Selamat pagi, siang, sore, dan malam, Sobat Jepret semua! Minggu lalu saya berjanji akan membagikan jurus memotret saat hujan, setelah membahas perlengkapan dan pantangannya di artikel "Sebelum Main Hujan". Utang itu saya lunasi sekarang. Janji tetaplah janji, apalagi kalau sudah ditagih langit. Siapkan kopi, karena tips ini enak dibaca sambil menunggu awan mendung berubah pikiran.
1. Hujan
Syarat paling utama memotret saat hujan adalah... hujan!
Benar, Sob. Bukan hujan buatan dari selang air, bukan juga hujan ala sinetron yang selalu turun tepat saat tokohnya patah hati dan tepat berhenti saat adegan selesai. Yang Sobat butuhkan adalah hujan sungguhan dari langit. Jangan memanipulasi hujan. Selain hasil fotonya tidak akan bagus, Sobat bisa kualat karena mendahului kehendak Yang Maha Kuasa. Tetangga yang melihat Sobat menyiram diri sendiri demi konten juga belum tentu paham.
2. Kamera
Untuk yang satu ini, saya tidak akan menjelaskan lebih jauh. Kalau masih ada yang bertanya kenapa memotret butuh kamera, saya tidak akan menjawab!
Nasib sang penanya saya serahkan kepada Sobat semua: dicubit ramai-ramai, diikat di tiang lapangan lalu dijemur, atau dibelikan kue klepon (yang halal, tentu, walau konon pernah ada yang meributkannya) supaya otaknya mendapat asupan gizi dan tercerahkan. Terserah Sobat. Yang jelas, kamera ponsel pun sah, asal Sobat siap melindunginya seperti melindungi dompet di pasar malam.
3. ISO Tinggi
Cahaya saat hujan cenderung redup karena awan tebal dan cahaya yang tersebar di jalanan. Supaya foto tidak kekurangan cahaya, naikkan ISO. Kalau memotret malam hari, Sobat mungkin perlu menyentuh ISO 1600 atau lebih. Konsekuensinya, foto bisa dipenuhi noise seperti jerawat pubertas. Tenang, mengubahnya ke hitam-putih bisa menyamarkan masalah itu. Bahkan butiran kasar tersebut bisa jadi senjata kalau Sobat memilih subjek yang cocok, seperti siluet dan suasana muram yang dramatis.
Lagi pula, fotografi itu soal kreativitas, bukan soal foto semulus kulit model iklan sabun.
4. Kubangan Air
Kubangan mungkin menyebalkan bagi pejalan kaki, tapi bagi fotografer ia adalah cermin gratis tanpa biaya sewa. Gunakan sebagai permukaan pantulan untuk mendapat sudut pandang yang tak lazim, atau untuk memberi tekstur pada subjek yang biasanya hambar. Jongkoklah serendah mungkin, dekatkan kamera ke permukaan air, dan lihat bagaimana genangan kecil menyulap jalan becek menjadi dunia kedua yang terbalik. Sepatu basah adalah ongkos yang pantas, apalagi kalau hasilnya membuat orang bertanya, "Ini di mana?" dan Sobat menjawab, "Depan warung."
5. Pemilihan Lensa
Pilih lensa dengan bukaan (aperture) besar. Sebagian besar foto di artikel ini diambil dengan Canon EF 50mm f/1.8 II. Bukaan lebar membuat Sobat bisa membekukan tetesan hujan di udara dan menangkap langkah orang yang berlari menembus hujan, lengkap dengan wajah panik yang tidak bisa dipalsukan.
Lensa semacam ini juga punya kedalaman bidang (depth of field) yang tipis. Latar depan tampak tajam, sementara latar belakang melebur lembut, sehingga subjek seolah melompat keluar dari foto. Hindari lensa yang berat. Gerakan Sobat harus tetap lincah, apalagi kalau terpaksa jumpalitan di bawah hujan. Lensa seberat galon isi ulang hanya cocok untuk atlet angkat besi.
6. Memilih Subjek
Orang-orang punya tingkah luar biasa saat hujan: berlari sambil menutup kepala dengan tas, berteduh berdesakan di emperan toko, atau berjalan santai seolah hujan itu urusan orang lain. Payung pun jadi subjek yang kocak, apalagi yang berdesain mencolok. Kalau Sobat bisa membidik dari tempat yang lebih tinggi, misalnya jembatan penyeberangan, Sobat akan melihat lautan payung bergerak serempak seperti koreografi yang tidak pernah dilatih. Subjek apa pun yang basah kuyup, entah manusia atau benda, juga menarik. Jadi, carilah.
7. Imbangan Putih (White Balance)
Foto saat hujan tampil berbeda dari foto saat cerah. Ada dua pengaturan imbangan putih yang perlu Sobat catat: "Daylight" dan "Cloudy". Kalau ingin nuansa dingin kebiruan, pakai "Daylight". Kalau ingin kehangatan, pakai "Cloudy". Dan kalau Sobat tiba-tiba butuh dana segar, silakan ubah mode kamera ke "Gadai". Kalau sudah benar-benar malas memotret, pilih mode "Jual!" (becanda, Sob).
Intinya, bereksperimenlah. Sobat bahkan bisa mengganti pengaturan di tengah pemotretan untuk melihat subjek mana yang lebih cocok tampil dingin atau hangat. Tidak ada yang akan menghukum Sobat karena penasaran.
8. Menggunakan Properti
Benda yang Sobat pegang bisa membuka sudut pandang baru. Contohnya, memotret lewat payung transparan: latar belakang jadi kabur lembut, sementara tetesan air di permukaan payung tampak tajam seperti butiran kaca. Kaca jendela angkot yang berembun juga bisa jadi bingkai alami yang murah meriah. Batasnya hanya imajinasi Sobat, jadi luapkan saja.
9. Memotret Hujan di Malam Hari
Ingin menaikkan level tantangan? Coba memotret hujan di malam hari. Sobat bukan hanya melawan alam dan hujan, tetapi juga subjek yang samar karena minim cahaya, sementara cahaya yang ada dibuyarkan oleh hujan. Rasanya seperti bermain petak umpet dengan lampu dimatikan.
Selain menaikkan ISO dan memakai lensa bukaan besar, bawalah tripod untuk meredam guncangan. Pemilihan subjek jadi makin penting karena cahaya terbatas. Carilah sumber cahaya seperti lampu jalan, etalase toko, atau lampu kendaraan, lalu biarkan hujan menjadi tirai berkilauan di depannya. Justru di situ kreativitas Sobat diuji, dan latihan ini akan mengasah kemampuan Sobat sebagai tukang foto... eh, maaf, maksudnya fotografer.
Penutup
Jadi, Sob, jangan ragu. Raih kamera, satu atau dua lensa, dan payung (atau jas hujan), lalu bersiaplah jumpalitan bergembira ria di bawah hujan. Ingat pantangannya, jaga keselamatan, dan jangan lupa membungkus kamera. Hujan tidak akan menunggu Sobat selesai membaca artikel ini, jadi kalau langit sudah gelap, tutup layar, buka pintu, dan jepret.
Salam jepret!
Artikel oleh: Tuntas Trisunu
Diadaptasi dari Majalah PhotoYou (Canon), edisi Musim Gugur 2012.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar