Sebuah kisah tentang cinta, kemiskinan yang artistik, klien yang lebih pelit dari harga film analog, dan enam orang seniman yang membuktikan bahwa kreativitas bisa dipakai untuk hal-hal yang tidak diajarkan di sekolah seni mana pun.
Ada dua jenis seniman miskin di dunia ini. Yang pertama adalah seniman yang miskin karena memang tidak berbakat. Yang kedua adalah seniman yang miskin karena terlalu berbakat untuk berkompromi dengan selera pasar. Bedul, kawanku, fotografer jalanan yang kameranya lebih tua dari beberapa demokrasi di Asia Tenggara, dengan bangga masuk ke dalam kategori kedua — meskipun beberapa orang di komunitas kami diam-diam menduga ia sebenarnya masuk kategori pertama. Tidak ada yang bilang terang-terangan, tentu saja. Kami semua seniman. Kami punya solidaritas. Kami juga punya utang masing-masing.
Yang membuat Bedul istimewa bukan karyanya semata — meskipun foto-fotonya memang bagus, dengan cara yang tidak akan pernah laku di pameran komersial mana pun, yang menurut Bedul justru adalah bukti integritasnya. Yang membuat Bedul betul-betul istimewa adalah kemampuannya untuk jatuh cinta dengan sepenuh hati di tengah kondisi keuangan yang, secara teknis, seharusnya tidak menyisakan ruang untuk romantisme. Saldo rekeningnya hampir selalu berhasil mencapai angka yang bisa membuat teller bank tertawa kecil sambil mencatat sesuatu di sistemnya. Tapi hatinya, kata Bedul sendiri, selalu penuh. Aku tidak tahu apakah itu puisi atau delusi. Mungkin keduanya.
Catatan Penulis
Bedul adalah nama panggilan. Nama aslinya tidak pernah ia sebut di komunitas karena, katanya, "nama asli itu untuk akta kelahiran dan surat gugatan." Kami tidak bertanya lebih lanjut.
Namanya Dewi — pacar Bedul. Cantik dan manis dengan cara yang tidak butuh filter Instagram untuk dibuktikan, yang di era sekarang adalah pencapaian luar biasa sekaligus ancaman eksistensial bagi para content creator kecantikan. Semua kawan-kawan di komunitas setuju mereka adalah pasangan ideal: Bedul yang bohemian dan melarat bertemu Dewi yang tulus dan tidak mata duitan. Kisah cinta yang harusnya berakhir bahagia di novel-novel picisan. Sayangnya, hidup bukan novel picisan — dan bahkan kalau pun iya, penerbitnya pasti minta revisi karena plot finansialnya tidak masuk akal.
Suatu sore yang tidak ada istimewanya, Bedul menemuiku di kedai kopi langganan kami dengan wajah seorang laki-laki yang baru saja menyadari bahwa hidupnya sedang berjalan menuju sebuah krisis, tapi belum tahu krisis yang mana. Ia duduk, memesan kopi hitam tanpa gula — bukan karena ia menyukainya, tapi karena itu yang paling murah — lalu memandangi cangkirnya seperti sedang mencari jawaban di dalam ampasnya.
"Kau tahu ulang tahun Dewi minggu depan," katanya akhirnya.
"Tahu," jawabku.
"Aku tidak punya uang."
"Juga tahu."
Ia menatapku dengan mata seorang martir. "Kau tidak perlu bilang 'juga tahu' seperti itu. Seolah kemiskinanku adalah sesuatu yang bisa diprediksi."
"Bisa diprediksi."
Ia hampir membentak, tapi kemudian memilih untuk menghela napas panjang, yang secara akustik lebih dramatis dan lebih efektif untuk membuat orang merasa bersalah. Lalu ia mulai bercerita — tentang klien, tentang honorarium yang macet, tentang seorang pengusaha necis yang, menurut Bedul, kekejamannya melampaui batas-batas yang seharusnya diatur oleh undang-undang perlindungan seniman, kalau saja undang-undang semacam itu ada, yang tentu saja tidak ada.
Anatomi Seekor Klien yang Rakus
Klien itu — sebut saja Pak Hendra, karena memang begitulah namanya, dan ia tidak berhak mendapat perlindungan anonimitas dalam cerita ini — adalah jenis pengusaha yang memakai dasi bahkan ketika pergi ke warung makan. Bukan karena ia memiliki acara penting. Tapi karena dasi, baginya, adalah pernyataan ideologis: Aku lebih serius dari kau.
Ia mempekerjakan Bedul untuk sebuah proyek dokumentasi korporat — foto-foto kegiatan perusahaan untuk laporan tahunan dan bahan pameran internal. Pekerjaan yang, secara artistik, setara dengan memotret dinding bata selama delapan jam penuh, tapi bayarannya lumayan dan Bedul sedang dalam kondisi tidak bisa pilih-pilih. Semua fotografer idealis punya titik di mana idealisme sementara diparkir di halaman belakang sementara pragmatisme mengambil alih kemudi. Bedul ada di titik itu.
"Klien yang waras dan jujur itulah yang susah didapat. Yang mudah didapat justru klien yang punya dua wajah: satu wajah saat negosiasi harga, satu wajah lagi saat tagihan jatuh tempo."
Proyek selesai. Foto diserahkan (hanya hasilnya tentunya, untuk file RAW masih ditahan oleh Bedul, sebagai jaminan kata beliau). Bedul bahkan menambahkan beberapa jepretan bonus yang tidak diminta — karena memang begitulah wataknya, selalu memberi lebih dari yang diperjanjikan, yang dalam konteks bisnis adalah kelemahan fatal yang ia bungkus dengan kata "integritas profesional."
Lalu tibalah hari pembayaran. Dan seperti tradisi yang tampaknya diwariskan turun-temurun di kalangan klien jenis ini, Pak Hendra tiba-tiba mengalami sejumlah keluhan estetika yang tidak pernah ia sampaikan sebelumnya. Tone warna kurang selaras dengan visi perusahaan. Beberapa sudut pengambilan gambar dirasa kurang dinamis. Ada foto yang cahayanya terlalu natural — dan ini, dengan serius ia sampaikan kepada Bedul, membuat perusahaannya terlihat "terlalu manusiawi."
Analisis Mendalam
"Terlalu manusiawi" adalah alasan penolakan pembayaran paling absurd yang pernah tercatat dalam sejarah industri fotografi Indonesia. Bedul menyimpan email itu. Suatu hari ia berencana memframenya dan menjualnya sebagai karya seni konseptual.
Bedul menerima semua keluhan itu dengan tenang — tenang versi fotografer yang sudah latihan meditasi dadakan di toilet kantor klien sebelum masuk rapat. Ia revisi apa yang bisa direvisi. Ia jelaskan apa yang tidak bisa diubah tanpa merusak integritas visual. Pak Hendra mengangguk-angguk seperti orang mengerti, lalu kembali ke meja kerjanya dan mengeluarkan serangkaian revisi baru yang secara strategis memastikan bahwa pembayaran selalu berada tepat satu langkah di depan garis finish.
Ini, dalam terminologi jalanan seniman, disebut modus tikus gudang: menggerogoti sedikit demi sedikit sampai tidak ada yang tersisa, tapi tidak pernah menghabiskan sekaligus supaya tidak terlihat seperti pencurian.
Ketika idealisme tersudut oleh ulang tahun sang kekasih dan isi dompet yang menyedihkan, bertahan dengan kesabaran jelas bukan lagi sebuah pilihan. Di sebuah kedai kopi remang-remang, sebuah konspirasi liar mulai disusun. Apa yang terjadi ketika enam seniman miskin nekat melawan raksasa korporat berkemeja necis dengan strategi paling tidak masuk akal? Simak kelanjutan taktik nekat kami di Bagian kedua.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar