Beraban, Tabanan, Bali, Jum'at, 9 Oktober 2026
Tirani Sang Kurator & Pengusiran
Kedai kopi itu selalu berbau sama: robusta yang baru digiling, asap rokok, dan aroma basah sisa gerimis sore. Di meja tengah yang paling strategis, meja yang dikeramatkan dan tak boleh diduduki orang lain, empat orang berkumpul dengan rompi berkantong dua belas dan tas kamera yang cukup besar untuk menyelundupkan bayi kambing.
Mereka menyebut diri "Dewan Presidium Abadi", pengurus komunitas Lensa Purba, penjaga kemurnian seni fotografi di Denpasar. Umur hobi itu empat belas bulan. Tidak ada yang pernah mengangkat mereka. Tidak ada yang berani bertanya.
Semuanya bermula dari sebuah reel golden hour di Sanur yang ditonton dua juta kali. Dalam sebulan, empat teman satu arisan membeli kamera, bukan karena jatuh cinta pada cahaya, melainkan karena takut menjadi satu-satunya orang yang belum punya. Mereka tidak pernah membicarakan senja. Mereka membicarakan siapa yang lebih dulu punya lensa f/1.4. "Hobi itu," kata Anin suatu kali tanpa bermaksud melucu, "yang bikin kita nggak kelihatan ketinggalan."
Ketuanya, kata anggota baru, adalah Elvira, yang hanya mau dipanggil El karena menurutnya nama pendek terdengar lebih seperti merek. Padahal tak pernah ada pemilihan. Di pertemuan pertama, El hanya duduk di kursi paling ujung, memesan kopi untuk semua orang, lalu berkata, "Baik, kita mulai rapatnya." Tak ada yang keberatan, karena tak ada yang sempat. Sejak hari itu El memimpin tanpa pernah dipilih, seperti jerawat.
El punya satu cara memperlakukan orang, yaitu cara memperlakukan lensa kit: dipakai selama berguna, lalu dimasukkan laci dan dilupakan begitu ada yang lebih mahal. Ia tidak jahat dengan sengaja. Ia hanya tidak pernah menyisakan tempat di kepalanya untuk siapa pun yang sudah selesai ia pakai.
"Lihat foto si Putu kemarin," desis El sambil menggeleng bak kurator galeri dunia. Kuku artifisialnya yang berkilau menepis udara. "Golden ratio ke laut. Horizon miring dua derajat. Dua derajat! Dan dia berani pajang di grup publik."
"Pakai kamera mahal, tapi jiwanya jongos," sambung Anindya, yang dipanggil Anin oleh semua orang, sambil merapikan rambut yang sudah rapi sejak dua jam lalu. Anin punya prinsip hidup: cahaya adalah segalanya, dan wajahnya harus selalu berada di cahaya terbaik. "Mau main street photography, tapi chiaroscuro saja tidak paham."
"Kita kan memang sudah menendang orang," gumam Pur, lalu buru-buru menyesap kopi ketika tiga pasang mata menoleh.
Purwanto, yang dipanggil Pur, satu-satunya lelaki di dewan. Tugasnya membawa tripod, menyetujui pendapat El, dan sesekali mengeluh soal punggung. Lensa 70-200 mm f/2.8 miliknya seberat balita, dan ia menggendongnya seperti balita, dengan cinta yang tak dibalas.
Gita duduk paling dekat pintu, selalu paling dekat pintu. Ia bekerja sebagai admin di kantor asuransi, tersenyum di saat yang tepat, mengangguk di saat yang tepat, dan memuji foto El dengan kata "ikonik", padahal ia sendiri tak yakin apa itu ikonik. Ia ikut grup karena takut tertinggal seperti yang lain, dan ia baru sadar bahwa kesepian yang salah alamat lebih menyakitkan daripada kesepian yang sendirian. Diam-diam ia masih memotret hal-hal yang ia suka, dan menyembunyikannya seperti orang menyembunyikan rokok dari ibunya.
Bagi mereka, fotografi bukan soal menangkap momen atau bercerita dengan jujur. Fotografi adalah agama eksklusif dengan tiga rukun: bodi full-frame, lensa minimal f/1.4, dan selera yang bersujud pada El. Siapa pun yang melenceng, memotret hal remeh di luar pakem galeri, atau menolak ikut debat merek sensor, langsung dicap murtad.
Grup WhatsApp mereka bernama Lensa Purba Official (Dilarang Baper). Sudah tiga orang yang pernah masuk dan keluar karena baper.
Nasib paling terkenal menimpa Bedul.
Bedul lebih tua daripada hobi itu. Ia memotret jauh sebelum keempatnya tahu apa itu reel, dan dialah yang pertama kali memperkenalkan fotografi kepada El.
Waktu itu El baru pindah ke kota ini, baru membeli kamera pertamanya, dan memegangnya di teras rumah kontrakan yang sepi dengan tali terpasang terbalik. Bedul datang mengantar galon, melirik kamera itu, dan melihat sesuatu yang lain: seorang perempuan yang memegang kamera sebagai alasan agar tidak terlihat sendirian. Ia kasihan. "Mbak, talinya kebalik," katanya. El malu setengah detik, lalu menghitung dengan cepat: orang ini tahu. Dan orang yang tahu, kalau dipakai dengan benar, tak perlu dibayar.
Selama delapan hari Minggu pagi Bedul mengajarinya membaca bayangan, menunggu cahaya, memotret tanpa membuat orang menutup wajah. Gratis. Ia bahkan meminjamkan El lensa lamanya. Pelajaran pertama berbunyi begini: "Fotografi itu kemanusiaan, Mbak. Bukan spesifikasi alat." El menulisnya di catatan ponsel sambil mengangguk-angguk, dan Bedul mengira ia baru saja menemukan kawan karib. Itu kesalahan tafsir pertamanya. Ia selalu mengira kebaikan yang ia berikan akan dikembalikan dalam bentuk yang sama.
Lalu El menariknya ke grup. Bukan karena sayang. Grup butuh orang yang mengerti, dan orang yang mengerti tapi tak menuntut apa-apa adalah barang langka. Bedul pun duduk di meja yang dikeramatkan itu, dan di sanalah ia bertemu Anin.
Sejak hari itu hidup Bedul punya satu fungsi baru. Kalau Anin butuh tumpangan ke lokasi hunting, Bedul datang dengan motor bak terbukanya, lengkap dengan aroma galon. Kalau lensa Anin berdebu, Bedul meminjamkan kain pembersihnya. Ia memandu Anin ke gang-gang yang tak ada di Instagram, karena sebagai pengantar galon ia hafal kota ini lebih baik daripada siapa pun di meja itu. Ia mengajari Anin bahwa cahaya sore paling jujur justru ketika kita berhenti memikirkan wajah sendiri. Anin tidak menghargai nasihat itu, tapi ia mengingatnya, dan ingatan itu sesekali mengganggunya tanpa ia tahu mengapa. Bedul juga meminjamkan lensa kepada Pur, tapi itu urusan pinjam-meminjam biasa. Untuk Anin ia melakukan sesuatu yang tak punya nama lain selain jatuh cinta, tanpa pernah mengucapkannya. Anin cukup mengetik, "Dul, bisa bantu nggak?", dan Bedul berangkat dengan perasaan orang yang baru dipanggil namanya di kelas. Anin tak pernah membalas dengan hal lain. "Makasih ya, Dul," katanya, dengan nada orang berterima kasih kepada mesin ATM.
Kamera milik Bedul hanyalah kamera saku tua, dibeli bekas, layarnya tergores seperti kacamata nenek. Ia membelinya karena kamera sekecil itu tidak membuat orang menutup wajah.
"Orang takut sama lensa besar," katanya suatu kali. "Lensa besar itu kayak polisi. Kamera kecil itu kayak tetangga."
Kalimat itu bagus, dan Bedul tahu itu bagus. Itulah kelemahannya yang jarang ia akui: ia ingin dilihat, hanya saja ia tak mau ketahuan sedang ingin. Setiap malam ia mengunggah satu foto ke akun Instagram tanpa pengikut yang ia sebut "arsip", lalu membukanya lagi empat-lima kali untuk memeriksa apakah angka nol sudah berubah. Tak pernah berubah. Ia membukanya lagi.
Tapi dalam beberapa bulan, El tidak lagi butuh siapa-siapa. Bodi full-frame sudah ada, tutorial YouTube tak terhitung, dan pengikutnya bertambah. Suatu malam seorang pengikut bertanya di kolom komentar, "Kak, belajar dari siapa?" El menjawab, "Otodidak, hehe." Jawaban itu terasa benar baginya, karena ingatan El hanya menyimpan yang berguna hari ini. Sejak itu Bedul menjadi masalah kecil: ia satu-satunya orang yang tahu bagaimana El memegang kamera sebelum bisa memegangnya. Kamera sakunya mulai muncul di latar foto-foto grup. Tak ada yang membahasnya. Semua hanya menunggu alasan.
Alasan itu datang. Bedul kedapatan memotret Pak Made, tukang tambal ban di pojok Jalan Gunung Agung, yang sedang tertidur sebentar di atas tumpukan ban dalam dengan tangan masih menggenggam kunci pas. Fotonya dikirim ke grup tanpa keterangan apa-apa.
"Sok idealis," kata El di rapat darurat yang ia panggil sendiri, dengan agenda tunggal: Bedul.
"Esensi fotografi itu kemanusiaan, Kak El, bukan spesifikasi alat," kata Bedul pelan. El mengenali kalimat itu, dan wajahnya sempat mengeras sepersekian detik. Lalu ia menunggu Bedul mengaku bahwa karya El lebih superior. Bedul tidak mengaku.
El tertawa sampai terbatuk-batuk. "Kemanusiaan! Kalau fotomu tidak bikin galeri kagum dan tidak menyenangkan mata kita, itu namanya dokumentasi tukang rongsokan!"
Malam itu juga Bedul dikeluarkan dari grup lewat tombol kick, ditekan El dengan ibu jari yang sama yang dulu memegang tali kamera terbalik. Tanpa surat peringatan, tanpa sidang etik, tanpa salam perpisahan. Nomornya diblokir sekalian, karena El percaya kejahatan harus dituntaskan sampai ke akar-akarnya. Anin menekan jempol sebelum El selesai mengetik, dan Pur menyusul. Gita menekan jempol terakhir, setelah ragu tiga detik, dan tiga detik itu yang paling sering ia ingat sepanjang tahun berikutnya.
Bedul tidak membalas, dan di kemudian hari ia suka menceritakan itu sebagai bukti ketabahannya. Yang jarang ia ceritakan: malam itu ia sempat mengetik tiga puluh satu kata pembelaan, menghapusnya satu per satu, lalu duduk lama di atas tumpukan galon kosong di belakang gudang, membuka layar ponselnya, menutupnya, membukanya lagi, seperti orang yang berharap pesan yang sudah dihapus akan muncul kembali. Ia tidak diam karena bijak. Ia diam karena takut jawabannya tidak sebagus yang ia latih.
Pagi harinya, satu-satunya pesan yang masuk ke ponselnya datang dari Anin: "Dul, tripod gue masih di bagasi motor lo kan? Anter ke kos jam 9 ya." Tidak ada kata soal grup. Tidak ada tanda tanya. Bedul membacanya tiga kali, mencari satu kata saja yang bukan tripod, lalu mengantar tripod itu jam sembilan kurang sepuluh. "Makasih ya, Dul," kata Anin tanpa mengangkat mata dari layar ponselnya. Bedul menunggu di depan pintu yang sudah tertutup, barangkali untuk satu kalimat lagi. Tidak ada. Itu terakhir kalinya ia mengantar sesuatu untuk Anin, dan Anin tidak pernah menyadari bahwa itu yang terakhir.
Lalu suatu sore ia mencetak foto Pak Made di kios fotokopi, ukuran 4R, dan menyerahkannya langsung.
Pak Made memandangi foto itu lama sekali. "Ini saya?"
"Iya, Pak."
"Ganteng juga saya kalau tidur," kata Pak Made. Bedul tertawa. Itu pujian terbaik yang pernah ia terima sebagai fotografer, dan tidak ada satu pun anggota Lensa Purba yang hadir untuk mendengarnya.
[Bersambung ke Babak 2]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar