Catatan arsip: artikel ini ditulis saat pandemi Covid-19 membuat fotografi model mati suri dan komunitas "jeprat-jepret" mendadak sunyi. Sekarang suasananya jauh berbeda, tapi pertanyaannya masih sering muncul di meja kopi para pegiat foto.
Sobat, pernahkah Sobat mendengar perdebatan sengit antara dua fotografer soal "ini model atau portrait?" Biasanya berakhir seperti debat bubur diaduk atau tidak diaduk: panas, berkepanjangan, dan tidak ada yang mau mengalah. Padahal jawabannya tidak serumit itu. Tenang, Sob, bubur tidak ikut dibahas di sini.
Kedua genre ini sama-sama memotret manusia, dan itulah sumber kebingungannya. Tapi ada satu pembeda yang membuat keduanya berdiri di rumah berbeda: arahan.
Fotografi Model: Fotografer Jadi Sutradara
Dalam fotografi model (model photography), fotografer datang dengan konsep. Ada tema, ada pesan, ada pakaian, ada suasana yang harus dibangun. Orang yang dipotret, yaitu sang model, adalah mitra yang mewujudkan konsep itu. Fotografer sering disingkat FG, jadi kalau Sobat mendengar "FG-nya galak banget", itu bukan nama merek.
Fotografer memutuskan gaya, ekspresi, arah pandang, busana, dan tetek bengek lainnya. Bayangkan pemotretan katalog baju: semua diatur, dari kerutan kain sampai sudut dagu. Tidak ada yang kebetulan, kecuali lalat yang nyasar masuk frame.
Model yang bagus pun tidak dinilai dari wajah dan postur saja. Wajah menawan tanpa keterampilan itu seperti mobil mewah tanpa bensin: enak dipandang, tidak ke mana-mana. Model berpengalaman tahu cara menjaga ekspresi dari satu pose ke pose berikutnya, paham arah cahaya, dan sanggup menangkap arahan hanya dari satu kalimat pendek. Dengan model seperti itu, fotografer bisa lebih tenang mengurus urusan teknis, seperti pencahayaan dan pengaturan kamera.
Tapi jangan salah, Sob. Memakai model berpengalaman tidak otomatis membuat pekerjaan fotografer jadi ringan. Fotografer tetap harus punya imajinasi yang bagus, dan kemampuan menjelaskannya dengan jelas. Ide sehebat apa pun akan layu kalau cuma bisa disampaikan dengan kalimat "pokoknya yang... itu lho, yang dramatis". Model bukan dukun, tidak bisa membaca pikiran.
Fotografi Portrait: Fotografer Jadi Pendengar
Fotografi portrait bermain di arah sebaliknya, setidaknya dalam semangatnya. Tujuannya merekam karakter seseorang apa adanya. Bukan memerankan tokoh, tapi menampilkan dirinya sendiri.
Untuk itu fotografer harus mengenal subjeknya: latar belakangnya, kebiasaannya, apa yang membuatnya tertawa, dan apa yang membuatnya diam. Portrait yang bagus tidak lahir dari "senyum dong, Pak" lalu klik. Itu cuma dokumentasi arisan. Portrait yang baik lahir dari obrolan, kopi, dan kesabaran menunggu ekspresi asli muncul setelah subjek lupa sedang difoto.
Portrait juga punya beberapa bentuk. Kalau yang direkam hanya wajah, namanya close-up atau headshot. Kalau lingkungan hidup subjek ikut masuk bingkai, misalnya tukang kopi di warungnya dengan termos dan gelas bertumpuk di belakangnya, itu disebut environmental portrait. Satu foto itu bisa bercerita lebih banyak daripada seratus kata sambutan.
Batasnya Lentur, Jangan Dipaksa Kaku
Nah, di sini bagian yang sering dilewatkan. Dua genre ini bukan dua kubu yang saling bermusuhan, melainkan sebuah spektrum. Portrait juga sering diarahkan: "geser sedikit ke jendela, ya, Bu, cahayanya bagus." Pemotretan model pun bisa menyisakan ruang spontan, dan sering kali foto terbaik justru lahir di sela-sela jeda, saat modelnya tertawa karena FG-nya salah menyebut nama lensa sendiri.
Jadi kalau ada yang bersikeras menempelkan label kaku pada sebuah foto, senyumlah. Biasanya orang yang paling sibuk melabeli adalah orang yang paling jarang memotret.
Sama-Sama Butuh Cahaya dan Sama-Sama Butuh Manusia
Kedua genre menuntut keahlian teknis. Ada fotografer yang jatuh cinta pada studio dan lampu kilat, ada pula yang lebih nyaman di alam terbuka dengan cahaya matahari yang gratis. Dua-duanya sah. Yang pasti, memahami dan memaksimalkan cahaya adalah syarat mutlak, seperti halnya genre lain: fotografi pemandangan, still life, sampai fotografi makanan yang entah kenapa selalu minta dipotret sebelum dimakan.
Tapi ada satu keterampilan yang sering lupa dimasukkan ke daftar belanja: kemampuan berinteraksi dengan manusia. Fotografer wajib belajar berkomunikasi dengan jelas, ramah, dan sabar. Kamera mahal tidak bisa membuat orang merasa nyaman. Senyum tulus dan kata "terima kasih" bisa. Fotografer yang cuma ahli teknis tapi cuek pada manusia ibarat koki hebat yang tidak pernah bertanya apakah tamunya alergi udang.
Soal Izin, Jangan Dianggap Remeh
Karena yang dipotret adalah manusia, ada satu hal yang tidak boleh ditawar: persetujuan. Baik di sesi model maupun portrait, pastikan subjek paham untuk apa fotonya, di mana akan dipajang, dan merasa nyaman dengan batasannya. Model berhak berkata "tidak" pada pose atau busana yang membuatnya tidak nyaman, dan subjek portrait berhak menolak fotonya dipublikasikan. Fotografer yang menghormati hal ini akan dikenang sebagai orang baik, bukan hanya orang yang punya kamera bagus.
Kesimpulan, Biar Tidak Berputar-putar
Singkatnya: fotografi model berawal dari ide fotografer, lalu model membantu mewujudkannya. Fotografi portrait berawal dari rasa penasaran pada seseorang, lalu fotografer berusaha menangkap kepribadiannya apa adanya. Satu soal konsep, satu soal karakter. Keduanya sulit, dan keduanya tidak cukup hanya dengan lensa mahal.
Perlu saya akui, Sob, ini semua murni berdasarkan pendapat dan pengalaman saya. Kalau Sobat punya pandangan yang berbeda, silakan, itu sah-sah saja. Fotografi itu seni, bukan matematika. Dalam matematika, 2+2 harus 4. Dalam fotografi, 2+2 boleh 6, boleh 9, boleh juga tidak dijawab sambil menyeruput kopi. Selama fotonya jujur dan subjeknya dihormati, tidak ada polisi fotografi yang akan menilang Sobat.
Semoga ketak-ketik saya kali ini sedikit menghibur dan menambah wawasan Sobat semua.
Salam jepret!
Artikel oleh: Tuntas Trisunu








Tidak ada komentar:
Posting Komentar