Kamis, 21 April 2016

Tentang Lensa 50mm



Ciledug, Tangerang Kota, Banten, 21 April 2016

Sobat, dalam artikel kali ini kita akan membahas tentang lensa kamera, yaitu lensa fix 50mm f/1.8. Ya, satu lensa yang boleh dibilang murah meriah, tapi bisa bikin hasil yang ciamik punya! (katanya orang-orang sih murah, tapi menurut saya.....ya...mahal juga...kisaran 1 juta! tapi dibanding lensa yang lain, emang murah...dalam hal ini canon ya!)

Jadi...ini adalah paparan tentang lensa tersebut (disadur dari belfot.com):


7 Keistimewaan Lensa Prime 50mm


Sebuah lensa dengan focal length fixed sepanjang 50mm ini sebenarnya sangat mirip secara focal length dengan saat kita menggunakan lensa kit 18-55mm yang dizoom maksimal. Bagi kamera crop, lensa prime 50mm adalah sebuah lensa tele pendek sementara bagi kamera full frame, lensa ini adalah lensa standar.Jika Sobat belum pernah menggunakan lensa ini, mungkin akan timbul pertanyaan: buat apa membeli sebuah lensa yang tidak bisa dizoom dan memiliki focal length canggung? 50mm?? kenapa tidak lensa lebar atau lensa tele sekalian?. Apalagi jika Sobat sudah terlanjur memiliki lensa kit dimana focal length 50mm termasuk didalamnya.

Ternyata oh ternyata, sebuah lensa 50mm adalah sebuah lensa fantastis dan sangat berguna, tidak percaya? Yuk, sama-sama kita kulik 7 keistimewaan lensa prime 50m ini.

1. Cepat

Lensa prime 50mm memiliki aperture maksimal yang memungkinkan kita memotret di kondisi minim cahaya. Dengan bukaan maksimal f/1.8 atau f/1.4, kita masih bisa memotret di kondisi remang saat lensa lain sudah menyerah.Sebagai contoh, lensa Canon EF 50mm f/1.4 memiliki aperture maksimal di posisi f/1.4. Sementara lensa kit 18-55 mm memiliki apeture maksimal di posisi f/5.6. Dari hitungan stop, maka lensa prime 50mm f/1.4 memiliki 4 stop lebih cepat dibanding lensa kit tadi (apa itu stop dalam fotografi?). 4 Stop adalah jumlah yang sangat banyak. Ini artinya Sobat bisa memotret tanpa bantuan flash saat mulai remang, atau juga bisa menghasilkan foto bokeh yang super ciamik dan lembut.

2. Performa Optik Sangat Bagus

Kualitas gambar yang dihasilkan dari lensa 50mm, bahkan yang murah sekalipun (50mm f/1.8 misalnya) biasanya sangat tinggi. Lensa ini membantu Sobat menghasilkan foto yang lebih tajam dan juga berarti Sobat tidak perlu banyak mengeluarkan uang untuk menghasilkan foto yang bagus. Lensa prime 50mm sudah ada sejak puluhan tahun lalu yang artinya produsen lensa sudah sangat berpengalaman dengan lensa ini. Ditambah lagi desain dan susunan optik didalamnya relatif lebih simpel dibanding lensa lain, apalagi jika dibandingkan lensa zoom. sebuah lensa prime 50mm murah sekalipun bisa memberi Sobat kualitas foto yang tajam, renyah sekaligus bebas chromatic aberration.

3. Bisa berfungsi Sebagai Lensa Portrait di Kamera Crop

Di kamera crop dengan crop factor 1.5, lensa prime 50mm memiliki panjang focal efektif 75mm (50 x 1.5). Ini artinya jika Sobat memiliki kamera DSLR crop, maka Sobat sudah memiliki lensa tele pendek yang ideal untuk foto portrait.

4. Tanpa Zoom alias Fixed

Sudah jelas sih kalau lensa prime adalah lensa fixed alias tidak bisa dizoom. Untuk mengubah framing sebuah obyek foto, kita harus menggerakkan badan dan kadang kaki. Tanpa disadari, kemampuan komposisi dan pemahaman kharakter Sobat terhadap lensa ini mulai terbentuk secara otomatis akibat kita harus bergerak untuk mendapat sudut tembak yang pas. Ini jelas sebuah nilai positif. Keterbatasan tidak bisa zooming membuat kita menjadi lebih kreatif dan lebih melatih mata sekaligus membantu kita memahami aspek penting dalam fotografi: komposisi dan cahaya.


5. Ringan dijinjing (Tidak pakai "berat sama dipikul"....ini bukan pribahasa !!)

Hampir semua lensa prime 50mm memiliki bobot yang enteng dibandingkan jenis lensa lainnya (kecuali lensa 50mm f/1.2 L milik Canon). Saat anda harus banyak berjalan atau sedang traveling, faktor bobot menjadi satu pertimbangan yang penting. Memotret sebaiknya adalah proses yang bisa dinikmati, dan berjalan-jalan membawa lensa sebarat 1 kilo atau lebih adalah proses yang bikin pegel dan mengurangi kenikmatan dalam jalan-jalan. Problem ini akan sedikit berkurang saat Sobat membawa lensa prime 50mm, ringan dan memotret juga menjadi lebih nikmat.

6. Mudah Disulap Menjadi Lensa Makro

Sebuah lensa prime 50mm adalah lensa idela jika Sobat ingin memiliki lensa makro tanpa harus membeli lensa khusus makro. Dengan memanfaatkan extension tube atau Sobat bisa memasangnya dengan terbalik memanfaatkan reverse ring (baca triknya disini), kita menyulap lensa prime 50mm menjadi sebuah lensa dengan kemampuan makro yang kualitasnya sangat bagus.

7. Ga mahal-mahal amat!

Lensa prime 50mm adalah sebuah lensa dengan kualitas fantastis dan yang lebih penting lagi harganya lebih terjangkau dibandingkan lensa lain. Sobat bisa membeli lensa prime 50mm f/1.8 baik Nikon maupun Canon dengan harga sekitar satu juta perak.

Nah tunggu apalagi, jadikan lensa ini salah satu pertimbangan sebelum membeli lensa lainnya. Jangan lupa lihat juga bukti kehebatan lensa 50mm dibawah ini.


Catatan Penutup: Sebelum Sobat Teracuni "Racun" Lensa


Nah, setelah membaca 7 alasan kenapa lensa 50mm itu layak disebut sebagai "lensa sejuta umat", mungkin sekarang tangan Sobat mulai gatal ingin segera checkout di toko online. Sabar, tarik napas dulu. Lensa 50mm memang ciamik bin ajaib, tapi Sobat harus ingat, lensa ini bukan tongkat sihir Harry Potter yang otomatis bikin foto Sobat jadi karya maestro dalam sekali jepret.

Ada satu hal penting yang sering terlupa: lensa ini menuntut kekuatan kaki dalam artian yang sebenarnya. Karena lensa ini tidak bisa zoom, Sobat bakalan dipaksa untuk maju-mundur (tanpa) cantik mencari komposisi yang pas. Kadang saking semangatnya mencari angle, Sobat bisa saja tidak sadar sudah mundur sampai ke tepi selokan atau menabrak pot bunga tetangga. Jadi, pastikan area pemotretan aman dari rintangan, ya!

Selain itu, karena bukaan diafragmanya lebar (f/1.8), fokusnya pun jadi sangat tipis. Jangan kaget kalau saat memotret orang, yang tajam malah kupingnya, sementara matanya malah blur total. Itu bukan karena kameranya rusak, tapi karena Sobat belum terbiasa menjinakkan "liarnya" diafragma lebar. Tapi tenang, itulah seninya. Sekali Sobat berhasil menguasainya, hasil bokeh-nya dijamin bikin teman-teman Sobat bertanya, "Wah, pakai kamera apa nih? Kok background-nya bisa halus banget kayak pantat bayi?"

Terakhir, ingatlah bahwa harga satu juta itu baru permulaan. Begitu Sobat merasakan nikmatnya prime lens, biasanya akan muncul keinginan untuk mencoba 35mm, 85mm, dan seterusnya sampai dompet menjerit minta tolong. Tapi setidaknya, untuk saat ini, lensa 50mm adalah investasi paling "waras" yang bisa Sobat berikan untuk kamera kesayangan. Jadi, tunggu apa lagi? Segera cari lensa ini dan mulai petualangan fotografi Sobat! Selamat berkarya, dan jangan lupa, sering-sering olahraga kaki biar tidak pegal gara-gara kebanyakan maju-mundur saat memotret!

Salam Jepret Selalu! 

Artikel ini diadaptasi dan ditulis oleh: Tuntas Trisunu

Dark Beauty Photography.....ataukah..."Pure Beauty"? (Merekam kecantikan dalam bayang-bayang)



Ciledug, Tangerang, Banten, Kamis, 21 April 2016


Apa itu "Dark Beauty Photography"...?

Apa foto-foto ini dapat digolongkan ke dalam "Dark Beauty Photography?"

Beberapa foto di sini seakan diselubungi oleh aura atau nuansa "gelap" (kalau tak dapat dikatakan temaram)... atau minim warna!

