Senin, 14 Maret 2016

Share foto bareng banana's



Ciledug, Tangerang, Banten, Senin, 14 Maret 2016

Artikel kali ini, ceritanya masih sama dengan postingan yang sebelumnya. Ceritanya, artikel ini adalah bagi-bagi alias share hasil foto. Foto di atas adalah foto yang saya ambil di daerah Kotu, di salah satu spot fotografi yang walaupun sempit, tapi lumayan bagus. Lokasi jepret alias TKP ada di sebelah Spot fotografi "Toko Merah". 

Sayangnya, sampai saat ini, saya masih tak tahu siapakah nama tallent alias model dalam foto ini. Moga-moga sobat jepret ada yang paham dan mengetahui nomor rekening....eh, salah ketik, maaf! Maksudnya, nama dari tallent yang ada dalam frame di atas.

Supaya kedepannya hasil foto saya bisa lebih baik lagi, jepretan saya di atas, silahkan di kritik habis-habisan ya Sob!

Salam jepret untuk sobat-sobat semuanya.

NB alias Nambah kata-kata lagi ya Sobat. Di Moment ini, saya mulai menyukai dan akan mulai mencoba, satu “gaya bertutur” alias “sidik jiwa” yang ada dalam fotografi.

Foto Hitam Putih!

Ya! Foto hitam dan putih. 

Saya merasa sangat tertarik untuk mulai membungkus sebagian besar hasil jepretan saya, ke dalam satu nafas, yaitu hitam dan putih. Mungkin, ini baru kemungkinan saja, belum tentu pasti. Mungkin, kedepannya saya akan mulai membungkus sebagian besar karya jepretan saya dalam satu nafas....hitam dan putih.

(Dan ternyata, nantinya, saya menemukan satu keselarasan dalam hitam dan putih ini...silahkan baca di Fotografi Hitam Putih - Kenikmatan Dalam Foto Hitam Putih)

Nambah coretan:

Jujur ya Sob, waktu pertama kali mutusin buat ikutan hunting bareng anak-anak Banana, modal saya cuma nekat dan doa biar kamera nggak mendadak mogok di jalan. Begitu sampai di Kotu, melihat yang lain sibuk ngatur settingan lensa yang panjangnya mirip termos, saya langsung berasa seperti remahan rengginang di dalam kaleng biskuit premium. Tapi untungnya, anak-anak Banana ini baunya... eh maksudnya baiknya minta ampun! Mereka dengan sabar mengajari saya tanpa bikin mental saya ciut.

Nah, gara-gara momen jepretan di sebelah Toko Merah itulah, entah kesambet angin malam Kotu belahan mana, tiba-tiba muncul bisikan gaib di kepala saya: "Kenapa nggak coba mainan hitam putih aja?"

Awalnya sih, alasan terselubungnya biar kelihatan keren dan puitis mirip fotografer kawakan di galeri seni ternama. Alasan kedua, kalau warna fotonya agak meleset atau skin tone modelnya jadi kelewat matang gara-gara salah atur lampu, tinggal diubah ke hitam putih kan langsung terselamatkan, aman sentosa tanpa drama! Hehehe.

Tapi begitu dicoba dan diresapi pelan-pelan sambil ngopi, ternyata mainan monokrom itu dalam banget maknanya, Sob. Saat warna-warni duniawi dicopot dari sebuah foto, kita dipaksa buat nggak meleng. Mata dan hati kita mendadak dipaksa fokus melihat hal-hal yang selama ini sering luput: kerutan lelah di wajah objek, kontrasnya bayangan, sampai emosi murni yang terpancar tanpa topeng kosmetik. Hitam putih itu jujur banget, nggak ada tempat buat plin-plan. Jadi, buat sobat jepret semua, silakan dikuliti draf foto saya di atas. Mau dibilang acak-adut atau kurang kontras, sikat saja! Justru dari kritikan pedas kalian, saya bisa makin paham cara menyelaraskan rasa di balik lensa. Salam jepret tanpa batas!

1 komentar:

  1. Artikel yang sangat menarik serta menambah wawasan! Dan juga foto-foto yang luar biasa....Great Job!

    BalasHapus