Melanjutkan kelas kilat jalur pemerasan yang sudah menguras separuh bungkus rokok dan kesabaran saya di Bagian Pertama, Mas Jepret kini bersiap menurunkan titah terakhirnya.
"Kedua," lanjutnya, mengetuk-ngetukkan jari ke meja seperti hakim Mahkamah Konstitusi yang siap mengetuk palu vonis. "Foto minimalis yang bagus itu foto yang otoriter."
"...Otoriter?" saya mengulang, memastikan telinga saya tidak sedang mengalami malfungsi di tengah bisingnya kedai.
"Otoriter," tegasnya, tanpa berkedip. "Jangan kasih kebebasan mata audiens buat lirak-lirik ke mana-mana. Paksa mereka lihat cuma yang kamu mau perlihatkan. Rezim satu pandangan. Nggak ada oposisi, nggak ada request, nggak ada hak asasi mata."
Saya diam kicep. Filosofi fotografi ini terdengar lebih mirip panduan kudeta militer ketimbang tips komposisi estetika.
"Caranya gampang," katanya. Tiba-tiba tangannya bergerak menyingkirkan asbak, piring gorengan, dan cangkir kopi saya ke ujung meja, menyisakan bungkus rokok saya sendirian di tengah meja. "Sederhanakan komposisi. Sederhanakan warna. Hitam-putih, atau maksimal dua warna dalam satu bingkai. Warna heboh, buang. Begitu distraksi hilang, bentuk sama garis yang dipaksa ngomong sendiri."
Ia menghembuskan asap terakhirnya ke udara, membiarkan saya menyaksikan sendiri bagaimana "bentuk yang dipaksa bicara" itu jadi metafora paling bajingan untuk dirinya sendiri—satu-satunya elemen di meja ini yang justru makin irit ngomong tapi menguasai semua aset.
Selesai menjabarkan Hukum Kedua tersebut, Mas Jepret mendadak mengunci mulutnya rapat-rapat. Sesimpel itu. Seperti ada saklar tak kasat mata yang baru saja dicabut dari stopkontak.
Dengan gerakan lambat yang kelewat sinematik, dia menyeruput kopi hitamnya, mengambil sebatang rokok lagi dari bungkus saya—tentu saja tanpa izin, karena "izin" adalah birokrasi yang merusak estetika minimalisnya—lalu menghisapnya dalam-dalam. Matanya menerawang ke langit-langit kedai. Tak ada lagi kata-kata, hanya kepulan asap tebal yang dihembuskan pelan ke muka saya, seolah menegaskan: Sesi press conference resmi dibubarkan.
Saya menanti dalam diam. Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Mas Jepret masih konsisten cosplay jadi cerobong pabrik, sementara saya duduk gelisah menghitung ulang kerugian: dua cangkir kopi, sepiring gorengan, dan hampir sebungkus rokok, cuma ditukar dua poin presentasi yang durasinya kalah panjang dari iklan obat panu.
Merasa tertipu dan miskin mendadak, saya memberanikan diri protes. "Terus kelanjutannya gimana, Mas? Masa cuma dua poin? Teknik editing-nya mana?"
Mas Jepret mematikan puntung rokoknya di asbak dengan gerakan slow-motion yang bikin mual. Dia memandang saya dengan tatapan dingin ala dosen pembimbing yang baru saja membaca bab satu skripsi paling ampas sedunia. Lalu, dia tersenyum tipis. Senyum yang saya kenali betul artinya: Sobat, kamu baru saja dikadalin.
"Ya itu intinya," katanya, menyandarkan punggung ke kursi seolah baru saja membacakan proklamasi kemerdekaan. "Jawaban minimalis dari saya. Masa materi fotografi minimalis, penjelasannya maksimalis? Nggak konsisten dong sama branding."
Hening. Saya menatapnya. Ia menatap balik, tanpa dosa, seolah baru saja memberikan saya pencerahan filsafat Yunani kuno, bukan alasan malas ngomong yang dibungkus rapi pakai jargon "konsistensi".
Asli, bangsat betul. Dan yang paling bikin gondok sampai ke ulu hati: logikanya masuk akal.
Sikapnya sepanjang percakapan ini bukan sekadar teori—ini demonstrasi live action, dipraktikkan langsung ke muka saya. Saya cuma jadi kelinci percobaan tolol yang membiayai sendiri eksperimennya. Rokok nyaris ludes, kopi tinggal bersisa ampasnya, gorengan licin tandas tak bersisa. Kalau ilmu ini dijual per kata, saya baru saja membeli dua kalimat dengan nilai tertinggi abad ini. Mas Jepret sukses membuktikan bahwa minimalis, pada praktiknya, berarti maksimal dalam hal mengeringkan dompet teman.
Tapi ya sudahlah. Namanya juga belajar dari legenda. Di titik ini, saya jadi bukti hidup bahwa bukan cuma foto yang bisa direkayasa dengan membuang elemen yang tidak perlu. Rasa penasaran orang pun, kalau ada Mas Jepret di baliknya, bisa dikompres menjadi mesin ATM berjalan.















