Seandainya besok Sobat tiada... Pertanyaan ini mungkin terdengar agak ekstrem, atau sekilas seperti omongan melantur dari orang yang kurang tidur setelah kebanyakan ngopi semalaman. Tapi serius, mari kita pikirkan sejenak. Jika besok adalah hari terakhir Sobat memegang kamera, apakah deretan foto di hard disk atau feed media sosial Sobat sudah benar-benar mencerminkan siapa Sobat secara utuh? Ataukah itu sekadar kumpulan gambar bagus tak berjiwa yang bisa dibuat oleh siapa saja?
Kemarin malam di warung kopi langganan, si Bedul—kawan saya yang selalu punya komentar sinis untuk hampir segala hal—nyeletuk sambil memandangi layar ponselnya. "Nih liat, orang beli kamera seharga mobil bekas, lensanya segede teropong bintang, cuma buat motret es kopi susu dari jarak lima senti. Itu pun out of focus!"
Kami tertawa, menertawakan absurditas di sekitar kami. Tapi pulang dari warung malam itu, saya tidak bisa berhenti memikirkan celetukan Bedul. Bukan soal es kopi susu yang out of focus—melainkan soal berapa banyak dari foto saya sendiri yang, kalau jujur, juga lahir dari dorongan yang sama: pamer alat, bukan bicara jiwa. Kadang, banyak fotografer yang terlalu sibuk memuja dewa resolusi, berdebat urat leher soal ketajaman lensa dari sudut ke sudut, dan mati-matian mengejar komposisi serta exposure yang dianggap 'sempurna'. Saking sibuknya dengan urusan teknis, mereka lupa merenungkan pertanyaan paling mendasar: apa sebenarnya makna fotografi bagi diri mereka sendiri?
Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa skill teknis itu mutlak perlu. Ibarat seorang penulis, kita harus tahu tata bahasa agar pesannya sampai. Tapi ingat, menguasai tata bahasa dan punya mesin tik mahal tidak lantas otomatis membuat seseorang menjadi penyair. Skill teknis mengantarkan visi, tapi bukan itu yang melahirkan sebuah gaya atau style yang luar biasa.
Gaya bukanlah preset filter estetis yang bisa Sobat beli, download, lalu tempelkan ke semua foto agar terlihat berseni. Gaya adalah cerminan utuh dari diri, jalan hidup, tawa, luka, dan tumpukan pengalaman Sobat. Karya foto yang sejati adalah pantulan kondisi batin dan cara Sobat menertawakan, atau meratapi, dunia ini.
Kita sekarang hidup di era yang bisa dibilang sebagai "masyarakat gambar tanpa ujung". Tiap hari, dari melek mata sampai mata memerah menahan kantuk, kita terus dibombardir oleh polusi visual. Iklan, pameran pencapaian orang, liburan estetik yang kadang cuma sebatas konten, sampai pameran spesifikasi alat fotografi yang berkedok karya. Visual-visual instan ini dikunyah habis-habisan demi satu hal: validasi. Makanya, tidak heran kalau banyak orang akhirnya kehilangan arah dan identitas—visi sejati mereka terkubur di bawah tumpukan standar orang lain yang sebenarnya tidak pernah mereka minta.
Bagi saya pribadi, dalam soal asupan visual: less is absolutely more. Semakin sedikit, justru semakin membebaskan. Saat saya memutuskan mengambil jarak dari hiruk-pikuk etalase digital itu dan hanya memakai media sosial murni sebagai medium untuk meletakkan karya—bukan sebagai asupan konsumsi tanpa henti—pikiran saya menjadi jauh lebih jernih. Rasanya seperti menemukan sudut yang sepi dan tenang di tengah hiruk pikuk pasar malam. Ruang kosong itu memberi saya kebebasan untuk meracik ide-ide baru tanpa terdistraksi standar orang lain.
Dan ketika jeda antara ide di kepala dan eksekusi jari di tombol shutter makin singkat, di situlah keajaiban kecil terjadi. Saya jauh lebih suka dipengaruhi oleh dunia nyata yang kasar dan tak sempurna—oleh denyut kehidupan orang-orang yang berjuang di jalanan, atau oleh alam yang kadang menampilkan kemuraman. Pengalaman yang otentik, bukan sekadar visual kosmetik yang dipoles berjam-jam demi sejempol apresiasi semu. Ada semacam keindahan dalam ketidaksempurnaan, di mana kejujuran batin terasa lebih berharga dan bernyawa daripada sekadar kesempurnaan piksel.
Pada akhirnya, menemukan style fotografi adalah tentang proses menelanjangi diri Sobat sendiri. Gaya Sobat tidak lahir dari contekan referensi visual di kolom pencarian, melainkan dari perjalanan panjang yang kadang sunyi untuk menemukan jati diri. Ini butuh pemahaman mendalam dan kejujuran brutal tentang siapa Sobat sebenarnya, dan bagaimana cara Sobat menapakkan kaki di dunia ini.
Memiliki gaya dan selera bukan sebatas peristiwa "menemukan" sebuah formula framing yang pas lalu mengulangnya sampai mati kebosanan. Ini tentang konsistensi berkarya di tengah rasa malas, merangkul manis-pahitnya pengalaman hidup, dan tentang penjelajahan abadi. Bukan sekadar menjelajah dunia luar mencari spot foto yang sedang viral, tapi yang jauh lebih berat dan sejati adalah: menjelajahi lorong-lorong gelap di dalam batin Sobat sendiri.
Lantas, bagaimana cara Sobat menemukan gaya tersebut?
Mulailah dari langkah sederhana ini: kenali betul apa yang Sobat sukai dan apa yang tidak. Jujurlah pada selera Sobat, se-nyeleneh apa pun itu—seperti Bedul yang jujur bilang dia tidak paham kenapa orang rela repot-repot hanya demi motret es kopi susu. Selera Sobat itulah kompas utamanya. Jika jiwa Sobat lebih bergetar memotret kesunyian dalam balutan hitam-putih yang pekat, jangan paksakan diri memotret gemerlap pesta yang penuh warna hanya agar disukai banyak orang.
Suatu hari nanti, waktu kita di sini akan habis. Kamera kita mungkin rusak, atau tangan kita sudah terlalu rapuh dan gemetar untuk sekadar mengangkatnya. Namun, karya-karya yang kita ciptakan akan tetap tertinggal di sana, membeku melawan waktu.
Semoga, ketika seseorang di masa depan melihat foto-foto itu, mereka tidak mempedulikan seberapa tajam lensa yang Sobat gunakan atau seberapa mahal perlengkapan Sobat. Semoga mereka menatap selembar foto tersebut, terdiam sejenak, dan bergumam dalam hati, "Aku tidak kenal siapa dia, tapi aku bisa merasakan jiwanya di sini."
Karena pada titik akhirnya, karya terbaik Sobat bukanlah foto yang mendapat piala tertinggi atau tepuk tangan paling riuh, melainkan foto yang paling jujur bercerita... bahwa Sobat pernah ada, pernah berjuang, dan pernah merasakan detak dunia ini dengan segenap hati.
Dumunung ing Jati Diri
Salam Jepret Selalu...


Tidak ada komentar:
Posting Komentar