stan ke stan. Lima panel Amir diberi judul Hening yang Riuh, lengkap dengan pernyataan seniman sepanjang tiga ratus kata tentang "dialektika sunyi dan keramaian dalam lanskap urban". Tidak ada yang membacanya, kecuali mungkin petugas kebersihan, yang menggosok kacanya tiap pagi sambil membaca separuh kalimat pertama lalu menyerah.

Di stan sebelah, foto seorang nenek penjual canang dikerumuni orang: tangan keriput menata bunga, sebutir embun di kelopak, dan sang nenek sendiri, yang kebetulan hadir di hari pembukaan dan disalami separuh pengunjung. Di stan Amir, orang memang sesekali berhenti, tapi hanya untuk berswafoto membelakangi panelnya, karena pencahayaannya bagus.


Pria Bertopi Pet


Hari ketiga, hari terakhir, Amir menyerah pada gengsinya. Ia berdiri menyamar di dekat panel sendiri, topi ditarik rendah dan masker terpasang, berlagak sebagai pengunjung biasa. Satu jam berlalu: tujuh orang berswafoto, dua orang memeriksa riasan di pantulan kaca, satu anak kecil menempelkan hidung di bingkai dan meninggalkan noda.

Lalu seorang pria paruh baya bertopi pet berdiri di depan salah satu fotonya. Ia tidak berswafoto. Ia tidak mengangkat ponsel. Ia hanya berdiri dengan tangan di belakang punggung, lebih lama dari siapa pun selama tiga hari itu. Dua menit. Tiga. Jantung Amir berdetak seperti murid yang menunggu pengumuman nilai.

Ia mendekat, pura-pura santai.

"Bagus ya, Pak? Menurut Bapak bagaimana?"

Pria itu menoleh dan tersenyum tipis. "Secara teknik sempurna. Komposisinya pas, cahayanya luar biasa."

Amir nyaris ikut tersenyum.

Pria itu menghela napas pendek, seolah kalimat berikutnya butuh tenaga ekstra. "Tapi nilainya sama dengan screensaver. Indah dilihat, tidak membekas di mana-mana."

Ia menatap foto itu sekali lagi.

"Fotografernya pasti sangat berbakat. Sayang, sepertinya ia lupa caranya punya hati."

Pria itu pergi tanpa menunggu tanggapan, tidak marah dan tidak sinis, seperti orang yang baru selesai menyampaikan prakiraan cuaca. Amir tetap di tempatnya. Ia ingin mengejar dan menjelaskan: harga lensanya, jumlah pengikutnya, jumlah trofinya. Tapi tak satu pun terasa sanggup menjawab. Rasanya seperti dikupas. Topeng yang sudah bertahun-tahun menempel ternyata baru terasa ketika seseorang menariknya.


Buku Kesan


Malam penutupan, panitia menyalakan lampu hangat dan menyajikan kue lapis. Para fotografer mengemas peralatan sambil bertukar cerita, tawa, dan nomor kontak. Amir berjalan ke mejanya sendiri dan membuka buku kesan di depan lima fotonya. Tangannya sedikit gemetar. Ia membalik halaman demi halaman, harap-harap cemas, seperti orang yang memeriksa kotak surat sepulang bepergian.

Satu-satunya tanda di halaman itu adalah lingkaran bekas gelas kopi, dan itu pun mungkin milik panitia.

Buku kesan fotografer lain penuh pujian, kritik, tanda tangan, bahkan gambar hati dan satu puisi lima baris dari anak SD. Di stan nenek penjual canang, panitia terpaksa mengambilkan buku tambahan.

Di aula yang riuh, Amir menjadi satu-satunya titik sunyi. Tak seorang pun mengajaknya bicara. Tak seorang pun menatap matanya. Seorang fotografer muda sempat menoleh ke arahnya, dan Amir hampir membuka mulut, tapi anak itu ternyata hanya hendak menyapa seseorang di belakangnya. Amir bergeser ke samping agar tidak menghalangi jalan.

Ia diperlakukan seperti udara kosong yang berembus di dalam ruangan, persis seperti caranya memperlakukan Rian dan orang-orang lain bertahun-tahun yang lalu.


Fotografer yang Hilang


Malam itu Amir berdiri sendirian di parkiran gedung pameran. Langit Bali bertabur bintang tanpa filter dan tanpa pengaturan apa pun, dan tetap lebih ramai daripada pamerannya. Tas kamera menggantung berat di bahunya, tapi yang jauh lebih berat adalah dadanya.

Untuk pertama kalinya ia menghitung, dan hasilnya buruk. Pak Broto, Bu Dinar, Koh Hendra, Rian. Pak Sarmin, yang namanya baru ia ingat malam ini: pemulung yang tertawa di tengah hujan dan tidak sekali pun ia tanyai kabarnya sejak foto itu viral.

Ia sukses menyingkirkan semua orang dari hidupnya satu per satu, tanpa pernah menghitung ruginya. Kini dunia membalas dengan cara yang paling sopan: bukan marah, bukan memusuhi, hanya tidak peduli. Karyanya tak lagi menyentuh siapa pun, karena ia sendiri sudah lama berhenti membiarkan dirinya tersentuh.

Amir telah menjadi manusia yang hilang. Bukan karena dunia meninggalkannya, tapi karena dialah yang lebih dulu meninggalkan dunia.

Ponselnya bergetar. Pesan dari panitia:
"Pak, ada titipan dari seorang pengunjung untuk foto Bapak. Katanya tidak sempat menulis di buku, tapi ingin menyampaikannya langsung."

Biasanya Amir membalas pesan semacam ini dengan balasan otomatis yang sudah ia simpan:

“Terima kasih atas apresiasinya 🙏”

Ia mengetik huruf pertama, berhenti, lalu menghapusnya.

Di lemari studionya, di dalam kardus yang tak pernah dibuka sejak ia membawanya pulang, masih tersimpan DSLR tua dengan shutter seret itu. Pinjaman, katanya dulu. Ia tidak pernah mengembalikannya.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Amir tidak tahu apakah dirinya layak menerima apa pun yang akan dikatakan pesan itu.

Catatan Penulis:

Kisah ini memanglah kisah fiksi belaka, jikalau ada kesamaan nama orang, nama tempat dan lainnya, maka itu hanyalah kebetulan semata. walaupun demikian, kisah ini ini ditulis berdasarkan pada kejadian yang pernah saya saksikan sendiri. Tidak ada karya besar yang lahir dari kekosongan. Selalu ada tangan lain yang ikut membentuknya, meski namanya tak pernah tercetak di bawah judul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar