Sore di Mengwi ini sedang manja-manjanya.
Sinar matahari menyelinap di antara celah pohon, menciptakan bayangan panjang di atas lantai semen kedai kopi ini. Suara bising knalpot kendaraan di jalan raya terdengar jauh, seperti suara latar yang memang tidak ingin diganggu.
Bedul duduk di kursi favoritnya—sebuah kursi kayu yang kalau diduduki selalu mengeluarkan bunyi kriet-kriet protes, seolah tahu ia sedang menopang seorang pria yang menyimpan terlalu banyak keresahan.
Di atas meja, ia baru saja meletakkan kamera tua yang cat hitamnya mulai memudar di beberapa sudut. Kamera itu terlihat lelah, tapi dengan cara yang terhormat. Seperti petinju tua yang sudah melewati banyak ronde dan masih berdiri.
Dia tidak langsung menyapa.
Tangannya sibuk mengaduk gelas berisi kopi tubruk di depannya. Setelah itu, sebuah rokok kretek menyala di antara jemarinya. Asapnya mengepul tipis, lalu menari mengikuti putaran malas kipas angin plafon.
Di seberang ruangan, seorang turis sedang sibuk memotret secangkir latte.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu pindah sudut.
Lalu memotret lagi.
Bedul memperhatikannya beberapa detik sebelum mendengus pelan.
"Lihat tuh, Sobat."
Saya menoleh.
"Dunia ini makin nggak waras."
"Kenapa?"
"Orang-orang sibuk motret kopi sampai kopinya dingin. Pakai flash segede gaban supaya warnanya meledak di layar. Padahal yang difoto cuma kopi yang kalau diminum tetap saja rasanya pahit."
Saya tertawa.
Bedul tidak.
Dia menyeruput kopinya perlahan.
"Saya kadang kasihan."
"Kenapa lagi?"
"Mereka sibuk menangkap warna, tapi kehilangan rasanya."
Dia mengangkat cangkirnya sedikit.
"Makanya kalau lagi bosan sama segala kepalsuan itu, saya selalu punya tempat pelarian."
"Ke mana?"
Bedul tersenyum tipis.
"Balik ke hitam dan putih."
Kejujuran dalam Hitam dan Putih
Bedul mengambil kamera tuanya dari atas meja.
Cat hitam di beberapa sudut bodinya sudah mengelupas. Kalau dijual ke kolektor mungkin harganya tidak seberapa. Tapi saya tahu benda itu sudah menemani lebih banyak pagi dan senja daripada kebanyakan orang yang saya kenal.
Dia memutar kamera itu perlahan di tangannya.
"Dulu saya juga suka warna."
Saya mengangkat alis.
"Serius?"
"Ya iyalah," jawabnya cepat. "Saya bukan lahir langsung dalam mode monokrom."
Saya tertawa.
Di luar kedai, seorang pengendara motor melintas dengan jaket merah menyala dan helm kuning terang yang rasanya bisa terlihat dari orbit satelit.
Bedul menunjuk ke arahnya.
"Nah, itu contohnya."
"Contoh apa?"
"Contoh bagaimana warna sering terlalu pintar mencuri perhatian."
Motor itu sudah lama menghilang di tikungan, tapi saya masih ingat warna jaketnya.
Saya mulai mengerti maksudnya.
"Masalahnya bukan warna itu sendiri," lanjut Bedul. "Masalahnya, warna sering bikin kita berhenti melihat hal lain."
Dia menunjuk sebuah dinding tua di seberang jalan.
Catnya mengelupas. Matahari sore menyapu permukaannya dari samping, membuat retakan-retakan kecil muncul seperti peta rahasia yang selama ini tersembunyi.
"Kalau saya motret itu dalam warna, orang mungkin cuma lihat tembok kusam."
Dia berhenti sejenak.
"Tapi kalau saya ubah jadi hitam putih, mereka mulai lihat teksturnya. Garis-garisnya. Umurnya."
Dia menyeruput kopi.
"Kadang warna itu kayak makeup tebal."
"Maksudnya?"
"Kita jadi sibuk melihat riasannya, lupa melihat wajahnya."
Saya diam.
Untuk pertama kalinya sore itu saya memperhatikan bayangan-bayangan di sekitar kedai lebih serius dari biasanya.
Bedul tersenyum.
"Nah. Sekarang Sobat mulai melihat."
Bayangan yang Jujur
Matahari semakin rendah.
Bayangan pagar besi di depan kedai memanjang di atas lantai semen, membentuk garis-garis hitam yang tajam seperti guratan tinta.
Bedul memperhatikannya beberapa saat.
Lalu mengangkat kameranya.
Klik.
Hanya satu foto.
Tidak ada burst mode.
Tidak ada dua puluh frame cadangan.
Tidak ada ritual jongkok, berdiri, geser kiri, geser kanan seperti orang yang sedang mencari sinyal spiritual.
Setelah memotret, dia langsung menurunkan kameranya.
Tidak melihat layar.
Tidak mengecek hasil.
Tidak melakukan apa pun.
"Selesai?" tanya saya.
"Selesai."
"Yakin?"
"Kalau nggak yakin, saya nggak bakal pencet tombolnya."
Saya tertawa.
Bedul menunjuk bayangan tadi.
"Itu yang saya suka."
"Bayangan?"
"Kontras."
Dia mencondongkan tubuh ke depan.
"Banyak fotografer sekarang takut kehilangan detail. Semua mau diselamatkan. Semua mau terlihat."
"Lalu?"
"Akhirnya fotonya kayak rapat RT."
Saya tertawa.
"Semua kebagian bicara. Nggak ada yang penting."
Dia kembali melihat ke arah lantai.
"Kalau saya, sebagian bayangan biarkan saja gelap. Misteri itu perlu."
"Misteri?"
"Nggak semua hal harus dijelaskan."
Dia mengangkat cangkir kopinya.
"Kalau semua terlihat jelas, itu bukan foto."
"Lalu?"
"Itu laporan inventaris."
Budak LCD
Turis yang tadi memotret latte akhirnya duduk.
Kopinya kini sudah setengah dingin.
Namun dia masih menatap layar ponselnya.
Zoom.
Geser.
Zoom lagi.
Geser lagi.
Bedul memperhatikannya beberapa saat.
"Nah tuh."
"Kenapa?"
"Orang itu datang ke Bali buat lihat layar."
Saya menahan tawa.
"Tajam juga."
"Ya memang."
Dia mengangkat bahu.
"Makanya saya matikan review otomatis."
"Supaya?"
"Supaya saya tetap melihat dunia, bukan hasil fotonya."
Dia mengetuk kamera tuanya pelan.
"Terlalu banyak fotografer sekarang lebih sibuk mengevaluasi momen daripada mengalami momen itu sendiri."
Saya menatap keluar.
Seorang anak kecil berlari mengejar layang-layang yang tersangkut di kabel.
Seorang bapak tua tertidur di bangku depan toko.
Seekor kucing melintas dengan wajah yang terlihat lebih sibuk daripada sebagian manusia.
Semuanya berlangsung begitu saja.
Tanpa peduli apakah ada yang memotret atau tidak.
"Kalau hasil fotonya jelek gimana?" tanya saya.
Bedul mengangkat bahu.
"Ya sudah."
"Sesederhana itu?"
"Kadang saya salah. Kadang kameranya salah. Kadang cahayanya yang bandel."
Dia tersenyum kecil.
"Kadang juga kopinya kurang pahit."
Untuk pertama kalinya sore itu saya melihat Bedul tertawa pada leluconnya sendiri.
Kembali ke Sunyi
Sore perlahan berubah menjadi senja.
Lampu-lampu kedai mulai menyala satu per satu.
Bedul memanggil pelayan dan membayar pesanan kopinya tanpa perlu bertanya lagi berapa harganya.
Kebiasaan orang yang sudah terlalu lama akrab dengan sebuah tempat.
Dia memasukkan kameranya ke dalam tas selempang tua yang tampaknya sudah berumur sama dengan sebagian besar cerita hidupnya.
Sebelum berdiri, dia menatap dinding beton di belakang kedai.
Dinding yang sejak tadi kami abaikan.
"Ingat, Sobat."
Saya menoleh.
"Foto itu datang dari hati."
Dia menunjuk dinding tersebut.
"Sobat nggak perlu jauh-jauh ke Paris atau New York buat dapat foto yang keren."
"Lalu?"
"Kalau Sobat nggak bisa menemukan keindahan di dinding beton belakang kedai ini, jangan harap bisa menemukannya di Menara Eiffel."
Saya terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu sore itu, Bedul terdengar benar-benar serius.
Dia mengenakan jaket lusuhnya.
"Lagipula," katanya sambil menyeringai tipis, "kopi di sana pasti jauh lebih mahal."
Saya tertawa.
Bedul menepuk bahu saya.
"Besok coba keluar rumah."
"Lalu?"
"Matikan layar kameramu."
Dia melangkah menuju pintu.
"Matikan juga pikiranmu soal like, algoritma, dan segala angka yang bikin orang lupa cara melihat."
Dia berhenti sejenak.
"Cari cahaya."
Kemudian melanjutkan langkahnya.
"Cari bayangan."
Pintu kedai terbuka.
Keramaian jalanan menyambutnya.
"Lalu cari cerita."
Bedul membaur ke dalam hiruk-pikuk kota yang mulai diselimuti cahaya senja.
Saya tetap duduk di sana.
Kopi di depan saya sudah dingin.
Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya hari itu, saya merasa ingin membawa kamera keluar besok pagi.
Bukan untuk mencari warna.
Melainkan untuk menemukan kejujuran yang selama ini bersembunyi di antara cahaya dan bayangan.
Catatan Penulis: Tentang Tempat dan Cerita
Cerita ini lahir di sebuah sudut tenang di Mengwi, sebuah kawasan di Kabupaten Badung, Bali. Berbeda dengan hingar-bingar kawasan wisata pesisir seperti Kuta atau Canggu, Mengwi menawarkan ketenangan yang kontemplatif. Di sini, waktu seolah berjalan dengan ritme yang lebih alami—ditemani oleh lanskap persawahan yang luas, pura-pura tua yang megah, serta kehidupan masyarakat lokal yang masih memegang teguh tradisi.
Di salah satu kedai kopi lokal di Mengwi inilah dialog dengan "Bedul" terjadi. Sambil menikmati Kopi Tubruk—kopi khas Indonesia yang diseduh langsung dengan air panas tanpa penyaring, menyisakan ampas yang mengendap di dasar gelas—kami membicarakan pergeseran dunia fotografi. Kopi tubruk bukan sekadar minuman; bagi kami, ia adalah simbol kejujuran. Seperti filosofi fotografi hitam putih yang kami bahas, kopi tubruk tidak mencoba "berbohong" dengan rasa yang diolah sedemikian rupa atau tampilan yang berlebihan. Ia jujur, pahit, dan apa adanya.
Tulisan ini adalah upaya saya untuk kembali menatap dunia dengan cara yang sama: jujur, tanpa filter yang berlebihan, dan berani untuk tidak menjadi "berisik" di tengah ramainya arus digital.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar