Senin, 20 April 2026

Secarik Kertas di Kursi Besi Stasiun Kereta Api Ketapang


Beraban, Tabanan, Bali, Senin, 20 April 2026

Sore itu di Stasiun Ketapang, cahaya matahari jatuh dengan sudut rendah, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang dramatis di atas peron. Udara Banyuwangi terasa berat oleh aroma laut yang terbawa angin dari Selat Bali, bercampur dengan bau besi rel yang dipanaskan matahari sepanjang siang.

Saya duduk di area merokok, sebuah sudut yang selalu terasa jujur bagi para pejalan. Di sana, orang-orang tidak hanya membuang abu rokok, tapi seringkali juga membuang beban pikiran sebelum memulai perjalanan jauh.

Tiga kursi dari saya, seorang pria duduk dengan kaku. Usianya sekitar tiga puluh tahun. Ia mengenakan jaket katun lusuh yang warnanya sudah pudar dimakan cuaca. Sebatang rokok terselip di jemarinya, namun ia jarang menghisapnya. Asapnya membubung lurus, membelah cahaya sore yang masuk dari celah atap peron.

Sebagai orang yang sering mengamati objek lewat lensa kamera, saya terbiasa melihat detail wajah. Namun, pria ini berbeda. Matanya tidak melihat ke arah rel, tidak juga ke arah kerumunan. Tatapannya terlempar jauh ke cakrawala, namun terasa kosong. Seperti sebuah bidikan foto yang kehilangan fokus—kabur, tak terbaca, dan menyimpan sunyi yang teramat sangat.

Tak lama kemudian, deru mesin kereta api membelah keheningan. Pengumuman dari pelantang suara menggema, memberitahu bahwa kereta yang ia tunggu telah bersiap di jalur satu.

Pria itu bergerak lambat. Ia mematikan rokoknya di asbak dengan satu tekanan kuat, seolah sedang menghancurkan sesuatu. Ia berdiri, memanggul tas ranselnya yang tampak berat, lalu berjalan menuju gerbong tanpa sekali pun menoleh. Langkah kakinya terdengar berat di atas lantai peron, pelan, dan penuh keraguan.

Setelah sosoknya hilang tertelan pintu gerbong, saya tanpa sengaja melihat secarik kertas tertinggal di atas kursi tempatnya duduk tadi. Kertas itu kusam, dengan bekas lipatan di sana-sini. Karena penasaran, saya mengambilnya.

Ternyata, itu bukan tiket atau catatan belanja. Itu adalah sebuah puisi, ditulis dengan tinta hitam yang di beberapa bagian tampak sedikit luntur—mungkin oleh keringat tangan, atau mungkin sesuatu yang lain.

Yang kamu sakiti itu bukan jiwa yang masih utuh...
Ia datang bukan mencari sandaran,
melainkan karena keberanian untuk percaya sekali lagi

Saya membacanya perlahan di tengah bisingnya stasiun yang mulai sibuk. Setiap kata terasa seperti hantaman pelan ke kepala. Saya membayangkan pria itu, dengan tangan gemetar, menuliskan kata-kata ini di tengah kepulan asap rokok tadi. Ia sedang tidak sekadar patah hati; ia sedang berkabung atas sebuah harapan yang ia bangun dengan susah payah dari sisa-sisa luka lamanya.

Puncak kepedihan itu ada pada baris terakhirnya:

Dulu ia bertahan karena mimpi, kini ia berjalan tanpa apa-apa.
Ia hanya terlihat hidup,
seperti raga yang tertinggal setelah jiwanya menyerah.
Sunyi. Kosong.

Saya melipat kertas itu baik-baik dan menyimpannya di saku tas kamera saya. Kereta pria itu perlahan bergerak meninggalkan Stasiun Ketapang, membawa pemilik luka itu menuju entah ke mana.

Hingga hari ini, kertas itu masih ada di sana, di antara lensa dan memori-memori visual yang saya tangkap. Terkadang saya berpikir, apakah ia sekarang sudah menemukan "tempat yang aman" itu? Ataukah ia masih berjalan sebagai raga yang kosong di stasiun-stasiun lain?

Saya menyimpannya bukan sebagai kenang-kenangan, tapi sebagai sebuah amanah. Saya selalu berharap, di satu perjalanan atau di satu kedai kopi suatu saat nanti, saya akan melihat kembali sepasang mata kosong itu. Dan saat itu tiba, saya ingin mengembalikan kertas ini padanya, hanya untuk memberi tahu bahwa luka itu setidaknya pernah dibaca, dan ia tidak benar-benar sendirian dalam kekosongan itu.

Yang kau sakiti bukanlah jiwa yang utuh,
bukan pula ia yang baru belajar mencintai.
Ia adalah seseorang yang telah lama karib dengan kecewa,
dengan luka lama yang enggan mengatup sempurna.
Ia datang bukan mencari sandaran,
melainkan karena keberanian untuk percaya sekali lagi—
bahwa mungkin, kau adalah pelabuhan dari badai yang panjang.
Ia menyambutmu dengan jemari gemetar dan senyum yang canggung,
perlahan meyakinkan diri bahwa cinta tak selamanya perih.
Namun di ruang paling rapuh yang kau pinjam itu,
kau justru menikamnya lebih dalam dari siapapun.
Luka dulu adalah kehilangan; luka darimu adalah pengkhianatan harapan.
Dulu ia bertahan karena mimpi, kini ia berjalan tanpa apa-apa.
Ia hanya terlihat hidup,
seperti raga yang tertinggal setelah jiwanya menyerah.
Sunyi. Kosong.

Sabtu, 18 April 2026

Selamat Datang di Klub "Bangsat" yang Bahagia (Tata Cara Untuk Berhenti Jadi Orang Bodoh)



Beraban, Tabanan, Bali, Sabtu, 18 April 2026

Mari kita jujur sebentar, tanpa perlu pakai filter estetika atau caption bijak di media sosial. Kamu, iya kamu, sudah terlalu lama menyandang gelar "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" yang sebenarnya lebih mirip "Relawan Tanpa Otak." Selama ini kamu sibuk menjadi pemadam kebakaran bagi masalah orang lain, sementara rumahmu sendiri terbakar habis dan mereka justru asyik menonton sambil komplain kenapa asapnya bikin mata mereka perih.

Sudah waktunya kita bicara kasar. Berhenti jadi orang dungu.

Investasi Dungu Bernama "Harapan Timbal Balik"

Kamu bangun pagi dengan semangat altruisme yang meluap-luap. Teman butuh bantuan menyelesaikan pekerjaannya? Kamu datang paling depan, meski otakmu sudah meleleh dan sekarang sudah jadi bubur. Teman butuh ditemani karena lagi gundah gulana? Kamu langsung berangkat, meskipun hujan badai dan angin topan menerjang. Harapanmu sederhana, seindah pelangi di sore hari: "Kalau aku baik sama mereka, nanti kalau aku jatuh, mereka pasti akan menangkapku."

Spoiler alert: Mereka tidak akan menangkapmu! Mereka bahkan tidak sadar kamu jatuh karena mereka terlalu sibuk memposting foto jalan-jalan bersama sahabat mereka yang bisa terwujud karena beban kerjaan mereka sudah mereka limpahkan dan kamu yang kerjakan.

Ini adalah jebakan Batman terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Kamu mengira hubungan manusia itu seperti menabung di bank; makin banyak kamu bantu, makin besar bunga kebaikan yang bisa kamu cairkan. Nyatanya, banyak orang menganggap bantuanmu itu seperti udara—gratis, tersedia kapan saja, dan tidak perlu berterima kasih karena sudah seharusnya ada.

Selamat Datang di Fase "Bangsat"

Setelah bertahun-tahun dikhianati oleh ekspektasimu sendiri, akhirnya kabel saraf di otakmu tersambung kembali. Kamu mulai sadar bahwa saat kamu butuh telinga untuk mendengar, mereka tiba-tiba menjadi tuli masal. Saat kamu butuh tangan untuk membantu, mereka mendadak mengalami kelumpuhan sementara.

Maka, hanya ada satu solusi logis: Jadilah bangsat!

Tunggu, jangan salah paham dulu. "Jadi bangsat" di sini bukan berarti kamu harus merampok bank atau membalak hutan lindung. Menjadi bangsat adalah sebuah filosofi pertahanan diri. Ini adalah seni untuk mengabaikan mereka yang hanya ada saat butuh, dan mulai mengadopsi prinsip ekonomi paling dasar: Quid pro quo. Ada harga, ada rupa. Ada bantuan, ada balasan. Kalau mereka hanya memberi jempol di postinganmu, jangan harap kamu mau membantu mereka memindahkan lemari jati seberat dosa-dosa mereka.


Ritual Menyenangkan Diri Sendiri (Tanpa Rasa Bersalah)

Sekarang, bayangkan sebuah dunia di mana ponselmu berbunyi karena ada pesan "Eh, boleh minta tolong nggak?" dan kamu hanya membacanya sambil menyeruput kopi hitam paling nikmat, lalu meletakkannya kembali tanpa membalas. Tidak ada rasa cemas, tidak ada keringat dingin karena takut dibilang jahat.

Kamu sekarang adalah penguasa atas waktumu sendiri. Waktu yang dulu habis untuk mendengarkan drama hidup teman yang itu-itu saja, kini bisa kamu gunakan untuk hal-hal yang lebih berfaedah. Mungkin mendalami hobi fotografi, jalan-jalan sendirian menikmati kesunyian, atau sekadar duduk melamun sambil merokok tanpa perlu diganggu ocehan orang yang merasa paling benar.

Menjadi bangsat berarti kamu sudah "masa bodo." Kamu sudah memutuskan untuk jalan sendiri. Kamu mulai menghabiskan uangmu untuk kebahagiaanmu sendiri, bukan untuk mentraktir orang-orang yang bahkan tidak ingat nama lengkapmu. Kamu mulai berinvestasi pada ketenangan batinmu, bukan pada validasi orang lain.

Kenapa Bangsat Lebih Bahagia?

Anehnya, setelah kamu memutuskan untuk tidak lagi menjadi "orang baik yang bisa diinjak-injak," hidupmu terasa jauh lebih ringan. Kenapa? Karena lusinan beban di pundakmu berkurang drastis. Kamu tidak lagi memikul ekspektasi orang lain. Kamu tidak lagi merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan dunia.

Kamu akan menyadari bahwa ternyata menjadi egois itu sehat. Ada kepuasan tersendiri saat melihat mereka yang biasanya memanfaatkanmu mulai kelabakan karena "sumber daya gratis" mereka tiba-tiba menutup kran. Biarkan saja mereka menggerutu dan menyebutmu berubah atau sombong. Justru itu tandanya kamu berhasil. Semakin mereka membencimu karena kamu tidak lagi bisa dimanfaatkan, semakin bersih lingkaran pertemananmu dari para parasit sosial.

Sekarang kamu lebih bahagia dibanding sebelumnya, bukan? Tentu saja. Karena akhirnya kamu sadar bahwa satu-satunya orang yang berkewajiban untuk tidak membiarkanmu menderita adalah dirimu sendiri.

Jadi, selamat menikmati kopimu, selamat menikmati asap rokokmu, selamat menikmati waktu sendirimu, dan selamat atas gelar baru sebagai "Bangsat yang Berdaulat." Karena sejujurnya, lebih baik dianggap bangsat tapi punya otak waras dan hati yang bahagia, daripada dianggap orang baik tapi sebenarnya cuma orang dungu yang sedang diperas perlahan-lahan.

Selesai. Sekarang, jadilah bangsat yang berdaulat, pergilah, bersenang-senanglah, dan abaikan mereka lagi.

Qui amicus esse coepit quia expedit, et desinet quia expedit

Selasa, 14 April 2026

Persetan dengan Genre Fotografi: Kenapa Kameramu Tidak Pernah Menuntutmu Menjadi Ahli! (Pelajaran Pahit Bersama Asap Rokok dan Enam Gelas Kopi Hitam) – Tulisan Bagian Terakhir



Beraban, Tabanan, Bali, Selasa, 14 April 2026

(Artikel ini adalah tulisan bagian ketiga sekaligus terakhir dari artikel tiga bagian yang membicarakan seputar genre fotografi. Supaya artikel ini mudah dimengerti, silahkan baca tulisan bagian pertama dan bagian kedua.)

Epifani di Balik Helm dan Kepulangan Sang Mualaf Visual

Tuhan itu maha asyik, Sobat. Dia tidak mengirimkan malaikat bersayap untuk menegur kesombonganku. Dia cukup mengirimkan dua orang perokok dan peminum kopi kelas berat untuk menertawakan logikaku yang kaku dan membuatku sadar bahwa aku selama ini hanyalah seorang fotografer 'kaleng-kaleng' yang terpenjara aturan.

Setelah mereka pergi, warkop itu kembali ke setelan pabrik: berisik dan berdebu. Tapi bagi saya, suasana itu telah berubah total. Saya duduk diam, memandangi ampas kopi di dasar gelas keenam saya. Ampas itu terlihat seperti hamparan pasir di pantai antah-berantah, sebuah mahakarya visual yang selama ini mungkin akan saya abaikan karena "nggak masuk genre saya".

Sobat, pelajaran sore itu harganya jauh lebih mahal daripada kursus fotografi online mana pun. Saya mendapatkannya gratis, hanya bermodalkan curi-curi dengar dan enam gelas kopi hitam yang pahitnya minta ampun. Saya tersenyum sendiri, mungkin terlihat sedikit gila bagi abang penjaga warkop. Tapi saya tidak peduli. Saya baru saja menemukan kunci dari penjara yang saya bangun sendiri selama bertahun-tahun. Dan saya bebas meredeka sekarang!

Saya bangkit, merapikan tas kamera saya—yang sekarang terasa jauh lebih ringan, bukan karena beratnya berkurang, tapi karena beban mentalnya sudah menguap. Saya langsung kasih tanda ke abang warkop, tanya semua kopi yang sudah saya minum habis berapa dan membayar semua kopi saya. Saya berikan uang lebih pada abang warkop, anggap saja itu "biaya kuliah" untuk sore yang luar biasa ini.

Saat saya menaiki motor dan memasang helm, ada perasaan aneh yang menyelinap. Saya merasa seperti sedang memulai perjalanan baru. Saya menyalakan mesin motor, memutar gas, dan membiarkan angin malam menyapu wajah saya. Di sepanjang jalan pulang, saya tidak bisa berhenti tersenyum. Lampu-lampu jalanan yang biasanya saya anggap mengganggu, kini terlihat seperti tarian bintang-bintang di aspal. Pedagang martabak yang sibuk dengan loyangnya terlihat seperti seniman yang sedang menciptakan mahakarya.

Saya sadar sepenuhnya, Sobat: Tuhan telah memberikan jawaban melalui obrolan Mat Jepret dan kawannya. Dia mengingatkan saya bahwa kreativitas tidak boleh diberi pagar kawat berduri apalagi sampai dibatasi tembok yang menjulang dan kabel beraliran listrik tegangan tinggi. Dia mengingatkan saya bahwa kamera adalah alat untuk mensyukuri keindahan ciptaan-Nya, bukan alat untuk menyombongkan label atau aliran.

Mulai detik itu, saya berjanji pada diri sendiri. Saya akan memotret apa saja yang menggetarkan jiwa saya. Jika esok saya melihat sepasang sandal jepit yang putus di pinggir jalan dan itu terasa puitis bagi saya, saya akan memotretnya dengan penuh hormat. Saya tidak akan lagi bertanya, "Ini genre apa?". Saya hanya akan bertanya, "Ini membuatku bahagia atau tidak?".

Kepulangan saya malam itu bukan sekadar perjalanan fisik dari warkop ke rumah. Itu adalah perjalanan spiritual dari seorang fotografer yang kaku menjadi seorang "mualaf" visual yang merdeka. Saya pulang dengan membawa satu pelajaran berharga: Fotografi adalah tentang kejujuran melihat dunia. Dan dunia ini terlalu luas untuk dipandang hanya dari satu sudut pandang yang sempit.


Memotretlah Sebelum Sobat Menjadi Robot

Jadi, untuk Sobat semua yang masih sering galau seperti Mat Jepret—tolong, berhentilah menyiksa diri. Letakkan egomu, ambil kameramu, dan keluarlah ke jalan. Jangan tanya pada komunitas apa yang harus kamu potret. Tanyalah pada hatimu, apa yang ingin kamu abadikan sebelum momen itu hilang selamanya ditelan waktu.

Fotografi itu sederhana, Sobat. Sesederhana menyeruput kopi hitam di sore hari. Jangan buat ia menjadi rumit dengan teori-teori yang hanya akan membunuh kreativitasmu. Memotretlah seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat pelangi: penuh kekaguman, tanpa pretensi, dan tanpa beban genre.

Sebab pada akhirnya, saat kita menua nanti, kita tidak akan bangga karena pernah menjadi "Master of Street Photography". Kita akan bangga karena pernah merekam potongan-potongan kecil keindahan hidup yang pernah kita lalui dengan penuh rasa syukur. Selamat memotret, Sobat! Jadilah merdeka, atau jadilah ampas kopi saja.

(Catatan: Cerita ini memanglah fiksi belaka, tetapi terinspirasi oleh kejadian nyata. Satu-satunya yang tidak fiksi dalam cerita ini Adalah kopi hitam, rokok, kamera, dan yang past..kedai kopi beserta abang penjaganya. Semoga artikel ini bisa menghibur Sobat semua)

Senin, 13 April 2026

Persetan dengan Genre Fotografi: Kenapa Kameramu Tidak Pernah Menuntutmu Menjadi Ahli! (Pelajaran Pahit Bersama Asap Rokok dan Enam Gelas Kopi Hitam) – Tulisan Bagian Kedua



Beraban, Tabanan, Bali, Senin, 13 April 2026

(Artikel ini adalah kelanjutan dari artikel sebelumnya, masih seputar obrolan yang "berat-berat-ringan" mengenai genre fotografi)

Kepulan asap rokok Mat Jepret semakin tebal, seiring dengan curhatannya yang semakin melantur ke mana-mana. Dia bicara tentang tren moody tone yang membuatnya pusing, atau tentang color grading yang lebih rumit daripada make up pengantin. Mat jepret sepertinya Tengah tersesat di hutan belantara teknis dan ekspektasi sosial. Dan di situlah saya sadar, bahwa banyak dari kita yang memegang kamera hanya untuk terlihat "ahli", bukan untuk merasa "bahagia".

Khotbah di Antara Ampas Kopi dan Asap Cengkeh

Setelah Mat Jepret puas menumpahkan "sampah visual" di kepalanya, kawannya—Sang Resi Warkop—mengembuskan asap rokoknya dengan cara yang sangat dramatis. Dia menatap Mat Jepret dengan tatapan kasihan, tipe tatapan seorang kakak yang melihat adiknya nangis karena layangannya putus.

"Mat," katanya sambil tertawa kecil, suara tawanya lebih pahit dari kopi hitam di hadapannya. "Kamu itu mau jadi fotografer atau mau jadi petugas administrasi pajak? Kenapa hobi saja pakai urusan klasifikasi segala? Fotografi itu panggilan jiwa, Mat, bukan penghitungan besaran pajak yang harus jelas kategorinya. Kamu itu sedang melakukan aktivitas mencintai visual, kok malah kayak orang lagi ngerjain penghitungan lintasan roket ke bulan?"

Sobat, kata-kata itu seperti petir di siang bolong bagi saya. Sang Resi Warkop melanjutkan dengan logika yang lebih tajam dari silet. Dia bilang, membatasi diri pada satu genre sebelum benar-benar mengeksplorasi semuanya itu seperti datang ke surga tapi cuma mau duduk di teras karena takut dibilang nggak konsisten kalau masuk ke dalam. "Fotografi itu kesenangan, Mat. Kalau kamu motret tapi jantungmu nggak deg-degan, kalau kamu motret tapi pikiranmu masih mikir 'ini bakal dapet berapa like', mending kamera itu kamu tukar sama nasi padang. Lebih jelas manfaatnya, bisa bikin kenyang berbulan-bulan."

Percakapan mereka pun meliar, Sobat. Selama empat jam berikutnya, warkop kecil itu berubah menjadi kuil kebijaksanaan. Mereka bicara tentang teknik long exposure yang seringkali hanya dipakai buat pamer alat, padahal substansinya kosong. Mereka bicara tentang bagaimana cahaya matahari yang menembus celah genteng warkop itu jauh lebih puitis daripada lighting studio jutaan rupiah, asalkan kita punya mata yang cukup "lapar" untuk melihatnya.

"Jangan kotakkan dirimu, Mat," saran Sang Resi sambil menunjuk segelas kopi hitam. "Kopi ini hitam, tapi kalau kamu campur susu jadi cokelat, kalau kamu campur gula jadi manis. Apa dia protes? Enggak. Dia tetap memberikan kafein. Begitu juga fotografimu. Kalau hari ini kamu ingin memotret tukang ojek yang lagi tidur, lakukan! Kalau besok kamu ingin memotret kancing bajumu yang lepas, lakukan! Persetan dengan genre! Genre itu urusan orang-orang yang nggak bisa motret tapi pinter nulis kritik."


Saya yang duduk tak jauh dari mereka, seolah-olah sedang disidang oleh malaikat maut fotografi. Enam gelas kopi hitam sudah pindah ke perut saya, membuat jantung saya berdegup kencang—bukan cuma karena kafein, tapi karena kebenaran yang baru saja saya dengar. Saya tersadar bahwa kamera saya, benda mekanis yang dingin itu, adalah satu-satunya entitas yang paling jujur. Dia tidak pernah menuntut saya untuk memotret street atau landscape. Dia hanya menunggu saya menekan tombolnya dengan penuh cinta.

Sang Resi Warkop kemudian menutup khotbahnya dengan kalimat yang sangat menyentil: "Banyak fotografer sekarang yang lensa kameranya tajam banget, sanggup motret debu di bulan, tapi sayangnya hatinya buta. Mereka bisa melihat teknis, tapi nggak bisa merasakan momen. Mereka punya alat mahal, tapi nggak punya jiwa yang merdeka."

Kalimat itu, Sobat, rasanya lebih pedas dari cabe rawit di gorengan yang saya makan. Kita seringkali terlalu sibuk memoles permukaan foto, tapi lupa mengisi ruh di dalamnya. Kita sibuk dengan software pengeditan paling mutakhir, tapi lupa mengedit niat kita saat mengangkat kamera. Mereka berdua kemudian tertawa terbahak-bahak, membayar kopi, dan berjalan keluar warkop dengan langkah seringan kapas, meninggalkan saya yang masih mematung dengan otak yang bekerja lebih keras daripada mesin penggiling padi.

(Bersambung ke Bagian Ketiga)

Minggu, 12 April 2026

Persetan dengan Genre Fotografi: Kenapa Kameramu Tidak Pernah Menuntutmu Menjadi Ahli! (Pelajaran Pahit Bersama Asap Rokok dan Enam Gelas Kopi Hitam) – Tulisan Bagian Pertama



Beraban, Tabanan, Bali, Minggu, 12 April 2026

Selamat Datang di "Sekte" Pencari Cahaya

Halo, Sobat visual! Selamat datang di pojok digital tempat kita menertawakan diri sendiri. Jika Sobat mengklik artikel ini karena merasa kamera Sobat yang seharga motor sport itu sedang menangis di dalam drybox akibat Sobat bingung mau memotret apa, Sobat sudah berada di jalan yang benar—atau setidaknya, Sobat tidak tersesat sendirian.

Kali ini, saya tidak akan bicara soal sensor full-frame yang bisa melihat pori-pori semut, atau lensa f/1.2 yang latar belakangnya bisa sehalus budi pekerti tetangga. Saya ingin bercerita tentang sebuah "epifani kafein" yang saya alami di sebuah warung kopi pinggir jalan. Sebuah tempat di mana debu jalanan adalah bumbunya, dan obrolan dua orang asing adalah kurikulumnya. Siapkan kopi hitammu, Sobat, karena perjalanan ini akan sedikit bergelombang diantara lubang tawa dan air mata filosofis.

Tragedi Mat Jepret dan Penjara Bernama "Genre"

Sobat, pernahkah merasa seperti tahanan di dalam hobi sendiri? Punya kamera canggih tapi merasa berdosa kalau memotret kucing hanya karena Sobat mengaku sebagai 'Landscape Photographer'? Kalau iya, mari kita peluk Mat Jepret, saudara kembar spiritual kita yang sedang gundah gulana di warung kopi.

Sore itu, saya sedang duduk di sebuah warung kopi (warkop) yang tingkat estetikanya minus sepuluh. Meja kayunya penuh bercak lingkaran gelas, dan kipas anginnya berputar dengan suara seperti mesin molen pengaduk semen. Saya di sana bukan untuk mencari konten, melainkan untuk lari dari kenyataan bahwa hidup ini seringkali lebih blur daripada foto yang salah fokus. Di depan saya, segelas kopi hitam mengepul, dan sebatang rokok sudah siap dibakar.

Lalu muncullah Mat Jepret. Ia tidak datang sendirian; ia membawa beban dunia di pundaknya dan sebuah kamera mirrorless kelas berat yang menggantung di lehernya seperti beban hukuman gantung. Mat Jepret duduk di meja sebelah saya, wajahnya sekusut cucian yang lupa disetrika sebulan. Tak lama, kawannya datang—seorang laki-laki yang pembawaannya terkesan santai, dan dari auranya tampak jelas kalau laki-laki ini seakan telah selesai dengan urusan duniawi. Namanya resi Warkop

"Bang," Mat Jepret memulai, suaranya parau seperti habis menelan biji kedondong. "Aku mau lego semua alatku. Aku sudah masuk komunitas Street Photography, tapi dikritik karena fotoku nggak ada 'pesan sosialnya'. Aku pindah ke Macro, malah pusing nyari belalang yang mau diajak kerjasama. Aku masuk grup Portrait, tapi aku minder lihat modelnya yang lebih bersinar dari masa depanku. Aku ini apa, Bang? Aku nggak punya identitas. Aku nggak punya genre yang bisa aku Jalani dengan sepenuh jiwa!"

Mendengar itu, saya hampir menyemburkan kopi saya ke wajah abang warkop. Sobat, bayangkan betapa lucunya manusia ini. Kita membeli alat pembebas kreativitas seharga puluhan juta, lalu kita sendiri yang membuat jeruji besi untuk memenjarakan alat itu. Mat Jepret merasa bahwa tanpa label "Street Photographer" di bio Instagram-nya, dia hanyalah remah rengginang di dunia jepret-menjepret. Dia merasa bahwa memotret itu harus punya kartu anggota, harus punya stempel aliran, dan harus patuh pada aturan-aturan yang dibuat oleh orang-orang yang mungkin juga sedang bingung mencari jati diri.


Mat Jepret terus meracau, Sobat. Dia mengeluh tentang betapa melelahkannya mengikuti aturan Rule of Thirds yang membuatnya merasa seperti sedang mengerjakan soal ujian kalkulus tingkat dewa. Dia bicara tentang betapa takutnya dia mengunggah foto bunga di grup fotografi karena takut dicap sebagai "fotografer ga jelas" atau "amatir kurang kerjaan". Di benak Mat Jepret, fotografi bukan lagi soal menangkap cahaya, tapi soal menghindari hujatan massa.

Saya melihat ke arah kamera saya yang tergeletak di atas meja yang agak berminyak. Benda itu diam, jujur, dan tidak menuntut apa-apa. Tapi pikiran saya? Ah, Sobat, saya sadar saya adalah Mat Jepret dalam versi yang lebih pendiam. Berapa kali saya mengurungkan niat memotret manusia gerobak yang lewat hanya karena saya takut fotonya tidak "estetik" menurut standar komunitas? Kita semua sering kali menjadi budak dari validasi jempol orang asing di media sosial.

Mat Jepret adalah personifikasi dari kegagalan kita dalam memahami kebebasan. Dia menganggap kamera adalah belenggu identitas. Dia menghabiskan waktu berjam-jam di forum diskusi fotografi, berdebat tentang ketajaman lensa di pojok gambar (corner sharpness), sementara jiwanya sendiri tumpul. Dia mencari "rumah" di komunitas-komunitas yang justru membuatnya merasa seperti gelandangan. Padahal, Sobat, rumah sejati dari seorang fotografer adalah di balik jendela bidik, saat mata dan hati bertemu dalam satu garis lurus cahaya.

(Bersambung ke bagian kedua)