Prolog: Permohonan Maaf dari Penulis yang Ngutang Hampir Enam TahunSobat Jepret yang baik hati dan sabar luar biasa,Sebelum masuk ke cerita, izinkan saya mengaku dosa. Bagian pertama artikel ini saya tulis di Ciledug, hari Selasa, 20 Oktober 2020. Bagian keduanya baru saya tulis hari ini, Senin, 5 Oktober 2026. Ya, Sob, selisihnya hampir enam tahun. Di zaman rol film, jarak segitu cukup untuk mencuci, mencetak, dan membingkai satu album pernikahan, lalu anak hasil pernikahannya sudah masuk SD.Penyebabnya tidak ada yang heroik. Ide untuk sambungannya tidak kunjung datang. Saya sudah menunggu, mengetuk-ngetuk kepala, bahkan sempat menatap layar kosong sambil berharap ide turun dari langit seperti hujan di artikel saya yang lalu. Hasilnya nihil. Ide itu seperti objek foto yang bagus: tidak bisa dipaksa, tidak bisa dipesan, dan datang justru saat kamera tidak siap.Dan begitulah kejadiannya hari ini. Ide itu muncul tanpa diundang, seperti tamu yang mengetuk pintu saat saya sedang memakai kaos singlet dan celana kolor. Saya sadar betul, kalau tidak segera ditangkap, ia akan terbang lagi entah ke mana, dan mungkin baru kembali enam tahun berikutnya. Maka tulisan ini saya ketik cepat-cepat dan langsung saya unggah, sebelum ia berubah pikiran. Kalau ada yang terasa mentah, anggap saja ini foto spontan tanpa sempat mengatur eksposur.Jadi, kepada Sobat yang sudah menunggu, atau yang sudah lupa pernah menunggu, atau yang baru mampir hari ini dan bingung kenapa ada penulis sibuk minta maaf, saya persembahkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Sebagai tebusan, bagian kedua ini saya buat sepenuh hati. Dan kabar baiknya, soal yang dibahas di dalamnya masih relevan, bahkan mungkin makin relevan. Genre makin banyak, penjaga gerbang makin nyaring, dan galeri ponsel kita makin penuh foto nasi goreng.Selamat membaca, Sob.
Ini bagian kedua. Kalau Sobat belum membaca bagian pertama, silakan mundur dulu. Saya tunggu sambil menyeruput kopi.
Selamat datang kembali, Sobat Jepret! Kalau Sobat masih ingat bagian pertama, kita baru saja menguburkan rol film dengan upacara kecil, menertawakan senyum "bilang trasi", dan menghormati mata terpejam yang sudah resmi jadi anggota keluarga. Kita juga sepakat bahwa sekarang semuanya serba gampang: kartu memori segede upil, foto nyaris gratis, dan lima puluh jepretan nasi goreng yang tidak ada yang menyuruh.
Lalu kenapa banyak fotografer, termasuk yang baru berniat jadi fotografer dan yang sekadar merasa dirinya fotografer, malah pusing tujuh keliling? Jawabannya bukan di kantong, Sob. Pusingnya cuma pindah alamat. Dulu pusing karena dompet, sekarang pusing karena kotak.
Inilah pilihan yang saya janjikan. Bukan pilihan kamera, bukan pilihan lensa, melainkan pilihan yang jauh lebih menentukan: mau memotret dengan hati, atau memotret dengan rasa takut dimarahi orang sekomunitas?
Selamat Datang di Gudang Genre
Sekarang fotografi terbagi dalam banyak laci: street, potret, makro, lanskap, arsitektur, still life, human interest, dan seterusnya. Awalnya laci-laci ini dibuat supaya kita mudah belajar. Lama-lama lacinya berubah jadi kandang.
Fotografer yang baru mulai, atau yang baru berniat jadi fotografer, atau yang sekadar merasa dirinya fotografer, kini harus menjawab pertanyaan yang dulu tidak pernah terpikirkan: "Aku ini aliran apa?" Padahal dulu pertanyaannya sederhana: "Kok bagus ya yang itu? Foto, ah."
Sekarang sebelum menekan shutter, kepala Sobat sudah sibuk rapat internal. "Ini masuk street atau bukan? Kalau ada orangnya tapi posenya diatur, itu potret? Kalau ada bunga tapi lensanya bukan makro, aku dihukum nggak?" Belum sempat memotret, kepala sudah penuh sidang etik.
Sang Penjaga Gerbang Garis Keras
Nah, ini bagian yang paling seru. Di hampir setiap genre ada sebagian penjaga gerbang yang merasa dirinya satu-satunya pemegang kebenaran. Tentu tidak semua anggota komunitas begitu, dan banyak yang ramah dan suka berbagi. Tapi sebagian kecil yang beringas ini suaranya sering paling nyaring.
Mereka punya jurus-jurus khas:
- "Ini bukan street, ini cuma foto orang di jalan." Entah apa bedanya, tapi nadanya meyakinkan.
- "Aturannya tidak begitu." Aturan siapa? Tidak jelas, tapi dikutip dengan penuh wibawa seperti pasal undang-undang.
- "Hapus fotonya, merusak citra genre kita." Seolah genre itu punya reputasi yang harus dijaga di depan notaris.
Yang tidak patuh bisa ditendang dari grup, dicibir di kolom komentar, atau dijadikan bahan sindiran. Memotret yang tadinya hobi santai berubah jadi medan perang sungguhan. Bedanya, senjatanya komentar pedas, dan korbannya sering pemula yang baru berani pamer satu foto.
Akibatnya mudah ditebak. Orang yang tadinya antusias jadi takut memotret, takut mengunggah, takut salah genre. Ironis sekali, hobi yang dulu membuat bahagia sekarang membuat deg-degan seperti menunggu hasil ujian.
Dari "Hati Terpanggil" ke "Mohon Izin Menunggu Persetujuan"
Bandingkan dengan zaman dulu. Sobat memotret karena sesuatu terasa pantas diabadikan. Mungkin cahaya sore di warung, mungkin tatapan nenek yang tiba-tiba seperti lukisan. Hati terpanggil, kamera terangkat, klik. Selesai. Tidak ada yang bertanya aliran apa.
Sekarang, sebelum hati sempat terpanggil, kepala sudah mengajukan proposal: "Mohon izin, apakah objek ini layak dipotret menurut ketentuan genre yang berlaku?" Hati menunggu giliran, mengantre di belakang komunitas, algoritma, dan para penjaga gerbang.
Alhasil, kesenangan memotret menguap. Tidak ada lagi kepuasan hati, jepretan terasa seperti setoran tugas, dan lama-kelamaan hasrat memotret punah. Kameranya masih ada, tapi yang memotret tinggal kebiasaan.
Padahal kalau dipikir-pikir, objek tidak pernah bertanya Sobat aliran apa. Bunga tidak peduli lensanya makro atau bukan. Nenek di warung tidak peduli fotonya akan digolongkan sebagai potret, street, atau lukisan hidup. Yang peduli hanya kita, dan orang-orang yang sibuk mengurusi laci.
Tapi Jangan Salah Paham, Aturan Itu Bukan Musuh
Sebelum Sobat membuang semua buku panduan ke tempat sampah, tunggu dulu. Aturan fotografi itu bagus. Aturan sepertiga, komposisi, cahaya, dan segala tetek bengeknya adalah peta yang menolong kita supaya tidak tersesat. Genre pun berguna, karena ia memberi nama dan bahan belajar.
Masalahnya muncul ketika peta berubah jadi pagar. Peta dipakai untuk berjalan, pagar dipakai untuk mengurung. Pelajari aturannya, pahami alasannya, lalu putuskan sendiri kapan aturan itu membantu dan kapan ia harus dibuang jauh-jauh. Pelanggaran yang disengaja oleh orang yang paham aturan sering melahirkan foto-foto paling segar.
Lima Jurus Bertahan di Tengah Perang Genre
Supaya Sobat selamat, ini beberapa jurus praktis:
- Potret dulu, beri nama belakangan. Genre itu label, bukan syarat. Jangan pasang label sebelum fotonya ada.
- Pilih komunitas yang membuat Sobat tumbuh, bukan yang membuat Sobat takut. Kalau grup lebih sering menghakimi daripada mengajari, keluar tidak berdosa.
- Terima kritik, tolak cacian. "Komposisinya bisa lebih rapi" adalah masukan. "Kamu tidak pantas disebut fotografer" adalah emosi yang lagi mencari korban.
- Eksperimen tanpa laporan. Sesekali potret sesuatu yang tidak diunggah ke mana-mana, murni demi senang. Tidak ada yang mengawasi, tidak ada yang menilai.
Ingat kenapa Sobat mulai. Pasti bukan karena ingin diatur-atur orang di kolom komentar.
Penutup: Kembali ke Hati
Jadi, itulah jawaban soal pilihan, Sob. Kartu memori sudah membebaskan kita dari ongkos cuci cetak, tapi kebebasan itu sia-sia kalau kita menyerahkannya sendiri kepada kotak-kotak genre dan para penjaga gerbangnya. Dulu rol film yang membatasi kita, sekarang bisa jadi kitalah yang membatasi diri.
Maka pilihannya sederhana: mau memotret demi kotak, atau memotret karena hati. Kalau Sobat memilih yang kedua, kegembiraan itu akan kembali pelan-pelan, seperti sahabat lama yang sempat Sobat usir tanpa sadar.
Dan kalau galeri Sobat masih menyimpan lima puluh foto nasi goreng, jangan malu. Barangkali satu di antaranya difoto dengan hati yang benar-benar terpanggil. Itu yang layak disimpan. Sisanya, serahkan pada tombol hapus.
Salam jepret selalu!















