Rabu, 30 Maret 2016

Face Photo Close Up

In Close.......


Lady in frame : Hafsah
FG : Gw la yauuuuuuuuuuuu......

Kali ini gw mo nyoba foto close up....tapi candid...
lumayan...dapet sisi yang bagusnya....
tapi tallentnya emang cantik sih....
dari angle manapun...tetep bisa dapet auranya!
So...cekidot ya sohib2....
Boleh jepret di kotu!


The Eyes

Postingan kali ini masih dari komunitas Banana's !


FG : Rendi Yunanda
Lady in frame: Fanny S.


Fotonya bagus banget, nonjolin kecantikan dari tallent nya dengan cara minimalis picture in frame...
Fokus ke mata simodel....
Kalo menurut gw...foto ini jempol banget dah!!!



Senin, 28 Maret 2016

Beauty Photography!!!!!!!



Karet, Jakarta, Senin, 28 Maret 2016

Salam jumpa Sobat jepret semuanya. Masih berputar pada topik bahasan yang sama, tentang fotografi, dan juga masih di pembahasan seputar tentang beauty photography. Kali ini, saya harus jujur bahwa saya masih belum terlalu memahami aliran fotografi yang satu ini secara mendalam.

Dalam benak saya (yang memang kapasitasnya tidak terlalu besar ini), saya dulu menyederhanakan aliran yang satu ini ke dalam satu bahasa, yaitu: "kecantikan". Namun, seiring berjalannya waktu dan setelah berkali-kali "bertapa" di depan monitor melihat hasil karya para master, saya sadar bahwa pemahaman saya selama ini ternyata sangatlah naif.

Lebih dari Sekadar Wajah yang Kinclong


Memang, pemahaman saya di atas terlalu "naif" dan terdengar sangat polos serta sederhana. Apalagi kalau kita kaji lebih dalam tentang beauty photography ini, pastinya akan kita temui kenyataan bahwa genre ini ternyata jauh lebih rumit, jauh lebih kompleks, dan jauh lebih "kejam" dibandingkan dengan pemahaman saya yang super naif tadi.

Dulu saya pikir, asalkan ada model cantik, pakai makeup yang tebalnya mirip bedak pengantin, lalu dijepret dengan lighting yang terang benderang, maka jadilah beauty photography. Ternyata saya salah besar, Sob!

Beauty photography bukan cuma soal memotret wajah yang cantik atau kulit yang mulus. Ini adalah soal detail—tentang bagaimana setiap helai rambut harus jatuh di posisi yang tepat, bagaimana bayangan di tulang pipi harus bisa menceritakan karakter, hingga bagaimana pori-pori kulit harus tetap terlihat nyata namun tetap menawan. Di sini, fotografer bukan cuma tukang jepret, tapi sudah merangkap jadi arsitek wajah.


Drama di Balik Cahaya dan Lensa


Coba bayangkan, dalam satu sesi foto beauty, kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengatur satu titik lampu supaya pantulan cahayanya di mata (catchlight) terlihat sempurna. Kalau meleset satu milimeter saja, aura mahakaryanya bisa langsung merosot jadi foto ijazah. Belum lagi urusan mengarahkan model.

Mengarahkan model untuk genre beauty itu punya tingkat kesulitan yang bikin kening berkerut. Kita harus bisa menangkap emosi lewat tatapan mata, padahal si model mungkin sudah pegal luar biasa karena harus menahan pose leher yang agak melintir demi mendapatkan sudut pandang yang estetik. Di sinilah sisi "kejam" yang saya maksud; estetika itu terkadang memang butuh pengorbanan, baik bagi fotografernya maupun modelnya.

Catatan Tambahan: Dilema Tukang Edit di Tengah Malam


Bicara soal beauty photography takkan lengkap tanpa membahas ritual suci yang bernama: Retouching. Nah, di sinilah humor tragisnya sering dimulai. Sebagai fotografer yang masih naif, saya sering terjebak dalam dilema antara ingin merapikan jerawat si model atau malah menghapus seluruh karakter wajahnya.

Pernah suatu kali, saking semangatnya menggunakan alat healing brush di Photoshop, saya malah membuat wajah model jadi terlalu mulus sampai-sampai pori-porinya hilang total. Hasilnya? Bukannya jadi foto beauty yang elegan, modelnya malah kelihatan kayak boneka manekin yang baru keluar dari pabrik plastik! Di situlah saya sadar, menjaga batasan antara "cantik alami" dan "cantik buatan aplikasi" itu lebih susah daripada nyari sinyal di dalam basement.

Belum lagi urusan "Liquify"—alat ajaib yang bisa mengecilkan pipi atau mancungin hidung dalam sekejap. Kalau tidak hati-hati, tembok di belakang model bisa ikut meliuk-liuk kayak kena gempa bumi gara-gara kita terlalu napsu mengecilkan lengan model. Kalau sudah begini, bukannya pujian yang didapat, kita malah bakal jadi bahan tertawaan di forum-forum fotografi karena dianggap gagal menguasai ilmu gravitasi dunia editing.


Kesimpulan: Terus Belajar dan Jangan Menyerah


Jadi, buat Sobat jepret yang mungkin sekarang merasa sama naifnya dengan saya, jangan berkecil hati. Fotografi itu adalah perjalanan panjang tanpa ujung. Semakin kita merasa tidak tahu, sebenarnya itu tandanya kita sedang mulai belajar. Jangan takut salah jepret, dan jangan takut hasil editing kalian dibilang aneh. Toh, semua master pun dulunya pasti pernah mengalami fase "naif" seperti kita.

Sobat, kalau memang sobat tertarik dengan genre fotografi ini, silakan mampir di beberapa artikel saya dalam laman ini, supaya dapat penjelasan yang lebih detil dan lebih lugas serta lengkap. Karena di sana, saya mencoba membedah lebih dalam tentang seluk-beluk beauty photography yang sesungguhnya.

Demikianlah sedikit curhatan dan ulasan singkat kali ini. Semoga dapat menghibur dan sedikit memberi pencerahan bagi Sobat-sobat jepret semuanya. 

Tetap sehat, tetap semangat, dan jangan lupa bersihkan lensa kamera kalian!

Artikel ini diadaptasi dan ditulis oleh: Tuntas Trisunu

Edisi Hitam-Putih


Karet, Jakarta, Senin, 28 Maret 2016

Salam jumpa Sobat jepret semuanya! Kali ini saya akan coba mengulas tentang satu jenis genre dalam fotografi yang kebetulan tengah saya coba untuk tekuni, yaitu foto hitam-putih.

Dan di bawah ini adalah satu foto hitam-putih yang akan kita coba untuk "kuliti" dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.


Menembus Batas Warna Lewat Perspektif Close-Up


Kalau kita lihat foto di atas, kita bisa melihat perspektif dari si fotografer yang mencoba untuk mendapatkan satu sudut yang berbeda dari si model. Foto itu mencoba memadukan antara foto close-up yang dikemas dengan hitam dan putih.

Berfokus pada area mata si model, di mana ekspresi dari si model turut memperkuat aura dari keseluruhan foto.

