Sabtu, 03 Oktober 2026

Dua Aturan Fotografi ala Yanto Kodak di Warung Kopi


Kamera saku tergeletak di meja kayu warung kopi sebelah gelas kopi hitam, representasi obrolan fotografi jalanan. 2

Beraban, Tabanan, Bali, Sabtu, 3 Oktober 2026

Di kedai kopi langganan, di antara kepulan asap rokok, ampas kopi hitam yang mulai mengendap, dan sepiring gorengan yang tinggal remahan tak berdosa, saya dan Yanto Kodak kembali duduk berjam-jam tanpa niat pulang. Kami biasanya menyebut rutinitas ini sebagai "riset fotografi". Istri Yanto, di sisi lain, menyebutnya "nongkrong nggak jelas". Kebenaran, seperti biasa, bersembunyi di tengah-tengah—meski agaknya lebih condong ke versi istrinya.

Topik andalan kami sore itu masih sama: fotografi. Sebuah medium pelarian sekaligus buku harian visual yang, ironisnya, isi galeri kami lebih banyak didominasi foto makanan ketimbang karya seni sungguhan.

"Eh, tau nggak," kata Yanto Kodak sambil mengaduk kopi yang sebenarnya sudah tak butuh diaduk lagi, "gue baru nemu spesies baru manusia. Namanya fotografer Dunning-Kruger."

"Itu apa, genus baru burung?"

"Baru bisa bikin bokeh dikit, ngomongnya udah kayak Ansel Adams reinkarnasi." Yanto menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap dengan gaya yang menurutnya dramatis, tapi di mata saya lebih mirip cerobong pabrik tekstil. "Baru punya kamera tiga bulan, udah bikin caption panjang soal 'filosofi cahaya'."

Saya nyaris tersedak kopi. "Lah, lu sendiri gimana? Baru bisa manual fokus aja udah pasang bio 'visual storyteller'."

"Itu beda kasus. Gue storyteller yang ceritanya belum ketemu, doang."

Kami tertawa sampai bapak-bapak di meja sebelah menoleh curiga, mungkin mengira kami baru saja menang judi bola. Setelah tawa reda dan gorengan tersisa satu—yang tentu saja jadi rebutan diam-diam—Yanto Kodak tiba-tiba memasang muka serius. Muka serius Yanto itu ciri khasnya cuma satu: alis kirinya naik sendiri, seolah punya agenda pribadi.

"Gue kasih tau ya," katanya, menunjuk saya pakai ujung sendok teh. "Sebenarnya di dunia fotografi yang katanya ribet ini, cuma ada dua aturan. Sisanya settingan doang biar orang beli lensa mahal."

"Yah, mulai deh. Ini bakal jadi ceramah, ya?"

"Bukan ceramah. Anggap aja... bisikan alam semesta, lewat mulut gue yang bau kopi."

Saya menyandarkan punggung, sudah siap mental. Kalau Yanto sudah begini, biasanya butuh waktu setidaknya dua gelas kopi lagi sampai ia tuntas bicara.

Aturan pertama: jangan pernah berhenti merhatiin.

"Titik," tambahnya, seolah itu kata penutup dalam sebuah kitab suci.

"Merhatiin apa? Cewek yang lewat?"

"Itu juga boleh, tapi bukan itu maksudnya, bego." Yanto menyodok lengan saya. "Maksud gue, fotografi itu bukan soal seberapa agresif telunjuk lu mencet shutter kayak lagi mencet klakson di lampu merah yang lama banget ijonya. Semakin dalam lu ngamatin dunia, semakin banyak yang disodorin semesta. Gratis pula."

"Terus kenapa gue tiap motret hasilnya biasa aja?"

"Karena lu sibuk 'berburu' foto megah, kayak lagi ekspedisi nyari harta karun. Padahal tugas lu bukan maksa gambar biar tercipta. Tugas lu buka diri buat nerima. Kadang keindahan itu sembunyi di hal receh yang orang lain males liat dua kali."

"Contoh?"

Tekstur abstrak tembok kusam yang mengelupas di pinggir jalan, contoh objek fotografi yang membutuhkan kepekaan visual. 2


Yanto Kodak menunjuk ke luar jendela kedai, ke arah tembok kusam di seberang jalan. "Itu. Tembok ngelupas kayak gitu, kalau lu perhatiin, ada pola abstraknya. Atau genangan air di aspal bolong depan gang. Atau pantulan lampu di spion motor butut. Dunia udah nyodorin momennya, lu tinggal hadir dan peka aja."

"Gue serius, nih," Yanto menepuk meja sebelum saya sempat berkomentar, membuat gelas kopi bergetar dan nyaris menumpahkan sisa ampas ke buku catatan saya yang untungnya sudah dibiarkan kosong sejak dua tahun lalu.

Gorengan terakhir akhirnya jatuh korban—dimakan Yanto Kodak tanpa basa-basi. Sambil terus bicara dengan mulut penuh, separuh kalimat berikutnya meluncur, terdengar lebih mirip mantra daripada nasihat seni.
Aturan kedua: ikutin panggilan hati, jangan bujukan algoritma.

"Bujukan algoritma itu kayak gimana?" tanya saya. "Kayak diajak jajan gorengan pas lagi bokek?"

"Lebih licik dari itu. Ini yang bikin banyak orang tersandung, jatuh, benjol, terus posting foto benjolnya di story biar dikira lagi healing." Yanto menelan gorengan dengan susah payah, lalu minum kopi yang sudah dingin sambil meringis, seperti baru sadar akan keputusan hidupnya. "Jangan berhenti motret apa yang narik hati lu. Bukan apa yang paling banyak likes-nya. Dan yang paling penting—jangan motret sesuatu cuma karena lokasinya lagi hits, seolah itu jaminan otomatis fotonya punya jiwa."

