Kamis, 30 November 2017

STREET PHOTOGRAPHY - "MAS....SAMPEYAN FOTOGRAFER?"......"BUKAN!...SAYA CUMA HOBBY MOTO"



Kemayoran, Rabu, 4 Oktober 2017

Minggu siang, di bawah jembatan layang, Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, ketika saya sedang larut dalam keasyikan melihat suasana sambil berusaha mencari moment yang bagus untuk di "jepret", tiba-tiba, ada seseorang yang bertanya kepada saya: "eh mas, Sampeyan fotografer ya?" 

Waduh, seumur hidup, baru sekali ini saya kaget ga kira-kira! 

Bukan dari isi pertanyaannya yang bikin kaget, tapi dari caranya bertanya yang "super horor"! Pake pasang tampang serem, plus dengan penampilan ala preman tahun 70'an akhir. Sontak saya jawab, "Bukan bang, saya cuma hobby moto doang!" sambil berdoa dalam hati, Ya ALLAH, moga-moga dia ga minta kamera saya!"


Salah Sangka di Bawah Jembatan


Mungkin karena penampilan yang bikin orang jadi berasumsi kalau saya adalah fotografer, dengan jaket buntung yang banyak kantongnya, ditambah dengan topi pet, diperparah dengan kamera DSLR yang emang wujudnya "bongsor" di tangan, jadi orang banyak bersalah sangka, dan menganggap saya adalah "fotografer" dalam arti yang sebenarnya!

Dan si abang yang bertampang preman ini juga pasti telah salah sangka, pasti dikiranya saya adalah fotografer "kawakan" atau jurnalis yang sedang mencari berita. Atau, minimal, tukang foto keliling yang lagi cari mangsa!


Beratnya Beban Label 'Fotografer'


Duh Gusti! Jujur, dari dasar hati yang paling dalam, saya belumlah sampai pada tahap itu! Saya hanya menyukai aktifitas ini,  menyukai menangkap setiap moment yang saya anggap menarik ke dalam frame. Saya tidak begitu mengerti mengenai segala hal yang berkaitan dengan teknik-teknik fotografi, komposisi, aturan segitiga, pencahayaan, dan sejuta istilah rumit dalam fotografi lainnya. 

Saya sedang mempelajari itu, mempelajari dengan irama pelan (sesuai dengan kemampuan otak saya tentunya!), mempelajari dari sisi "menikmati" dan bukan dari sisi "harus menguasai".

Dan disinilah saya, tersenyum manis pada "mas preman" yang tadi menegur saya, dan mengatakan yang sebenarnya, "SAYA BUKAN FOTOGRAFER, SAYA CUMA HOBBY MOTO-MOTO AJA MAS!"

Dan si "mas preman" itu sepertinya percaya dengan jawaban saya (entah percaya atau tak peduli, sulit diterka dengan jelas, karena ekspresi yang super datar dari si "mas preman" itu!), Senyum sedikit, lalu balik kanan dan pergi!

Entah kenapa, ada kelegaan yang aneh yang saya rasakan! 

Kelegaan karena saya tak harus berbohong, kelegaan karena saya merasa mampu jujur, padahal, di saat itu, Tidak ada orang yang peduli walaupun saya berbohong!


Menikmati Proses, Bukan Validasi


Dan inilah saya yang sebenarnya. Jujur saja, label 'fotografer' itu terasa terlalu besar dan berat untuk pundak saya yang lebih sering pegal karena menggendong kamera daripada menggendong ekspektasi orang lain. Sejak insiden di bawah jembatan itu, setiap ada yang bertanya dengan nada menginterogasi, saya selalu punya mantra andalan yang ampuh: 'Saya bukan fotografer, saya cuma hobi moto-moto!' Jawaban itu bukan bentuk rendah diri, melainkan cara saya menjaga kewarasan agar tidak terjebak dalam perlombaan pamer gear yang tidak ada garis finisnya.

Biarlah mereka yang merasa derajat kemanusiaannya naik hanya karena kamera mereka lebih mahal dari motor tetangga, atau mereka yang sibuk berdebat kusir soal f-stop di balik meja diskusi yang berdebu. Saya? Saya jauh lebih bahagia menjadi 'tukang jepret' jalanan yang bebas merdeka. Bagi saya, memotret itu tentang merayakan momen yang lewat, bukan tentang memamerkan betapa canggihnya sensor kamera yang kita punya. Lagipula, bukankah hasil foto yang jujur dan bercerita jauh lebih berharga daripada label mentereng yang nyatanya kering akan makna?

Jadi, jika nanti ada yang bertanya lagi, saya akan tetap tersenyum ramah namun dengan tatapan yang sedikit menohok. Saya bukan orang yang sedang mencari validasi atau pengakuan dunia, saya hanya seseorang yang sedang menikmati ritme kehidupan melalui jendela bidik. Ingat, Sobat, kamera itu hanyalah alat untuk memotret realitas, bukan jimat untuk menyombongkan diri. Jadi, simpan egonya, keluarkan kameranya, dan mari kita memotret dengan hati. Kalau masih ada yang bertanya kenapa tidak mau disebut fotografer, katakan saja: karena menjadi diri sendiri jauh lebih sulit daripada sekadar membeli kamera mahal. Salam jepret, dan teruslah berkarya tanpa perlu terobsesi dengan gelar!

10 komentar:

  1. Postingan yang sangat bagus dan sangat menarik! Dapat menjadi referensi yang bisa dijadikan alternatif sumber wacana!

    BalasHapus
  2. Hasil karya yang sangat menarik serta menambah wawasan! Dan juga foto-foto yang luar biasa....Great Job!

    BalasHapus
  3. Lumayan bagus....mantab lah mas ! Ditunggu karya lainnya...4 Jempol!

    BalasHapus
  4. Luar biasa, sungguh luar biasa! bentuk kreasi yang boleh dikatakan hasil cipta dari mahakarya!

    BalasHapus
  5. Karya yang menarik! Menambah wawasan serta memberikan sudut pandang yang berbeda!

    BalasHapus
  6. Karya yang cukup menarik, menyajikan hasil foto dalam bentuk dan perspektif yang berbada!

    BalasHapus
  7. Artikel yang sangat menarik dan juga inspiratif! Layak untuk dibaca, dan juga mampu menambah wawasan serta referensi kita terhadap fotografi dan juga yang lain!

    BalasHapus
  8. Artikel yang menarik, menambah wawasan serta memberika bahan referensi baru
    #artikel bagus
    #fotografi
    #bagus

    BalasHapus