Mendekatlah!
Banyak fotografer betah memotret dari "jarak nyaman". Alasannya macam-macam, tapi yang paling sering cuma satu: enggan berinteraksi dengan objeknya. Ngaku saja, Sob. Lensa tele panjang itu kadang bukan alat, melainkan benteng pertahanan bagi yang pemalu.
Padahal ada kalimat tua yang sering dikaitkan dengan Robert Capa: "Jika foto Sobat tidak cukup bagus, berarti Sobat tidak cukup dekat." Pedas, tapi sering kali benar.
Capa dan Pantai yang Tidak Ramah
Capa lahir di Budapest, Hungaria, tahun 1913, dan menjadi salah satu fotografer perang paling terkenal. Ia bekerja di zaman ketika kamera belum punya autofokus, apalagi lensa zoom yang bisa "memperpendek" jarak. Satu-satunya cara mendekat adalah benar-benar mendekat.
Contoh paling terkenal adalah pendaratan Normandia, 6 Juni 1944. Capa ikut gelombang pertama pasukan di pantai Omaha, sementara peluru berdesingan di sekitarnya. Foto-foto yang selamat dari hari itu agak buram dan bergetar, tapi justru terasa hidup. Konon, sebagian besar negatifnya rusak di kamar gelap, dan hanya segelintir frame yang tersisa. Sedikit, tapi cukup untuk dikenang puluhan tahun. Bandingkan dengan foto kita yang tajam, rapi, dan tidak menggetarkan siapa pun, kecuali kalau yang dipotret adalah diskon di toko kamera.
Zoom Itu Memotong, Bukan Mendekat
Di era sekarang, banyak orang merasa lensa zoom sudah cukup. Tunggu dulu. Ada perbedaan mendasar yang jarang dibahas: zoom hanya memotong tampilan, sedangkan melangkah mendekat mengubah perspektif. Hubungan antara latar depan dan latar belakang ikut berubah, ukuran relatif benda bergeser, dan subjek terasa "masuk" ke dalam foto. Zoom dari jauh menghasilkan foto seorang pengintai. Melangkah mendekat menghasilkan foto seorang saksi.
Dan percayalah, saksi selalu punya cerita yang lebih seru daripada pengintai.
Obat untuk yang Malu
Lalu bagaimana kalau Sobat enggan mendekati orang asing? Tenang, ada obatnya, dan tidak perlu resep dokter:
- Mulailah dengan senyum dan anggukan. Gratis, ampuh, dan tidak perlu baterai.
- Tanyakan, "Boleh saya foto, Pak?" Kebanyakan orang akan mengangguk. Sebagian bahkan langsung bergaya, dan justru itu sering jadi foto terbaik hari itu.
- Kalau ditolak, ucapkan terima kasih dan pergi. Tidak ada foto yang sebanding dengan hilangnya rasa hormat.
- Latihan dulu pada objek yang tidak bisa menolak: bunga, kucing yang pura-pura tidak peduli, atau warung kopi langganan.
Mendekat yang Waras
Satu catatan penting: contoh Capa melibatkan bahaya nyata, dan nyawa Sobat jauh lebih berharga daripada satu frame. Mendekat bukan berarti menerobos ruang pribadi orang, menyodorkan kamera tepat ke wajahnya, atau berdiri di tengah jalan demi sudut yang unik.
Dekat itu soal keberanian untuk melangkah, bukan kebodohan untuk nekat. Fotografer yang menyodorkan kamera ke wajah orang asing tanpa permisi bisa berakhir diomeli satu RT, lalu digiring ke pos satpam atau diserahkan ke Satpol PP karena dianggap mengganggu ketenteraman. Kalau mau dekat, dekatlah dengan sopan.
Keluar dan Berguling
Jadi, keluarlah bersama kamera terbaik yang Sobat miliki. Sering kali foto Sobat akan langsung membaik hanya karena Sobat melangkah lebih dekat, entah objeknya benda, hewan, tumbuhan, atau manusia. Membungkuk, merangkak, berbaring, berguling, salto, koprol, silakan, selama aman. Sobat memang mungkin dikira pingsan oleh pejalan kaki, atau dipandangi kucing yang jelas tidak setuju, tapi foto yang berbeda dan sepadan dengan jerih payah itu layak dibayar dengan sedikit rasa malu.
Dan sisi positifnya: kalau setelah semua atraksi itu fotonya tetap tidak bagus, setidaknya Sobat meraih satu gelar yang kemungkinan bertahan lama: "Orang Gila!" Percayalah, di dunia fotografi jalanan, itu bukan hinaan. Itu tanda bahwa Sobat sudah cukup dekat.
Salam jepret selalu!
Artikel oleh: Tuntas Trisunu





