(Artikel ini adalah kelanjutan artikel yang sudah tayang sebelumnya, yang berjudul: "Berhenti Jadi Budak Aperture! Pelajaran Pahit dari Fotografer Bernama Bedul di Kedai Kopi Barokah (Artikel Bagian Pertama dari Empat Babak)")
Perang Urat Syaraf di Bawah Kepulan Asap Rokok
Memasuki malam kedua, suasana kedai kopi sudah seperti ruang sidang pengadilan militer. Bedul datang lagi, kali ini dia membawa amunisi argumen yang lebih radikal. Dia duduk di tengah-tengah kami, seolah-olah dia adalah guru besar di universitas antah-berantah yang ijazahnya tidak diakui negara.
"Kalian tahu kenapa foto kalian membosankan?" tanya Bedul tanpa salam pembuka. "Karena kalian terlalu banyak melihat. Fotografer sejati seharusnya memotret dengan mata tertutup."
"Mata tertutup?" Ujang terbahak sampai tersedak gorengan. "Lalu bagaimana kau tahu apa yang kau potret, Dul? Kau mau memotret subjek di dimensi lain atau memotret angin?
"Bedul menatap Ujang dengan tatapan kasihan, seolah sedang melihat piksel yang pecah. "Itulah masalahmu, Jang. Kau hanya percaya pada apa yang kau lihat. Fotografi Asal Jadi-ku mengedepankan intuisi murni. Jika hatiku berkata 'jepret', maka jempolku akan menekan tombol, tak peduli apakah di depan sana ada model cantik atau cuma tumpukan sampah yang lalatnya pun malas hinggap."
"Tapi Dul," sela Rusli sambil menunjukkan hasil fotonya yang tajam dan jernih hingga pori-pori subjeknya bisa dihitung. "Seni itu komunikasi. Bagaimana orang bisa menangkap pesanmu kalau fotomu saja bikin sakit mata? Lihat punyaku ini, setiap helai rambut modelnya terlihat jelas.
"Bedul tertawa mengejek, suaranya lebih berisik dari mesin cetak foto rusak. "Rus, Rus... kau ini fotografer atau tukang hitung di pabrik genteng? Kenapa setiap helai rambut harus terlihat? Kau takut modelmu itu sebenarnya pakai wig? Fotografi sejati itu memberikan ruang bagi misteri. Fotomu terlalu 'terang', saking terangnya sampai tidak ada lagi ruang untuk imajinasi. Kau memotret kenyataan, sementara saya memotret ketidakpastian.
"Perdebatan semakin memanas saat Jupri mencoba masuk dari sisi filosofis. "Tapi Dul, tanpa aturan, seni hanyalah sesuatu yang acak dan tidak terdefinisi. Bahkan alam semesta punya hukum fisika untuk membuatnya berjalan secara benar."
"Dan hukum dibuat untuk dilanggar oleh orang yang punya nyali!" sahut Bedul cepat. "Kalian bicara soal Golden Ratio seolah itu adalah hukum gravitasi. Bagiku, Golden Ratio adalah penjara emas. Dan sehebat apa pun emas itu berkilau, itu tetaplah penjara yang akan membuat sayap kreativitasmu rontok. Saya memotret dengan 'Ratio Ngawur'. Kalau subjeknya terpotong setengah, ya biarkan. Memangnya hidup ini selalu utuh? Tidak, Jupri! Hidup ini sering kali terpotong secara paksa oleh takdir dan cicilan kamera yang belum lunas!
"Sepanjang malam, Bedul terus membombardir kami dengan istilah-istilah yang absurd (yang saya yakin kalau Bedul sendiri juga tak paham artinya!). Dia menyebut kamera kami sebagai "alat penyiksa kenyataan". Dia menuduh kami sebagai "fotografer pengemis" yang hanya bisa meniru gaya orang lain di Instagram demi mendapatkan like dari orang asing.
"Kalian ini cuma fotografer copy-paste," ejek Bedul sambil mengunyah gorengan dingin yang minyaknya menetes ke bajunya—yang entah kebetulan atau memang sudah di-setting, malah menjadi sebuah komposisi "Asal Jadi" yang nyata. "Kalian pergi ke spot yang sama, bahkan berdiri di titik yang sama, pakai filter yang sama, lalu merasa jadi seniman tulen, fotografi tulen? Cuih! Fotografi Asal Jadi-ku adalah satu-satunya aliran yang orisinal, karena tidak ada satu pun orang waras di dunia ini yang mau menirunya!"
"Ya karena memang tidak layak ditiru, Bedul!" teriak Peang frustrasi, hampir saja dia melempar lensa tele-nya.
Malam itu berakhir dengan Bedul yang tertawa menang, sementara kami termenung memandangi kamera mahal kami yang mendadak terasa seperti benda mati tanpa arti... Tanpa nyawa, hanya sebentuk kaca dan besi yang gagal menangkap esensi kegilaan Bedul.
Bersambung ke artikel bagian kedua dengan judul: "Kebenaran di Balik Foto Goyang: Kenapa Ketajaman Lensa Bukan Segalanya?(Artikel Bagian Ketiga dari Empat Babak)"