Bayangkan sebuah pagi yang tenang.
Sobat menyeduh kopi. Asap rokok mengepul malas di udara, menolak kalah dari polusi kota. Di atas meja, tergeletak sebuah kotak hitam mekanis yang angkuh bernama kamera.
Lalu dimulailah sebuah ritual yang bagi orang normal terlihat seperti gejala obsesif-kompulsif (OCD), tetapi bagi pehobi fotografi terasa nyaris sakral.
Membuka tas dengan khidmat. Memeriksa baterai. Mengelap lensa dengan penuh kasih sayang seolah sedang merawat bayi panda terakhir di muka bumi yang sedang mengidap batuk rejan. Mengalungkan kamera ke leher.
Begitu benda berat itu menggantung di dada dan membuat tulang seviks Sobat sedikit bergeser, sesuatu di dalam kepala ikut berubah. Sebuah sakelar mental bergeser ke posisi On.
Sobat bukan lagi remah-remah rengginang yang keluar rumah demi mencari sarapan bubur. Sobat kini adalah Pemburu Visual. Mata mulai bekerja layaknya elang kelaparan. Cahaya diperhatikan. Bayangan diamati. Genangan air keruh di pinggir jalan tiba-tiba tampak begitu filosofis. Bahkan jemuran celana dalam tetangga mendadak terlihat sinematik dan siap dikirim ke festival film Sundance.
Ada komitmen di sana. Selama satu atau dua jam ke depan, Sobat keluar dengan satu misi: melihat dunia.
Lalu datanglah zaman ketika semua kemewahan spiritual itu diperas, diringkas, dan dijadikan satu ke dalam kantong celana jens Sobat.
Kamera yang Tidak Pernah Kita Pilih
Pada tahun 2009, fotografer Chase Jarvis memperkenalkan sebuah kalimat yang kemudian menjelma menjadi mantra suci sekte pencinta smartphone:
"The best camera is the one that's with you."
Kalimat itu brilian. Demokratis. Membebaskan. Dan yang paling penting: menenangkan dompet yang sudah megap-megap. Lewat satu kalimat itu, jutaan orang merasa mendapat mandat ilahi untuk memotret apa saja.
Namun, ada satu tipuan psikologis yang sengaja disembunyikan di balik mantra itu. Kamera yang selalu bersama Sobat hari ini sebenarnya adalah kamera yang tidak pernah Sobat pilih secara sadar untuk dibawa.
Ponsel berada di saku Sobat bukan karena sejak subuh Sobat bertekad, "Hari ini saya akan menangkap esensi humanisme di sudut kota."
Tidak. Jangan naif, Sobat.
Ponsel itu ada di sana karena Sobat mengidap amnesia digital akut dan kecemasan sosial. Sobat takut jika menghilang dari WhatsApp selama lima belas menit saja, keluarga besar akan panik dan mulai menyebarkan poster orang hilang di grup keluarga.
Ponsel adalah alat bertahan hidup kaum urban. Kita membawanya untuk bekerja, memesan ojek online saat gerimis, membayar QRIS, atau sekadar memastikan lewat Instagram Story bahwa mantan kekasih benar-benar sudah hidup menderita dengan pasangan barunya.
Kamera hanyalah fitur tumpangan—seperti badut yang diajak ke pesta formal demi menghibur anak kecil.
Dulu, membawa DSLR atau mirrorless adalah sebuah pernyataan sikap. Ada komitmen yang berbunyi: "Hari ini ada sesuatu yang layak saya foto." Sebaliknya, dengan ponsel, batas itu runtuh se-runtuh-runtuhnya. Aktivitas memotret kini harus baku hantam berebut ruang dengan urusan lain yang entah kenapa terasa jauh lebih krusial: membalas ketikan "P" dari bos, memotret struk parkir agar tidak didenda, atau mengirim foto kucing tidur kepada teman yang sebenarnya sedang berjuang melawan depresi klinis.
Sobat tidak lagi menyalakan kamera. Sobat hanya membuka kunci layar demi membunuh kebosanan.
Antara Refleks Koboi dan Kehendak Dewa
Sebagai seseorang yang gemar memotret—dan tolong jangan panggil saya fotografer karena gelar itu terasa terlalu berat bagi pundak saya yang sudah memar akibat kebanyakan bawa tas laptop—saya menyadari satu hal saat membongkar arsip foto di laptop.
Ada jurang pemisah yang lebar antara Foto Refleks dan Foto Kehendak.
Foto Refleks terjadi seperti adegan koboi. Sobat melihat sesuatu yang lumayan estetik, mencabut ponsel dari saku dengan kecepatan cahaya, menekan tombol rana, lalu dua menit kemudian lupa mengapa Sobat repot-repot melakukannya.
Foto Kehendak adalah produk dari kesabaran seorang pertapa. Sobat berhenti. Mengamati. Membaca cahaya yang bergeser tiap milimeter. Menunggu objek yang tepat masuk ke dalam bingkai. Mungkin menunggu tiga puluh menit sambil ditemani kopi dan sebatang rokok. Baru kemudian, klik.
Secara teknis, berkat bantuan Artificial Intelligence (AI) modern yang kadang terasa lebih pintar dan lebih punya harga diri ketimbang pemilik ponselnya, kedua foto itu bisa sama-sama tajam. Sama-sama berwarna.
Namun, saat dibuka kembali beberapa tahun kemudian, rasanya berbeda.
Foto yang lahir dari kehendak menyimpan memori yang utuh. Sobat masih ingat bau selokan di dekat sana, obrolan bapak-bapak di sebelah Sobat, dan perasaan magis saat itu.
Sementara foto refleks? Mereka berakhir menjadi sampah digital di galeri ponsel. Hidup berdampingan secara damai dengan tangkapan layar promo token listrik, foto plat nomor mobil orang yang menghalangi jalan, dan meme kucing yang Sobat simpan tapi tidak pernah Sobat kirim ke siapa pun.
Jumlahnya ribuan. Yang benar-benar bermakna? Mungkin tidak sampai hitungan jari di satu tangan.
Membangun Kembali Dinding Komitmen
Lantas, apa solusinya? Apakah kita harus membuang HP kita ke laut lalu kembali ke zaman batu menggunakan kamera analog dan membilas film di kamar gelap?
Tentu tidak. Laut kita sudah penuh dengan sampah plastik dan mikrofon eksternal selebgram, jangan ditambah lagi.
Masalahnya bukan pada alatnya, melainkan pada mentalitas "gratisan" kita. Karena memotret dengan ponsel tidak bayar per lembar film, kita kehilangan rasa hormat pada momen.
Cobalah eksperimen ini selama seminggu jika Sobat punya nyali: Sebelum keluar rumah, buat perjanjian darah dengan diri sendiri.
Jika Sobat keluar untuk memotret dengan ponsel, perlakukan ponsel itu seperti kamera analog peninggalan kakek Sobat.
Simpan di saku. Jangan keluarkan kecuali Sobat melihat sesuatu yang benar-benar membuat jantung Sobat berhenti berdetak sejenak. Matikan notifikasi. Jangan buka media sosial. Jangan cek keranjang belanjaan daring Sobat.
Paksa mata Sobat untuk kembali melihat. Bukan sekadar menatap layar datar berukuran 6 inci itu.
Kagum atau Gabut?
Pada akhirnya, fotografi tidak pernah peduli seberapa mahal sensor yang ada di kantong celana Sobat. Fotografi adalah tentang filter kedewasaan Sobat dalam memilih.
Di antara jutaan drama yang terjadi di bumi hari ini, Sobat memilih satu sudut kecil untuk diselamatkan dari kepunahan memori.
Jadi, saat Sobat berjalan sore nanti, dengan gelas kopi di tangan kiri, sebatang rokok di tangan kanan dan ponsel di kantong, tanyakan satu hal pada diri sendiri sebelum jempol Sobat menyentuh layar:
"Apakah saya sedang dipandu oleh rasa kagum terhadap dunia, atau saya sebenarnya cuma sedang gabut dan tidak tahu harus berbuat apa dengan hidup saya?"
Percayalah, hasil foto Sobat biasanya jauh lebih jujur untuk menjawabnya ketimbang isi pikiran Sobat sendiri.










