Sambungan dari bagian pertama...
Sepanjang jalan pulang saya masih sibuk menyusun argumen balasan di dalam kepala. Mereka tidak tahu saja. Mereka pasti iri. Bedul itu dari dulu memang suka meremehkan. Jupri itu terlalu filosof, tidak praktikal. Saya mengutuk-ngutuk mereka dalam hati sepanjang jalan pulang, dengan penuh semangat dan kreativitas yang seharusnya saya terapkan pada foto-foto saya.
Tapi semakin keras saya membela diri di dalam kepala, semakin keras juga suara kecil itu berbisik dari sudut yang tidak bisa saya diamkan.
Mereka benar.
Di atas kasur kosan yang tipis, menatap langit-langit yang tidak punya hal menarik untuk ditawarkan, saya akhirnya berhenti berdebat dengan diri sendiri.
Saya belum pernah benar-benar mempertanyakan kenapa panitia itu mengundang saya. Saya langsung menerima versi terbaik dari cerita itu — versi yang paling memanjakan ego — dan menjalankannya seperti satu-satunya kemungkinan yang ada.
Saya ingat wajah Bedul waktu bilang kamu sedang bercermin, bukan berpikir. Dan saya benci mengakuinya, tapi ia benar. Selama ini saya tidak sedang mencari kebenaran soal undangan itu. Saya sedang mengumpulkan bukti-bukti untuk mendukung kesimpulan yang sudah saya putuskan dari awal: bahwa saya layak, bahwa saya dianggap memperkaya zaman, bahwa kerja keras saya akhirnya terbayar.
Itu bukan berpikir. Itu persidangan yang sudah diatur hasilnya sejak sebelum dimulai.
Dan Jupri — dengan segala ketenangan menyebalkannya — juga tidak salah. Saya memang mencampuradukkan keinginan dengan kenyataan. Saya ingin undangan ini berarti sesuatu yang besar, jadi saya membuatnya berarti sesuatu yang besar. Di kepala saya sendiri, tanpa repot-repot mengecek apakah itu memang kenyataannya.
Langit-langit kosan tidak menjawab pertanyaan saya. Tapi malam itu, diam-diam saya mulai mengerti sesuatu yang mungkin sudah lama ingin diri saya sendiri sampaikan, tapi selalu berhasil saya bisukan dengan kebisingan validasi dari luar.
Saya belum sampai di sana.
Keesokan paginya, dengan tangan yang sedikit bergetar dan hati yang lebih berat dari biasanya, saya membuka ponsel. Email dari panitia kota "S" masih ada di sana — dengan segala keformalan dan keramahan profesionalnya.
Saya mengetik balasan. Perlahan. Menghapus beberapa kali. Mengetik lagi.
Saya menulis email penolakan itu bukan karena ingin lari atau merasa minder. Justru karena saya menghormati panggung tersebut. Era keemasan fotografi yang mereka sebutkan layak diwakili oleh mereka yang karyanya telah benar-benar teruji waktu dan melahirkan diskursus baru, bukan sekadar fotografer pemula dengan ego setinggi langit yang baru saja memenangkan satu lomba lokal. Menolak kesempatan ini adalah bentuk respek saya kepada panitia, kepada para peserta yang akan datang untuk belajar, dan yang paling penting — kepada kemurnian proses belajar saya sendiri.
Saya menolak undangan itu.
Bukan karena takut. Bukan karena minder berlebihan. Bukan pula karena Bedul dan Jupri yang malam sebelumnya berhasil memorak-porandakan mood saya dengan begitu efisien.
Tapi karena, untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama, saya memilih untuk jujur — bukan kepada orang lain, tapi kepada diri sendiri.
Saya belum di sana. Saya masih belajar. Saya bukan maestro dengan segudang wisdom yang pantas dituangkan ke telinga orang lain dalam sebuah sesi bedah foto resmi. Saya masih seseorang yang jatuh cinta pada cahaya dan momen, yang masih terus mencoba menangkapnya dengan cara yang benar — dan lebih sering gagal daripada yang saya mau akui di depan umum.
Dan ternyata, mengakui itu tidak sesakit yang saya bayangkan.
Justru ada sesuatu yang terasa longgar di dada setelah balasan itu saya kirim. Seperti melepas jaket tebal di tengah hari yang panas. Sedikit aneh, tapi lebih nyaman.
Saya menutup ponsel. Menyeduh kopi. Duduk di depan jendela.
Di luar, pagi berjalan seperti biasa — orang-orang bergerak, cahaya bergeser, bayangan berpindah. Hal-hal yang dulu biasa saya bidik tanpa banyak pikir. Tapi pagi itu, saya melihatnya sedikit berbeda.
Mungkin itulah yang dimaksud Jupri waktu bilang bahwa berpikir benar butuh kerendahan hati. Bukan rendah diri. Tapi rendah hati — tahu di mana kamu berdiri, dan tidak berpura-pura sudah lebih jauh dari kenyataannya.
Saya belum jadi pembicara yang layak untuk acara itu.
Tapi mungkin, mulai hari ini, saya sedang belajar menjadi fotografer yang lebih jujur.
Dan untuk saat ini — itu sudah lebih dari cukup.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar