Kalau ada yang bertanya kepada saya, objek apa yang paling mudah dipotret, mungkin banyak orang akan menjawab, "Bunga."
Alasannya sederhana. Bunga tidak berlari, tidak meloncat, tidak berubah arah dalam hitungan detik seperti burung yang sedang terbang atau pesawat yang melintas di langit. Ia diam. Tinggal mengarahkan kamera, mengatur fokus, lalu menekan tombol shutter. Selesai.
Dulu saya juga berpikir seperti itu.
Namun setelah beberapa kali mencoba memotret bunga dalam berbagai situasi, saya justru menyadari bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Semakin sering saya memotret bunga, semakin saya memahami bahwa objek yang tampak sederhana ini justru mengajarkan banyak hal tentang kesabaran, kepekaan, dan cara melihat.
Fotografi bunga bukan sekadar memotret kelopak yang indah. Ia adalah latihan untuk membaca cahaya.
Keindahan yang Tidak Otomatis Menjadi Foto Indah
Sering kali kita menemukan bunga yang begitu cantik. Warnanya cerah, bentuknya simetris, dan mekar dengan sempurna. Secara kasat mata, hampir semua orang akan menganggapnya menarik.
Akan tetapi, ketika hasil fotonya dilihat di layar kamera, muncul rasa kecewa.
"Kenapa tidak seindah yang saya lihat tadi?"
Pertanyaan itu pernah berkali-kali muncul di kepala saya.
Lama-kelamaan saya memahami penyebabnya. Mata manusia dan kamera bekerja dengan cara yang berbeda. Mata kita mampu menyesuaikan cahaya secara alami, memilih bagian yang ingin diperhatikan, bahkan "mengabaikan" gangguan di sekitar objek. Kamera tidak demikian. Ia merekam hampir semua yang berada di depan lensa. Karena itulah seorang fotografer harus membantu kamera melihat seperti mata manusia melihat.
Di sinilah tantangan fotografi bunga dimulai.
Cahaya Adalah Penulis Cerita
Banyak orang menganggap kamera adalah alat utama dalam fotografi. Saya tidak sepenuhnya setuju.
Menurut saya, cahaya adalah fotografer yang sesungguhnya. Kamera hanya menjadi alat untuk merekam apa yang sedang ditulis oleh cahaya.
Perhatikan bunga yang sama pada waktu yang berbeda.
Pada tengah hari, ketika matahari tepat berada di atas kepala, warna bunga memang tampak terang. Namun bayangan yang keras sering kali menghilangkan tekstur halus pada kelopak. Foto menjadi datar, bahkan terasa "panas" meskipun kita tidak berada di lokasi saat melihatnya.
Sebaliknya, ketika matahari baru muncul di ufuk timur atau mulai condong ke barat, cahaya berubah menjadi lebih lembut. Bayangan menjadi halus. Tekstur mulai terlihat. Warna terasa lebih kaya, dan foto seolah memiliki napas.
Saya pribadi lebih menyukai cahaya pagi.
Bukan hanya karena lebih lembut, tetapi juga karena pagi membawa suasana yang berbeda. Embun masih menggantung di ujung daun. Udara terasa segar. Angin biasanya belum terlalu kencang. Alam seperti baru saja membuka matanya.
Momen seperti itulah yang sering menghadirkan foto-foto favorit saya.
Belajar Menunggu
Ada satu pelajaran penting yang saya dapatkan dari memotret bunga: jangan terburu-buru.
Kebiasaan kita sebagai fotografer kadang ingin segera menekan shutter begitu menemukan objek yang menarik. Padahal, belum tentu posisi terbaik sudah kita temukan.
Sekarang saya lebih sering melakukan sesuatu yang sederhana.
Saya berdiri beberapa langkah dari bunga itu.
Saya mengamatinya.
Saya berjalan memutar.
Saya melihat bagaimana cahaya jatuh pada kelopak dari berbagai arah.
Kadang saya berjongkok.
Kadang saya memotret dari posisi yang hampir sejajar dengan bunga.
Kadang saya justru mundur beberapa langkah untuk melihat hubungan bunga dengan lingkungan di sekitarnya.
Semua itu saya lakukan sebelum kamera benar-benar saya angkat ke mata.
Mungkin hanya membutuhkan waktu dua atau tiga menit. Namun beberapa menit itu sering kali menjadi pembeda antara foto biasa dengan foto yang memiliki cerita.
Jangan Takut Bereksperimen
Ada satu "aturan" yang cukup sering saya dengar.
Katanya, foto bunga harus menampilkan warna secerah mungkin karena warna adalah daya tarik utamanya.
Saya menghormati pendapat itu.
Namun saya tidak merasa harus selalu mengikutinya.
Sesekali saya mencoba mengubah foto bunga menjadi hitam putih.
Hasilnya ternyata menarik.
Ketika warna dihilangkan, perhatian mata berpindah kepada bentuk, garis, tekstur, dan permainan cahaya. Saya justru menemukan keindahan yang sebelumnya tertutup oleh dominasi warna.
Eksperimen seperti ini mengajarkan saya bahwa fotografi bukan sekadar mendokumentasikan kenyataan. Fotografi juga merupakan cara kita menafsirkan kenyataan.
Selama pesan yang ingin disampaikan tetap sampai kepada penikmat foto, menurut saya tidak ada salahnya mencoba pendekatan yang berbeda.
Memilih Latar Belakang
Kalau ada satu kesalahan yang paling sering saya lakukan ketika mulai belajar memotret bunga, jawabannya adalah latar belakang.
Saya terlalu sibuk melihat bunganya.
Saya lupa memperhatikan apa yang ada di belakangnya.
Akibatnya, ketika foto dilihat di rumah, baru terlihat ada ranting yang memotong bunga, daun kering yang mencolok, bahkan benda-benda yang sama sekali tidak mendukung cerita dalam foto.
Sejak saat itu saya belajar bahwa latar belakang sama pentingnya dengan objek utama.
Kadang saya hanya bergeser beberapa puluh sentimeter ke kiri atau ke kanan. Perubahan kecil itu sering menghasilkan latar yang jauh lebih bersih sehingga bunga menjadi pusat perhatian.
Fotografi ternyata memang mengajarkan bahwa sudut pandang dapat mengubah segalanya.
Kamera Boleh Sederhana, Mata Harus Terlatih
Saya sering bertemu teman-teman yang berkata, "Kalau nanti punya kamera yang lebih mahal, pasti hasil foto saya lebih bagus."
Saya tidak pernah menyalahkan keinginan itu. Peralatan yang baik memang dapat membantu.
Tetapi pengalaman mengajarkan saya bahwa kamera terbaik sekalipun tidak akan banyak berarti jika fotografernya belum terbiasa mengamati.
Sebaliknya, kamera yang sederhana pun mampu menghasilkan foto yang memikat apabila digunakan oleh seseorang yang sabar melihat cahaya, memahami komposisi, dan tahu kapan saat yang tepat untuk menekan shutter.
Pada akhirnya, kualitas sebuah foto lebih sering ditentukan oleh mata di belakang jendela bidik daripada harga kamera yang digantungkan di leher.
Bersambung ke Bagian II
Pada bagian berikutnya kita akan berbicara tentang fokus, komposisi, kesabaran menghadapi angin, pentingnya mengenali karakter bunga yang dipotret, hingga mengapa saya percaya bahwa memotret bunga bukan hanya soal teknik, tetapi juga latihan untuk lebih peka terhadap keindahan-keindahan kecil yang sering luput dari perhatian kita.
Salam Jepret.







Karya yang menarik dan menambah wawasan. Juga bisa menambah pengetahuan kita.
BalasHapusMau tanya kalau foto di atas ini termasuk genre fotografi apa ya?
BalasHapus