Selasa, 03 Februari 2026

Lupakan "Rule of Thirds": Seni Menjadi Mak comblang Antara Subjek Utama dan Figuran dalam Fotografi (Tulisan Bagian Kedua)



Beraban, Tabanan, Bali, Senin, 3 Februari 2026

Oke, kalau di artikel bagian pertama kita sudah sepakat siapa yang jadi Aktor Utama dan siapa yang cuma figuran tapi sok nyolong scene, sekarang masalahnya naik level. Karena di lapangan, hidup tidak sesederhana bibirnya motivator. Alam tidak pernah rapi, manusia yang lalu-lalang tidak mau diatur, dan angin badai atau hujan jelas tidak peduli kita lagi mikir komposisi. Nah, di sinilah fotografer mulai diuji mentalnya. Bukan lagi soal siapa yang ada di dalam frame, tapi berapa banyak yang bisa kita masukkan dalam frame tanpa kesan kepenuhan, atau berapa sedikit yang kepotong, dan sejauh mana kita benar-benar bisa mengkomposisikan semua kekacauan itu. Bagian ini adalah momen ketika aturan mulai dibuang ke tempat sampah, insting langsung dimaksimalkan, dan kita langsung bikin keputusan: foto ini mau bercerita… atau cuma mau kelihatan rapi doang tanpa ada nyawa.

3. Dansa Kuantitas: Berapa Banyak yang Harus Dimasukkan?

Setelah kita menemukan siapa "Aktor Utama" dan siapa "Figurannya", tantangan berikutnya adalah menentukan porsi. Ini adalah bagian yang paling sulit karena melibatkan rasa, bukan sekadar hitung-hitungan matematis.

Pertanyaannya adalah: Seberapa banyak subjek pendukung yang kita butuhkan agar ia mendukung tanpa mencuri panggung?

Kembali ke contoh karang tadi. Kalau kita melakukan crop terlalu ketat pada batu karang, kita akan kehilangan nuansa tempat yang diberikan oleh garis pantai dan laut. Tapi, kalau kita mengambil sudut yang terlalu lebar sehingga lautannya mendominasi 90% frame, maka si manusia—si aktor utama kita—akan terlihat seperti semut yang tidak penting.

Komposisi, menurut pandangan ini, adalah sebuah "tarian harmoni" antara elemen-elemen tersebut. Kadang kita sengaja memotong bagian dari subjek pendukung (tidak menampilkannya secara utuh) agar subjek utama tetap memiliki dampak yang kuat. Contoh lainnya adalah foto jembatan di atas Sungai. Jembatan tersebut sengaja tidak ditampilkan secara utuh untuk memberikan Gambaran mengenai focus utama dari frame. 


4. Cerita vs Distraksi: Sebuah Dilema Etis-Visual

Sebagai fotografer, kita sering dihadapkan pada pilihan: menyederhanakan frame atau membiarkannya ramai. Di sinilah letak perbedaan antara "foto yang bersih" dan "foto yang bercerita".

Saya akan berikan contoh mengenai beberapa orang yang berjejer di mulut gang. Secara teknis, saya bisa saja mengambil langkah ke kanan, merunduk, dan hanya memotret dua orang itu dengan latar belakang dinding. Hasilnya? Foto yang sangat minimalis dan rapi.

Tapi, saya memilih untuk memasukkan jajaran orang di latar belakang sehingga bisa bernilai layer, pagar, dan elemen-elemen "berantakan" lainnya. Kenapa? Karena menurut saya, elemen-elemen tambahan itu menambah bobot cerita. Tentu saja, ini sangat subjektif. Bagi sebagian orang, latar belakang itu mungkin dianggap sebagai distraksi. Namun, itulah inti dari fotografi sebagai seni: memutuskan apa yang menambah cerita dan apa yang merusak cerita.

Jika ada banyak elemen dalam satu foto (misalnya ada manusia, gerobak, bak sampah, dan bahkan hewan seperti kucing dalam satu frame), kuncinya adalah pada spasi dan bobot (spacing and weighting). Jika semua subjek menumpuk di satu sisi, foto akan terasa "sesak napas" dan tidak enak dipandang.

Sampai titik ini, mungkin Sobat mulai sadar satu hal yang agak nyebelin: komposisi itu bukan soal benar atau salah, tapi soal berani memilih. Setiap elemen yang Sobat masukkan ke frame adalah keputusan, dan setiap keputusan selalu punya konsekuensi. Terlalu rapi bisa bikin foto mati rasa, terlalu ramai bisa bikin foto kehilangan arah. Tapi ada satu pertanyaan yang belum kita jawab: setelah semua elemen itu dipilih, disusun, dan ditimbang—bagaimana caranya memastikan semua itu memang disengaja, bukan sekadar kebetulan yang kelihatan pintar? Nah, di situlah fotografer berhenti jadi pengamat… dan mulai jadi sutradara.

Demikianlah coretan saya di bagian kedua. Tulisan ini akan saya teruskan lagi ke artikel selanjutnya yang akan saya beri judul: “Lupakan "Rule of Thirds": Seni Menjadi Mak comblang Antara Subjek Utama dan Figuran dalam Fotografi (Tulisan Bagian Ketiga)”, semoga rekan-rekan berkenan membacanya.