Menghadapi klien yang menganggap keindahan visual sebagai ancaman eksistensial karena "terlalu manusiawi" adalah satu hal, tetapi menghadapi kenyataan bahwa minggu depan pacarmu ulang tahun sementara isi dompetmu lebih sunyi dari kuburan adalah krisis moral yang berbeda. Ketika idealisme Bedul resmi diparkir di halaman belakang kedai kopi akibat ulah Pak Hendra yang menahan pembayaran, kami sadar bahwa diplomasi seni telah mati. Pilihan kami saat itu hanya dua: membiarkan Bedul merayakan ulang tahun Dewi dengan mempersembahkan puisi tentang kemiskinan yang artistik, atau menyusun konspirasi paling tidak masuk akal dalam sejarah fotografi jalanan. Kami memilih yang kedua.
Masalah Bedul dibahas dalam rapat tidak resmi yang dihadiri lima orang kawan seniman dan fotografer jalanan. Format rapatnya: duduk melingkar di kedai kopi pinggir jalan, dengan satu termos kopi untuk berenam, empat batang rokok kretek yang digilitar, dan nol agenda tertulis. Ini adalah format rapat yang telah terbukti melahirkan keputusan-keputusan yang tidak akan pernah disetujui oleh rapat formal mana pun.
Lima menit pertama dihabiskan untuk mengutuk Pak Hendra secara bergantian. Ini bukan bagian dari agenda; ini adalah fase pemanasan dari sisi psikologis.
Usulan pertama datang dari Rangga, fotografer lanskap yang pernah sekali dalam hidupnya laku menjual foto ke majalah perjalanan dan sejak saat itu menyebut dirinya "fotografer komersial" meskipun itu satu-satunya transaksi komersial yang pernah dia alami.
"Kau datanglah ke kantor klien itu pura-pura sedang menderita sakit mata yang sangat kronis akibat radiasi lampu studio," usul Rangga dengan ekspresi seorang jenderal yang baru menemukan strategi perang pamungkas. "Biasanya kalau kepada seniman yang mau buta, klien-klien kapitalis itu agak sedikit gemetar hatinya karena takut dikutuk sial oleh masyarakat sipil."
Semua mempertimbangkan ini dengan serius selama sekitar empat detik.
"Risikonya besar," kata Bedul. "Kalau aktingku kurang sinematik dan ketahuan bohong, sisa pembayaran itu malah hangus selamanya."
"Aktingmu memang kurang sinematik," kata Dani, fotografer street yang karyanya selalu serius tapi komentarnya tidak pernah. "Waktu kau coba pura-pura sakit buat skip gathering komunitas, semua orang tahu."
"Itu berbeda. Aku memang tidak sakit waktu itu tapi juga tidak baik-baik saja, itu lebih ke kondisi eksistensial."
Usulan pertama ditolak.
Catatan Rapat
Usulan kedua — menyamar sebagai petugas pajak — usulan ini langsung gugur setelah disadari tidak ada di antara kami yang tahu cara menjelaskan apa itu pajak dengan meyakinkan kepada orang yang jelas-jelas lebih paham soal itu.
Usulan ketiga datang dari Seno, yang paling tua di antara kami dan yang paling sering berbicara dengan gaya seorang bijak padahal isi bicaranya tidak selalu bijak. Ia mengusulkan taktik penyamaran kolektif: berenam mendatangi kantor Pak Hendra dengan menyamar sebagai "konsultan estetika visual independen," memuji habis-habisan foto-foto karya Bedul yang sudah dipakai dalam brosur perusahaan, membuat si klien mabuk sanjungan, lalu saat pertahanannya turun, menyodorkan surat kuasa penagihan.
Ini terdengar brilian. Dengan cara yang sama seperti banyak rencana brilian lainnya yang akhirnya gagal juga secara brilian dan spektakuler.
Surat kuasa dibuat di atas selembar kertas bekas proposal pameran yang belum pernah jadi. Isinya ditulis dengan bahasa yang terdengar resmi tapi sebenarnya merupakan hasil kolaborasi enam orang yang tidak satu pun dari mereka pernah belajar hukum — yang, ironisnya, membuat dokumen itu memiliki energi yang sangat otentik sebagai sesuatu yang tidak jelas statusnya.
Misi Penyamaran yang Gagal dengan Elegan
Empat orang pergi. Dua orang — aku dan Bedul — menunggu di ujung gang dengan kecemasan yang berbeda: Bedul cemas karena honorariumnya, aku cemas karena aku tahu persis bagaimana rencana-rencana kami biasanya berakhir.
Mereka kembali empat puluh menit kemudian dengan wajah orang-orang yang baru saja kalah dalam pertandingan catur melawan mesin, tapi tetap mencoba terlihat bermartabat.
Ceritanya begini: Pak Hendra memang terbuai sanjungan. Ia mengembang seperti balon gas helium yang dipompa terlalu lama — dadanya membusung, suaranya melunak, ia bahkan menceritakan visi artistik perusahaannya yang selama ini tidak pernah ia ceritakan kepada siapapun karena mungkin selama ini tidak ada yang mau mendengar. Ia mentraktir mereka kopi instan kemasan saset — bukan kopi dari mesin espresso yang ada di mejanya, tapi kopi saset yang diambil dari laci paling bawah, yang merupakan cara paling halus di dunia korporat untuk mengatakan: Aku ramah, tapi tidak seramah itu.
Tepat ketika surat kuasa disodorkan, sesuatu berubah di wajah Pak Hendra. Seperti komputer yang baru saja beralih dari mode presentasi ke mode spreadsheet — layarnya sama, tapi isinya berbeda seratus delapan puluh derajat.
"Wah, kalau urusan finansial harus melewati mekanisme pembayaran standar," katanya dengan suara yang kembali dingin, "dan budgetnya sudah di-lock untuk pembayaran dua bulan lagi, Saudara-Saudara."
"Budget di-lock." Dua kata yang dalam kamus keuangan korporat berarti segalanya bisa dinego kecuali ini. Dan dalam kamus seniman jalanan berarti: kita perlu rencana cadangan yang lebih nekat.
Mereka pulang dengan tangan kosong dan satu pelajaran berharga: jiwa pedagang tidak pernah benar-benar mabuk oleh sanjungan. Ia hanya berpura-pura mabuk sambil tetap memegang dompet erat-erat.
Rencana Terakhir yang Tidak Ada di Buku Mana Pun
Malam itu kami berkumpul lagi. Situasinya mendesak: pesta ulang tahun Dewi esok malam, honorarium belum cair, dan satu-satunya kreativitas yang tersisa harus dipakai untuk memecahkan masalah ini.
Aku tidak akan menjelaskan rencana itu secara rinci, karena beberapa hal lebih baik tidak didokumentasikan terlalu detail. Yang bisa kukatakan adalah bahwa kami berenam keesokan paginya pergi ke kantor Pak Hendra dengan penampilan paling rapi yang bisa kami kumpulkan dalam waktu semalam — yang berarti tiga orang memakai kemeja, dua orang memakai kaos yang tidak ada gambarnya, dan satu orang memakai jaket kulit yang sudah menemaninya sejak era film seluloid masih menjadi standar industri
Pak Hendra menerima kami dengan sikap seorang raja yang terpaksa menerima tamu yang tidak ia undang. Ia sibuk pura-pura sibuk — suatu keahlian yang tampaknya diasah bertahun-tahun sampai mencapai tingkat kesempurnaan: telepon di telinga kanan, pena di tangan kiri, mata di layar komputer, dan jiwa entah di mana. Kami dibiarkan duduk seperti furnitur kantor yang tiba-tiba bisa bernapas.
Kami menunggu. Ini juga bagian dari rencananya — membuat kami bosan dan pergi. Tapi seniman jalanan adalah makhluk yang punya toleransi menunggu yang sangat tinggi. Kami terbiasa menunggu momen yang tepat selama berjam-jam hanya untuk satu jepretan. Menunggu Pak Hendra pergi ke toilet bukanlah sesuatu yang melebihi kapasitas kesabaran kami.
Dan ia pergi ke toilet. Untuk merapikan rambut klimisnya, rupanya — sebuah ritual yang rupanya tidak bisa ditunda meskipun ada tamu di ruangan.
Kami bekerja cepat dan sunyi, dengan efisiensi orang-orang yang sudah membahas setiap langkah berkali-kali. Bukan uang brankas yang kami incar — kami ini seniman, punya harga diri, dan lagipun tidak ada yang tahu kombinasi brankas itu. Yang kami kumpulkan adalah: seluruh naskah proposal proyek, dokumen kontrak asli yang belum ditandatangani rangkapnya, dan — ini kuncinya — seluruh kartu memori berisi file master RAW dan negatif film dokumentasi pameran besar yang jadwalnya besok.
Pak Hendra begitu meremehkan kami, menganggap kami hanya sekumpulan lalat tak berbahaya yang tak paham logika bisnis, sampai-sampai ia dengan ceroboh meninggalkan aset terpenting pameran esok pagi itu tergeletak begitu saja di atas meja. Sebuah kecerobohan fatal dari seorang profesional yang terlalu mabuk oleh superioritasnya sendiri.
Semua berkas itu masuk ke dalam tas kamera usang kami. Lalu kami melenggang pergi dengan tenang, seperti tamu yang memang sudah selesai berkunjung.
Disclaimer Hukum
Penulis tidak menganjurkan tindakan serupa dalam kehidupan nyata. Ini adalah fiksi satir. Meskipun, kalau kau punya klien seperti Pak Hendra, penulis memahami godaannya.
Berjalan keluar dari gedung korporat berkaca hitam dengan tas kamera yang mendadak berbobot setara dengan hidup dan mati pameran besar besok pagi memberikan sensasi adrenalin yang aneh. Kami tahu, aksi nekat mengambil file master RAW dan negatif film ini bukanlah akhir dari cerita, melainkan tombol start dari sebuah badai kepanikan yang sebentar lagi akan melanda Pak Hendra. Kini, genderang perang telah ditabuh, dan arena pertempuran berikutnya bukan lagi meja kantor necis yang dingin, melainkan meja kayu usang kedai kopi langganan kami—tempat di mana harga diri seorang kapitalis akan diuji oleh aroma pekat kopi hitam dan sepiring taktik negosiasi jalanan yang tak terduga.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar