Sabtu, 03 Oktober 2026

Dua Aturan Fotografi ala Yanto Kodak di Warung Kopi


Kamera saku tergeletak di meja kayu warung kopi sebelah gelas kopi hitam, representasi obrolan fotografi jalanan. 2

Beraban, Tabanan, Bali, Sabtu, 3 Oktober 2026

Di kedai kopi langganan, di antara kepulan asap rokok, ampas kopi hitam yang mulai mengendap, dan sepiring gorengan yang tinggal remahan tak berdosa, saya dan Yanto Kodak kembali duduk berjam-jam tanpa niat pulang. Kami biasanya menyebut rutinitas ini sebagai "riset fotografi". Istri Yanto, di sisi lain, menyebutnya "nongkrong nggak jelas". Kebenaran, seperti biasa, bersembunyi di tengah-tengah—meski agaknya lebih condong ke versi istrinya.

Topik andalan kami sore itu masih sama: fotografi. Sebuah medium pelarian sekaligus buku harian visual yang, ironisnya, isi galeri kami lebih banyak didominasi foto makanan ketimbang karya seni sungguhan.

"Eh, tau nggak," kata Yanto Kodak sambil mengaduk kopi yang sebenarnya sudah tak butuh diaduk lagi, "gue baru nemu spesies baru manusia. Namanya fotografer Dunning-Kruger."

"Itu apa, genus baru burung?"

"Baru bisa bikin bokeh dikit, ngomongnya udah kayak Ansel Adams reinkarnasi." Yanto menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap dengan gaya yang menurutnya dramatis, tapi di mata saya lebih mirip cerobong pabrik tekstil. "Baru punya kamera tiga bulan, udah bikin caption panjang soal 'filosofi cahaya'."

Saya nyaris tersedak kopi. "Lah, lu sendiri gimana? Baru bisa manual fokus aja udah pasang bio 'visual storyteller'."

"Itu beda kasus. Gue storyteller yang ceritanya belum ketemu, doang."

Kami tertawa sampai bapak-bapak di meja sebelah menoleh curiga, mungkin mengira kami baru saja menang judi bola. Setelah tawa reda dan gorengan tersisa satu—yang tentu saja jadi rebutan diam-diam—Yanto Kodak tiba-tiba memasang muka serius. Muka serius Yanto itu ciri khasnya cuma satu: alis kirinya naik sendiri, seolah punya agenda pribadi.

"Gue kasih tau ya," katanya, menunjuk saya pakai ujung sendok teh. "Sebenarnya di dunia fotografi yang katanya ribet ini, cuma ada dua aturan. Sisanya settingan doang biar orang beli lensa mahal."

"Yah, mulai deh. Ini bakal jadi ceramah, ya?"

"Bukan ceramah. Anggap aja... bisikan alam semesta, lewat mulut gue yang bau kopi."

Saya menyandarkan punggung, sudah siap mental. Kalau Yanto sudah begini, biasanya butuh waktu setidaknya dua gelas kopi lagi sampai ia tuntas bicara.

Aturan pertama: jangan pernah berhenti merhatiin.

"Titik," tambahnya, seolah itu kata penutup dalam sebuah kitab suci.

"Merhatiin apa? Cewek yang lewat?"

"Itu juga boleh, tapi bukan itu maksudnya, bego." Yanto menyodok lengan saya. "Maksud gue, fotografi itu bukan soal seberapa agresif telunjuk lu mencet shutter kayak lagi mencet klakson di lampu merah yang lama banget ijonya. Semakin dalam lu ngamatin dunia, semakin banyak yang disodorin semesta. Gratis pula."

"Terus kenapa gue tiap motret hasilnya biasa aja?"

"Karena lu sibuk 'berburu' foto megah, kayak lagi ekspedisi nyari harta karun. Padahal tugas lu bukan maksa gambar biar tercipta. Tugas lu buka diri buat nerima. Kadang keindahan itu sembunyi di hal receh yang orang lain males liat dua kali."

"Contoh?"

Tekstur abstrak tembok kusam yang mengelupas di pinggir jalan, contoh objek fotografi yang membutuhkan kepekaan visual. 2


Yanto Kodak menunjuk ke luar jendela kedai, ke arah tembok kusam di seberang jalan. "Itu. Tembok ngelupas kayak gitu, kalau lu perhatiin, ada pola abstraknya. Atau genangan air di aspal bolong depan gang. Atau pantulan lampu di spion motor butut. Dunia udah nyodorin momennya, lu tinggal hadir dan peka aja."

"Gue serius, nih," Yanto menepuk meja sebelum saya sempat berkomentar, membuat gelas kopi bergetar dan nyaris menumpahkan sisa ampas ke buku catatan saya yang untungnya sudah dibiarkan kosong sejak dua tahun lalu.

Gorengan terakhir akhirnya jatuh korban—dimakan Yanto Kodak tanpa basa-basi. Sambil terus bicara dengan mulut penuh, separuh kalimat berikutnya meluncur, terdengar lebih mirip mantra daripada nasihat seni.
Aturan kedua: ikutin panggilan hati, jangan bujukan algoritma.

"Bujukan algoritma itu kayak gimana?" tanya saya. "Kayak diajak jajan gorengan pas lagi bokek?"

"Lebih licik dari itu. Ini yang bikin banyak orang tersandung, jatuh, benjol, terus posting foto benjolnya di story biar dikira lagi healing." Yanto menelan gorengan dengan susah payah, lalu minum kopi yang sudah dingin sambil meringis, seperti baru sadar akan keputusan hidupnya. "Jangan berhenti motret apa yang narik hati lu. Bukan apa yang paling banyak likes-nya. Dan yang paling penting—jangan motret sesuatu cuma karena lokasinya lagi hits, seolah itu jaminan otomatis fotonya punya jiwa."

"Kayak spot foto yang antreannya lebih panjang dari antrean sembako?"

"Persis. Padahal hasilnya bakal sama persis kayak punya lima ratus orang lain yang antre di titik yang sama. Bedanya cuma di caption."

Saya mengangguk-angguk, mencoba terlihat bijak. Tapi dalam hati, saya sedang menghitung diam-diam: berapa banyak foto di galeri saya yang diambil bukan karena hati tergerak, tapi karena tempatnya lagi ramai dibicarakan orang, dan saya cuma ingin jadi bagian dari keramaian itu. Sungguh tak enak mengakuinya, tapi angkanya lebih banyak dari yang saya kira.

"Terus lu tau kenapa gue kemarin motret tumpukan kursi plastik karatan di pojok gang belakang komplek?" tanya Yanto Kodak, memecah lamunan saya.

"Karena lu nggak punya kerjaan lain?"

"Karena gatel aja pengen motret. Nggak tau kenapa. Ya udah, potret aja. Nggak perlu nunggu validasi kritikus seni dadakan di kolom komentar Instagram yang keahliannya cuma nulis 'ke-15'."

"Terus hasilnya bagus?"

"Enggak. Jelek banget. Tapi itu bukan masalah." Yanto menyeruput kopi dinginnya sekali lagi. Mukanya lantas berubah seperti orang yang baru minum obat batuk rasa jengkol. "Kadang lu pulang bawa foto yang bikin senyum puas. Kadang lu liat layar kamera terus mikir, 'Ini foto abstrak atau hasil rontgen paru-paru gue sendiri?' Gelap, nggak jelas bentuknya, kayak masa depan gue."

"Itu masalah, To."

"Bukan," sanggahnya cepat. "Keduanya sama penting. Yang penting itu prosesnya. Yang penting kepekaan. Kalau kita udah berhenti peka, kamera semahal apa pun cuma jadi beban kalung doang. Berat di leher, kosong di jiwa."

Saya terdiam sebentar. Lumayan terkesan, sebelum akhirnya sentimen itu luntur oleh rasa curiga. "To, itu kalimat penutup lu keren banget. Lu bikin sendiri apa nyontek dari suatu tempat?"

Yanto Kodak bungkam. Alis kirinya kembali naik. "...Gue lupa. Tapi kedengarannya keren, kan?"

Hening sejenak. Hanya terdengar deru motor yang lewat dan desah napas penjaga kedai yang sedang menghitung uang receh dengan raut wajah orang yang sudah pasrah pada hidup.

"Jadi," kata Yanto akhirnya, memecah keheningan, "mau motret apa kita habis ini?"

Saya melirik meja. Pandangan saya jatuh pada secarik bon kopi yang tergeletak pasrah di antara asbak dan piring kosong bekas gorengan, yang jasanya tak akan pernah kami lupakan.

"Motret bon ini aja dulu," jawab saya. "Biar ada bukti visual betapa mengenaskannya dompet kita berdua."

Yanto Kodak tertawa lepas, sampai bapak-bapak di meja sebelah menoleh lagi—kali ini dengan tatapan yang jelas-jelas menyesal telah memilih tempat duduk di dekat kami. Kami pun membalasnya dengan tawa sarkas.

Barangkali ada yang penasaran, apakah sore itu kami akhirnya bangkit untuk merespons panggilan visual alam semesta? Jawabannya sudah bisa ditebak: tidak. Kami membiarkan kamera tetap tergeletak tak tersentuh di meja, dan kembali menyeruput sisa kopi yang sudah benar-benar dingin—sedingin nasib dompet kami, dan sedingin realitas bahwa pada akhirnya, sekali lagi, kami cuma banyak omong dan tak memotret apa-apa.

Bon kopi lecek di atas meja kedai kopi sebagai penutup obrolan santai tentang realitas hobi fotografi. 2

Tambahan Coretan:


1. Efek Dunning-Kruger adalah bias kognitif ketika seseorang dengan kemampuan rendah dalam suatu bidang justru merasa sangat ahli dan menilai tinggi kemampuannya secara tidak realistis.

Hal ini terjadi karena mereka kekurangan ilmu untuk menyadari seberapa banyak yang sebenarnya tidak mereka ketahui. Sebaliknya, orang yang benar-benar kompeten sering kali merendah karena mereka tahu betapa kompleksnya bidang tersebut, sehingga berasumsi orang lain juga memiliki pemahaman yang sama.

Singkatnya, fenomena ini adalah kondisi psikologis ketika orang yang paling tidak tahu biasanya menjadi pihak yang paling lantang dan percaya diri.

         *******

2. Ansel Adams (1902–1984) adalah fotografer legendaris Amerika Serikat yang terkenal karena foto lanskap hitam-putih wilayah Barat Amerika, khususnya Taman Nasional Yosemite. Sebagai aktivis lingkungan, karyanya berhasil mempromosikan pelestarian alam liar di AS.

Bersama Fred Archer, ia mengembangkan Zone System, sebuah teknik fotografi untuk menentukan pencahayaan dan kontras cetakan secara presisi. Adams juga mendirikan Group f/64, kelompok fotografer yang memperjuangkan seni "fotografi murni" dengan fokus tajam dan detail tinggi. Dedikasinya terhadap detail teknis dan keindahan alam menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah fotografi modern.

Kamis, 01 Oktober 2026

Menjebak 'Taksu': Perang Cahaya, Asap Rokok, dan Persahabatan di Pondok Taksu



Beraban, Tabanan, Bali, Kamis, 1 Oktober 2026

Halo, Sobat. Kita ketemu lagi. Kali ini saya mau mengulas satu foto, aliran fotografi di baliknya, dan cerita di belakang lensa. Seduh kopimu, nyalakan rokokmu, dan mari bicara soal cahaya, manusia, dan hal-hal di antara keduanya.

Sudah lebih dari tiga tahun saya menumpang bernapas dan mencari rezeki di Pulau Dewata. Pulang kampung hanya bisa dilakukan kalau isi dompet sedang sudi diajak kompromi. Sebagai perantau, kadang Bali terasa berjarak, dan rasa sepi datang tepat saat rutinitas mulai terasa mekanis. Tapi di tengah keriuhan acara moto bareng baru-baru ini, saya menemukan kepingan "rumah". Bukan bangunan permanen, melainkan kawan-kawan baru yang diikat satu kegilaan yang sama: fotografi.

Ceritanya, teman-teman Sinarphoto menggelar sesi pemotretan di Pondok Taksu, Badung. Bagi orang Bali, taksu adalah kata yang berat. Ia dipercaya sebagai daya spiritual yang "turun" pada penari, pelukis, atau penabuh, sehingga penampilannya hidup dan memancarkan pesona dari dalam. Selama tiga jam, kami para fotografer mencoba menangkap sesuatu yang secara teknis mustahil dipotret. Ambisius, memang. Tapi bukankah itu gunanya kamera?


Foto Ini Sebenarnya Genre Apa?


Sobat yang melihat foto hitam-putih di atas mungkin bertanya-tanya. Jawabannya: ini persilangan beberapa aliran, dan justru di situ serunya.

Cultural documentary. Foto ini merekam budaya, bukan sekadar tampang. Para talent tidak didandani busana agung yang kaku dan gemerlap. Mereka memakai busana tradisional keseharian, kain lilit, bunga terselip di rambut, dan sarung batik bermotif rumit. Bakul-bakul anyaman bambu serta kelapa tua di depan mereka bukan properti pemanis. Itu bahasa visual kehidupan sehari-hari orang Bali, dan dua perempuan itu tampak seperti sedang menyiapkan sesuatu untuk upacara.

Environmental portraiture. Subjek dipotret di lingkungannya, dan lingkungan itu ikut bercerita. Lihat pria bertato yang duduk dengan lutut ditekuk dan sorot mata yang menerawang. Rimbun dedaunan, tiang pohon, dan gerbang tua di belakangnya bukan latar polos studio. Itu panggung yang membentuk karakter. Tato di lengannya bercerita, topinya bercerita, tatapannya bercerita. Ia hampir tidak perlu berkata apa-apa.

Staged documentary. Di sini saya harus jujur. Foto ini diarahkan: ada posisi duduk, ada arah pandang, ada komposisi tiga tokoh yang seimbang. Satu perempuan menunduk khusyuk pada pekerjaannya, satu lagi menoleh sambil menyentuh bunga di rambutnya, dan sang pria menatap lurus, sedikit menantang. Tiga gestur, tiga suasana, satu adegan. Ini seperti tableau vivant, lukisan yang hidup. Dulu saya sempat mengaitkannya dengan estetika wabi-sabi. Setelah dipikir lagi, itu kurang tepat. Kejujuran foto ini bukan pada spontanitas, tapi pada pementasan yang jujur: wajah, busana, dan suasana yang tidak dipoles jadi kesempurnaan palsu ala studio.

Low-key dan chiaroscuro. Inilah bumbu dramatisnya. Kontras keras antara gelap pekat dan terang menyilaukan membuat foto ini terasa sinematik. Cahaya kuat dari atas, hampir backlight, memancar seperti matahari kecil di tengah rimbun dedaunan. Ia menciptakan flare yang berpendar lembut dan membuat seluruh adegan tampak berkabut. Kalau ada yang bertanya kenapa fotonya berasap dramatis begitu, jawabannya: cahaya sore Bali, dibantu sedikit kontribusi asap rokok kami. Soft-focus gratis, tanpa filter berbayar. Ditambah butiran grain dan nuansa hitam-putih yang hangat, hasilnya terasa seperti potongan film lawas yang ditemukan di laci nenek.

Dengan estetika seperti ini, jebakan terbesarnya adalah eksotisme, memotret budaya seolah barang tontonan. Karena itu pendekatan sederhana dan respek pada talent terasa penting. Mereka bukan objek. Mereka pemeran utama dari budayanya sendiri.

Perang di Balik Lensa


Tapi urusan genre teknis kadang bikin dahi berkerut, jadi mari kita pindah ke hal yang paling membekas: suasana di balik lensa. Gosh, luar biasa hidup!

Bayangkan belasan fotografer dari segala aliran, mulai dari spesialis jalanan, landscape, sampai entah aliran apa lagi, menumpuk di satu area dengan satu misi suci: mengejar golden hour. Matahari sore di Bali saat itu sedang pelit. Ia tersenyum sebentar lalu pamit. Begitu cahaya keemasan menembus dedaunan, suasana berubah jadi medan perang. Siku bertemu siku, lensa bertemu lensa, dan semua orang berdoa supaya kepala fotografer sebelah tidak nyelonong masuk frame.

Di tengah pertempuran itu, saya menyadari satu hal yang indah: lensa tidak pernah peduli pada tanggal lahir pemiliknya. Saat menyelip mencari celah supaya frame tidak bocor, saya sadar banyak kawan di sebelah saya berumur separuh dari umur saya. Mereka segar, lincah, dan bertenaga. Sementara saya kadang harus curi-curi waktu untuk meluruskan pinggang yang mulai melayangkan surat protes.

Canggung? Sama sekali tidak. Sambutan mereka hangat dan terbuka. Di tongkrongan ini, hierarki dan senioritas runtuh tak berbekas. Umur dan harga gear yang dikalungkan di leher bukan ukuran kasta. Kamera mirrorless puluhan juta bersanding damai di sebelah kamera tua yang sensornya mungkin sudah minta dipensiunkan.

Kalaupun ada tensi memanas, percayalah, itu bukan gara-gara adu ketajaman lensa atau debat filosofis soal rule of thirds. Perselisihan paling brutal di komunitas ini biasanya pecah karena satu hal esensial: rebutan suguhan gratis atau tempat buat sekedar naruh pantat buat ngerokok dan ngopi. Di sela-sela sesi, asap rokok mengepul pelan dan obrolan mengalir ke mana-mana, dari teknik sampai nasib dompet akhir bulan. Sisanya? Kami tertawa lepas.

Mereka yang Membuat Semuanya Mungkin


Tiga jam yang terasa seperti kedipan mata itu tidak lepas dari peran para talent. Mereka hebat menerjemahkan arahan, kooperatif, dan ramah. Duduk, berdiri, dan menjaga mood sambil dibidik puluhan lensa yang menyorot seperti moncong senapan jelas bukan perkara mudah. Namun mereka tetap melempar senyum tulus. Ketenangan mereka jadi jangkar di tengah kekacauan kami para pemburu gambar.

Ketika sesi usai, kartu memori penuh, dan layar LCD dimatikan, yang tersisa bukan sekadar kepuasan menimbun file digital. Ada rasa yang mengendap di dada: kebersamaan, takjub pada lestarinya sebuah budaya, dan syukur bisa melepas penat sebagai perantau bersama orang-orang yang tadinya asing.

Soal taksu, saya tidak berani mengklaim berhasil menangkapnya. Tapi kalau taksu adalah sesuatu yang hidup dan memancar dari dalam, mungkin ia justru hadir bukan hanya di wajah para talent, melainkan di antara kami: di tawa, di kopi yang dibagi, dan di asap rokok yang mengepul pelan sore itu.

Di Pondok Taksu, saya tidak hanya menangkap cahaya. Saya menemukan sahabat-sahabat baru. Di balik tajamnya fokus sebuah foto, selalu ada momen hangat antarmanusia yang nilainya jauh lebih besar dari foto itu sendiri.

Sampai jumpa di coretan berikutnya. Tetap memotret, dan jangan lupa ngopi, Sobat!

Selasa, 29 September 2026

Potret yang Tak Pernah Dicetak (Coretan Bagian Ketiga)



Beraban, Tabanan, Bali, Selasa, 29 September 2023

(sambungan dari Bagian Kedua)

Potret yang Tak Sempat Direncanakan


Saya tak pernah menceritakan kebenaran ini kepada siapa pun. Sampai hari ini.

Buku fotografi itu tak pernah saya kembalikan. Ia masih ada di rak saya, sampulnya menguning, tulisan tangan Mei di halaman pertamanya masih terbaca jelas. Dua puluh lima tahun berlalu tanpa kabar, tanpa keberanian untuk mencari, sampai suatu sore saya berdiri di sebuah galeri kecil di Kota "B", Bali, menikmati pameran foto yang katanya menampilkan karya-karya fotografer lintas generasi.

Saya sedang berhenti cukup lama di depan satu foto—hitam putih, komposisi sederhana, tapi entah kenapa terasa jujur sekali, seperti sesuatu yang pernah saya baca definisinya bertahun-tahun lalu di sebuah buku bersampul hitam. Saya berpaling ke belakang untuk mencari keterangan fotonya.

Dan di sanalah dia berdiri. Lima meter dariku. Sudah lama, rupanya, mengamati saya dalam diam sebelum saya sadar.

Saya membeku. Wajahnya nyaris tak berubah dari yang tersimpan di ingatan saya sejak malam terakhir di teras itu—hanya lebih tenang, seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan sesuatu yang dulu tak pernah selesai. Di sampingnya berdiri dua remaja, perempuan dan laki-laki, yang dari raut wajah mereka saya bisa menebak: darah dagingnya sendiri.

Kami tidak saling menyapa. Tidak ada yang melangkah maju. Hanya tatapan, yang entah kenapa terasa lebih jujur daripada segala kalimat yang pernah saya ucapkan padanya dua puluh lima tahun lalu.

Matanya turun sebentar, sekilas saja, ke jemari saya. Bukan tatapan basa-basi. Ada harap di sana—tapi bukan harap yang lembut. Justru harap yang kelam, harap yang selama dua puluh lima tahun sengaja ia rawat karena harap itulah yang membuatnya bisa bernapas: harap bahwa saya benar-benar seperti yang ia susun dalam benaknya sejak malam terakhir di teras itu. Bahwa tak lama setelah saya pergi, akan ada cincin di jari itu. Bukti bahwa saya memang bajingan tulen, yang meninggalkannya demi perempuan lain, demi alasan yang picisan dan sepele. Sebab jika itu benar, penderitaannya dulu setidaknya punya bentuk. Punya nama. Punya seseorang yang pantas disalahkan.

Dan tak ada.

Tak ada sebelumnya. Tak pernah ada. Dan barangkali tak akan pernah ada.


Saya melihat momen itu terjadi di wajahnya—begitu singkat, begitu senyap, tapi cukup untuk saya kenali betapa kelamnya hal itu baginya. Sebab kalau saya memang bajingan yang sesungguhnya, hari itu ia bisa pulang dengan luka lama yang sudah lunas. Tapi jemari kosong itu meruntuhkan seluruh cerita yang selama ini menopangnya. Kalau bukan perempuan lain, kalau bukan pengkhianatan yang sederhana—lalu apa? Pertanyaan itulah yang, saya kira, membuatnya jauh lebih hancur hari itu dibanding dua puluh lima tahun yang sudah ia lalui dengan tenang.

Matanya naik lagi ke mata saya. Saya tidak tahu persis apa yang ia baca di sana. Tapi saya tahu, dari cara wajahnya melunak sepersekian detik—dari garis rahangnya yang tiba-tiba kehilangan ketegangannya, dari napasnya yang seperti tertahan sebelum akhirnya dilepaskan pelan-pelan—bahwa untuk pertama kalinya dalam seperempat abad, kepastian yang selama ini ia genggam erat-erat baru saja lepas dari tangannya, dan ia sedang menyusun ulang satu pertanyaan yang mungkin selama ini tak pernah berani ia tanyakan pada dirinya sendiri: mengapa.

Saya tidak punya jawaban yang pantas diberikan di tengah galeri, di depan anak-anaknya, dua puluh lima tahun terlambat. Yang bisa saya berikan hanyalah satu anggukan kecil. Kepadanya, kepada keluarga kecil yang tak pernah menjadi milik saya, kepada versi diri saya yang dulu memilih menjadi bajingan demi menjaga seseorang yang bahkan tak pernah tahu sedang dijaga.

Ia membalas anggukan itu. Ringan, nyaris tak kasat mata—tapi cukup.

Saya berjalan pergi, meninggalkan foto yang belum selesai saya lihat, meninggalkan dia dan keluarga kecilnya di tengah pameran yang temanya, entah kebetulan atau tidak, adalah tentang potret-potret yang tak sempat direncanakan.

Belum jauh langkah saya dari sana, sayup-sayup terdengar suara seorang perempuan muda—mungkin putrinya sendiri.

"Mama nangis? Kenapa, Ma?"

Saya tidak menoleh. Tidak berani. Tapi pertanyaan kecil itu saja sudah cukup menjawab apa yang selama ini tak pernah berani saya tanyakan sendiri: bahwa di balik satu anggukan tenang tadi, dua puluh lima tahun keyakinan Mei baru saja runtuh diam-diam. Ia akhirnya tahu. Bahwa bajingan yang berdiri di depannya sore itu, dulu, hanyalah seseorang yang bersusah payah belajar menjadi bajingan—demi menjaga sesuatu yang bahkan tak pernah ia tahu sedang dijaga.

Semesta, rupanya, memang punya selera humor yang keterlaluan.

Selamat sore, Mei. Saya tak tahu apakah kamu akhirnya paham topeng yang dulu saya pakai. Tapi kalau hari ini kamu pulang dengan satu jawaban yang lebih tenang daripada dua puluh lima tahun kebencian, mungkin itu sudah cukup bagi saya untuk berhenti merasa bersalah.

Amor Vincit Omnia, Sed Veritas Liberat

Minggu, 27 September 2026

Potret yang Tak Pernah Dicetak (Coretan Bagian Kedua)



Beraban, Tabanan, bali, Sabtu, 26 September 2023

(sambungan dari Bagian Pertama)

Topeng yang Kupakai untuk Melepaskannya


Sejak sore itu, sesuatu yang tak direncanakan mulai terbentuk. Mei, dengan caranya yang lugas, mulai "memaksa" saya untuk terus datang setiap akhir pekan. Kadang kami hanya duduk di teras. Ia bercerita tentang buku, saya bercerita tentang kamera. Kadang ia menunjukkan hasil jepretannya—sebuah foto kucing di atas pagar, atau siluet pedagang kaki lima di tengah kepulan asap gerobaknya.

Sesekali, di tengah obrolan yang ringan, Mei tiba-tiba diam lebih lama dari biasanya, seperti menahan sesuatu yang ingin dikatakan tapi urung. Suatu kali saya bertanya kenapa, dan ia hanya menjawab, "Nggak apa-apa, cuma mikir. Kadang saya takut hal-hal sederhana kayak gini nggak bisa bertahan lama."

Saat itu saya menertawakannya, mengira ia sekadar bercanda atau sedang melankolis. Saya tidak tahu bahwa kalimat itu, dari mulut Mei yang biasanya begitu tegas, adalah bentuk paling jujur dari ketakutan yang sudah lama ia simpan sendirian. Segalanya mengalir indah. Namun saya belum tahu saat itu, bahwa di balik pintu rumah itu, ada percakapan-percakapan lain yang sedang berlangsung tanpa sepengetahuan saya. Percakapan di ruang makan antara orang tua Mei, tentang siapa laki-laki yang belakangan ini begitu sering duduk di teras mereka.

Sampai pada suatu Minggu pagi, dua puluh lima tahun yang lalu. Sebaris pesan singkat dari Mei muncul di layar ponsel saya: "Ke Blok M Mal cari buku bekas, mau ikut?"

Entah kenapa ia selalu ringkas—tanpa basa-basi, persis seperti caranya menyodorkan buku di kasir dulu. Siang itu saya meluncur menjemputnya. Di atas jok motor butut itu, saya sengaja menahan selongsong gas, membiarkan roda berputar lebih lambat agar durasi perjalanan bisa sedikit lebih lama. Angin membawa bau aspal panas bercampur parfum ringannya. Ya, saya memang menaruh hati padanya.

Kami menyusuri lorong sempit berjejal buku bekas. Di sela-sela perburuan, saya menangkap kebiasaan kecilnya. Sesekali Mei mengeluarkan kamera saku, memotret satu kali secara acak—seorang penjaga toko, atau seberkas cahaya yang jatuh miring—lalu mengantonginya lagi. Tidak ada pose. Tidak ada pengulangan. Sekali potret, selesai.

Setelahnya, kami duduk di Taman "M". Sambil menyantap bekal tanpa sendok, rasa penasaran saya tumpah. Saya bertanya kenapa ia hanya memotret sesekali saja, seolah tak peduli hasilnya nanti seperti apa.

Sambil menatap keramaian taman, ia tersenyum tipis. "Potretlah lebih banyak, sekadar untuk bersenang-senang," ucapnya tenang. "Tidak semua foto harus punya tujuan khusus. Kadang, kita membuat proses kreatif jadi terlalu rumit. Padahal, proses memotret itu sendiri sudah lebih dari cukup."

Matanya menyiratkan kebebasan yang jujur. "Potretlah hal-hal yang membuatmu merasa hidup. Saat sesuatu memikat perhatianmu bahkan sebelum kamu tahu alasannya, ikuti saja. Tugas seorang seniman bukanlah untuk selalu tahu ke mana arahnya, melainkan untuk tetap terbuka menyambut panggilan tersebut."

Malamnya, sepulang dari sana, ia menahan saya sejenak di depan pagar rumah. "Minggu depan datang lagi ya. Kita tak usah jalan, di sini saja. Saya ingin cerita tentang buku yang akan saya baca malam ini."

Dari malam-malam di teras itulah kami merajut sebuah cerita. Saat itu saya sadar, saya sedang memotret sebuah mimpi, sambil diam-diam berharap semua itu akan menjelma menjadi kenyataan. Tapi kebahagiaan yang sederhana itu, ternyata, dibangun di atas tanah yang jauh lebih rumit daripada yang pernah saya bayangkan.

Fondasi retak itu, rupanya, sudah ada di sana sejak awal—hanya saya yang memilih untuk tidak melihatnya. Saya pribumi. Mei keturunan Tionghoa. Dan bukan hanya soal itu; keyakinan kami pun bersimpangan, melahirkan jurang yang tak bisa dijembatani hanya dengan niat baik dan cinta belaka. Saya sujud lima waktu sehari. Di rumahnya, ada altar kecil warisan leluhur yang tak bisa begitu saja ditanggalkan demi seorang pemuda miskin yang datang membawa buku pinjaman.

Kami sempat naif berpikir bahwa perasaan bisa mengalahkan segalanya. Tapi ada hal-hal yang tak bisa dikompromikan. Ada garis keturunan yang harus dijaga, dan tradisi yang tak bisa dilanggar hanya karena dua orang muda saling jatuh cinta di sebuah taman kota. Butuh waktu lama sebelum saya menyadari bahwa setiap kali saya pulang, ada percakapan sunyi di ruang makan keluarganya. Ibunya lambat laun menjadi lebih pendiam. Ayahnya mulai jarang muncul setiap kali saya bertamu.


Hingga suatu sore, tanpa sepengetahuan Mei, ayahnya memanggil saya ke ruang tamu. Ia tidak marah, dan justru ketenangannya itulah yang membuat permintaannya terasa jauh lebih berat.

"Saya tidak mempermasalahkan kamu sebagai orang," katanya berhati-hati. "Kamu baik. Mei bahagia, dan itu bukan hal kecil bagi saya. Tapi ada hal-hal yang lebih besar dari perasaan kalian. Ada leluhur yang harus dihormati, ada keyakinan yang harus dijaga turun-temurun. Saya tidak bisa membiarkan itu berhenti, hanya karena satu perasaan yang datang di usia muda."

Ia meminta saya mengakhiri hubungan itu. Dan beban terberatnya datang kemudian: ia meminta saya merahasiakan percakapan ini dari Mei.

"Biar dia membenci kamu saja," katanya lirih, terdengar nyaris seperti permintaan maaf. "Itu akan lebih mudah sembuh, daripada dia harus membenci kami."

Saya pulang malam itu dengan kepala yang hancur. Memikirkan bagaimana caranya seseorang dipaksa menghancurkan kebahagiaannya sendiri, demi menjaga keutuhan kebahagiaan orang lain. Saya bukan aktor yang baik, Sobat. Tapi malam-malam berikutnya, saya belajar menjadi bajingan.

Saya mulai datang terlambat. Membalas pesan Mei dengan dingin. Saat ia bertanya kenapa saya berubah, saya menjawab dengan kalimat-kalimat menusuk—mengatakan saya bosan, bahwa ini cuma pelarian, bahwa saya tidak serius. Setiap kalimat itu keluar seperti pisau yang saya asah sendiri malam sebelumnya, lalu saya hunuskan pelan-pelan ke arah dada saya sendiri, sambil berpura-pura yang terluka adalah dia.

Saya terus melakukannya. Lebih baik Mei membenci saya sebagai laki-laki brengsek, daripada ia harus menelan kenyataan bahwa rumah yang menjadi tempatnya pulanglah yang memintanya melepaskan saya. Mei berubah. Pesan panjang berisi kekecewaan perlahan berganti menjadi kebisuan berhari-hari. Saya tahu ia amat sangat membenci saya—dan anehnya, melihat kebencian itu, ada sebagian diri saya yang merasa lega, meski sisa jiwa saya lebur tak bersisa.

Malam itu datang. Mei yang meminta saya bertamu. Teras yang dulu menjadi saksi kehangatan kami, malam itu membeku seperti ruang sidang. Mei berdiri dengan wajah lelah dan mata memerah, seolah sudah kehabisan air mata.

"Kamu benar-benar sudah berubah," katanya. Sebuah kesimpulan mutlak. "Saya tidak mengerti kenapa. Tapi saya rasa saya tidak perlu mengerti lagi."

Saya hanya diam. Satu kalimat jujur saja bisa menghancurkan sandiwara ini, dan barangkali, menghancurkan keluarganya juga. Tidak ada tangisan meledak. Tidak ada janji klise. Hanya kehampaan yang menelan kami berdua. Di kejauhan, dari balik tirai jendela yang setengah terbuka, kedua orang tua Mei berdiri diam menyaksikan adegan itu. Raut wajah mereka datar, tapi saya tahu, harapan mereka baru saja terwujud.

Saya pamit. Mei tidak menjawab. Ia hanya memunggungi pintu, membiarkan saya berjalan sendirian menuju motor di kegelapan gang. Gang yang sama tempat saya dulu sengaja menahan gas agar waktu berjalan lebih lambat. Kali ini, saya memacunya secepat mungkin. Saya tak sanggup berlama-lama berada dalam jarak pandang dari sosok yang terpaksa saya hancurkan hatinya.

(Bersambung ke Coretan Bagian Ketiga)

Sabtu, 26 September 2026

Potret yang Tak Pernah Dicetak (Coretan Bagian Pertama)



Beraban, Tabanan, bali, Sabtu, 26 September 2023

Buku yang Tinggal Satu


Sobat, kalau boleh jujur, kebiasaan saya dulu agak memalukan untuk diceritakan. Saya adalah pelanggan setia Toko Buku "G" di Blok M, tapi bukan sebagai pembeli. Saya datang, memilih satu buku yang menarik, lalu berdiri di lorong rak sambil membacanya perlahan-lahan, halaman demi halaman, seolah toko itu perpustakaan pribadi saya. Bukan karena saya tak menghargai buku. Justru sebaliknya—saya terlalu menghargainya untuk sekadar dilewatkan begitu saja. Hanya saja, dompet saya tak pernah cukup tebal untuk membawanya pulang.

Sore itu saya sedang berdiri di rak fotografi, memegang sebuah buku bersampul hitam tentang komposisi dan cahaya, karya seorang fotografer jalanan yang namanya baru saya kenal dari majalah bekas. Saya sudah membaca separuh bab pertama, larut dalam penjelasan tentang bagaimana bayangan bisa jadi subjek yang lebih jujur ketimbang cahaya itu sendiri, ketika seseorang berdiri di sebelah saya. Menunggu dengan sopan, namun jelas tak sabar.

"Maaf," katanya, "itu buku yang tinggal satu, kan? Saya juga sedang mencarinya."

Saya menoleh. Seorang perempuan, berambut panjang tergerai, membawa tas jinjing kain yang terlihat sudah dipakai bertahun-tahun. Kulitnya lebih terang dari kebanyakan orang di sekitar kami, matanya menatap buku di tangan saya dengan sorot yang campur aduk. Itulah pertama kalinya saya melihat Mei—meski waktu itu saya belum tahu namanya, apalagi menduga betapa jauh perjalanan yang akan kami tempuh, dan betapa rumit jalan yang harus kami hadapi karena dua latar belakang yang begitu berbeda.

Saya buru-buru menyerahkan buku itu, agak salah tingkah. "Oh, iya, ini, silakan. Saya cuma baca-baca saja, kok, bukan mau beli."

Kalimat itu meluncur begitu saja sebelum sempat saya saring. Dan seperti yang bisa Sobat duga, kepolosan itu justru membuka pintu yang tak pernah saya sangka.

Mei menerima buku itu, membolak-baliknya sebentar, lalu menatap saya lagi. "Kamu suka fotografi?"

"Suka. Cuma belum punya kamera yang bagus. Dan—" saya tertawa kecil, mencoba menutupi rasa canggung, "—belum punya cukup uang buat beli buku ini juga, sebenarnya."

Saya kira ia akan tersenyum sopan lalu pergi. Tapi Mei justru terdiam sejenak, seolah menimbang sesuatu di kepalanya. Wajahnya berubah; ada semacam rasa tak enak yang tiba-tiba muncul di sana, seakan-akan dialah yang telah merebut sesuatu dari saya.

"Kalau begitu," katanya akhirnya, "biar saya yang beli. Nanti saya pinjamkan ke kamu."

"Eh, tidak usah, saya—"

"Sudahlah," potongnya. Ia sudah melangkah ke arah kasir sebelum saya sempat menyelesaikan penolakan.


Buku yang Dipinjamkan


Saya berdiri mematung di depan rak, setengah tak percaya, mengikutinya dengan pandangan sampai ia selesai di meja kasir. Ketika ia kembali, buku itu sudah terbungkus rapi dalam plastik toko, dan ia menyerahkannya kepada saya begitu kami sama-sama melangkah keluar dari pintu kaca.

"Ini," katanya, menyodorkan kantong itu. "Pinjam saja. Satu minggu cukup, kan? Baca baik-baik, terus kembalikan ke rumah saya."

Saya masih mencoba menolak. Rasanya tidak pantas menerima kebaikan sebesar itu dari orang yang baru saya kenal lima menit lalu. Tapi Mei adalah jenis orang yang, begitu keputusannya dibuat, tak menyisakan banyak ruang untuk berdebat. Ia hanya mengangkat bahu, seolah apa yang dilakukannya bukan perkara besar, lalu mengeluarkan secarik kertas kecil, menuliskan alamat rumahnya dengan pena yang tintanya sudah agak seret.

"Rumah saya di sini," katanya. "Minggu depan, jam segini, kamu datang, kembalikan bukunya. Kalau kamu suka isinya, kita bisa ngobrol soal itu."
Dan begitulah, Sobat. Sebuah buku yang seharusnya hanya numpang dibaca, tiba-tiba berpindah tangan. Tanpa sadar, secarik kertas itu menjadi alasan pertama saya mengetuk pintu rumahnya, sekaligus alasan pertama saya melangkah masuk ke dalam sebuah dunia yang tak akan pernah benar-benar menjadi milik saya.


Satu Minggu yang Terasa Panjang


Saya membaca buku itu pelan-pelan. Seolah setiap halaman punya bobot yang lebih berat karena ada seseorang di baliknya yang memercayakannya kepada saya. Di malam-malam sebelum jadwal pengembalian, saya bahkan membaca ulang beberapa bagian, khawatir kalau nanti ditanya dan saya tak bisa menjawab. Konyol, memang. Tapi begitulah cara rasa suka bekerja; ia menyusup diam-diam ke hal sekecil kewajiban mengembalikan buku.

Tepat seminggu kemudian, saya datang ke alamat itu. Rumahnya lebih besar dari yang saya bayangkan, berpagar tinggi. Di sudut halaman ada sebuah altar kecil, bersih dan terawat, dengan sisa asap dupa yang masih menggantung tipis di udara sore. Saya hanya melihatnya sekilas—sesuatu yang asing tapi tak terasa penting untuk ditanyakan—dan baru bertahun-tahun kemudian saya paham betapa altar kecil itu sebenarnya sudah menceritakan segalanya, jauh sebelum siapa pun sempat bicara.

Mei membukakan pintu, tersenyum. "Wah, tepat waktu. Saya kira kamu bakal lupa."

"Buku bagus susah dilupakan," jawab saya, mencoba terdengar lebih santai dari detak jantung saya sendiri.

Sore itu berubah menjadi obrolan panjang di teras. Obrolan yang saya kira hanya akan berlangsung sepuluh menit itu baru berakhir ketika azan Maghrib berkumandang dari masjid di ujung gang. Mei menoleh sebentar ke arah suara itu, lalu kembali menatap saya, seperti sedang menakar sesuatu di kepalanya yang tak saya mengerti. Saya sempat berpikir sekilas, apakah suara azan itu terdengar asing di telinga keluarganya? Pikiran yang saat itu saya anggap tak penting, dan baru kelak saya sadari betapa esensialnya.

(Bersambung ke Coretan Bagian Kedua)