Tampilkan postingan dengan label Bangunan bersejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bangunan bersejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Mei 2023

Spot fotografi - Lawang Sewu, Spot Foto nan Klasik, Indah, dan Eksotis.


Lawang Sewu - Semarang
trisoenoe.com

Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, Jakarta, Selasa, 16 Mei 2023

(Artikel ini ditulis, saat Indonesia sedang panas-panasnya. Entah kenapa, sudah beberapa hari ini, tidak siang tidak malam, tetap terasa panas. Serasa berdiri di depan kompor tukang nasi goreng pas tukangnya lagi goreng 100 porsi sekaligus!)

Salam jumpa lagi sobat jepret seantero alam raya. Ijinkan saya untuk mengulas satu spot fotografi yang cukup terkenal di dunia per"jepretan". Spot fotografi ini memang terbilang unik, terletak di jantung kota Semarang, bangunan ini memancarkan aura klasik yang eksotis yang sangat khas, baik dari sisi interior maupun exteriornya yang ciamik.

Lawang Sewu - Semarang
trisoenoe.com

Nama bangunan ini adalah "Lawang Sewu", dan ini adalah sekelumit kisah tentang spot fotografi ini:

Secara etimologis, kata Lawang Sewu berasal dari bahasa jawa yang berarti “pintu seribu”. Penyebutan Lawang Sewu mungkin muncul karena banyaknya jendela dan pintu yang terdapat di bangunan ini, walaupun jumlahnya tidak persis seribu pintu. Pada era kolonialisme Belanda, gedung ini punya nama "Het administratiegebouw van de Nederlandsch-Indische Spoorweg-Maatschappij", sebuah gedung perkantoran untuk mengurus perkereta apian milik Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Saat ini bangunan Lawang Sewu berada dibawah manajemen PT. Kereta Api Indonesia (KAI) yang kemudian difungsikan museum serta galeri tentang sejarah perkeretapian di Indonesia.

Lawang Sewu - Semarang
trisoenoe.com

Bangunan ini dirancang oleh Prof. Jakob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag, arsitek dari Amsterdam dengan ciri dominan berupa elemen lengkung dan sederhana. Bangunan dirancang menyerupai huruf "L" serta memiliki jumlah jendela dan pintu yang banyak sebagai sistem sirkulasi udara (dan dari sinilah istilah "Lawang Sewu" berasal)

Selain desain bangunanya yang unik, Lawang Sewu memiliki ornamen kaca patri pabrikan Johannes Lourens Schouten. Kaca patri tersebut bercerita tentang kemakmuran dan keindahan Jawa, kekuasaan Belanda atas Semarang dan Batavia, kota maritim serta kejayaan kereta api. Ragam hias lainnya pada Lawang Sewu antara lain ornamen tembikar pada bidang lengkung di atas balkon, kubah kecil di puncak menara air yang dilapisi tembaga, dan puncak menara dengan hiasan perunggu.

Lawang Sewu - Semarang
trisoenoe.com

Lawang Sewu terletak di Jl. Pemuda, berada tepat di depan Tugu Muda dan Museum Mandala Bhakti. Gedung Lawang Sewu mulai dilakukan pembangunan melalui peletakan batu pertama pada tahun 1904 dan selesai pada tahun 1919. Namun, gedung ini sudah beroperasi sejak 1907. Secara umum, bangunan Lawang Sewu memiliki dua bangunan utama dimana setiap bangunan memiliki dua gedung A dan B, serta C dan D. Gedung A adalah gedung yang menghadap ke Tugu Muda serta memiliki dua menara kembar. Bangunan ini memiliki banyak kaca patri besar, memiliki tangga utama di bagian tengah serta jalur menuju lorong bawah tanah. Tepat di belakang gedung A, terdapat gedung B yang memiliki 3 lantai. Lantai 1 dan 2 pada gedung ini digunakan sebagai perkantoran sedangkan lantai 3 berfungsi sebagai loteng.

Sejarah Lawang Sewu

Pada tahun 1864 ketika Belanda melakukan pembangunan jalur kereta api di Indonesia, Belanda mulai merancang jalur kereta api Semarang-Solo-Yogyakarta dan Kedungjati-Ambarawa. NIS merupakan perusahaan yang bertanggungjawab dalam membangun jalur kereta api ini. Dimulai dari tahun 1864 hingga 1867, pada awalnya pembangunan jalur kereta api ini difungsikan sebagai penghubung antara Semarang sebagai bandar pelabuhan dan industri dengan wilayah pedalaman sebagai penghasil bahan mentah berupa hasil perkebunan dari Solo dan Yogyakarta. Dengan adanya perkembangan teknologi membuat NIS sukses besar dan mengharuskan memiliki kantor sendiri.

Lawang Sewu - Semarang
trisoenoe.com

Kantor yang akan mereka bangun adalah sebuah kantor urusan administrasi yang nantinya terletak di Jalan Pemuda. Pada tahun 1904 dimulailah proses pembangunan gedung administrasi perkantoran kereta api oleh J.F. Klinkhamer dan B.J. Queendag sebagai koordinator perencanaan, serta memilih Cosman Citroen sebagai arsitek untuk gedung tersebut. Pembangunan gedung ini berakhir pada tahun 1918.

Ketika memasuki masa penjajahan Jepang, bangunan Lawang Sewu berubah menjadi Kantor Ryuku Sokyoku (Jawatan Transportasi Jepang). Selain menggunakan kantor transportasi, Jepang juga menggunakan ruang bawah tanayh Lawang Sewu sebagai penjara dan tempat eksekusi mati. Kemudian pada Oktober 1945, Belanda ingin mengambil alih kembali wilayah Semarang sehingga menimbulkan perang dan memaksa Jepang mundur.

Setelah masa perang mempertahankan kemerdekaan gedung Lawang Sewu berubah menjadi kantor DKARI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia). Namun, memasuki tahun 1946 ketika Belanda mulai menancapkan kekuasaannya di Semarang, DKARI harus berpindah ke bekas kantor de Zustermaatschappijen karena gedung Lawang Sewu digunakan oleh Belanda untuk menjadi markas tentaranya.

Pada tahun 1994 dilakukan penyerahan ke PT. KAI dan dilakukan restorasi gedung Lawang Sewu pada tahun 2009. Pada tahun 2011, Ibu Negara Ani Yudhoyono meresmikan gedung Lawang Sewu yang kini menjadi salah satu tujuan wisata sejarah perkereta apian di Indonesia.

Lawang Sewu - Semarang
trisoenoe.com

Kisah Pilu Lawang Sewu

Berdasarkan sejarah, Bangunan Lawang Sewu ini pernah menjadi saksi bisu Pertempuran Lima Hari di Semarang, Jawa Tengah.

Selain itu, bangunan ini juga merupakan lokasi pertempuran antara AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) melawan Kidobutai dan Kempetai Jepang.

Singkat cerita, pada 1945 yang merupakan tahun kemerdekaan Indonesia, terjadilah pertempuran yang melibatkan AMKA (Angkatan Pemuda Kereta Api) dengan prajurit Jepang. Pertempuran ini berlangsung selama lima hari tiada henti pada 15-19 Oktober.

Salah satu penyebabnya adalah tewasnya dr. Kariadi yang merupakan dokter paling andal kala itu. Prajurit Jepang berada di dalam kawasan Lawang Sewu, sementara AMKA berada di Wilhelminaplein tepat seberang Lawang Sewu. Wilhelminaplein inilah yang dikenal dengan Kawasan Taman Tugu Muda.

Dari segi jumlah dan senjata, pemuda AMKA dinilai memang sudah kalah. Prajurit Jepang berjumlah sekitar 500.000 orang dengan senjata bayonetnya, sementara pemuda AMKA hanya berjumlah 2000 dengan senjata bambu runcing. Namun dengan semangat yang menggelora dan pantang menyerah, pemuda AMKA tetap berusaha melawan, walau pada akhirnya harus gugur di medan perang.

"Kawasan Wilhelminaplein ini dulunya dijadikan kuburan massal bagi pemuda AMKA yang meninggal. Namun, kemudian jasad-jasadnya dipindahkan ke makam yang lebih layak, yakni Makam Giri Tunggal, makam pahlawan dari pejuang AMKA," ujar Aris.

Riwayat Lawang Sewu Semarang dimulai sejak tahun 1904, yang merupakan proses awal pembangunan gedung tersebut dan terselesaikan 3 tahun kemudian.

Ketenaran Lawang Sewu mulai berakhir saat Jepang menguasai Kota Semarang pada tahun 1940. Bangunan megah ini mulai dijadikan sebagai tempat istirahat tentara jepang.

Demikianlah penuturan saya tentang salah satu spot fotografi di Semarang, yaitu Lawang Sewu. Jika sobat-sobat ada sempat pakansi ke Semarang, tak ada salahnya jika sobat singgah ke tempat ini. Siapkan kamera, dan puaskan hasrat untuk berfoto di sana. 

Semoga artikel ini berkenan untuk sobat-sobat sekalian.

Akhir kata, Salam jepret selalu.

Artikel ini diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photos

Rabu, 28 September 2016

SPOT FOTOGRAFI-GEDUNG ARSIP NASIONAL



Kemayoran, Jakarta, Rabu, 28 September 2016

Sambil menunggu kabar, apakah gajian akan tiba hari ini, atau mundur (wah...jangan dong!....Bisa sedih + Nangis bombay nih kalo mundur!), ada baiknya, saya mengisi masa-masa penantian yang menegangkan, mengiris hati,  dan mengharubiru ini dengan menulis sesuatu....Yang kalau dibilang penting, juga tidak, tapi kalau dibilang tidak penting.....Ya memang tidak penting-penting amat sih!....Tapi lumayan untuk perbendaharaan pengetahuan!

Postingan ini adalah tentang satu Spot Fotografi yang juga lokasi destinasi atau tujuan wisata, yang sangat bernilai sejarah....yaitu "Gedung Arsip Nasional ". Ironisnya, gedung ini juga bernasib sama dengan bangunan-bangunan bersejarah lain....Terabaikan!


Dan yang bikin lebih miris lagi, ternyata bangunan ini tetap bisa eksis setelah diselamatkan oleh suatu organisasi non pemerintah dari luar negeri, yang merasa prihatin atas kondisi bangunan ini, dan berinisiatif untuk menyelamatkannya....Zonder bantuan dari pemerintah....Wah....Jadi malu nih rasanya!

Secara visual, gedung ini memiliki keindahan arsitektural yang tinggi, terbukti dengan designnya yang tetap menarik walau telah melewati pergantian waktu, sangat kontras dengan bangunan-bangunan (ruko atau gedung baru) disekelilingnya yang sangat......"common" dan terkesan asal jadi.


Boleh dibilang, gedung ini sebagai penanda yang jelas dari "ketidakpedulian" orang atau badan usaha yang tumbuh disekitarnya, yang enggan untuk meniru nafas "estetis" dari bangunan ini, dan lebih memilih untuk mengambil jalur "instant" demi meraih profit yang sifatnya juga "instant"...Efeknya bisa ditebak, mayoritas bangunan/gedung2 disekitarnya hanya menjadi "polutan pemandangan".


So....buat sobat-sobat yang kebetulan mampir ke jalan Gajah Mada, nggak ada salahnya untuk sekedar menengok dan memandang bangunan ini, karena toh bangunan ini menawarkan perpektif yang berbeda dibanding yang lain!

Oh ya...Untuk lebih jelasnya tentang asal usul bangunan ini, disini saya sertakan saduran dari wikipedia, sekedar tambahan khazanah pengetahuan kita tentang sejarah!

Inilah tuturan "Wikipedia" tentang Gedung Arsip Nasional :

Gedung ini adalah bekas kediaman gubernur jenderal VOC Reinier de Klerk dan dibangun pada abad ke-18.
Tahun 1900, ada rencana untuk membongkarnya dan membangun pertokoan di tempatnya. Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen ("perhimpunan Batavia untuk seni dan ilmu"), yang justru didirikan de Klerk, turun tangan untuk menyelamatkannya. Antara lain, Genootschap menghibahkan mebel yang masih terlihat di gedung itu.


Hingga tahun 1925, gedung ini dipakai departemen Pertambangan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Kemudian, tempat tersebut dijadikan Lands archief ("arsip negeri"), yang setelah Indonesia menjadi gedung arsip nasional. Tahun 1992, arsip nasional dipindahkan ke gedung baru di Jalan Ampera di Jakarta Selatan.


Tahun sama, ada kabar angin bahwa gedung lama akan dibongkar keluarga mantan presiden Soeharto untuk membangun pertokoan, seperti pada tahun 1900. Gedung ini diselamatkan sekelompok usahawan Belanda yang mendirikan Stichting Cadeau Indonesia ("yayasan hadiah Indonesia") yang ingin memberikannya sebagai hadiah ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-50. Yayasan tersebut mengumpulkan dana untuk memugarnya dan menjadikannya sebuah museum.


Pemugaran rampung awal tahun 1998. Tanggal 13 Mei terjadi kerusuhan di Jakarta. Bank yang letaknya di sebelah dibakar, dan Gedung Arsip memperbolehkan karyawan bank berlindung di dalamanya. Para perusuh mengejar mereka ke dalam, tapi diusir para buruh yang masih ada di tempat dan tidak ingin hasil pekerjaan mereka dihancurkan.


Kini, gedung dikelola oleh yayasan tanpa bantuan dari pemerintah dan dijadikan tempat pameran. Kebunnya buka dari pukul 6.00 sampai 18.00. Penduduk setempat diajak memakai kebun tersebut sebagai sarana umum. 

Nah, sobat jepret semuanya, itulah tadi, ulasan sangat singkat tentang satu spot fotografi, yang sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Keunikan dan keindahan arsitektural dari Gedung Arsip Nasional, sangat sesuai dan "masuk" banget untuk obyek foto, maupun background. Banyak tema yang bisa diterapkan di Spot Fotografi yang satu ini. Mau Still Life Photography, atau model dengan tema klasik-Hitam Putih, atau sekedar memotret gedungnya saja (untuk menonjolkan arsitekturalnya), atau apapun.....bisa masuk dan klik di tempat ini!

Demikian sobat, sedikit ulasan dari saya, tentang satu obyek foto, yang sangat indah di Jakarta.

Rabu, 13 Juli 2016

ARTI KATA "BEOS" DI STASIUN JAKARTA KOTA



Kemayoran, Jakarta, 13 Juli 2016

Postingan kali ini agak berbeda dari yang dulu-dulu. Kalo postingan yang dulu biasanya berkisar di seputaran fotografi, untuk postingan kali ini yang akan saya ulas adalah tentang satu tempat yang bersejarah, yaitu tentang sejarah stasiun kereta api jakarta kota, atau yang lazim kita kenal dengan nama “BEOS”.

(tapi, kalau dipikir-pikir, sebenarnya tempat ini cocok juga sih untuk spot fotografi! Contohnya Human Interest Photography, atau Street Photography)


Untuk temen-temen yang belum tahu apa artinya BEOS, ga usah berkecil hati, ga bakal di bully, apalagi dihujat dan dicambuk (duh....kejem amat!), soalnya, jujur, saya juga baru aja tau ini istilah setelah browsing, surfing, searching, shopping, triping, maling, nungging, dan banyak “ing” lainnya!


Jadi, tanpa basa-basi lagi, berikut ini adalah uraian singkat dari sejarah stasiun kereta api “BEOS”...

Stasiun Kereta Api Jakarta Kota yang dikenal dengan sebutan Stasiun Beos adalah stasiun kereta api yang berusia cukup tua di Jakarta. Keberadaannya pada saat ini tidak bisa dilepaskan dari “Jakarta” dan menjadi salah satu icon dari banyak icon yang melekat pada Jakarta (contohnya banjir, macet, eh...salah ding....contohnya Monas, Ragunan, Taman Mini, Bunderan HI, dan lain-lain). Dan, stasiun ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. 


Selain bangunannya kuno, stasiun ini merupakan stasiun tujuan terakhir perjalanan kereta api (kalo ga percaya, ke sana aja, liat sendiri, relnya mentok tuh di stasiun kota, alias abis!). Hanya saja mungkin hanya sedikit warga Jakarta yang tahu apa arti Beos yang ternyata memiliki banyak versi, dan berikut adalah versi-versi tersebut :

Versi Pertama, Beos kependekan dari Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij (Maskapai Angkutan Kereta Api Batavia Timur), sebuah perusahaan swasta yang menghubungkan Batavia dengan Kedunggedeh.


Versi lain, Beos berasal dari kata Batavia En Omstreken, yang artinya Batavia dan Sekitarnya, dimana berasal dari fungsi stasiun sebagai pusat transportasi kereta api yang menghubungkan Kota Batavia dengan kota lain seperti Bekassie (Bekasi), Buitenzorg (Bogor), Parijs van Java (Bandung), Karavam (Karawang), dan lain-lain.

Sebenarnya, masih ada nama lain untuk Stasiun Jakarta Kota ini yakni Batavia Zuid yang berarti Stasiun Batavia Selatan. Nama ini muncul karena pada akhir abad ke- 19, Batavia sudah memiliki lebih dari dua stasiun kereta api. Salah satunya adalah Batavia Noord (Batavia Utara) yang terletak di sebelah selatan Museum Sejarah Jakarta sekarang. Batavia Noord pada awalnya merupakan milik perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg, dan merupakan terminus untuk jalur Batavia-Buitenzorg. Pada tahun 1913 jalur Batavia-Buitenzorg ini dijual kepada pemerintah Hindia Belanda dan dikelola oleh Staatsspoorwegen.


Pada waktu itu kawasan Jatinegara dan Tanjung Priok belum termasuk gemeente Batavia (wilayah Batavia). Batavia Zuid, awalnya dibangun sekitar tahun 1870, kemudian ditutup pada tahun 1926 untuk renovasi menjadi bangunan yang kini ada. Selama stasiun ini dibangun, kereta api-kereta api menggunakan stasiun Batavia Noord. Sekitar 200m dari stasiun yang ditutup ini dibangunlah Stasiun Jakarta Kota yang sekarang.

Pembangunannya selesai pada 19 Agustus 1929 dan secara resmi digunakan pada tanggal 8 Oktober 1929. 


Acara peresmiannya dilakukan secara besar-besaran dengan penanaman kepala kerbau oleh Gubernur Jendral jhr. A.C.D. de Graeff yang berkuasa pada Hindia Belanda pada 1926-1931.

Di balik kemegahan stasiun ini, tersebutlah nama seorang arsitek Belanda kelahiran Tulungagung 8 September 1882 yaitu Ir. Frans Johan Louwrens Ghijsels. Bersama teman-temannya seperti Ir. Hein von Essen dan Ir. F. Stolts, lelaki yang menamatkan pendidikan arsitekturnya di Delft itu mendirikan biro arsitektur AlgemeenIngenieur Architectenbureau (AIA). Karya biro ini bisa dilihat dari gedung Departemen Perhubungan Laut di Medan Merdeka Timur, Rumah Sakit PELNI di Petamburan yang keduanya di Jakarta dan Rumah Sakit Panti Rapih di Yogyakarta.


Stasiun Beos merupakan karya besar Ghijsels yang dikenal dengan ungkapan HetIndische Bouwen yakni perpaduan antara struktur dan teknik modern barat dipadu dengan bentuk-bentuk tradisional setempat. Dengan balutan art deco yang kental, rancangan Ghijsels ini terkesan sederhana meski bercita rasa tinggi. 

Sesuai dengan filosofi Yunani Kuno, kesederhanaan adalah jalan terpendek menuju kecantikan. Stasiun Jakarta Kota akhirnya ditetapkan sebagai cagar budaya melalui surat keputusan Gubernur DKI Jakarta No. 475 tahun 1993.


Demikianlah penjelasan dari saya mengenai asal-usul nama stasiun Beos, semoga bermanfaat untuk sekedar jadi bahan omongan ketika sedang ngopi, atau ketika udah nggak ada lagi bahan yang mesti diomongin!

Wassalam!

Jumat, 18 Maret 2016

Asal mula nama "Glodok"


Berikut ini postingan edisi...."Djakarta Tempo Doeloe"

Asal kata nama daerah Glodok :

ada banyak sumber ya sob....berikut ini akan dijelaskan panjang kali lebar untuk beberapa versi (boleh petik dari net!)

1. Versi Wikipedia : 

Kata Glodok berasal dari Bahasa Sunda "Golodog". Golodog berarti pintu masuk rumah, karena Sunda Kalapa (Jakarta) merupakan pintu masuk ke kerajaan Sunda. Karena sebelum dikuasai Belanda yang membawa para pekerja dari berbagai daerah dan menjadi Betawi atau Batavia, Sunda Kelapa dihuni oleh orang Sunda. Perubahan 'G' jadi 'K' di belakang sering ditemukan pada kata-kata Sunda yg dieja oleh orang non-Sunda, terutama suku Jawa dan Melayu yang kemudian banyak menghuni Jakarta. Sampai saat ini di Jakarta masih banyak ditemui nama daerah yang berasal dari Bahasa Sunda meski dengan ejaan yang telah sedikit berubah.

Nama Glodok juga berasal dari suara air pancuran dari sebuah gedung kecil persegi delapan di tengah-tengah halaman gedung Balai Kota (Stadhuis) – pusat pemerintahan Kompeni (atawe Belande) di kota Batavia. 
Gedung persegi delapan ini, dibangun sekitar tahun 1743 dan sempat dirubuhkan sebelum dibangun kembali tahun 1972, banyak membantu serdadu Kumpeni Belanda karena di situlah mengalir air bersih yang dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. 



Tak cuma bagi serdadu Kumpeni Belanda tapi juga dimanfaatkan minum bagi kuda-kuda serdadu usai mengadakan perjalanan jauh. Bunyi air pancurannya grojok..grojok..grojok. Sehingga kemudian bunyi yang bersumber dari gedung kecil persegi delapan itu dieja penduduk pribumi sebagai Glodok.
Dari nama ”pancuran” akhirnya menjadi nama sebuah daerah yang kini dikenal sebagai Pancoran atau orang di kawasan Jakarta Kota menyebutnya dengan istilah ”Glodok Pancoran”. Hingga kini kedua nama yakni Glodok dan Glodok Pancoran masih akrab di telinga orang Jakarta, bahkan hingga ke luar Jakarta.

Glodok adalah salah satu bagian dari kota lama Jakarta. Sejak masa pemerintahan Hindie Belande, daerah ini juga dikenal sebagai Pecinan terbesar di Batavia. Mayoritas warga Glodok merupakan keturunan Tionghoa. Pada masa kini Glodok dikenal sebagai salah satu sentra penjualan elektronik di Jakarta, Indonesia. Secara administratif, daerah ini merupakan Kelurahan yang termasuk dalam wilayah kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat.   
   

2. Versi berbagai sumber : 

versi 1. 
Glodok yang berlokasi di Jakarta Barat misalnya, berasal dari kata gerojok yang merupakan sebutan dari bunyi air yang jatuh dari pancuran air. Dahulu, di tempat itu ada semacam waduk penampungan air Sungai Ciliwung. 
Namun, orang Tionghoa dan keturunannya sulit menyebut kata gerojok. Mereka sering menyebutnya glodok hingga kawasan tersebut dikenal dengan sebutan glodok.



3. Versi Kompassiana : 

JAKARTA TEMPO DOELOE
Jejak masa lampau Jakarta sulit dilacak keberadaannya. Melalui beberapa situs sejarah yang lolos dari "kebiadaban" masa kini lah masa lampau itu dapat terungkap. 

Salah satu ciri khas yang umum terdapat di setiap sejarah suatu kota adalah terdapatnya pemukiman Tionghoa atau biasa disebut Pecinan (China Town) di kota itu. Kawasan Pecinan, dalam sejarahnya selalu menjadi penopang sekaligus jantung yang menggerakan detak perekonomian. Tak heran, jika Pecinan terdapat hampir di berbagai kota besar di Dunia, termasuk Jakarta. 

Kini, etnis Tionghoa telah menjadi ciri sekaligus jiwa yang mewarnai sejarah kebudayaan dari kota ini. PECINAN JAKARTA, Pusat Ekonomi dan Akulturasi Budaya Jauh sebelum Belanda membangun Batavia (kini Jakarta) tahun 1619, orang-orang Cina sudah tinggal di sebelah Timur muara Ciliwung tidak jauh dari pelabuhan itu. Mereka menjual arak, beras dan kebutuhan lainnya termasuk air minum bagi para pendatang yang singgah di pelabuhan. 



Namun, ketika Belanda membangun loji di tempat itu mereka pun diusir. Baru, setelah terjadinya Pembantaian Orang Tionghoa di Batavia (9 Oktober 1740), orang-orang Tionghoa ditempatkan di kawasan Glodok yang tidak jauh dari 'Stadhuis' (kini Museum Fatahillah) dengan maksud agar mudah diawasi. 

Di Pecinan Glodok dan sekitarnya tempo doeloe konglomerat Khouw pernah berjaya; ribuan orang China juga pernah dibantai; perayaan Imlek; semarak Cap Go Meh; nostalgia Peh Cun, panasnya perjudian dan madat, serta aktivitas perdagangan dan perekonomian yang terus bergelora. Jejak-jejak itu, kendati terus memudar, masih tetap terasa kental. Walau sempat di kekang puluhan tahun, kini etnis yang mendarah menjadi daging dari suku Betawi ini tengah merayakan Imlek dan Cap Go Meh. 

Aksara China, bahasa Mandarin, berbagai pertunjukan tradisi lama Tionghoa pun semakin semarak. Sejak dulu, kawasan Glodok memiliki potensi dan letak yang strategis, maka tak aneh jika mendorong banyak orang mengadu nasib. Tak hanya orang China, orang Eropa, dan kaum pribumi pun banyak tumpah ruah di Glodok. 

Saat ini, orang Betawi (dari kata Batavia) yang belakangan muncul pada abad ke-19 sebagai suku tersendiri merupakan akulturasi dari banyak budaya itu. Glodok kini, bukan hanya dikenal sebagai pusat perdagangan elektronik. Wilayah perekonomian yang tak henti berdenyut ini bukan pula sekedar kawasan yang identik sebagai Pecinan saja. Karena dalam sejarah kontemporer Jakarta, glodok memiliki banyak arti: perjuangan kaum imigran, kejayaan, keterpurukan dan perlawanan terhadap nasib dan penindasan. Ini berlaku bagi siapa saja yang tinggal di Glodok dan sekitarnya. 



PECINAN TIDAK HANYA DI GLODOK Sesungguhnya, kawasan Pecinan di Jakarta tidak saja identik dengan Asemka, Glodok, Pancoran dan Petak Sembilan. Karena dalam sejarah Jakarta, kawasan lain sebagai Pecinan banyak bermuculan setelah pusat kota Batavia dipindahkan ke Weltevreden (kini Monas dan Lapangan Banteng) diawal abad ke-19. Kawasan -kawasan lain sebagai Pecinan itu misalnya terdapat di Passer Baroe, Meester Cornelis Senen (Jatinegara), Pasar Senen; Pasar Tanah Abang, dsb. 

Di setiap kawasan tersebut hingga saat ini masih dapat kita temui jejak sejarah Tionghoa yang unik dan menarik untuk ditelusuri. - Pancoran dan Glodok Nama 'pancoran' berasal dari pancuran air yang terbuat dari bambu. Dahulu, di Glodok memang terdapat sumber air yang mampu memenuhi kebutuhan air minum masyarakat Kota Batavia. Air dari Pancoran di alirkan ke taman Fatahillah menggunakan pipa tanah liat. Pipa ini sempat dipotong dan dihancurkan oleh Pemda DKI demi pembuatan Tunel yang menghubungkan Stasiun BeOS dan Museum Bank Mandiri pada tahun 2006 lalu. Di tengah taman Fatahillah kemudian dibuat tempat minum kuda dan masyarakat (1873). Alat itu menyerupai kubah Museum Fatahillah. 



Sedangkan nama 'glodok' berasal dari suara air yang berbunyi 'grojok-grojok' kemudian lidahnya kepleset menjadi 'glodok.' Versi lain menyebutkan bahwa glodok berasal dari grobak pengangkut air tersebut yang bernama "golodok." Sebagai kawasan pecinan, Pancoran -Glodok merupakan kawasan paling padat dan ramai. Beberapa bangunan bergaya Tionghoa masih terdapat di sini. Namun, jumlahnya sangat sedikit karena banyak yang dihancurkan oleh pemiliknya. 

Antara lain yang masih selamat: Kelenteng Jin de Juan; Gereja Santa Maria de Fatima; dan Kelenteng Toa Sai Bio. - Passer Pagi Lama -Asemka Pasar Pagi Lama terletak di Asemka, tepatnya di belakang Museum Bank Mandiri. Di sini lah pusat grosir terbesar Indonesia yang menjual berbagai jenis barang murah dari kelontong hingga asesoris. Sebagai Pecinan, di sini juga tentunya banyak terdapat rumah bergaya Tionghoa. Ciri umum rumah Tionghoa adalah di bawah toko, di atas sebagai tempat tinggal (ruko, rumah dan toko). Ada juga yang hanya satu lantai saja. 



Sayang, rumah-rumah itu kini banyak yang didiamkan, dihancurkan pemiliknya, ditiban dengan bangunan baru atau sama sekali dihancurkan. Para pedagang asongan kereta jalur Kota-Bogor, Kota-Cikampek, dan Kota-Merak biasanya berbelanja di sini. Pedagang asongan bis-bis antar kota juga demikian. 

Jika Anda tertarik untuk berjualan, tempat ini sangatlah tepat. Bayangkan saja harga 1 buah ballpoint yang dijual di bis/kereta dengan harga Rp. 1000,-/buah, di sini dibeli dengan harga bisa sampai Rp. 250/buah. Tentunya harus membeli dalam jumlah yang banyak. 



- Jl. Perniagaan dan Rumah Keluarga Souw Di sebelah Selatan Pasar Pagi Lama, terdapat Jl. Perniagaan, jalan ini dahulu disebut Jl. Patekoan. Konon, nama Patekoan berarti '8 buah teko/poci' (pat te-koan). Di daerah ini pernah tinggal seorang Kapiten Cina Gan Djie (1663-1675). Istrinya yang berjiwa sosial, setiap hari menyediakan 8 buah teko (poci) berisi air teh. Angka 8 sengaja dipilih sebab angka ini mempunyai konotasi baik atau 'hoki.' Dahulu belum banyak orang yang berjualan makanan dan minuman, jadi bagi pejalan kaki yang kelelahan/kehausan dipersilahkan minum air teh yang disediakan. Jl. Patekoan kini dinamankan Jl. Perniagaan yang sama sekali tidak mengandung makna apa-apa, selain bisnis. 

Masih dari jalan perniagaan, terdapat rumah tua milik keluarga Souw. Keluarga Tionghoa ini dahulu terkenal sangat kaya-raya. Salah satunya adalah kakak-beradik Souw Siauw Tjong dan Souw Siauw Keng. Souw Siauw Tjong selain orang kaya dia berjiwa sosial. Ia mendirikan sekolah-sekolah bagi anak-anak boemipoetra di tanah miliknya, membantu orang-orang miskin, menyumbangkan makanan dan bahan bangunan ketika terjadi kebakaran. Maka, Tjong diberikan gelar luitenant titulair (kehormatan) oleh pemerintah Hindia Belanda pada Mei 1877. Namanya juga tercantum sebagai donor pada pemugaran Kelenteng Boen Tek Bio Tanggeang 1875 dan Kelenteng Kim Tek Ie (kini Jin de Juan) Batavia tahun 1890. 



Sedangkan Souw Siauw Keng (1849-1917) diangkat menjadi luitenant der Chineezen di Tangerang tahun 1884. Beberapa meter dari rumah besar Keluarga Souw, terdapat bangunan yang kini menjadi sekolah SMAN 19 Jakarta. Di kalangan anak-anak Kota, sekolah ini sangat populer dengan sebutan cap-kau, artinya "sembilan belas". Gedungnya sangat bersejarah, sebab di tempat inilah pertama kali berdiri sebuah organisasi Tionghoa "modern" di kota Batavia, bahkan di Hindia Belanda. 

Pada 17 Maret 1900 berdiri perhimpunan Tiong Hoa Hwee Koan (THHK). Tahun berikutnya THHK mendirikan sekolah modern pertama yang disebut Tiong Hoa Hak Tong disusul pembukaan cabang-cabang lain di seluruh Hindia Belanda. Berdirinya sekolah-sekolah ini merupakan reaksi masyarakat Tionghoa terhadap pemerintah Belanda yang selama itu tidak pernah meberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. 

Akibat perkembangan yang sangat pesat, pemerintah kolonial Belanda, yang khawatir anak-anak Tionghoa akan "tersedot" semua ke sekolah yang dibentuk THHK itu, serta-merta Belanda mendirikan Hollandsch Chineesche School (HCS), yaitu sekolah berbahasa Belanda bagi anak-anak Tionghoa. Pada 1965, THHT yang di Jl. Patekoan itu di tutup oleh pemerintah Orde Baru dan bangunannya diambil alih menjadi sekolah pemerintah dengan nama SMAN 19 Jakarta. - 



Kawasan Elit Mangga Dua Wilayah Mangga Dua berada di luar benteng kota Batavia, merupakan wilayah penempatan bagi pemukiman pribumi kelompok etnis. Posisinya sebelah tenggara Kasteel Batavia. Wilayah ini menjadi lahan pertanian bagi keperluan Kasteel Batavia. Dalam perkembangan berikutnya, banyak pejabat VOC Belanda dan orang kaya Eropa yang memilih membangun bungalow di daerah ini. Salah satu yang terkenal adalah Pieter Erberveld yang memiliki tanah luas di Mangga Dua. 

Di pojok tenggara Kasteel Batavia terdapat tempat hiburan yang disebut dengan Macao Pho, di sini banyak wanita penghibur yang didatangkan dari Macao/ daratan Cina untuk menghibur para pelaut yang datang bersampan melewati Ciliwung yang menghubungkan Jassenberg (jembatan Jassen) dengan pelabuhan. 

Ada tempat hiburan ada juga tempat ibadah. Maka, di sini juga terdapat Gereja Sion bagi orang-orang Portugis tawanan VOC Belanda yang dimerdekakan karena pindah anutan dari Katholik menjadi Protestan (kaum mardijker).



Di Mangga Dua terdapat banyak peninggalan sejarah, yaitu: Mesjid Mangga Dua yang dibangun awal abad ke-20, di dalamnya terdapat makam keramat; Areal pemakaman orang-orang Tionghoa, termasuk makam Kapitein Cina pertama di Batavia, Souw Beng Kong. Ia adalah sahabat lama dari Jan Pieterzon Coen. Ketika JP. Coen menjadi Gubernur Jenderal VOC dan mulai membangun Kasteel Batavia, ia mengajak Souw Beng Kong yang berada di Banten untuk membawa masyarakat Cina bergabung di Batavia. Kemudian Souw Beng Kong datang ke Batavia dengan membawa 300 orang Cina. Maka, ia diberi pangkat Kapitein, sebuah pangkat tertinggi bagi kelompok etnis yang menjadi abdi VOC. Kelompok masyarakat lain juga diberi pangkat demikian Seperti Kapitein Arab; Kapitein Banda, Kapitein Bali; juga pangkat Mayor dan Liutenant.

Dikutp dari tulisan : ASEP KAMBALI KHI /asepkambali TERVERIFIKASI Guru sejarah keliling | Historian | Lecturer in history, museum, heritages, tourism & communication | Founder @IndoHistoria CP:081394207555 | Info lengkap id.wikipedia.org/wiki/Asep_Kambali Selengkapnya...

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/asepkambali/menelusuri-jejak-tionghoa-di-jakarta_5500c432813311c91dfa7e9c

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photoshop #Tallent #MUA