Salam jepret Sobat semuanya! Artikel kali ini adalah tentang ekspresi wajah! Manusia memang merupakan objek tanpa batas dari dunia fotografi. Ada fotografer yang memfokuskan diri pada wajah, ada juga fotografer yang memilih memfokuskan pada bagian-bagian tertentu dari tubuh manusia, dan ada juga fotografer yang lebih memilih untuk mengabadikan manusia itu secara keseluruhan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Artikel ini secara khusus akan mengulas tentang bagian dari fotografi wajah. Aliran fotografi ini lebih memfokuskan bidikan pada wajah dengan berjuta ekspresinya, di mana "jiwa" dari foto tersebut terwakili dengan sangat baik lewat ekspresi wajah si objek.
Kalau saya ditanya: apa definisi dari fotografi ekspresi? Saya akan pilih untuk langsung melarikan diri atau terjun ke laut daripada harus menjawabnya! Jelas sob, karena definisinya kadang susah diungkapkan dengan kata-kata. Foto ekspresi ini sebenarnya masuk ke dalam ranah foto portrait. Tetapi, kadang saya menemui banyak foto portrait yang menampilkan objek dengan ekspresi yang "datar", alias tanpa ekspresi sama sekali pada raut wajahnya. Untuk itu, saya lebih memilih untuk menggolongkan foto-foto jenis ini ke dalam "Foto Ekspresi", di mana yang menjadi fokus utamanya adalah ekspresi yang terpancar pada raut wajah si objek.
Keluguan Anak-Anak Sebagai Objek Abadi
Dalam dunia foto ekspresi, anak-anak merupakan objek yang sangat tepat serta tak lekang oleh waktu. Mengapa? Karena keluguan dan kejujuran ekspresi wajah mereka selalu berhasil memikat naluri kemanusiaan kita. Anak-anak belum pandai berpura-pura di depan kamera; ketika mereka senang, tawa mereka lepas, dan ketika mereka bingung, raut wajahnya pun terlihat sangat polos.
Foto keponakan saya, Dimas, adalah salah satunya. Foto itu berhasil mengabadikan ekspresi yang sangat polos dari wajah seorang anak. Jujur, saya sendiri sebenarnya masih belum mengerti betul foto jenis ini enaknya digolongkan ke mana secara teori formal. Tapi bagi saya, Point of Interest-nya jelas berada pada wajah si model, yang menunjukkan ekspresi yang khas. Menurut saya, foto tersebut berhasil menunjukkan emosi murni (true emotion) dari si model pada saat kamera menjepretnya.
Seni Mengunci Fokus pada Raut Wajah Model
Untuk objek model dewasa, ketika patokannya adalah ekspresi wajah, maka fotografer pada saat memotret harus sebisa mungkin menghindari keseluruhan tubuh dari si model dan benar-benar berfokus pada raut wajah serta ekspresinya. Jangan biarkan pakaian yang heboh atau pose tubuh yang berlebihan mendistorsi pesan utama yang ingin disampaikan oleh wajah.
Sebab, esensi dari fotografi ekspresi ini terletak sepenuhnya dari kekuatan ekspresi raut wajah si objek foto—apakah itu menangis, tertawa, tersenyum, sedih, sayu, atau bahkan saat mereka terpaku memandang "sesuatu" di kejauhan dengan tatapan kosong. Itulah hakikat fotografi ekspresi yang sebenarnya. Bahasa visual tanpa suara itulah yang disampaikan melalui fotografi ekspresi.
Untuk memberikan kesan yang lebih dramatis dan mendalam, eksperimen warna juga sangat membantu. Contohnya pada foto kedua di atas, saya mencoba menyajikannya dalam format khusus (Edisi: Sepia with a touch of colour!). Hasilnya, aura foto terasa lebih klasik dan emosinya jadi lebih tersampaikan.
Catatan Tambahan: Drama Model Misterius dan Ancaman Tripod
Nah, bicara soal foto kedua yang menggunakan efek sepia itu, ada cerita humor tragis di baliknya, Sob. Sampai detik artikel ini diketik dan siap ditayangkan, saya sendiri masih tidak tahu nama asli model perempuan berkuncir kuda itu siapa!
Kejadian ini mirip sekali dengan ulasan saya di artikel sebelumnya tentang karya kawan saya si "Gilang"—di mana kami kenalan tapi saya tidak tahu nama aslinya di KTP siapa. Tapi ya sudahlah, peduli setan belang siapapun namanya, bagi seorang fotografer, yang paling penting adalah bagaimana sebuah karya bisa berbicara kepada penikmatnya.
Membiarkan identitas model tetap misterius itu sebenarnya ada seninya sendiri. Hal ini membuat pembaca blog kita jadi ikut penasaran, menebak-nebak, dan memandangi foto tersebut lebih lama. Tapi ingat ya Sob, jurus "peduli setan belang" ini jangan dipraktikkan kalau Anda sedang mengambil proyek foto komersial dari klien resmi. Bayangkan kalau klien Anda bertanya siapa nama modelnya untuk keperluan administrasi kontrak, lalu Anda jawab dengan santai: "Nggak tahu, yang penting true emotion-nya dapet!" Wah, dijamin Anda bisa langsung dilempar pakai tripod besi seberat tiga kilogram oleh klien saat itu juga!
Kesimpulan
Demikianlah ulasan singkat tentang foto ekspresi kali ini. Tulisan ini memang masih sangat jauh dari kata benar, apalagi sempurna. Jadi mohon dimaklumi ya, Sob!
Supaya Sobat jepret semua bisa mendapatkan penjelasan yang agak lengkap dan mendalam seputar dunia potret-memotret, ada baiknya Sobat juga membaca artikel saya tentang tips memotret wajah yang bisa Sobat pelajari lewat tautan yang tersedia di laman blog ini.
Semoga artikel ini menghibur dan bermanfaat. Tetap sehat, tetap semangat, dan mari kita terus menjebak emosi ke dalam frame!



Hasil karya yang sangat menarik serta menambah wawasan! Dan juga foto-foto yang luar biasa....Great Job!
BalasHapusLumayan bagus....mantab lah mas ! Ditunggu karya lainnya...4 Jempol!
BalasHapus