Sabtu, 28 Februari 2026

Berhenti Jadi Budak Aperture! Pelajaran Pahit dari Fotografer Bernama Bedul di Kedai Kopi Barokah (Artikel Bagian Pertama dari Empat Babak)



Beraban, Tabanan, Bali, Sabtu, 28 Februari 2026

Liturgi Kopi dan Kesucian Lensa


Dunia fotografi sering kali terjebak dalam delusi bahwa kebenaran mutlak terletak pada angka-angka di layar LCD. Kita memuja aperture yang punya nilai lumayan seolah itu adalah gerbang menuju pencerahan, dan kita menghitung megapiksel seolah itu adalah jumlah pahala untuk bekal di akhirat. Di sebuah kedai kopi yang dindingnya sudah menguning karena jelaga dan asap rokok tanpa filter, kami adalah para imam dari sekte "Visual yang Tertata".

Kami berkumpul bukan sekadar untuk minum kopi, tapi untuk merayakan ritual kesombongan intelektual atas nama seni. Namun, malam itu, kestabilan iman kami digoyang oleh kemunculan sosok yang nama aslinya masih menjadi misteri—meski kami memanggilnya Bedul. Bedul bukan sekadar pengacau; dia adalah antitesis dari segala kurikulum fotografi yang pernah ditulis manusia. Inilah kisah tentang bagaimana sebuah perdebatan subuh membuktikan bahwa antara jenius dan gila, batasnya hanya setipis filter UV murahan merek Tiongkok.

Simfoni Kegelapan dan Datangnya Sang Maestro "Asal Jadi"

Malam itu, Kedai Kopi "Barokah" terasa lebih hidup. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip ritmis, menciptakan efek flicker yang kalau difoto oleh orang normal pasti dianggap sampah digital. Kami—saya, Peang, Jupri, Codet, Ujang, Rusli, dan Agus—sedang terlibat dalam diskusi suci tentang Fotografi Minimalis.

"Minimalisme itu adalah tentang ruang kosong," ujar Jupri sambil mengelap lensa 35mm-nya dengan kain microfiber selembut sutra bayi. "Satu titik subjek di tengah hamparan putih adalah pernyataan eksistensial tentang kesepian manusia."

"Betul," sahut Rusli. "Komposisinya harus presisi. Kalau meleset satu derajat saja, keseimbangan semesta visualnya runtuh dan kamera kalian layak dijadikan ganjal pintu.

"Tiba-tiba, dari kegelapan sudut belakang, terdengar suara kursi kayu yang ditarik—suaranya lebih fals dari sensor kamera full-frame yang kemasukan pasir. Bedul muncul. Penampilannya seperti orang yang baru saja selamat dari badai pasir tapi tetap bangga luar biasa. Dia memesan kopi hitam paling kental (yang lebih mirip oli mesin), menyalakan rokok, dan duduk tenang di belakang kami.

Selama setengah jam, Bedul hanya diam. Dia menghirup kopinya dengan bunyi yang sangat tidak sopan, seolah ingin menantang teori keheningan minimalis kami. Dia hanya melihat kami sambil tersenyum—senyum yang lebih mirip ejekan halus bagi para amatiran yang baru sanggup beli lensa kit.

"Kenapa kau, Dul?" tanya saya akhirnya, merasa terganggu oleh auranya yang provokatif. "Dari tadi kulihat kau hanya senyam-senyum, merokok, seruput kopi, dan sama sekali tak bicara! Apa kau sudah mulai sinting rupanya?”

"Bedul tidak langsung menjawab. Dia mengembuskan asap rokoknya ke atas, membentuk awan yang tidak jelas komposisinya—bahkan Rule of Thirds pun angkat tangan melihatnya. "Saya malas urun bicara, Sobat... Obrolan kalian terlalu ringan untukku. Tak cukup syarat untuk masuk dalam khazanah otakku. Terlalu dangkal, tak selevel dengan kejeniusan seniman dan fotografiku.

"Meja langsung panas. Peang, yang memang sedari orok emosinya sudah setipis tissue, langsung meradang. "Apa maksud kau, Dul? Kau mau buka perang rupanya?"

"Oh tidak," jawab Bedul tenang. "Hanya saja kalian ini seperti fotografer kemarin sore yang baru pegang kamera. Kalian meributkan hal yang bukan fundamental, basi. Minimalisme? Itu aliran untuk orang yang takut menghadapi kekacauan dunia. Jiwaku sudah jauh melampaui itu. Saya telah menciptakan aliran sendiri: Fotografi Asal Jadi."

"Asal Jadi?" Agus bertanya dengan nada sangsi. "Maksudmu memotret tanpa mikir?"

"Bukan tanpa mikir, Agus yang budiman," Bedul menghirup kopinya lagi. "Tapi memotret dengan pembebasan, dengan jiwa yang merdeka. Beda dengan kalian; kalian memotret seperti budak. Budak aturan Rule of Thirds, budak pencahayaan, budak merek kamera. Saya memotret seperti kreator—menciptakan apa saja yang saya mau tanpa butuh persetujuan kurator atau grafik histogram yang membosankan itu.

"Bedul mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto. Isinya hanya foto tembok yang sebagian plesternya sudah terkelupas sehingga menampakkan susunan bata penyusunnya. "Lihat ini. Ini adalah 'Terurai Dalam Kesunyian'. Tidak fokus, goyang, dan penuh noise. Tapi di situlah kejujurannya!"

"Itu namanya foto gagal, Dul! Foto itu harusnya masuk tong sampah digital!" seru Codet sambil tertawa mengejek."Memang gagal di matamu yang terpenjara oleh selera estetika pasar," balas Bedul tajam. "Bagiku, keindahan adalah kebohongan yang disepakati. Saya lebih memilih kejujuran yang buruk rupa daripada keindahan yang palsu.

"Setelah mengatakan itu, Bedul menyandarkan punggungnya ke bangku reot. Wajahnya tenang saat menatap kami satu per satu dengan sunggingan senyum kemenangan. Secara teknis, wajahnya menyalahi semua kaidah estetika standar mana pun, namun auranya malam itu terasa tak terkalahkan.

Kami hanya terdiam. Jawabannya memang tidak sepenuhnya salah, tetapi sulit disebut benar. Kami bingung harus membalas dengan teori apa. Jawaban Bedul sangat sahih karena dia menggunakan standar pemikirannya sendiri yang berbeda dengan konsensus kami. Jelas, ini akan jadi lebih sulit buat kami ketimbang buat si Bedul sendiri.

Sejurus kemudian, Bedul mematikan rokoknya, menghirup sisa kopi, lalu berdiri dan berlalu begitu saja tanpa pamit. Hanya satu kalimat singkat yang dia lontarkan: “Sampai besok malam, kawan-kawan. Kita sambung esok. Malam ini silakan kalian pulang dan renungkan kata-kata saya tadi... itu pun kalau otak kalian mampu!”

”Satu sunggingan senyum mengejek diarahkan ke kami. Sumpah, bikin emosi. Lagaknya sudah seperti maestro fotografi yang sedang merendahkan amatir. Kalimat itu menutup malam pertama dengan meninggalkan lubang hitam di logika kami. Kami pulang dengan perasaan dongkol, namun entah kenapa, bayangan foto "dinding yang terkelupas " itu terus menghantui layar ponsel kami yang biasanya dipenuhi foto pemandangan tajam yang membosankan.

Bersambung ke artikel bagian kedua dengan judul: "Memotret dengan Mata Tertutup: Eksperimen Gila yang Bikin Fotografer Pro Meradang"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar