Rabu, 04 April 2018

TIPS FOTOGRAFI-MEMOTRET WAJAH



Kemayoran, Jakarta, Rabu, 4 April 2018

Selamat pagi, siang, sore, ataupun malam, di mana pun sobat Jepret berada.

Semoga hari ini menjadi hari yang menyenangkan. Kalau pun belum, semoga setidaknya ada secangkir kopi hangat atau sebuah senyuman yang membuat langkah terasa sedikit lebih ringan.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengajak sobat semua berbincang tentang salah satu objek fotografi yang hampir tidak pernah kehilangan pesonanya sejak kamera pertama kali diciptakan. Objek itu bukan gunung yang megah, bukan pula pantai dengan matahari terbenamnya yang memikat. Objek yang akan kita bahas jauh lebih dekat dengan kehidupan kita sehari-hari: wajah manusia.

Kalau kita perhatikan, hampir setiap fotografer—baik pemula maupun profesional—pernah atau bahkan sering memotret wajah. Entah itu wajah anggota keluarga, sahabat, anak-anak yang sedang bermain, pedagang di pasar, atau seseorang yang baru ditemui di perjalanan. Seolah-olah ada sesuatu pada wajah manusia yang selalu berhasil mengundang kita untuk mengangkat kamera dan menekan tombol rana.

Mengapa demikian?

Ada banyak jawaban untuk pertanyaan tersebut.

Sebagian fotografer berpendapat bahwa wajah adalah pusat ekspresi manusia. Rasa bahagia, sedih, haru, marah, gugup, hingga rasa penasaran dapat terlihat hanya dari perubahan kecil pada mata, bibir, atau alis. Satu potret wajah mampu menceritakan kisah yang panjang tanpa memerlukan satu kalimat pun.


Pendapat lain mengatakan bahwa wajah adalah bagian tubuh yang paling "berbicara". Ketika kita melihat sebuah portrait yang kuat, sering kali kita tidak lagi memikirkan pakaian yang dikenakan subjek ataupun latar belakangnya. Pandangan kita langsung tertuju pada sorot matanya. Dari sanalah kita mencoba menebak cerita yang sedang dialami orang tersebut.

Lalu, pendapat mana yang benar?

Kalau pertanyaan itu ditujukan kepada saya, jawabannya sederhana.

Semuanya benar.

Fotografi bukan matematika yang selalu memiliki satu jawaban pasti. Fotografi adalah ruang yang sangat luas untuk berekspresi. Apa yang dianggap penting oleh seorang fotografer belum tentu menjadi prioritas fotografer lain, dan itu bukanlah sebuah kesalahan.

Saya pribadi selalu percaya bahwa setiap orang memiliki cara sendiri dalam menikmati fotografi. Ada yang jatuh cinta pada lanskap, ada yang lebih menyukai dunia satwa liar, ada yang menghabiskan waktu berburu foto jalanan, dan ada pula yang merasa paling bahagia ketika memotret wajah manusia.

Semua pilihan itu sama-sama layak dihargai.

Yang sering kali justru membuat fotografi menjadi kurang menyenangkan adalah ketika seseorang terlalu sibuk menilai karya orang lain tanpa pernah benar-benar mencoba berkarya sendiri. Kritik tentu penting. Masukan juga sangat diperlukan. Namun pengalaman di lapangan sering kali menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sekadar teori.

Hehehe... maaf kalau saya sedikit melantur. Kebiasaan kalau sudah berbicara soal fotografi memang kadang suka ke mana-mana.


Baiklah, kita kembali ke topik utama.

Kalau wajah memang menjadi salah satu objek favorit dalam fotografi, muncul pertanyaan berikutnya: apakah memotret wajah itu mudah?

Jawabannya bisa "ya", bisa juga "tidak".

Memotret wajah memang terlihat sederhana. Model berdiri, kamera diarahkan, lalu tombol shutter ditekan. Selesai.

Namun ketika hasil foto ditampilkan di layar kamera, sering kali muncul rasa kurang puas. Wajah terlihat terlalu gelap. Mata kurang tajam. Latar belakang justru lebih mencolok daripada subjek. Atau ekspresi yang tadi tampak begitu menarik ternyata hilang begitu saja dalam hasil foto.

Di situlah kita mulai menyadari bahwa portrait bukan sekadar memotret seseorang. Dibutuhkan pemahaman mengenai cahaya, pengaturan kamera, komposisi, dan tentu saja kemampuan membangun komunikasi dengan orang yang berada di depan lensa.

Untungnya, semua itu bisa dipelajari.

Kali ini saya ingin berbagi beberapa tips dasar yang menurut saya sangat membantu, terutama bagi sobat yang baru mulai mendalami fotografi portrait. Tips-tips ini saya rangkum dari berbagai referensi fotografi, dipadukan dengan pengalaman pribadi selama memotret, sehingga mudah-mudahan lebih mudah dipahami dan langsung dapat dipraktikkan.


1. Manfaatkan Kompensasi Exposure


Kalau ada satu pengaturan kamera yang sering dilupakan fotografer pemula, mungkin jawabannya adalah Exposure Compensation.

Padahal fitur sederhana ini bisa menyelamatkan banyak foto.

Pernahkah sobat memotret seseorang yang berdiri di bawah pohon rindang, sementara di belakangnya langit tampak sangat terang? Tidak jarang kamera justru memilih menyesuaikan cahaya dengan latar belakang. Akibatnya, wajah orang yang kita potret menjadi terlalu gelap.
Sebaliknya, jika subjek berdiri di tempat yang sangat terang, kamera kadang membuat wajah terlihat terlalu pucat karena menerima cahaya berlebihan.

Di sinilah kompensasi exposure bekerja.

Jika wajah tampak terlalu gelap, jangan ragu menaikkan exposure beberapa langkah ke arah positif. Sebaliknya, apabila wajah terlalu terang, turunkan sedikit ke arah negatif. Tidak perlu langsung mengubah banyak pengaturan lain. Sering kali penyesuaian kecil saja sudah cukup menghasilkan perbedaan yang besar.

Saya sendiri cukup sering menggunakan fitur ini ketika memotret di luar ruangan. Cahaya matahari selalu berubah, apalagi kalau awan sedang lalu-lalang. Daripada kehilangan momen karena sibuk mengubah semua pengaturan kamera, saya lebih memilih melakukan koreksi exposure seperlunya.

Prinsipnya sederhana: jangan hanya percaya pada layar LCD kamera. Biasakan juga melihat histogram dan memperhatikan detail pada area terang maupun gelap. Semakin sering berlatih, insting sobat dalam membaca cahaya akan semakin terasah.


2. Bermain dengan Aperture


Kalau exposure menentukan terang atau gelapnya foto, maka aperture sangat berpengaruh terhadap karakter sebuah portrait.

Coba perhatikan foto-foto portrait profesional. Hampir semuanya memiliki satu kesamaan: wajah terlihat sangat tajam, sementara latar belakang berubah menjadi lembut dan kabur. Efek seperti ini membuat perhatian penonton langsung tertuju kepada subjek.

Untuk mendapatkan hasil seperti itu, gunakan aperture yang cukup lebar, misalnya f/2.8 hingga f/5.6, tentu dengan menyesuaikan jenis lensa yang digunakan.

Namun jangan menganggap angka kecil selalu lebih baik.

Kalau sobat memotret satu orang dari jarak dekat, aperture besar memang sangat membantu menghasilkan latar belakang yang lembut. Akan tetapi, jika memotret dua atau tiga orang dalam satu baris, aperture yang terlalu lebar justru bisa membuat salah satu wajah menjadi kurang tajam.

Di sinilah pengalaman akan menjadi guru terbaik.

Tidak ada pengaturan yang selalu benar untuk semua kondisi. Setiap lokasi, setiap cahaya, bahkan setiap ekspresi manusia sering kali meminta perlakuan yang berbeda. Justru itulah yang membuat fotografi tidak pernah membosankan.

Saya sendiri sering mengatakan kepada teman-teman bahwa kamera hanyalah alat. Yang benar-benar menghasilkan foto adalah mata, perasaan, dan keputusan fotografer ketika melihat sebuah momen.

Karena itu, jangan takut bereksperimen. Cobalah memotret subjek yang sama dengan beberapa variasi aperture. Bandingkan hasilnya ketika sampai di rumah. Dari latihan sederhana seperti itulah kemampuan seorang fotografer berkembang sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, tujuan kita bukan sekadar membuat latar belakang menjadi blur, melainkan memastikan bahwa wajah yang kita potret benar-benar menjadi pusat perhatian dan mampu menyampaikan cerita kepada siapa pun yang melihatnya.

Bersambung ke bagian kedua

Jumat, 16 Maret 2018

Fotografi Hitam Putih - Menyusun Perspektif Kecantikan dalam Bingkai Monochrome



Kemayoran, Jakarta, Jum'at 16 Maret 2018

Apa kabar Sobat jepret semuanya? Semoga hari ini kabar Sobat baik-baik saja, ya. Termasuk mood-nya! Jangan sampai naik-turunnya nilai tukar rupiah ikutan bikin acak-adut suasana hati kita semua.

Nah, masih berkutat dalam postingan yang berbau fotografi nih. Kali ini, mari kita sedikit berbincang soal tips dan trik memotret wajah. Memotret wajah adalah salah satu cabang fotografi yang tak pernah sepi peminat. Ada sebagian yang begitu mengkhususkan diri pada ekspresi yang tajam, ada juga yang lebih fokus pada komposisi keseluruhan wajah. Ada fotografer yang memilih untuk meng-"romantiskan" foto wajah ke dalam perspektif yang lebih "mempercantik", namun tak sedikit pula yang memilih untuk tetap "realis", menampilkan apa adanya tanpa banyak polesan.

Terlepas dari aliran mana yang Sobat pilih, bagi saya pribadi, memotret wajah adalah kegiatan yang selalu menyenangkan. Wajah memiliki gudang ekspresi dan ribuan cerita yang tersimpan di balik kerut atau senyumnya. Bagi saya, ada lebih banyak narasi yang bisa disampaikan oleh sepasang mata dibandingkan objek mati lainnya.

Nah, berikut ini adalah beberapa tips dari para pakar yang bisa Sobat jadikan bahan pertimbangan saat hendak memotret wajah:


Tips 1: Ciptakan DoF Sempit


Untuk memudahkan pemotretan, Sobat bisa memilih scene mode Portrait. Namun, foto portrait akan terasa lebih "hidup" jika objek terpisah dari suasana sekitar yang sibuk. Cobalah gunakan Aperture Priority Mode, lalu atur diafragma ke bukaan paling besar untuk menciptakan ruang tajam yang tipis (shallow Depth of Field). Dengan begitu, latar belakang akan menjadi buram dan wajah yang Sobat potret akan tampil lebih menonjol dan bercerita.

Tips 2: Hindari Kontak Matahari Langsung


Agar foto wajah di siang hari tidak memiliki bayangan yang terlalu kasar, teknik standarnya adalah menghadapkan muka model ke arah datangnya cahaya. Namun, sinar matahari yang terik cenderung membuat silau sehingga mata model akan menyempit—sesuatu yang kurang estetis. Solusinya, pergilah ke tempat yang agak teduh, lalu arahkan pandangan model ke sumber cahaya yang terang. Warna foto akan tampil jauh lebih lembut dan menyenangkan.


Tips 3: Jauhkan Latar Belakang yang Ramai


Saat memotret wajah, perhatikan apa yang ada di belakang model. Hindari latar belakang yang terlalu berwarna-warni atau objek yang semrawut, karena hal ini sering kali justru mencuri perhatian dari subjek utama. Carilah latar yang lebih tenang agar wajah tetap menjadi bintang utamanya.

Tips 4: Aktifkan Penghilang Mata Merah (Red-Eye Reduction)


Jika kamera Sobat dilengkapi dengan fitur anti red-eye pada flash, jangan ragu untuk mengaktifkannya. Fitur ini membantu menghindari munculnya efek mata merah yang sering timbul akibat pantulan cahaya flash pada kornea mata saat kondisi minim cahaya.


Tips 5: Gunakan ISO Rendah


Setel ISO kamera ke nilai rendah, seperti ISO 100 atau 200. Langkah ini krusial agar tampilan wajah terlihat halus dan bersih dari noise. Jika hasil foto dirasa kurang tajam karena kekurangan cahaya, Sobat bisa menaikkan ISO sedikit lagi atau gunakan flash agar detail wajah tetap terjaga.

Tips 6: Teknik Bouncing Flash


Gunakan flash eksternal untuk memperindah wajah. Jika Sobat hanya menggunakan flash internal, hindari menembakkannya langsung ke arah wajah karena akan membuat foto overexposed dan menciptakan bayangan hitam pekat di belakang model. Jika terpaksa, redamlah flash dengan menutupinya menggunakan kertas putih. Namun, jika menggunakan flash eksternal, gunakanlah teknik bouncing dengan mengarahkan cahaya ke langit-langit. Sobat akan mendapatkan efek cahaya yang jauh lebih lembut dan gradasi bayangan yang halus.

Tips 7: Munculkan Ekspresi


Agar foto tidak terlihat monoton, ajaklah objek foto Sobat untuk berinteraksi. Ajak dia tertawa atau sekadar berbicara agar suasana menjadi lebih dinamis. Ingat, foto portrait tidak harus selalu menghadap kamera. Beri dia arah pandangan lain, lalu ambil dari sudut yang berbeda. Sering kali, cara ini justru akan menghasilkan efek yang lebih dramatis dan jujur.


Catatan Pinggir


Pada akhirnya, Sobat, semua teknik di atas hanyalah alat bantu. Seperti apa yang sering saya ungkap di trosoenoe.com, saya sering percaya bahwa sebuah foto wajah yang ciamik tidak selalu ditentukan oleh ketajaman lensa atau setting kamera yang sempurna. Terkadang, keindahan yang sesungguhnya justru terletak pada ketidaksempurnaan—pada guratan lelah atau sorot mata yang jujur. Jangan terlalu terpaku pada teknis hingga Sobat lupa untuk berkomunikasi dengan model yang ada di depan lensa.

Teknik hanyalah pembuka jalan, tapi jiwa dari foto itu sendiri—itulah yang harus Sobat tangkap. Semoga tips ini bisa menjadi tambahan wacana untuk Sobat semua. Selamat memotret, dan teruslah berkarya dengan kejujuran!

Salam Jepret Selalu ya, Sob!

Jumat, 02 Maret 2018

KARYA FOTOGRAFI - BAHAGIA ITU (RELATIF) SEDERHANA.....




Kemayoran, Jakarta, Kamis, 1 Maret 2018


Bahagia itu apa sih? 

Waduh, kemarin dulu, pertanyaan itu tiba-tiba muncul dari mulut sahabat saya. Pertanyaan yang sebenarnya gampang, tetapi untuk menjawabnya... susah luar biasa! Bukan karena topik pertanyaan berupa hal yang super rumit macam persamaan fisika nuklir, atau super teknis semacam teknik pengambilan foto yang bisa langsung dapat hasil bagus tanpa diedit. Tapi, karena pertanyaan itu punya jawaban yang tidak seragam, alias takarannya banyak banget. Berbeda orang, maka beda pula takaran kebahagiaannya. Buat karyawan dan tukang foto keliling seperti saya, tentu takaran kebahagiaan itu berbeda dengan pengusaha, tentu berbeda pula dengan...katakanlah...seorang koruptor, atau seorang fotografer, atau seorang model, dan sebagainya.



Nah lho....kalau takarannya aja ga ada, terus gimana dong mendiskripsikan apa itu rasa "bahagia"?

Nah, disini saya tidak berusaha menerangkan apa itu rasa "bahagia". Setiap orang punya hak dan cara tersendiri untuk menerangkan dan mendeskripsikan rasa tesebut. Saya juga tak merasa perlu untuk bersusahpayah menerangkan kepada teman saya itu, apa itu definisi dari rasa bahagia, saya hanya menceritakan satu kisah kepada sahabat saya tersebut, kisah yang sama dengan yang sekarang ini saya tulis dalam postingan ini.



Beberapa bulan lalu, saya jalan-jalan ke pasar kebayoran lama, di Jakarta Selatan. Satu pasar yang cukup terkenal, karena memang sudah ada sejak lama banget (seingat saya, sejak saya kecil puluhan tahun silam, pasar ini sudah ada). Tujuannya, selain jalan-jalan, saya ingin hunting foto, memotret keseharian orang-orang yang ada di pasar itu, istilah kerennya, "street photography" (baca postingan "STREET PHOTOGRAPHY - "MAS....SAMPEYAN FOTOGRAFER?"......"BUKAN!...SAYA CUMA HOBBY MOTO")

Dan hari itu, dengan berbekal rokok dan air minum, serta kamera yang siap jepret, mulailah saya keliling-keliling sambil mencari target foto yang memenuhi selera saya, mulai dari pedagang barang-barang loak, tukang jual burung, jual kembang, jual batu cincin, baju bekas, sampai pada kemacetan yang biasa terjadi di sana. Jepret sana, jepret sini, lihat di lcd, kurang berkenan, hapus! Lalu, jepret lagi dan jepret lagi. Mungkin sekitar 2 jam saya keliling di area pasar tersebut, sudah puluhan foto saya ambil, dan saya merasa...sudah cukup. 



Sambil merapikan kamera, saya berjalan menuju warung pinggir jalan, langsung duduk, dan pesan kopi hitam. Kopi datang, sambil diseruput manja sedikit, ambil rokok sebatang, sundut, keluarkan kamera, dan langsung lihat perolehan foto-foto yang dicapai. Saking asyiknya, saya sampai gak sadar, kalau di dalam warung kopi itu, ada 3 orang yang juga sedang menikmati hal yang sama. Bedanya, ketiga orang ini sedang menikmati kebersamaan, ketiganya adalah sohib lama, dan mereka telah berkawan selama puluhan tahun, bersama-sama menghadapi perubahan lingkungan yang cepat, bertahan dalam kesederhanaan, dan melalui tutur kata dan topik yang mereka perbincangkan, saya menilai bahwa mereka mampu mencerna dan menerima segala perubahan dalam kaca mata kesederhanaan.



Dan mereka juga tertawa!....Bukan tertawa dalam konotasi "keterpaksaan", tetapi tertawa dalam konteks yang sebenarnya! Tertawa lepas! Tertawa bahagia! Mereka mampu menyikapi segala kekurangan yang melekat dalam diri mereka ke dalam bingkai yang "menyenangkan" dan berbahagia dengan itu semua!



Jegerrrr!!!......Saya seperti tersadar, saya perhatikan lagi foto-foto yang saya ambil, dan memang, di dalam foto-foto tersebut adalah orang-orang yang mampu menyikapi tekanan hidup...Membungkusnya dalam "nrimo".....dan efeknya? Mereka jauh lebih mampu berbahagia dibandingkan dengan kebanyakan orang!

Wah....Ini yang bikin saya semakin tersadar! Ternyata, takaran bahagia itu bukan sesuatu yang "eksakta", tetapi lebih kepada bagaimana kita melihat segala sesuatu dalam hidup ini! Mereka-mereka ini menikmati apa yang mereka miliki, bukan mengharapkan dengan amat sangat apa yang menjadi impian mereka dan tidak menyesali apa yang hilang dari mereka! Bagi mereka, hidup adalah menikmati apa yang mereka punya, dan bukan menyesali apa yang mereka tidak punya!

Wahhhh.......

Dalam hal ini, saya kalau jauh dengan mereka! Mereka mampu melihat segala sesuatu dalam perspektif mereka sendiri, dan menyederhanakan kebahagiaan kedalam bentuk yang sangat sederhana, satu bentuk dimana mereka dapat menikmati kebahagiaan itu, tanpa perlu terlalu bermimpi!

Itu yang saya ceritakan kepada teman saya, tentang betapa sederhananya kebahagiaan itu sebenarnya!

"Kebahagiaan itu hanya akan muncul dari rasa bersyukur, dan rasa bersyukur itu hanya akan muncul, apabila kita mulai menghargai apa yang kita miliki, dan berhenti menyesali apa yang tidak kita punyai!"

Dan teman saya itu mangangguk-angguk sambil tersenyum. Entah mengangguknya karena setuju dengan paparan saya, atau mengangguk karena bosan dan menganggap bodoh apa yang telah saya sampaikan.....Entah!

Jujur, saya juga tidak terlalu peduli! Toh saya hanya menyampaikan apa yang menurut saya benar, masalah dia mau menerima atau membuangnya ke tempat sampah...itu hak dia!

Demikianlah sobat-sobit jepret, cerita saya....semoga berkenan! Dan untuk melengkapi cerita dalam postingan ini, akan saya sajikan beberapa foto, yang menjadi keseharian di Pasar Kebayoran lama, cekidot sob!










Selasa, 27 Februari 2018

FOTOGRAFI CANDID (FOTO DIAM-DIAM ALIAS FOTO SAMBIL NGUMPET BIAR GA KETAHUAN)



Kemayoran, Jakarta, Selasa, 27 Februari 2018

Salam jepret semuanya, apa kabar?


Hehehehe...Terkesan sangat klise ya....Cuma basa basi kok, karena apapun keadaan sobat semua saat ini, saya jamin, akan langsung ngedrop dan bertambah runyam saat sobat-sobit jepret semua membaca postingan saya kali ini. Yang akan saya bahas saat ini adalah: "foto candid!", ya....foto candid adalah foto yang diambil secara diam-diam, atau secara rahasia (tapi masih dalam koridor yang positif ya sob...), dengan tujuan, menangkap moment  dan juga ekspresi sang obyek secara natural, atau apa adanya, tidak diatur-atur, tidak di "setting" untuk mendapatkan hasil yang terbaik.


Dalam foto candid ini, seharusnya si "obyek" foto tidak mengetahui bahwa dirinya dijadikan target....seharusnya! Namun, adakalanya, apa yang kemudian terjadi malah berbeda jauh dari yang diharapkan. Sering kali (dan saya juga mengalami ini...teramat sering malah!), saat segala sesuatu kelihatan sudah oke! Ketika shutter sudah masuk ke dalam fase ditekan....eh....si obyek foto malah melihat ke arah kamera.......waduh...gagal total dah! 


Alhasil, yang kejepret malah moment dimana si obyek foto lagi melotot dan melongo alias melihat ke arah kamera.... Judulnya...candidnya berantakan abis dah!....Seharusnya candid foto, malah jadi candid foto yang ketahuan! Hahahahaha.

Memang, untuk foto "aliran" ini, "feel" dan juga keberuntungan lebih banyak ambil peranan, ketimbang teknik dan kemampuan dari fotografer. 


Nah, supaya penjabarannya berimbang, ada baiknya saya kutipkan juga, pendapat para ahli, yang memang sangat berkompeten, dan lebih mampu menjabarkan aliran "candid photography" ini secara lebih komprehensif. 



Jakarta - Dalam fotografi, kita mengenal istilah candid camera. Ini berarti bahwa subjek yang kita potret tidak dalam kondisi berpose atau 'sadar' kamera. Hasilnya pun terlihat lebih natural, spontan, dan tidak dibuat-buat.

Untuk candid camera, kita tidak perlu dipusingkan dengan berbagai macam teknik yang rumit. Meski demikian, untuk mendapatkan hasil jepretan yang memikat, ada kiat-kiat khususnya. Berikut 12 tips jitunya yang dikutip detikINET dari Picturecorrect, Selasa (22/7/2008):

1. Bawa kamera kemana pun Anda pergi. Siap-siaplah untuk menjepret setiap saat, karena momen menarik bisa hadir di depan mata kapan saja.

2. Perhatikan kondisi sekitar Anda. Hal-hal sederhana bisa menjadi objek menarik untuk dibidik dengan kamera Anda. Misalnya, pemilik toko yang tengah melamun, orang yang sedang menunggu kereta api, lansia yang duduk di sebelah Anda, dua
sejoli yang sedang berpacaran dan sebagainya.

3. Sigaplah untuk siap membidik, karena tidak mudah mendapatkan kesempatan untuk mengambil gambar secara candid. Jadi ketika ada momen bagus, jangan ragu untuk langsung menjepret.

4. Jangan terlalu memusingkan teknik-teknik lighting yang rumit. Berfokuslah pada teknik yang sederhana, dan gunakan fitur otomatis kamera. Ini akan memudahkan Anda. Berbagai masalah teknis, seperti gambar terlalu terang atau gelap dapat disiasati dengan editing komputer.

5. Setinglah kamera pada ISO 400, sehingga kamera menggunakan shutter speed yang cepat. Hal ini memungkinkan Anda untuk menangkap momen dengan tepat meski Anda sedang bergerak.

6. Anda tidak perlu selalu memotret dengan kamera pada posisi mata. Mungkin, Anda bisa meletakkan kamera di pinggang saat mengambil gambar. Di sini memang dibutuhkan pengalaman dan keberuntungan untuk mendapatkan gambar yang bagus.

7. Gunakan lensa zoom paling maksimal sehingga Anda dapat menjaga jarak dari subjek jepretan Anda saat memotret.

8. Jangan pernah mengambil foto punggung orang, ini akan menghasilkan gambar yang membosankan.

9. Cobalah untuk meng-convert gambar ke posisi 'Black and White' untuk mendapatkan hasil yang lebih emosional.

10. Momen 'orang sedang melakukan sesuatu' akan menjadi foto candid yang bagus. Misalnya, atlet, pedagang, petani. Cobalah untuk meng-capture inti dari pekerjaan orang tersebut. Misalnya, meng-capture tukang ledeng yang sedang berkutat memperbaiki pipa bocor atau yang lainnya.

