Saya baru saja melakukan hal paling memalukan yang mungkin dilakukan seorang penulis: lupa kalau saya pernah menulis sesuatu. Bukan, saya belum pikun—setidaknya itu yang selalu saya yakinkan pada diri sendiri sambil menyimpan tanggal lahir orang tua di notes HP, jaga-jaga kalau ternyata saya diserang penyakit pikun mendadak. Saya juga tidak sedang sombong sampai lupa pernah menjawab pertanyaan seseorang lewat dua lembar kertas. Saya cuma... pengecut. Dan pelupa. Kombinasi yang sangat efisien untuk merusak masa muda.
Mengaso, Kopi, dan Satu Pertanyaan dari Gadis Tionghoa yang Manis
Ceritanya begini. Di versi tulisan yang sempat ingin saya publikasikan (baca: saya pamerkan), saya menyebut tokoh dalam cerita saya ini sebagai "Panjul". Sebuah nama samaran yang sangat tidak estetik, kasar, dan murni saya ciptakan sebagai tameng ego agar hati saya tidak mendadak rontok saat mengetiknya.
Kenyataannya? Dia jelas bukan Panjul. Dia seorang perempuan. Gadis manis Tionghoa, namanya Mei. Pintar, dan tipe perempuan yang membuat setiap laki-laki sadar bahwa semesta ini hobi melakukan diskriminasi genetik dengan menciptakan standar perempuan yang terlalu tinggi.
Mei adalah bentuk dari anomali yang sebenarnya. Perwujudan dari jeda yang tenang di tengah bisingnya Jakarta. Dia punya cara tersenyum yang tidak langsung meledak—bukan tawa lepas yang berisik, melainkan tarikan tipis di sudut bibir yang membuat matanya yang sipit menyempit membentuk bulan sabit. Senyum yang seolah tahu rahasia kecil bahwa semesta ini memang sedang berantakan, tapi tidak apa-apa.
Dan tatapannya? Oh, itu adalah bagian yang paling berbahaya. Mei tidak memandang, dia mengamati. Ada keteduhan di sana, jenis tatapan yang membuat orang seperti saya—yang saat itu cuma bocah kurang percaya diri dengan kamera pinjaman—merasa sedang dilihat sampai ke bagian yang paling jujur.
Belum lagi suaranya. Bagi saya, itu adalah melodi paling merdu di antara riuh knalpot metromini yang bersahut-sahutan di jalanan. Rendah, tenang, dengan aksen yang lembut. Setiap kali dia bicara, seolah-olah kebisingan Jakarta di sekitar kami teredam secara otomatis. Suara itu begitu kontras dengan tempat kami nongkrong—di antara bau asap rokok, aspal panas, dan gelas plastik kopi saset yang mulai berembun.
Sore itu, 22 tahun lalu—ya, 22 tahun, bukan 10 tahun seperti yang sengaja saya korting di draf awal agar rindu ini tidak terdengar mengenaskan dan berkarat—kami sedang mengaso di tepi jalan, selepas sesi foto komunitas di Jakarta.
Kami sengaja menyingkir dari rombongan, bukan karena ingin membuat drama romantis ala FTV, tapi murni karena rasa minder yang akut. Saat itu kami baru dua bulan menyelam di dunia fotografi, sementara rekan-rekan lain sudah punya jam terbang setinggi awan dan ego setinggi langit. Istilah-istilah teknis yang mereka lontarkan terdengar seperti bahasa asing—entah f-stop, ISO, atau bokeh, semuanya terdengar seperti mantra pesugihan yang belum kami kuasai demi mendapatkan foto yang "berjiwa".
Jadi kami memilih pojokan sendiri yang kurang estetik, memesan kopi dari abang-abang starling—penyelamat sejati anak nongkrong modal cekak se-Indonesia—sambil menyulut rokok (hanya saya yang merokok, Mei tidak. Dia memang tidak merokok, namun dia tak melarang saya merokok saat itu. Dia hanya tersenyum sambil bilang; “Jangan terlalu banyak ngerokok, nanti sakit”). Di situlah, di antara kepulan asap dan uap kopi saset murah, Mei menatap saya dengan matanya yang sipit dan bertanya iseng:
"Kenapa sih lo suka fotografi?"
Dan saya, dengan segala kebijaksanaan seorang pemula modal nekat, menjawab dengan penuh kedalaman filosofis:
"Ya, suka aja sih. Nggak ada penjelasan lain."
Runtuh sudah martabat saya sebagai pria yang mencoba terlihat keren di depan gadis pujaan. Lord Rangga pun mungkin akan menangis melihat betapa tidak bermutunya kualitas otak saya saat itu.
Obrolan lanjut ke topik-topik receh, dan pertanyaan itu pun terkubur. Tapi begitu sampai kos saya yang pengap, pertanyaan Mei terus terngiang seperti tagihan pinjol ilegal. Saya menyesal setengah mati—kenapa tadi tidak jawab lebih panjang dan puitis? Mengapa insting bertahan hidup saya begitu lemah di depan perempuan manis yang satu ini? Jadi saya memilih diam, dan memelihara utang itu diam-diam.
Namun, takdir ternyata punya selera humor yang bajingan. Dua puluh dua tahun kemudian, saat sedang merapikan rak buku di Bali, dua lembar kertas yang sudah menguning jatuh begitu saja ke lantai. Saat saya memungut dan membaca ulangnya, rasanya seperti dihantam truk fuso bermuatan rindu tanpa peringatan klakson. Di sana, tertulis jawaban yang selama ini terkubur—jawaban puitis nan keren yang seharusnya saya berikan untuk memikat hati Mei sore itu, bukan jawaban sekadar 'ya suka aja' yang bikin IQ saya terlihat minus. Tapi, benarkah jawaban ini masih layak dibaca, atau sudah basi dan berjamur dimakan waktu? Temukan isi surat yang telat 22 tahun ini di bagian kedua.


















