Senin, 09 Februari 2026

Fotografi Itu Seni atau Cuma Jepret Doang? Debat Abadi dari Zaman Kolonial Sampai Era AI (Bagian Kedua)


Sang Penari

Beraban, Tabanan, Bali, Senin, 9 Februari 2026

BAGIAN 2: Filter Estetika, Uang, dan Skandal Foto "Mahal"


Oke, lanjut lagi. Kalau di bagian Pertama yang kita bahas adalah sejarah, sekarang kita bahas gimana caranya sebuah foto bisa dianggap "Wah".

1. Filter Estetika: Cantik Itu Relatif, Tapi...

Biasanya kita pakai tiga standar untuk mengkelaskan alias mengklasifikasikan sebuah foto itu seni atau bukan:

  • Keindahan: Seberapa ciamik fotonya?
  • Dampak: Seberapa bikin baper yang lihat?
  • Kontribusi: Apa manfaatnya buat dunia seni?

Masalahnya, "cantik" itu subjektif pake maksimal. Kamu mungkin mikir foto pacar kamu itu maha karya, tapi menurut temen kamu, "Ih, kok mukanya kayak gitu?" Bahkan ada foto yang sengaja dibikin "jelek" atau mengejutkan supaya bisa disebut seni. Contohnya foto album The Beatles yang pakai potongan daging dan boneka (Butcher Cover). Nggak cantik, tapi dampaknya luar biasa!

2. Foto yang Mengubah Dunia

Kadang, foto jadi seni karena ia bicara lebih keras dari kata-kata. Foto perang di Krimea tahun 1855 misalnya, sukses bikin rakyat Inggris mikir, "Ngapain sih kita perang?". Atau foto kemiskinan di New York yang bikin kebijakan pemerintah berubah. Di sini, fotografi bukan cuma soal estetik, tapi bahkan mampu mendobrakdan merambah ke ranah kemanusiaan.

3. Masalah Cuan: Saat Seni Bertemu Dompet

Nah, ini yang paling seru. Kadang, status "seni" itu ditentukan sama harga. Ada foto karya Man Ray yang laku 12,4 juta dolar (sekitar 190 miliar rupiah!). Gambarnya cuma punggung wanita yang diedit dikit.

Ada juga kasus Peter Lik yang fotonya laku 6,5 juta dolar, terus dikritik habis-habisan sama kolumnis Jonathan Jones yang bilang foto itu "hambar dan norak". Debatnya sampai ribuan komentar! Intinya: kalau ada yang mau beli mahal, otomatis jadi "seni". Kalau belum laku, ya mungkin masih jadi "koleksi pribadi" di folder Recycle Bin.

4.  Siapa yang memotret: Ketika seni ditentukan oleh pembuatnya, dan bukan oleh karyanya!

Kalau yang ini sih sudah bukan rahasia lagi. Sering kali disuatu pameran foto kita terpana dengan suatu foto, bukan karena foto itu sedemikian indah atau bagus, tetapi lebih karena foto itu sama sekali tak layak untuk dipamerkan (saking biasanya dan ga ada indah-indahnya sama sekali). Walaupun banyak yang sepakat kalau foto itu tidak memadai untuk dikategorikan sebagai seni, tetapi karena foto itu dipotret oleh orang yang sudah kesohor sebagai fografer jempolan, dan dipajang di event yang super keren, maka foto itu seakan sah untuk menyandang predikat sebagai ”mahakarya”. Dan ironisnya, di beberapa media gratisan (seperti FB, IG, dam lain sebaginya), banyak sekali foto-foto yang keren abis serta ciamik maksimal, yang sayangnya, sama sekali tak dapat apresiasi karea dihasilkan oleh orang yang bukan fotografer jempolan. 

Saya cukupkan dulu untuk bagian kedua, kalau Sobat mau terus mencoba untuk memahami tulisan ini untuk sampai topik yang selanjutnya, silahkan lanjut ke bagian ketiga.

Jumat, 06 Februari 2026

Fotografi Itu Seni atau Cuma Jepret Doang? Debat Abadi dari Zaman Kolonial Sampai Era AI (Bagian Pertama)


Foto Stasiun Kereta Api - HI atau Street Photography
Stasiun Kereta Api

Beraban, Tabanan, Bali, Jum'at, 6 Februari 2026

BAGIAN 1: Definisi, Sejarah, dan Dilema "Si Paling Estetik"


Halo, Sobat Lensa!

Pernah nggak sih Sobat melihat kejadian super absurd saat lagi nongkrong di warung kopi, terus Sobat lihat ada orang yang jungkir balik demi motret secangkir kopi susu? Dalam hati Sobat mungkin membatin, "Wah, seniman banget nih orang," atau malah, "Ngapain sih, kan tinggal minum aja repot amat!"

Nah, pertanyaan besar yang mau kita bedah hari ini adalah: Apakah fotografi itu seni? Atau jangan-jangan, kita selama ini cuma korban perasaan dari filter Instagram?

1. Definisi Kamus yang Kurang Piknik

Kalau kita buka kamus-kamus keren semacam kamus ilmu pengetahuan Oxford atau Science Dictionary by Farlex atau yang sejenis, seni biasanya didefinisikan sebagai ekspresi kreativitas manusia melalui medium visual seperti lukisan atau patung. Masalahnya, fotografi sering "terlupakan" disitu alias tak pernah disebutkan sama sekali.

Kenapa? Ya karena sewaktu definisi seni itu dibuat (atau disepakati bersama oleh para seniman dari padepokan seniman di empat penjuru angin!), kamera belum ditemukan, Sob! Bayangkan para cendekiawan zaman dulu lagi debat soal estetika sambil ngopi, eh tiba-tiba ada orang bawa kotak hitam besar (kamera) terus bilang, "Ini karya seni saya!" Pasti bakal diketawain. Jadi, secara historis, fotografi itu ibarat anak bungsu yang telat lahir dan nggak kebagian jatah warisan nama "Seni".

Foto Siluet Hitam Putih - "Bidadari"
Siluet Sang Bidadari

2. Debat Hitam Putih (Literally!)

Dulu, sekitar tahun 1800-an, para skeptis bilang kalau foto itu cuma "fotokopi realita". Nggak ada kreatif-kreatifnya. Apalagi dulu fotonya cuma hitam putih. Lucunya, zaman sekarang kalau kita mau foto kita jadi kelihatan "artsy" dan mendalam, kita malah pakai filter hitam putih, kan? Ironis memang manusia ini.

Para seniman lukis zaman dulu juga sempat merasa terancam. Mereka mikir, "Gue butuh berbulan-bulan buat ngelukis muka orang, eh ini ada mesin tinggal cekrek langsung jadi!" Akhirnya, fotografi cuma dianggap sebagai "jongos" buat seniman, bukan seniman itu sendiri.

3. Fenomena 14 Triliun Foto

Tahu nggak, setiap hari ada sekitar 5,3 miliar foto yang diambil di seluruh dunia. Dan 94% di antaranya lewat HP! Kalau ditotal, ada sekitar 14,3 triliun foto di dunia ini. Gila, kan?

Terus, apakah semua itu seni? Apakah foto jempol kaki kamu yang nggak sengaja kepencet itu seni? Menurut kritikus galak, itu cuma "snap" atau jepretan asal. Tapi, ada argumen balik: setiap gambar itu punya cerita. Meskipun kita cuma pakai HP, kalau di situ ada niat, ada komposisi, dan ada "rasa", masa iya nggak boleh disebut seni?

Sekian dulu untuk bagian ini, kalau Sobat mau menelisik foto yang bernilai seni dan korelasinya dengan waktu, pelaku, estetika, dan lain sebagainya, silahkan meluncur ke bagian kedua.

Catatan tambahan:
"Artsy" dapat didefinisikan sebagai manusia yang memiliki jiwa seni, artistik, atau memiliki kecenderungan dan apresiasi yang kuat terhadap seni, sering kali mengekspresikan kreativitas unik melalui gaya berpakaian, tempat, atau hobi yang unik, imajinatif, dan tidak konvensional, kadang bisa juga menyiratkan seseorang yang suka hal-hal seni seperti teater, musik, atau lukisan, meskipun terkadang bisa disindir sebagai sok seni. 

Selasa, 03 Februari 2026

Lupakan "Rule of Thirds": Seni Menjadi Mak comblang Antara Subjek Utama dan Figuran dalam Fotografi (Tulisan Bagian Kedua)



Beraban, Tabanan, Bali, Senin, 3 Februari 2026

Oke, kalau di artikel bagian pertama kita sudah sepakat siapa yang jadi Aktor Utama dan siapa yang cuma figuran tapi sok nyolong scene, sekarang masalahnya naik level. Karena di lapangan, hidup tidak sesederhana bibirnya motivator. Alam tidak pernah rapi, manusia yang lalu-lalang tidak mau diatur, dan angin badai atau hujan jelas tidak peduli kita lagi mikir komposisi. Nah, di sinilah fotografer mulai diuji mentalnya. Bukan lagi soal siapa yang ada di dalam frame, tapi berapa banyak yang bisa kita masukkan dalam frame tanpa kesan kepenuhan, atau berapa sedikit yang kepotong, dan sejauh mana kita benar-benar bisa mengkomposisikan semua kekacauan itu. Bagian ini adalah momen ketika aturan mulai dibuang ke tempat sampah, insting langsung dimaksimalkan, dan kita langsung bikin keputusan: foto ini mau bercerita… atau cuma mau kelihatan rapi doang tanpa ada nyawa.

3. Dansa Kuantitas: Berapa Banyak yang Harus Dimasukkan?

Setelah kita menemukan siapa "Aktor Utama" dan siapa "Figurannya", tantangan berikutnya adalah menentukan porsi. Ini adalah bagian yang paling sulit karena melibatkan rasa, bukan sekadar hitung-hitungan matematis.

Pertanyaannya adalah: Seberapa banyak subjek pendukung yang kita butuhkan agar ia mendukung tanpa mencuri panggung?

Kembali ke contoh karang tadi. Kalau kita melakukan crop terlalu ketat pada batu karang, kita akan kehilangan nuansa tempat yang diberikan oleh garis pantai dan laut. Tapi, kalau kita mengambil sudut yang terlalu lebar sehingga lautannya mendominasi 90% frame, maka si manusia—si aktor utama kita—akan terlihat seperti semut yang tidak penting.

Komposisi, menurut pandangan ini, adalah sebuah "tarian harmoni" antara elemen-elemen tersebut. Kadang kita sengaja memotong bagian dari subjek pendukung (tidak menampilkannya secara utuh) agar subjek utama tetap memiliki dampak yang kuat. Contoh lainnya adalah foto jembatan di atas Sungai. Jembatan tersebut sengaja tidak ditampilkan secara utuh untuk memberikan Gambaran mengenai focus utama dari frame. 


4. Cerita vs Distraksi: Sebuah Dilema Etis-Visual

Sebagai fotografer, kita sering dihadapkan pada pilihan: menyederhanakan frame atau membiarkannya ramai. Di sinilah letak perbedaan antara "foto yang bersih" dan "foto yang bercerita".

Saya akan berikan contoh mengenai beberapa orang yang berjejer di mulut gang. Secara teknis, saya bisa saja mengambil langkah ke kanan, merunduk, dan hanya memotret dua orang itu dengan latar belakang dinding. Hasilnya? Foto yang sangat minimalis dan rapi.

Tapi, saya memilih untuk memasukkan jajaran orang di latar belakang sehingga bisa bernilai layer, pagar, dan elemen-elemen "berantakan" lainnya. Kenapa? Karena menurut saya, elemen-elemen tambahan itu menambah bobot cerita. Tentu saja, ini sangat subjektif. Bagi sebagian orang, latar belakang itu mungkin dianggap sebagai distraksi. Namun, itulah inti dari fotografi sebagai seni: memutuskan apa yang menambah cerita dan apa yang merusak cerita.

Jika ada banyak elemen dalam satu foto (misalnya ada manusia, gerobak, bak sampah, dan bahkan hewan seperti kucing dalam satu frame), kuncinya adalah pada spasi dan bobot (spacing and weighting). Jika semua subjek menumpuk di satu sisi, foto akan terasa "sesak napas" dan tidak enak dipandang.

Sampai titik ini, mungkin Sobat mulai sadar satu hal yang agak nyebelin: komposisi itu bukan soal benar atau salah, tapi soal berani memilih. Setiap elemen yang Sobat masukkan ke frame adalah keputusan, dan setiap keputusan selalu punya konsekuensi. Terlalu rapi bisa bikin foto mati rasa, terlalu ramai bisa bikin foto kehilangan arah. Tapi ada satu pertanyaan yang belum kita jawab: setelah semua elemen itu dipilih, disusun, dan ditimbang—bagaimana caranya memastikan semua itu memang disengaja, bukan sekadar kebetulan yang kelihatan pintar? Nah, di situlah fotografer berhenti jadi pengamat… dan mulai jadi sutradara.

Demikianlah coretan saya di bagian kedua. Tulisan ini akan saya teruskan lagi ke artikel selanjutnya yang akan saya beri judul: “Lupakan "Rule of Thirds": Seni Menjadi Mak comblang Antara Subjek Utama dan Figuran dalam Fotografi (Tulisan Bagian Ketiga)”, semoga rekan-rekan berkenan membacanya.

Senin, 19 Januari 2026

Lupakan "Rule of Thirds": Seni Menjadi Mak comblang Antara Subjek Utama dan Figuran dalam Fotografi (Tulisan Bagian Pertama)



Beraban, Tabanan, Bali, Senin, 19 Januari 2026

(Artikel ini disusun setelah penulis berguru secara singkat dari beberapa fotografer yang tergolong kawakan. Dan berikut ini adalah penuturan dari hasil berguru tadi) 

Halo, para pemburu cahaya dan penganut aliran "yang penting jepret dulu, urusan bagus atau ancur…itu urusan belakang"!

Pernahkah Sobat merasa terkungkung dalam dogma fotografi yang bikin bosan? Sobat berdiri di depan object dan subyek foto yang ciamik, lalu sobat langsung secara otomatis meng”imajinasi”kan garis-garis tak kasat mata rule of thirds dalam otak. Sobat sibuk menggesar-geser kamera ke kiri sedikit, ke kanan sedikit, ke atas sedikit, ke bawah banyak, hanya demi memastikan subjek yang akan Sobat jepret nangkring di titik persimpangan emas itu. Rasanya seperti sedang mengerjakan soal fisika kuantum, bukan sedang bikin karya seni.

Nah, kalau Sobat merasa kreativitas Sobat mulai tumpul karena terlalu patuh dengan "aturan main" yang kaku, mari kita bicara soal perspektif dari beberapa fotografer kawakan (yang namanya tidak bisa saya sebut sat per satu) yang memberikan sebuah pemahaman yang menarik: Lupakan sejenak aturan main, mulailah berpikir bebas seperti layaknya seorang manusia yang menikmati alam melalui mata dan hatinya.

Kenapa? Karena dalam fotografi, komposisi bukan sekadar soal meletakkan barang di tempat yang tepat. Ini adalah tentang dinamika hubungan. Selamat datang di kelas "Mak Comblang Visual".

1. Masalah dengan "Aturan" dalam Fotografi

Coba kita jujur: aturan seperti rule of thirds, rule of odds, atau leading lines adalah perangkat bantu yang hebat. Mereka adalah ‘pelicin” bagi pemula agar foto mereka tidak terlihat seperti jepretan asal-asalan saat sedang mabuk perjalanan. Namun, ada satu jebakan maut di sini. Seringkali aturan ini justru mendikte apa yang kita potret, bukan menjabarkan mengenai bagaimana kita memotretnya.

Bayangkan Sobat melihat sebuah subjek yang sebenarnya sangat membosankan—katakanlah, sebuah tempat sampah plastik warna biru yang sudah pecah. Jika Sobat terlalu terpaku pada leading lines, Sobat mungkin akan menghabiskan waktu 20 menit mencari garis trotoar yang mengarah ke tempat sampah itu. Hasilnya? Sebuah foto dengan teknik luar biasa tentang... sebuah tempat sampah yang tetap bikin bosan. Leading lines menuju sesuatu yang tidak menarik akan tetap memproyeksikan foto yang tidak menarik.

Intinya adalah: subjek adalah raja. Teknik hanyalah pelayannya.

2. Teori "Aktor Utama" dan "Aktor Pendukung"

Inilah inti dari filosofi para fotografer tersebut yang sangat "serius tapi santai". Mari kita pinjam analogi dari dunia sinema. Dalam setiap film pemenang Oscar, ada aktor utama (Lead Actor) dan ada aktor pendukung (Supporting Actor).

Aktor utama adalah alasan kenapa kita membeli tiket bioskop. Tapi, tanpa aktor pendukung yang mumpuni, si aktor utama akan terlihat datar, kesepian, kosong, dan tidak memiliki konteks. Tugas aktor pendukung adalah untuk mempertegas karakter si tokoh utama. Jika aktor pendukungnya terlihat butuh diselamatkan, si tokoh utama akan terlihat tangguh. Jika mereka berbincang dengan mesra hangat, si tokoh utama akan terlihat lembut.

Dalam fotografi, konsepnya persis sama.

  • Subjek Utama: Sesuatu yang membuat mata Sobat berkata, "Wah, itu bagus!" (bisa gunung, anjing, atau serangga atau....tetangga!).
  • Subjek Pendukung: Elemen-elemen lain dalam frame yang bertugas menonjolkan kecantikan, ukuran, tekstur, atau suasana dari subjek utama.

Sebagai contoh, saya menunjukkan foto siluet dari seorang manusia yang berdiri di karang besar di pantai dengan latar belakang matahari senja. Manusia itu adalah subjek utamanya. Karang besar serta matahari senja adalah subjek pendukungnya. Matahari dan karang besar itu tidak hanya ada di sana karena kebetulan; keduanya berperan sebagai "pelindung", pemberi konteks tempat, dan penambah cerita. Tanpa kedua subyek pendukung itu, si manusia tersebut hanyalah benda mati di tengah kekosongan ruang.


Demikianlah coretan saya di bagian pertama. Coretan ini akan saya sambung lagi ke artikel selanjutnya yang akan saya beri judul: “Lupakan "Rule of Thirds": Seni Menjadi Mak comblang Antara Subjek Utama dan Figuran dalam Fotografi (Tulisan Bagian Kedua)”, semoga rekan-rekan berkenan membacanya.

Rabu, 14 Januari 2026

Berhenti Jadi "Normal": Rahasia Bikin Foto yang Nggak Gitu-Gitu Aja! (Bagian Kedua)



Beraban, Tabanan, Bali, Rabu, 14 Januari 2026

Artikel ini adalah sambungan dari bagian Pertama. Silahkan disimak dengan hati lapang dan jiwa yang tenang.

Melatih "Lensa Internal" di Dalam Diri

Manfaat bertindak "aneh" ini bukan cuma soal hasil foto di kartu memori saja, Sobat. Lebih jauh dari itu, kebiasaan ini akan mengubah cara pandang Sobat terhadap dunia secara fundamental.

Setelah bertahun-tahun melatih diri untuk tidak puas dengan sudut pandang normal, mata Sobat akan otomatis memiliki "lensa internal". Sobat akan mulai melihat potensi estetik dalam hal-hal yang dianggap sampah oleh orang lain. Tekstur tembok yang mengelupas, pola bayangan di kursi taman, atau pantulan cahaya di kaca toko akan menjadi objek yang menarik bagi Sobat.

Ini yang membuat pengalaman traveling Sobat jadi lebih bermakna. Sobat nggak cuma datang, foto objek terkenal, lalu pulang. Sobat akan benar-benar merasakan keunikan karakter sebuah tempat melalui detail-detail kecil yang selama ini tersembunyi.


Tips Praktis Supaya Hasil Foto Sobat "Nggak Normal"


Nah, supaya Sobat nggak bingung mau mulai dari mana, coba deh terapkan langkah-langkah santai berikut ini saat hunting foto nanti:

1. Hukum "Satu Foto Biasa, Sepuluh Foto Gila" 
Setiap kali Sobat melihat subjek yang menarik, silakan ambil foto yang "normal" dulu sebagai dokumentasi. Setelah itu, paksa diri Sobat untuk mengambilnya dari perspektif yang benar-benar berbeda. Cobalah berbaring sedatar mungkin dengan tanah (worm's eye view alias setinggi matanya cacing!), atau naik ke tempat yang lebih tinggi (bird's eye view). Kelilingi subjek tersebut 360 derajat. Sobat akan kaget betapa berbedanya cerita yang dihasilkan hanya dengan geser posisi sedikit saja.

2. Buang Urat Malu di Tempat Ramai 
Jangan takut dicap aneh kalau harus bongkar pasang tripod di tengah keramaian. Selama Sobat tidak melanggar hukum dan tidak mengganggu kenyamanan orang lain, ya sikat aja! Biarkan mereka bertanya-tanya dalam hati, "Itu orang lagi ngapain sih?". Balas saja dengan lirikan tipis nan tajam yang dibumbui dengan senyuman misterius. Keberanian Sobat untuk tampil "tidak biasa" di depan umum adalah harga yang pantas untuk sebuah foto yang spektakuler. Percaya deh, saat Sobat melihat hasilnya di layar monitor yang besar, rasa malu itu akan langsung hilang digantikan rasa bangga (atau bisa jadi malah diganti dengan rasa malu yang lebih besar lagi).

3. Temukan Berlian di Antara Dua Destinasi 
Kebanyakan turis atau fotografer terburu-buru pindah dari satu objek wisata ke objek lainnya. Padahal, seringkali foto paling bermakna justru ada di perjalanan di antaranya. Perhatikan pintu-pintu tua yang unik, detail tiang pagar, atau interaksi manusia di pinggir jalan. Bisa jadi, foto terbaik Sobat tentang Paris bukanlah Menara Eiffel yang megah, melainkan ekspresi seorang kakek tua yang sedang asyik menyeruput kopi di kedai kecil yang sepi. Itulah yang namanya menangkap "jiwa" sebuah kota.

4. Jadi "Aktor" di Panggung Sendiri 
Pernah nggak Sobat menemukan pemandangan yang cakep banget, tapi rasanya ada yang kurang karena nggak ada orang di sana? Jangan cuma nungguin orang lewat yang nggak datang-datang. Pasang tripod, nyalakan timer, dan masuklah ke dalam bingkai. Jadilah subjek untuk karya Sobat sendiri. Keuntungannya? Sobat adalah model yang paling mudah diarahkan karena Sobat tahu persis apa yang Sobat mau (dan juga gratis alias tanpa bayaran)!

5. Kembali Kepada Niat Awal; Motret Itu Untuk Bersenang-senang 
Ini poin yang paling penting, Sobat. Jangan terlalu kaku. Saat Sobat mulai menurunkan atau bahkan membuang "benteng" harga diri dan mulai fokus untuk bersenang-senang (meskipun terlihat konyol di depan publik), aura positif itu akan terpancar ke hasil foto Sobat. Fotografi adalah soal eksplorasi, bukan soal menjaga citra agar terlihat keren di depan orang asing yang lewat.

Kesimpulan: Berani Beda Itu Seru!

Sobat, pada akhirnya dunia fotografi itu sangat luas. Jangan batasi diri Sobat hanya karena takut dibilang aneh. Ingat, para fotografer ternama di dunia seringkali melakukan hal-hal ekstrem yang dianggap gila oleh orang awam demi mendapatkan satu jepretan yang abadi.

Jadi, lain kali Sobat keluar membawa kamera, tanyakan pada diri sendiri: "Apakah saya sedang mengambil foto yang bisa diambil siapa saja?". Kalau jawabannya iya, segera jongkok, merangkak, atau cari sudut lain yang bikin orang-orang menatap Sobat dengan heran.

Karena pada dasarnya, Normal itu membosankan, dan menjadi tidak biasa adalah kunci agar karya Sobat tetap dikenang.

Selamat bereksplorasi, selamat jadi "aneh", dan jangan lupa untuk tetap bersenang-senang! Sampai jumpa di artikel berikutnya, Sobat!