11. Jika Anda berada di tempat umum, sah-sah saja memotret orang. Jika Anda merasa tidak enak untuk mengambil gambar orang tanpa sepengetahuannya, tak ada salahnya Anda meminta izin. Mintalah subjek untuk tidak berpose, bersikap senatural mungkin dan tetap melanjutkan aktivitasnya.

12. Jangan pernah bosan untuk berlatih dan mencoba terus-menerus. Cobalah berbagai macam angle, tempat dan scene yang berbeda-beda. Anda juga bisa mencari inspirasi dari foto candid orang lain. Latihan terus menerus akan mengasah kemampuan Anda.


Nah, demikianlah penuturan dari fotografer kawakan, tentang arti dan tips untuk candid fotografi. Intinya, candid foto memiliki kelebihan yang tidak kalah menariknya dibandingkan dengan foto-foto genre lain. Ada ke"alamia"an yang berbicara di sana....foto ini tidak menawarkan suatu keindahan dalam koridor yang kaku...tetapi foto ini menawarkan keindahan karena "natural" atau ke"alamian"nya dalam perspektif kejujuran!


Demikianlah sobat sobit jepret sekalian, postingan saya kali ini, semoga hari anda tidak bertambah "runyam" dan "remuk-redam" dengan membaca postingan ini!

Dibawah ini adalah beberapa karya saya, hasil dari foto candid, cekidot ya sob!




























Jumat, 23 Februari 2018

FOTOGRAFI HITAM PUTIH - MEMOTRET "SEGALANYA"..........TANPA WARNA !



Kemayoran, Kamis, 22 Februari 2018.

Mendung! Ya, Jakarta hari ini sedang tak tentu cuacanya. Masih di masa peralihan, dari musim hujan menuju musim kemarau. "Pancaroba" kalau menurut istilah bakunya; tapi kalau menurut istilah saya, ini adalah cuaca di mana jemuran tidak kering-kering, tapi cucian terus bertambah.

Setelah beberapa hari ini Jakarta dilanda panas luar biasa yang rasanya bisa membakar semangat juang 45, hari mendung ini terasa seperti berkah yang tidak ternilai harganya. Tidak gerimis, apalagi hujan badai, hanya mendung! Cukup dingin untuk tidak bikin keringat mengucur deras seperti air keran, dan sangat cukup untuk menjadi alasan tambahan memesan segelas kopi lagi, tambahan gorengan yang panas, dan bagi para penggemar—baca: pecandu—rokok, suasana ini adalah suasana yang sangat 'halal' untuk kembali menyalakan sebatang... rokok!

Nah, karena suasana cukup mendukung dan kopi di tangan masih panas, maka izinkan saya untuk kembali menulis sesuatu yang bersifat... Fotografi!


Apa Itu Foto Hitam Putih? (Selain Soal 'Malas Edit Warna')


Sekarang saya ingin membagi sedikit tentang memotret tanpa warna. "Yah"... sebenarnya kurang tepat juga kalau dikatakan tanpa warna, sebab menurut teori seni rupa, putih itu adalah kumpulan semua warna, dan hitam itu... eh... lupakan teori itu. Intinya adalah: FOTO HITAM-PUTIH!

(Bagi yang ingin tahu kenapa saya suka aliran ini, silakan baca postingan FOTOGRAFI HITAM PUTIH - KENIKMATAN DALAM FOTO HITAM PUTIH)

Lalu, apa sih sebenarnya esensi dari foto hitam putih? Kenapa di tahun 2018, di mana layar HP sudah bisa menampilkan miliaran warna yang norak, kita malah mundur ke tahun 1920?

Ada filosofi mendasarinya, Sobat jepret. Menurut penuturan beberapa fotografer yang memang benar-benar fotografer sejati—bukan seperti saya yang hanya seorang "fotografer", yang paling banter cuma bisa membedakan mana tombol shutter dan mana tombol power—foto hitam putih adalah suatu karya, di mana foto tersebut "memaksa" orang yang melihatnya, untuk menikmati "bentuk" ketimbang warna.

Bayangkan sobat memotret seekor macan berwarna. Yang sobat lihat adalah oranye-hitamnya yang gagah. Tapi saat diubah ke hitam putih, yang sobat lihat adalah tekstur bulunya yang kasar, ototnya yang tegang, dan tatapannya yang tajam. Warna, dalam hal ini, dianggap sebagai 'distraksi' norak yang memperlemah kekuatan dari bentuk asli dalam frame!


Filosofi yang 'Terlalu Njepit' (Njelimet Tapi Penting)


Dengan kata lain, dengan menyajikan suatu foto ke dalam warna hitam-putih, maka filosofi dari foto tersebut akan berbelok: dari "bercerita secara apa adanya, dengan menyajikan keindahan warna" menjadi "bertutur kata melalui imajinasi yang didasari pada ingatan".

Wah... saya sih lebih merasa kalau filosofi ini terlalu njelimet, terlalu berat, terlalu rumit serta kaku. Rasanya seperti mencoba menjelaskan teori relativitas Einstein kepada seekor ayam goreng.

Tapi tenang, Sobat! Untuk membuat perspektif kita lebih berimbang, saya tidak akan hanya mengandalkan isi otak saya yang sedang buntu ini. Ada baiknya saya kutip penuturan dari para ahli yang memang fotografer sejati. Berikut rangkuman teknisnya (diambil dari laman askthephotographer.com, agar artikel ini terlihat agak 'ilmiah' sedikit):


Rangkuman Kata Ahli: Kenapa Sobat Harus Mencoba Hitam Putih?


Daripada sobat pegal mata membaca blok teks yang panjang, mari saya rangkumkan dalam poin-poin penting berikut:

  • Pentingnya Kontras & Pencahayaan: Foto hitam putih tidak hilang begitu saja, tapi masih cukup digemari hingga saat ini untuk menyajikan kesan klasik. Mengabadikan foto hitam putih tidaklah sama dengan foto berwarna, karena kita harus lebih memperhatikan kontras (perbedaan terang dan gelap yang ekstrem) ketimbang warna itu sendiri.

  • Kondisi Cuaca yang Pas: Fotografi hitam putih justru sangat baik saat kondisi kontras rendah, seperti cuaca yang sedang mendung (seperti hari ini, Sobat!).

  • Bayangan Adalah Koentji: Kita perlu memperhatikan lebih dalam tentang komposisi. Penonjolan bentuk dan pencahayaan sangat diperlukan. Di sinilah bayangan (shadow) berperan sangat penting untuk menciptakan dimensi dan kekuatan emosi. Sebuah subjek dengan pencahayaan redup mungkin terlihat 'mati' di foto berwarna, tapi bisa sangat 'powerful' di hitam putih.

  • Menampilkan Kesan Murni & Emosi: Foto hitam putih mampu menyampaikan kesan murni serta emosi yang sangat kuat. Inilah mengapa foto jurnalis/portrait/wedding yang ingin menghadirkan kesan klasik, historik dan jujur, seringkali menggunakannya.

  • Tantangan Visualisasi: Kunci utama untuk mendapatkan gambar hitam putih yang menarik adalah sobat mampu membayangkan subjek yang berwarna dalam kondisi hitam putih dan terus mencoba menvisualisasikan bagaimana hasil akhirnya.


Penutup: Kembali ke Kopi


Demikianlah penuturan dari sang fotografer ahli tersebut. Apakah filosofi yang dia utarakan sesuai dengan selera Sobat jepret sekalian, atau tidak... wah... itu sih terserah Sobat saja. Masalah selera seni itu seperti masalah selera kecap; ada yang suka manis, ada yang suka asin, dan ada yang suka kecap yang tidak bermerek.

Jadi, masalah filosofi itu kembali ke diri kita masing-masing. Setiap orang memiliki perspektif sendiri untuk setiap karyanya, dan itu adalah hak asasi! Tidak ada yang boleh memaksa sobat untuk menyukai hitam putih.

Tapi kalau sobat masih bingung, mari kita balik ke dasar:

"Kalau sobat salah setting white balance sampai warna foto jadi oranye aneh, ubah ke hitam putih. Dan bam! Foto sobat langsung jadi 'seni'."

Salam Jepret Selalu Ya sob! Tetap Sehat, Tetap Semangat! Kopi saya sudah dingin, rokok saya sudah habis, tapi artikel ini... akhirnya selesai!