Jumat, 16 Maret 2018

Fotografi Hitam Putih - Menyusun Perspektif Kecantikan dalam Bingkai Monochrome



Kemayoran, Jakarta, Jum'at 16 Maret 2018

Apa kabar Sobat jepret semuanya? Semoga hari ini kabar Sobat baik-baik saja, ya. Termasuk mood-nya! Jangan sampai naik-turunnya nilai tukar rupiah ikutan bikin acak-adut suasana hati kita semua.

Nah, masih berkutat dalam postingan yang berbau fotografi nih. Kali ini, mari kita sedikit berbincang soal tips dan trik memotret wajah. Memotret wajah adalah salah satu cabang fotografi yang tak pernah sepi peminat. Ada sebagian yang begitu mengkhususkan diri pada ekspresi yang tajam, ada juga yang lebih fokus pada komposisi keseluruhan wajah. Ada fotografer yang memilih untuk meng-"romantiskan" foto wajah ke dalam perspektif yang lebih "mempercantik", namun tak sedikit pula yang memilih untuk tetap "realis", menampilkan apa adanya tanpa banyak polesan.

Terlepas dari aliran mana yang Sobat pilih, bagi saya pribadi, memotret wajah adalah kegiatan yang selalu menyenangkan. Wajah memiliki gudang ekspresi dan ribuan cerita yang tersimpan di balik kerut atau senyumnya. Bagi saya, ada lebih banyak narasi yang bisa disampaikan oleh sepasang mata dibandingkan objek mati lainnya.

Nah, berikut ini adalah beberapa tips dari para pakar yang bisa Sobat jadikan bahan pertimbangan saat hendak memotret wajah:


Tips 1: Ciptakan DoF Sempit


Untuk memudahkan pemotretan, Sobat bisa memilih scene mode Portrait. Namun, foto portrait akan terasa lebih "hidup" jika objek terpisah dari suasana sekitar yang sibuk. Cobalah gunakan Aperture Priority Mode, lalu atur diafragma ke bukaan paling besar untuk menciptakan ruang tajam yang tipis (shallow Depth of Field). Dengan begitu, latar belakang akan menjadi buram dan wajah yang Sobat potret akan tampil lebih menonjol dan bercerita.

Tips 2: Hindari Kontak Matahari Langsung


Agar foto wajah di siang hari tidak memiliki bayangan yang terlalu kasar, teknik standarnya adalah menghadapkan muka model ke arah datangnya cahaya. Namun, sinar matahari yang terik cenderung membuat silau sehingga mata model akan menyempit—sesuatu yang kurang estetis. Solusinya, pergilah ke tempat yang agak teduh, lalu arahkan pandangan model ke sumber cahaya yang terang. Warna foto akan tampil jauh lebih lembut dan menyenangkan.


Tips 3: Jauhkan Latar Belakang yang Ramai


Saat memotret wajah, perhatikan apa yang ada di belakang model. Hindari latar belakang yang terlalu berwarna-warni atau objek yang semrawut, karena hal ini sering kali justru mencuri perhatian dari subjek utama. Carilah latar yang lebih tenang agar wajah tetap menjadi bintang utamanya.

Tips 4: Aktifkan Penghilang Mata Merah (Red-Eye Reduction)


Jika kamera Sobat dilengkapi dengan fitur anti red-eye pada flash, jangan ragu untuk mengaktifkannya. Fitur ini membantu menghindari munculnya efek mata merah yang sering timbul akibat pantulan cahaya flash pada kornea mata saat kondisi minim cahaya.


Tips 5: Gunakan ISO Rendah


Setel ISO kamera ke nilai rendah, seperti ISO 100 atau 200. Langkah ini krusial agar tampilan wajah terlihat halus dan bersih dari noise. Jika hasil foto dirasa kurang tajam karena kekurangan cahaya, Sobat bisa menaikkan ISO sedikit lagi atau gunakan flash agar detail wajah tetap terjaga.

Tips 6: Teknik Bouncing Flash


Gunakan flash eksternal untuk memperindah wajah. Jika Sobat hanya menggunakan flash internal, hindari menembakkannya langsung ke arah wajah karena akan membuat foto overexposed dan menciptakan bayangan hitam pekat di belakang model. Jika terpaksa, redamlah flash dengan menutupinya menggunakan kertas putih. Namun, jika menggunakan flash eksternal, gunakanlah teknik bouncing dengan mengarahkan cahaya ke langit-langit. Sobat akan mendapatkan efek cahaya yang jauh lebih lembut dan gradasi bayangan yang halus.

Tips 7: Munculkan Ekspresi


Agar foto tidak terlihat monoton, ajaklah objek foto Sobat untuk berinteraksi. Ajak dia tertawa atau sekadar berbicara agar suasana menjadi lebih dinamis. Ingat, foto portrait tidak harus selalu menghadap kamera. Beri dia arah pandangan lain, lalu ambil dari sudut yang berbeda. Sering kali, cara ini justru akan menghasilkan efek yang lebih dramatis dan jujur.


Catatan Pinggir


Pada akhirnya, Sobat, semua teknik di atas hanyalah alat bantu. Seperti apa yang sering saya ungkap di trosoenoe.com, saya sering percaya bahwa sebuah foto wajah yang ciamik tidak selalu ditentukan oleh ketajaman lensa atau setting kamera yang sempurna. Terkadang, keindahan yang sesungguhnya justru terletak pada ketidaksempurnaan—pada guratan lelah atau sorot mata yang jujur. Jangan terlalu terpaku pada teknis hingga Sobat lupa untuk berkomunikasi dengan model yang ada di depan lensa.

Teknik hanyalah pembuka jalan, tapi jiwa dari foto itu sendiri—itulah yang harus Sobat tangkap. Semoga tips ini bisa menjadi tambahan wacana untuk Sobat semua. Selamat memotret, dan teruslah berkarya dengan kejujuran!

Salam Jepret Selalu ya, Sob!

Jumat, 02 Maret 2018

KARYA FOTOGRAFI - BAHAGIA ITU (RELATIF) SEDERHANA.....




Kemayoran, Jakarta, Kamis, 1 Maret 2018


Bahagia itu apa sih? 

Waduh, kemarin dulu, pertanyaan itu tiba-tiba muncul dari mulut sahabat saya. Pertanyaan yang sebenarnya gampang, tetapi untuk menjawabnya... susah luar biasa! Bukan karena topik pertanyaan berupa hal yang super rumit macam persamaan fisika nuklir, atau super teknis semacam teknik pengambilan foto yang bisa langsung dapat hasil bagus tanpa diedit. Tapi, karena pertanyaan itu punya jawaban yang tidak seragam, alias takarannya banyak banget. Berbeda orang, maka beda pula takaran kebahagiaannya. Buat karyawan dan tukang foto keliling seperti saya, tentu takaran kebahagiaan itu berbeda dengan pengusaha, tentu berbeda pula dengan...katakanlah...seorang koruptor, atau seorang fotografer, atau seorang model, dan sebagainya.



Nah lho....kalau takarannya aja ga ada, terus gimana dong mendiskripsikan apa itu rasa "bahagia"?

Nah, disini saya tidak berusaha menerangkan apa itu rasa "bahagia". Setiap orang punya hak dan cara tersendiri untuk menerangkan dan mendeskripsikan rasa tesebut. Saya juga tak merasa perlu untuk bersusahpayah menerangkan kepada teman saya itu, apa itu definisi dari rasa bahagia, saya hanya menceritakan satu kisah kepada sahabat saya tersebut, kisah yang sama dengan yang sekarang ini saya tulis dalam postingan ini.



Beberapa bulan lalu, saya jalan-jalan ke pasar kebayoran lama, di Jakarta Selatan. Satu pasar yang cukup terkenal, karena memang sudah ada sejak lama banget (seingat saya, sejak saya kecil puluhan tahun silam, pasar ini sudah ada). Tujuannya, selain jalan-jalan, saya ingin hunting foto, memotret keseharian orang-orang yang ada di pasar itu, istilah kerennya, "street photography" (baca postingan "STREET PHOTOGRAPHY - "MAS....SAMPEYAN FOTOGRAFER?"......"BUKAN!...SAYA CUMA HOBBY MOTO")

Dan hari itu, dengan berbekal rokok dan air minum, serta kamera yang siap jepret, mulailah saya keliling-keliling sambil mencari target foto yang memenuhi selera saya, mulai dari pedagang barang-barang loak, tukang jual burung, jual kembang, jual batu cincin, baju bekas, sampai pada kemacetan yang biasa terjadi di sana. Jepret sana, jepret sini, lihat di lcd, kurang berkenan, hapus! Lalu, jepret lagi dan jepret lagi. Mungkin sekitar 2 jam saya keliling di area pasar tersebut, sudah puluhan foto saya ambil, dan saya merasa...sudah cukup. 



Sambil merapikan kamera, saya berjalan menuju warung pinggir jalan, langsung duduk, dan pesan kopi hitam. Kopi datang, sambil diseruput manja sedikit, ambil rokok sebatang, sundut, keluarkan kamera, dan langsung lihat perolehan foto-foto yang dicapai. Saking asyiknya, saya sampai gak sadar, kalau di dalam warung kopi itu, ada 3 orang yang juga sedang menikmati hal yang sama. Bedanya, ketiga orang ini sedang menikmati kebersamaan, ketiganya adalah sohib lama, dan mereka telah berkawan selama puluhan tahun, bersama-sama menghadapi perubahan lingkungan yang cepat, bertahan dalam kesederhanaan, dan melalui tutur kata dan topik yang mereka perbincangkan, saya menilai bahwa mereka mampu mencerna dan menerima segala perubahan dalam kaca mata kesederhanaan.



Dan mereka juga tertawa!....Bukan tertawa dalam konotasi "keterpaksaan", tetapi tertawa dalam konteks yang sebenarnya! Tertawa lepas! Tertawa bahagia! Mereka mampu menyikapi segala kekurangan yang melekat dalam diri mereka ke dalam bingkai yang "menyenangkan" dan berbahagia dengan itu semua!



Jegerrrr!!!......Saya seperti tersadar, saya perhatikan lagi foto-foto yang saya ambil, dan memang, di dalam foto-foto tersebut adalah orang-orang yang mampu menyikapi tekanan hidup...Membungkusnya dalam "nrimo".....dan efeknya? Mereka jauh lebih mampu berbahagia dibandingkan dengan kebanyakan orang!

Wah....Ini yang bikin saya semakin tersadar! Ternyata, takaran bahagia itu bukan sesuatu yang "eksakta", tetapi lebih kepada bagaimana kita melihat segala sesuatu dalam hidup ini! Mereka-mereka ini menikmati apa yang mereka miliki, bukan mengharapkan dengan amat sangat apa yang menjadi impian mereka dan tidak menyesali apa yang hilang dari mereka! Bagi mereka, hidup adalah menikmati apa yang mereka punya, dan bukan menyesali apa yang mereka tidak punya!

Wahhhh.......

Dalam hal ini, saya kalau jauh dengan mereka! Mereka mampu melihat segala sesuatu dalam perspektif mereka sendiri, dan menyederhanakan kebahagiaan kedalam bentuk yang sangat sederhana, satu bentuk dimana mereka dapat menikmati kebahagiaan itu, tanpa perlu terlalu bermimpi!

Itu yang saya ceritakan kepada teman saya, tentang betapa sederhananya kebahagiaan itu sebenarnya!

"Kebahagiaan itu hanya akan muncul dari rasa bersyukur, dan rasa bersyukur itu hanya akan muncul, apabila kita mulai menghargai apa yang kita miliki, dan berhenti menyesali apa yang tidak kita punyai!"

Dan teman saya itu mangangguk-angguk sambil tersenyum. Entah mengangguknya karena setuju dengan paparan saya, atau mengangguk karena bosan dan menganggap bodoh apa yang telah saya sampaikan.....Entah!

Jujur, saya juga tidak terlalu peduli! Toh saya hanya menyampaikan apa yang menurut saya benar, masalah dia mau menerima atau membuangnya ke tempat sampah...itu hak dia!

Demikianlah sobat-sobit jepret, cerita saya....semoga berkenan! Dan untuk melengkapi cerita dalam postingan ini, akan saya sajikan beberapa foto, yang menjadi keseharian di Pasar Kebayoran lama, cekidot sob!