Rabu, 11 Februari 2026

Berhentilah Menjadi “Emas dalam Lumpur”: Dunia Tidak Punya Waktu untuk Menggali Potensi Sobat (Bagian Pertama)



Beraban, Tabanan, Bali, Rabu, 11 Februari 2026

Mengapa Orang Dangkal Terlihat Menang, dan Sobat Terlihat Seperti Masalah


Mari kita mulai dengan kebohongan favorit kelas menengah berpendidikan: “Yang penting kualitas, bukan penampilan.”

Kalimat ini terdengar bijak, bermoral, dan cocok ditempel di bio LinkedIn—terutama oleh orang yang kariernya mandek tapi harga dirinya masih utuh.

Banyak orang dengan bangga menyebut diri mereka low profile, seolah itu pilihan filosofis, bukan strategi bertahan hidup yang gagal. Mereka percaya suatu hari nanti dunia akan berhenti sejenak, menyingkirkan semua distraksi, lalu berkata, “Tunggu, orang ini kelihatannya biasa saja, tapi ternyata isinya luar biasa!”

Maaf. Dunia tidak bekerja seperti itu. Dunia tidak punya cukup alasan untuk bisa menerima idealisme Sobat.

Kita dibesarkan dengan kalimat bijak (yang ternyata menjebak) “don’t judge a book by its cover”. Sayangnya, kita tidak hidup di semesta yang teratur seperti di perpustakaan, melainkan di semesta yang carut-marut seperti pasar malam yang ribut. Di sana, buku dengan sampul kusam—meski isinya sangat benar dan bijak—akan diinjak, dilangkahi, lalu dijadikan alas kaki. Bukan karena isinya buruk, tapi karena sebagian manusia penghuninya hampir tak punya waktu yang cukup, bahkan untuk membuka halaman pertamanya.

Masalahnya bukan dunia terlalu dangkal. Masalahnya adalah Sobat terlalu romantis dalam memandang cara berfikir manusia.

Otak manusia tidak diciptakan untuk adil. otak diciptakan untuk berjuang dan bertahan hidup. Dalam hitungan detik, ia harus memutuskan: aman atau berbahaya, layak atau tidak, penting atau bisa diabaikan. Maka otak akan menggunakan jalan pintas kognitif—heuristik—yang cepat, murah, dan sering keliru. Dari sinilah lahir ilusi terbesar kehidupan sosial modern: Halo Effect.

Halo Effect: Ketika Satu Kilau Menghapus Seribu Dosa

Halo Effect adalah kondisi ketika satu kualitas yang terlihat—wajah menarik, pakaian rapi, suara percaya diri—membuat otak orang lain menyerah total pada penilaian kritis. Sekali Sobat terlihat “beres”, Sobat otomatis diasumsikan pintar, kompeten, dewasa, dan pantas didengarkan.

Sebaliknya, jika Sobat terlihat berantakan, otak sosial akan langsung mengambil kesimpulan ekstrem: Sobat merepotkan, tidak bisa diandalkan, dan berpotensi menjadi masalah di masa depan. Bakat, pengalaman, dan niat baik Sobat? Itu semua akan dianggap tidak relevan. Belum sempat dipertimbangkan.

Mari jujur tanpa pura-pura bermoral.
  • Seorang CEO sukses yang kasar disebut tegas.
  • Seorang karyawan rendahan yang kasar disebut kurang ajar.

Kata-katanya sama. Dampaknya berbeda. Yang membedakan bukan etika, tapi posisi.

Kita tidak menghormati orang karena kebenaran yang mereka bawa. Kita menghormati mereka karena kemasan superioritas yang mereka tampilkan. Ini bukan keadilan—ini psikologi dasar. Dan tidak, mengeluh tentang ini tidak akan mengubah apa pun selain membuat Sobat terdengar seperti korban yang rajin membaca filsafat tapi malas membaca situasi.

Estetika Bukan Dangkal—Estetika itu Efisien

Banyak orang merasa dunia tidak adil karena kerja keras mereka kalah oleh rekan yang “cuma modal tampang dan jago ngomong”. Mereka menyebutnya pencitraan, manipulasi, atau kepalsuan. Padahal yang mereka sebut palsu itu adalah bahasa resmi otak manusia.

Penampilan adalah proxy tercepat untuk kompetensi. Otak yang kelelahan oleh banjir informasi tidak punya energi untuk menggali kedalaman fikiran dan jiwa Sobat. Ia memilih indikator visual yang cepat: simetri, kebersihan, artikulasi, kepercayaan diri. 

Apakah model pendekatan penilaian ini bisa salah? Sering. Tapi efisien.

Kedalaman butuh waktu. Dan waktu adalah sesuatu yang amat sangat mahal yang tidak akan diberikan gratis oleh orang yang bahkan belum yakin kalau Sobat memang punya nilai untuk layak diperhatikan.

Dan di sinilah tragedi mulai terasa:
Orang yang merasa “punya isi” sering kali paling malas membungkus dirinya. Mereka merasa kemasan adalah penghinaan terhadap kualitas. Mereka ingin dihargai tanpa harus tampil. Padahal dalam dunia nyata, yang tidak terlihat akan dianggap tidak ada.

Namun, semua ini baru permukaan.

Masalah sebenarnya bukan hanya gagal bersinar—melainkan satu kesalahan kecil yang bisa mengubur diri Sobat selamanya.

(Bersambung ke Bagian Kedua)

Selasa, 10 Februari 2026

Fotografi Itu Seni atau Cuma Jepret Doang? Debat Abadi dari Zaman Kolonial Sampai Era AI (Bagian Ketiga)


Berlayar-Fotografi Minimalis
Berlayar
(Fotografi Minimalis)

Beraban, Tabanan, Bali, Selasa, 10 Februari 2026

BAGIAN 3: Era AI dan Kesimpulan: Jadi, Fotografi Itu Seni Nggak?


Kalau di Bagian Kedua kita sudah melihat bagaimana foto bisa naik derajat jadi “seni” berkat estetika, dampak, harga selangit, atau sekadar nama besar di baliknya, maka di Bagian Ketiga kita masuk ke wilayah yang jauh lebih mengganggu: bagaimana kalau semua itu tidak lagi butuh fotografer? Di era AI, gambar bisa lahir tanpa kamera, tanpa momen, tanpa tangan manusia—cukup dari prompt dan algoritma. Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi “foto ini indah atau mahal?”, melainkan: kalau yang menciptakan bukan manusia, masih pantaskah kita menyebutnya fotografi—atau bahkan seni?

1. Manipulasi: Dari Kamar Gelap ke Photoshop

Dari dulu, fotografer itu sebenarnya tukang edit yang hakiki. Dari zaman cuci cetak pakai bahan kimia, sampai zaman ceklak-ceklinya Photoshop. Alfred Stieglitz, salah satu suhu besar bidang fotografi, sebenarnya nggak suka foto yang diedit terlalu banyak karena dianggap "palsu".
Tapi sekarang, dengan AI, kita bisa bikin gambar cuma pakai ketikan teks. Apakah ini masih fotografi? Gambarnya mungkin "seni", tapi apakah itu "foto"? Ini bisa dianalogikan seperti kita menyusun kolase atau digital art. Keren sih, tapi definisi "fotografi" jadi makin abu-abu kayak rambut kakek saya.

2. Si Paling "Gue Juga Bisa!"

Ada satu argumen yang sering muncul: "Ah, foto kayak gitu doang mah gue juga bisa!"

Jawabannya simpel tapi nyelekit: "Iya, lo bisa, tapi masalahnya lo nggak ngelakuin itu dan lo nggak terkenal!". Itulah kenapa nama besar fotografer sangat berpengaruh. Seni itu juga soal reputasi, bukan cuma soal teknis jepret.

3. Kesimpulan: Jangan Jadi Snob!

Seorang fotografer yang benar-benar fotografer pernah kasih nasehat yang bagus, kita harus jadi orang yang terbuka. Fotografi itu medium yang paling sosial dan paling bisa diakses siapa saja. Menolak fotografi sebagai seni itu sama saja menghina jutaan orang yang mengekspresikan diri lewat lensa HP setiap harinya.

Meskipun kadang kita bosan lihat pameran foto (karena setiap hari kita sudah "pameran" di feed medsos), fotografi tetap punya tempat istimewa. Tugas kita sebagai "fotografer dadakan" atau "fotografer beneran" adalah menciptakan karya yang bisa tetap layak untuk disebut sebagai karya di antara lautan 14 triliun foto tadi.

Jadi, buat Sobat yang suka motret makanan sebelum makan: Lanjutkan! Siapa tahu 100 tahun lagi foto nasi goreng yang Sobat jepret itu masuk galeri seni karena dianggap sebagai "Rekaman Budaya Kuliner Abad 21".
Oh ya, masih ada satu hal lagi. Kalau selama ini Sobat rajin menghapus foto hanya karena merasa hasilnya jelek, kebiasaan itu sebaiknya segera direvisi. Mulai sekarang, jangan pernah hapus foto yang Sobat anggap gagal. Simpan baik-baik, backup kalau perlu di tiga hard disk, lalu wariskan ke cucu atau cicit. Sebab, siapa tahu 100 tahun lagi foto itu dipajang di galeri dengan bingkai emas dan judul sok filsafati. Kurator akan berpidato panjang soal “kegagalan estetika sebagai kritik zaman”, sementara pengunjung pura-pura paham sambil mengangguk pelan. Foto yang dulu memalukan kini berubah jadi artefak sejarah. Nilainya bukan naik karena indah, tapi karena konsisten membuktikan satu hal: dulu jelek, sekarang jelek, dan di masa depan… tetap lebih jelek lagi.

Dan ingat, sejelek apa pun foto Sobat jika diukur dari parameter apa pun, ia tetaplah karya seni—lahir dari intuisi, rasa, dan jiwa kreatif manusia. Bukan hasil rekayasa mesin dingin tanpa emosi, tanpa ragu, dan tanpa cerita.

Gimana menurut Sobat-Sobat sekalian? Apakah kamera di tangan Sobat itu alat seni atau cuma alat pamer? Tulis di kolom komentar ya!

Demikianlah artikel tiga bagian ini saya tulis, semoga bisa sedikit menghibur hati Sobat dan kasih banyak senang di hati.

Senin, 09 Februari 2026

Fotografi Itu Seni atau Cuma Jepret Doang? Debat Abadi dari Zaman Kolonial Sampai Era AI (Bagian Kedua)


Sang Penari

Beraban, Tabanan, Bali, Senin, 9 Februari 2026

BAGIAN 2: Filter Estetika, Uang, dan Skandal Foto "Mahal"


Oke, lanjut lagi. Kalau di bagian Pertama yang kita bahas adalah sejarah, sekarang kita bahas gimana caranya sebuah foto bisa dianggap "Wah".

1. Filter Estetika: Cantik Itu Relatif, Tapi...

Biasanya kita pakai tiga standar untuk mengkelaskan alias mengklasifikasikan sebuah foto itu seni atau bukan:

  • Keindahan: Seberapa ciamik fotonya?
  • Dampak: Seberapa bikin baper yang lihat?
  • Kontribusi: Apa manfaatnya buat dunia seni?

Masalahnya, "cantik" itu subjektif pake maksimal. Kamu mungkin mikir foto pacar kamu itu maha karya, tapi menurut temen kamu, "Ih, kok mukanya kayak gitu?" Bahkan ada foto yang sengaja dibikin "jelek" atau mengejutkan supaya bisa disebut seni. Contohnya foto album The Beatles yang pakai potongan daging dan boneka (Butcher Cover). Nggak cantik, tapi dampaknya luar biasa!

2. Foto yang Mengubah Dunia

Kadang, foto jadi seni karena ia bicara lebih keras dari kata-kata. Foto perang di Krimea tahun 1855 misalnya, sukses bikin rakyat Inggris mikir, "Ngapain sih kita perang?". Atau foto kemiskinan di New York yang bikin kebijakan pemerintah berubah. Di sini, fotografi bukan cuma soal estetik, tapi bahkan mampu mendobrakdan merambah ke ranah kemanusiaan.

3. Masalah Cuan: Saat Seni Bertemu Dompet

Nah, ini yang paling seru. Kadang, status "seni" itu ditentukan sama harga. Ada foto karya Man Ray yang laku 12,4 juta dolar (sekitar 190 miliar rupiah!). Gambarnya cuma punggung wanita yang diedit dikit.

Ada juga kasus Peter Lik yang fotonya laku 6,5 juta dolar, terus dikritik habis-habisan sama kolumnis Jonathan Jones yang bilang foto itu "hambar dan norak". Debatnya sampai ribuan komentar! Intinya: kalau ada yang mau beli mahal, otomatis jadi "seni". Kalau belum laku, ya mungkin masih jadi "koleksi pribadi" di folder Recycle Bin.

4.  Siapa yang memotret: Ketika seni ditentukan oleh pembuatnya, dan bukan oleh karyanya!

Kalau yang ini sih sudah bukan rahasia lagi. Sering kali disuatu pameran foto kita terpana dengan suatu foto, bukan karena foto itu sedemikian indah atau bagus, tetapi lebih karena foto itu sama sekali tak layak untuk dipamerkan (saking biasanya dan ga ada indah-indahnya sama sekali). Walaupun banyak yang sepakat kalau foto itu tidak memadai untuk dikategorikan sebagai seni, tetapi karena foto itu dipotret oleh orang yang sudah kesohor sebagai fografer jempolan, dan dipajang di event yang super keren, maka foto itu seakan sah untuk menyandang predikat sebagai ”mahakarya”. Dan ironisnya, di beberapa media gratisan (seperti FB, IG, dam lain sebaginya), banyak sekali foto-foto yang keren abis serta ciamik maksimal, yang sayangnya, sama sekali tak dapat apresiasi karea dihasilkan oleh orang yang bukan fotografer jempolan. 

Saya cukupkan dulu untuk bagian kedua, kalau Sobat mau terus mencoba untuk memahami tulisan ini untuk sampai topik yang selanjutnya, silahkan lanjut ke bagian ketiga.

Jumat, 06 Februari 2026

Fotografi Itu Seni atau Cuma Jepret Doang? Debat Abadi dari Zaman Kolonial Sampai Era AI (Bagian Pertama)


Foto Stasiun Kereta Api - HI atau Street Photography
Stasiun Kereta Api

Beraban, Tabanan, Bali, Jum'at, 6 Februari 2026

BAGIAN 1: Definisi, Sejarah, dan Dilema "Si Paling Estetik"


Halo, Sobat Lensa!

Pernah nggak sih Sobat melihat kejadian super absurd saat lagi nongkrong di warung kopi, terus Sobat lihat ada orang yang jungkir balik demi motret secangkir kopi susu? Dalam hati Sobat mungkin membatin, "Wah, seniman banget nih orang," atau malah, "Ngapain sih, kan tinggal minum aja repot amat!"

Nah, pertanyaan besar yang mau kita bedah hari ini adalah: Apakah fotografi itu seni? Atau jangan-jangan, kita selama ini cuma korban perasaan dari filter Instagram?

1. Definisi Kamus yang Kurang Piknik

Kalau kita buka kamus-kamus keren semacam kamus ilmu pengetahuan Oxford atau Science Dictionary by Farlex atau yang sejenis, seni biasanya didefinisikan sebagai ekspresi kreativitas manusia melalui medium visual seperti lukisan atau patung. Masalahnya, fotografi sering "terlupakan" disitu alias tak pernah disebutkan sama sekali.

Kenapa? Ya karena sewaktu definisi seni itu dibuat (atau disepakati bersama oleh para seniman dari padepokan seniman di empat penjuru angin!), kamera belum ditemukan, Sob! Bayangkan para cendekiawan zaman dulu lagi debat soal estetika sambil ngopi, eh tiba-tiba ada orang bawa kotak hitam besar (kamera) terus bilang, "Ini karya seni saya!" Pasti bakal diketawain. Jadi, secara historis, fotografi itu ibarat anak bungsu yang telat lahir dan nggak kebagian jatah warisan nama "Seni".

Foto Siluet Hitam Putih - "Bidadari"
Siluet Sang Bidadari

2. Debat Hitam Putih (Literally!)

Dulu, sekitar tahun 1800-an, para skeptis bilang kalau foto itu cuma "fotokopi realita". Nggak ada kreatif-kreatifnya. Apalagi dulu fotonya cuma hitam putih. Lucunya, zaman sekarang kalau kita mau foto kita jadi kelihatan "artsy" dan mendalam, kita malah pakai filter hitam putih, kan? Ironis memang manusia ini.

Para seniman lukis zaman dulu juga sempat merasa terancam. Mereka mikir, "Gue butuh berbulan-bulan buat ngelukis muka orang, eh ini ada mesin tinggal cekrek langsung jadi!" Akhirnya, fotografi cuma dianggap sebagai "jongos" buat seniman, bukan seniman itu sendiri.

3. Fenomena 14 Triliun Foto

Tahu nggak, setiap hari ada sekitar 5,3 miliar foto yang diambil di seluruh dunia. Dan 94% di antaranya lewat HP! Kalau ditotal, ada sekitar 14,3 triliun foto di dunia ini. Gila, kan?

Terus, apakah semua itu seni? Apakah foto jempol kaki kamu yang nggak sengaja kepencet itu seni? Menurut kritikus galak, itu cuma "snap" atau jepretan asal. Tapi, ada argumen balik: setiap gambar itu punya cerita. Meskipun kita cuma pakai HP, kalau di situ ada niat, ada komposisi, dan ada "rasa", masa iya nggak boleh disebut seni?

Sekian dulu untuk bagian ini, kalau Sobat mau menelisik foto yang bernilai seni dan korelasinya dengan waktu, pelaku, estetika, dan lain sebagainya, silahkan meluncur ke bagian kedua.

Catatan tambahan:
"Artsy" dapat didefinisikan sebagai manusia yang memiliki jiwa seni, artistik, atau memiliki kecenderungan dan apresiasi yang kuat terhadap seni, sering kali mengekspresikan kreativitas unik melalui gaya berpakaian, tempat, atau hobi yang unik, imajinatif, dan tidak konvensional, kadang bisa juga menyiratkan seseorang yang suka hal-hal seni seperti teater, musik, atau lukisan, meskipun terkadang bisa disindir sebagai sok seni. 

Selasa, 03 Februari 2026

Lupakan "Rule of Thirds": Seni Menjadi Mak comblang Antara Subjek Utama dan Figuran dalam Fotografi (Tulisan Bagian Kedua)



Beraban, Tabanan, Bali, Senin, 3 Februari 2026

Oke, kalau di artikel bagian pertama kita sudah sepakat siapa yang jadi Aktor Utama dan siapa yang cuma figuran tapi sok nyolong scene, sekarang masalahnya naik level. Karena di lapangan, hidup tidak sesederhana bibirnya motivator. Alam tidak pernah rapi, manusia yang lalu-lalang tidak mau diatur, dan angin badai atau hujan jelas tidak peduli kita lagi mikir komposisi. Nah, di sinilah fotografer mulai diuji mentalnya. Bukan lagi soal siapa yang ada di dalam frame, tapi berapa banyak yang bisa kita masukkan dalam frame tanpa kesan kepenuhan, atau berapa sedikit yang kepotong, dan sejauh mana kita benar-benar bisa mengkomposisikan semua kekacauan itu. Bagian ini adalah momen ketika aturan mulai dibuang ke tempat sampah, insting langsung dimaksimalkan, dan kita langsung bikin keputusan: foto ini mau bercerita… atau cuma mau kelihatan rapi doang tanpa ada nyawa.

3. Dansa Kuantitas: Berapa Banyak yang Harus Dimasukkan?

Setelah kita menemukan siapa "Aktor Utama" dan siapa "Figurannya", tantangan berikutnya adalah menentukan porsi. Ini adalah bagian yang paling sulit karena melibatkan rasa, bukan sekadar hitung-hitungan matematis.

Pertanyaannya adalah: Seberapa banyak subjek pendukung yang kita butuhkan agar ia mendukung tanpa mencuri panggung?

Kembali ke contoh karang tadi. Kalau kita melakukan crop terlalu ketat pada batu karang, kita akan kehilangan nuansa tempat yang diberikan oleh garis pantai dan laut. Tapi, kalau kita mengambil sudut yang terlalu lebar sehingga lautannya mendominasi 90% frame, maka si manusia—si aktor utama kita—akan terlihat seperti semut yang tidak penting.

Komposisi, menurut pandangan ini, adalah sebuah "tarian harmoni" antara elemen-elemen tersebut. Kadang kita sengaja memotong bagian dari subjek pendukung (tidak menampilkannya secara utuh) agar subjek utama tetap memiliki dampak yang kuat. Contoh lainnya adalah foto jembatan di atas Sungai. Jembatan tersebut sengaja tidak ditampilkan secara utuh untuk memberikan Gambaran mengenai focus utama dari frame. 


4. Cerita vs Distraksi: Sebuah Dilema Etis-Visual

Sebagai fotografer, kita sering dihadapkan pada pilihan: menyederhanakan frame atau membiarkannya ramai. Di sinilah letak perbedaan antara "foto yang bersih" dan "foto yang bercerita".

Saya akan berikan contoh mengenai beberapa orang yang berjejer di mulut gang. Secara teknis, saya bisa saja mengambil langkah ke kanan, merunduk, dan hanya memotret dua orang itu dengan latar belakang dinding. Hasilnya? Foto yang sangat minimalis dan rapi.

Tapi, saya memilih untuk memasukkan jajaran orang di latar belakang sehingga bisa bernilai layer, pagar, dan elemen-elemen "berantakan" lainnya. Kenapa? Karena menurut saya, elemen-elemen tambahan itu menambah bobot cerita. Tentu saja, ini sangat subjektif. Bagi sebagian orang, latar belakang itu mungkin dianggap sebagai distraksi. Namun, itulah inti dari fotografi sebagai seni: memutuskan apa yang menambah cerita dan apa yang merusak cerita.

Jika ada banyak elemen dalam satu foto (misalnya ada manusia, gerobak, bak sampah, dan bahkan hewan seperti kucing dalam satu frame), kuncinya adalah pada spasi dan bobot (spacing and weighting). Jika semua subjek menumpuk di satu sisi, foto akan terasa "sesak napas" dan tidak enak dipandang.

Sampai titik ini, mungkin Sobat mulai sadar satu hal yang agak nyebelin: komposisi itu bukan soal benar atau salah, tapi soal berani memilih. Setiap elemen yang Sobat masukkan ke frame adalah keputusan, dan setiap keputusan selalu punya konsekuensi. Terlalu rapi bisa bikin foto mati rasa, terlalu ramai bisa bikin foto kehilangan arah. Tapi ada satu pertanyaan yang belum kita jawab: setelah semua elemen itu dipilih, disusun, dan ditimbang—bagaimana caranya memastikan semua itu memang disengaja, bukan sekadar kebetulan yang kelihatan pintar? Nah, di situlah fotografer berhenti jadi pengamat… dan mulai jadi sutradara.

Demikianlah coretan saya di bagian kedua. Tulisan ini akan saya teruskan lagi ke artikel selanjutnya yang akan saya beri judul: “Lupakan "Rule of Thirds": Seni Menjadi Mak comblang Antara Subjek Utama dan Figuran dalam Fotografi (Tulisan Bagian Ketiga)”, semoga rekan-rekan berkenan membacanya.