Buku yang Tinggal Satu
Sobat, kalau boleh jujur, kebiasaan saya dulu agak memalukan untuk diceritakan. Saya adalah pelanggan setia Toko Buku "G" di Blok M, tapi bukan sebagai pembeli. Saya datang, memilih satu buku yang menarik, lalu berdiri di lorong rak sambil membacanya perlahan-lahan, halaman demi halaman, seolah toko itu perpustakaan pribadi saya. Bukan karena saya tak menghargai buku. Justru sebaliknya—saya terlalu menghargainya untuk sekadar dilewatkan begitu saja. Hanya saja, dompet saya tak pernah cukup tebal untuk membawanya pulang.
Sore itu saya sedang berdiri di rak fotografi, memegang sebuah buku bersampul hitam tentang komposisi dan cahaya, karya seorang fotografer jalanan yang namanya baru saya kenal dari majalah bekas. Saya sudah membaca separuh bab pertama, larut dalam penjelasan tentang bagaimana bayangan bisa jadi subjek yang lebih jujur ketimbang cahaya itu sendiri, ketika seseorang berdiri di sebelah saya. Menunggu dengan sopan, namun jelas tak sabar.
"Maaf," katanya, "itu buku yang tinggal satu, kan? Saya juga sedang mencarinya."
Saya menoleh. Seorang perempuan, berambut panjang tergerai, membawa tas jinjing kain yang terlihat sudah dipakai bertahun-tahun. Kulitnya lebih terang dari kebanyakan orang di sekitar kami, matanya menatap buku di tangan saya dengan sorot yang campur aduk. Itulah pertama kalinya saya melihat Mei—meski waktu itu saya belum tahu namanya, apalagi menduga betapa jauh perjalanan yang akan kami tempuh, dan betapa rumit jalan yang harus kami hadapi karena dua latar belakang yang begitu berbeda.
Saya buru-buru menyerahkan buku itu, agak salah tingkah. "Oh, iya, ini, silakan. Saya cuma baca-baca saja, kok, bukan mau beli."
Kalimat itu meluncur begitu saja sebelum sempat saya saring. Dan seperti yang bisa Sobat duga, kepolosan itu justru membuka pintu yang tak pernah saya sangka.
Mei menerima buku itu, membolak-baliknya sebentar, lalu menatap saya lagi. "Kamu suka fotografi?"
"Suka. Cuma belum punya kamera yang bagus. Dan—" saya tertawa kecil, mencoba menutupi rasa canggung, "—belum punya cukup uang buat beli buku ini juga, sebenarnya."
Saya kira ia akan tersenyum sopan lalu pergi. Tapi Mei justru terdiam sejenak, seolah menimbang sesuatu di kepalanya. Wajahnya berubah; ada semacam rasa tak enak yang tiba-tiba muncul di sana, seakan-akan dialah yang telah merebut sesuatu dari saya.
"Kalau begitu," katanya akhirnya, "biar saya yang beli. Nanti saya pinjamkan ke kamu."
"Eh, tidak usah, saya—"
"Sudahlah," potongnya. Ia sudah melangkah ke arah kasir sebelum saya sempat menyelesaikan penolakan.
Buku yang Dipinjamkan
Saya berdiri mematung di depan rak, setengah tak percaya, mengikutinya dengan pandangan sampai ia selesai di meja kasir. Ketika ia kembali, buku itu sudah terbungkus rapi dalam plastik toko, dan ia menyerahkannya kepada saya begitu kami sama-sama melangkah keluar dari pintu kaca.
"Ini," katanya, menyodorkan kantong itu. "Pinjam saja. Satu minggu cukup, kan? Baca baik-baik, terus kembalikan ke rumah saya."
Saya masih mencoba menolak. Rasanya tidak pantas menerima kebaikan sebesar itu dari orang yang baru saya kenal lima menit lalu. Tapi Mei adalah jenis orang yang, begitu keputusannya dibuat, tak menyisakan banyak ruang untuk berdebat. Ia hanya mengangkat bahu, seolah apa yang dilakukannya bukan perkara besar, lalu mengeluarkan secarik kertas kecil, menuliskan alamat rumahnya dengan pena yang tintanya sudah agak seret.
"Rumah saya di sini," katanya. "Minggu depan, jam segini, kamu datang, kembalikan bukunya. Kalau kamu suka isinya, kita bisa ngobrol soal itu."
Dan begitulah, Sobat. Sebuah buku yang seharusnya hanya numpang dibaca, tiba-tiba berpindah tangan. Tanpa sadar, secarik kertas itu menjadi alasan pertama saya mengetuk pintu rumahnya, sekaligus alasan pertama saya melangkah masuk ke dalam sebuah dunia yang tak akan pernah benar-benar menjadi milik saya.
Satu Minggu yang Terasa Panjang
Saya membaca buku itu pelan-pelan. Seolah setiap halaman punya bobot yang lebih berat karena ada seseorang di baliknya yang memercayakannya kepada saya. Di malam-malam sebelum jadwal pengembalian, saya bahkan membaca ulang beberapa bagian, khawatir kalau nanti ditanya dan saya tak bisa menjawab. Konyol, memang. Tapi begitulah cara rasa suka bekerja; ia menyusup diam-diam ke hal sekecil kewajiban mengembalikan buku.
Tepat seminggu kemudian, saya datang ke alamat itu. Rumahnya lebih besar dari yang saya bayangkan, berpagar tinggi. Di sudut halaman ada sebuah altar kecil, bersih dan terawat, dengan sisa asap dupa yang masih menggantung tipis di udara sore. Saya hanya melihatnya sekilas—sesuatu yang asing tapi tak terasa penting untuk ditanyakan—dan baru bertahun-tahun kemudian saya paham betapa altar kecil itu sebenarnya sudah menceritakan segalanya, jauh sebelum siapa pun sempat bicara.
Mei membukakan pintu, tersenyum. "Wah, tepat waktu. Saya kira kamu bakal lupa."
"Buku bagus susah dilupakan," jawab saya, mencoba terdengar lebih santai dari detak jantung saya sendiri.
Sore itu berubah menjadi obrolan panjang di teras. Obrolan yang saya kira hanya akan berlangsung sepuluh menit itu baru berakhir ketika azan Maghrib berkumandang dari masjid di ujung gang. Mei menoleh sebentar ke arah suara itu, lalu kembali menatap saya, seperti sedang menakar sesuatu di kepalanya yang tak saya mengerti. Saya sempat berpikir sekilas, apakah suara azan itu terdengar asing di telinga keluarganya? Pikiran yang saat itu saya anggap tak penting, dan baru kelak saya sadari betapa esensialnya.
(Bersambung ke Coretan bagian Kedua)