Tapi foto-foto ini punya ciri khas yang sangat kuat, dan kalo kita melihat foto ini, mau nggak mau, kita setuju sama perspektifnya si fotografer (selanjutnya ditulis "FG" aja ya, capek ngetiknya...sumpah!), seakan-akan si FG berusaha "menyudutkan" kecantikan tersebut, ke dalam satu nafas kesederhanaan, sehingga siapapun yang melihat foto itu, akan memiliki sudut pandang yang sama dengan si FG nya, dimana kecantikan ditampilkan dalam bentuknya yang paling dasar, paling sederhana, dan paling murni.

Berikut akan saya posting beberapa foto, yang menurut saya, dapat digolongkan ke dalam "Dark Beauty":

Foto ini diusung dengan style "Black & White" atawa hitam putih! Sengaja dipakai style BW, untuk mengurangi hilangnya "fokus" karena banyaknya warna yang masuk kedalam frame. Dengan hitam-putih, otomatis, "point of interest" nya akan dipaksa atau digiring ke arah obyek foto, dan nilai dari si obyek akan lebih terangkat!... begitu menurut saya... tapi, ya semua balik lagi ke persepsi masing-masing orang yang yang melihat foto ini, dan itu sah-sah aja kok!


FG: teario photoclick

Lady in Frame: B. Mikan


FG. Agus Tabrani

Lady in Frame :.............

Secara garis besar saya masih belum bisa menemukan definisi yang pas dan definitif untuk "Dark Beauty", tapi, kalo menurut saya, foto-foto diatas bisa saya golongkan ke dalam "Super Beauty!" terlepas dari style yang diangkat! Salut selalu untuk para FG dan juga model yang terekam dalam foto-foto tersebut.

Tambahan Coretan:

Jadi, setelah merenung sambil menyeruput kopi yang juga ikutan mendingin (senasib dengan suasana foto-foto di atas), saya tiba pada satu kesimpulan penting. Jangan-jangan, Dark Beauty Photography ini sebenarnya adalah kesepakatan tak tertulis alias konspirasi dari para FG yang malas mengatur pencahayaan studio yang super ribet? Hehe, bercanda deng, jangan dilempar kamera ya!

Tapi serius, kalau dipikir-pikir dengan kepala dingin (dan hati yang hangat, diiringi dengan lambung yang nyaman karena terisi gorengan serta kopi hitam), genre ini punya daya pikat yang magis. Di era sekarang, di mana semua orang berlomba-lomba bikin foto yang glowing, terang benderang sampai-sampai pori-pori wajah pun minder dan memilih pindah ke planet lain, kehadiran foto-foto ber nuansa temaram ini justru jadi oase yang menyejukkan. Di tengah gempuran visual yang serba overexposure, gaya "remang-remang" ini malah terasa sangat jujur dan apa adanya.

Gaya ini seperti berbisik kepada kita: "Hei, kecantikan itu nggak melulu soal silau kok. Di dalam bayang-bayang pun, pesona itu tetap menyala." Keren kan puitisnya saya?

Menggunakan teknik minimal warna atau bahkan hitam-putih (BW) seperti pada karya saya (saya tulis ini tanpa rasa sombong di hati), atau permainan bayangan yang ciamik dari para FG hebat lainnya, sebenarnya adalah cara jenius untuk memangkas noise kehidupan. Kita dipaksa untuk tidak egois melihat ke mana-mana. Mata kita langsung dikunci, ditarik masuk ke dalam ekspresi, sorot mata, dan karakter kuat dari sang Lady in Frame.

Singkat kata singkat cerita, mau dibilang Dark Beauty, Pure Beauty, atau apa pun labelnya nanti di masa depan, esensinya tetap sama: keindahan itu universal dan tidak bisa digeneralisasi. Salut dan angkat topi setinggi-tingginya untuk para FG serta model yang sudah sukses berkolaborasi melahirkan karya-karya estetik ini. Kalian berhasil membuktikan kalau gelap itu nggak selalu horor. Terkadang, di dalam kegelapan itulah, kecantikan yang sesungguhnya justru "berteriak" paling lantang! Bagaimana menurut kalian? Yuk, coret-coret di kolom komentar bawah!

Artikel ini diadaptasi dan ditulis oleh: Tuntas Trisunu

Rabu, 20 April 2016

Beauty Photography.....Mahakarya



Ciledug, Tangerang, Banten, Rabu, 20 April 2016

Sobat, dalam celoteh kali ini, kita akan coba membahas secara sekilas saja, tentang satu “semi” aliran dalam fotografi, yang Bernama beauty photography.

Definisi dari foto beauty adalah foto yang menampilkan atau memfokuskan kecantikan si obyek. Biasanya (tidak selalu!) foto ini berupa close-up atau tampak dekat, mulai dari ujung kepala hingga leher. Pada Beauty Photography, tata rias dan tata rambut yang diaplikasikan pada model menjadi fokus utama.

Ada pula foto beauty yang menampilkan detail beauty, atau hanya menampilkan bagian-bagian tertentu dari wajah yang ingin difokuskan seperti misalnya mata, hidung, bibir, dan sebagainya.

Foto beauty menampilkan suatu keindahan atau kecantikan dari si obyek secara keseluruhan. Dan secara umum, orang memandang kecantikan sebagai “sesuatu” yang harus ditampilkan secara sempurna, flawless, alias tanpa kekurangan sedikitpun.

Menurut saya, foto beauty termasuk salah satu kategori foto yang cukup sulit dalam pengaturan pencahayaannya. 

Kenapa? 

Jawabnya simple (tapi untuk mewujudkannya ternyata sangat sulit), foto beauty menuntut kesempurnaan secara absolut, baik dalam segi detail tata rias dan rambut, pose,hingga ekspresi wajah model. Untuk itulah pencahayaan juga perlu ditata dengan sempurna untuk menghasilkan foto yang sempurna pula. 

Berikut adalah foto-foto yang menampilkan atau boleh dikategorikan sebagai beauty photography, baik dalam perspektif secara keseluruhan, karena ada sebagian photografer yang punya pendapat kalau beauty photography lebih melihat sebagai keseluruhan, baik model maupun backgroundnya ataupun temanya, dan secara utuh pula!

Silahkan disimak!


Demikianlah penuturan super singkat tentang definisi dari beauty photography. Benar atau salah, cocok atau tidak cocok, semuanya kembali ke perspektifnya si fotografer itu sendiri. Seperti yang sudah saya tuturkan di tempo lalu, fotografi itu adalah perwujudan dari seni, dan seni bukanlah sesuatu yang bersifat mutlak!

Walaupun demikian, saya sependapat dengan beberapa rekan fotografer lain, yang lebih suka untuk menerangkan dan menggambarkan “beauty photography” ini ke dalam satu kalimat saja…

Mahakarya!


Di Balik Layar Sebuah Mahakarya: Ego, Cahaya, dan Komunikasi


Sobat, setelah kita memahami bahwa beauty photography adalah tentang mengejar kesempurnaan yang absolut, ada satu hal lagi yang perlu kita bedah. Kesempurnaan itu tidak melulu soal kamera mahal, lensa premium, atau lampu studio yang berderet rapi. Di balik selembar foto beauty yang membuat mata kita terbelalak kagum, ada drama visual yang dimainkan oleh tiga elemen penting: Ego, Cahaya, dan Komunikasi.

Banyak fotografer pemula mengira tantangan terbesar aliran ini adalah menyetel kekuatan flash atau memilih softbox yang pas. Padahal, tantangan sebenarnya adalah bagaimana kita menyatukan banyak kepala untuk satu visi yang sama.

Dalam sesi foto beauty, seorang fotografer tidak bekerja sendirian. Kita adalah konduktor dari sebuah orkestra kecil yang beranggotakan Makeup Artist (MUA), Hair Stylist, dan tentu saja, sang model itu sendiri.

Sentuhan MUA adalah kanvas utamanya.

Pose dan ekspresi model adalah jiwanya.

Tugas kita sebagai fotografer adalah menangkap itu semua dengan "pahat" yang bernama cahaya.

Jika komunikasi antar-elemen ini tersumbat, lupakan saja kata "Mahakarya". Foto yang dihasilkan mungkin tajam, tetapi akan terasa hambar dan mati.

Selain itu Sob, beauty photography adalah ujian kesabaran tingkat tinggi. Ketika kita melihat detail wajah secara close-up, setiap pori-pori, setiap helai rambut yang keluar jalur, hingga riasan yang sedikit retak akan terlihat sangat jelas. Di sinilah ketajaman mata kita diuji. Kita dituntut untuk menjadi seorang perfeksionis yang cerewet namun tetap elegan di atas set foto. Kita harus tahu kapan harus berhenti, kapan harus memperbaiki riasan, dan kapan harus menekan tombol rana di momen yang paling tepat.

Jadi Sob, kalau ada orang yang bilang foto beauty itu gampang karena objeknya sudah dasarnya cantik, ajaklah mereka sesekali main ke studio. Biar mereka tahu bahwa kecantikan yang kasatmata itu baru menjadi sebuah seni tingkat tinggi ketika berhasil diabadikan lewat proses yang rumit, penuh dedikasi, dan tentu saja... jiwa yang menghargai keindahan secara utuh.

Bagaimana menurut Sobat? Sudah siap untuk mencoba menaklukkan aliran yang penuh tantangan estetika ini?

Demikianlah Sob, penuturan singkat kali ini. Semoga Sobat sekalian dapat terhibur karenanya.

(Tambahan ya Sob. kalau Sobat tertarik dengan aliran fotografi ini, silahkan mampir di artikel saya yang lain, yang juga mengulas tentang beauty fotografi. Judul artikel itu adalah: Beauty Photography (Atawe Foto yang Menusung Kecantikan), Satu Aliran dalam Fotografi, dan Penuturannya (Celoteh Bagian Pertama))

#One-day, One-photo, one-memory 

Artikel ini diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

Senin, 11 April 2016

Fotografi Ekspresi...Menjebak "Bahasa" Wajah ke dalam Frame



Ciledug, Tangerang, Banten, Senin, 11 April 2016

Salam jepret Sobat semuanya! Artikel kali ini adalah tentang ekspresi wajah! Manusia memang merupakan objek tanpa batas dari dunia fotografi. Ada fotografer yang memfokuskan diri pada wajah, ada juga fotografer yang memilih memfokuskan pada bagian-bagian tertentu dari tubuh manusia, dan ada juga fotografer yang lebih memilih untuk mengabadikan manusia itu secara keseluruhan dari ujung rambut sampai ujung kaki.

Artikel ini secara khusus akan mengulas tentang bagian dari fotografi wajah. Aliran fotografi ini lebih memfokuskan bidikan pada wajah dengan berjuta ekspresinya, di mana "jiwa" dari foto tersebut terwakili dengan sangat baik lewat ekspresi wajah si objek.

Kalau saya ditanya: apa definisi dari fotografi ekspresi? Saya akan pilih untuk langsung melarikan diri atau terjun ke laut daripada harus menjawabnya! Jelas sob, karena definisinya kadang susah diungkapkan dengan kata-kata. Foto ekspresi ini sebenarnya masuk ke dalam ranah foto portrait. Tetapi, kadang saya menemui banyak foto portrait yang menampilkan objek dengan ekspresi yang "datar", alias tanpa ekspresi sama sekali pada raut wajahnya. Untuk itu, saya lebih memilih untuk menggolongkan foto-foto jenis ini ke dalam "Foto Ekspresi", di mana yang menjadi fokus utamanya adalah ekspresi yang terpancar pada raut wajah si objek.


Keluguan Anak-Anak Sebagai Objek Abadi

Dalam dunia foto ekspresi, anak-anak merupakan objek yang sangat tepat serta tak lekang oleh waktu. Mengapa? Karena keluguan dan kejujuran ekspresi wajah mereka selalu berhasil memikat naluri kemanusiaan kita. Anak-anak belum pandai berpura-pura di depan kamera; ketika mereka senang, tawa mereka lepas, dan ketika mereka bingung, raut wajahnya pun terlihat sangat polos.

Foto keponakan saya, Dimas, adalah salah satunya. Foto itu berhasil mengabadikan ekspresi yang sangat polos dari wajah seorang anak. Jujur, saya sendiri sebenarnya masih belum mengerti betul foto jenis ini enaknya digolongkan ke mana secara teori formal. Tapi bagi saya, Point of Interest-nya jelas berada pada wajah si model, yang menunjukkan ekspresi yang khas. Menurut saya, foto tersebut berhasil menunjukkan emosi murni (true emotion) dari si model pada saat kamera menjepretnya.


Seni Mengunci Fokus pada Raut Wajah Model

Untuk objek model dewasa, ketika patokannya adalah ekspresi wajah, maka fotografer pada saat memotret harus sebisa mungkin menghindari keseluruhan tubuh dari si model dan benar-benar berfokus pada raut wajah serta ekspresinya. Jangan biarkan pakaian yang heboh atau pose tubuh yang berlebihan mendistorsi pesan utama yang ingin disampaikan oleh wajah.

Sebab, esensi dari fotografi ekspresi ini terletak sepenuhnya dari kekuatan ekspresi raut wajah si objek foto—apakah itu menangis, tertawa, tersenyum, sedih, sayu, atau bahkan saat mereka terpaku memandang "sesuatu" di kejauhan dengan tatapan kosong. Itulah hakikat fotografi ekspresi yang sebenarnya. Bahasa visual tanpa suara itulah yang disampaikan melalui fotografi ekspresi.

Untuk memberikan kesan yang lebih dramatis dan mendalam, eksperimen warna juga sangat membantu. Contohnya pada foto kedua di atas, saya mencoba menyajikannya dalam format khusus (Edisi: Sepia with a touch of colour!). Hasilnya, aura foto terasa lebih klasik dan emosinya jadi lebih tersampaikan.

Catatan Tambahan: Drama Model Misterius dan Ancaman Tripod

Nah, bicara soal foto kedua yang menggunakan efek sepia itu, ada cerita humor tragis di baliknya, Sob. Sampai detik artikel ini diketik dan siap ditayangkan, saya sendiri masih tidak tahu nama asli model perempuan berkuncir kuda itu siapa!

Kejadian ini mirip sekali dengan ulasan saya di artikel sebelumnya tentang karya kawan saya si "Gilang"—di mana kami kenalan tapi saya tidak tahu nama aslinya di KTP siapa. Tapi ya sudahlah, peduli setan belang siapapun namanya, bagi seorang fotografer, yang paling penting adalah bagaimana sebuah karya bisa berbicara kepada penikmatnya.

Membiarkan identitas model tetap misterius itu sebenarnya ada seninya sendiri. Hal ini membuat pembaca blog kita jadi ikut penasaran, menebak-nebak, dan memandangi foto tersebut lebih lama. Tapi ingat ya Sob, jurus "peduli setan belang" ini jangan dipraktikkan kalau Anda sedang mengambil proyek foto komersial dari klien resmi. Bayangkan kalau klien Anda bertanya siapa nama modelnya untuk keperluan administrasi kontrak, lalu Anda jawab dengan santai: "Nggak tahu, yang penting true emotion-nya dapet!" Wah, dijamin Anda bisa langsung dilempar pakai tripod besi seberat tiga kilogram oleh klien saat itu juga!

Kesimpulan

Demikianlah ulasan singkat tentang foto ekspresi kali ini. Tulisan ini memang masih sangat jauh dari kata benar, apalagi sempurna. Jadi mohon dimaklumi ya, Sob!

Supaya Sobat jepret semua bisa mendapatkan penjelasan yang agak lengkap dan mendalam seputar dunia potret-memotret, ada baiknya Sobat juga membaca artikel saya tentang tips memotret wajah yang bisa Sobat pelajari lewat tautan yang tersedia di laman blog ini.

Semoga artikel ini menghibur dan bermanfaat. Tetap sehat, tetap semangat, dan mari kita terus menjebak emosi ke dalam frame!

Selasa, 05 April 2016

Foto dari komunitas Banana's.....Edisi Foto Close Up



Ciledug, Tangerang, Banten, Selasa, 5 April 2016

Edisi Foto Close Up: Menangkap Jiwa dalam Bingkai Terdekat

Salam jepret, Sobat semuanya! Kali ini kita akan kembali menyelami salah satu teknik yang paling "intim" dalam dunia fotografi, yaitu Foto Close Up.

Bagi banyak orang, terutama para pengguna media sosial yang haus akan validasi visual, foto close up adalah menu wajib. Entah itu untuk foto profil LinkedIn agar terlihat profesional, atau sekadar foto profil WhatsApp supaya teman lama tidak lupa wajah kita. Namun, tahukah Sobat bahwa close up bukan sekadar menaruh kamera di depan hidung lalu menekan tombol shutter?

Lebih dari Sekadar Potongan Wajah

Secara teknis, close up adalah bidang pandang yang mengambil objek manusia dari dagu hingga ujung kepala. Tujuannya sangat spesifik: memberikan ketajaman maksimal pada objek sasaran. Dalam teknik ini, latar belakang dan lingkungan seolah dipaksa mengalah, membiarkan mata dan ekspresi subjek menjadi penguasa tunggal di dalam bingkai (frame).

Seringkali kita melihat foto profil yang diambil begitu saja tanpa perhitungan. Padahal, kekuatan utama close up terletak pada kemampuannya menyatukan subjek dengan emosinya. Saat kita meniadakan ruang di sekitar wajah, kita sebenarnya sedang mengajak pemirsa untuk "mengobrol" langsung dengan mata si model. Itulah alasan mengapa mata harus selalu menjadi titik fokus paling tajam dalam sebuah potret.

Keluar dari Jebakan "Eye Level"

Salah satu kesalahan pemula (termasuk saya dulu) adalah terlalu setia pada sudut pandang sejajar mata atau eye level. Memang, eye level memberikan kesan jujur dan apa adanya, tapi kalau terus-menerus dipakai, hasilnya akan terasa hambar—mirip foto di buku ijazah atau KTP yang kaku dan tanpa nyawa.

Untuk membuat foto close up yang lebih "berbicara", kita harus berani bereksperimen dengan perspektif. Cobalah mengambil sudut sedikit lebih tinggi (high angle) untuk memberikan kesan lembut, atau sedikit lebih rendah (low angle) untuk memberikan kesan subjek yang lebih berwibawa dan kuat. Sedikit kemiringan pada kepala model juga bisa mengubah drastis karakter foto dari yang tadinya kaku menjadi lebih dinamis dan artistik.

Cahaya: Sang Sutradara Tersembunyi

Pencahayaan adalah kunci rahasia dalam close up. Karena kita fokus pada detail wajah, bayangan yang jatuh pada hidung atau bawah mata akan terlihat sangat jelas. Cahaya alami dari jendela (window light) biasanya menjadi sahabat terbaik bagi fotografer close up karena sifatnya yang lembut dan mampu menciptakan gradasi yang halus pada kulit.

Jangan sekali-kali menggunakan flash langsung dari depan wajah jika tidak ingin model yang sedang Sobat potret terlihat seperti terkena ledakan cahaya yang meratakan semua dimensi wajahnya. Jika harus menggunakan lampu tambahan, pastikan ada pemantul (reflector) atau sumber cahaya dari samping agar wajah memiliki tekstur dan kedalaman.

Catatan Sampingan: Drama di Balik Lensa (Encok dan Gemetar)
Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang sering tidak diceritakan di buku teks fotografi: Perjuangan Fisik.

Memotret close up itu menuntut kesabaran tingkat dewa. Bayangkan, Sobat harus menahan napas sekuat tenaga supaya kamera tidak goyang (shaking) saat fokus sudah terkunci pada pupil mata model. Sedikit saja Sobat bernapas terlalu keras, fokus bisa meleset ke ujung bulu mata atau bahkan ke dahi. Alhasil, foto yang harusnya estetik malah jadi blur.

Belum lagi urusan "encok" yang mendadak menyerang karena Sobat harus berjongkok atau meliuk-liuk mencari sudut pandang yang bukan eye level. Belum lagi drama kalau baterai kamera mulai berkedip merah tepat saat si model sedang memberikan ekspresi terbaiknya. Di saat seperti itulah, iman kefotografian kita benar-benar diuji antara ingin terus memotret atau ingin membanting kamera karena kesal.


Kesimpulan: Teruslah Mendekat

Jadi, buat Sobat jepret semua, jangan takut untuk mendekat. Foto close up adalah cara terbaik untuk melatih kepekaan kita terhadap detail dan emosi manusia. Jangan puas hanya dengan hasil yang "penting kelihatan mukanya". Eksplorasi cahayanya, mainkan sudut pandangnya, dan yang terpenting: jaga komunikasi dengan model Sobat supaya mereka tidak merasa sedang diinterogasi oleh lensa kamera.

Demikian ulasan singkat edisi close up kali ini. Semoga menginspirasi Sobat semua untuk terus berkarya. Tetap sehat, tetap semangat, dan jangan lupa isi penuh baterai kamera Sobat sebelum berangkat memotret!

Artikel oleh: Tuntas Trisunu

Dark Beauty....atau bukan?



Foto di Atas... Dark Beauty... Atau Bukan?


Masih dalam artikel yang mengulas secara singkat tentang berbagai hal yang ber”aroma” fotografi. Kali ini, yang kebagian untuk disentil adalah salah satu karya Sobat saya, “Gilang”.

(Berani sumpah, saya tidak tahu nama asli Sobat saya ini. Cuma sewaktu kenalan dahulu, dia bilang kalau namanya Gilang. Peduli setan belang siapapun nama aslinya, kalau dia bilang namanya Gilang, ya saya akan panggil dia sebagai “Gilang”).

Untuk foto yang satu ini, rasanya terlalu "terang" kalau mau dikategorikan sebagai dark beauty photo. Tetapi, saya sangat setuju dan sepakat kalau foto ini harus digolongkan ke dalam jenis Art or Beauty Shot Photo. Salut dan penghargaan sebesar-besarnya untuk FG (Fotografer) dan modelnya di dalam frame ini.

Menyelami Filosofi Beauty Shot

Nah, buat Sobat jepret yang masih belum paham tentang apa arti dari “Beauty Shot”, di sini ada keterangan dari sang maestro mengenai artinya. Silakan disimak ya, Sob:

Beauty shot adalah sebuah ungkapan dalam jagat raya fotografi yang artinya: “Segala sesuatu yang dihasilkan dalam fotografi seharusnya terlihat cantik, menarik, dan menebarkan aura dari foto tersebut”.

Jadi, berangkat dari pemahaman yang super mendalam di atas, maka kewajiban utama dari seorang fotografer bukan lagi sekadar tentang teknik pencahayaan, setting kamera, dan hal-hal lain yang sifatnya teknis semata. Tugas terberatnya justru adalah kemampuan untuk menyelami dan mendalami karakter serta anatomi wajah dari model yang akan difoto.

Membakar Rasa Percaya Diri di Depan Lensa

Selain anatomi wajah dan tubuh, hal lain yang tidak kalah penting bagi fotografer adalah mampu memberikan arahan dan membangkitkan rasa percaya diri sang model. Tujuannya jelas, agar fotografer dapat memotret model dengan maksimal dari perspektif yang paling maksimal pula.

Selain ekspresi wajah model yang menjadi perhatian utama, maka ekspresi gerak atau bahasa tubuh (body language) si model juga merupakan hal yang harus mendapat perhatian penting. Dengan begitu, antara ekspresi wajah dan bahasa tubuh sang model menjadi satu kesatuan yang menciptakan satu sinergi yang apik dari foto tersebut.

Supaya bisa mencapai fase sedalam itu, komunikasi yang baik antara fotografer dan model adalah perkara yang paling utama. Dan foto karya Gilang di atas bisa merepresentasikan itu semua dengan sangat epik. Dalam artikel ini, saya hanya ingin mengucapkan satu hal: “Karya Luar Biasa!”

Catatan Tambahan: Misteri Nama "Gilang" dan Model Tanpa Identitas

Bicara soal foto ini, ada humor tragis yang membuat saya sedikit merenung, Sob. Di dunia fotografi digital seperti sekarang, kadang kita lebih mudah mengingat merek lensa, setelan ISO, atau jenis lighting yang dipakai ketimbang nama asli orangnya. Contohnya ya si Gilang ini. Sampai artikel ini diketik, saya masih tidak tahu nama aslinya di KTP siapa. Bisa jadi nama aslinya adalah "Asep", "Mamat", atau "Bambang". Tapi karena di dunia maya dia pakai nama Gilang, ya sudahlah kita sepakati saja begitu demi keselamatan bersama dan demi menghindari perang dunia ketiga.

Tragedi kedua adalah identitas si mbak-mbak alias Lady in frame yang ada di foto tersebut. Saya tulis (nggak tahu... mungkin ada yang tahu?) bukan karena saya malas mencari tahu atau kuota internet saya habis, Sob. Tapi itulah seninya menikmati sebuah karya anonim. Kadang, membiarkan identitas model tetap misterius justru menambah kesan deep, puitis, dan bikin penonton betah memandangi fotonya berlama-lama sambil menebak-nebak dalam hati, "Ini orang daerah mana ya? Kok bisa pose sekeren ini?" Tapi ya jangan keseringan pakai jurus anonim begini juga, Sob. Bayangkan kalau Sobat menerima proyek motret komersial yang dibayar mahal, lalu pas ditanya oleh klien siapa nama modelnya untuk keperluan kontrak, Sobat malah jawab dengan santai: "Peduli setan belang, saya nggak tahu." Bisa-bisa hari itu juga Sobat langsung dilempar pakai tripod atau di-blacklist dari dunia kefotografian seumur hidup!

Koleksi Eksperimen "Dark Beauty" Saya

Nah, karena di awal kita sempat berdebat dan menyinggung sedikit soal aliran Dark Beauty, di bawah ini adalah koleksi foto saya pribadi, yang saya ambil dengan perspektif Dark Beauty yang sesungguhnya (tentunya ini menurut versi idealis dan imajinasi saya sendiri ya, Sob).

Silakan disimak, dinikmati, diambil hikmahnya, dan kalau bisa... tolong jangan dihujat terlalu kejam di kolom komentar!

FG: Gilang
Lady in frame: (ga tau....mungkin ada yang tau?... Misterius)

Salam Jepret! Tetap sehat, tetap semangat!

Artikel ini diadaptasi dan ditulis oleh: Tuntas Trisunu





Edisi Fotografi from komunitas Banana's

Masih diseputar fotografi...

Postingan kali ini tentang fotografi yang nuansanya.....dark....atawe gelap!

Mungkin nggak kalo foto ini genrenya...dark beauty?...

Bisa jadi, tapi gw dah nyari berbagai referensi tentang "Dark Beauty Photography" di internet...sayang sampe saat ini belum dapat hasil yang memuaskan!....

Mohon kiranya kalau sohib-sohib ada yang tau tentang definisi ini....dikasih tau atuh ke saya!!!

Untuk Foto ciamik di samping ini..

FG : Agus Tabrani 
Lady in Frame :..(Entah siapa!)

Fotonya mantab abis!!!!!!