Seandainya foto tersebut tidak ditampilkan dalam komposisi hitam dan putih, dan tidak dikemas dalam perspektif close-up, tentunya "pesan" yang akan disampaikan oleh foto tersebut akan sangat berbeda.

Kekuatan Gradasi, Garis, dan Emosi Murni


Kekuatan sebuah fotografi hitam-putih terletak pada gradasi warna hitam-putih itu sendiri. Fotografi hitam-putih juga mengandalkan bentuk dan garis. Kombinasi bentuk, garis, dan gradasi warna hitam-putih membangun irama dalam sebuah karya fotografi hitam-putih.

Seringkali foto hitam-putih terasa lebih dramatis dan lebih kuat pesannya daripada foto berwarnanya sendiri. Kelebihan dari foto hitam-putih adalah mampu menyampaikan kesan murni serta emosi yang sangat kuat. Hal inilah yang mendasari mengapa sampai saat ini sebagian fotografer tetap bertahan dengan idealisme hitam-putihnya.

Catatan Sampingan: Curhat Colongan dari Tukang Foto


Bicara soal idealisme hitam-putih ini, kadang ada suka dukanya sendiri yang bikin elus dada, Sob. Sadar atau tidak, tantangan terbesar fotografer aliran ini bukan cuma masalah teknis mengatur shutter speed atau nyari garis komposisi yang simetris. Ujian terberatnya justru datang dari reaksi orang awam pas melihat hasil akhir foto kita.

Bayangkan, Anda sudah bela-belaan nongkrong seharian demi dapet lighting dramatis, menahan napas biar tangan enggak gemetaran, lalu lanjut bertapa berjam-jam di depan laptop buat ngatur gradasi abu-abunya agar terlihat masterpiece. Pas fotonya dipamerkan dengan bangga, tiba-tiba ada teman yang komentar: "Loh, ini fotonya bagus banget, tapi kok lupa diwarnain, Sob? Kameranya rusak ya?" Di momen seperti itulah, iman kefotografian kita benar-benar sedang diuji secara lahir dan batin.

Belum lagi kalau kita nekat memotret teman pakai genre close-up hitam-putih begini. Alih-alih dipuji karena berhasil menampilkan "emosi murni" dan kesan dramatis, yang ada kita malah diamuk karena jerawat atau kerutan di wajah mereka justru kelihatan makin tegas akibat kontras warna yang tajam. Ujung-ujungnya, mereka malah minta fotonya diedit ulang pakai filter beauty yang bikin muka mulus kinclong kayak porselen.

Jadi kesimpulannya, main di genre hitam-putih itu memang butuh mental baja dan stok kesabaran yang tebal. Tapi serunya, begitu Anda berhasil menjepret satu momen yang pas, foto itu bakal kelihatan abadi dan berkelas banget—berubah drastis dari yang tadinya cuma jepretan biasa, langsung naik kasta kelihatan kayak karya seni yang dipajang di pameran internasional.

Supaya Sobat bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas, ada baiknya Sobat juga membaca artikel yang berjudul:
Dalam kedua artikel tersebut, ada penjelasan yang lebih rinci dan lebih mendalam mengenai foto hitam dan putih.

Demikianlah Sob, sedikit ulasan mengenai foto hitam-putih. Semoga dapat menghibur Sobat semuanya. Tetap sehat, tetap semangat!

Artikel diadaptasi dan ditulis oleh: Tuntas Trisunu

Light of Beauty!!!



Karet, Jakarta, Senin, 28 Maret 2016

Light of Beauty: Harmoni Sensualitas dan Cahaya


Kali ini kita akan coba membahas tentang satu foto yang menurut saya sangat unik. Foto ini mengusung beberapa genre atau beberapa aliran sekaligus.

Yang paling utama adalah Beauty Photography (dan itu sangat jelas terlihat dalam frame). Model dalam foto tersebut sengaja diatur untuk berpose sedemikian rupa sehingga menonjolkan sisi sensualitas dalam batasan yang manis.

Sisi sensualitas ini memang suatu sisi yang cukup "berbahaya". Jika ditonjolkan secara ngawur dan serampangan, justru malah akan mengurangi nilai estetika foto tersebut. Di sinilah terlihat kepiawaian dari fotografer maupun model, yang dengan cerdas mampu memaksimalkan sisi sensualitas tersebut sehingga menjadi sajian yang sangat apik di dalam frame.

Sentuhan Eksperimental yang Berani


Genre kedua yang terasa cukup kental adalah fotografi eksperimental. Hal ini diwakili dengan sentuhan editing cahaya yang tegas, seakan memberikan efek pencahayaan yang kuat terhadap sang model.

Ditambah lagi dengan pemilihan warna yang sangat kontras dan sangat kuat, karakter model di dalam frame tersebut menjadi semakin dipertegas.

Secara singkat, foto di atas adalah manifestasi dari berbagai genre yang saling menguatkan dan harmonis, yang akhirnya menjelma menjadi satu karya yang layak untuk diklasifikasikan sebagai... mahakarya!

Demikianlah Sob, edisi ulasan fotografi kali ini. Semoga dapat menghibur dan menginspirasi Sobat-sobat semua. 

Tetap sehat, tetap semangat!

Catatan Tambahan dari Ruang Gelap (Sambil Ngopi)


Ngomong-ngomong soal memotret dengan genre Beauty plus Eksperimental begini, saya mendadak tersadar satu hal: jadi fotografer itu ternyata berat, Sob! Tugasnya bukan cuma sekadar "jepret, edit, kelar." Jauh di balik itu, ada perjuangan menahan napas biar kamera enggak shaking, ditambah lagi ujian mental pas lagi mengarahkan pose model.

Bayangkan saja, Sobat harus tetap terlihat profesional dan berwibawa di depan model yang posenya sudah sangat estetik dan sensasional tadi. Salah sedikit mengatur komando, bukannya jadi mahakarya, yang ada malah hasil fotonya blur karena tangan fotografernya gemetaran akibat grogi. Belum lagi urusan editing cahayanya. Bermain kontras warna yang tajam itu seperti main petasan; kalau pas takarannya, hasilnya bikin takjub penonton. Tapi kalau kelebihan dosis sedikit saja, modelnya bisa kelihatan kayak karakter fiksi yang baru keluar dari film horor saking kontrasnya!

Intinya, di balik satu lembar foto yang kita sebut "mahakarya" ini, pasti ada drama kamera yang baterainya tiba-tiba kedip-kedip merah, memori penuh di saat pose model lagi pas-pasnya, atau si fotografer yang encoknya mendadak kumat karena harus low angle jongkok demi mendapatkan sudut pandang yang pas.

Jadi, buat Sobat-sobat semua yang baru mau terjun ke dunia fotografi, jangan langsung minder kalau hasil jepretan pertamanya masih mirip foto KTP atau pasfoto ijazah yang kaku banget. Semua butuh proses, jam terbang, dan tentunya... stok kesabaran yang tebal (terutama pas menghadapi draf editing yang mendadak crash sebelum sempat di-save).

Pesan terakhir saya: teruslah menjepret selagi tombol shutter kamera Sobat belum jebol. Karena kita tidak pernah tahu, dari ribuan foto gagal yang kita ambil, mungkin ada satu foto tersesat yang justru bertransformasi menjadi sebuah karya seni yang luar biasa indah.

Artikel oleh: Tuntas Trisunu

SENJA DI KAIMANA!



Jakarta, Senin, 28 maret 2016

Edisi fotografi (Lagi…)!

Di postingan kali ini, ane persembahkan hasil jepretan kawan saya yang namanya Wendy L.W.

Suatu hari, kawan saya yang satu ini, tiba-tiba mengirim pesan tanpa kalimat yang panjang, yang di sela-sela pesannya, dia juga kirim dua foto. Beliau cuma bilang, kalau Kaimana itu ternyata sangat indah.

Buat saya yang memang jarang pergi kemane-mane (karena cupetnya dana dan waktu), pesan dari beliau ini bias punya dua makna. Makna yang pertama, si pengirim dengan sangat baik hati memberitahukan, bahwa ternyata, Indonesia itu super indah, dan banyak sekali bagian dari Indonesia yang punya panorama yang sangat “surgawi”. Dan makna yang kedua, kawan saya ini rupanya sedikit “menyindir” (paling tidak, itu yang saya rasakan…hehehehe). Pasti dalam hatinya dia bilang…”Ga tau kan loe kalo di sana itu indah! Makanya, piknik mas bro!”….(Becanda mas bro ! ...hehehehe)

Hadehhhhh…

Spot ini emang luar biasa indah. Rupanya, memang benar kata orang yang sudah pernah berkeliling Indonesia. Kata mereka (dan ijinkan saya untuk mengutip kata-kata mereka)…”Piece of heaven was fell in Indonesia!”, alias: serpihan dari surge jatuh di Indonesia!

Dan mahluk ini…yang namanya Wendy (hehehe…sorry my bro!)…termasuk satu dari segelintir orang yang amat sangat beruntung karena udah bisa wara-wiri keliling Indonesia!

So….ini sebagian karyanya…cekidot guys!

In Frame: Horizon Senja di Kaimana (Papua)
FG: Wendy L.W.



EDISI ULASAN FOTO!


Karet, Jakarta, Senin, 28 Maret 2016

Edisi kali ini masih tentang fotografi!
Dalam edisi ini, saya posting hasil jepretan temen-temen di komunitas fotografi Banana’s Photography, yang menurut saya, luar biasa.


In Frame: Siti Hafsah
FG: Arsya

Dalam foto di atas (dari perspektif saya tentunya), si fotografer(FG) berusaha untuk menangkap sisi roman sekaligus sudut feminin dari si model, lewat pengambilan potret dari sisi samping, yang mempertegas karakter si model. Fotografer seakan-akan berusaha untuk menggiring titik fokus siapa saja yang melihat foto ini ke dalam sudut pandang yang sama dengan fotografernya (dalam artian, perspektif subjektifnya FG lebih dominan!). Juga dari komposisi pemilihan warna, selain karakter feminin yang ditonjolkan, karakter “kuat” alias “strong!” juga dibalur di sekitar aura roman yang mengalun tipis di foto ini!

Walaupun foto di atas boleh dibilang konservatif (mengusung tema portrait tentunya), tapi tetap ada yang unik dari atmosfernya. Pemilihan latar merah tentu saja semakin memperkuat point of interest dari si objek foto. Dengan busana yang yang kontras dengan latarnya, si obyek semakin terlihat menonjol dan mampu "meredam" obyek lain di dalam frame. Efeknya dapat ditebak, si model dalam foto di atas menjadi pusat fokus bagi siapa saja yang melihat foto tersebut.

Penghargaan terbesar untuk fotografer dan juga model di foto itu.

Catatan:
Fotografi Portrait (Potret) adalah teknik fotografi yang menangkap image manusia atau model secara dekat atau dengan latar yang blur atau bisa juga dengan latar belakang yang sangat kontras. Tujuannya adalah menonjolkan si model dalam frame tersebut. Untuk saat ini, foto portrait ini semakin berkembang dengan memadukan berbagai teknik atau pendekatan teknik fotografi yang berbeda.

Supaya berimbang, silahkan baca juga artikel yang sangat menarik, yang mengulas tentang foto portrait dengan judul: "Apa Sih Bedanya Fotografi Model & Portrait?".

Harmoni dalam Kontras: Mengapa Foto Ini "Bicara"?


Sobat, ada satu hal yang bikin foto ini nggak cuma sekadar "cakep", tapi punya "nyawa". Yaitu keberanian bermain dengan kontras. Di dunia fotografi, warna merah itu ibarat pedang bermata dua; kalau salah pakai, bisa-bisa mata yang melihat malah lelah. Tapi di tangan Arsya, latar belakang merah menyala ini justru jadi panggung yang sempurna buat menonjolkan sisi lembut Siti Hafsah.

Ada filosofi menarik di balik pemilihan sudut pandang samping atau side profile ini. Secara psikologis, wajah dari samping itu menyimpan misteri yang lebih dalam dibanding kita menatap kamera langsung (direct stare). Garis rahang, lekukan hidung, hingga tatapan mata yang seolah menerawang ke satu titik tak kasat mata, bikin kita yang melihat foto ini jadi bertanya-tanya: "Lagi mikirin apa ya dia?". Inilah yang disebut kekuatan naratif dalam sebuah potret. Foto ini nggak cuma diam, tapi dia seolah-olah lagi bisik-bisik ke kita.

Kontras antara "api" dari warna merah dan "air" dari ketenangan raut wajah Siti Hafsah menciptakan sebuah harmoni yang seimbang. Ini teknik tingkat lanjut, Sob. Menggunakan warna yang keras untuk mengemas keanggunan. Ditambah lagi dengan pemanfaatan cahaya yang pas, sehingga meskipun latar belakangnya "berteriak", fokus mata kita tetap nggak bisa lepas dari subjek utamanya.

Buat Sobat yang baru belajar fotografi potret, karya Siti Hafsah dan Arsya ini bisa jadi pelajaran berharga. Jangan takut tabrak warna! Jangan takut mencoba sudut yang nggak biasa. Fotografi itu bukan cuma soal alat yang mahal, tapi soal gimana kita bisa "merasakan" momen sebelum kita menekan tombol shutter. Karena pada akhirnya, potret yang paling berkesan bukan yang paling jernih gambarnya, tapi yang paling jujur ceritanya. Selamat berkarya dan teruslah mencari "nyawa" di setiap jepretan kalian!

Demikianlah ulasan singkat kali ini, semoga Sobat dapat terhibur karenanya.

Akhir kata, tetap sehat, tetap semangat, dan jangan pernah berhenti memotret.

Artikel oleh: Tuntas Trisunu

Kamis, 24 Maret 2016

Spot Fotografi - Toko Merah - Kota Tua - Jakarta



Ciledug, Tangerang, Banten, Sabtu, 24 Maret 2016

Artikel kali ini adalah tentang salah satu spot fotografi di Jakarta (tepatnya di daerah Kota Tua), yang juga sekaligus tempat yang sangat bersejarah....."Toko Merah".

Kalo sohib-sohib sering mampir pakansi atawe jalan-jalan ke daerah kota tua, udah pasti pernah ngeliat bangunan ini!
Yup, sebuah bangunan yang punya arsitektur lumayan unik, terletak di jalan Kali besar barat dan punya cat eksterior yang "ngejreng" alias menyala-nyala!

Dan bangunan ini sering banget dijadiin lokasi untuk foto, karena selain unik, juga tempatnya ga terlalu jauh dari pusat kota.

Tapi, siapa nyana, ternyata bangunan ini punya sejarah kelam di suatu masa di "Tempo Doeloe" (setidaknya menurut beberapa versi!), berikut penuturan saya secara lugas dan sama sekali tidak mendalam, silahkan dibaca:    


Toko Merah: Menelusuri Labirin Sejarah dan Estetika Visual di Jantung Batavia


Jakarta, atau yang dahulu kita kenal sebagai Batavia, adalah sebuah kota yang dibangun di atas tumpukan narasi. Di setiap sudut jalanannya, selalu ada cerita yang bersembunyi di balik dinding-dinding kusam atau pilar-pilar beton yang kokoh. Namun, jika ada satu bangunan yang paling mampu mencuri perhatian mata sekaligus memancing rasa penasaran intelektual kita, bangunan itu pastilah Toko Merah.

Berdiri angkuh di tepi Kali Besar Barat, Kota Tua, Toko Merah bukan sekadar bangunan tua dengan cat yang mencolok. Ia adalah saksi bisu dari pasang surutnya kekuasaan kolonial, pusat perdagangan dunia, hingga tragedi kemanusiaan yang pernah mewarnai air Kali Besar menjadi merah hati. Bagi seorang pengamat sejarah dan pencinta fotografi, Toko Merah adalah "Holy Grail" yang menawarkan perpaduan sempurna antara arsitektur Barok abad ke-18 dan misteri masa lalu yang belum sepenuhnya terungkap.


Jejak Ambisi Van Imhoff dan Arsitektur Barok Abad ke-18


Kisah Toko Merah bermula pada tahun 1730. Bayangkan suasana Batavia saat itu: sebuah kota kanal yang sibuk, berdebu, namun penuh dengan ambisi ekonomi VOC. Bangunan megah ini didirikan oleh Gustaaf Willem van Imhoff, seorang tokoh yang kelak menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Di atas lahan seluas hampir 2.500 meter persegi, Van Imhoff membangun rumah tinggal yang mencerminkan status sosialnya sebagai elit kolonial.

Secara arsitektural, Toko Merah adalah mahakarya gaya Barok Belanda awal di Nusantara. Berbeda dengan gaya Indische yang lebih terbuka pada periode berikutnya, bangunan ini memiliki ciri khas "tutup" dengan dinding-dinding bata yang sangat tebal untuk meredam panas tropis. Jendela-jendelanya tinggi menjulang, memberikan kesan vertikal yang dominan, sementara pintu-pintu kayunya yang masif dihiasi ornamen Barok yang detail. Struktur ini dirancang untuk bertahan dari zaman ke zaman, dan terbukti, hingga hari ini fondasinya masih berdiri tegak meski Jakarta telah berkali-kali diguncang perubahan zaman.


Misteri Nama "Merah" dan Tragedi Geger Pacinan 1740


Pertanyaan yang sering muncul di benak setiap pelancong adalah: mengapa disebut Toko Merah? Jawaban objektifnya sering kali merujuk pada tahun 1851, saat bangunan ini dibeli oleh seorang Kapitan Tionghoa bernama Oey Liauw Kong. Ia menjadikan bangunan ini sebagai tempat tinggal sekaligus toko, dan mengecat fasadnya dengan warna merah bata yang identik dengan budaya Tionghoa. Restorasi besar-besaran oleh Bank voor Indie pada tahun 1923 semakin mempertegas warna merah ini pada bata-bata fasadnya.

Namun, sejarah Jakarta selalu punya sisi yang lebih kelam dan "berdarah". Sejarawan dan wartawan senior almarhum Alwi Shahab sering kali mengaitkan nama merah ini dengan peristiwa Geger Pacinan (Chinezenmoord) pada Oktober 1740. Saat itu, ketegangan antara VOC dan komunitas Tionghoa meledak menjadi pembantaian massal. Kabarnya, Kali Besar yang tepat berada di depan bangunan ini berubah warna menjadi merah karena darah ribuan korban yang dibantai di area tersebut. Meskipun narasi ini lebih bersifat puitis-historis, keberadaannya menambah aura mistis yang membuat siapa pun yang memotret bangunan ini akan merasakan getaran masa lalu yang luar biasa.


Evolusi Fungsi: Dari Akademi Angkatan Laut Hingga Ruang Kreatif


Sangat jarang ada bangunan di Jakarta yang memiliki catatan sejarah fungsi seberagam Toko Merah. Pada tahun 1743 hingga 1755, bangunan ini bertransformasi menjadi Academie de Marine (Akademi Angkatan Laut) pertama di Asia. Di sini, para calon perwira laut Belanda dididik untuk menguasai samudera Nusantara.

Tak berhenti di situ, pada periode 1786 hingga 1808, Toko Merah pernah menjadi hotel kelas atas bernama Hotel de Chine. Bayangkan para pelaut dunia, pedagang rempah dari Eropa, hingga tokoh-tokoh penting seperti Kapten William Bligh yang legendaris, pernah berjalan di atas lantai kayu bangunan ini. Kemudian, fungsinya bergeser lagi menjadi kantor perbankan (Bank voor Indie) pada awal abad ke-20, markas perusahaan dagang PT PPI setelah kemerdekaan, hingga akhirnya kini menjadi ruang publik berupa cafe dan tempat pameran kreatif. Kemampuan bangunan ini untuk terus "beradaptasi" dengan kebutuhan zaman tanpa kehilangan identitas aslinya adalah sebuah keajaiban preservasi.


Fotografi: Menangkap Jiwa Toko Merah Melalui Lensa


Bagi Sobat pencinta fotografi, Toko Merah adalah subjek yang "dahsyat". Warna merahnya yang kontras dengan langit biru Jakarta atau cahaya jingga di sore hari menciptakan komposisi warna yang sulit dicari tandingannya. Namun, memotret Toko Merah membutuhkan teknik dan insting yang tajam.

1. Golden Hour dan Tekstur Bata
Waktu terbaik untuk memotret fasad Toko Merah adalah pukul 16.00 hingga 18.00 WIB. Cahaya matahari sore yang miring akan menonjolkan tekstur bata merah dan detail ukiran kayu pada jendela. Efek bayangan yang dihasilkan memberikan dimensi kedalaman yang dramatis, membuat bangunan tampak lebih "bercerita".

2. Strategi Lensa: Wide vs. Prime
Jalan di depan Toko Merah tidaklah terlalu lebar. Jika Sobat ingin menangkap kemegahan fasad secara utuh, lensa wide angle (16mm hingga 24mm) adalah kewajiban. Namun, jika Sobat ingin menangkap detail-detail Barok pada bingkai jendela atau ornamen pintu, lensa prime (50mm atau 85mm) dengan bukaan lebar akan memberikan isolasi objek yang sangat cantik dengan latar belakang blur yang creamy.

3. Simetri dan Komposisi
Fasad Toko Merah dirancang dengan prinsip simetri yang kuat. Cobalah berdiri tepat di garis tengah bangunan atau dari seberang Kali Besar. Gunakan garis-garis jendela sebagai panduan komposisi (leading lines) untuk menarik mata pembaca ke pusat bangunan. Jangan lupa untuk memasukkan elemen air Kali Besar jika memungkinkan, sebagai refleksi sejarah masa lalu Batavia yang tak terpisahkan dari sungai ini.

4. Eksplorasi Interior
Jika Sobat beruntung bisa masuk ke dalam, jangan lewatkan tangga kayu besarnya yang legendaris. Tangga ini adalah salah satu artefak Barok terbaik di Jakarta. Gunakan teknik low light untuk menangkap aura misterius di dalam ruangan yang luas dengan langit-langit tinggi. Cahaya yang masuk dari jendela-jendela tinggi akan menciptakan berkas cahaya (god rays) yang sangat sinematik.


Penutup: Mengabadikan Warisan yang Tersisa


Mengunjungi Toko Merah bukan sekadar melakukan perjalanan wisata, melainkan sebuah ziarah budaya. Di tengah modernitas Jakarta yang dipenuhi gedung kaca pencakar langit, Toko Merah berdiri sebagai pengingat bahwa kita punya akar sejarah yang sangat dalam dan kompleks. Melalui tulisan dan foto, kita sedang membantu menjaga narasi bangunan ini agar tidak hilang ditelan zaman atau sekadar menjadi latar belakang swafoto tanpa makna.

Jadi, bagi Sobat semua yang sedang merencanakan jalan-jalan ke Kota Tua, sempatkanlah berhenti sejenak di depan Toko Merah. Rasakan hembusan angin dari Kali Besar, perhatikan detail bata merahnya, dan biarkan imajinasi Anda terbang kembali ke abad ke-18. Ambil kamera Anda, cari sudut pandang terbaik, dan mari kita terus mengabadikan setiap jengkal sejarah yang masih tersisa ini. Karena pada akhirnya, sebuah foto yang bagus adalah foto yang mampu membuat orang lain ingin tahu lebih dalam tentang apa yang ada di balik objek tersebut.

Selamat berkarya, salam jepret, dan mari terus mencintai sejarah kota kita!

Demikian ya sob, penuturan tentang sejarah Toko Merah dalam bahasa saya, Semoga dapat bermanfaat....(semoga lho ya!, kalau nggak, ya udah...baca aja!)

Selasa, 22 Maret 2016

Urban Street Warrior (Experiment Photography)



Ciledug, Tangerang, Banten, Selasa, 22 Maret 2016

Kali ini, yang akan kita ulas adalah satu genre foto yang bisa digolongkan ke dalam "experiment photography", alias fotografi eksperimen. 

Kenapa disebut sebagai fotografi eksperimen?

Disebut sebagai fotografi eksperimen karena memang foto-foto ini menerapkan beberapa teknik serta mengkombinasikan beberapa genre yang ada dalam fotografi. Belum lagi, baik FG maupun Tallent yang ada dalam frame ini seakan "All Out" untuk mewujudkan foto yang luar biasa.

Kalau boleh jujur, saya tak terlalu mengerti tentang genre yang satu ini (mungkin karena faktor usia yang menjadi penyebabnya), hehehehe......


Tapi, saya bisa menangkap keindahan dari foto-foto ini, keindahan yang dibalur semangat, serta refleksi dari jiwa muda yang terbungkus dalam kreativitas nyata.

Kumpulan para fotografer dan model yang mengusung photo/video dengan genre urban street..

With new ways of photo experiment......

Seluruh foto adalah kiriman dari Arieyadi Casual....(Member of Banana's Photography, Urban Street Warrior, Modeling Bekasi, Komjebar Fotografi)

Luar biasa!!!!


Catatan Pengamat: Di Balik Kabut Urban Street Warrior


Kalau diperhatikan baik-baik, deretan foto hasil keroyokan kreatif antara Arieyadi Casual, Banana’s Photography, dan Komjebar Fotografi ini aslinya seru banget, Sob. Sebagai pengamat yang cuma modal ngeliatin dari pinggir jalan, jujur aja aura yang keluar dari foto-foto ini berasa kayak lagi nonton cuplikan film action Hollywood yang nyasar di gang-gang sempit. Ada energi anak muda yang super "berisik", rebel, tapi di saat bersamaan kelihatan misterius gara-gara kombinasi topeng Anonymous dan kepulan asap warna-warni yang estetik itu.

Saya bisa membayangkan betapa "chaos" tapi serunya situasi di lokasi syuting pas pengambilan foto-foto ini. Menyalakan smoke bomb di tengah pemukiman atau gang kota itu jelas butuh mental baja dan modal muka tembok tingkat dewa, Sob! Belum lagi kalau anginnya mendadak labil—bukannya dapet efek asap yang dramatis mengelilingi model, yang ada malah FG (Fotografer) dan talent-nya terbengek-bengek berjamaah gara-gara kelilipan asap belerang. Mana durasi smoke bomb itu kan cuma hitungan detik, jadi kejar-kejaran sama waktu itu udah pasti bikin jantungan. Kalau telat jepret sedikit aja, ya wassalam, modal kupon asapnya hangus sia-sia, hehehe.

Tapi di situlah letak mahalnya eksperimen ini. Sosok "Urban Street Warrior" yang berdiri sok cool di dalam foto itu seolah-olah pengen bilang kalau kreativitas anak muda itu nggak bisa dikurung di dalam studio foto yang adem dan rapi. Topeng yang dipakai itu juga bukan buat gaya-gayaan doang atau karena mereka lagi buron, melainkan simbol kalau siapa saja bisa jadi "pejuang" di belantara beton kota ini. Mereka bertarung bukan pakai otot atau senjata tajam, tapi pakai kamera, lensa, dan ide gila yang berani dieksekusi langsung di lapangan.

Melihat kontrasnya asap warna-warni yang mencolok bersanding dengan dinding kusam penuh coretan kusam di belakangnya, sang pengamat cuma bisa geleng-geleng kepala sambil bilang: "Luar biasa!". Kolaborasi ini sukses membuktikan kalau gerombolan anak muda yang kepalanya "agak miring" kreativitasnya ini kalau dikumpulin jadi satu, hasilnya nggak bakal kaleng-kaleng. Nggak butuh properti mewah miliaran rupiah, modal gang sempit dan beberapa kaleng asap aja udah bisa mengubah sudut kota yang biasa banget jadi mahakarya visual yang dahsyat!

Artikel ini diadaptasi dan ditulis oleh: Tuntas Trisunu

Sabtu, 19 Maret 2016

Tips Fotografi - Bagaimana Membuat Foto Bokeh Yang Creamy!



Ciledug, Tangerang, Banten, Sabtu, 19 Maret 2016


Menyambung artikel postingan sebelumnya, yaitu tentang foto bokeh, ini adalah episode lanjutan untuk episode sebelumnya (sinetron kali….pake episode lanjutan!)

Salah satu perbedaan utama antara indera mata dan lensa kamera anda adalah bahwa mata memiliki Depth Of Field (DOF) hampir tanpa batas sementara lensa terbatas, ini membawa konsekuensi bahwa bidang fokus lensa tidaklah seluas mata. Dan fotografer yang dulu-dulu (buset, kesannya lama bingitz!) berhasil memanfaatkan hal ini, menjadi aliran alias genre alias tipe alias jenis alias…..(lah….kaga kelar-kelar nih!) style foto yang disebut dengan “Bokeh”!

Bokeh aslinya adalah kata dalam bahasa tangerang….eits….salah ketik….bahasa Jepang yang berarti ‘menjadi kabur’, jadi foto bokeh adalah karakteristik foto yang menonjolkan sebuah oyek utama yang fokusnya sangat tajam sementara latar belakang (dan atau depan) yang sangat kabur, atau dalam bahasa Inggris selective focusing (cie….pake bahasa inggris cuy…). 

Dalam contoh foto cantik diatas adalah contoh foto bokeh yang nyam-nyam alias creamy, obyek utama muka model amatlah tajam, namun latar belakang menjadi tampak amat kabur (blur). Nah, sifat kabur inilah yang disebut bokeh. Bagaimana caranya supaya kita bisa menghasilkan foto bokeh yang seperti ini. Berikut yang bisa anda lakukan:


1. Pilih mode manual atau Aperture Priority

2. Pilih setting Apertura atau aperture sebesar mungkin.

Lihat tulisan f/x di lensa anda, semakin kecil x, semakin besar aperture dan semakin sempit bidang fokusnya

3. Pikirkan tentang faktor jarak, yakni jarak di depan dan di belakang bidang obyek.

Misalnya anda berdiri 1 meter didepan teman (jarak depan = 1 meter) dan anda menjatuhkan titik fokus lensa pada mukanya. Teman anda berdiri sekitar 10 meter dari background terdekat (jarak belakang = 10 meter), maka background ini akan terlihat sangat kabur. Intinya, semakin kecil jarak depan (jarak antara lensa dan obyek) dan semakin besar jarak belakang (jarak antara obyek dan background) semakin kabur backgorund anda.

4. Banyak berlatih dan usahakan anda membeli lensa dengan kemampuan aperture sebesar mungkin.

Tip: Jika anda memang menyukai bokeh, lensa non-zoom dengan aperture super besar adalah cara tercepat mendapat bokeh (misal: 85mm f/1.8 & 50mm f/1.8, dua lensa ini adalah lensa super cepat dan super murah juga penghasil bokeh yang luar biasa)

Demikianlah sobat jepret, 4 Tips yang bisa diterapkan untuk dapat menghasilkan foto bokeh yang creamy! Untuk lebih lengkapnya, dapat sobat lihat di artikel saya yang lain, yaitu: "6 tips untuk menghasilkan foto bokeh"


Bonus Coretan: Menikmati "Luluhan" Latar Belakang


Sembari Sobat jepret sekalian melihat-lihat contoh foto yang sudah saya pajang, ada satu rahasia kecil yang mau saya bagi. Membuat foto bokeh yang creamy itu sebenarnya mirip seperti membuat kopi susu yang pas susunya—butuh kelembutan yang pas, nggak bikin pusing, dan bikin betah dipandang berlama-lama. Latar belakang yang tadinya berantakan, penuh jemuran tetangga, atau riuh oleh lalu lalang kendaraan di jalanan Ciledug, mendadak bisa disulap jadi hamparan warna-warni yang meleleh halus mirip es krim kena matahari siang bolong.

Keindahan emosional inilah yang bikin genre selective focusing ini nggak pernah ada matinya. Ketika warna-warni di belakang subjek meluruh total, mata orang yang melihat foto kita dipaksa untuk langsung tertuju dan jatuh cinta pada detail objek utamanya. Entah itu kilat di bola mata sang model, helaian rambutnya, atau ekspresi tulus yang berhasil kita "jebak" di dalam frame kamera.

Memang sih, punya lensa prime bukaan f/1.8 atau bahkan f/1.4 bakal mempermudah hidup kita sebagai pemburu bokeh tulen. Tapi kalau modal lagi pas-pasan, jangan berkecil hati dulu, Sob! Maksimalkan trik nomor 3 yang sudah saya jabarkan di atas: suruh model yang mau Sobat jepret untuk maju mendekat ke arah lensa, lalu pastikan latar belakangnya sejauh mungkin di belakang dia. Dengan modal formula jarak itu, lensa standar bawaan pabrik pun dijamin sudah bisa menghasilkan bokeh yang lumayan bikin dahi teman tongkrongan Sobat mengkerut kagum. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, ambil senjata (baca: kamera) kalian, set bukaan lensa ke posisi paling mentok kiri, dan mari kita mulai petualangan berburu latar belakang yang super creamy!

Jumat, 18 Maret 2016

Asal mula nama "Glodok"


Berikut ini postingan edisi...."Djakarta Tempo Doeloe"

Asal kata nama daerah Glodok :

ada banyak sumber ya sob....berikut ini akan dijelaskan panjang kali lebar untuk beberapa versi (boleh petik dari net!)

1. Versi Wikipedia : 

Kata Glodok berasal dari Bahasa Sunda "Golodog". Golodog berarti pintu masuk rumah, karena Sunda Kalapa (Jakarta) merupakan pintu masuk ke kerajaan Sunda. Karena sebelum dikuasai Belanda yang membawa para pekerja dari berbagai daerah dan menjadi Betawi atau Batavia, Sunda Kelapa dihuni oleh orang Sunda. Perubahan 'G' jadi 'K' di belakang sering ditemukan pada kata-kata Sunda yg dieja oleh orang non-Sunda, terutama suku Jawa dan Melayu yang kemudian banyak menghuni Jakarta. Sampai saat ini di Jakarta masih banyak ditemui nama daerah yang berasal dari Bahasa Sunda meski dengan ejaan yang telah sedikit berubah.

Nama Glodok juga berasal dari suara air pancuran dari sebuah gedung kecil persegi delapan di tengah-tengah halaman gedung Balai Kota (Stadhuis) – pusat pemerintahan Kompeni (atawe Belande) di kota Batavia. 
Gedung persegi delapan ini, dibangun sekitar tahun 1743 dan sempat dirubuhkan sebelum dibangun kembali tahun 1972, banyak membantu serdadu Kumpeni Belanda karena di situlah mengalir air bersih yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. 



Tak cuma bagi serdadu Kumpeni Belanda tapi juga dimanfaatkan minum bagi kuda-kuda serdadu usai mengadakan perjalanan jauh. Bunyi air pancurannya grojok..grojok..grojok. Sehingga kemudian bunyi yang bersumber dari gedung kecil persegi delapan itu dieja penduduk pribumi sebagai Glodok.
Dari nama ”pancuran” akhirnya menjadi nama sebuah daerah yang kini dikenal sebagai Pancoran atau orang di kawasan Jakarta Kota menyebutnya dengan istilah ”Glodok Pancoran”. Hingga kini kedua nama yakni Glodok dan Glodok Pancoran masih akrab di telinga orang Jakarta, bahkan hingga ke luar Jakarta.

Glodok adalah salah satu bagian dari kota lama Jakarta. Sejak masa pemerintahan Hindie Belande, daerah ini juga dikenal sebagai Pecinan terbesar di Batavia. Mayoritas warga Glodok merupakan keturunan Tionghoa. Pada masa kini Glodok dikenal sebagai salah satu sentra penjualan elektronik di Jakarta, Indonesia. Secara administratif, daerah ini merupakan Kelurahan yang termasuk dalam wilayah kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.   
   

2. Versi berbagai sumber : 

versi 1. 
Glodok yang berlokasi di Jakarta Barat misalnya, berasal dari kata gerojok yang merupakan sebutan dari bunyi air yang jatuh dari pancuran air. Dahulu, di tempat itu ada semacam waduk penampungan air Sungai Ciliwung. 
Namun, orang Tionghoa dan keturunannya sulit menyebut kata gerojok. Mereka sering menyebutnya glodok hingga kawasan tersebut dikenal dengan sebutan glodok.



3. Versi Kompassiana : 

JAKARTA TEMPO DOELOE
Jejak masa lampau Jakarta sulit dilacak keberadaannya. Melalui beberapa situs sejarah yang lolos dari "kebiadaban" masa kini lah masa lampau itu dapat terungkap. 

Salah satu ciri khas yang umum terdapat di setiap sejarah suatu kota adalah terdapatnya pemukiman Tionghoa atau biasa disebut Pecinan (China Town) di kota itu. Kawasan Pecinan, dalam sejarahnya selalu menjadi penopang sekaligus jantung yang menggerakan detak perekonomian. Tak heran, jika Pecinan terdapat hampir di berbagai kota besar di Dunia, termasuk Jakarta. 

Kini, etnis Tionghoa telah menjadi ciri sekaligus jiwa yang mewarnai sejarah kebudayaan dari kota ini. PECINAN JAKARTA, Pusat Ekonomi dan Akulturasi Budaya Jauh sebelum Belanda membangun Batavia (kini Jakarta) tahun 1619, orang-orang Cina sudah tinggal di sebelah Timur muara Ciliwung tidak jauh dari pelabuhan itu. Mereka menjual arak, beras dan kebutuhan lainnya termasuk air minum bagi para pendatang yang singgah di pelabuhan. 



Namun, ketika Belanda membangun loji di tempat itu mereka pun diusir. Baru, setelah terjadinya Pembantaian Orang Tionghoa di Batavia (9 Oktober 1740), orang-orang Tionghoa ditempatkan di kawasan Glodok yang tidak jauh dari 'Stadhuis' (kini Museum Fatahillah) dengan maksud agar mudah diawasi. 

Di Pecinan Glodok dan sekitarnya tempo doeloe konglomerat Khouw pernah berjaya; ribuan orang China juga pernah dibantai; perayaan Imlek; semarak Cap Go Meh; nostalgia Peh Cun, panasnya perjudian dan madat, serta aktivitas perdagangan dan perekonomian yang terus bergelora. Jejak-jejak itu, kendati terus memudar, masih tetap terasa kental. Walau sempat di kekang puluhan tahun, kini etnis yang mendarah menjadi daging dari suku Betawi ini tengah merayakan Imlek dan Cap Go Meh. 

Aksara China, bahasa Mandarin, berbagai pertunjukan tradisi lama Tionghoa pun semakin semarak. Sejak dulu, kawasan Glodok memiliki potensi dan letak yang strategis, maka tak aneh jika mendorong banyak orang mengadu nasib. Tak hanya orang China, orang Eropa, dan kaum pribumi pun banyak tumpah ruah di Glodok. 

Saat ini, orang Betawi (dari kata Batavia) yang belakangan muncul pada abad ke-19 sebagai suku tersendiri merupakan akulturasi dari banyak budaya itu. Glodok kini, bukan hanya dikenal sebagai pusat perdagangan elektronik. Wilayah perekonomian yang tak henti berdenyut ini bukan pula sekedar kawasan yang identik sebagai Pecinan saja. Karena dalam sejarah kontemporer Jakarta, glodok memiliki banyak arti: perjuangan kaum imigran, kejayaan, keterpurukan dan perlawanan terhadap nasib dan penindasan. Ini berlaku bagi siapa saja yang tinggal di Glodok dan sekitarnya. 



PECINAN TIDAK HANYA DI GLODOK Sesungguhnya, kawasan Pecinan di Jakarta tidak saja identik dengan Asemka, Glodok, Pancoran dan Petak Sembilan. Karena dalam sejarah Jakarta, kawasan lain sebagai Pecinan banyak bermuculan setelah pusat kota Batavia dipindahkan ke Weltevreden (kini Monas dan Lapangan Banteng) diawal abad ke-19. Kawasan -kawasan lain sebagai Pecinan itu misalnya terdapat di Passer Baroe, Meester Cornelis Senen (Jatinegara), Pasar Senen; Pasar Tanah Abang, dsb. 

Di setiap kawasan tersebut hingga saat ini masih dapat kita temui jejak sejarah Tionghoa yang unik dan menarik untuk ditelusuri. - Pancoran dan Glodok Nama 'pancoran' berasal dari pancuran air yang terbuat dari bambu. Dahulu, di Glodok memang terdapat sumber air yang mampu memenuhi kebutuhan air minum masyarakat Kota Batavia. Air dari Pancoran di alirkan ke taman Fatahillah menggunakan pipa tanah liat. Pipa ini sempat dipotong dan dihancurkan oleh Pemda DKI demi pembuatan Tunel yang menghubungkan Stasiun BeOS dan Museum Bank Mandiri pada tahun 2006 lalu. Di tengah taman Fatahillah kemudian dibuat tempat minum kuda dan masyarakat (1873). Alat itu menyerupai kubah Museum Fatahillah. 



Sedangkan nama 'glodok' berasal dari suara air yang berbunyi 'grojok-grojok' kemudian lidahnya kepleset menjadi 'glodok.' Versi lain menyebutkan bahwa glodok berasal dari grobak pengangkut air tersebut yang bernama "golodok." Sebagai kawasan pecinan, Pancoran -Glodok merupakan kawasan paling padat dan ramai. Beberapa bangunan bergaya Tionghoa masih terdapat di sini. Namun, jumlahnya sangat sedikit karena banyak yang dihancurkan oleh pemiliknya. 

Antara lain yang masih selamat: Kelenteng Jin de Juan; Gereja Santa Maria de Fatima; dan Kelenteng Toa Sai Bio. - Passer Pagi Lama -Asemka Pasar Pagi Lama terletak di Asemka, tepatnya di belakang Museum Bank Mandiri. Di sini lah pusat grosir terbesar Indonesia yang menjual berbagai jenis barang murah dari kelontong hingga asesoris. Sebagai Pecinan, di sini juga tentunya banyak terdapat rumah bergaya Tionghoa. Ciri umum rumah Tionghoa adalah di bawah toko, di atas sebagai tempat tinggal (ruko, rumah dan toko). Ada juga yang hanya satu lantai saja. 



Sayang, rumah-rumah itu kini banyak yang didiamkan, dihancurkan pemiliknya, ditiban dengan bangunan baru atau sama sekali dihancurkan. Para pedagang asongan kereta jalur Kota-Bogor, Kota-Cikampek, dan Kota-Merak biasanya berbelanja di sini. Pedagang asongan bis-bis antar kota juga demikian. 

Jika Anda tertarik untuk berjualan, tempat ini sangatlah tepat. Bayangkan saja harga 1 buah ballpoint yang dijual di bis/kereta dengan harga Rp. 1000,-/buah, di sini dibeli dengan harga bisa sampai Rp. 250/buah. Tentunya harus membeli dalam jumlah yang banyak. 



- Jl. Perniagaan dan Rumah Keluarga Souw Di sebelah Selatan Pasar Pagi Lama, terdapat Jl. Perniagaan, jalan ini dahulu disebut Jl. Patekoan. Konon, nama Patekoan berarti '8 buah teko/poci' (pat te-koan). Di daerah ini pernah tinggal seorang Kapiten Cina Gan Djie (1663-1675). Istrinya yang berjiwa sosial, setiap hari menyediakan 8 buah teko (poci) berisi air teh. Angka 8 sengaja dipilih sebab angka ini mempunyai konotasi baik atau 'hoki.' Dahulu belum banyak orang yang berjualan makanan dan minuman, jadi bagi pejalan kaki yang kelelahan/kehausan dipersilahkan minum air teh yang disediakan. Jl. Patekoan kini dinamankan Jl. Perniagaan yang sama sekali tidak mengandung makna apa-apa, selain bisnis. 

Masih dari jalan perniagaan, terdapat rumah tua milik keluarga Souw. Keluarga Tionghoa ini dahulu terkenal sangat kaya-raya. Salah satunya adalah kakak-beradik Souw Siauw Tjong dan Souw Siauw Keng. Souw Siauw Tjong selain orang kaya dia berjiwa sosial. Ia mendirikan sekolah-sekolah bagi anak-anak boemipoetra di tanah miliknya, membantu orang-orang miskin, menyumbangkan makanan dan bahan bangunan ketika terjadi kebakaran. Maka, Tjong diberikan gelar luitenant titulair (kehormatan) oleh pemerintah Hindia Belanda pada Mei 1877. Namanya juga tercantum sebagai donor pada pemugaran Kelenteng Boen Tek Bio Tanggeang 1875 dan Kelenteng Kim Tek Ie (kini Jin de Juan) Batavia tahun 1890. 



Sedangkan Souw Siauw Keng (1849-1917) diangkat menjadi luitenant der Chineezen di Tangerang tahun 1884. Beberapa meter dari rumah besar Keluarga Souw, terdapat bangunan yang kini menjadi sekolah SMAN 19 Jakarta. Di kalangan anak-anak Kota, sekolah ini sangat populer dengan sebutan cap-kau, artinya "sembilan belas". Gedungnya sangat bersejarah, sebab di tempat inilah pertama kali berdiri sebuah organisasi Tionghoa "modern" di kota Batavia, bahkan di Hindia Belanda. 

Pada 17 Maret 1900 berdiri perhimpunan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK). Tahun berikutnya THHK mendirikan sekolah modern pertama yang disebut Tiong Hoa Hak Tong disusul pembukaan cabang-cabang lain di seluruh Hindia Belanda. Berdirinya sekolah-sekolah ini merupakan reaksi masyarakat Tionghoa terhadap pemerintah Belanda yang selama itu tidak pernah meberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. 

Akibat perkembangan yang sangat pesat, pemerintah kolonial Belanda, yang khawatir anak-anak Tionghoa akan "tersedot" semua ke sekolah yang dibentuk THHK itu, serta-merta Belanda mendirikan Hollandsch Chineesche School (HCS), yaitu sekolah berbahasa Belanda bagi anak-anak Tionghoa. Pada 1965, THHT yang di Jl. Patekoan itu di tutup oleh pemerintah Orde Baru dan bangunannya diambil alih menjadi sekolah pemerintah dengan nama SMAN 19 Jakarta. - 



Kawasan Elit Mangga Dua Wilayah Mangga Dua berada di luar benteng kota Batavia, merupakan wilayah penempatan bagi pemukiman pribumi kelompok etnis. Posisinya sebelah tenggara Kasteel Batavia. Wilayah ini menjadi lahan pertanian bagi keperluan Kasteel Batavia. Dalam perkembangan berikutnya, banyak pejabat VOC Belanda dan orang kaya Eropa yang memilih membangun bungalow di daerah ini. Salah satu yang terkenal adalah Pieter Erberveld yang memiliki tanah luas di Mangga Dua. 

Di pojok tenggara Kasteel Batavia terdapat tempat hiburan yang disebut dengan Macao Pho, di sini banyak wanita penghibur yang didatangkan dari Macao/ daratan Cina untuk menghibur para pelaut yang datang bersampan melewati Ciliwung yang menghubungkan Jassenberg (jembatan Jassen) dengan pelabuhan. 

Ada tempat hiburan ada juga tempat ibadah. Maka, di sini juga terdapat Gereja Sion bagi orang-orang Portugis tawanan VOC Belanda yang dimerdekakan karena pindah anutan dari Katholik menjadi Protestan (kaum mardijker).



Di Mangga Dua terdapat banyak peninggalan sejarah, yaitu: Mesjid Mangga Dua yang dibangun awal abad ke-20, di dalamnya terdapat makam keramat; Areal pemakaman orang-orang Tionghoa, termasuk makam Kapitein Cina pertama di Batavia, Souw Beng Kong. Ia adalah sahabat lama dari Jan Pieterzon Coen. Ketika JP. Coen menjadi Gubernur Jenderal VOC dan mulai membangun Kasteel Batavia, ia mengajak Souw Beng Kong yang berada di Banten untuk membawa masyarakat Cina bergabung di Batavia. Kemudian Souw Beng Kong datang ke Batavia dengan membawa 300 orang Cina. Maka, ia diberi pangkat Kapitein, sebuah pangkat tertinggi bagi kelompok etnis yang menjadi abdi VOC. Kelompok masyarakat lain juga diberi pangkat demikian Seperti Kapitein Arab; Kapitein Banda, Kapitein Bali; juga pangkat Mayor dan Liutenant.

Dikutp dari tulisan : ASEP KAMBALI KHI /asepkambali TERVERIFIKASI Guru sejarah keliling | Historian | Lecturer in history, museum, heritages, tourism & communication | Founder @IndoHistoria CP:081394207555 | Info lengkap id.wikipedia.org/wiki/Asep_Kambali Selengkapnya...

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/asepkambali/menelusuri-jejak-tionghoa-di-jakarta_5500c432813311c91dfa7e9c

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA