Selasa, 20 Oktober 2020

Genre Fotografi; Suatu Pilihan, Ataukah Ikut Aturan?



Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Selasa, 20 Oktober 2020

Cerita ini saya bagi jadi dua bagian, supaya Sobat tidak bosan. Ini bagian pertama.

Selamat pagi, siang, sore, dan malam, Sobat Jepret semua! Kali ini tidak ada tips atau trik. Saya mau membahas sesuatu yang diam-diam mengubah nasib kita semua: pilihan. Pilihan apa? Sabar, Sob. Jawabannya ada di bagian kedua. Di bagian pertama ini kita bernostalgia dulu, karena untuk memahami masalah hari ini, kita perlu menengok zaman ketika masalahnya masih berbentuk rol film.

Beberapa tahun terakhir, fotografi berkembang gila-gilaan. Dulu karya foto dinikmati kalangan terbatas. Sekarang siapa pun bisa memotret, memamerkan, bahkan merasa jadi maestro sebelum sempat mengenal tombol rana. Ada dua penyebab utama ledakan ini.


Penyebab Pertama: Rol Film Pensiun, Dompet Bernapas Lega


Teknologi kamera melaju kencang, dan penggunaannya ikut meluas. Rol film digeser kartu memori yang kapasitasnya makin besar.

Coba bayangkan zaman rol film. Orang berpikir seribu kali sebelum menekan shutter, karena setiap jepretan ada harganya: film harus dicuci, dicetak, dan semuanya berujung pada fulus. Satu rol hanya berisi 36 frame, dan tiap frame terasa seperti taruhan di meja judi. Menekan shutter saat itu seperti menandatangani cek, sementara tangan gemetar karena tidak tahu isi saldonya.

Lebih seram lagi kalau hasilnya jelek. Sobat sudah memotret, mencuci film, mencetak, lalu mendapati tidak ada satu pun foto yang layak dipajang. Waduh, kiamat kecil! Beli rol lagi, jepret lagi, cuci lagi. Astaga, bisa bangkrut.

Itu baru soal uang. Bagaimana kalau momennya tidak bisa diulang, seperti pernikahan atau wisuda? Masa iya fotonya jelek lalu pengantinnya disuruh menikah ulang demi sesi foto kedua? Hehehe, mustahil, kan, Sob? Apalagi kalau amplop sumbangannya sudah habis untuk katering.

Akibatnya, foto zaman itu sering kali seragam. Semua orang menghadap kamera, memasang senyum kaku, berdiri sebisa mungkin tidak bergerak, dan lampu blitz menyala apa pun kondisi cahayanya, termasuk di bawah matahari siang bolong. Yang paling khas adalah saat fotografer berteriak kepada rombongan: "Siap, ya! Satu... dua... tiga... bilang trasi!" Lalu klik. Berkat sejenis bumbu dapur, terciptalah senyum terpaksa yang tersimpan di album keluarga puluhan tahun dan siap dipamerkan kepada calon menantu.

Foto keluarga zaman itu punya formula pasti: tiga kali jepret, satu orang matanya terpejam, dan fotonya tetap dicetak karena sayang filmnya. Mata terpejam itu akhirnya resmi jadi anggota keluarga abadi, lengkap dengan jatah tempat di album.

Gaya nyeleneh, pose spontan, atau eksperimen cahaya umumnya hanya dilakukan fotografer bermodal, seperti fotografer majalah. Sisanya setia pada aturan dasar, kadang secara membabi buta. Foto backlight dianggap kesalahan fatal, nyaris masuk daftar haram. Aturan sepertiga (rule of thirds) sering dikesampingkan kalau yang dipotret adalah orang. Aturan emasnya cuma satu: semua orang harus muat di dalam frame. Kepala terpotong? Siap-siap diomeli satu keluarga besar, termasuk om yang tidak ikut difoto.


Penyebab Kedua: Kartu Memori Segede Upil


Zaman berubah. Hampir setiap ponsel pintar punya kamera, dari yang resolusinya sekadar ada sampai yang megapikselnya bikin mata terbelalak. Itu baru kameranya. Soal penyimpanan, lebih ngeri lagi.

Dulu penyimpanan terbentur dimensi fisik: rol, album, kotak negatif yang beratnya bisa dipakai menimpuk maling. Sekarang semuanya digital. Kartu memori sebesar upil bisa menyimpan ribuan foto. Ribuan! Dulu satu rol dijatah seperti beras di akhir bulan, kini satu kartu sanggup memuat seluruh hidup Sobat, termasuk lima puluh jepretan nasi goreng dari sudut yang nyaris sama, yang akhirnya dihapus semua karena "kok kurang estetik".


Mendadak Fotografer, Mendadak Model


Alhasil, banyak orang mendadak jadi fotografer, semudah memasak mi instan. Banyak pula yang mendadak jadi model dengan beragam gaya, dari bibir manyun sampai jari membentuk huruf V. Dan yang paling canggih adalah mereka yang jadi model sekaligus fotografer dalam satu waktu. Ya, selfie. Satu tangan memegang kamera, satu tangan mengatur pose, dan seluruh jiwa memohon pencahayaan yang tepat.

Efeknya jelas: dunia jeprat-jepret makin liar dan meroket ke angkasa. Jutaan foto lahir setiap hari dalam beragam genre dan jenis, sampai pencinta fotografi sempoyongan. Sebagian karena kagum, sebagian lagi karena gumoh, seperti orang yang diajak prasmanan seribu menu tapi baru sadar perutnya cuma satu.

Tapi Tunggu Dulu...

Sekarang coba hitung, Sob. Rol film sudah pensiun. Biaya cuci cetak sudah lenyap. Kartu memori sebesar upil menampung seribu foto. Semua hambatan runtuh. Seharusnya semua fotografer hidup bahagia dan memotret sambil bersiul.

Kenyataannya? Banyak fotografer justru pusing tujuh keliling. Bukan karena rol film, bukan karena dompet. Pusing mereka datang dari arah yang tak terbayangkan di zaman "bilang trasi": dari laci-laci bernama genre, dan dari para penjaga gerbangnya yang galaknya melebihi om yang kepalanya terpotong di foto keluarga.

Bagaimana ceritanya hobi yang sudah dimudahkan teknologi justru berubah jadi medan perang? Siapkan kopi, Sob. Kita lanjutkan di bagian kedua. Sementara itu, coba hitung berapa foto nasi goreng yang masih bersemayam di galeri ponsel Sobat.

Salam jepret selalu!

Selasa, 13 Oktober 2020

5 Aliran Fotografi yang bisa Sobat lakukan di rumah (Semoga Pendemi ini cepat berlalu !)



Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Selasa, 13 Oktober 2020

Catatan arsip: tulisan ini dibuat saat PSBB dan pandemi Covid-19 masih membatasi gerak kita. Kamera menganggur, tapi hasrat memotret menolak ikut libur. Tips di bawah tetap berlaku kapan saja, terutama saat hujan deras atau saat rasa malas keluar rumah sedang menang telak.

Bagi sebagian orang, memotret adalah cara paling murah untuk bahagia. Biasanya sasarannya pemandangan alam, favorit sejuta umat. Masalahnya, saat ini gunung dan pantai sedang tidak bisa dikunjungi, dan Covid-19 siap mengintai siapa pun yang nekat keluar rumah demi sunset.

Lalu bagaimana nasib hasrat memotret yang masih bergelora? Tenang, Sob. Fotografi tidak ikut dikarantina. Ada banyak aliran yang bisa Sobat jalani dari ruang tamu, dapur, bahkan kamar mandi (kalau pencahayaannya mendukung). Ini lima di antaranya.


1. Foto Still Life


Still life adalah aliran yang memotret benda-benda mati dan menampilkan detailnya hingga tampak menarik. Benda mati, ya, Sob. Bukan kucing mati, apalagi orang mati. Tolong jangan salah tafsir lalu berkreasi yang aneh-aneh.

Modalnya cuma tiga: meja, lampu belajar, dan kamera. Lampu belajar yang biasanya jadi saksi bisu tugas yang ditunda sekarang naik pangkat jadi lampu studio. Untuk objeknya, ambil apa saja yang ada di rumah: kunci motor, kacamata, sendok, pot tanaman, atau gelas kopi yang tinggal ampasnya. Atur posisinya, mainkan arah cahaya, dan lihat bagaimana benda yang tiap hari Sobat abaikan mendadak tampil seperti bintang katalog.


2. Foto Makanan


Semua orang sudah sering memotret makanan. Artinya, secara teknis semua orang sudah berpengalaman dalam makan... eh, maksudnya memotret makanan. Bedanya, fotografer yang baik tahu bahwa nasi goreng yang sudah dingin itu pengorbanan, bukan kerugian.

Aliran ini sering dipakai untuk foto komersial yang mempromosikan hidangan, dan peralatannya sama dengan still life. Tambahan tipsnya: letakkan piring dekat jendela supaya mendapat cahaya alami, pakai piring yang bersih (noda saus lama tidak ikut menambah cita rasa), dan beri satu hiasan kecil seperti daun atau taburan bumbu. Tidak perlu sampai mencuri peran koki, yang penting jangan ada sendok bekas gigitan di pojok bingkai.

3. Foto Makro


Fotografi makro adalah memotret objek sedekat mungkin untuk menampilkan detail kecil yang selama ini lolos dari mata. Biasanya objeknya tumbuhan dan bunga, jadi Sobat tidak perlu pergi jauh dari teras.

Memang aliran ini idealnya memakai lensa makro khusus. Tapi kantong tipis bukan alasan menyerah. Banyak ponsel sekarang punya mode makro, ada lensa klip murah yang tinggal dijepitkan, dan pengguna kamera bisa memakai filter makro atau memasang lensa secara terbalik (reverse lens, dengan adaptor khusus). Hasilnya? Setetes embun atau sehelai bulu kucing bisa tampil seperti lanskap planet lain.


4. Foto Abstrak


Aliran abstrak mengutamakan warna dan bentuk, bukan objek yang dikenali. Intinya: foto yang membuat orang bertanya, "Ini apa, ya?" lalu menjawab sendiri, "Ah, bagus juga."

Bahannya ada di mana-mana. Susunan gelas dan piring di rak, bercak di tembok yang selama ini disangka noda, atau daun-daun tak beraturan yang ternyata berpola. Dekatkan, miringkan, dan abaikan bentuk aslinya. Tidak perlu peralatan khusus, cukup mata yang berani melihat sesuatu secara berbeda. Remah roti di meja pun, kalau difoto dari sudut yang tepat, bisa tampak seperti pegunungan di planet yang belum ditemukan.


5. Foto Selfie


Untuk yang satu ini, saya tidak akan menerangkan panjang lebar. Menurut penelitian fiktif yang baru saya karang barusan oleh "ahlinya ahli" fotografi, sebagian besar selfie TKP-nya ada di rumah. Klop, kan? Selama Sobat mendekam di rumah karena PSBB, inilah kesempatan mengasah keterampilan berfoto ria sambil menambah koleksi Instagram dan FB.

Tapi, supaya tidak sekadar pamer wajah, ada beberapa tips nyata:


  • Cari cahaya jendela. Menghadaplah ke arahnya, jangan membelakanginya, kecuali Sobat ingin tampil sebagai siluet misterius.
  • Main dengan bayangan atau pantulan, misalnya cermin, kaca jendela, atau permukaan sendok.
  • Potret diri tidak harus wajah. Tangan yang sedang memegang cangkir, bayangan di dinding, atau sepasang sandal jepit juga bisa jadi autobiografi.

Tantangan Seminggu


Supaya tidak berhenti di membaca, ini tantangan sederhana: satu foto per hari selama tujuh hari, masing-masing dari satu aliran di atas, lalu pilih yang terbaik. Dijamin, saat pandemi berlalu dan Sobat kembali bebas keluar, mata Sobat sudah lebih terlatih daripada sebelumnya.

Itulah lima aliran fotografi yang bisa Sobat coba tanpa melangkah ke luar pagar. Semoga ini sedikit menghibur kepenatan akibat terkurung, entah sampai kapan. Semoga pandemi ini cepat berlalu, ya, Sob. Aamiin.
Salam jepret selalu!

Artikel oleh: Tuntas Trisunu

Baca juga: artikel saya tentang aliran-aliran fotografi, untuk penjabaran yang lebih seimbang.