Pada Part 1 sebelumnya, Bedul yang terjebak dalam pencarian "foto sempurna" tak sengaja mematung di depan sebuah foto tangan karya Aling. Pertemuan di galeri kecil itu ternyata baru awal dari perjalanan mereka memandang dunia...
Yang tidak diketahui Bedul sore itu adalah bahwa Aling bukan tipe orang yang gampang mengajak orang lain ikut motret bareng. Selama ini ia hunting sendirian — bukan karena sombong, tapi karena pernah beberapa kali ikut komunitas foto dan pulang dengan perasaan aneh, semua orang sibuk berburu spot yang sama, pose yang sama, caption yang sama, seolah keindahan itu ada di GPS dan tinggal di-pin.
Dua minggu setelah pameran itu, Bedul mengirim pesan lewat akun galeri: "Ada yang mau hunting bareng Sabtu ini? Ke pasar ikan, sebelum subuh." Tidak ada balasan sampai jam sepuluh malam. Lalu satu notifikasi masuk — Aling, hanya dua kata: "Jam berapa."
Mereka bertemu di depan pasar yang masih gelap, bau ikan asin dan solar bercampur di udara. Aling datang bawa termos kopi, tanpa basa-basi menyodorkan satu ke Bedul. "Biar nggak ngantuk sambil nunggu cahaya bagus," katanya, lalu langsung jongkok di depan lapak seorang nenek yang sedang memilah kerupuk, kamera sudah di depan mata, tanpa sepatah kata pun ke Bedul soal harus ke mana atau motret apa.
Bedul, tanpa ditanya, ikut jongkok di sisi lain lapak yang sama — bukan untuk mengambil sudut yang berbeda, tapi hanya karena penasaran melihat apa yang sedang dilihat Aling. Mereka berdua diam cukup lama, sampai suara rana Aling terdengar sekali, pelan, dan Bedul baru sadar: dari tadi ia tidak sekalipun mengangkat kameranya sendiri. Ia sibuk menonton cara Aling menonton dunia.
"Kenapa nggak motret?" tanya Aling, tanpa menoleh.
"Lagi belajar," jawab Bedul. "Caranya berhenti."
Sejak pagi itu, hunting bareng jadi kebiasaan yang tidak pernah benar-benar disepakati — hanya terjadi, lagi dan lagi, sampai jadi semacam jadwal tak tertulis. Kadang cuma berdua, keliling naik motor butut Bedul yang knalpotnya bunyi lebih kencang daripada suara rana kamera mereka gabungan. Kadang ikut komunitas foto di Bali, yang anehnya sekarang malah Aling nikmati — bukan karena komunitasnya berubah, tapi karena kini ada satu orang di antara kerumunan itu yang, kalau Aling berhenti terlalu lama di depan satu objek, akan ikut berhenti juga tanpa banyak tanya.
Foto-foto Aling pun perlahan berubah. Masih sederhana, masih jujur — itu ciri khasnya yang tidak pernah hilang. Tapi sekarang ada sesuatu yang baru: kehangatan. Warnanya lebih hidup. Komposisinya kadang sedikit berantakan, tapi berantakan yang menyenangkan, seperti tawa yang keluar tanpa sempat dirapikan dulu.
"Foto lo sekarang beda," kata salah satu teman komunitas suatu sore, sambil menyortir hasil hunting hari itu. "Lebih... hangat. Dulu foto lo indah tapi kayak jaga jarak. Sekarang kayak dipeluk duluan sebelum dipotret."
Aling cuma nyengir, melirik ke arah Bedul yang lagi sibuk berdebat dengan tripodnya sendiri karena satu kakinya lebih pendek entah kenapa — padahal tripod itu baru dibeli minggu lalu, dan sudah didebat tiga kali dalam sehari.
"Mungkin," kata Aling pelan, "karena sekarang aku motret bukan buat cari yang sempurna. Tapi buat kumpulin momen yang bakal hilang kalau nggak difoto sekarang."
Kalimat itu terdengar familiar. Ia sendiri tidak sadar dari mana ia dapat kalimat itu — sampai ia ingat, itu mirip sekali dengan yang pernah dikatakan Bedul, tanpa sadar, di depan sebuah foto tangan, berbulan-bulan lalu.
Sekarang, sebelum cerita ini terlalu manis sampai bikin diabetes, mari kita bicarakan sedikit soal Bedul — supaya adil.
Sebab kalau boleh jujur, wajah Bedul memang jauh dari kata istimewa. Kalau Sobat pernah melihat gulungan rol film lama yang sudah bertahun-tahun tidak dicuci, lecek di sana-sini, agak menguning di ujung — kira-kira begitulah wajahnya, selalu terlihat baru bangun tidur meskipun sudah mandi dua kali. Aling sendiri pernah bilang, sambil ketawa, "Untung kameranya bagus, orangnya kalah jauh."
Dan herannya, Bedul tidak pernah tersinggung soal itu. Ia hanya nyengir. "Namanya juga fotografer, Ling. Yang penting bisa bikin orang lain kelihatan bagus di foto. Kalau diri sendiri, ya, biarin aja apa adanya. Kan katanya, foto yang jujur itu yang paling indah?"
Kalimat itu sukses membuat Aling terdiam sejenak. Bukan karena lucu — meski memang lucu — tapi karena ia sadar, Bedul barusan cuma mengulang balik apa yang pernah Aling ucapkan sendiri, di depan foto tangan itu, bertahun-tahun lalu. Tanpa dibuat-buat. Tanpa berusaha kelihatan puitis.
Dan mungkin, pikir Aling, itulah alasannya. Bukan wajah rol film yang lecek itu. Tapi cara Bedul memperlakukan dirinya sendiri sama seperti ia memperlakukan setiap subjek yang ia foto: apa adanya, tanpa filter, tanpa berusaha jadi versi yang lebih dramatis.
Tapi ada satu hal yang tidak pernah mereka bicarakan berdua, meski keduanya sama-sama tahu.
Itu muncul pertama kali di rumah Aling, suatu malam ketika Bedul diam-diam ikut makan malam dan neneknya bertanya, ringan saja sambil menyendok nasi, "Bedul ini turunan mana, dari keluarga siapa?" Bedul menjawab jujur, dan tidak ada yang marah, tidak ada suara meninggi. Hanya sendok yang berhenti sesaat di udara, dan neneknya yang tersenyum sambil buru-buru mengganti topik ke rasa sayur asem yang katanya kurang asam. Aling tertawa terlalu keras malam itu, menutup jeda yang lebih lama dari biasanya.
Sejak itu, ada pola yang keduanya ikuti tanpa pernah membicarakannya: begitu nama keluarga disebut, atau ada yang bertanya soal rencana ke depan, salah satu dari mereka akan buru-buru melempar candaan soal tripod yang kakinya pincang, atau soal siapa yang belum sortir foto minggu ini. Semacam kesepakatan diam-diam, bahwa ada batas yang keduanya tahu ada di sana, tapi memilih untuk tidak dijadikan bahan obrolan malam itu. Belum. Mungkin tidak akan pernah.
Orang-orang di sekitar mereka pun, entah kenapa, ikut maklum tanpa perlu penjelasan. Tidak ada yang bertanya lantang "kalian jadinya gimana", karena semua orang seperti sudah tahu jawabannya lebih dulu.
Kalau suatu hari Sobat main ke Bali, dan kebetulan ikut hunting bareng komunitas fotografi di sana, cobalah datang. Mereka mungkin masih ada. Entah di pinggir pantai saat matahari nanggung mau terbenam, entah di pasar tradisional yang baunya bercampur antara kopi dan ikan asin, atau di gang-gang sempit kota T yang temboknya penuh cerita kalau Sobat mau berhenti sejenak untuk melihatnya.
Sobat akan mengenali Aling dari senyumnya, dan Bedul dari caranya berhenti — selalu satu detik lebih lama dari orang lain, di depan hal-hal yang orang lain anggap tidak penting: tangan nenek yang menjemur kerupuk, kucing yang tidur di atas motor, uap kopi yang naik pelan dari gelas seng.
Dan kalau Sobat cukup dekat untuk memperhatikan, mungkin Sobat akan sadar ada sesuatu yang sedikit berbeda dari cara mereka berdua memandang satu sama lain, dibanding pasangan-pasangan lain yang Sobat temui. Bukan kurang hangat — justru sebaliknya. Terlalu hangat, sampai terasa hati-hati. Seperti orang yang sedang menatap lilin di ruangan berangin: dinikmati selagi masih menyala, tanpa berani berharap terlalu jauh soal sampai kapan.
Mereka tidak pernah bicara soal "nanti". Tidak ada rencana lima tahun ke depan yang dilontarkan sambil bercanda, tidak ada obrolan soal mengenalkan ke orang tua. Yang ada hanya hari ini. Dan sore ini. Dikumpulkan satu per satu, difoto satu per satu, seolah keduanya sudah sama-sama tahu bahwa suatu hari nanti, entah kapan, salah satu dari mereka harus melepaskan. Tidak ada satu pun yang siap untuk itu. Tapi keduanya memilih untuk tidak memikirkannya dulu hari ini.
Jadi kalau Sobat melihat mereka tertawa keras di pinggir pantai, atau Bedul menyerahkan jaketnya begitu saja saat angin sore mulai kencang, atau Aling diam-diam memotret Bedul yang sedang memotret sesuatu — ingatlah, yang Sobat lihat itu bukan pasangan yang sedang membangun masa depan. Itu dua orang yang sedang bertahan selama mungkin, di satu titik waktu yang mereka tahu tidak akan mereka miliki selamanya.
Mungkin itu sebabnya foto-foto mereka begitu jujur. Bukan karena mereka tidak takut kehilangan. Tapi karena mereka tahu persis apa yang sedang mereka miliki, dan berapa lama waktu itu mungkin akan bertahan — dan memilih untuk tetap memotretnya, sesederhana dan sejujur mungkin, selama masih bisa.
Semesta memang selalu punya cara untuk menuturkan humornya, walaupun tak selalu lucu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar