Cerita ini saya bagi jadi dua bagian, supaya Sobat tidak bosan. Ini bagian pertama.
Selamat pagi, siang, sore, dan malam, Sobat Jepret semua! Kali ini tidak ada tips atau trik. Saya mau membahas sesuatu yang diam-diam mengubah nasib kita semua: pilihan. Pilihan apa? Sabar, Sob. Jawabannya ada di bagian kedua. Di bagian pertama ini kita bernostalgia dulu, karena untuk memahami masalah hari ini, kita perlu menengok zaman ketika masalahnya masih berbentuk rol film.
Beberapa tahun terakhir, fotografi berkembang gila-gilaan. Dulu karya foto dinikmati kalangan terbatas. Sekarang siapa pun bisa memotret, memamerkan, bahkan merasa jadi maestro sebelum sempat mengenal tombol rana. Ada dua penyebab utama ledakan ini.
Penyebab Pertama: Rol Film Pensiun, Dompet Bernapas Lega
Teknologi kamera melaju kencang, dan penggunaannya ikut meluas. Rol film digeser kartu memori yang kapasitasnya makin besar.
Coba bayangkan zaman rol film. Orang berpikir seribu kali sebelum menekan shutter, karena setiap jepretan ada harganya: film harus dicuci, dicetak, dan semuanya berujung pada fulus. Satu rol hanya berisi 36 frame, dan tiap frame terasa seperti taruhan di meja judi. Menekan shutter saat itu seperti menandatangani cek, sementara tangan gemetar karena tidak tahu isi saldonya.
Lebih seram lagi kalau hasilnya jelek. Sobat sudah memotret, mencuci film, mencetak, lalu mendapati tidak ada satu pun foto yang layak dipajang. Waduh, kiamat kecil! Beli rol lagi, jepret lagi, cuci lagi. Astaga, bisa bangkrut.
Itu baru soal uang. Bagaimana kalau momennya tidak bisa diulang, seperti pernikahan atau wisuda? Masa iya fotonya jelek lalu pengantinnya disuruh menikah ulang demi sesi foto kedua? Hehehe, mustahil, kan, Sob? Apalagi kalau amplop sumbangannya sudah habis untuk katering.
Akibatnya, foto zaman itu sering kali seragam. Semua orang menghadap kamera, memasang senyum kaku, berdiri sebisa mungkin tidak bergerak, dan lampu blitz menyala apa pun kondisi cahayanya, termasuk di bawah matahari siang bolong. Yang paling khas adalah saat fotografer berteriak kepada rombongan: "Siap, ya! Satu... dua... tiga... bilang trasi!" Lalu klik. Berkat sejenis bumbu dapur, terciptalah senyum terpaksa yang tersimpan di album keluarga puluhan tahun dan siap dipamerkan kepada calon menantu.
Foto keluarga zaman itu punya formula pasti: tiga kali jepret, satu orang matanya terpejam, dan fotonya tetap dicetak karena sayang filmnya. Mata terpejam itu akhirnya resmi jadi anggota keluarga abadi, lengkap dengan jatah tempat di album.
Gaya nyeleneh, pose spontan, atau eksperimen cahaya umumnya hanya dilakukan fotografer bermodal, seperti fotografer majalah. Sisanya setia pada aturan dasar, kadang secara membabi buta. Foto backlight dianggap kesalahan fatal, nyaris masuk daftar haram. Aturan sepertiga (rule of thirds) sering dikesampingkan kalau yang dipotret adalah orang. Aturan emasnya cuma satu: semua orang harus muat di dalam frame. Kepala terpotong? Siap-siap diomeli satu keluarga besar, termasuk om yang tidak ikut difoto.
Penyebab Kedua: Kartu Memori Segede Upil
Zaman berubah. Hampir setiap ponsel pintar punya kamera, dari yang resolusinya sekadar ada sampai yang megapikselnya bikin mata terbelalak. Itu baru kameranya. Soal penyimpanan, lebih ngeri lagi.
Dulu penyimpanan terbentur dimensi fisik: rol, album, kotak negatif yang beratnya bisa dipakai menimpuk maling. Sekarang semuanya digital. Kartu memori sebesar upil bisa menyimpan ribuan foto. Ribuan! Dulu satu rol dijatah seperti beras di akhir bulan, kini satu kartu sanggup memuat seluruh hidup Sobat, termasuk lima puluh jepretan nasi goreng dari sudut yang nyaris sama, yang akhirnya dihapus semua karena "kok kurang estetik".
Mendadak Fotografer, Mendadak Model
Alhasil, banyak orang mendadak jadi fotografer, semudah memasak mi instan. Banyak pula yang mendadak jadi model dengan beragam gaya, dari bibir manyun sampai jari membentuk huruf V. Dan yang paling canggih adalah mereka yang jadi model sekaligus fotografer dalam satu waktu. Ya, selfie. Satu tangan memegang kamera, satu tangan mengatur pose, dan seluruh jiwa memohon pencahayaan yang tepat.
Efeknya jelas: dunia jeprat-jepret makin liar dan meroket ke angkasa. Jutaan foto lahir setiap hari dalam beragam genre dan jenis, sampai pencinta fotografi sempoyongan. Sebagian karena kagum, sebagian lagi karena gumoh, seperti orang yang diajak prasmanan seribu menu tapi baru sadar perutnya cuma satu.
Tapi Tunggu Dulu...
Sekarang coba hitung, Sob. Rol film sudah pensiun. Biaya cuci cetak sudah lenyap. Kartu memori sebesar upil menampung seribu foto. Semua hambatan runtuh. Seharusnya semua fotografer hidup bahagia dan memotret sambil bersiul.
Kenyataannya? Banyak fotografer justru pusing tujuh keliling. Bukan karena rol film, bukan karena dompet. Pusing mereka datang dari arah yang tak terbayangkan di zaman "bilang trasi": dari laci-laci bernama genre, dan dari para penjaga gerbangnya yang galaknya melebihi om yang kepalanya terpotong di foto keluarga.
Bagaimana ceritanya hobi yang sudah dimudahkan teknologi justru berubah jadi medan perang? Siapkan kopi, Sob. Kita lanjutkan di bagian kedua. Sementara itu, coba hitung berapa foto nasi goreng yang masih bersemayam di galeri ponsel Sobat.
Salam jepret selalu!