"Kayak spot foto yang antreannya lebih panjang dari antrean sembako?"

"Persis. Padahal hasilnya bakal sama persis kayak punya lima ratus orang lain yang antre di titik yang sama. Bedanya cuma di caption."

Saya mengangguk-angguk, mencoba terlihat bijak. Tapi dalam hati, saya sedang menghitung diam-diam: berapa banyak foto di galeri saya yang diambil bukan karena hati tergerak, tapi karena tempatnya lagi ramai dibicarakan orang, dan saya cuma ingin jadi bagian dari keramaian itu. Sungguh tak enak mengakuinya, tapi angkanya lebih banyak dari yang saya kira.

"Terus lu tau kenapa gue kemarin motret tumpukan kursi plastik karatan di pojok gang belakang komplek?" tanya Yanto Kodak, memecah lamunan saya.

"Karena lu nggak punya kerjaan lain?"

"Karena gatel aja pengen motret. Nggak tau kenapa. Ya udah, potret aja. Nggak perlu nunggu validasi kritikus seni dadakan di kolom komentar Instagram yang keahliannya cuma nulis 'ke-15'."

"Terus hasilnya bagus?"

"Enggak. Jelek banget. Tapi itu bukan masalah." Yanto menyeruput kopi dinginnya sekali lagi. Mukanya lantas berubah seperti orang yang baru minum obat batuk rasa jengkol. "Kadang lu pulang bawa foto yang bikin senyum puas. Kadang lu liat layar kamera terus mikir, 'Ini foto abstrak atau hasil rontgen paru-paru gue sendiri?' Gelap, nggak jelas bentuknya, kayak masa depan gue."

"Itu masalah, To."

"Bukan," sanggahnya cepat. "Keduanya sama penting. Yang penting itu prosesnya. Yang penting kepekaan. Kalau kita udah berhenti peka, kamera semahal apa pun cuma jadi beban kalung doang. Berat di leher, kosong di jiwa."

Saya terdiam sebentar. Lumayan terkesan, sebelum akhirnya sentimen itu luntur oleh rasa curiga. "To, itu kalimat penutup lu keren banget. Lu bikin sendiri apa nyontek dari suatu tempat?"

Yanto Kodak bungkam. Alis kirinya kembali naik. "...Gue lupa. Tapi kedengarannya keren, kan?"

Hening sejenak. Hanya terdengar deru motor yang lewat dan desah napas penjaga kedai yang sedang menghitung uang receh dengan raut wajah orang yang sudah pasrah pada hidup.

"Jadi," kata Yanto akhirnya, memecah keheningan, "mau motret apa kita habis ini?"

Saya melirik meja. Pandangan saya jatuh pada secarik bon kopi yang tergeletak pasrah di antara asbak dan piring kosong bekas gorengan, yang jasanya tak akan pernah kami lupakan.

"Motret bon ini aja dulu," jawab saya. "Biar ada bukti visual betapa mengenaskannya dompet kita berdua."

Yanto Kodak tertawa lepas, sampai bapak-bapak di meja sebelah menoleh lagi—kali ini dengan tatapan yang jelas-jelas menyesal telah memilih tempat duduk di dekat kami. Kami pun membalasnya dengan tawa sarkas.

Barangkali ada yang penasaran, apakah sore itu kami akhirnya bangkit untuk merespons panggilan visual alam semesta? Jawabannya sudah bisa ditebak: tidak. Kami membiarkan kamera tetap tergeletak tak tersentuh di meja, dan kembali menyeruput sisa kopi yang sudah benar-benar dingin—sedingin nasib dompet kami, dan sedingin realitas bahwa pada akhirnya, sekali lagi, kami cuma banyak omong dan tak memotret apa-apa.

Bon kopi lecek di atas meja kedai kopi sebagai penutup obrolan santai tentang realitas hobi fotografi. 2

Tambahan Coretan:


1. Efek Dunning-Kruger adalah bias kognitif ketika seseorang dengan kemampuan rendah dalam suatu bidang justru merasa sangat ahli dan menilai tinggi kemampuannya secara tidak realistis.

Hal ini terjadi karena mereka kekurangan ilmu untuk menyadari seberapa banyak yang sebenarnya tidak mereka ketahui. Sebaliknya, orang yang benar-benar kompeten sering kali merendah karena mereka tahu betapa kompleksnya bidang tersebut, sehingga berasumsi orang lain juga memiliki pemahaman yang sama.

Singkatnya, fenomena ini adalah kondisi psikologis ketika orang yang paling tidak tahu biasanya menjadi pihak yang paling lantang dan percaya diri.

         *******

2. Ansel Adams (1902–1984) adalah fotografer legendaris Amerika Serikat yang terkenal karena foto lanskap hitam-putih wilayah Barat Amerika, khususnya Taman Nasional Yosemite. Sebagai aktivis lingkungan, karyanya berhasil mempromosikan pelestarian alam liar di AS.

Bersama Fred Archer, ia mengembangkan Zone System, sebuah teknik fotografi untuk menentukan pencahayaan dan kontras cetakan secara presisi. Adams juga mendirikan Group f/64, kelompok fotografer yang memperjuangkan seni "fotografi murni" dengan fokus tajam dan detail tinggi. Dedikasinya terhadap detail teknis dan keindahan alam menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah fotografi modern.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar