Tampilkan postingan dengan label serba-serbi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label serba-serbi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Februari 2022

Hadiah Rp. 165.724.500? (Khayalan dan Obrolan Tak Jelas dari Enam Orang Fotografer yang Sudah Tak Punya Kamera) Episode Penghabisan


Pedagang Barang Loak
Pasar Kebayoran lama
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Selasa, 10 Februari 2022

Salam jumpa lagi Sobat? Apa kabar? Sama seperti yang sudah saya janjikan tempo hari, saya akan sambung artikel yang sudah saya posting sebelumnya, dan artikel ini adalah artikel penghabisan dari lima episode, dan merupakan sambungan dari artikel sebelumnya (Hadiah Rp. 165.724.500? (Khayalan dan Obrolan Tak Jelas dari Enam Orang Fotografer yang Sudah Tak Punya Kamera) Episode Keempat), dan inilah artikelnya:

"Dan rencana Saudara bagaimana, Bung Petot?" tanyaku untuk mengalihkan suasana.

"Aku? Aku cuma butuh kamera sekarang. Kamera yang bagus kwalitetnya, des perlengkapannya. Itu harganya lima puluh juta lebih yang baru, yang bekas cuma empat puluh juta. Jadi masih ada lebihnya kira-kira seratus juta lebih. Itu akan aku sewa tempat dan belikan buku-buku serta printilan properti foto.

"Buku apa yang akan Bung beli dengan uang sebanyak itu?" tanyaku. Petot tersenyum sambil memandangi saya.

"Banyak sekali yang harus kubeli Om, barangkali delapan losbak pun belum cukup."

"O, Bung mau jualan buku?" tanyaku lagi. Petot mendelik.

"Untuk perpustakaan sendiri, Om!" dijelaskan Petot dengan jengkel. 

"Tapi mana ada waktu untuk membaca itu, kalau Bung kebanyakan ada di warung ini?" tanyaku lagi, langsung membayangkan bagaimana rupa tumpukan buku sebanyak delapan losbak itu.

"Buat apa aku duduk di rumah kalau tak ada buku yang bisa dibaca. Kan lebih baik duduk-duduk di sini?" kata Petot.

"O, jadi duduk di warung kopi sama dengan duduk di rumah sambil membaca buku?" tanyaku, dengan maksud main-main saja. Tapi Petot jadi marah.

Foto Siluet
trisoenoe.com

"Aku datang ke warung kopi untuk mencari inspirasi, bukan seperti si om, bocah tua yang isi kepalanya penuh dengan rutinitas buruh saja!" katanya agak keras. Aduh, bukan main tak enak rasanya di ulu-hati. Untunglah pada saat itu datang seorang kawan lain sehingga suasana mendadak jadi berubah. Kawan itu membawa sesuatu dari kawan lainnya untuk Bedul. Kami semua menanti apa yang dititipkan kawan tersebut untuk Bedul. Dan dengan berbareng mata kami semua melotot, karena kawan kami tadi meletakkan uang sebanyak 5 juta perak di atas meja. Itulah titipan untuk Bedul. Cepat tangan Bedul menyambar uang, langsung masuk ke dalam saku dan ia segera berdiri.

"Bedul, tolonglah aku. Perlu betul untuk tutup kasbon warung makan," kata Petot. Kontan Bedul menggeleng.

"Aku sajalah Bedul, ada perlu sedikit untuk...."

"Maaf kawan-kawan, uang ini sudah pas betul, tak boleh dikurangi lagi. Apa yang mau aku kasih tebus itu sudah pas benar sebegini," jawab Bedul.

"Minum kopi dan gorengan sajalah, Bedul!" Seru Mat Jidat dan Kuncung serempak.

"Maaf, aku tak bisa." sambung si Bedul lirih.

"Apa sih yang akan kau beli?" tanya Mas Keling.

"Bukan beli, aku mau bayar tunggakan cicilan motor!" jawab Bedul perlahan. Kami berpandang-pandangan semua.

"Bayar cicilan untuk tunggakan motor, Bedul?" tanyaku kemudian. Bedul tak menjawab, ia tetap di sana. Sesaat kemudian berlalulah ia.

Kemudian hari saya baru paham. Si Bedul rupanya ada ambil cicilan motor untuk dia kerja. 

Dia mau ambil kerja ojek online....."Untuk menyambung hidup" tuturnya di saat aku bertemu dengannya di warung kopi pengkolan.

Usai sudah kemerdekaannya sebagai seorang seniman.

Bunga!
Komposisi Segi Tiga
trisoenoe.com


Catatan:

Artikel lima episode ini saya tulis dalam kondisi yang serba tak pasti dan sulit. Sudah hampir dua tahun negeri ini dihantam oleh badai covid-19. Dampaknya luar biasa, bagi banyak orang, dan termasuk juga saya. Di masa pendemi ini saya mengalami banyak sekali cobaan. 

Di bulan Februari 2021, saya terkonfirmasi Covid-19, sehingga harus menjalani isolasi mandiri di rumah. Pada saat isolasi itu juga, saya mendapat pemberitahuan bahwa kontrak kerja saya di-cut, alias diberhentikan dan resmi menjadi pengangguran pada Mei 2021.

Seakan masih belum cukup, saya harus mengalami cobaan selanjutnya. Pada pertengahan Juni 2021, saya kembali terpapar dan terkena Covid. Kali ini, yang menghantam adalah varian Delta. Saya terpapar pada saat saya sedang merawat ayah dan ibu yang pada saat itu juga sedang berjuang melawan covid. 

Tepat pada tanggal 8 Juli 2021, sekitar dzuhur, ayah saya meninggal dunia setelah 5 hari berjuang melawan sakit. 

Foto ayah saya
Alm. Soenarto bin Sukur

Dan cobaan yang harus saya pikul ternyata masih belum usai. 

Hingga saat ini, saya masih belum mendapat pekerjaan.

Foto ayah saya
Alm. Soenarto bin Sukur


Entah apa yang akan terjadi esok.

Artikel ini diadaptasi dan ditulis oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Selasa, 08 Februari 2022

Hadiah Rp. 165.724.500? (Khayalan dan Obrolan Tak Jelas dari Enam Orang Fotografer yang Sudah Tak Punya Kamera) Episode Keempat


Street Photography - Ekspresi Wajah
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Selasa, 8 Februari 2022

Apa kabar Sobat? Sama seperti yang sudah saya janjikan tempo hari, saya akan sambung artikelnya, dan artikel ini adalah artikel lanjutan dari artikel ketiga (Hadiah Rp. 165.724.500? (Khayalan dan Obrolan Tak Jelas dari Enam Orang Fotografer yang Sudah Tak Punya Kamera) Episode Ketiga), dan inilah artikelnya:

"Dan si om sendiri gimana om?" tanya Mas Keling tiba-tiba kepadaku. Tentu saja kontan saya jadi kaget tak karuan. Mana saya bisa membuat rencana yang aneh-aneh, padahal saya bukanlah fotografer yang tulen, apalagi seniman.

"Awas jangan curang om! Om yang kasih kita orang soal hadiah tadi, sekarang om sendiri yang tak mau memberi rencana apa-apa!" Sindir Mas Keling sinis.

"Betul Saya tak punya rencana apa-apa," jawabku sedikit panik.

"Masak tak ada yang akan om lakukan kalau sekarang ini si om dapat uang sebanyak seratus enam puluh lima juta lebih?" Sahut Mas Keling lagi.

"Ya, tentu saja ada," jawabku kemudian.

"Apa?"

"Saya akan... kasih tutup cicilan motor, sisanya beli beras dan lain-lain untuk keperluan hidup." Jawabanku itu terputus di sana saja, karena semua kontan jadi terpingkal-pingkal. Kalau kita melucu dan orang yang mendengarnya tertawa, enak dan puaslah hati. Tapi kalau kita ngomong sungguh-sungguh dan orang menertawai, bukan main pedih rasanya. Mereka terus juga tertawa, sebentar-bentar berhenti, tapi kalau terpandang lagi saya, mereka mulai lagi terpingkal-pingkal. Aduh, panas betul hati saya dibikinnya.

"Saya kan sudah bilang bahwa saya tak punya rencana  apa-apa," jawabku.

"Tapi masih banyak kan yang bisa dibeli kecuali yang untuk bayar tunggakan cicilan, dan tetek-bengek itu?" kata Petot.

"Yang sedang saya butuhkan sekarang adalah bayar tunggakan cicilan, masak saya harus membeli gerobak mie ayam?" jawabku mulai dongkol.

"Si om rupanya terlalu banyak kena hutang cicilan ya om," kata Burhan.

"Bukan soal itu," sela Mas Keling. "Si om ini kurang bisa atur uang. Cobalah bayangkan, sudah setua ini masih juga beli barang pakai cicilan.

"Kondisi dompet lain orang tentu lain pula, dong," jawabku. "Kalau kalian suka jeprat-jepret dan hidup bohemian dan slebor tanpa kerja, itu tak aneh sama sekali. Kalau kalian cukup senang dengan hidup tanpa ada pemasukan yang pasti, dan saya tak merasa aneh. Mengapa aneh kalau saya ingin punya sesuatu dengan cara cicil? Saya sedari dulu ingin punya motor untuk bantu saya kerja. Kalau saya beli kontan, tentu tak akan kena, selalunya uang saya kurang. Beli motor bekas juga tak bisa, karena saya tak paham mesin, takut kena tipu. Jadi, apa salahnya kalau saya ada cicil motor untuk kerja," jawabku. 

Gelembung Sabun
(Komposisi Abstrak Hitam-Putih)
trisoenoe.com

"Betul juga," kata Petot.

"Tapi aku setuju menilai si om kurang bisa menikmati hidup, seperti kata Mas Keling. Soalnya, si om memang sedari lahir dilatih untuk jadi buruh sejati. Kasihan si Om," kata Bedul.

"Tak usah kasihan kepada saya!" kataku tegas.

"Bagaimana aku tak kan kasihan kalau si om, kawan kami, sudah setua ini masih saja hidup menghamba menjadi buruh, masih saja jadi bawahan majikan.....Tidak merdeka," jawab Bedul.

"Memang si om sangat menimbulkan kesedihan dan kasihan kami saja," sambung Panjul.

"Tapi si om masih bisa mengubah solah si om itu kalau si om mau. Seringlah ikuti gerak-gerik dan cara hidup kami," kata Mat Jidat pula.

"Baiklah, terimakasih," jawabku. Dan yang lain kulihat membuang muka, menyembunyikan senyumnya.

Kulit Pohon
(Komposisi Abstrak Hitam-Putih)
trisoenoe.com

Dalam hati, aku dongkol juga. Mereka bisa enteng berucap, karena memang mereka tak ada yang punya tanggung jawab seperti saya. Mereka hanya ada tanggungan hidup diri mereka sendiri alias bujangan, tanpa keluarga, tanpa anak istri. Wajar saja kalau mereka menganggap lucu dan juga remeh, kalau aku harus cicil motor untuk kerja. 

Sial betul saya hari ini...maki saya dalam hati.

Dan seperti yang sebelumnya, artikel ini bersambung ke episode keempat, dengan judul: "Hadiah Rp. 165.724.500? (Khayalan dan Obrolan Tak Jelas dari Enam Orang Fotografer yang Sudah Tak Punya Kamera) Episode Kelima"

Artikel ini diadaptasi dan ditulis oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Minggu, 06 Februari 2022

Hadiah Rp. 165.724.500? (Khayalan dan Obrolan Tak Jelas dari Enam Orang Fotografer yang Sudah Tak Punya Kamera) Episode Ketiga


Sekumpulan Fotografer sedang memotret!
trisoenoe.com

Ciledug, Tangerang Kota, Banten, Minggu, 6 Februari 2022

Apa kabar Sobat? Mohon maaf karena saya terlalu lama menyambung cerita ini. Seperti yang sudah saya janjikan tempo hari, saya akan sambung artikelnya, dan artikel ini adalah artikel lanjutan dari artikel kedua (Hadiah Rp. 165.724.500? (Khayalan dan Obrolan Tak Jelas dari Enam Orang Fotografer yang Sudah Tak Punya Kamera) Episode Kedua), dan inilah artikelnya:

"Itu mah ide gila namanya. Apakah kau kira orang orang kasih bikin galeri itu cuma asal-asalan saja? Pasti masing masing model galeri itu ada filosofinya, bukan seperti ide kau itu. Masak orang bikin pameran foto di dalam labirin?" bantah Kuncung, seorang fotografer muda.
    
"Masing-masing berhak punya ide sendiri-sendiri, kan?" kata Bedul yang tampak agak tersinggung mendengar ucapan Kuncung.
    
"Ya, tapi ide merdeka bukan berarti ide gila-gilaan," jawab Kuncung tenang pula. Bedul jadi melotot. Untunglah Petot cepat menengahi.
    
"Tentu saja kalian akan berlain-lainan pendapat tentang ide itu, karena kalian pun berlain-lainan pula lapangannya," kata Petot, fotografer muda yang punya idealisme dalam aliran fotografi analog. "Kalau aku umpamanya yang mendapat hadiah sebesar itu, lain pula yang akan kubikin. Lebih dulu akan kubeli ratusan rol film, bingkai-bingkai yang bagus, dan pernak-pernik, dan kucari sebuah kamar yang sederhana saja untuk dijadikan sebuah studio sekaligus galeri. Kalian boleh main-main ke studioku dan menikmati foto-foto dalam arti foto yang sebenarnya, yang pasti akan banyak bergantungan di sana. Aku punya banyak ide dan objek yang sangat ingin kuabadikan dalam potret dengan rol dan kertas foto, tapi aku tak berdaya karena tak ada alatnya dan tak ada uang."
    
"Dengan kamera digital lalu di print di atas kertas saja apa tak bisa?"
    
"Bukan tak bisa, tapi aku tak mau. Aku hanya mau memotret dalam rol film, dan mencetaknya di kertas foto," jawab Karman tegas. "Atau lebih baik aku diam saja...."
    
"Memang lebih baik kau diam saja," potong Panjul cepat.
    
"Kalau aku," kata Panjul kemudian, "kalau aku yang dapat hadiah itu... aku akan buat sesi foto dengan konsep yang aku rancang sendiri. Konsepnya akan aku buat dalam sesi foto kontemporer yang dikawinkan dengan filosofi abstrak, dengan berbagai properti yang kontemporer dan sekaligus abstrak. Aku rela mengorbankan uang itu seluruhnya untuk sesi foto tersebut. Dan kalau akhirnya ternyata aku berhasil dengan sesi foto itu, kau tahu apa yang bakal aku bikin? Satu tempat khusus untuk para penikmat fotografi yang sejalan! Dalam lapangan kesusastraan, orang sudah mengumpulkan arsip-arsip dengan lengkapnya. Tapi dalam lapangan fotografi, mana? Akulah orang yang akan berkorban untuk itu."

Dua seniman di selasar Blok-M
trisoenoe.com

Mas Keling tersenyum saja mendengar kata-kata Panjul yang sangat idealis itu. Panjul melirik ke arah Mas Keling dengan lirikan tak enak.
    
"Dan apa yang akan kau lakukan kalau dapat hadiah itu, Mas Keling?" tanya Panjul. Mas Keling adalah seorang fotografer (paling tidak, itu yang dia katakan kepada kami selama ini, walaupun dia sangat jarang sekali ikutan sesi potret, atau hunting foto, atau memamerkan hasil fotonya selama ini).
    
"Aku," jawabnya tenang pakai  gaya yang lucu, "yang paling pertama akan kulakukan dengan uang itu ialah... makan sepuas puasnya dan rokok ditambah kopi. Sudah terang seluruh lauk di warung nasi padang “Minang Sepakat” kuletakkan di atas meja dan kita makan bersama." Semua kawan kontan tertawa seperti mereka sudah mulai bisa merasakan sedapnya bermacam hidangan itu. Senang benar semuanya.
    
"Tentu aku boleh turut makan, Mas?" tanya Mat Jidat, seorang fotografer pemula juga.
    
"Tentu, tentu," jawab Mas Keling kontan, "kalau kurang makanannya kita tambah lagi. Makanlah sampai kenyang betul, atau jangan makan sama sekali. Sudah itu, kita hitung bersama-sama sisa uang itu. Aku hanya butuh uang untuk bayar kosan dan bayar bon warung rokok. Lebihnya, lebihnya kita pakai untuk senang-senang. Puaskan hidup ini...!!!" kata Mas Keling di dalam gaya seorang aktor tulen, dan sekalian kawan-kawan jadi segar sekali mendengar penjelasannya. Sementara kawan-kawan tertawa keenakan, kuingat-ingat tinggal Petot seorang saja yang belum mengemukakan rencananya kalau hadiah itu ia yang dapat.


Artikel ini diadaptasi dan ditulis oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA 

Senin, 23 Juli 2018

Apa Sih Bedanya "Fotografer" dengan "Tukang Foto"....???? (Tulisan ini adalah tulisan bagian Kedua)



Ciledug, Tangerang, Banten, Senin, 23 Juli 2018

Apa sih bedanya "fotografer dengan tukang foto"???
Bagian Kedua

(Ceritera ini sengaja saya belah menjadi dua babak, ada ceritera bagian satu dan ada ceritera bagian kedua, tujuannya hanyalah agar tak bosan membacanya. Dan kalau sobat bingung membacanya, baca dahulu bahagian pertama, barulah disusul dengan bahagian kedua. Mohon dimaklumi ya sob!)

Sebenarnya, ada yang mengganjal di kepala saya tentang ucapan dia, tentang apa itu fotografer, dan apa itu tukang foto. Saya punya pemikiran sendiri tentang apa itu tukang foto, dan apa itu fotografer dari sudut filosofis maupun praktis. 

Ingin rasanya saya kemukakan pendapat saya…….Tapi, melihat roman mukanya yang sedang kusut dan carut marut, tak sampai hati saya jadinya. Biarlah dia tenang dulu, biar berlalu dahulu soalan ini dari dirinya, setelah itu, bolehlah rasanya saya undang dia untuk omong-omong masalah ini, masalah bedanya tukang foto dan fotografer. 

“Kalau gw tau bakalan gini jadinya, gw kaga mau ambil job ini om, rugi waktu dan tenaga, tapi hasilnya malah bikin kecewa” sambung bedul sembari melirik kearah gelas kopinya. Kopinya hampir habis, saya menganggukkan kepala, dan dia lalu mengacungkan satu jari ke arah mas penjual kopi, pesan satu gelas lagi…..

“Mana orang bisa tau nantinya gimana mas bro, Cuma peramal aja yang tahu, atau merasa tahu, masa depan itu kaya gimana,” jawab saya. Dalam hati sayapun sependapat dengan kawan saya itu. Kalaulah saya bisa meramal dan tahu masa depan itu seperti apa, tentu saja saya akan berkilah seribu satu cara supaya saya tak ketemu dia hari ini. Rugi! Rokok saya musnah, malah saya juga harus kena traktir kopi!

Malam itu kita ngobrol sampai hampir subuh. Pelan-pelan, kawan saya itu rasanya mulai tenang dan bisa enteng kepalanya. Tepat jam empat pagi, dia pamit pulang, sayapun pulang juga. Enak juga sesekali omong-omong tentang topik yang “enteng-enteng berat” seperti ini.

Mungkin lain waktu, bisalah dilanjut ngobrol-ngobrol seperti ini lagi, tentu saja saya akan bikin persiapan matang. Saya akan siapkan air panas di termos dan juga kopi sachet puluhan renceng, jadi tak terlalu hancur-lebur saya punya kantong.

Setiba di rumah, sudah jam 5 pagi, jelas tak mungkin rasanya saya pergi nguli ke kantor hari itu. Jadi terpaksalah saya berbohong, kalau saya tak enak badan, dan tak dapat masuk kerja….

Seperti yang di awal saya ceritakan, kalaulah saja malam itu saya ada kerja lembur, dan harus terpaku di kantor, atau kalau saja saya punya kemampuan meramal yang cespleng dan jitu, tentu saja saya akan berkilah seribu satu cara, supaya saya bisa menghindar, dan tak jadi ketemu kawan saya malam itu!

Untuk melengkapi penderitaan sobat jepret sekalian, berikut ini adalah beberapa foto dari saya, yang bukan seorang fotografer dan juga bukan seorang tukang foto. Dan juga ada tambahan catatan, tentang apa itu fotografer dan apa itu tukang foto, berdasarkan sudut pandang dari seorang fotografer kawakan.










Tambahan:


Kemarin dulu, sebelum saya ketemu kawan saya ini, saya membaca suatu artikel yang terus terang, sangat pas dengan obrolan kami hari itu. Judul dari artikel itu adalah; “Perbedaan tukang foto dengan fotografer”, yang ditulis oleh fotografer kawakan, tuan Enche Tjin. Dalam artikelnya tersebut, beliau menulis tentang perbedaan secara definisi singkat saja, tanpa disertai dengan penjelasan yang mendetail mengenai kedua profesi tersebut. 

Dalam artikelnya, tuan Enche Tjin menulis:

“Pada dasarnya istilah tukang foto dan fotografer sama saja, yaitu orang yang ahli dalam membuat foto. Tapi istilah tukang foto lambat laun menjadi menurun nilainya, sedangkan titel fotografer semakin keren dewasa ini.

Dulu seseorang disebut tukang foto (kadang disebut juga kameramen), adalah orang yang menguasai teknik fotografi yang baik, tapi sekarang ini, tukang foto identik dengan orang-orang yang sekedar bisa mengunakan kamera dan tidak harus ahli di dalam bidangnya, apalagi di era digital yang serba otomatis, tinggal jepret pakai lampu kilat saja langsung, pasti terang gambarnya.

Tukang foto juga lebih identik dengan orang-orang yang menjajakan jasa foto dengan tarif relatif murah, seperti yang kita lihat di kawasan wisata ataupun tukang foto di acara-acara sosial seperti pernikahan.
Lalu apa beda tukang foto dengan fotografer?

Kalau tukang foto lebih bersifat reaktif terhadap suatu keadaan, fotografer pendekatannya lebih berbeda. Seorang fotografer menghabiskan banyak waktunya tidak di dalam sesi pemotretan saja, tetapi sebagian besar lebih ke pembuatan konsep & ide, perencanaan, persiapan, dan setelah selesai foto, masih harus melakukan post-processing (editing), layout dan percetakan.

Banyak yang harus dipikirkan untuk menjadi fotografer, apalagi fotografer profesional yang bertarif tinggi. Ide kreatif, eksekusi dan hasil foto lah yang membuat seorang fotografer dibayar jauh lebih tinggi nilainya daripada aksi motret itu sendiri.
Nah, itulah bedanya!

Sampai disini, saya bisa bilang agak setuju, tetapi, kalau sobat jepret punya pendapat lain, tak apalah, saya juga akan menyetujuinya juga. 

Dan lagi, kalau boleh jujur, berdasarkan definisi yang sudah diterangkan oleh fotografer kawakan tersebut di atas (tuan Enche Tjin), saya tidaklah masuk ke dalam golongan fotografer, ataupun golongan tukang foto. 

Kesimpulannya, saya hanya masuk ke dalam golongan orang yang hobby foto….itu saja!


Apa Sih Bedanya "Fotografer" dengan "Tukang Foto"....???? (Tulisan ini adalah tulisan bagian Pertama)



Ciledug, Tangerang, Banten, Senin, 23 Juli 2018

Apa sih bedanya "fotografer dengan tukang foto"???
Bagian Pertama

(Ceritera ini sengaja saya belah menjadi dua babak, ada ceritera bahagian satu dan ada ceritera bahagian kedua, tujuannya hanyalah agar tak bosan membacanya. Mohon dimaklumi.)

Kalau saja malam itu saya ada kerja lembur, dan harus terpaku di kantor, atau kalau saja saya punya kemampuan meramal yang cespleng dan jitu, tentu saja cerita di bawah ini tak akan pernah terjadi. Saya tak akan kehilangan jatah rokok saya, dan saya juga tak akan pernah melakukan dosa karena bolos kerja esok harinya dengan alasan sakit.

Itu semua berawal, ketika kawan saya bedul (bukan nama sebenarnya….sengaja saya sembunyikan nama aslinya, tapi saya suka panggil dia bedul, hanya isengnya saya saja) mengajak saya untuk ketemu. Kawan saya ini punya hobby yang sama dengan saya, jepret-jepret sambil nulis cerita di blog.

Sore itu, entah kenapa, si bedul ini ajak saya ketemu, kangen katanya, mau cerita-cerita sembari ngopi di warung kopi dekat kantor di Kemayoran. Tak biasanya ini kawan ajak saya ketemu selain di tempat foto, tentu ada hal penting yang mau dia obrolin, atau mungkin dia mau kasih jual lensanya ke saya….hehehehehe…semoga!


Jam 7 malam lewat sedikit, saya sudah duduk manis di TKP, di warung kopi yang sederhana, menunya sederhana, dan yang paling penting, harganya juga sederhana, cocok betul dengan isi dompet saya di tanggal segini. 

Waduh, rupanya si bedul belum datang, kawan saya yang satu ini masih juga belum sembuh penyakit ngaretnya, saya sudah tak kaget lagi, sudah sering ini kawan terlambat, saking terbiasanya saya sama ngaretnya dia, saya malah kaget kalau dia datang tepat waktu.

Ya sudah, sebaiknya saya ngopi saja dulu, sembari tunggu kawan saya muncul, segelas kopi tentu bisa jadi pembunuh waktu yang mujarab.

Satu gelas kopi datang, sruput sedikit, lalu teruskan kegiatan baca-baca artikel yang menarik di internet. Belum lagi sampai setengah gelas, kawan saya itu datang juga. “Hallo om”, saya menoleh, dan memang rupanya si bedul itu yang datang.

“Hallo dul, tumben lu ga telat banget?” 
“hehehehe….lowong om, ga terlalu macet, jadi bisa laju kemari,” sambungnya lagi. Sambil duduk, dia pesan kopi satu, kopi hitam, sama seperti yang lalu-lalu, selalunya kopi hitam saja, tak mau dia minum kopi yang lain selain kopi hitam.
Kopi hitam datang, dan pembicaraan dilanjut lagi.

“Ada apaan nih, tumbenan lu ajak gw ketemu di sini, kaga kaya biasanya,” Tanya saya sambil seruput kopi lagi, lalu hisap rokok dalam-dalam.
“Ga ada keperluan khusus om, Cuma ingin ngobrol aja, biasalah, ketemu sesama teman fotografer, silaturahim om,” sahutnya lagi. Lalu dia cabut rokok saya yang sengaja saya taruh di meja (kawan saya ini memang tak berubah gayanya, tak pernah mau membeli rokok sendiri, selalunya ambil rokok orang lain. Pernah saya tanyakan soalan itu kepadanya dulu, dan dengan enteng sambil cengar-cengir dia jawab, “rokok itu hukumnya haram…..tapi kalau beli sendiri! Kalau minta rokok orang lain, itu makruh hukumnya!”)

“Bener cuma silaturahim?” tanya saya lagi
“bener om, hanya silaturahim, kebetulan hari ini saya ada sesi poto dekat sini om, jadi saya sempatkan untuk ketemu om, lama ga ketemu, pengen ngobrol-ngobrol” ujarnya lagi sambil menyalakan rokok yang tadi dia ambil, ditariknya asap rokok itu dalam sekali, rupanya supaya asapnya bisa langsung masuk ke otak. “Cuma sesi poto yang hari ini ga asyik om, ga cihuy” katanya lagi.

Kelihatan betul kalau dia memang tak terlalu senang hari ini, roman mukanya kelihatan mangkel, kelihatan kucel, seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Saya pilih diam dulu, tak langsung saya tanyakan apa perihalnya. Lebih baik saya biarkan saja dahulu mahluk yang satu ini menikmati asap rokok dan kopi, supaya enteng otaknya. Sambil lalu, iseng saya perhatikan kawan saya ini.

Rupanya kawan saya ini memang ditakdirkan untuk menjadi fotografer sejati. Potongan badannya, model tampangnya, cara berpakaiannya, dan segalanya betul-betul potongan fotografer tulen, luar dalam, seratus persen asli, bukan abal-abal alias KW. Belum lagi…..kawan saya si bedul ini punya kebiasaan yang super nyentrik, yang kira-kira kalau orang yang otaknya waras, tak akan mau punya kebiasaan macam ini. 

Kawan saya ini punya kebiasaan, selalu bawa kamera kemana saja. Mulai dari kondangan, sampai tahlilan sekalipun, dia akan selalu datang dengan kamera tergantung di leher. 

Sampai ada kawan yang berkelakar, kalaulah si bedul ini datang ke suatu kondangan tanpa pakai celana dalam sekalipun, dia tak akan ambil pusing, dan tetap akan datang….. tapi kalau dia terlupa sama kamera di lehernya, berani jamin, kontan dia akan balik arah dan langsung pulang!

Sudah lima menit rasanya saya perhatikan si bedul ini. Apa yang sebenarnya dia pikirkan? Tekun betul. Gatal hati saya kepengin tahu. Mungkin memang betul kalau teman saya bedul ini sedang punya soalan besar di pikiran.

“Ada apa nih mas bro, kelihatannya parah betul?” tanya saya, sambil saya ambil bungkus rokok saya, yang entah bagaimana, sudah bergeser ke depan dia.

“Biasa om, masalah poto” jawab Bedul. Ditariknya asap rokok dalam sekali.
“Masalah poto? Kenapa dengan sesi potonya bro?.......Gagal?” tanya saya lagi.

“Bukan om, bukan gagal…Cuma ga sesuai aja sama rencana awal. Melenceng jauh banget om. Belon pernah gw ngalamin foto prewed kaya gini, super ngeselin, kaga jelas, buang-buang waktu gw aja” sambungnya dengan nada separuh kesal dan separuh lagi..... muak.

Wah, pandai betul dia bikin saya penasaran. Ini pasti bukan kejadian sesi foto biasa, ini pasti sesi foto yang super ngeselin, sampe kawan saya mukanya jadi demek macam kain pel seperti ini.

“Lah, melenceng gimana mas bro?” tanya saya.
“Ya gitu om, susah kalo mau sesi foto, tapi orang yang mau difoto sok-sok an belaga kaya fotografer kawakan….pake ngatur-ngatur gw kudu gimana ngambilnya, harus pake gear apa, harus posenya gimana, dan seterusnya, dan sebagainya…….sialan pokoknya om.” Sambungnya dengan nada jengkel. 
“Padahal, di awal-awal udah disepakati, tentang konsepnya, tentang tema, tempat, pakaian, pokoknya tentang semuanya…..bahkan sampai waktu pengambilan fotonya udah kita sepakati semua, dan mereka juga sudah ok.”

“Lho, kalo udah OK, berarti tinggal eksekusi dong?” timpal saya, sambil mengacungkan dua jari ke arah si mas tukang kopi.....pesan kopi lagi, langsung dua gelas sekaligus, karena saya lihat, gelas dia juga sudah hampir kosong. Dosa besar rasanya, kalau pembicaraan yang menggebu-gebu macam ini, harus terpotong karena kopi habis.

“Eksekusi?...Eksekusi apanya om……” Jawabnya sembari ketawa dengan irama sebel, “Pas lagi kita udah di TKP, eh…….mereka dengan seenaknya ngerubah tema, ngerubah konsep, bahkan sampai ngerubah pose di frame. Kan kita-kita yang fotografernya jadi bingung om, semua yang udah disusun mateng, jadi angus dan sia-sia. Padahal udah sedari awal gw tegesin ke mereka, kalau mereka punya konsep atau tema tersendiri, sebaiknya diomongin di awal, jadi bisa klop, jangan pas di akhir-akhir atau pas eksekusi dirubah seenaknya….dan mereka juga sudah setuju…..Lah, ga taunya brekele. Coba pikir…..Buat apa kita babak belur mikirin dan ngerancang segala macam konsep dan tema, kalo ujung-ujungnya cuma asal foto doang, asal jepret doang!” si Bedul memukul meja, kesal betul tampaknya. Memang kelihatan kalau kawan saya ini geram luar biasa. 

Untungnya dia segera sadar, kalau ada satu gelas kopi penuh di sebelah gelas kopinya yang hampir kosong. Segera dia seruput gelas kopi yang penuh tadi, sambil matanya melirik ke arah saya. Saya paham betul artinya, rokoknya habis, saya sodorkan bungkus rokok yang tadinya saya pikir sudah saya selamatkan dan aman….Yah….Tak apalah, demi kawan. 

Pelan dia cabut sebatang rokok yang saya sodorkan tadi seraya mengucap terima kasih. Sundut, dan dengan tarikan panjang, dia hisap rokok itu.

“Emang susah om, gw berasa bloon banget, berasa kerja sia-sia. Kalau emang pengennya cuma asal foto aja untuk prewednya, ngapain juga mereka repot-repot nyewa fotografer buat ngaturin fotonya!...” suaranya jadi pelan.

“Kalau cuma asal foto aja, mending mereka sewa jasa tukang foto, lebih murah, lebih gampang juga dapetnya. Daripada kaya gini, nyewa jasa fotografer, tapi malah cuma disuruh jadi tukang foto……Bikin gw gondok aja. Gue jadi ga enak sama temen-temen yang gue ajak kerjasama, mereka jadi kesel sama gue, gara-gara mereka cuma dijadiin tukang foto doang……”
“Lho, kan yang penting dibayar bro”
“Ini bukan masalah bayaran om……Ini masalah image gue dan temen-temen gue, masalah prestige kami om, kalo foto-foto itu dipajang pas resepsi, kita jadi malu hati om. Foto-foto itu kan macam portofolio kita, sekali orang nilai foto-foto kita hasilnya jelek, bakalan abis kita om, bisa ga ada lagi orang yang mau panggil kita, ga akan ada lagi orang yang percaya kalo gue fotografer…….Orang bakal nilai gue cuma tukang foto, yang taunya cuman motret doang, ga pake teknik, angle, konsep, filosofis, dan segala macam. Gue alamat bakalan abis nih om, bakalan ga ada lagi orang yang mau pake gue untuk motret…..” Terputus ucapan Bedul karena melihat saya bengong. Dia menarik nafas panjang, matanya menerawang, kelihatan sekali kalau kawan saya ini benar-benar sedang ruwet otaknya.

Bersambung ke bahagian kedua......




Senin, 16 Juli 2018

Fotografer itu bukan seniman??? (Tulisan bagian kedua)



Kemayoran, Jakarta, Senin, 16 Juli 2018

Fotografer itu bukan seniman???

(Obrolan dengan 5 botol air putih,  3 gelas kecil kopi mix, 8 gelas besar kopi hitam dan asap rokok)

Artikel dua babak, dan ini adalah babak kedua, kalau ada yang merasa bingung membacanya, silahkan baca dahulu babak pertama. Terima kasih karena sudah sudi membaca!


Luar biasa! Semakin malam, semakin ramai saja Jakarta Fair ini, sepertinya, ribuan orang memadati arena ini, dari yang sekedar jalan-jalan, sampai yang memang berniat belanja. Perhatian saya kembali terfokus pada gadis SPG yang menjajakan kopi, tepat di depan kedai kopi ini. Berseragam merah, sambil membawa buku bon dan juga rencengan kopi, gadis-gadis SPG itu tetap bersemangat menjajakan kopinya dengan setengah berteriak…”Kopinya kakak! Tiga ribu kakak! Ayo kakak, kopinya, ada door prize nya kakak, ada gamenya juga kakak, ayo kakak, silahkan kakak!”……


Benar benar luar biasa, semangat mereka sangat luar biasa, entah sudah berapa ribu kali mereka berteriak-teriak seperti itu, menjajakan produk mereka kepada pengunjung yang lewat. Lebih banyak yang menolak dibandingkan yang tertarik membeli, tetapi mereka tetap bersemangat dan tak kenal menyerah. Kalau orang yang mereka tawarkan itu menolak, mereka akan melontarkan kalimat yang sangat khas…”Terima kasih kakak!” atau ”Terima kasih om, tante, bunda!” dan lain sebagainya. Dan tanpa buang waktu, mereka akan langsung menawarkan kepada orang yang lain lagi, tetap dengan semangat yang sama, tetap dengan ke “khas” an yang sama, dan dengan kalimat rayuan yang sama….”Ayo kakak! Kopinya kakak! Murah kakak! Tiga ribu saja kakak!”, dan seterusnya.


Asyik juga saya memperhatikan solah mereka, tanpa sadar, saya terlupa pada keasyikan saya sebelumnya, tentang pembicaraan “seniman vs fotografer” tadi. Saya juga tak sadar, kalau ternyata, sudah hampir dua jam saya duduk di sini, dan saya juga tidak sadar, kalau saya sudah membiarkan dua gelas kopi yang saya beli tadi, masuk ke perut saya, dus, saya sudah pesan lagi dua gelas kopi gelas besar, dan keduanya juga sudah berlabuh dengan damai di perut saya. 

Cukup sudah! 

Saya harus pulang! Sudah sembilan gelas kopi masuk ke perut saya, sudah belasan batang rokok yang saya hisap, dan itu sudah lebih dari cukup!

Saya rapikan lagi kamera saya, sambil merapikan pakaian dan juga menebah abu rokok yang rupanya banyak betul bertebaran di badan, berdiri, dan berjalan menuju tangga untuk turun dan kemudian meninggalkan kedai kopi ini, lalu pulang! Ketika saya melewati posisi pertama saya, tampaknya dua kekasih itu sudah lama pergi, bangku itu sudah kosong, sudah bersih. Tetapi…….Buset dah! Gerombolan “fotografer” yang tadi saya curi-curi dengar rupanya masih ada di tempat yang sama, dan masih dengan gelas kopi yang sama……Dan belum habis juga!!!!! 

Gila! 

Hebat banget mereka! Sanggup duduk berjam-jam hanya dengan bermodalkan satu gelas kopi dengan harga tak lebih dari tiga ribu perak! 

Gila! 

Saya salut luar biasa pada mereka, jarang sekali…….tak pernah malah, saya bertemu dengan orang yang isi bicaranya belasan bahkan puluhan juta, tetapi hanya sanggup jajan kopi yang harganya cuma tiga ribu perak!

Mampus dah!................

Ilmu saya tak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka, ilmu dalam hal “pelit”isme dan “medit” isme tentunya.

Semangat saya yang tadinya berisi semangat untuk pulang, beralih ke semangat curi-curi dengar lagi! 


Supaya ada alasan saya untuk tetap duduk di bangku tadi, bangku dimana saya duduk di saat pertama tadi, saya dengan sangat terpaksa harus pesan kopi lagi! Hadehhhhh…..




Dan kembali saya duduk di sini, di tempat awal saya duduk di kedai kopi, dengan ditemani oleh dua gelas kopi ukuran jumbo di depan saya. Seruput sedikit kopinya, ambil sebatang rokok, sundut, lalu dengarkan lagi pembicaraan “gerombolan fotografer” yang kelihatannya, sedang ramai-ramainya, dan herannya, masih dalam topik yang sama…yaitu ”seniman vs fotografer”….!

“Jadi, menurut lu, fotografer itu bukan seniman?” rupanya gadis yang kecanduan selfie tadi, masih belum merasa mendapat jawaban yang pas dari sang “fotografer” mengenai definisi seniman dan fotografer.


“Jelas bukan lah!” Sahut si fotografer. “Seniman itu yang kaya lu lihat di emperan glodok atau di blok M, yang kerjanya ngelukis ngelukis yang ga jelas gitu, ngelukis orang, ngelukis bunga, atau paling apes, ngelukis pantatnya truck pasir!……… itu baru namanya seniman,” sambung di fotografer lagi dengan intonasi suara yang sangat yakin!

“Kalo fotografer itu kaya gue gini, motret model, pake kamera ciamik, itu baru namanya fotografer sejati!” sambungnya lagi, lalu si fotografer itu ketawa ngakak, dan tak lama kemudian, rekan-rekannya juga ikut-ikutan tertawa, entah apa yang mereka tertawakan, karena menurut saya, sama sekali tak ada yang lucu dari pembicaraan itu!

“Mana ada seniman yang bawa-bawa kamera? Seniman itu kerjanya ya kaya di kesenian gitu, bikin lukisan, nari, bikin pahatan, dan lain-lain. Dan rata-rata mereka kaya gelandangan alias nyentrik and kumel dan ga punya duit. Beda ama bos kyu ini, kalo bos kyu ini real fotografer, punya kamera puluhan juta, dan juga punya gear yang harganya juga puluhan juta,  jadi dia itu fotografer, beda jauh ama seniman, ngerti ga lu non?” Timpal teman si fotografer yang punya model macam boyband korea itu. Dan setelah kalimat itu, kembali mereka tertawa lepas, tertawa yang untuk saya, seperti suara alarm atau suara lonceng jam weker yang membangunkan kesadaran saya, kesadaran untuk segera pergi meninggalkan tempat itu, meninggalkan sekawanan “fotografer” dengan sejuta ceritanya yang tak jelas, juga sejuta ketawanya, dan meneruskan tujuan saya semula, yaitu pulang!

Kedai kopi itu sebenarnya masih lama tutupnya, jam sepuluh malam. Sama dengan event Jakarta Fair yang baru tutup jam sepuluh malam. Tetapi, saya tak sanggup lagi kalau harus tetap duduk di sana sampai dengan jam sepuluh malam. Seharian itu, perut saya hanya terisi dengan lima botol air putih, kopi mix 3 gelas kecil, dan kopi hitam 8 gelas besar, serta asap rokok. Bokong  saya panas, perut saya kembung, dan badan saya keluar keringat dingin. Ditambah lagi dengan pulang naik motor, badan yang sudah dingin ini, jadi makin ditambah dingin lagi oleh keringat yang diterpa angin.

Kalau ada orang yang bilang: “Aku tidak takut pada siapapun selama orang itu makan nasi,” maka orang tersebut harus takut pada saya. Seharian itu saya hanya mengisi perut saya dengan 8 gelas besar kopi, 3 gelas kecil kopi, dan asap rokok. Keesokan harinya, saya masuk angin, dan langsung mencret. 

Ternyata, hanya untuk tahu bedanya seniman dan fotografer, itu berat sekali. Apalagi kalau cara mencari tahunya itu salah, bukannya jadi paham dan mengerti, malah jadi masuk angin dan mencret.

Benar sob, ternyata, apa yang saya lakukan hari itu, bukanlah hal yang berguna. Ternyata, curi-curi dengar itu benar-benar pekerjaan yang sangat sia-sia. Tidak ada untungnya, apalagi ilmunya! Yang ada hanya anginnya saja!

Kesimpulannya…..Jangan curi-curi dengar, nanti bisa masuk angin! 

kalau mau paham, pergi baca buku, atau tanya ke seniman yang benar-benar seniman tulen, dan tanya ke fotografer yang benar-benar fotografer tulen tentang apa bedanya fotografer dengan seniman. 

Sekian dulu ya sob cerita saya ini, lain waktu akan saya sambung lagi dengan cerita lain yang lebih tidak berguna dari saya.

Oh ya, kalau sobat-sobit jepret tetap ingin tahu tentang definisi fotografer dan seniman, tentang Jakarta fair dan kedai kopi, silahkan baca catatan dibawah ini.

Dan untuk melengkapi penderitaan sobat-sobat jepret semua, akan saya sertakan beberapa foto yang saya ambil di event ini.









Catatan:

1. Jakarta Fair adalah salah satu event besar di Jakarta, tepatnya di arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran. Biasanya berlangsung di medio Juni-Juli setiap tahunnya, berlangsung kurang lebih 40 hari. Didalamnya ada macam-macam stand dan juga event yang sangat menarik. Kedai kopi yang saya maksud, ada di dalam Jakarta Fair, dan harga 1 gelas kopi memang benar-benar tiga ribu perak.

2. Cerita ini memang benar-benar terjadi, namun tutur ceritanya terinspirasi pada kumpulan cerpen karya “Misbach Yusra Biran” dengan judul buku “Keajaiban di Pasar Senen”. Gaya bertutur cerita ini juga terpengaruh dan mengikut pada gaya bercerita buku itu, lebih spesifik, yaitu pada cerpen “Keajaiban di Pasar Senen” dan cerpen “13 Kopi Kecil dan Asap Rokok”.

3. Fotografer atau juru foto (bahasa Inggris: photographer) adalah orang-orang yang membuat gambar dengan cara menangkap cahaya dari subyek gambar dengan kamera maupun peralatan fotografi lainnya, dan umumnya memikirkan seni dan teknik untuk menghasilkan foto yang lebih bagus serta berusaha mengembangkan ilmunya. Banyak fotografer yang menggunakan kamera dan alatnya sebagai pekerjaan untuk mencari penghasilan, dan gambarnya akan dijual untuk cover majalah, cover calender, artikel, dll.

4. Seniman adalah istilah subyektif yang merujuk kepada seseorang yang kreatif, inovatif, atau mahir dalam bidang seni. Penggunaan yang paling kerap adalah untuk menyebut orang-orang yang menciptakan karya seni, seperti lukisan, patung, seni peran, seni tari, sastra, film dan musik. Seniman menggunakan imajinasi dan bakatnya untuk menciptakan karya dengan nilai estetik. Ahli sejarah seni dan kritikus seni mendefinisikan seniman sebagai seseorang yang menghasilkan seni dalam batas-batas yang diakui.

5. Secara singkat, Jakarta Fair adalah suatu event yang diselenggarakan di Jakarta, dengan tujuan untuk mempromosikan serta meramaikan ulang tahun Jakarta yang jatuh setiap tanggal 22 Juni. Dalam event ini, berbagai acara diadakan untuk memeriahkannya. Salah satunya adalah kembang api. Lebih lengkapnya tentang Jakarta fair, dapat disimak di link ini.


6. Kedai Kopi itu sebenarnya stand tempat menjual kopi dari merk tertentu. tetapi, karena ada tempat duduk dan mejanya, juga lengkap dengan kasir dan pelayannya, maka saya lebih suka menyebut tempat itu dengan "kedai kopi".