Jumat, 20 April 2018

Fotografi - 4 Penghalang Utama Seseorang Meningkatkan Kemampuan Memotretnya



Kemayoran, Jakarta, Kamis, 19 April 2018

Selamat pagi, siang, sore, dan malam bagi Sobat semua. Apa kabar? Semoga di pertengahan bulan April ini, suasana hati Sobat tidak se-”kelam” saldo ATM setelah dipaksa bayar tagihan bulanan ya. Kalaupun sedang tipis, setidaknya semoga kreativitas Sobat tetap tebal dan terus berkembang.

Beberapa waktu lalu, saya sempat berbagi kegelisahan tentang hilangnya mood—itu lho, momen di mana hasrat untuk memegang kamera dan merangkai kata seolah menguap begitu saja. Sempat terpikir, apakah kamera saya yang sudah terlalu tua? Atau jangan-jangan lensa saya yang minta pensiun dini karena jarang diajak jalan-jalan? Hingga semalam, saya masih mencari kambing hitam atas hilangnya gairah itu.

Namun, setelah merenung cukup dalam—ditemani secangkir kopi hitam yang mulai dingin dan asap rokok yang menari-nari di udara—saya menemukan jawabannya. Ternyata, saya selama ini telah mengambil sudut pandang yang salah. Saya terlalu sibuk mencari alasan eksternal, padahal musuh terbesarnya ada di depan cermin: diri saya sendiri. Hahahaha, lucu ya, terkadang kita memang butuh waktu untuk menertawakan kebodohan kita sendiri agar sadar bahwa kita sedang menjadi "korban" ego sendiri.

Setelah menelusuri berbagai referensi, saya menemukan sebuah artikel di SaveSeva yang terasa seperti "tamparan halus" di pipi kiri dan kanan. Isinya sangat relevan dengan apa yang saya alami. Agar kita bisa berada di frekuensi yang sama, izinkan saya membagikan kembali intisari dari tulisan tersebut (disadur dari 4 Penghalang Utama Seseorang Meningkatkan Kemampuan Memotret).


Mengapa Kita Sering "Stuck" dalam Fotografi?


Banyak orang merasa malas belajar atau merasa karyanya jalan di tempat. Jika Sobat merasa demikian, cobalah jujur pada diri sendiri, apakah Sobat terjebak dalam salah satu dari empat lubang jebakan ini?


1. "Saya tidak punya gear yang mumpuni"

Ini adalah alasan paling klasik yang sering kita jadikan tameng—lebih tebal dari tameng anti-peluru. Setiap kali melihat foto bagus di Instagram, hal pertama yang Sobat cek pasti kamera apa yang digunakan. Jika melihat lensa seri L atau bodi kamera yang harganya setara motor matic, Sobat langsung berbisik, "Ah, pantas saja fotonya bagus, gear-nya saja sultan."

Ini adalah jebakan pola pikir. Kita menanamkan sugesti bahwa hanya kamera mahal yang mampu menghasilkan karya seni. Padahal, kamera dan lensa terbaik adalah apa yang ada di tangan Sobat sekarang, meski itu hanya ponsel pintar atau kamera saku yang tombolnya sudah agak seret. Kualitas foto Sobat akan meningkat bukan karena mahalnya alat, tapi karena latihan yang konsisten. Ingat, kamera mahal di tangan amatir hasilnya tetap saja "biasa saja".


2. "Saya tidak punya waktu luang"

Mari kita bicara jujur: setiap orang di dunia ini—dari Ansel Adams hingga fotografer sukses yang Sobat ikuti sekarang—punya jatah waktu yang sama, yaitu 24 jam sehari. Perbedaannya bukan pada durasi waktu, melainkan pada skala prioritas dan manajemen waktu. Jika fotografi adalah prioritas, Sobat pasti akan menemukan celah. Sedikit tips: bawa kamera ke mana pun Sobat pergi. Dengan begitu, Sobat tidak punya alasan untuk melewatkan momen berharga hanya karena kamera tertinggal di rumah atau karena malas membawanya karena berat.


3. "Foto saya jelek dan tidak layak pamer"

Bahkan Ansel Adams, maestro fotografi lanskap, pernah merasa karya-karyanya belum cukup baik sebelum ia tutup usia. Standar "bagus" itu sangat subjektif; apa yang menurut Sobat sampah, bisa jadi karya seni di mata orang lain. Fotografi adalah sebuah perjalanan, sebuah proses yang berkesinambungan. Nikmati prosesnya, jangan takut memamerkan foto Sobat. Keterbukaan terhadap kritik adalah bahan bakar pertumbuhan. Kalau pun ada yang bilang foto Sobat jelek, ya sudah, anggap saja mereka belum cukup "tercerahkan" untuk melihat nilai estetikanya.


4. "Tidak ada objek menarik untuk difoto"

Ini adalah alasan paling "naif". Kecuali Sobat adalah semut kecil yang tidak bisa menekan tombol shutter, mustahil tidak ada apa-apa untuk dipotret. Potretlah rekan kerja Sobat yang sedang serius, situasi jalanan saat menuju kantor, kendaraan yang Sobat naiki, atau bahkan bayangan di dinding. Pelajari dasar komposisi, dan Sobat akan menyadari bahwa objek yang terlihat biasa pun bisa berubah menjadi sangat dramatis jika dilihat dari sudut pandang yang tepat.


Belajar dari Fotografer Kawakan


Selain artikel di atas, saya pernah mendapat teguran telak dari seorang fotografer "kelas berat" atau yang sering kita sebut fotografer kawakan. Saat itu, saya mengeluh bahwa hasil foto saya kurang memuaskan karena kamera saya tergolong seri murah, tipe lama, dan mungkin sudah harus dikasih pelumas biar tidak macet.

Beliau tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair. Setelah tawanya reda, ia berkata dengan tegas: "Kamera itu hanya perwakilan dari fotografernya. Bagus atau tidaknya suatu foto, itu 99 persen tergantung pada sang fotografer, bukan pada seberapa mahal bodi kameranya."

Kalimat itu menohok sekaligus membebaskan. Begitulah, Sobat. Terkadang, kita tidak memperoleh kemajuan bukan karena kurangnya dukungan peralatan atau faktor eksternal, melainkan karena kita sendiri yang memasang batasan-batasan konyol dalam pikiran kita. Kita ingin hasil kelas dunia, tapi usaha kita masih kelas "tunda-tunda".

Awal yang Baru


Jadi, mari kita hentikan drama ini. Mari kita buang jauh-jauh ego yang terlalu tinggi dan rasa malas yang dibungkus dengan alasan teknis. Mengakui bahwa Sobat sempat salah jalan adalah langkah pertama untuk menjadi lebih baik.

Anggaplah tulisan ini sebagai reset button untuk semangat kita. Di luar sana, ada miliaran objek yang menunggu untuk diabadikan melalui lensa mata Sobat, terlepas dari apa pun alat yang Sobat genggam. Dunia ini terlalu indah untuk dilewatkan hanya karena Sobat terlalu sibuk memikirkan merk kamera orang lain.

Sekarang, simpan keluhan Sobat, ambil kamera yang Sobat miliki saat ini, pastikan baterainya terisi penuh (dan jangan lupa kartu memorinya dipasang, jangan sampai sudah jepret ternyata tidak ada memorinya!), dan mari kita pergi keluar untuk memotret! Dunia menanti cerita yang hanya bisa Sobat abadikan.

Yuk, kita potret dunia!

Catatan: Tulisan ini juga terinspirasi dari pemikiran fotografer asal Kanada, Ryan Cooper, yang dimuat di situs Fstoppers. Semoga semangatnya menular pada Sobat semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar