Beraban, Tabanan, bali, Sabtu, 26 September 2023
(sambungan dari Bagian Pertama)
Topeng yang Kupakai untuk Melepaskannya
Sejak sore itu, sesuatu yang tak direncanakan mulai terbentuk. Mei, dengan caranya yang lugas, mulai "memaksa" saya untuk terus datang setiap akhir pekan. Kadang kami hanya duduk di teras. Ia bercerita tentang buku, saya bercerita tentang kamera. Kadang ia menunjukkan hasil jepretannya—sebuah foto kucing di atas pagar, atau siluet pedagang kaki lima di tengah kepulan asap gerobaknya.
Sesekali, di tengah obrolan yang ringan, Mei tiba-tiba diam lebih lama dari biasanya, seperti menahan sesuatu yang ingin dikatakan tapi urung. Suatu kali saya bertanya kenapa, dan ia hanya menjawab, "Nggak apa-apa, cuma mikir. Kadang saya takut hal-hal sederhana kayak gini nggak bisa bertahan lama."
Saat itu saya menertawakannya, mengira ia sekadar bercanda atau sedang melankolis. Saya tidak tahu bahwa kalimat itu, dari mulut Mei yang biasanya begitu tegas, adalah bentuk paling jujur dari ketakutan yang sudah lama ia simpan sendirian. Segalanya mengalir indah. Namun saya belum tahu saat itu, bahwa di balik pintu rumah itu, ada percakapan-percakapan lain yang sedang berlangsung tanpa sepengetahuan saya. Percakapan di ruang makan antara orang tua Mei, tentang siapa laki-laki yang belakangan ini begitu sering duduk di teras mereka.
Sampai pada suatu Minggu pagi, dua puluh lima tahun yang lalu. Sebaris pesan singkat dari Mei muncul di layar ponsel saya: "Ke Blok M Mal cari buku bekas, mau ikut?"
Entah kenapa ia selalu ringkas—tanpa basa-basi, persis seperti caranya menyodorkan buku di kasir dulu. Siang itu saya meluncur menjemputnya. Di atas jok motor butut itu, saya sengaja menahan selongsong gas, membiarkan roda berputar lebih lambat agar durasi perjalanan bisa sedikit lebih lama. Angin membawa bau aspal panas bercampur parfum ringannya. Ya, saya memang menaruh hati padanya.
Kami menyusuri lorong sempit berjejal buku bekas. Di sela-sela perburuan, saya menangkap kebiasaan kecilnya. Sesekali Mei mengeluarkan kamera saku, memotret satu kali secara acak—seorang penjaga toko, atau seberkas cahaya yang jatuh miring—lalu mengantonginya lagi. Tidak ada pose. Tidak ada pengulangan. Sekali potret, selesai.
Setelahnya, kami duduk di Taman "M". Sambil menyantap bekal tanpa sendok, rasa penasaran saya tumpah. Saya bertanya kenapa ia hanya memotret sesekali saja, seolah tak peduli hasilnya nanti seperti apa.
Sambil menatap keramaian taman, ia tersenyum tipis. "Potretlah lebih banyak, sekadar untuk bersenang-senang," ucapnya tenang. "Tidak semua foto harus punya tujuan khusus. Kadang, kita membuat proses kreatif jadi terlalu rumit. Padahal, proses memotret itu sendiri sudah lebih dari cukup."
Matanya menyiratkan kebebasan yang jujur. "Potretlah hal-hal yang membuatmu merasa hidup. Saat sesuatu memikat perhatianmu bahkan sebelum kamu tahu alasannya, ikuti saja. Tugas seorang seniman bukanlah untuk selalu tahu ke mana arahnya, melainkan untuk tetap terbuka menyambut panggilan tersebut."
Malamnya, sepulang dari sana, ia menahan saya sejenak di depan pagar rumah. "Minggu depan datang lagi ya. Kita tak usah jalan, di sini saja. Saya ingin cerita tentang buku yang akan saya baca malam ini."
Dari malam-malam di teras itulah kami merajut sebuah cerita. Saat itu saya sadar, saya sedang memotret sebuah mimpi, sambil diam-diam berharap semua itu akan menjelma menjadi kenyataan. Tapi kebahagiaan yang sederhana itu, ternyata, dibangun di atas tanah yang jauh lebih rumit daripada yang pernah saya bayangkan.
Fondasi retak itu, rupanya, sudah ada di sana sejak awal—hanya saya yang memilih untuk tidak melihatnya. Saya pribumi. Mei keturunan Tionghoa. Dan bukan hanya soal itu; keyakinan kami pun bersimpangan, melahirkan jurang yang tak bisa dijembatani hanya dengan niat baik dan cinta belaka. Saya sujud lima waktu sehari. Di rumahnya, ada altar kecil warisan leluhur yang tak bisa begitu saja ditanggalkan demi seorang pemuda miskin yang datang membawa buku pinjaman.
Kami sempat naif berpikir bahwa perasaan bisa mengalahkan segalanya. Tapi ada hal-hal yang tak bisa dikompromikan. Ada garis keturunan yang harus dijaga, dan tradisi yang tak bisa dilanggar hanya karena dua orang muda saling jatuh cinta di sebuah taman kota. Butuh waktu lama sebelum saya menyadari bahwa setiap kali saya pulang, ada percakapan sunyi di ruang makan keluarganya. Ibunya lambat laun menjadi lebih pendiam. Ayahnya mulai jarang muncul setiap kali saya bertamu.
Hingga suatu sore, tanpa sepengetahuan Mei, ayahnya memanggil saya ke ruang tamu. Ia tidak marah, dan justru ketenangannya itulah yang membuat permintaannya terasa jauh lebih berat.
"Saya tidak mempermasalahkan kamu sebagai orang," katanya berhati-hati. "Kamu baik. Mei bahagia, dan itu bukan hal kecil bagi saya. Tapi ada hal-hal yang lebih besar dari perasaan kalian. Ada leluhur yang harus dihormati, ada keyakinan yang harus dijaga turun-temurun. Saya tidak bisa membiarkan itu berhenti, hanya karena satu perasaan yang datang di usia muda."
Ia meminta saya mengakhiri hubungan itu. Dan beban terberatnya datang kemudian: ia meminta saya merahasiakan percakapan ini dari Mei.
"Biar dia membenci kamu saja," katanya lirih, terdengar nyaris seperti permintaan maaf. "Itu akan lebih mudah sembuh, daripada dia harus membenci kami."
Saya pulang malam itu dengan kepala yang hancur. Memikirkan bagaimana caranya seseorang dipaksa menghancurkan kebahagiaannya sendiri, demi menjaga keutuhan kebahagiaan orang lain. Saya bukan aktor yang baik, Sobat. Tapi malam-malam berikutnya, saya belajar menjadi bajingan.
Saya mulai datang terlambat. Membalas pesan Mei dengan dingin. Saat ia bertanya kenapa saya berubah, saya menjawab dengan kalimat-kalimat menusuk—mengatakan saya bosan, bahwa ini cuma pelarian, bahwa saya tidak serius. Setiap kalimat itu keluar seperti pisau yang saya asah sendiri malam sebelumnya, lalu saya hunuskan pelan-pelan ke arah dada saya sendiri, sambil berpura-pura yang terluka adalah dia.
Saya terus melakukannya. Lebih baik Mei membenci saya sebagai laki-laki brengsek, daripada ia harus menelan kenyataan bahwa rumah yang menjadi tempatnya pulanglah yang memintanya melepaskan saya. Mei berubah. Pesan panjang berisi kekecewaan perlahan berganti menjadi kebisuan berhari-hari. Saya tahu ia amat sangat membenci saya—dan anehnya, melihat kebencian itu, ada sebagian diri saya yang merasa lega, meski sisa jiwa saya lebur tak bersisa.
Malam itu datang. Mei yang meminta saya bertamu. Teras yang dulu menjadi saksi kehangatan kami, malam itu membeku seperti ruang sidang. Mei berdiri dengan wajah lelah dan mata memerah, seolah sudah kehabisan air mata.
"Kamu benar-benar sudah berubah," katanya. Sebuah kesimpulan mutlak. "Saya tidak mengerti kenapa. Tapi saya rasa saya tidak perlu mengerti lagi."
Saya hanya diam. Satu kalimat jujur saja bisa menghancurkan sandiwara ini, dan barangkali, menghancurkan keluarganya juga. Tidak ada tangisan meledak. Tidak ada janji klise. Hanya kehampaan yang menelan kami berdua. Di kejauhan, dari balik tirai jendela yang setengah terbuka, kedua orang tua Mei berdiri diam menyaksikan adegan itu. Raut wajah mereka datar, tapi saya tahu, harapan mereka baru saja terwujud.
Saya pamit. Mei tidak menjawab. Ia hanya memunggungi pintu, membiarkan saya berjalan sendirian menuju motor di kegelapan gang. Gang yang sama tempat saya dulu sengaja menahan gas agar waktu berjalan lebih lambat. Kali ini, saya memacunya secepat mungkin. Saya tak sanggup berlama-lama berada dalam jarak pandang dari sosok yang terpaksa saya hancurkan hatinya.
(Bersambung ke Coretan bagian Ketiga)










