Beraban, Tabanan, Bali, Senin, 20 April 2026
Sore itu di Stasiun Ketapang, cahaya matahari jatuh dengan sudut rendah, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang dramatis di atas peron. Udara Banyuwangi terasa berat oleh aroma laut yang terbawa angin dari Selat Bali, bercampur dengan bau besi rel yang dipanaskan matahari sepanjang siang.
Saya duduk di area merokok, sebuah sudut yang selalu terasa jujur bagi para pejalan. Di sana, orang-orang tidak hanya membuang abu rokok, tapi seringkali juga membuang beban pikiran sebelum memulai perjalanan jauh.
Tiga kursi dari saya, seorang pria duduk dengan kaku. Usianya sekitar tiga puluh tahun. Ia mengenakan jaket katun lusuh yang warnanya sudah pudar dimakan cuaca. Sebatang rokok terselip di jemarinya, namun ia jarang menghisapnya. Asapnya membubung lurus, membelah cahaya sore yang masuk dari celah atap peron.
Sebagai orang yang sering mengamati objek lewat lensa kamera, saya terbiasa melihat detail wajah. Namun, pria ini berbeda. Matanya tidak melihat ke arah rel, tidak juga ke arah kerumunan. Tatapannya terlempar jauh ke cakrawala, namun terasa kosong. Seperti sebuah bidikan foto yang kehilangan fokus—kabur, tak terbaca, dan menyimpan sunyi yang teramat sangat.
Tak lama kemudian, deru mesin kereta api membelah keheningan. Pengumuman dari pelantang suara menggema, memberitahu bahwa kereta yang ia tunggu telah bersiap di jalur satu.
Pria itu bergerak lambat. Ia mematikan rokoknya di asbak dengan satu tekanan kuat, seolah sedang menghancurkan sesuatu. Ia berdiri, memanggul tas ranselnya yang tampak berat, lalu berjalan menuju gerbong tanpa sekali pun menoleh. Langkah kakinya terdengar berat di atas lantai peron, pelan, dan penuh keraguan.
Setelah sosoknya hilang tertelan pintu gerbong, saya tanpa sengaja melihat secarik kertas tertinggal di atas kursi tempatnya duduk tadi. Kertas itu kusam, dengan bekas lipatan di sana-sini. Karena penasaran, saya mengambilnya.
Ternyata, itu bukan tiket atau catatan belanja. Itu adalah sebuah puisi, ditulis dengan tinta hitam yang di beberapa bagian tampak sedikit luntur—mungkin oleh keringat tangan, atau mungkin sesuatu yang lain.
Yang kamu sakiti itu bukan jiwa yang masih utuh...
Ia datang bukan mencari sandaran,
melainkan karena keberanian untuk percaya sekali lagi
Saya membacanya perlahan di tengah bisingnya stasiun yang mulai sibuk. Setiap kata terasa seperti hantaman pelan ke kepala. Saya membayangkan pria itu, dengan tangan gemetar, menuliskan kata-kata ini di tengah kepulan asap rokok tadi. Ia sedang tidak sekadar patah hati; ia sedang berkabung atas sebuah harapan yang ia bangun dengan susah payah dari sisa-sisa luka lamanya.
Puncak kepedihan itu ada pada baris terakhirnya:
Dulu ia bertahan karena mimpi, kini ia berjalan tanpa apa-apa.
Ia hanya terlihat hidup,
seperti raga yang tertinggal setelah jiwanya menyerah.
Sunyi. Kosong.
Saya melipat kertas itu baik-baik dan menyimpannya di saku tas kamera saya. Kereta pria itu perlahan bergerak meninggalkan Stasiun Ketapang, membawa pemilik luka itu menuju entah ke mana.
Hingga hari ini, kertas itu masih ada di sana, di antara lensa dan memori-memori visual yang saya tangkap. Terkadang saya berpikir, apakah ia sekarang sudah menemukan "tempat yang aman" itu? Ataukah ia masih berjalan sebagai raga yang kosong di stasiun-stasiun lain?
Saya menyimpannya bukan sebagai kenang-kenangan, tapi sebagai sebuah amanah. Saya selalu berharap, di satu perjalanan atau di satu kedai kopi suatu saat nanti, saya akan melihat kembali sepasang mata kosong itu. Dan saat itu tiba, saya ingin mengembalikan kertas ini padanya, hanya untuk memberi tahu bahwa luka itu setidaknya pernah dibaca, dan ia tidak benar-benar sendirian dalam kekosongan itu.
Yang kau sakiti bukanlah jiwa yang utuh,
bukan pula ia yang baru belajar mencintai.
Ia adalah seseorang yang telah lama karib dengan kecewa,
dengan luka lama yang enggan mengatup sempurna.
Ia datang bukan mencari sandaran,
melainkan karena keberanian untuk percaya sekali lagi—
bahwa mungkin, kau adalah pelabuhan dari badai yang panjang.
Ia menyambutmu dengan jemari gemetar dan senyum yang canggung,
perlahan meyakinkan diri bahwa cinta tak selamanya perih.
Namun di ruang paling rapuh yang kau pinjam itu,
kau justru menikamnya lebih dalam dari siapapun.
Luka dulu adalah kehilangan; luka darimu adalah pengkhianatan harapan.
Dulu ia bertahan karena mimpi, kini ia berjalan tanpa apa-apa.
Ia hanya terlihat hidup,
seperti raga yang tertinggal setelah jiwanya menyerah.
Sunyi. Kosong.







