Pernahkah sobat sedang asyik memotret sepiring nasi goreng, lalu tiba-tiba ada seseorang dengan kacamata tebal dan muka serius datang bertanya, "Bagaimana perspektif ontologis dan filosofi di balik pencahayaan kerupukmu itu?"
Kalau belum pernah, selamat. Sobat masih waras. Kalau sudah, selamat datang di klub "Sobat Bingung" nasional.
Jujur saja, saat pertama kali telinga saya menangkap istilah "Filosofi Foto Makanan", bulu kuduk saya merinding. Bukan merinding karena takjub, tapi merinding ngeri seolah baru saja mendengar suara kuntilanak di siang bolong. "Filosofi"? Ah, istilah yang luar biasa seram. Beratnya terasa melampaui cicilan mobil LCGC yang belum lunas.
Begitu mendengar kata "Filosofi", otak saya yang satu setengah giga ini langsung melakukan fast forward ke buku-buku sejarah SMA yang membosankan. Terbayang sosok Aristoteles yang sedang melamun, Plato yang dahi berkerut, atau Karl Marx yang terlihat sangat butuh kopi.
Lalu, coba bayangkan para filsuf kelas dunia ini digabung dengan kata Food Photography. Hadehhhh... Bayangan di kepala saya langsung kacau balau tidak keruan. Saya membayangkan Plato sedang asyik menggambar—ya, jelas menggambar, kan zaman itu belum ada kamera DSLR apalagi smartphone boba!—berbagai hidangan di depannya.
"Wahai Aristoteles," ujar Plato sambil mengarsir bayangan paha ayam goreng. "Apakah paha ayam ini adalah representasi dari ide paha ayam yang murni di alam ide, atau sekadar bayangan semu yang akan lenyap saat kita kenyang?"
Aduhhhh... kacau dan mengerikan! Kenapa sesuatu yang seharusnya nikmat seperti makanan harus dibawa-bawa ke ranah yang bikin kepala pecah?
Antara Jargon Berat dan Rasa Lapar yang Terkhianati
Begini sobat, banyak orang di dunia fotografi—terutama yang merasa dirinya "seniman tingkat dewa"—senang sekali membungkus sesuatu yang simpel dengan jargon yang beratnya minta ampun. Mereka menyebutnya "Filosofi". Padahal, kalau dikupas pelan-pelan, isinya mungkin cuma soal: "Gue pengen martabak ini kelihatan cakep."Kenapa harus pakai kata filosofi? Apakah supaya harga fotonya bisa naik tiga kali lipat? Ataukah supaya sobat bisa terlihat lebih cerdas saat nongkrong di kafe mahal sambil memegang kamera yang harganya bisa buat beli sawah di kampung?
Menurut saya, terlalu banyak teori seringkali justru menjadi belenggu. Kreativitas itu seharusnya "melekuk" secara alami, bukan kaku seperti penggaris kayu guru matematika era 80-an. Banyak orang terjebak mempelajari "filosofi cahaya" sampai lupa bahwa makanan di depannya sudah dingin, minyaknya sudah menggumpal, dan sayurnya sudah layu sebelum sempat dijepret. Hasilnya? Fotonya mungkin "filosofis", tapi selera makan orang yang melihatnya langsung hilang digulung ombak.
Sentilan dari Realita: "Makan Itu Soal Lidah, Bukan Soal Otak!"
Saya teringat obrolan dengan seorang teman yang sangat praktis—tipe orang yang kalau lapar langsung makan, bukan malah sibuk flatlay dulu selama 15 menit. Dia bilang begini dengan wajah tanpa dosa:
"Gini lho, Bro. Filosofi makanan itu sederhana. Makanan itu diciptakan buat dinikmati aromanya, dirasakan bumbunya, dan dikunyah sampai kenyang. Foto itu cuma bonus biar orang lain iri. Kalau lo motret martabak tapi lo lebih sibuk mikirin ontologi cahaya daripada gimana caranya bikin menteganya kelihatan meleleh dan bikin orang pengen jilat layar HP, mending lo jualan kamera aja, nggak usah motret!"
Jleb. Tajam sekali, tapi benar adanya.
Filosofi dalam fotografi makanan seharusnya bukan tentang mendalami pemikiran eksistensialisme di balik taburan bawang goreng. Filosofi sejati adalah tentang kejujuran. Bagaimana sobat mentransfer rasa lapar ke dalam sebuah file digital. Bagaimana sobat bercerita bahwa mie instan pake telor ini hangat menggoda di cuaca mendung, tanpa harus mengutip pemikiran Friedrich Nietzsche.
Saatnya Melepas Belenggu "Pintar"
Seringkali, kita takut berkarya karena merasa "kurang berilmu". Kita takut memposting foto karena belum paham teknik Chiaroscuro atau belum membaca buku tebal tentang psikologi warna. Padahal, tempe goreng di depan sobat tidak peduli dengan semua itu. Dia hanya ingin terlihat renyah, gurih, dan mengundang orang untuk segera memesan lewat ojek online.
Mari kita jujur: Berapa banyak dari kita yang memotret makanan karena memang ingin berbagi kegembiraan, dan berapa banyak yang memotret hanya untuk memuaskan ego supaya dianggap "fotografer beraliran filosofis"?
Kalau foto sobat hanya bisa dimengerti setelah sobat memberikan kuliah umum selama dua jam mengenai "Makna Tersembunyi di Balik Sambal Terasi", berarti sobat gagal. Fotografi makanan yang sukses adalah fotografi yang "berisik". Begitu orang melihat, perut mereka berbunyi krucuk-krucuk. Itulah filosofi tertinggi.
Penutup: Balik ke Setelan Awal!
Jadi, buat sobat yang masih gemetar mendengar istilah "Filosofi Foto Makanan", mari kita tarik napas dalam-dalam. Buang jauh-jauh bayangan Aristoteles yang sedang menata plating gado-gado.
Kreativitas sobat adalah milik sobat. Jangan biarkan jargon-jargon seram itu membekukan jari sobat di atas tombol shutter. Ingat, tempe goreng tidak butuh filsuf, dia butuh fotografer yang sedang kelaparan dan penuh gairah.
Melekukkan irama hidup dan kerja memang perlu, tapi jangan sampai sobat melekukkan logika sampai patah hanya demi sebuah label "keren". Mulailah memotret dengan hati, bukan cuma dengan referensi buku teori yang berdebu.
Selamat memotret, selamat makan, dan tolong... jangan tanya saya apa filosofi di balik kerupuk putih yang saya makan siang ini. Filosofinya cuma satu: KRIUK!





Bagus dan menarik!
BalasHapusHasil karya yang sangat menarik serta menambah wawasan! Dan juga foto-foto yang luar biasa....Great Job!
BalasHapusLumayan bagus....mantab lah mas ! Ditunggu karya lainnya...4 Jempol!
BalasHapusLuar biasa, sungguh luar biasa! bentuk kreasi yang boleh dikatakan hasil cipta dari mahakarya!
BalasHapusKarya yang menarik! Menambah wawasan serta memberikan sudut pandang yang berbeda!
BalasHapusPostingan yang bagus!
BalasHapusKarya yang cukup menarik, menyajikan hasil foto dalam bentuk dan perspektif yang berbada!
BalasHapusArtikel yang sangat menarik dan juga inspiratif! Layak untuk dibaca, dan juga mampu menambah wawasan serta referensi kita terhadap fotografi dan juga yang lain!
BalasHapusArtikel yang menarik, menambah wawasan serta memberika bahan referensi baru
BalasHapus#artikel bagus
#fotografi
#bagus