Halo, Sobat! Selamat datang di pojok celotehan kita. Hari ini saya mau berbagi sesuatu yang menurut saya sangat krusial, baik buat Sobat yang baru kemarin sore pegang kamera, maupun buat Sobat yang jarinya sudah pecah dan kapalan karena jutaan kali menekan tombol shutter. Ini adalah rahasia sederhana yang bisa bikin level fotografi Sobat naik kelas secara dadakan. Siap?
Rahasianya bukan soal beli lensa harga puluhan juta, Sobat. Bukan juga soal beli kamera seri terbaru yang fiturnya bisa sampai tembus sampai langit ke tujuh. Rahasia terbaik yang bisa saya bagikan agar foto Sobat langsung menonjol di tengah "tsunami" foto yang membanjiri internet setiap harinya adalah: Beranilah bertingkah "aneh" pada saat memotret.
Kenapa Sih "Normal" Itu Musuh Utama Kita?
Coba Sobat bayangkan adegan seperti ini: Sobat datang ke sebuah tempat wisata yang viral. Sobat berdiri tegak dengan gagah, mengarahkan kamera ke objek paling populer di sana, mengambil foto dari sudut pandang yang paling nyaman (setinggi mata alias ”eye level” kalo kata orang keren), dan melakukannya di jam-jam sibuk. Kira-kira, apa hasilnya?
Ya benar, hasilnya adalah sebuah foto yang... "jelas". Hanya itu. Tidak kurang, tapi sayangnya.... fotonya juga... tidak lebih.
Masalahnya, foto yang "jelas" itu sudah diambil oleh ribuan orang lain dengan sudut pandang yang persis sama. Foto Sobat jadi nggak punya jiwa, nggak punya rasa, dan jujur saja, bikin bosan. Kalau Sobat ingin hasil yang ciamik dan bisa bikin hati jadi senang serta gembira, Sobat harus berhenti menjadi fotografer yang: lempeng, biasa, normal......alias ”main aman”.
Banyak fotografer sebenarnya sadar akan hal ini, tapi mereka seringkali kalah sama rasa malu. Sobat mungkin pernah merasa ingin jongkok di tengah trotoar demi mendapatkan refleksi genangan air yang estetik, tapi tiba-tiba Sobat mengurungkan niat karena takut jadi perhatian orang lewat, kan? Nah, di sinilah letak perbedaannya antara foto yang biasa-biasa saja dan foto yang luar biasa.
Indikator Kesuksesan: Tatapan Heran dari Orang Asing
Sobat harus tahu satu fakta unik: Banyak foto terbaik saya lahir dari momen di mana orang-orang menatap saya seolah-olah saya adalah orang linglung yang baru saja menemukan kamera DSLR di pinggir jalan dan bingung gimana cara pakainya.
Biasanya, pemimpin dari "gerakan menatap aneh" ini adalah ”yayang” saya sendiri! Dia sering memberikan tatapan yang seolah berkata, "Ini orang beneran yayang gue atau bukan ya?" saat melihat saya rela merangkak di rumput demi memotret seekor serangga kecil.
Tapi tahu nggak, Sobat? Kalau saya mulai mendapatkan tatapan-tatapan penuh keheranan itu—entah karena saya berbaring di tanah yang agak kotor, menggunakan properti nggak masuk akal di depan umum, atau memotret tiang listrik yang karatan—saya justru merasa senang. Kenapa? Karena itu adalah indikator bahwa saya sedang melakukan sesuatu yang tidak dilakukan orang lain. Saya sedang berada di jalur yang benar menuju keunikan.
Kecuali karena keberuntungan atau momen langka (seperti petir menyambar puncak gedung), Sobat bisa berasumsi bahwa foto yang mudah didapatkan itu sudah diambil oleh banyak orang. Tapi, kalau Sobat sampai harus berjongkok, memanjat pagar (astaga!), atau menjulurkan kamera dari jendela taksi sambil dipelototi sopirnya melalui kaca spion, kemungkinan besar Sobat akan mendapatkan masterpiece yang nggak dimiliki orang lain.
Cukup dulu untuk bagian ini....
Tulisan ini akan saya teruskan ke artikel selanjutnya yang akan saya beri judul: “Fotografi Dengan Fokus Lembut: "Fotografi Dengan Fokus Lembut: Tampilan Efek Foto Nuansa Mimpi (Tulisan Bagian Penutup)”, semoga tulisan ini bisa bikin Sobat dapat banyak senang saat membacanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar