Senin, 19 Januari 2026

Lupakan "Rule of Thirds": Seni Menjadi Mak comblang Antara Subjek Utama dan Figuran dalam Fotografi (Tulisan Bagian Pertama)



Beraban, Tabanan, Bali, Senin, 19 Januari 2026

(Artikel ini disusun setelah penulis berguru secara singkat dari beberapa fotografer yang tergolong kawakan. Dan berikut ini adalah penuturan dari hasil berguru tadi) 

Halo, para pemburu cahaya dan penganut aliran "yang penting jepret dulu, urusan bagus atau ancur…itu urusan belakang"!

Pernahkah Sobat merasa terkungkung dalam dogma fotografi yang bikin bosan? Sobat berdiri di depan object dan subyek foto yang ciamik, lalu sobat langsung secara otomatis meng”imajinasi”kan garis-garis tak kasat mata rule of thirds dalam otak. Sobat sibuk menggesar-geser kamera ke kiri sedikit, ke kanan sedikit, ke atas sedikit, ke bawah banyak, hanya demi memastikan subjek yang akan Sobat jepret nangkring di titik persimpangan emas itu. Rasanya seperti sedang mengerjakan soal fisika kuantum, bukan sedang bikin karya seni.

Nah, kalau Sobat merasa kreativitas Sobat mulai tumpul karena terlalu patuh dengan "aturan main" yang kaku, mari kita bicara soal perspektif dari beberapa fotografer kawakan (yang namanya tidak bisa saya sebut sat per satu) yang memberikan sebuah pemahaman yang menarik: Lupakan sejenak aturan main, mulailah berpikir bebas seperti layaknya seorang manusia yang menikmati alam melalui mata dan hatinya.

Kenapa? Karena dalam fotografi, komposisi bukan sekadar soal meletakkan barang di tempat yang tepat. Ini adalah tentang dinamika hubungan. Selamat datang di kelas "Mak Comblang Visual".

1. Masalah dengan "Aturan" dalam Fotografi

Coba kita jujur: aturan seperti rule of thirds, rule of odds, atau leading lines adalah perangkat bantu yang hebat. Mereka adalah ‘pelicin” bagi pemula agar foto mereka tidak terlihat seperti jepretan asal-asalan saat sedang mabuk perjalanan. Namun, ada satu jebakan maut di sini. Seringkali aturan ini justru mendikte apa yang kita potret, bukan menjabarkan mengenai bagaimana kita memotretnya.

Bayangkan Sobat melihat sebuah subjek yang sebenarnya sangat membosankan—katakanlah, sebuah tempat sampah plastik warna biru yang sudah pecah. Jika Sobat terlalu terpaku pada leading lines, Sobat mungkin akan menghabiskan waktu 20 menit mencari garis trotoar yang mengarah ke tempat sampah itu. Hasilnya? Sebuah foto dengan teknik luar biasa tentang... sebuah tempat sampah yang tetap bikin bosan. Leading lines menuju sesuatu yang tidak menarik akan tetap memproyeksikan foto yang tidak menarik.

Intinya adalah: subjek adalah raja. Teknik hanyalah pelayannya.

2. Teori "Aktor Utama" dan "Aktor Pendukung"

Inilah inti dari filosofi para fotografer tersebut yang sangat "serius tapi santai". Mari kita pinjam analogi dari dunia sinema. Dalam setiap film pemenang Oscar, ada aktor utama (Lead Actor) dan ada aktor pendukung (Supporting Actor).

Aktor utama adalah alasan kenapa kita membeli tiket bioskop. Tapi, tanpa aktor pendukung yang mumpuni, si aktor utama akan terlihat datar, kesepian, kosong, dan tidak memiliki konteks. Tugas aktor pendukung adalah untuk mempertegas karakter si tokoh utama. Jika aktor pendukungnya terlihat butuh diselamatkan, si tokoh utama akan terlihat tangguh. Jika mereka berbincang dengan mesra hangat, si tokoh utama akan terlihat lembut.

Dalam fotografi, konsepnya persis sama.

  • Subjek Utama: Sesuatu yang membuat mata Sobat berkata, "Wah, itu bagus!" (bisa gunung, anjing, atau serangga atau....tetangga!).
  • Subjek Pendukung: Elemen-elemen lain dalam frame yang bertugas menonjolkan kecantikan, ukuran, tekstur, atau suasana dari subjek utama.

Sebagai contoh, saya menunjukkan foto siluet dari seorang manusia yang berdiri di karang besar di pantai dengan latar belakang matahari senja. Manusia itu adalah subjek utamanya. Karang besar serta matahari senja adalah subjek pendukungnya. Matahari dan karang besar itu tidak hanya ada di sana karena kebetulan; keduanya berperan sebagai "pelindung", pemberi konteks tempat, dan penambah cerita. Tanpa kedua subyek pendukung itu, si manusia tersebut hanyalah benda mati di tengah kekosongan ruang.


Demikianlah coretan saya di bagian pertama. Coretan ini akan saya sambung lagi ke artikel selanjutnya yang akan saya beri judul: “Lupakan "Rule of Thirds": Seni Menjadi Mak comblang Antara Subjek Utama dan Figuran dalam Fotografi (Tulisan Bagian Kedua)”, semoga rekan-rekan berkenan membacanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar