Matahari pesisir utara di kota "S" siang itu seolah sedang menagih utang. Panasnya kejam, memanggang ubun-ubun dan membuat aspal jalanan tampak bergelombang, seperti minyak goreng yang baru dituang ke wajan panas. Aku duduk ngemper di sebuah warung reyot, berlindung dari debu yang berterbangan, membiarkan punggungku beristirahat setelah berjam-jam dihajar jok motor yang empuknya sudah lama pensiun. Di tanganku ada segelas kopi robusta yang pekatnya menyaingi kerasnya hidup, dan sebatang rokok yang menolak mati ditiup angin laut.
Di ujung bangku panjang yang sama, duduk seorang pria dengan rompi kanvas yang warnanya sudah pasrah pada takdir. Sejak aku memesan kopi setengah jam yang lalu, mataku terus mencuri pandang ke arahnya. Bukan karena dia punya aura misterius ala pendekar turun gunung, tapi karena polahnya yang ajaib.
Dia sama sekali tidak terlihat seperti fotografer masa kini yang sibuk mengelus-elus lensa segede termos. Ia hanya duduk, menyeruput kopinya pelan, pandangannya kosong menerawang ke jalanan. Lalu, tiba-tiba saja, tanpa ancang-ancang, tangannya merogoh saku rompi, menarik keluar sebuah kamera pocket yang catnya sudah mengelupas di sana-sini—kamera yang bentuknya lebih mirip saksi bisu tawuran ketimbang alat seni.
Jepret.
Satu tarikan napas, satu bidikan asal. Ia tak repot-repot membalik kamera untuk mengecek layar. Tidak ada ritual zooming untuk melihat apakah matanya fokus atau komposisinya memenuhi hukum golden ratio. Kamera butut itu langsung meluncur kembali ke dalam saku. Ia menyeruput kopinya lagi, seolah jepretan barusan cuma sekadar refleks fisiologis seperti bersin atau menguap—dan sama sekali tidak butuh basa-basi minta izin dari otak.
Gemas betul hati ini. Sebagai orang yang juga sering keluyuran bawa kamera, rutinitas absen-melihat-hasil-foto itu terasa seperti sebuah sekte nyeleneh dus sesat. Namun, untuk menegurnya langsung tentu butuh alasan. Aku butuh momen pembuka yang pas agar tidak disangka sales kartu kredit yang sedang basa-basi. Dan rupanya, semesta selalu punya cara konyol untuk menjawab doa orang kere seperti saya.
Kulihat ia meremas bungkus rokoknya yang sudah kempes rata dengan meja. Ada raut duka cita yang mendalam saat ia menyadari itu adalah batang terakhirnya yang baru saja tewas dan dimakamkan di asbak. Wajahnya persis orang yang baru sadar dompetnya ketinggalan pas antrean kasir sudah mengular.
Kesempatan emas. Aku merogoh saku jaket, mengeluarkan bungkus rokokku, dan menyodorkannya.
"Silakan, Mas. Saya ada nih. Sebat dulu biar tetap waras," kataku, memasang senyum tipis—cukup sopan tapi tidak terlalu lebar, pas takaran Monalisa agar tak terlihat seperti orang ada maunya.
Ia menoleh, matanya sedikit membesar, lalu tertawa renyah. "Wah, dewa penyelamat datang dalam wujud bungkusan rokok ilegal. Matur nuwun, Mas," ucapnya sambil menarik sebatang. (Bangsat juga ini orang… Sudah saya kasih rokok gratis, masih sempat-sempatnya nyindir kalau rokok saya ilegal alias zonder cukai… walaupun memang benar itu kenyataannya!)
Aku menyodorkan korek. Begitu ujung rokoknya menyala dan asap tebal mengepul membelah udara panas, tembok kecanggungan di antara kami runtuh seketika, secepat proposal cinta ditolak lewat chat WA. Obrolan mengalir liar dan tanpa pretensi. Entah bagaimana ceritanya, dari makian soal cuaca dan rute motoran yang menyiksa pantat, kami merembet ke urusan fotografi. Dan benar saja, tebakanku tak meleset. Kami ini satu spesies: sama-sama suka keluyuran motoran sendirian, sama-sama merasa diri kami ini "seniman", dan yang paling menyatukan batin kami—kami sama-sama kere dan menertawakan fakta tersebut.
"Saya perhatikan dari tadi, Mas ini motretnya kayak orang mau nyopet," ujarku akhirnya, mengeluarkan uneg-uneg yang sedari tadi kutahan. "Kamera keluar masuk kantong kilat bener. Main jepret, tapi layarnya nggak pernah dicek. Emang nggak takut miss focus, gelap, atau komposisinya lari? Nggak sayang momennya?"
Ia terkekeh pelan. Dihisapnya rokok itu dalam-dalam, lalu dihembuskannya ke udara membentuk awan tipis, seolah sedang mempertimbangkan apakah aku pantas diberi wejangan gratis atau tidak.
"Banyak dari kita yang sekarang motretnya terlalu serius, Mas. Kayak lagi ngerjain proyek tender dari pemerintah," jawabnya tenang, suaranya berat tertelan deru truk yang lewat. "Potretlah lebih banyak, sekadar untuk bersenang-senang. Nggak semua foto itu harus punya tujuan khusus."
Ia menepuk saku rompinya yang menonjol karena kamera, lalu diam sejenak. Suara ombak jauh di seberang jalan sempat mengisi keheningan sebelum ia melanjutkan.
"Zaman sekarang, orang bawa kamera mahal-mahal, lensanya panjang bener kayak mau nembak burung unta, tapi ujung-ujungnya cuma buat moto es kopi susu di kafe estetik. Kita ini disetir oleh hasil. Tidak setiap sesi pemotretan harus selalu produktif. Kadang, kita sendiri yang membuat proses kreatif jadi terlalu rumit, ngalah-ngalahin birokrasi kelurahan."
Aku tertawa, mengangguk setuju sambil menyeruput kopi yang mulai dingin—tanda bahwa waktu diam-diam sudah kabur duluan. Kalimatnya tajam, menusuk tepat di ulu hati realitas hari ini.
"Kita mulai merasa bahwa setiap jepretan itu harus berguna," lanjutnya, matanya menyipit menahan asap rokoknya sendiri. "Harus memukau, atau minimal harus menghasilkan sesuatu. Kalau nggak ngasilin duit, ya ngasilin likes dari orang-orang di dunia maya yang peduli juga nggak sama kita."
Ia mengetuk-ngetuk abu rokoknya di asbak seng yang karatan, gerakannya pelan seperti orang sedang menimbang kalimat berikutnya baik-baik. "Padahal, proses memotret itu sendiri sudah lebih dari cukup. Sensasi saat mata kita melihat sesuatu yang ganjil, lalu jari menekan shutter... itu klimaksnya. Sisanya cuma bonus. Potretlah hal-hal yang membuatmu merasa hidup. Kamu tak butuh alasan yang lebih hebat dari itu."
Aku sempat mau menyela dengan lelucon garing, tapi kuurungkan—rasanya sayang memotong momen yang sedang mengalir enak begini. Ia menoleh ke arahku, menunjuk jalanan berdebu di depan warung dengan ujung rokoknya.
"Saat sesuatu memikat perhatianmu, bahkan sebelum kamu tahu apa alasannya... ikuti saja. Tugas seorang seniman bukanlah untuk selalu tahu ke mana arahnya, Mas. Kita ini bukan Google Maps yang harus tau rute paling cepat. Tugas kita melainkan untuk tetap terbuka menyambut panggilan tersebut."
Ia tersenyum lebar, memamerkan deretan giginya yang kecoklatan karena kopi dan tembakau. Sebuah senyum dari seseorang yang sudah berdamai dengan ketidaksempurnaan—dan sepertinya juga sudah lama berdamai dengan sikat gigi.
"Makanya saya malas ngecek layar," pungkasnya sambil menyesap sisa kopinya yang mulai mendingin. "Terkadang, alasan terbaik untuk mengambil sebuah foto adalah sekadar karena kamu ingin melakukannya. Kalau hasilnya blur, gelap, atau noise-nya segede biji ketumbar? Ya tinggal ngeles aja, bilang kalau itu seni tingkat tinggi yang nggak bisa dipahami orang awam."
Kami berdua meledak dalam tawa yang kasar, menenggelamkan sejenak bisingnya pesisir utara, merayakan kemerdekaan dari segala tuntutan kesempurnaan. Seorang ibu penjual gorengan di sebelah sampai menoleh curiga, mungkin mengira kami baru saja menang undian.
Tawa kami mereda menyisakan cengiran puas. Ia mengulurkan tangannya yang kasar dan kapalan.
"Jupri," katanya singkat, seolah nama itu sudah cukup jadi seluruh biodata yang kuperlukan.
Dari jabat tangan itulah obrolan meluas, dan selubung misteri perlahan terbuka. Rupanya kami punya satu lagi kesamaan konyol: Mas Jupri ini perantau juga, persis seperti saya. Kami hanyalah dua orang pesakitan yang sama-sama terdampar di pulau ini karena dipaksa oleh keadaan—dan sama-sama terlalu gengsi untuk mengaku pada keluarga di kampung bahwa hidup di perantauan tak seindah status Facebook yang kami unggah.
Siang itu, waktu seolah kehilangan wibawanya. Satu gelas kopi berubah jadi dua, lalu tiga, lalu aku berhenti menghitung karena si ibu warung sudah otomatis menyodorkan gelas yang penuh berisi kopi baru segera tanpa perlu kita minta. Obrolan kami meloncat dari satu topik absurd ke topik absurd lainnya: dari debat serius soal merek oli motor yang paling bandel, ke teori konspirasi kenapa harga rokok naik terus tapi kualitasnya makin menurun, sampai keluhan panjang lebar Mas Jupri soal mantannya yang katanya "lebih ganas dari debt collector." Kebetulan stok rokok ilegal saya masih sisa banyak, jadi pembicaraan itu punya bahan bakar yang cukup untuk terus menyala sampai matahari mulai malas dan condong ke barat.
Bayang-bayang warung mulai memanjang di aspal. Suara azan dari kejauhan bersahutan dengan deru knalpot motor bebek yang lewat tanpa knalpot standar. Sudah enam gelas kopi, belasan gorengan, dan entah berapa belas batang rokok yang sukses saya sihir menyatu dengan raga ini—raga yang, jujur saja, sebenarnya sudah diprotes keras oleh lambung sejak gelas kopi keempat. Menjelang gelap, saat angin laut mulai terasa menusuk tulang dan nyamuk-nyamuk sore mulai unjuk gigi, saya akhirnya pamit pulang, dengan berat hati sekaligus perut yang juga berat oleh gorengan.
Saya berjanji pada Mas Jupri, kalau suatu saat nanti semesta mengizinkan saya kembali motoran menyisir pesisir utara Bali, saya akan sempatkan mampir ke kota "S" ini lagi. Ia menyambut janji itu dengan tawa, bersumpah akan gantian mentraktir saya kopi, gorengan, dan tentu saja—membalas utang rokoknya, meski kami berdua tahu betul utang semacam itu biasanya cuma lunas di alam mimpi.
Dan yang lebih hebatnya lagi, Mas Jupri berjanji akan memperkenalkan saya dengan teman-teman tongkrongannya yang menurut dia jauh lebih unik, lebih gila, dan jauh lebih "nyeniman" dibanding dirinya—sebuah klaim yang, mengingat standar Mas Jupri sendiri, entah harus kutanggapi dengan antusias atau justru dengan waswas.
Buat saya, itu adalah sebuah undangan yang pantang untuk dilewatkan. Warung ini, Mas Jupri, dan kawan-kawan ajaibnya nanti... saya pastikan, saya pasti akan datang lagi. Kalaupun rencana itu meleset seperti kebanyakan rencana perantau lainnya, setidaknya saya pulang hari itu dengan cerita yang jauh lebih berharga daripada foto manapun yang bisa dihasilkan kamera secanggih apa pun—termasuk kamera butut Mas Jupri yang, sampai saya pergi, tak sekali pun ia buka lagi untuk sekadar mengintip hasil jepretannya.
De gustibus non est disputandum


























