Selasa, 19 September 2023

Cara Memotret dengan Style Vintage? (Jawaban Dari Fotografer Foto Hitam Putih yang Jenuh Memotret Hitam Putih dan Sekarang Hobby Motret dengan Style Vintage) - Bagian Kedua



Kediri, Tabanan, Bali, Selasa, 19 September 2023

Selamat pagi, siang, sore dan malam Sobat jepret semuanya. Mohon ijin untuk menyambung cerita saya sebelumnya, yang bertutur tentang Cara Memotret dengan Style Vintage. Dan supaya Sobat bisa menikmatinya, sebaiknya Sobat membaca penuturan saya pada artikel sebelumnya yang berjudul: "Cara Memotret dengan Style Vintage? (Jawaban Dari Fotografer Foto Hitam Putih yang Jenuh Memotret Hitam Putih dan Sekarang Hobby Motret dengan Style Vintage) - Bagian Pertama". Tulisan ini adalah cerita bagian kedua, silahkan disimak:

Bedul sepertinya paham, usahanya untuk menawarkan lensa itu ke saya bakalan sia-sia. Sejurus kemudian, dia duduk di sebelah saya, sambil menunduk si Bedul bergumam sendiri, “Kalau saja lensa ini bisa laku, pasti saya sudah bisa minum kopi sekarang…”

“Kopi Dul?” tanya saya perlahan, “mau kau kubelikan kopi?”. Bedul sontak memandang saya dan air mukanya juga berubah cerah. “Iya Om, boleh!”, sahutnya  tanpa pakai pikir lagi. 

“Mas, kopi hitam satu!” Seru saya sambil mengacungkan satu jari ke mas Bowo. Tak lama kemudian, satu kopi hitam datang. 

“Ada rokok Om?”

“Ada,” jawab saya sambil mengeluarkan lima batang rokok lintingan dari kantung saya dan menaruhnya di meja sebelah gelas kopi saya. Bedul kelihatan kaget. Rokok lintingan yang saya bawa pastinya bikin dia kaget. Pelan dia ambil sebatang rokok lintingan yang saya taruh tadi, selipkan di bibir, lalu dia sundut. Saya ambil juga rokok lintingan tadi, saya sundut, dan pelan saya hisap. 


Rokok lintingan tadi jelas sudah bisa menjawab persoalan, kenapa saya tak beli lensa yang bedul tawarkan. Bedul pasti sudah paham tentang kondisi dompet saya, dan rokok lintingan itu sudah bisa menerangkan dengan terang benderang soalan ekonomi saya.

“Kenapa kau jual Dul? Sudah bosan motret rupanya?” Tanya saya.

“Nggak Om, cuma memang lagi ada perlu saja”. Jawab si Bedul pelan. 

“Ada perlu, maksudnya?” tanya saya berikutnya. Dan rupanya pertanyaan saya itu membuat dia jadi bisa sedikit tenang. Mukanya jadi agak teduh. Sejurus dia tersenyum.

“Om, sebenarnya saya sedang ada tawaran kerja untuk ambil foto, dan kalau kena gol itu kerja, saya bakal ada uang lumayan dari komisinya,” kata Bedul bersemangat, sembari mempelajari raut muka saya. Saya hanya menangguk-anguk saja karena tidak tahu harus kasih tanggapan seperti apa.

“Sayangnya, orang yang kasih order itu tidak mau kasih saya persekot. Dia bilang baru bisa kasih komisi kalau pekerjaan saya sudah kelar. Jadi, ongkos, bekal, dan printilan persiapan lain harus saya kasih talangan dulu om,” sahut Bedul sambal menghembuskan asap rokok, pandangannya menerawang jauh.

“Apa tidak bisa kasih pengertian sedikit ke orangnya, bilang kalau kau butuh persekot untuk persiapan dan segala macam.” Sahut saya.

“Sudah om, saya sudah kasih omong kaya gitu. Tapi orangnya tetap bergeming, dia tetap bilang kalau dia cuma bisa kasih komisi kalau sudah selesai…..sebelum itu, harus saya mesti tanggung sendiri!”

“Padahal motretnya juga tidak terlalu susah om, gampang malah untuk ukuran saya. Orangnya mau supaya saya kasih dia foto pakai style vintage, paling sedikit lima belas foto, dan kalau selesai serta sesuai maunya dia, dia bakal kasih saya komisi satu juta perak!”

“Kau yakin kau bisa kasih dia foto sesuai dengan maunya dia?” Sahut saya sambil seruput kopi sedikit.

Bedul tidak menjawab, cuma dia kasih tatapan aneh ke arah saya. Saya jadi merasa tak enak hati. Ucapan saya tadi tentunya menyinggung dia. 

Itulah Sobat, cerita tentang Cara Memotret dengan Style Vintage bagian kedua. Dan cerita ini akan saya sambung lagi ke bagian yang ketiga, dengan judul: “Cara Memotret dengan Style Vintage? (Jawaban Dari Fotografer Foto Hitam Putih yang Jenuh Memotret Hitam Putih dan Sekarang Hobby Motret dengan Style Vintage) - Bagian Ketiga”, semoga Sobat bisa terhibur dan bisa dapat banyak senang saat membacanya.

Tetap sehat, tetap semangat, dan seperti kata pepatah; "Hidup akan berakhir indah, dan kalau belum indah, itu artinya hidup belum berakhir!"

Salam jepret selalu.

Artikel ini diadaptasi dan ditulis ulang oleh: Tuntas Trisunu

#Fotografi #Fotografer #FG #Momod #kamera #Tips #Trik #Tips Fotografi #Trik Fotografi #Teknik Fotografi #Seni Fotografi #Aliran Fotografi #Genre Fotografi #Still Life Fotografi #Rule of third #Photo #Photography #Foto #BW #Model foto #Potret # Aliran fotografi #Bangunan bersejarah #Bangunan bersejarah di Jakarta Batavia #Food Photography #Foto hitam-putih #fotografer #Fotografi #Fotografi Abstrak #Fotografi Arsitektur #Fotografi Komersial #fotografi makanan #Fotografi Wajah #Gallery #Human Interest Photography #Jakarta #Jalan-jalan #Karya Foto #Sejarah Batavia #serba-serbi #Spot Fotografi #Street Photography #Teknik fotografi #Video Fotografi #Selfie #Toys Fotografi #Wedding Photography #Underwater Photography #Macro Photography #HUMAN INTEREST PHOTOGRAPHY #Lensa #Lensa Kamera #Kamera #DSLR #Mirrorless #Analog #Tripod #Kamera HP #Foto model #Komunitas fotografi #Sesi foto #Trik & Tips Fotografi #Aturan segitiga #Aturan segi empat #photos

Tidak ada komentar:

Posting Komentar