Sambungan dari bagian pertama...
Setelah dua dekade, kertas yang dulu saya tulis dengan jemari gemetar dan modal nekat akhirnya kembali ke tangan saya di sebuah sudut di Bali. Kertas ini bukan lagi sekadar tumpukan serat kayu yang menguning—mirip warna gigi perokok berat seperti saya—melainkan sebuah kapsul waktu yang menyimpan gema suara Mei dan kebisingan Jakarta yang telah lama hilang. Saat membuka lipatannya kembali di bawah lampu kamar yang temaram, saya sadar saya tidak sedang membaca tutorial kamera; saya sedang dipaksa berhadapan dengan diri saya sendiri versi 22 tahun lalu—seorang laki-laki yang naif, sok puitis, dan setengah mati ketakutan kehilangan gadis Tionghoa bermata bulan sabit itu.
Dua Tahun Kemudian: Menulis Utang untuk yang Tak Pernah Kembali
Dua tahun berselang setelah pertemuan itu, setelah semakin dalam menggeluti fotografi (dan semakin sadar bahwa saya tidak akan pernah bisa membeli lensa mahal tanpa menjual ginjal), saya akhirnya duduk dan menulis jawaban yang seharusnya saya berikan waktu itu. Rencananya sederhana: kalau suatu hari saya berjumpa Mei lagi, saya akan sodorkan tulisan ini padanya sebagai bukti kalau saya tidak sebodoh hari itu.
Berikut jawaban itu, saya salin apa adanya dari dua lembar kertas yang sudah menguning:
Karena fotografi merupakan bentuk buku harian yang tepat bagi saya. Buku harian yang berisi apa saja yang saya lihat, ke mana saya pergi, dan cerita apa yang saya dengar. Semuanya terekam dalam sebuah citra.
Saya bisa mengungkapkan isi hati melalui foto, atas apa yang sudah dilalui bersama berjalannya hari. Saya bisa mengunggah semua yang saya rekam ke akun saya agar bisa melihatnya kembali dengan mudah, tanpa harus mengorek isi memori. Ya, saya sudah punya kewaspadaan dini akan penyakit pikun—sepertinya kebiasaan mengamankan ingatan ini dimulai lebih awal dari yang saya kira.
Momen-momen berlalu secara alamiah, seolah dunia memudahkan saya untuk menggambarkan apa yang sedang saya risaukan. Tak jarang, ketika sedang merasakan sesuatu, saya justru mendapatkan foto yang menjadi cerminan keadaan saya saat itu.
Dan keuntungan semakin menggeluti fotografi, saya jadi lebih awas dan menghargai waktu serta kenangan di sekitar saya—walau harus diakui, ini terkesan sedikit narsis. Saya yang dulu cuek pada hal-hal kecil, kini justru jatuh cinta pada hal-hal receh namun berarti. Bahkan, saat membuka galeri di rumah, saya sering tidak percaya sendiri: kok bisa-bisanya saya memotret momen seperti ini? Sesuatu yang biasa saja bisa menjelma jadi berharga. Tanpa fotografi, momen-momen ini mungkin sudah lama menguap dari ingatan, tak pernah dianggap istimewa.
Saya punya mimpi mencetak seluruh karya dan membukukannya jadi album besar. Sayangnya, dompet masih tak mau sepakat dengan mimpi itu, jadi untuk sekarang media sosial menjadi galeri pribadi saya—galeri gratis, meski algoritmanya kadang menyebalkan dan lebih ramah pada konten joget-joget.
Fotografi juga menjadi pelarian bagi imajinasi saya yang dulunya tersalur lewat gambar di atas kertas. Saat kemampuan menggambar terasa mentok, saya "mundur teratur" dan menemukan medium baru: kamera. Lewat sinilah saya bisa memproyeksikan visual dari kepala saya menjadi nyata.
Lewat fotografi, saya juga ingin bercerita pada diri saya di masa depan—seperti apa kota Jakarta yang saya benci sekaligus cintai ini dulu terlihat. Wajah masyarakatnya, gaya hidupnya, segala tingkah lakunya: sebuah kapsul waktu yang saya siapkan sejak dini, tanpa perlu izin dari siapa pun.
Dan pada akhirnya, saya sadar: diri ini bukanlah siapa-siapa. Sekeras apa pun berusaha bersinar, bintang yang memaksa jadi paling terang pun cepat atau lambat akan meledak, hancur, lenyap ditelan kehampaan. Saya yang menulis jawaban ini hanyalah titik kecil tak kasat mata—bahkan butiran pasir masih lebih besar massanya. Namun justru karena keberadaan yang terasa makin redup inilah, fotografi menjadi penanda: bahwa saya pernah ada, dan pernah menjalani hidup sebisa-bisanya.
Ditemukan Kembali, 22 Tahun Kemudian
Begitulah jawaban saya. Tersusun rapi dalam tulisan tangan, di atas dua lembar kertas yang kini sudah menguning—seperti warna gigi perokok berat atau harapan-harapan masa muda saya yang rontok satu per satu.
Saya benar-benar lupa pernah menulis ini—sampai saya menemukannya tak sengaja saat sedang beres-beres rak buku di Bali. Lipatan kertas itu jatuh begitu saja, dan saat saya memungutnya lalu membaca ulang, rasanya seperti dihantam truk fuso bermuatan rindu tanpa peringatan klakson.
Satirnya adalah: takdir ternyata punya selera humor yang bajingan. Dia memberi saya kesempatan untuk mengagumi Mei, menciptakan momen manis di tepi jalan dengan kopi starling, lalu langsung menariknya pulang tanpa opsi retur. Pertemuan kami sangat singkat. Begitu singkat hingga saya bahkan belum sempat menjadi seseorang yang "pantas" untuk bersanding di dekatnya—atau minimal punya modal untuk membelikannya kopi di kafe beneran, bukan di pinggir jalan.
Maaf, Mei. Saya bohong di draf pertama tulisan ini dengan memanggilmu Panjul. Saya hanya terlalu pengecut untuk mengakui pada dunia—atau pada diri saya sendiri—bahwa 22 tahun telah berlalu, dan saya masih menjadi orang yang sama: pria yang gagal menjawab pertanyaanmu secara langsung, dan sekarang hanya bisa merawat rindu sendirian lewat jendela bidik kamera.
Sudah lebih dari dua dekade, Mei. Rambut saya mungkin sudah mulai banyak yang mengajukan pensiun dini alias rontok, Jakarta tempat kita nongkrong dulu sudah berubah jadi makin macet, berpolusi, dan tenggelam oleh ambisi, sementara saya sekarang terdampar di Bali. Tapi di dalam kepala saya yang mulai lambat ini, kamu masih gadis Tionghoa yang manis di tepi jalan itu, yang sedang menunggu jawaban bodoh saya.
Saya masih terus berdoa pada Tuhan yang kadang suka bercanda ini: semoga saya masih diberi satu kali lagi kesempatan untuk bertemu kamu. Cuma untuk menyodorkan kertas usang ini, lalu berkata:
"Ini jawaban gue, Mei. Sori telat 22 tahun. Bunganya udah numpuk, mau dibayar pakai kopi starling lagi, atau mau gue beliin Starbucks sekalian sama tokonya?"
Bali, 8 Juli 2026.
Catatan ingatan: Jakarta, 6 Juli 2004.




















