Catatan Seorang Fotografer Pemula yang Motretnya Kayak Mau Nagih Utang
Pertemuan pertama kami terjadi di atas kapal ferry yang bergoyang santai, membelah Selat Bali. Di antara deru mesin dan aroma laut yang entah kenapa selalu mengingatkan saya pada indomie rebus, saya melihat seorang pria dengan kamera tersampir di lehernya, menatap tajam ke arah kerumunan penumpang seolah sedang mencari buronan kelas kakap. Namanya Bro Tustel—setidaknya itu nama beken yang dia berikan sendiri, dengan percaya diri yang biasanya cuma dimiliki orang yang benar-benar jago motret, atau orang yang cuma pede doang. Untungnya, dan agak melegakan, dia yang pertama.
Mengetahui kami sama-sama mudik dan akan kembali ke Bali, kami bertukar nomor WhatsApp. "Nanti kalau sudah balik ke Bali, kita berburu visual," janjinya sambil menepuk pundak saya—gaya orang yang sudah terbiasa merekrut korban baru untuk diajak hunting foto, lengkap dengan senyum yang bilang "kamu nggak akan bisa kabur dari ini."
Dua minggu berselang, janji itu terwujud, karena rupanya Bro Tustel jenis orang yang menagih janji lebih rajin daripada debt collector beneran. Sabtu sore yang gerah, kami bertemu di pelataran Pasar Badung, Denpasar. Bagi saya yang masih pemula, pasar adalah medan perang yang membingungkan. Bau terasi beradu dengan wangi dupa, langkah kaki pengunjung yang terburu-buru, dan pedagang yang berteriak menjajakan dagangan seolah lagi ikut lomba adzan—dan sepertinya semua peserta yakin mereka juara.
Saya mulai panik. Lensa kamera saya putar ke sana kemari seperti radar rusak, mencari objek yang "wow": mungkin ibu-ibu yang memikul keranjang raksasa, atau cahaya matahari dramatis yang jatuh sempurna di wajah seorang kakek, lengkap dengan efek ray of light ala poster film Hollywood. Padahal kenyataannya saya cuma dapat foto blur seorang bapak yang kaget difoto dan refleks menutup wajah pakai keranjang belanjaan—bukan momen sinematik, lebih ke momen memalukan.
Saking fokusnya berburu yang luar biasa, saya malah hampir menyenggol lapak canang sari dan sukses mendapat tatapan "maut" dari si ibu penjual—tatapan yang, jujur saja, jauh lebih tajam dan lebih terfokus dibanding lensa manapun yang saya bawa hari itu.
Sementara itu, Bro Tustel berjalan santai seperti sedang jalan-jalan sore di taman kota, bukan menerobos lautan manusia dan durian yang baunya bisa bikin insaf orang seketika. Kameranya sesekali diangkat, klik, lalu diturunkan lagi dengan senyum tipis, seolah dia baru saja mencuri sesuatu tanpa ketahuan siapa pun—termasuk oleh objek yang difoto. Dia tampak sangat rileks, berbanding terbalik dengan saya yang sudah keringat dingin dan mulai mempertanyakan pilihan hidup, sekaligus mempertanyakan kenapa saya rela panas-panasan demi hobi yang belum tentu menghasilkan uang.
Menjelang malam, kaki kami mulai protes duluan sebelum kami sempat menyerah secara resmi. Kami memutuskan menyudahi hunting dan melipir ke sebuah coffee shop estetis dekat pasar—tempat yang wangi kopinya jauh lebih ramah ketimbang wangi pasar yang baru kami tinggalkan, dan yang lebih penting, tidak ada yang menatap saya seolah saya mau mencuri canang sari. Setelah memesan kopi hitam (dan es teh manis untuk meredakan ketegangan saya, karena rasanya kurang etis kalau kafein yang justru dipakai buat menenangkan diri), kami duduk dan mulai membuka preview kamera masing-masing.
Saya menunjukkan hasil jepretan saya dengan ragu. "Kok rasanya kaku ya, Mas? Kurang dapet dramatisnya."
Bro Tustel menyeruput kopinya, lalu terkekeh—jenis tawa yang biasanya keluar dari orang yang sudah pernah ada di posisi saya, dan diam-diam menikmati déjà vu-nya sambil menahan diri untuk tidak bilang "sudah saya duga." "Kamu motret kayak orang mau nagih utang, tegang banget. Sini, saya kasih tahu rahasianya—gratis, nggak usah bayar, meski tadi kamu keliatan udah siap kabur duluan kalau saya minta uang."
Dia mencondongkan badan, memasang wajah serius ala dosen yang mau membuka kuliah, tapi dengan kopi hitam sebagai pengganti spidol papan tulis. "Kamu tahu Helen Levitt? Dia legenda street photography. Filosofi dia ini pas banget buat kamu yang baru nyemplung ke jalanan—dan iya, saya bilang nyemplung, karena tadi kamu emang keliatan kayak orang tenggelam, cuma bedanya kamu tenggelam sambil bawa kamera seharga gaji sebulan."
Lalu, sambil sesekali diselingi tawa dan tegukan kopi, dia mulai bercerita.
Katanya, saya tadi terlalu sibuk mencari momen megah sampai melewatkan hal-hal kecil di depan mata—anak kecil yang tertawa karena kepercik air, atau pedagang yang duduk mengantuk sambil memegang tongkat. "Cerita hebat itu jarang teriak-teriak minta difoto. Kamu yang harus peka duluan, baru kameramu bisa nangkep jiwanya. Kamu tadi malah sibuk nyari yang teriak-teriak, giliran ada yang beneran bagus di sebelah kamu, kamu malah nggak nengok."
Saya cuma bisa nyengir kecut, karena sialnya, dia benar. Sepanjang sore itu saya memang lebih sibuk mengejar bayangan momen sempurna yang mungkin cuma ada di kepala saya sendiri.
Dia lanjut, kali ini sambil menggoda soal bapak penjual es yang tadi diam-diam saya minta bergeser sedikit—ketahuan, ternyata, meski saya kira sudah cukup halus operasinya. "Kamu kira kamu mata-mata rahasia? Ketahuan, Bro. Jangan disetting. Keaslian momen HI—human interest, fotografi yang fokus menangkap sisi manusiawi dan cerita keseharian orang biasa—itu lahir dari mengamati, bukan mengendalikan. Biarkan mereka beraktivitas alami. Tugas kita cuma jadi saksi yang tak terlihat, bukan sutradara dadakan yang sok ngatur bapak-bapak jualan es."
"Terus modal utamanya apa, Mas? Lensa mahal?" tanya saya, setengah berharap jawabannya iya, supaya saya punya alasan belanja.
Dia menggeleng, seperti sudah menduga saya akan bertanya begitu. "Bukan lensa mahal, tapi rasa penasaran yang tulus sama manusia. Semakin kamu penasaran sama cerita hidup orang-orang di pasar ini, mata kamu bakal makin jeli lihat detail kecil yang bermakna. Kontak mata, kerutan di dahi, cara mereka pegang uang kembalian. Itu semua cerita, cuma kamu belum kepo aja—kamu tadi kepo-nya salah sasaran, kepo nyari yang dramatis, bukan kepo sama orangnya."
Dan yang terakhir, sambil mengetuk-ngetuk layar kamera saya seperti menunjuk barang bukti kejahatan, dia bilang saya tidak perlu selalu mengejar yang luar biasa. "Sesuatu yang berdampak besar itu nggak melulu spektakuler. Kadang kesederhanaan yang sunyi justru jauh lebih bertenaga. Less is more, bukan dramatic is more. Dan kalau masih ngeyel juga, ya nggak apa-apa, nanti juga capek sendiri kayak saya dulu."
Saya tertegun sebentar, mencoba mencerna—nasihat itu ternyata masuk lebih dalam daripada kafein yang barusan saya teguk. Bro Tustel tidak hanya mengajari saya cara memotret, tapi cara "melihat" dunia dengan lebih empati, dan cara menerima kenyataan pahit bahwa gaya motret saya sore itu memang agak mirip debt collector yang baru pertama kali kerja dan belum tahu caranya sopan.
Kami menghabiskan sisa malam mengobrol ngalor-ngidul, dari teknik framing sampai keluhan asam urat yang katanya suka kambuh kalau kelamaan jongkok demi low-angle yang sempurna—perjuangan seorang fotografer HI yang jarang diceritakan di buku teori manapun, tapi mungkin lebih jujur daripada bab manapun soal komposisi.
Saat jarum jam menunjukkan waktu untuk berpisah, kami bersalaman erat di parkiran. Bro Tustel menepuk pundak saya lagi—kali ini disertai lambaian tangan dan satu pesan terakhir: "Besok-besok motret jangan kayak mau nagih utang lagi, ya. Atau kalau masih mau nagih-nagih, nagih aja ke saya, saya masih ngutang rokok sebungkus sama kamu di ferry." Lalu kami membelah malam Bali menuju kediaman masing-masing.
Saya pulang dengan kartu memori yang penuh, kaki yang pegal, dan isi kepala yang rasanya baru saja disetel ulang ke pengaturan pabrik—kali ini dengan cara memandang dunia yang jauh lebih sabar dari sebelumnya. Dan mungkin, sedikit lebih jarang bikin ibu-ibu penjual canang sari waswas duluan tiap kali saya angkat kamera.













