(Artikel ini ditulis sekitar tahun 2005, dan saya lupa saya tulis dimana)
Jika suatu hari nanti, di antara jadwal sibukmu menjadi pusat semesta bagi orang lain, kau tiba-tiba merasa nostalgia dan memutuskan untuk kembali, tolong buang naskah dramamu ke dalam tong sampah di ujung jalan ini. Jangan pernah berpikir untuk bertanya, "Apakah kamu menungguku?" Itu adalah pertanyaan paling memuakkan yang bisa keluar dari mulut manusia. Tentu saja aku menunggu. Tapi jangan membayangkanku seperti tokoh di film romantis yang menatap jendela dengan mata berkaca-kaca. Aku menunggu seperti seorang terdakwa yang menunggu vonis mati: penuh kecemasan, berkeringat dingin, dan memaki dalam hati pada hakim yang tak jua mengetuk palu.
Tanyakanlah hal yang lebih substansial. Tanyakan berapa kali aku hampir berhenti menjadi penganut aliran sesat "Pemuja Bayanganmu". Tanyakan berapa banyak kafein dan teori konspirasi yang aku telan hanya untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa kepergianmu adalah bagian dari rencana besar Tuhan untuk menyelamatkanku dari masa depan yang membosankan.
Setiap malam, aku melakukan debat kusir dengan kewarasanku sendiri. Aku berperan sebagai pengacara, hakim, sekaligus terdakwa, mencoba membuktikan bahwa kehilanganmu adalah sebuah kemenangan. Aku membuat tabel Pro dan Kontra di kepalaku. Sisi 'Kontra' hanya berisi nama panggilanmu, sementara sisi 'Pro' berisi daftar panjang alasan mengapa aku harus berpesta karena kau tidak lagi ada untuk merusak selera fotoku atau mengomentari betapa berantakan hidupku hanya karena aku begitu tergila-gila dengan kopi hitam dan rokok.
Mari kita luruskan satu hal: Menunggu itu sama sekali tidak romantis. Itu menjijikkan. Itu adalah bentuk penganiayaan diri yang kita bungkus dengan pita kado bernama "kesetiaan". Tidak ada yang puitis dari menunggu seseorang yang bahkan tidak ingat nama lengkapmu dengan benar di dalam kepalanya. Itu melelahkan, seperti mencoba mengunduh file besar dengan koneksi internet yang hanya muncul satu bar. Aku terus memilihmu di ruangan-ruangan di mana kau bahkan tidak akan memasukkanku ke dalam daftar tamu. Itu bukan cinta; itu adalah ketololan stokholm sindrom yang dipelihara dengan baik.
Dan jika kau benar-benar muncul di depan pintuku, jangan berani-berani berharap akan disambut oleh versi diriku yang dulu—si naif yang akan meleleh hanya dengan satu kata "maaf" yang kau ucapkan sambil lalu. Versi itu sudah aku kubur dalam-dalam tanpa upacara kenegaraan. Dia sudah mati karena terlalu banyak menelan janji-janji manis yang ternyata mengandung pengawet mayat.
Cinta yang kau tinggalkan itu tidak bertahan lama di suhu ruangan. Ia membusuk, lalu bermutasi menjadi sesuatu yang baru. Ia bertransformasi menjadi sinisme yang tajam, atau mungkin menghilang sama sekali, menguap ke atmosfer seperti alkohol yang lupa ditutup botolnya. Jika kau berharap menemukan seseorang yang masih menyimpan fotomu di bawah bantal, maaf, bantal itu sudah aku ganti dengan bantal yang lebih empuk untuk mendukung kesehatan tulang leherku yang pegal karena terlalu lama menunduk meratapi nasib.
Jadi, jika kau memang berniat kembali, tolong masuklah dengan sangat hati-hati. Melangkahlah seperti kau sedang melewati ladang ranjau, karena ego yang kau lukai dulu kini telah bertransformasi menjadi sistem keamanan yang sangat canggih. Aku tidak yakin versi diriku yang mana yang akan menyambutmu.
Mungkin kau akan menemukan aku yang sudah sangat bijaksana hingga bisa menertawakan kebodohan kita berdua sambil menyuguhkanmu teh tawar yang benar-benar tawar—setawar perasaanku padamu. Atau, mungkin kau akan bertemu dengan versiku yang sangat efisien, yang akan langsung menyodorkan tagihan biaya terapi psikologis dan tagihan kerugian waktu yang telah kuhabiskan untuk memikirkanmu selama ini.
Jangan kaget jika saat kau mengetuk, aku akan membukanya sedikit saja, menatapmu dari atas ke bawah seolah kau adalah kurir paket yang salah alamat, lalu bertanya dengan nada paling datar sejagat raya: "Maaf, seingat saya, saya tidak memesan sampah hari ini. Bisa tolong diletakkan di tempat sampah depan saja?"
Kembalilah dengan lembut, atau jangan kembali sama sekali. Karena jujur saja, aku sedang sangat menikmati versi diriku yang sekarang—versi yang tidak perlu menunggu lampu hijau darimu untuk merasa bahagia. Aku sudah belajar bahwa menjadi lengkap tidak butuh potongan puzzle yang hilang, apalagi jika potongan itu ternyata berasal dari kotak mainan yang berbeda.
Selamat datang kembali (jika kau punya nyali), tapi tolong jangan tersinggung jika aku lupa mengajakmu masuk. Kursi di ruang tamuku kini terlalu berharga untuk diduduki oleh seseorang yang hobi menghilang dan muncul seperti iklan pop-up yang tidak diinginkan.
Catatan:
Coretan singkat ini saya tulis sekitar dua puluh satu tahun yang lalu. Saya sempat lupa, dan coretan ini tiba-tiba saya temukan kembali, tersimpan dalam flasdisk usang yang saya temukan secara tak sengaja. Ada banyak kenangan dalam flashdisk itu, ada banyak tulisan juga, dan salah satunya adalah tulisan ini. Yang saya ingat, saya menulis catatan ini saat saya menemukan kembali kewarasan saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar